20. Sabat, Ritme Hidup di dalam Penebusan Tuhan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 28/7/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (20)

Nats: Keluaran 16:17-36

 

Bagian ini merupakan satu bagian yang indah luar biasa oleh karena setelah pola Penciptaan selama enam hari Tuhan bekerja, pada hari ke tujuh Tuhan beristirahat, tidak pernah kita temukan indikasi ritme itu muncul lagi di dalam hidup manusia. Karena setelah manusia jatuh di dalam dosa, menghasilkan efek dosa yang ‘abusive’ kepada alam, ‘injustice’ di dalam pekerjaan, broken relationship, sehingga keserakahan, kebencian, kompetisi, menjadi ritme kehidupan orang bekerja, berusaha dan survive di dalam hidup ini.

Peristiwa Exodus berarti Tuhan memulai satu babak hidup yang baru, babak hidup yang ditebus oleh Tuhan; babak hidup dimana kita tidak lagi berada di dalam perbudakan, babak hidup dimana Tuhan ingin memulihkan satu kehidupan di dalam hidup yang telah ditebus oleh anugerah Tuhan. Di situ jangan lagi kita hidup dicemari dan dikontrol oleh dosa yang sudah merambat di dalam hidup kita sebelumnya. Salah satu bukti hidup yang telah ditebus dan bersandar kepada anugerah Tuhan, mungkinkah kita bisa memiliki satu hari bersandar kepada Tuhan sepenuhnya, yaitu hari Sabat.

Setelah keluar dari Mesir dan hidup di padang gurun, bangsa Israel hidup jauh lebih susah, jauh lebih “tough” kalau tidak bekerja, kalau tidak mencari, tidak akan dapat makanan. Environment tinggal di tanah Gosyen masih jauh lebih mudah daripada tanah padang gurun. Tetapi situasi yang susah dan berat itu tidak boleh mengecilkan hati mereka, tidak mengurangi besarnya kuasa Tuhan yang sanggup bisa memelihara dan mencukupkan mereka. Inilah pelajaran yang perlu kita serap baik-baik. Biarlah ritme hidup kita adalah ritme penebusan Tuhan dan bukan ritme hidup di dalam kejatuhan dosa.

Kenapa perlu ada hari Sabat? Hari Sabat Tuhan beri kepada umat Israel memiliki tujuan yang penting, ada dasar teologinya yaitu karena Allah bekerja enam hari lamanya dan satu hari dijadikanNya sebagai hari beristirahat. Jelas di sini beristirahat tidak berarti pengangguran, jelas beristirahat bukan berarti bermalas-malasan dan tidak melakukan apa-apa. Kita harus memahami beristirahat itu di dalam pengertian bersyukur kepada Tuhan dan menikmati segala apa yang Tuhan sudah beri dan ciptakan untuk kita bisa nikmati sama-sama. Itu sebab Sabat tidak boleh diperlakukan hanya sebagai satu hari libur tanpa mengerjakan apa-apa. Sabat adalah satu restorasi Tuhan kepada hidup kita yang sudah Ia tebus, sehingga hari Sabat itu tetap menjadi keindahan bagi engkau dan saya hidup pada masa ini.

“God rested and enjoy,” itu merupakan aspek yang penting di dalam Sabat. Dalam bagian ini Tuhan mengatakan jangan keluar dari rumahmu, nikmatilah hari itu dengan cara makan (Keluaran 16:25,29). Mereka tidak berpuasa pada hari itu. Tuhan dengan murah hati menyediakan makan pada hari Sabat, dengan cara mereka mengambil dua porsi pada hari sebelumnya. Sampai kepada kitab Imamat, konsep Sabat mengalami perkembangan dan menjadi kompleks dimana setelah mereka tiba di tanah Kanaan, hari Sabat dipakai menjadi hari berbakti, hari dimana mereka berkumpul bersama di dalam ibadah. Tetapi Keluaran 16 ini adalah Tuhan pertama kali memerintahkan Sabat dan sangat simple luar biasa. Tujuan utama dari Sabat tidak lain dan tidak bukan yaitu umat Tuhan beristirahat, berhenti dari segala yang mereka kerjakan. Tujuannya bukan menjadi satu aturan legalistik. Memang di dalam PB kita menemukan legalisme yang dibuat orang Yahudi terhadap hari Sabat telah menutup ruang dimana seharusnya itu adalah hari mereka memuliakan Tuhan dan di dalamnya mereka mengerjakan sesuatu bagi orang lain, tetapi akhirnya menjadi kuk yang menekan hidup mereka tidak boleh melakukan apa-apa di hari Sabat. Maka Yesus menegur mereka dengan keras, “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27).

