21. Segala Kemuliaan hanya bagi Tuhan

12/8/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (21)

Nats: 2 Timotius 4:6-8, 16-18

 

“To God be the glory forever and ever, Amen!” (4:18b)

Pada penutupan Olimpiade kita menyaksikan atlit yang gagal memperoleh medali emas, mereka sedih dan menangis. Dan mereka yang mendapatkan medali emas betapa bangga dan bahagia luar biasa. Tetapi yang lebih membanggakan, beberapa di antara mereka dengan terbuka menyatakan pujian syukur dan doa kepada Tuhan sebagai satu apresiasi yang indah sebagai anak-anak Tuhan di tengah arena publik mereka melihat segala bakat dan pencapaian mereka adalah anugerah pemberian dari Tuhan. Banyak dari mereka yang diwawancara mencetuskan syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan bakat itu kepada mereka. Kita bersyukur di tengah orang sukses, di tengah orang mampu, di tengah orang mendapatkan sesuatu, dia tidak lupa semua yang didapatnya itu bukan dari diri sendiri. Itu yang paling penting. Jangan sampai kita pikir di tengah kita mampu, hebat dan punya segala-galanya, kita lupa dan takabur bahwa semuanya itu anugerah dan pemberian Tuhan.

Kita kagum luar biasa, bagaimana bisa doxology ini keluar dari mulut rasul Paulus, “To God be the glory forever and ever. Amen!” Bagaimana doxology memuliakan Allah ini bisa keluar dari mulut seorang yang sedang dibelenggu di dalam penjara? Bagaimana doxology seperti ini bisa keluar dari mulut seorang yang mengalami penderitaan? Bagaimana kalimat ini bisa keluar dari mulut seorang yang sudah ditinggalkan seorang diri karena semua orang tidak berani menanggung resiko penderitaan bersama dia? Kalau kalimat ini bisa keluar dari Paulus, betapa itu adalah kalimat yang sungguh agung dan indah. Betapa juga agung dan indah kalau itu keluar dari mulut kita bukan pada waktu kita sukses, bukan pada waktu kita mendapatkan sesuatu, tetapi pada waktu kita berada di dalam kesulitan dan penderitaan, diimbas oleh segala kesakitan.

Paulus berkata, “Aku sudah mengakhiri pertandingan ini dengan baik. I have fought a good fight. I have finished the assignment God gave to me. I have preserved my faith to the end” (4:7). Tetapi kekuatan untuk melakukan semua itu datang darimana? Kemampuan itu berasal darimana? Paulus tidak mau orang melihat semua itu semata karena kehebatan dia. Dia membawa kita kembali kepada satu konsep yang penting yaitu hidup kita harus menjadi satu doxology, satu hidup yang mengembalikan segala pujian, hormat dan kemuliaan kepada Tuhan.

Bagaimana kita bisa memiliki satu doxological life? Yang pertama, lihat hidup kita ke belakang, kita harus selalu ingat apa yang membuat kita heran dan kagum. Di tengah penjara, di dalam ruang yang kecil, pengap dan gelap, mungkin tidak ada pemandangan ke depan, yang Paulus bisa lihat hanya tanah yang ada di bawah. Bisa jadi di tengah penjara dia dibelenggu dengan pasung kayu yang dipasang di leher sehingga tidak bisa melihat ke mana-mana selain hanya tunduk ke bawah. Bagaimana bisa keluar doxology dari mulutnya? Mari kita lihat hidup kita ke belakang, jangan pernah kehilangan rasa heran dan kagum melihat apa yang sudah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita di masa yang lampau. Di antara kita mungkin ada yang sudah ikut Tuhan lebih dari 50 tahun. Kekuatan apa yang menunjang kita bisa ikut Tuhan seperti ini? Kecuali kita mengaku dengan kagum, itu adalah penyertaan Tuhan semata. Biar setiap kita melihat kepada hidup kita masing-masing, kalau kita ada sebagaimana kita ada saat ini, bukankah itu pekerjaan Tuhan yang luar biasa? Ada yang mungkin pernah uangnya hanya tinggal beberapa dollar saja, tetapi dia menyaksikan Tuhan boleh pimpin dan pelihara sampai hari ini tidak kekurangan apa-apa. Kalimat syukur itu harus keluar dari mulut kita walaupun di dalam keadaan yang begitu susah dan berat, “To God be the glory forever and ever!”

