06. Siapakah Tuhan itu Bagimu?

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 7/4/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (6)

Nats: Keluaran 3:16 – 4:17

 

Tidak ada orang yang pernah meragukan kebesaran dan keagungan Musa dalam sejarah manusia. Namun kisah Exodus bukanlah kisah mengenai heroisme Musa; bukan kisah mengenai betapa luar biasanya mujizat dan kuasa yang diperlihatkan oleh Musa. The story of Exodus is the story of God. Kisah Exodus adalah kisah tentang Allah yang di dalam sejarah ini ingin menyatakan keselamatan, kisah dimana Tuhan menyatakan diriNya sebagai Allah Perjanjian. TUHAN Yahweh, itulah namaNya. Kisah Exodus sekaligus juga menjadi satu cermin tipologi nantinya Tuhan akan menyatakan eksodus yang kedua, kisah sejarah keselamatan dimana Anak Allah datang menjadi Juruselamat membawa kita keluar dari perbudakan dosa. Dua peristiwa besar ini disertai dengan begitu banyak mujizat dan tindakan Allah yang berkarya mengontrol sejarah, berkarya mengontrol alam semesta, air, badai, topan, dsb, karena Allah itu datang untuk bertindak melepaskan kita dari perbudakan dosa. Rasul Paulus sungguh menyadari kebenaran ini ketika dia memberi suatu analogi, “Nenek moyang kita telah melintasi laut…” (band. 1 Korintus 10:1-5); ada peristiwa lain yang jauh lebih ajaib dan lebih besar meskipun tidak spektakuler secara natural, yaitu pada waktu kita dibaptis ‘menyeberang’ keluar dari perbudakan dosa. Peristiwa ini mungkin tidak se-spektakuler bangsa Israel keluar dari laut yang terbelah dua, tetapi lebih indah dan lebih agung ketika Roh Kudus membawa kita keluar dari kegelapan dosa. Inilah kisah Exodus, kisah dimana Tuhan berkata, “Akulah TUHAN.”

Tuhan seperti apa yang kita sembah? Tuhan menyebut diriNya, “I AM THAT I AM, Allah Abraham, Ishak dan Yakub.” Sebutan ini nantinya dipakai oleh Tuhan Yesus untuk mengingatkan orang-orang Yahudi, Tuhan dari dahulu, sekarang sampai selama-lamanya tetap sama adanya. Ia tidak mengatakan “I WAS,” tetapi “I AM.” Sekalipun Abraham sudah mati, Ishak sudah mati, Yakub sudah mati, Allah tetap Tuhan yang hadir selama-lamanya.

Keluaran 3-4 adalah satu bagian yang indah sekali, ketika Tuhan menyatakan sejarah keselamatan itu, bagaimana dialog antara Tuhan dengan Musa yang diutusNya memperlihatkan kepada kita betapa gampangnya keengganan kita, betapa mudahnya penolakan kita dan betapa kita dalam hidup ini bisa men-twisted segala sesuatu untuk berusaha tidak berjalan di dalam sikap ketaatan menggenapi rencana dan maksud Tuhan yang baik, sekaligus betapa panjang sabar Tuhan memberikan pengenalan akan siapa Dia. Empat kali Musa mengeluarkan excuses dan alasan untuk menolak panggilan dan pengutusan Tuhan kepadaNya.

Excuse yang pertama, Musa mengatakan, “Siapakah aku ini, Tuhan?” (Keluaran 3:11). Nampaknya ini seolah satu pengakuan yang humble dan rendah hati, tetapi sesungguhnya kalimat ini menyatakan keengganan Musa. Excuse yang kedua, Musa berkata, “Siapa Engkau?” (Keluaran 3:13). Excuse ketiga, “Bagaimana kalau mereka tidak mau menerima aku?” (Keluaran 4:1) Excuse keempat, “Tuhan, aku seorang gagap dan tidak pandai berbicara” (Keluaran 4:10). Tetapi sampai kepada kalimat kelima, bukan berupa excuse, tetapi penolakan secara terbuka dan halus, “Tuhan, utus orang lain saja” (Keluaran 4:13). Maka respons Tuhan kepada kalimat Musa yang kelima ini menjadi berbeda. Pada empat excuses, Tuhan menjawab dengan sabar memberi penjelasan, tetapi akhirnya Tuhan menjadi murka kepada kalimat Musa yang kelima. Ada sesuatu yang lain di situ, lebih daripada excuses dan keberatan.

