37. The Compassionate and Gracious God

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 13/4/2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (37)

Nats: Keluaran 34:1-9

 

Kalau kita punya anak, dan pada suatu hari anak itu berbuat salah, anak kita mungkin memiliki pendekatan yang berbeda untuk menyatakan rasa bersalah mereka. Ada anak yang waktu berbuat salah, ketika ditegur, dia cepat-cepat datang memeluk kaki kita dan berkata, “Maafkan saya, papa.” Tetapi ada anak lain, pada waktu dia tahu dia sudah berbuat salah, kemudian dia merasa kesalahan yang telah dia perbuat terlalu besar, waktu melihat papa datang mendekat, dia ragu apakah papa masih mau mengasihi dan mengampuni dia? Karena terlalu besar kesalahan yang telah dia perbuat, rasa bersalah begitu memenuhi hatinya, sehingga bukan dia datang memeluk kaki papa, justru dia menjauh dan bersembunyi. Kita sebagai orang tua harus peka melihat reaksi yang berbeda di dalam berespons terhadap kesalahan seperti itu. Tidak berani dekat karena tahu dia sudah terlalu salah sehingga makin lama dia pergi makin menjauh.

Apalagi yang bisa kita kerjakan dan lakukan kalau itu perasaan guilty yang terlalu dahsyat dan terlalu besar? Reaksi orang Kristen kepada Tuhan kadang-kadang juga seperti demikian. Ada di antara mereka tidak berani lagi datang berbakti ke gereja karena merasa terlalu besar kesalahannya sehingga merasa tidak layak menghadap Bapa yang kudus di surga, dan merasa tidak lagi memiliki keberanian dan kekuatan menghampiri tahta Tuhan yang suci.

Keluaran 32 mencatat peristiwa jatuhnya bangsa Israel ke dalam jurang yang dalam, mengingkari Allah Perjanjian yang sudah membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir. Puji Tuhan! Keluaran 34 memperlihatkan kepada kita datangnya pemulihan itu, rekonsiliasi hubungan yang sudah pecah dan perjanjian yang sudah hancur, datangnya dari Tuhan Allah semata-mata. Sembilan ayat dari Keluaran 34 adalah ayat-ayat yang indah dari Tuhan yang disembah itu turun dan datang menyatakan diriNya dengan kalimat yang begitu agung dan begitu menyejukkan hati kita.

Keluaran 34 dibuka dengan kalimat Musa memahat dua loh batu yang baru. Batu itu menjadi satu tanda yang sah dan resmi perjanjian Tuhan dengan umatNya. Batu yang pertama sudah pecah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Maka Tuhan suruh Musa memahat dua loh batu yang baru dan membawanya ke atas gunung ke hadapan Tuhan. Ini bagian yang luar biasa indah. Musa telah berdoa, “Tuhan, kami tidak mau berjalan masuk ke tanah perjanjian sendirian. Apa gunanya mendapatkan tanah yang berlimpah susu dan madu itu kalau Tuhan tidak ada di tengah-tengah kami? Apa gunanya kami mendapat berkat, mendapat segala pemeliharaan dan kelimpahan seperti itu kalau Tuhan tidak beserta dengan kami? Tuhan, berjalanlah di tengah-tengah kami.” Hari itu Tuhan menjawab Musa, “Pahatlah batu itu dan naiklah ke atas” (ayat 1). Dapatkah kita bayangkan bagaimana perasaan hati Musa waktu mendengar kalimat Tuhan berkata seperti ini? Ini adalah kalimat yang luar biasa. Berarti Tuhan mau berjalan bersama mereka dan memulihkan kembali hubungan yang sudah rusak dan hancur itu. Alkitab mencatat reaksi dan sikap Musa di ayat 4, “Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula. Bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya dan membawa kedua loh batu itu di tangannya.”

