26. Sembahlah Allah dengan Benar

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 22/9/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (26)

Nats: Keluaran 20:1-17

 

Bagian ini adalah 10 Hukum yang penting yang Tuhan beri pertama kali ketika bangsa Israel mengadakan perjanjian dengan Tuhan yang telah menebus mereka dari perbudakan Mesir. Mereka menjadi umat Tuhan, mereka menjadi milik Tuhan selama-lamanya. Apa bedanya mereka sebagai umat Tuhan yang telah ditebus Tuhan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang ada di atas bumi ini? Tuhan Allah ingin mereka menyatakan identitas mereka dengan hidup berlaku dengan sepenuhnya beribadah kepada Tuhan di dalam kekudusan dan kebenaranNya. Mereka mengenal Allah yang kudus dan benar, di situ mereka berkewajiban menjadikan pengenalan mereka kepada Allah dilihat dan disaksikan orang lain di dalam perilaku hidup mereka.

10 Hukum ini penting karena berbicara mengenai bagaimana relasi kita dengan Tuhan dan bagaimana relasi kita dengan sesama manusia. Maka sampai kepada Perjanjian Baru, Yesus menyimpulkan seluruh Hukum Taurat dan kitab para Nabi dengan dua kalimat ini, “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu… dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” (Markus 12:29-31).

Mari kita hari ini membawa fokus kepada Siapa yang memberi Hukum itu, Siapa Tuhan yang kita sembah itu. Keluaran 20:3-7 memperlihatkan tiga aspek siapa Tuhan itu, bagaimana umatNya menyembah Dia dan bagaimana mereka membawa nama Tuhan itu di dalam hidup mereka sebagai anak-anak Tuhan. Tuhan mengatakan,”Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu. Jangan membuat patung apapun dan sujud menyembahnya. Jangan menyebut nama Tuhan Allah dengan sembarangan.”

Pertama, jangan ada padamu allah lain di hadapanKu. Dalam Roma 1:20 Tuhan telah menyatakan siapa Dia melalui alam semesta ciptaanNya, tetapi karena dosa manusia selalu memiliki kecenderungan berarah kepada dua hal ini, yaitu pertama, penyembahan berhala yaitu mengetahui ada Allah, mengaku menyembah Allah tetapi mengganti Allah dengan allah yang palsu (Roma 1:23). Dan kedua, mereka merasa tidak perlu mengakui Tuhan, yang kita kenal sebagai Ateisme, yang menyangkal keberadaan Tuhan (Roma 1:28).

The Larger Catechism pertanyaan nomor 104 dan 105 menjelaskan secara khusus akan hal ini. Pertanyaan 104, apa tuntutan dari hukum ini? Kita mengakui Tuhan satu-satunya Tuhan yang benar dan di dalam kita mengakui itu, kita menyatakannya di dalam ibadah, kita memuliakan Dia dengan sepatutnya di dalam setiap aktifitas hidup kita, baik di dalam kita berpikir, di dalam kita bermeditasi, di dalam kita mencintai, di dalam apa yang kita percayai, semua itu tidak lain dan tidak bukan kita mengarahkan semua di dalam memuji dan bersyukur kepadaNya. Tuntutan dari hukum ini adalah supaya kita memberikan ketaatan yang sepenuhnya kepada Tuhan. Pertanyaan 105, dosa apa yang dilarang dari hukum ini? Hukum ini melarang kita memiliki hidup yang berarah kepada Ateisme, hidup yang menyangkal Tuhan, dan hukum ini melarang kita memiliki hidup yang bersifat penyembahan berhala, menggantikan Allah yang sejati dengan allah-allah lain di dalam hidup kita. Hukum ini juga melarang kita menjadikan diri kita sebagai allah di dalam hidup ini. Hukum ini melarang kita memiliki self-love dan self-seeking. Mungkin kita tidak punya berhala yang kelihatan, mungkin kita bukan orang yang memiliki paham Ateisme, tetapi tidak berarti hidup kita tidak luput dari kesalahan yang sama ketika kita menjadikan diri kita adalah berhala.