Tuhan berkata kepada Musa, “Engkau kenal namaKu, Aku Allah yang memperhatikan dan mendengar segala seruan umatKu atas ketidak-adilan yang mereka alami” (Keluaran 3:7-9). Tidak ada jalan keluar, tidak ada yang bisa melepaskan umat Tuhan di tengah aniaya tekanan yang begitu berat kecuali Tuhan sendiri yang bertindak dan intervensi dan sanggup bekerja di dalam hidup kita. Tuhan bilang, “Pergi dan katakan kepada para pemimpin dan penatua orang Israel, dan Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau apa yang harus engkau katakan. Dan setelah itu pergilah kepada Firaun dan katakan kepadanya, ‘Beginilah firman TUHAN: Israel adalah anakKu, anakKu yang sulung. Biarkanlah anakKu itu pergi supaya mereka beribadah kepadaKu” (Keluaran 4:23).

Dalam pernyataan Musa kepada Firaun nantinya kita akan menemukan Musa berkata seperti ini, “Ijinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami supaya jangan nanti mendatangkan kepada kami penyakit sampar atau pedang” (Keluaran 5:3). Kenapa Musa berkata seperti ini, seolah Musa tidak menyatakan sepenuhnya rencana bangsa Israel pergi meninggalkan Mesir selama-lamanya? Apakah Musa takut nanti Firaun tidak akan memberi ijin kepada mereka? Kenapa Tuhan mengijinkan Musa tidak menyatakan sepenuhnya apa yang menjadi rencana Tuhan terhadap bangsa Israel? Beberapa penafsir mengatakan Firaun tidak berhak untuk mengetahui semua rencana Tuhan, apa yang memotivasi mereka dan apa tujuan mereka ke padang belantara. Ada penafsir yang mengatakan kebiasaan waktu itu kalau seseorang akan pergi selama tiga hari, berarti sebenarnya mereka tidak akan kembali lagi. Tujuan Tuhan adalah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan aniaya dari orang Mesir, tetapi Tuhan tidak menyatakan hal itu dan Musa juga tidak mengatakan hal itu kepada Firaun. Ada alasan yang penting luar biasa di balik hal ini. Memang betul Tuhan memperhatikan orang yang miskin dan tertindas. Tetapi bukan sekedar bebas yang menjadi tujuannya; bukan sekedar merdeka dan lepas dari Firaun yang menjadi tujuannya. Apa gunanya orang itu bisa bebas merdeka dan tidak menjadi budak orang lain tetapi hati mereka tidak cinta Tuhan? Jauh lebih baik kita mungkin berada di dalam penjara, terkungkung dan tidak punya kebebasan secara fisik, tetapi hati kita bisa bebas berbakti dan menyembah Tuhan. Maka Exodus bukanlah sekedar cerita bagaimana Tuhan membebaskan orang yang diperbudak menjadi bebas. Exodus bukan kisah kemerdekaan, bagaimana satu bangsa yang dijajah oleh satu bangsa yang lain dilepaskan dan dibebaskan, tetapi itu lebih merupakan kisah teologis, hal rohani. Tujuan Tuhan melepaskan dan membebaskan mereka supaya mereka bisa berbakti kepada Allah yang benar. Maka Tuhan menyuruh Musa mengatakan kepada Firaun, “Biarkanlah umatKu pergi supaya mereka beribadah kepadaKu.” Firaun tahu maksud dari perkataan ini adalah meminta bangsa ini dibebaskan, tetapi sesungguhnya bukan ini yang menjadi tujuan utama Allah. Tujuan utama Allah adalah melepaskan dan membebaskan mereka supaya hati mereka berbakti kepada Allah yang benar adanya. Tetapi Firaun tidak akan membuat cara dan jalan yang mudah. Ia pasti akan dipaksa Tuhan dengan tangan yang keras baru akhirnya melepaskan orang Yahudi.