Alangkah indahnya setiap hari Minggu kita bangun pagi-pagi mau pergi berbakti kepada Tuhan, pergi ke rumah Tuhan, naik ke gunung Tuhan, dengan perasaan dan sikap hati seperti Musa ini. Itu hanya bisa terjadi pada waktu kita tahu kita sedang mau datang bertemu dengan SIAPA yaitu Tuhan kita. Kalau kita diundang bertemu dengan Barrack Obama, saya tidak tahu apakah malam hari sebelumnya kita bisa tidur atau tidak. Kita pasti excited, bukan? Sudah bertemu dan bersalaman dengan Obama, mungkin satu minggu tidak mau cuci tangan. Belum lagi kalau kita mendapat autograph-nya, betapa senang kita. Saya percaya lebih dari inil sikap dan perasaan hati Musa, karena dia tahu dia sedang datang bertemu dengan Tuhan, Tuhan yang akan memulihkan hubungan dengan bangsa Israel.

Ada perbedaan antara loh batu yang pertama dengan loh batu yang kedua. Loh batu yang pertama dipahat dan ditulis langsung oleh tangan Tuhan, sedangkan loh batu yang kedua dipahat oleh Musa meskipun kata-katanya juga ditulis oleh tangan Tuhan.

Seorang penafsir mengatakan perbedaan itu terjadi oleh karena bangsa Israel sudah merusak relasi yang pertama. Meskipun relasi itu kemudian dipulihkan, tetap ada sesuatu yang tidak bisa sama lagi. Namun saya lebih setuju melihatnya dari aspek yang lain. Loh batu itu dipahat oleh tangan Musa lalu firman ditulis oleh tangan Tuhan untuk memberitahukan kepada kita demikianlah semua firman Tuhan yang datang kepada kita di dalam Alkitab, meskipun ditulis oleh tangan manusia dengan bahasa manusia, tetapi itu adalah firman perkataan Tuhan. Dengan demikian kita sangat mencintai dan menghargai firman Tuhan yang kita terima, yang ditulis oleh Musa, ditulis oleh Matius, oleh Lukas, oleh Paulus, dan yang lainnya di dalam bahasa dan tulisan mereka di atas lembaran-lembaran kertas yang dibuat oleh manusia, namun ini bukan tulisan dan buku biasa, ini adalah firman Tuhan. Loh batu yang dipahat oleh tangan Musa waktu sampai ke depan orang Israel tetap mereka harus menghargai dan menghormati itu adalah batu yang berotoritas karena ada firman Tuhan yang dipahat di situ sebagai firman Tuhan yang datang kepada manusia.

Keluaran 34:5 “Turunlah TUHAN dalam awan lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.” Sampai ke atas puncak yang paling tinggi di atas gunung tertinggi manapun, baru kita sadar Tuhan kita terlalu agung dan terlalu besar dan dahsyat Dia. Tidak ada satu pun tempat di atas muka bumi ini yang bisa kita katakan kita sudah sampai kepada Tuhan. Di sinilah kita memahami ayat ini mengatakan, Tuhan turun dan bertemu dengan Musa. Tuhan jawab permintaan Musa, yang meminta Tuhan kiranya memperlihatkan kemuliaanNya kepada Musa. Tetapi Tuhan mengingatkan Musa hakekat esensi Tuhan tidak mungkin bisa dilihat oleh Musa. Maka di dalam bagian ini Tuhan mengatakan kepada Musa, “Engkau tidak mungkin tahan melihat wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Keluaran 33:20). Itulah sebabnya Tuhan bilang ketika Ia lewat di hadapan Musa, Ia akan menutupi pandangan Musa dengan tanganNya dan setelah Ia lewat, Musa dapat melihat sisi belakangNya.