Beberapa waktu belakangan ini media mencatat Paus Francis memberikan beberapa kalimat yang kontroversial. Salah satunya dia mengatakan kepada orang Ateis, tidak perlu percaya Tuhan untuk masuk surga. Saya terus terang bingung dengan kalimat dia seperti itu. Kalau seorang mengaku surga ada berarti dia mengaku itu adalah tempat dimana Tuhan ada, tetapi kalau dia sendiri tidak percaya Tuhan ada, bagaimana dia percaya “tempat”-nya ada tetapi Tuhannya tidak ada?

Jelas Alkitab mengatakan Allah yang sejati itu ada. Dia hadir di tengah-tengah kita. Manusia di dalam keberdosaannya selalu mengambil reaksi menolak kebenaran ini. Ateisme bisa berupa filsafat pengajaran kita tidak mengenal dan mengakui Allah, tetapi Ateisme juga bisa merupakan suatu sikap hati dimana kita mengutamakan diri dan menjadikan diri kita lebih penting dan lebih utama. Maka bisa terjadi hal ini pada diri orang yang notabene berkata aku sudah melakukan semua hukum yang Tuhan berikan kepadaku, seperti anak muda yang datang kepada Tuhan Yesus (Matius 19:16-22). Yesus lalu mengatakan kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah juallah segala milikmu dan berikan kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku…” Ini adalah panggilan Yesus untuk komitmen hati secara total kepada siapa. Kalau dia seorang ateis yang terbuka mengatakan dia tidak mengaku ada Tuhan lalu ketika ditawarkan untuk percaya Tuhan, wajar kalau reaksi dia tertawa lalu pergi. Tetapi sangat paradoks kalau reaksi itu terjadi di dalam diri orang beragama. Saya percaya di rumah anak muda ini tidak ada secuil berhala dia simpan, saya percaya dia berbakti dan menuruti segala perintah agama dengan rajin. Tetapi pada waktu Yesus meminta dia untuk committed dengan menjual seluruh hartanya lalu mengikut Yesus, maka pergilah dia dengan sedih, dan Alkitab mencatat detail ini “sebab banyak hartanya” (Matius 19:22). Maka Yesus mengatakan, “Betapa sukarnya orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah.” Lalu di bagian lain Yesus mengingatkan, “…sebab dimana hartamu berada, di situ hatimu berada” (Matius 6:21). Dengan kata lain, cinta diri, menjadikan diri sebagai tolok ukur, mencintai segala sesuatu lebih daripada mencintai Tuhan, itulah allah dan berhala kita.

Itulah yang diingatkan oleh The Larger Catechism sebagai dosa yang dilarang dari hukum pertama ini selain bicara mengenai Ateisme dan penyembahan berhala, ada hal yang tanpa sadar bisa menjadi pelanggaran bagi orang percaya yaitu ketika self-love dan self-seeking dalam hidupnya. Maka dengan demikian hukum ini bukan saja berlaku bagi bangsa Israel yang pada waktu itu menghadapi berbagai berhala kompetitif yang ada di sekitar mereka, dimana mereka harus berfokus menyembah Allah saja, tetapi di dalam hidup kita di dunia modern meskipun kita tidak menghadapi hal seperti itu, berhala-berhala lain juga bertaburan di sekeliling kita.