Hari Sabat berarti hari dimana engkau berhenti dari segala pekerjaanmu, engkau beristirahat dari semuanya. Fokusnya adalah benefit bagi engkau, itu adalah ‘gift from God.’ Itu bukan aturan yang memberatkan kita, yang membuat kita merasa rugi menjalaninya. Hari Sabat adalah anugerah Tuhan yang diberikan bagi kita demi manfaat bagi kita.

Sabat, khusus di dalam konteks Keluaran 16, yaitu satu pemutusan ritme oppression lifestyle kepada satu lifestyle dimana hidupmu sebagai orang yang bebas oleh anugerah Tuhan; satu pemutusan lifestyle dari satu hidup dimana engkau tidak bisa apa-apa, dikontrol oleh situasi hidupmu, kepada posisi engkau yang kontrol dan atur hidupmu di dalam anugerah Tuhan. Kalau kita terus menjalani hidup dimana situasi danpermasalahan yang mengontrol engkau, akhirnya tidak ada lagi waktu dimana kita bisa melihat hal yang lebih berarti dan lebih bernilai di dalam hubungan kita dengan Tuhan, di dalam memelihara keluarga kita, di dalam bersyukur dan menikmati anugerah Tuhan dan pentinglah Sabat itu mengingatkan kita jangan sampai jatuh dijebak, walaupun kita bukan lagi berstatus budak dosa, tetapi hidup kita diperbudak olehnya.

Ada perbedaan yang sangat drastis hidup di dalam perbudakan Mesir dan hidup di padang belantara sebagai orang merdeka. Hidup di dalam perbudakan Mesir walaupun secara kondisi tanah Gosyen jauh lebih subur daripada padang gurun, persoalannya walaupun tanah itu subur dan mereka bisa menanam apa saja, tanah itu bukan tanah milik mereka. Mereka adalah budak. Itu adalah suatu hidup dimana situasi mengontrol mereka. Mereka hanya bisa makan dari apa yang diberi oleh Firaun. Mereka bekerja atau beristirahat diatur dan ditentukan oleh Firaun. Kalau mereka dipaksa bekerja lebih berat, mereka tidak bisa menolak dan tidak punya kekuatan apa-apa selain taat kepada perintahnya. Tetapi sampai di padang belantara, sekalipun di situ betapa susah dan berat, kondisi yang tidak gampang, kalau mereka tidak olah tanah itu tidak menghasilkan apa-apa, tetapi justru di situ Tuhan menurunkan manna. Mereka menikmati makan manna tanpa perlu menanam dan menyiram selama 40 tahun lamanya. Hidup di dalam anugerah Tuhan, hidup sebagai orang bebas, di situ kita fokus kepada anugerah Tuhan. Walaupun tinggal di padang belantara, situasi yang keras dan berat, Tuhan tetap sanggup mencukupkan, melengkapi dan memberi apa yang mereka perlukan selama 40 tahun di situ.

Ada kebahayaan besar pada waktu makanan itu datang begitu saja tanpa kita bekerja dan berusaha. Kita bisa menjadi malas dan ‘take it for granted,’ karena tinggal keluar dari kemah langsung bisa dipungut, tidak perlu menanam dan mengolahnya. Tetapi pada saat yang sama Tuhan memberi manna untuk memberitahukan kepada bangsa Israel apa artinya Sabat, yaitu satu hari kita mengingat hidup kita ini ditopang oleh anugerah Tuhan. Semua yang kita dapat itu di-nourish oleh Tuhan, dari belas kasihanNya dan bukan suatu hidup karena pencapaian kita semata-mata dari kerja dan usaha kita. Maka pada waktu kita berhenti dari bekerja, kita datang ke rumah Tuhan berbakti, kita menyediakan waktu untuk berdoa dan melayani, itu adalah satu konfesi bahwa kita tidak mau hidup kita diatur oleh ritme dari dunia yang sudah berdosa ini. Biar ritme hidupku diatur oleh ritme anugerah Allah, yang memberiku kesempatan untuk bekerja selama enam hari dan ada satu hari dimana aku boleh mengakui Dia, memuji namaNya dan menghargai setiap pemberianNya kepadaku. Walaupun hari itu aku tidak bekerja, aku bisa menyaksikan tangan Tuhan yang baik yang menjaga dan memelihara kita. Itulah arti dari kata “berhenti” dan “rest” itu.