Musa sudah melihat kemuliaan keagungan Tuhan sebelumnya dinyatakan dengan semak belukar yang tidak hangus terbakar; Musa sudah melihat kemuliaan keagungan Tuhan Allah di dalam tiang awan dan tiang api; Musa sudah melihat kemuliaan keagungan Tuhan Allah di dalam suara yang dahsyat, halilintar yang menggelegar. Apa yang Musa akan lihat di sini adalah segala kemuliaan yang sedemikian agung dan dahsyat seperti itu. Tetapi di tengah Tuhan turun dengan segala fenomena alam itu, hal yang paling indah dan paling penting adalah Tuhan menyatakan siapa diriNya dan bagaimana sifat Tuhan yang sedang menyatakan diriNya.

Semak belukar yang tidak terbakar mungkin hanya membuat orang yang melihatnya kagum dan terpesona, tetapi jika tidak ada suara Tuhan memperkenalkan diriNya, kita tetap tidak bisa mengenal siapa Dia. Musa naik ke atas gunung itu lalu turun halilintar yang dahsyat, api yang menggelegar dengan gemuruh angin, api dan awanyang gelap gulita. Tetapi setelah semua itu lewat, tidak ada suara apa-apa. Kita tidak bisa mengenal Tuhan seperti apa dari semua fenomena alam itu. Tetapi pada waktu Tuhan turun kepada Musa, Tuhan memperkenalkan karakterNya, sifatNya, Tuhan seperti apa yang datang kepada kita. Sehingga melalui karakter dan sifatNya itu kita boleh tahu keagunganNya, kekudusanNya, kemuliaanNya. Keluaran 34:6-7 “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah, penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa, tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman…”

The Lord, the Lord, the compassionate and gracious God, slow to anger, abounding in love and faithfulness. Bukankah mendengar kalimat-kalimat ini hati kita melimpah dengan syukur? Waktu kita sedang bersalah kepada ayah kita, entah bagaimana kita bisa datang menghampirinya, kita hanya bisa berdiam di pojok menunggu apa yang akan dilakukannya kepada kita. Makin dia datang mendekat, makin takutlah kita.

Waktu Tuhan turun dan bertemu Musa, seperti apa yang engkau dan saya hari ini lakukan menyembah, Tuhan seperti apa yang datang kepada Musa hari itu, kepada bangsa Israel, Ia adalah Tuhan yang sama, yang tidak berubah dahulu sekarang selama-lamanya, sebab kata yang dipakai di depan itu, “TUHAN, TUHAN,” itu adalah YAHWEH, nama Allah Perjanjian. Nama yang diberitahukanNya kepada Musa dalam Keluaran 3:14 “AKU ADALAH AKU.” Tuhan Yahweh adalah Allah Perjanjian yang dahulu, sekarang dan selama-lamanya tidak berubah. Ia adalah Allah yang memanggil dan menyelamatkan mereka keluar dari perbudakan Mesir. Allah itu yang disembah Musa, Allah itu yang disembah oleh bangsa Israel, Allah yang hari ini engkau dan saya datang berbakti kepadaNya.

Siapakah Dia? Dia adalah TUHAN, penyayang dan pengasih, panjang sabar dan lambat untuk marah. Berlimpah kasih dan kesetiaanNya. Ia tidak mengingat-ingat kesalahan dan dosa dari orang-orang yang takut akan Dia dan yang tidak pernah membiarkan dosa pergi tanpa menyatakan keadilanNya. Puji Tuhan. Ini adalah sifat dan karakter Allah yang harus didengar oleh bangsa Israel. Ayat ini menjadi ayat yang penting dalam kitab Musa ini, menjadi ‘core’ yang paling penting dan terus diucapkan setiap kali umat Israel berkumpul, dari PL sampai PB mengingatkan kita Allah kita seperti ini. Berkali-kali ayat ini diulang dan dikutip di dalam Alkitab kita. Mazmur 86, Mazmur 103, Mazmur 145. Yoel 2:13 “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Berbaliklah kepada Allah sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya, dan Ia menyesal karena hukumanNya.” Yunus 4:2 “…aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia…”

Pada waktu seseorang berada di dalam jurang yang dalam, di tengah merasa tidak ada lagi yang baik dari hidupnya di hadapan Tuhan, hari demi hari perjalanan hidupnya terus berbuat kesalahan, orang-orang seperti ini bagaimana datang menghampiri Tuhan dengan hati yang hancur berdiri jauh-jauh, terlalu berat untuk melangkah masuk ke rumah Tuhan. Hanya dengan mata melihat dengan kerinduan untuk berdekat kepada Tuhan, tetapi mungkinkah Tuhan mau datang dan dekat kepadaku?