Tragedi raja Salomo mengingatkan kepada kita betapa kuasa power, harta kemakmuran, dan cinta diri bisa menjadi berhala yang bisa membawa kita bercabang hati, menjauh dari Tuhan. Dalam 1 Raja 3:9 kalimat dibuka dengan ‘humble beginning’ dari raja Salomo ketika Tuhan mengijinkan dia meminta apa saja dari Tuhan, dia tidak minta uang, dia tidak minta kuasa, dia tidak minta umur panjang, tetapi Salomo meminta Tuhan memberinya hati yang bijaksana untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Itu adalah hati rohani, hati yang mau memahami kebenaran lebih penting daripada segala-galanya. Permintaan Salomo yang masih muda ini membuat Tuhan kagum luar biasa karena dia bisa meminta sesuatu yang lebih penting daripada umur panjang, kekayaan dan kuasa. Bukankah Amsal berkata “Takut akan Tuhan itu adalah permulaan dari segala pengetahuan”? (Amsal 1:7) Tetapi perjalanan hidup Salomo memperlihatkan tragedi yang besar karena sensualitas, uang dan kuasa akhirnya membawa hidup dan hati Salomo menjauh dari Tuhan secara pelan tapi pasti tanpa disadari olehnya. Alkitab mencatat Bait Allah didirikan oleh raja Salomo menghabiskan waktu pembangunan selama 7 tahun (1 Raja 6:38b), tetapi istananya sendiri menghabiskan waktu pembangunan sampai 13 tahun lamanya (1 Raja 7:1). Dengan membandingkan dua hal ini saja kita bisa melihat apa yang Alkitab ingin katakan tentang Salomo. Memang tidak ada yang meragukan dia membangun Bait Allah yang besar dan megah; tidak ada yang meragukan kerinduannya membangun rumah bagi Tuhan. Tetapi untuk rumahnya sendiri dia membuat dua kali lebih megah daripada rumah yang buat Tuhan. Ketika Salomo makin besar, makin berkuasa, makin kaya, hatinya makin jauh dari Tuhan. Dalam 1 Raja 11:5-6 Alkitab mencatat Salomo mulai menyembah illah-illah lain dan apa yang dilakukannya itu jahat di mata Tuhan dan dia tidak sepenuh hati mengikuti Tuhan.

Kisah hidup Salomo harus membuat kita mawas diri di dalam perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan karena tragedi ini bisa terjadi kepada siapa saja. Tragedi hidup dan keluarganya dimulai dari satu awal yang baik, yang rendah hati, yang meminta hati yang bijaksana dan hidup kerohanian yang sungguh, tetapi ketika cinta diri, uang dan kuasa menjerat dia, akhirnya itu semua menjadi berhala-berhala yang menguasai dan mengontrol seluruh hidupnya. Maka di akhir hidupnya Salomo meninggalkan Tuhan, dia berdosa dan bersalah di hadapan Tuhan.

John Frame pada waktu membahas hukum ini menambahkan satu point yang menarik, “…bagi orang Kristen yang hidup pada jaman modern ini, Sekularisme adalah kekuatan yang paling besar yang menjadi rival berhala bagi hidup kita.” Dia mengingatkan bahwa kita hidup di dalam dunia ini mengalami tekanan Sekularisme yang luar biasa besar. Proses sekularisasi itu berusaha menyingkirkan agama untuk tidak bisa masuk ke dalam wilayah publik dan membatasinya sebagai suatu hal private seseorang. Maka pada waktu kita mendiskusikan apa saja di dalam wilayah publik seperti ilmu pengetahuan, etika atau hukum apapun, Sekularisme menolak aspek agama masuk di dalamnya. Sedikit banyak di dalam hukum dan pendidikan sekularisasi sudah begitu kuat menguasai, khususnya pendidikan di Public School di negara-negara Barat. Inilah tantangan bagi keluarga-keluarga Kristen membesarkan anak-anak; kita tidak boleh lalai dan kita pikir selama anak kita sekolah dia pasti mendapat guru yang mendidiknya menjadi indah dan baik. Kita tidak boleh mengabaikan pendidikan anak kita kepada orang lain, karena itu semua tidak cukup membuat anak kita bertahan menghadapi proses sekularisasi yang ada. Orang tua bertanggung jawab memikirkan pendidikan anak-anak supaya siap selalu bagaimana hidup di dalam dunia ini dengan mengingat mereka bukan bagian dari dunia ini. Kita perlu serius memikirkan pendidikan yang baik bagi anak-anak kita. Kita tidak boleh mengabaikan, jika ada kesempatan taruh anak-anak kita ke sekolah-sekolah yang baik, yang menjunjung tinggi iman Kristen dengan baik. Itu adalah bagian dari pertanggung-jawaban kita membesarkan anak kita. Kita tidak boleh menjadikan soal ekonomi dibandingkan dengan pembentukan iman dan karakter anak kita. Ini merupakan salah satu panggilan kita secara konkrit mewujudkan kerinduan kita agar keluarga dan anak-anak kita dibesarkan dengan menjadikan Tuhan lebih utama di dalam hidup mereka.