Hidup kita mungkin bisa diimbas oleh kejahatan sehingga kita merana; hidup kita mungkin bisa dilibas oleh derita sehingga kita kecewa; hidup kita mungkin dicederai oleh kecemburuan dan iri hati orang sehingga membuat kita mengalami ketidak-adilan. Tetapi hidup kita tidak boleh dirusak oleh semua itu. Di tengah segala penderitaan, kesulitan dan air mata, kita harus meneriakan sukacita dan kegembiraan, “To God be the glory forever and ever!”

Paulus tidak terus melihat deritanya, Paulus tidak melihat belenggunya, Paulus tidak melihat ketersendiriannya. Luar biasa perspektifnya, bahkan ketika tidak ada orang yang mendampinginya, dia tetap memuji Tuhan karena Tuhan ada di sisinya. Justru melalui belenggunya dia bersyukur Injil bisa sampai kepada orang-orang bukan Yahudi yang mendengarnya. Kita tidak bisa mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal di dalam surat Roma berkali-kali Paulus mengatakan betapa inginnya dia pergi ke sana untuk mengabarkan Injil kepada orang yang belum percaya. Siapa yang sangka Tuhan akhirnya memang mengirim dia ke Roma, tetapi bukan seperti rencananya, melainkan dengan rencana Tuhan. Tidak perlu bayar tiket, menjadi seorang yang di-escort oleh tentara Romawi. Kalau jalan sendiri, mungkin di tengah jalan akan menghadapi ancaman bahaya dari penyamun dan perampok. Kali ini aman karena dikawal oleh tentara Romawi. Cuma bedanya, dia tidak bisa bebas naik turun kapal karena dia seorang tawanan.

Kedua, memiliki satu doxological life berarti kita menaruh hormat dan mulia pada posisi yang benar, hanya Tuhan yang berhak menerima segala puji, hormat dan kemuliaan itu. Orang yang tidak mau berbakti kepada Tuhan tidak akan pernah mengurangi kemuliaan Tuhan. Orang yang mengambil kredit dengan sombong bahwa dialah yang memiliki segala sesuatu dan mendapatkan segala sesuatu, tidak akan mengurangi kemuliaan Tuhan. Orang-orang yang seperti itu sama seperti orang yang menggunakan kain membentang menutupi sinar cahaya matahari namun tetap sinar matahari tidak pernah bisa terhalang oleh karena manusia ingin menutupinya. To God be the glory berarti menempatkan Tuhan sebagai yang patut dan layak menerima hormat kita di dalam hidup ini. Maka bicara mengenai hormat mulia di sini, doxological life berarti kembalikan segala puji, hormat, kemuliaan kepada Tuhan. Pada waktu kita dalam keadaan lancar, sukses, jangan pernah lupa menyatakan ‘to God be the glory forever and ever.’ Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, di tengah kita menangis, keluarkan kalimat ini, ‘to God be the glory forever and ever.’

Mari kita lihat beberapa kali Paulus mengatakan kalimat ‘to God be the glory’ memperlihatkan keindahan hidupnya yang selalu sadar betapa indah dan ajaibnya Tuhan dan dia teriakkan kemenangan sukacita ini, memuliakan Tuhan dan mencintai Tuhan. Sekalipun di dalam penjara, sekalipun di dalam sakit, dia tetap menyaksikan Tuhan betapa amazing.

Pertama, dalam Roma 9:5 Paulus begitu kagum, Mesias Yesus Kristus secara fisik lahir sebagai orang Yahudi di dalam keadaannya sebagai manusia, yang sebenarnya Ia ada di atas segala sesuatu. Ia kaya, Ia mulia, Ia penuh dengan rahmat kemuliaan, tetapi Ia rela lahir di kandang yang hina menjadi Manusia. Ketika menyadari Yesus di atas segala-galanya, Ia adalah Tuhan yang patut dipuji selama-lamanya.