Pertama, Allah datang dan Allah memberitahukan kepada kita hari Ia adalah Allah yang penyayang dan pengasih, compassionate and gracious. Compassionate berarti orang yang sangat simpati hatinya, keluar dari dalam perasaan yang teraduk karena Dia menempatkan diri kepada situasi dan kondisi orang yang bersalah. Tuhan Yesus tahu siapa kita orang berdosa, Tuhan Yesus tahu segala kelemahan kita, tetapi Dia mengalami pencobaan-pencobaan seperti yang kita alami dan Dia mengerti kita (band. Ibrani 4:15). Itulah arti kata “Compassion.”

Waktu seorang janda tua di Nain berjalan di sisi usungan mayat anaknya satu-satunya menuju ke pekuburan, di tengah perjalanan itu Yesus berjumpa dengan iring-iringan kematian itu. Janda itu menangis dalam dukacita yang besar, pengharapannya hilang dan pupus, entah bagaimana dia akan menjalani hari-hari di depan sebab satu-satunya anak yang dimilikinya telah meninggal dunia. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan, compassionate, Ia datang dan menghampiri janda itu dan berkata, “Jangan menangis!” (Lukas 7:11-17).

Meskipun Yesus kerap kali letih dan lelah di tengah kerumunan orang banyak yang mengelilingi Dia kemanapun Ia pergi, Yesus lebih melihat keletihan rohani dari orang-orang itu. “Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Matius 9:35-36).

Orang banyak menyeret seorang pelacur yang siap mereka rajam dengan batu karena tertangkap basah dalam keadaan berdosa. Hati manusia yang penuh dengan pembenaran diri ingin segera melampiaskan emosi kemarahan mereka dengan melemparkan batu dan merajam wanita itu sampai mati hancur. Wanita itu hanya bisa tertunduk di tanah, tidak ada excuse, tidak ada hal yang bisa dia kerjakan di situ, kecuali satu hal, memohon belas kasihan dari “Yang Di atas.” Maka Yesus berbelas kasihan kepadanya (Yohanes 8:3-11).

Itu semua contoh-contoh konkrit yang dicatat Alkitab untuk memberitahukan kepada kita ketika Yesus Anak Allah datang ke dunia, mengkonkritkan dengan nyata apa arti sifat dan karakter Allah yang penuh dengan belas kasihan seperti itu.

Siapakah TUHAN? Ia adalah Allah yang pengasih dan penyayang. Biar hati kita digugah sekali lagi, kita dibawa oleh firman Tuhan penuh melimpah dengan syukur karena kita bukan orang-orang kudus yang sedang berbakti ke rumah Tuhan, kita adalah orang-orang yang penuh dosa yang Allah sedang datang menghampiri kita. Itulah kata yang dipakai di dalam Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15:20, “…ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”