Aspek kedua, jangan membuat patung apapun dan jangan sujud menyembahnya. Tuhan memanggil kita mendedikasikan hidup kita kepada Tuhan, tidak boleh ada berhala yang lain yang boleh kita sembah. Tetapi pada saat yang sama Tuhan yang sejati itu juga memberikan peraturan hukum kepada kita bagaimana dengan benar kita meng-approach Tuhan di dalam hidup kita, bagaimana cara yang benar beribadah dan menyembah Allah kita.

Gerakan Reformasi muncul untuk memulihkan sistem berbakti di dalam Gereja melewati pro dan kontra yang tidak sepele adanya. Sudah ratusan tahun lamanya orang terbiasa dengan cara-cara tahayul dengan air suci, ada patung-patung orang suci tempat mereka berdoa, itulah sistem ibadah yang berlangsung sebelum gerakan Reformasi muncul. Gerakan Reformasi menolak cara ibadah seperti itu karena itu bukanlah ibadah yang berkenan kepada Tuhan. Tetapi ibadah yang benar dan baik, yang bagaimana? Reformator sama-sama memikirkan dengan cara seperti apa kita beribadah kepada Tuhan sesuai dengan kata Alkitab. Pada satu masa kaum Puritan di Inggris membuang semua patung-patung orang suci dan gambar-gambar mozaik dari jendela gereja. Gereja hanya dicat putih dan polos. Bukan saja patung-patung itu dibuang dan dihancurkan, bahkan alat musik seperti organ juga dikeluarkan dari gedung gereja. Tetapi kita harus memahami tindakan mereka ekstrim seperti itu karena bagaimana mereka sedang berpikir ingin melepaskan diri dari cara ibadah yang mereka anggap menyembah kepada berhala. Tidak mudah menginterpretasi dan bicara mengenai cara ibadah dan cara berbakti kepada Tuhan. Hingga kini bagaimana satu gereja ‘set up’ cara ibadah supaya orang boleh datang dengan hati yang sungguh kepada Tuhan masing-masing mungkin bisa berbeda.

Gerakan Reformasi mengingatkan bahwa ibadah itu haruslah menjadi ibadah yang dipahami sehingga salah satu point yang paling penting di dalam Reformasi adalah mengganti liturgi yang berbahasa Latin menjadi bahasa yang dimengerti oleh orang setempat. Maka dua aspek ini muncul: ibadah itu harus menjadi ibadah yang relevan, tetapi pada saat yang sama ibadah itu harus ibadah yang berkenan kepada Tuhan karena untuk Dialah kita datang beribadah.

Pada waktu gambar dan icon dan patung kemudian berpotensi untuk manusia jadikan sebagai penyembahan berhala, di situlah sebenarnya hukum ini melarangnya. Bagaimana dengan gambar-gambar Yesus yang dipakai di Sekolah Minggu? Apakah itu menjadi pelanggaran karena menggambar Allah? Pada waktu gambar-gambar seni itu menjadi satu alat paedagogi untuk mengajar, dsb maka kita katakan gambar-gambar seperti itu bukanlah bersifat berhala untuk menggambarkan Allah kita.

Secara praktis bagian ini mungkin perlu kita diskusikan baik-baik bagaimana hidup orang Kristen memiliki prinsip dan keseimbangan.