Kedua, Roma 11:36 ketika Paulus melihat dimensi kemurahan Allah memberi keselamatan begitu indah, dia bersyukur dan berkata, “To God be the glory forever and ever!”

Ketiga, Galatia 1:5 menjadi pernyataan kagum atas apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan bagi kita. Ia menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia yang jahat ini. Siapa kita ini? Kita hanyalah orang berdosa yang ditebus oleh Tuhan Yesus, diselamatkan olehNya. Ketika merenungkan cinta kasih Tuhan yang begitu ajaib ini hati Paulus melimpah dengan kekaguman dan kesadaran itu tidak layak kita terima dan keluar doxology yang agung ini dari mulutnya. Tidak boleh ada orang Kristen yang tidak amazed apa yang Tuhan kerjakan di dalam keselamatan bagi kita, sebab pada waktu kita berhenti amazed, kita merubah gift Tuhan menjadi hak kita. Paulus tidak pernah lupa dan selalu sadar dia adalah orang yang telah dilepaskan dari dosa, itu adalah anugerah yang tidak sepatutnya dia terima. Maka keluar pujian dari mulutnya, ‘to God be the glory forever and ever!’

Keempat, Filipi 4:20 menjadi ayat yang penting sekali, karena bukan Tuhan kita tidak kaya, bukan Tuhan kita tidak mampu, bukan Tuhan kita tidak memiliki hal yang begitu berlimpah. Ia memiliki kekayaan kemuliaan yang ajaib luar biasa. Ayat ini memberikan janji yang penting, Allah akan mencukupkan segala yang kita perlukan, bukan segala yang kita inginkan dan kita mau. Kita jangan berpikir, ketika ada hal yang kita minta Tuhan tidak beri lalu kita bilang, kalau Tuhan kaya, kenapa Tuhan tidak beri? Justru kita harus refleksi, apakah berarti yang sedang kita minta kepada Tuhan itu bukan yang kita perlukan dan butuhkan? Ayat ini bilang Tuhan berjanji akan memberikan semua yang kita butuhkan di dalam kekayaan dan rahmatNya. Ketika Paulus merenungkan hal ini, keluar lagi sukacita dan doxology dari mulutnya, semua yang saya miliki, semua yang saya punya, tidak lain ‘to God be the glory.’

Hari ini saya harap kita menutup Surat 2 Timotius dengan tidak melupakan hidup doxological hidup kita. Lihat ke belakang, jangan lepaskan perasaan kagum kita kepada Tuhan, betapa sampai hari ini Tuhan jaga dan pelihara. Kita dulu seperti seorang anak kecil yang tidak berdaya, tidak sanggup, tidak mampu. Kalau tidak ada orang tua yang membesarkan kita, bagaimana jadinya kita? Sesudah besar kadang kita lupa dan menganggap kita ada sekarang ini karena kekuatan kita. Itu salah besar. Tetapi lebih indah lagi kita sadar kita bisa seperti ini, dari kecil sampai besar, bukan saja karena orang tua merawat tanpa pamrih dengan sacrifice dan grace yang tidak menuntut balas, tetapi juga di belakangnya ada Allah yang memberi, Allah yang mengasihi dan mencukupkan kita. Jangan hanya keluar doxology itu pada waktu kita lancar dan sukses. Kita harus bisa menyatakan doxology itu seperti Paulus walaupun diikat di dalam penjara, terbelenggu dan tersendiri, tetap dia melihat anugerah Tuhan luar biasa dan tetap dia melihat tangan Tuhan ajaib bisa bekerja melaluinya. Banyak orang yang tadinya tidak percaya Tuhan bisa melihat dan menyaksikan ini.