Kedua, Tuhan adalah Allah yang penyayang, the gracious God. Berbeda dengan compassionate, yang lebih melihat belas kasihan Tuhan terhadap orang yang penuh dengan cacat cela, kesulitan dan kelemahan, yang hanya bisa menengadah menanti belas kasihanNya, gracious lebih berarti banyak hal yang Allah punya dan miliki, yang diberikanNya dengan limpah dan murah hati. Compassionate adalah merangkul orang itu; gracious berarti membawanya pulang, mengobatinya, memberinya pakaian yang baru, menjamu dia dengan pesta yang meriah dan makanan yang berlimpah, semua yang tidak sepatutnya dan selayaknya orang itu terima (band. Lukas 15:22-24). Itulah the gracious God. Pada waktu kita melihat semua apa yang kita dapat dan miliki hari ini, kita tahu semua itu telah Tuhan berikan kepada kita, yang tidak selayaknya menerima semua itu. Tidak ada orang yang telah menerima keselamatan dari Tuhan akan berbangga dalam hatinya mengatakan bahwa dia memang layak mendapatkan semua itu. Darah Yesus yang tercurah di kayu salib, kematianNya menebus engkau dan saya. Kita hanya bisa berkata, “Tuhan, terima kasih. Aku sesungguhnya tidak berlayak menerima semua itu.”

Ketiga, Tuhan menyatakan diriNya adalah Allah yang panjang sabar, slow in anger, dan dalam terjemahan King James Version yang kuno “long-suffering.” Dalam 2 Petrus 3:9 Petrus memperlihatkan dimensi panjang sabar Tuhan begitu indah, “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, tetapi Ia sabar terhadap kamu karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Sejauh timur dari barat demikianlah Tuhan menjauhkan segala dosa dan pelanggaran kita, kata pemazmur dalam Mazmur 103. “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu adanya.” Tuhan Allah kita dalah Allah yang panjang sabar dan Dia berlambat untuk marah. Panjang sabar itu dinyatakan Allah di dalam dimensi waktu yang panjang, bukan supaya orang menghina kesabaranNya, dan Tuhan bisa dipermainkan di dalam kesabaranNya. Panjang sabar Tuhan itu adalah supaya orang sadar, berbalik dan bertobat. Kalimat itu berarti senantiasa ada kesempatan, senantiasa ada dimensi yang baru. Kepada bangsa yang tegar tengkuk, kepada bangsa yang telah membuat Allah ditertawakan oleh bangsa-bangsa lain, Allah telah dirugikan. Tetapi Allah yang panjang sabar itu memberikan kesempatan kepada mereka, kepada engkau dan saya, untuk bertobat kembali kepadaNya. Mari hari ini kita menghampiri mezbah Tuhan dengan hati dan sikap seperti ini karena Ia senantiasa memberikan kepada kita kasih dan cinta yang mendorong kita untuk maju lagi, melangkah kembali. Waktu kita jatuh, kita boleh bangun kembali. Maka di dalam bagian ini Tuhan mengatakan kepada Musa, “Engkau tidak mungkin tahan melihat wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Keluaran 33:20).Kempat, Allah kita adalah Allah yang berlimpah kasihNya dan setiaNya, abound in love and faithfulness. Kasih setiaNya Allah nyatakan dari generasi ke generasi seterusnya. Kasihnya ada selama-lamanya, kesetiaanNya ada selama-lamanya. KasihNya dan kesetiaanNya tidak akan pernah berakhir, ada untuk selamanya dan seterusnya.

Efesus 3:18 “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Allah berkata kepada Musa, kasihNya abound in love, kasih yang tidak bisa terukur dengan apapun. Makin kita ukur, makin kita coba memahami, makin takjub hati kita menyadari kasih dan setiaNya begitu luas tidak ada batasnya. Di situ kita “tenggelam” di dalam kasih Tuhan.

JIkalau engkau telah terlalu banyak dilukai oleh dunia ini, jika engkau merasa kurang dihargai dan dicintai oleh dunia ini, jika engkau sedang mengalami berbagai kesulitan hati, merasa guilty ikut Tuhan dan merasa kurang mengasihi mencintai Tuhan, saya berharap dan berdoa kiranya firman Tuhan ini sekali lagi menggugah hati kita. Jikalau kita pulang ingin menjadi wakil-wakil Tuhan di dalam dunia ini, bawa sifat dan karakter Allah ini nyata di dalam hidupmu dilihat orang lain.(kz)