Aspek ketiga, jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan. Jelas sekali karena di dalam NAMA itu kita tahu bukan sekedar nama. Di balik dari nama itu kita tahu ada sifat, karakter, kuasa dari siapa Pemilik nama itu. Itu sebab pada waktu kita tiba pada bagian ini berarti jangan kita menggunakan bahasa-bahasa religius sementara kita tidak memahami arti dan makna yang penting dari nama Tuhan. Sampai di sini saya ingin kesampingkan soal sumpah dulu. Lebih penting pertama-tama kita melihat apa yang ingin Alkitab katakan di sini adalah kita jangan menyebut nama Tuhan Allah kita dengan sembarangan di dalam beberapa point yang penting kita perhatikan.

Dalam Yeremia 14:14 dikatakan, “Para nabi itu bernubuat palsu demi namaKu! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka…” lalu kita lanjutkan dengan Matius 7:21-23, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga… Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!” Dua ayat ini memberi kita pemahaman apa artinya Tuhan mengatakan “jangan menyebut namaKu dengan sembarangan.” Jadi bukan sekedar orang yang kalau latah lalu menyebut nama Tuhan. Dalam ayat-ayat ini berarti di dalam penggunaan nama Tuhan mereka melakukan nubuat palsu, di balik aktifitas religius mereka menggunakan nama Tuhan untuk maksud yang tidak benar. Dalam Kisah Rasul kita menemukan anak-anak Skewa mengusir roh jahat dengan nama Yesus, lalu roh jahat itu bilang, “Yesus aku kenal, Paulus aku kenal, tetapi siapa kamu?” (Kisah Rasul 19:13-16). Mereka memakai nama Yesus untuk tujuan perdukunan. Di situ menjadi tekanan yang lebih penting dimana orang-orang memakai nama Tuhan dengan maksud yang tidak benar, dengan tujuan palsu, dengan menggunakan hal-hal rohani tetapi demi untuk tujuan bagi kepentingan diri mereka sendiri. Pendeta yang memakai nama Yesus lalu kemudian ingin mencari uang dan kekayaan itupun telah melanggar hukum Tuhan yang ketiga ini.

Apa arti nama Tuhan Yesus itu bagi kita? Filipi 2:9-11 memperlihatkan satu NAMA yang indah, nama Yesus, nama yang begitu agung dan mulia. Di dalam nama itu kita mendapatkan keselamatan. Panggil dan sebutlah nama Yesus maka engkau akan diselamatkanNya, sebab di dalam nama itu ada kuasa, ada keselamatan, ada kebenaran Allah selama-lamanya. Dan pada hari yang terakhir nama itu yang akan diserukan dan diagung-agungkan oleh semua orang di atas muka bumi ini, semua lutut bertelut dan semua lidah mengaku akan Dia. Nama itu bukan nama yang sembarangan. Pada waktu nama Yesus ada di dalam hidupmu dan engkau memanggil dan menyebutNya sebagai Tuhan dan Juruselamatmu, biar nama itu menjadi nama yang berbobot karena kitalah orang-orang yang membawa nama Yesus di dalam hidup kita. Biar kelakuan kita, tingkah laku kita, pebuatan kita yang disebut sebagai pengikut Yesus Kristus boleh sepadan dengan keindahan kemuliaan nama Tuhan kita.

Di dalam nama Yesus kita berdoa. Di dalam nama Yesus kita memiliki keberanian menghampiri tahta Bapa di surga. Di dalam namaNya Yesus telah memiliki segala kuasa dan kemuliaan, baik yang ada di atas bumi maupun yang ada di bawah bumi. Di dalam nama Yesus kita boleh dimateraikan di dalam keselamatan untuk selama-lamanya. Biar setiap kali kita memanggil nama Tuhan Yesus, kita memanggilNya dengan penuh hormat, respek dan takut, namun sekaligus penuh dengan sukacita. Kita rindu nama itu selalu menjadi nama yang kita bawa dalam hidup ini dan orang boleh melihat Kristus hidup di dalam hidup kita, karena di situlah kita menjalani setiap kebenaran firmanNya. (kz)