John Piper menulis satu buklet kecil “Don’t Waste Your Cancer” pada waktu dokter mendiagnosa dia menderita kanker. Sekalipun dia seorang pendeta, perasaan kaget dan mengejutkan melanda, tetapi kemudian pikiran ini yang kemudian muncul dari hatinya. Dia tidak mau kanker itu menjadi sia-sia. Dalam sehat ia mau memuliakan Tuhan, dan di dalam sakit sekalipun tetap ia mau memuliakan Tuhan. Hormat, pujian dan kemuliaan harus kembali kepada Allah.

Yang kedua, dalam 2 Timotius 4:8 hormat kemuliaan hanya diberikan kepada Tuhan; hormat kemuliaan itu milik Tuhan. Tidak ada orang yang boleh ambil, tidak ada orang yang boleh rebut, tidak ada orang yang boleh ‘claim’ itu dariNya. Tetapi pada saat yang sama kita menyaksikan Tuhan memberi hormat dan mulia kepada orang yang patut menerima hormat dan mulia. Di dalam dunia kita yang sudah jatuh di dalam dosa, seadil-adilnya, se-fair-nya kita berelasi, tetap kita akan menemukan ada orang yang tidak berhak dihormati mendapatkan kehormatan; tetapi ada orang yang sepatutnya dihargai dan dihormati tetapi tidak pernah mendapatkannya. Ada orang yang akhirnya kecewa dan mengeluh, betapa tidak adilnya dunia ini. Itulah hidup.

Tetapi di tengah-tengah itu Paulus mengingatkan someday akan datang Hakim yang adil. Kalimat itu jangan membuat kita takut, kalimat itu harus memberi kekuatan dan menghibur kita. Berarti satu kali kelak ada Hakim yang righteous dan adil yang akan memberikan penghakiman dan penilaian yang seadil-adilnya dan pada waktu itu terjadi, ini yang membuat kita amazed, Tuhan yang adil itu akan memberimu mahkota, kemuliaan, hormat. Mahkota itu diberikan bukan hanya kepada Paulus tetapi kepada semua orang yang rindu menantikan kedatanganNya.

Yang kedua, sekaligus kita menyaksikan Allah memberikan hormat, puji dan kemuliaan kepada orang-orang yang mencintai dan mengasihiNya. Kita perhatikan yang diberikan oleh Tuhan adalah ‘mahkota kebenaran,’ the crown of righteousness.’ Mahkota kebenaran memberikan kita satu ingatan penting berarti kita menerima mahkota itu sebab kita terlebih dahulu sudah ditebus, diselamatkan dan dibenarkan oleh Kristus.

Heidelberg Catechism mengatakan “This reward is not earned, it is a gift of grace.” Pada waktu kita ketemu Tuhan semua reward, semua pahala yang Tuhan beri kepada kita adalah sesuatu yang bukan kita peroleh sebagai yang berhak kita dapat tetapi semata-mata hadiah anugerah Tuhan kepada kita. Maka firman Tuhan mengingatkan kita pada waktu kita selesai mengerjakan semua hal yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita di dunia ini, waktu kita bertemu Tuhan, kita hanya berkata seperti ini, “Tuhan, kami hanya hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (band. Lukas 17:7-10). Semua kemampuan untuk mengerjakan itupun datangnya dari Tuhan, kemuliaan hanya kepada Tuhan! Tetapi sampai di situ Tuhan memberikan keindahan dan pujian kepada mereka yang sungguh mengasihiNya. Sekarang kita tidak melihat hal itu tetapi kita pegang janji Tuhan itu, yang kita percaya tidak pernah bersalah adanya. Itu yang bikin Paulus amazed dan berseru, “To God be the glory forever and ever!” sebab Allah menjanjikan mahkota pengganti belenggunya; sebab Allah menjanjikan damai yang sejati pengganti amarah dan kebencian manusia yang menjebloskan dia ke dalam penjara; sebab Allah menjanjikan pemerintahan surga yang adil seadil-adilnya pengganti pemerintahan Romawi yang jahat dan corrupt yang memenjarakan dia. Itu sebab dia tidak kehilangan kekaguman ini dan seruan pujian kepada Allah. Pegang janji Tuhan karena ini cukup memberikan sukacita dan kekuatan bagi kita.