Tuhan menggunakan peristiwa Exodus supaya setiap orang yang telah dilepaskan dan dibebaskan oleh Tuhan masuk di dalam sejarah keselamatan, bersekutu dengan Tuhan mengerti dan mengetahui Allah yang benar yang seperti apa yang kita berbakti adanya. Di dalam bagian ini setidak-tidaknya langsung dua hal muncul bagaimana mereka mengenal Allah Yahweh itu. Tuhan Allah bukan saja Allah yang menyelamatkan mereka; Tuhan Allah bukan saja Allah yang mengetahui masa depan kita; tetapi sekaligus Ia adalah Tuhan Allah yang menentukan hasil akhirnya. Percuma saja kalau Allah hanya memberitahu apa yang akan terjadi di depan, namun Ia tidak bisa mengontrol hasil akhirnya. Maka Tuhan Allah bilang Aku akan melepaskan mereka sekalipun ada kesulitan dan perlawanan dari Firaun yang tidak mau melepaskan mereka begitu saja. Tuhan berjanji akan mengacungkan tanganNya dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib (Keluaran 3:19-20). Sekaligus dengan kalimat itu Tuhan berkata, di tengah segala oposisi yang diberikan oleh Firaun, justru kemuliaan Allah makin dinyatakan melaluinya. Di tengah segala kesulitan dan tekanan yang diberikan oleh Firaun kepada bangsa Israel, Tuhan tetap merangkai itu semua menjadi indah untuk menggenapkan apa yang sudah tentukan dan rencanakan pasti digenapi dan dilaksanakan. Itulah Allah yang kita sembah. Kita tidak seharusnya bertanya ‘mengapa,’ kita tidak seharusnya menjadi kecewa, kuatir akan apa yang akan terjadi di depan karena kita tahu Ia adalah Allah yang memegang masa depan kita. bukan itu saja, Ia adalah Allah yang menjalin segala sesuatu menjadi indah adanya. Mungkin engkau dan saya akan mengambil keputusan yang kelihatannya kurang baik sekalipun dari perhitungan manusia, tetapi itu akan menjadi keputusan yang indah dan baik selama itu terjadi karena kita lebih cinta dan taat Tuhan daripada taat kepada uang. Mungkin engkau akan mengambil keputusan pindah dari pekerjaan yang kelihatannya lebih kurang dibanding tawaran yang menggiurkan daripada hal itu berdampak kepada keluargamu dan penghasilanmu, tetapi kita tahu keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang kita ambil karena kita mau mencintai Tuhan dan menjunjung tinggi akan Dia.

Kedua, Tuhan Yahweh yang kita sembah itu adalah Tuhan yang menyatakan diri dengan ‘Divine Justice.’ “Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini sehingga mereka tidak pergi dengan tangan hampa…” (Keluaran 3:22). Kalau kita lihat nanti ke belakang, orang Israel ini bisa mempersembahkan begitu banyak mas, perak dan berbagai logam mulia untuk mendirikan Kemah Suci bagi Tuhan. Darimana mereka bisa memiliki semua itu kalau sudah beberapa generasi mereka hanya budak? Selama 400 tahun lamanya orang Mesir memperkerjakan mereka dengan gratis, mereka dipaksa bekerja dan diperlakukan dengan tidak adil. Maka Tuhan berjanji orang Mesir akan membayar semua hak mereka sekaligus dengan bunganya. Bangsa Israel 400 tahun lamanya bekerja tanpa mendapatkan upah yang sepatutnya, Tuhan punya cara tersendiri melalui segala mujizat dan pekerjaanNya yang luar biasa membalaskan kepada mereka upah yang setimpal dengan kerja mereka. Pengadilan dunia mungkin tidak berdaya menuntut raja-raja dan pemimpin-pemimpin yang corrupt. Pengadilan dunia mungkin tidak bisa menarik dan mengadili despot kejahatan perang yang lari entah kemana. Pengadilan dunia mungkin tidak bisa dan tidak berdaya mengadili secara adil orang-orang yang tiran, mengadili orang-orang yang mengambil dengan paksa harta milik orang lain; pemimpin-pemimpin dunia, pemimpin-pemimpin gereja, yang mungkin melakukan segala tindakan yang di mata Tuhan bukan hal yang benar adanya. Pengadilan dunia mungkin tidak berdaya, tetapi semua orang-orang itu tidak bisa luput dan lari dari pengadilan Tuhan satu kali kelak. “Demikianlah kamu akan merampasi mereka…” demikian kata Tuhan Allah.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang sedang menyatakan sejarah keselamatan seperti apa? Musa sebagai utusan Allah sedang berdiri sebagai apa? Musa sedang berdiri sebagai seseorang yang Tuhan mau pakai menjadi alat, sebagai seseorang yang menyatakan cinta kasih dan keadilan Tuhan. Namun excuse ke tiga muncul, “Bagaimana kalau mereka tidak mau percaya kepadaku dan tidak mau mendengar perkataanku?” (Keluaran 4:1). Di depan, Tuhan sudah mengatakan “they will listen to you” (Keluaran 3:18).Namun, Musa sudah lupa dan tidak ingat janji Tuhan yang dikatakan hanya beberapa saat sebelumnya. Sampai di sini Tuhan masih sabar menjawab dan meyakinkan Musa dan Tuhan kemudian memberikan dua tanda sebagai bukti yang menyertai Musa sebagai seseorang yang diutus Tuhan.