Kedua, “berhenti” bukan sekedar tidak bekerja; “berhenti” bukan berarti tidak produktif dan tidak mengejar achievement dalam hidup ini. “Berhenti” berarti berhenti dari kuatir, berhenti dari cemas, berhenti dari ketegangan hidup. Itulah arti dari kata “berhenti.”

Penyebab stress orang modern adalah terlalu banyak hal yang harus kita kerjakan dan terlalu sedikit waktu yang ada untuk mengerjakannya. Itulah stress kita. Siapa yang ingin satu hari itu bukan 24 jam, tetapi 26 jam? Orang yang seperti itu adalah orang yang sadar terlalu banyak hal yang harus dia kerjakan tetapi terlalu sedikit waktu untuk bisa mengerjakan hal itu.

Keluaran 16:28, “Tuhan berfirman, berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintahKu dan hukumKu?” Tuhan marah, sebab masih ada sebagian orang yang keluar pada hari Sabat untuk mencari manna. Apakah engkau tidak percaya kepada firmanKu? Mengapa engkau tidak melihat tangan kasih setiaKu yang memelihara hidupmu?

Apa gunanya kita memiliki waktu yang panjang, mungkin kita menghabiskan waktu kita seharian di gereja, tetapi itu tidak membawa hati kita berhenti dari rasa kuatir, rasa cemas dan ketegangan di dalan hidup kita?

Arti dari Sabat yang mengajarkan kepada engkau dan saya bahwa kita tahu ada Allah yang take care hidup kita di dalam segala sesuatu. Tetapi kalau cuma berhenti sampai kepada “rest” secara negatif tanpa kita mengisi apa-apa, saya percaya kita akan tetap hidup di dalam cemas dan kuatir. Kita perlu mengisi Sabat itu dengan sesuatu. Maka di dalam Sabat kita bukan sekedar “rest” atau berhenti, tetapi kita perlu “embracing and rejoicing” di dalamnya. Sabat akan menjadi kosong jikalau kita cuma sekedar berhenti tanpa memenuhi sesesuatu dengan apa yang penting di dalamnya.

Filipi 4:4-9 “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan; sekali lagi kukatakan, bersukacitalah. Janganlah hendaknya kamu kuatir akan apapun juga, nyatakanlah itu kepada Tuhan. Biar damai sejahtera Allah akan memerintah hatimu.” Ayat 8-9 jarang orang melihat kaitannya dengan kata “jangan kuatir” di ayat sebelumnya, “Karena itu pikirkanlah semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu…” Kita justru terbalik, pikiran kita terlalu banyak dipenuhi persoalan daripada datang kebaktian akhirnya kurang konsentrasi. Atau baca Alkitab di rumah pun juga tetap kurang konsentrasi sebab pikiranku dipenuhi dengan persoalan yang ada. Apakah dengan datang berbakti, persoalanku jadi lebih baik? Malah sehabis kelar kebaktian, makin mumet. Jangan keliru dan salah berpikir bahwa kalau saya ada persoalan lalu saya datang ke gereja, saya kemudian pulang gereja semua persoalanku lenyap dan habis. Setelah selesai kita berbakti, setelah selesai kita doa, setelah selesai kita membaca firman Tuhan, apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita, segala permasalahan yang ada di dalam situasi hidup kita tidak hilang begitu saja. Tetapi yang terjadi adalah pada waktu kita berhenti, kita serahkan segala kuatir kita, di dalam berhenti itu kita berhenti dari dicekoki oleh ritme dari dunia berdosa. Kita berhenti dari terus-menerus dihantui oleh rasa cemas dan takut dan kuatir karena kita merasa Tuhan tidak sanggup memberikan kita jawaban. Setelah berhenti, mari kita “embrace” merangkul sesuatu yang indah dan baru di dalam hari Sabat itu. Ayat 8-9 Paulus mengatakan, biarlah pikiran kita dipenuhi oleh semua hal yang indah itu.