Ayat 17-18 “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku…” kalimat ini penting luar biasa, kita tidak punya teman di dekat kita, tidak ada orang tua, saudara dekat semampu-mampunya mereka berusaha menjaga dan memelihara kita betapa terbatas tidak bisa ada selama-lamanya. Ketika terbaring tersendiri di rumah sakit, tidak ada lagi orang lain, jangan pernah lupakan hal ini, Tuhan selalu mendampingi dan menguatkan engkau. Itu cukup sudah menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita. Ini mengingatkan Paulus kepada peristiwa dalam Kisah Rasul 23:11 yang pernah terjadi kepadanya. Tuhan hadir di hadapan Paulus dengan kalimat, “Take courage, I always be with you,” itu cukup. Ingat pada peristiwa Sadrakh, Mesakh dan Abednego waktu mereka dibakar oleh karena iman mereka? Tuhan tidak datang memadamkan api itu, tetapi Tuhan ada di situ menyertai mereka (Daniel 3:24-27). Raja Nebukadnezar sendiri dengan heran menyaksikan penyertaan Tuhan kepada ketiga orang ini. Di tengah api yang membara Tuhan datang mendampingi. Di tengah penjara tersendiri, Paulus ingat itu, Allah mendampingi dia dan menguatkan dia. Allah memberinya kesempatan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi.

“Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat…” Beberapa kalimat itu ada kesejajaran dengan Mazmur 22:17-22, Paulus merefleksikan kondisi dia di dalam penjara sama seperti teriakan Pemazmur Daud ini. Tetapi walaupun di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan, Daud menemukan sukacita karena bangsa-bangsa di segala ujung bumi akan berbalik kepada Tuhan dan kerajaanNya akan memerintah atas mereka (ayat 28-29). Dimana Tuhan? Kalau Tuhan ajaib, Tuhan perkasa, Tuhan maha kuasa, lakukanlah sekarang. Seringkali itu yang keluar dari mulut kita. Kenapa Tuhan tidak segera melepaskan kita? Itu pertanyaan-pertanyaan yang harus kita hapus dari mulut kita. Tetapi yang tinggal adalah pujian kekaguman kita seperti Daud dan Paulus ini. Tidak perlu Paulus tunggu lihat bukti janji Tuhan itu digenapi. Ia hanya mengingat janji Tuhan yang ada di Mazmur 22 menjadi kekuatan baginya.

Berapa banyak orang Kristen menjadi kecewa saat ia terbaring sakit di atas ranjang, namun waktu dia membuka dan membaca Alkitab dengan berlinang air mata, firman Tuhan itu menjadi kekuatan yang memberikan sukacita dan melahirkan hidup yang doxology. Memegang janji Tuhan dengan syukur. Paulus demikian tersendiri, tidak ada yang mendampinginya, tetapi Tuhan ada di situ dan menguatkan dia. Firman itu menjadi penghiburan yang sejati.

Itu sebab pada pagi hari ini mari kita melihat indahnya janji Tuhan yang memberi kekuatan kepada kita seperti ini. Kemuliaan yang Tuhan beri kepada kita adalah satu kemuliaan karena anugerah yang tidak layak kita terima. Biar kita pulang merefleksikan kemuliaan Allah selama-lamanya. Ketika sinar cahaya Tuhan datang kepada kita, biar kita memancarkannya seperti prisma yang menghasilkan cahaya yang indah dilihat orang lain. Biar keinginan hati kita semata-mata ingin memiliki doxological life, ketika kita memuji dan membesarkan Tuhan, itu seperti letupan kembang api yang begitu indah menjadi berkat bagi orang lain. Asah kembali memori ingatan kita, bersihkan lagi kaca prisma yang sudah kotor, dan pada waktu dia menjadi bersih kita tidak menjadi sombong dan bangga sebab kaca prisma itu hanya pantulan refleksi kemuliaan Tuhan dalam hidup kita. Apapun yang kita kerjakan dan lakukan biar Tuhan dimuliakan selama-lamanya.(kz)