“Apa yang ada di tanganmu?” Tongkat. Lalu Tuhan menyuruh Musa mengulurkan tongkat itu dan seketika tongkat itu berubah menjadi ular. Secara teologis tongkat berubah menjadi ular ini mempunyai arti dan makna bahwa itu satu tanda Allah itu mengontrol kuasa-kuasa yang disembah oleh orang Mesir. Namun di sini Tuhan sekaligus menyatakan kepada Musa sesuatu benda mati yang tidak berharga, yang kecil dan tidak berarti bisa menjadi indah, berarti dan berharga di tangan Tuhan, bukan karena benda itu memiliki kuasa yang menjadikan dia lebih bernilai dan lebih berarti. Siapa pun kita, besar dan kecil, kita tidak mampu dan tidak berdaya dan tidak memiliki apa pun, namun ketika Tuhan menyentuh hidup kita, engkau dan saya bisa menemukan hal yang indah dan amazing dari hidup kita.

Hal kedua yang Tuhan lakukan pada diri Musa adalah penyakit kusta yang diberikanNya kepada Musa. Ada aspek spiritual yang dalam dari hal ini. Kenapa kusta? Ini untuk memberitahukan kepada Musa dan kepada kita semua, tidak ada hal yang hina, tidak ada hal yang remeh, tidak ada hal yang jijik dan dipandang orang sebagai stigma dalam masyarakat. Kusta pada waktu itu bukan saja penyakit yang tidak ada obatnya, tetapi juga menjadi penyakit yang paling dihinakan. Tuhan bisa menyembuhkan, Tuhan bisa memperbaiki dan Tuhan bisa menjadikan indah hal-hal yang seperti ini dari orang yang Tuhan pakai dan utus untuk melayaniNya.

Musa berkata, “Ah, Tuhan…” dua kali, “Ah, Tuhan…” (Keluaran 4:10 dan 13). Dan perhatikan, nama Tuhan di bagian lain ditulis semua dalam huruf besar T-U-H-A-N, tetapi di sini Musa memakai nama Tuhan, bukan TUHAN. Sebutannya sama, tetapi dengan understanding yang berbeda. Engkau kenal TUHAN? Ya. Engkau tahu Dia? Tetapi Dia yang menampakkan diri dengan sebutan yang engkau akui ada perbedaannya. Engkau tidak memahami siapa Aku dengan sungguh-sungguh, Allah seperti apa yang sedang berdiri di hadapanmu. What kind of God do you believe in? You might say and call His name, God. But who He really is for you? Bagaimana engkau mengerti karakterNya? Bagaimana engkau mengerti personalitasNya? Ini merupakan point yang terpenting dan terutama. Musa bisa bilang, “Ah, Tuhan…” Tetapi bagi TUHAN walau Musa memanggil namaNya, Musa tidak kenal sungguh-sungguh siapa TUHAN itu dalam hidupnya. Tuhan itu adalah Tuhan yang mendengar seruan dari orang yang berada di dalam kesulitan. Tuhan yang care, Tuhan yang bekerja.

Excuse keempat, “Tuhan, aku berat mulut, aku tidak pandai bicara dan tidak petah lidah…” Mungkin ini excuse yang baik, 40 tahun lamanya di padang gurun, hanya ditemani kambing dan domba, kapan ada kesempatan bicara bahasa manusia? Siapa audience-nya? Saya hanya tahu “ejaan lama,” bahasanya masih kuno, sudah banyak bahasa-bahasa baru, sudah kaku, sudah tidak gaul. Atau Musa itu stammer, atau gagap, bagaimana bisa bikin orang mau dengar kata-katanya? Sekarang waktu Musa bilang, aku gagap, aku tidak bisa bicara. Tuhan mengeluarkan jawaban yang bersifat retorik, “Siapakah yang membuat lidah manusia? Siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta? Bukankah Aku, yakni TUHAN?” Kalimat ini memberitahukan kepada kita Tuhan bisa memakai mata yang buta untuk menuntun orang di dalam jalan keselamatan. Tuhan bisa menggunakan orang yang bisu untuk menyanyi dan memuliakan Tuhan. Tuhan bisa membuat orang yang tuli bisa taat mendengar Tuhan. Tuhan tidak pernah meremehkan dan hanya memakai orang yang sehat dan pandai berbicara untuk Tuhan. Tuhan tidak pernah meremehkan orang yang memiliki segala kelemahan dan keterbatasan untuk melayani Tuhan. Namun berapa banyak orang yang diberi mulut yang lincah dan fasih berbicara namun tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun keberanan dari mulutnya? Berapa banyak orang Tuhan beri telinga yang dapat mendengar namun tidak pernah taat kepada apa yang Tuhan katakan kepadanya? Tuhan sanggup bisa memakai orang tidak punya tangan dan kaki untuk pergi jauh melayani Tuhan. Tuhan sanggup bisa memakai orang yang buta untuk bisa menuliskan syair lagu yang indah mencelikkan mata orang lain melihat keagungan dan kemuliaan Tuhan melaluinya. Itulah Tuhan yang kita sembah; itulah Allah yang sedang berdiri di hadapan Musa. Allah yang menyatakan keindahan keagunganNya untuk memberitahukan kepada kita tidak ada orang yang bisa datang mempersembahkan diri di dalam kelemahan dan kekurangannya tetap menjadi kelemahan dan kekurangan. Allah sanggup bisa menjadikan itu keindahan yang ajaib luar biasa.

Sampai di sini masih tetap Musa mengatakan, “Ah, Tuhan, utus orang lain saja.” Kali ini Tuhan murka. Tuhan tidak lagi menjawab dengan lembut dan sabar. Di belakang dari kalimat Musa, itu bukan sekedar merasa minder atau merasa tidak layak. Di balik dari kalimat itu memperlihatkan “term of condition” diatur oleh Musa. Dengan kata lain, Musa mau atur Tuhan seturut dengan konsepsi Musa tentang Tuhan seperti apa. Sebelum menghadapi oposisi dari Firaun yang pasti terus-menerus akan melawan Tuhan, Tuhan akan membereskan satu oposisi yang tidak kelihatan jelas, sebab berupa satu excuse dari Musa, yaitu ketidak-relaan dia untuk belajar takluk dan taat sepenuhnya. Sebelum kita menghadapi oposisi dari dunia luar yang pasti terus-menerus akan membengkokkan dan tidak mau berjalan di dalam ketaatan rencana Tuhan, Tuhan akan membereskan oposisi yang tidak kelihatan jelas dari hati kita yang belum takluk dan taat kepada Tuhan. Orang yang taat sepenuhnya kepada Tuhan pasti akan diberkati olehNya dan dilindungiNya. Mari kita meletakkan Tuhan dengan indah, dengan agung sebagai Allah yang sungguh-sungguh pusat hidup kita, Allah yang menjaga dan memelihara kita, Allah yang menjadi Panglima yang memimpin hidup kita, dan kita belajar takluk dan taat sepenuhnya karena Ia adalah Allah yang terus menyertai hidup kita.(kz)