Hari Sabat bukanlah pelarian dari semua masalah, tetapi sebuah kesempatan untuk menerima anugerahNya agar kita bisa menghadapi masalah kita dengan perspektif yang baru, God-centered di dalam memahaminya. Hari Sabat adalah opportunity yang Tuhan berikan kepada kita untuk “come and rest” di dalam berbakti di hadapanNya, ‘to receive His grace so you might face your problem with God-centered perspectives, with new priorities, with understanding of God’s strength and His grace.’ Dan di hadapan kehadiran Allah segala problema itu bisa kita hadapi.

Waktu mereka tidak keluar, mereka amazed, hari itu tidak kerja, hari itu tidak melakukan apa-apa tetapi tetap ada makanan hari itu, makan yang mereka dapatkan dari anugerah dan pemberian Tuhan. Mereka tentu tetap lapar hari itu, tidak bikin hari itu menjadi lebih supranatural, tidak bikin hari itu menjadi hari yang hebat dan bikin mereka tidak punya kebutuhan. Mereka punya kebutuhan sama seperti pada hari yang lain. Tetapi di dalam semua itu mereka justru embraced sesuatu yang indah dan baik, yaitu mereka sadar Tuhan pelihara dan Tuhan pimpin semuanya.

Ketiga, “berhenti” berarti saya berhenti berusaha menjadi tuhan atas diriku sendiri. itu makna yang paling penting pada waktu kita datang berbakti pada hari Sabat. Kuduskanlah Sabat berarti “to set apart,” dipisahkan bagi Tuhan. Berarti bukan saja ada sesuatu yang kita beri kepada Tuhan, tetapi lebih mempunyai makna biar sesuatu yang ada itu tidak selalu attached di dalam hidup kita. Sabat berarti kita tidak boleh di-possessed oleh semua possession kita. Itulah makna dari Sabat. Sabat berarti kita tidak akan pegang waktu, tidak akan pegang apa saja yang ada padaku, hidupku semata-mata untuk diriku sendiri. Ada satu moment di dalam hidup kita, kita berikan waktu, kita berikan semua yang ada, supaya kita sadar kita bukan pemilik dari semua yang ada. Itu makna dari Sabat, berhenti menjadi tuhan atas hidup kita.

Tetap selain itu tidak berarti mereka tinggal diam di dalam kemah bermalas-malasan. Selain mereka tidak melakukan apa-apa pada hari Sabat, mereka merangkul nilai-nilai rohani yang penting dan positif. Salah satu yang penting adalah tingga; di dalam kemah, berarti Sabat adalah moment dimana engkau dan saya value betapa pentingnya pendidikan family di tengah keluarga kita. Sabat berarti betapa pentingnya kita menghargai larger community kita sebagai anak-anak Tuhan. Sampai kapanpun kita harus menolak sikap konsep kita beribadah secara virtual dalam arti kita tinggal buka youtube, buka televisi lalu kita berbakti di situ. Karena kita tahu bagian dari ibadah dan berbakti adalah kita value relasi hubungan secara satu komunitas. Di situ merupakan satu pendidikan yang penting bagi keluargaku untuk menghargai dan mencintai dan mengerti betapa bernilai kita datang berbakti kepada Tuhan, merangkul nilai-nilai yang penting dari arti true fellowship.

Kedua, secara positif, Sabat memiliki makna menghargai nilai apa artinya memberi daripada menerima. Sangat unik luar biasa di dalam konteks memberi persembahan di dalam surat kepada Jemaat Korintus, Paulus justru mengutip ayat yang diucapkan di dalam Keluaran 16 ini, marilah kita memberi dengan murah hati. Yang mendapat banyak, yang mendapat sedikit, semua memberi seturut dengan kemampuannya. Sehingga terjadilah keseimbangan ini, “yang punya banyak tidak berkelebihan, yang punya sedikit tidak berkekurangan, tetapi di dalam segala hal engkau dicukupkan.” Ayat itu Paulus kutip dari Keluaran 16  ini pada waktu Tuhan bicara soal perintah Tuhan untuk mereka mengumpulkan manna, Tuhan mau mereka tidak kumpul sebanyak-banyaknya, semau-mau mereka, tetapi mengumpulkan seturut dengan keperluan.

Keluaran 16:16, “Beginilah perintah Tuhan, pungutlah tiap-tiap orang menurut keperluannya, masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahmu, satu gomer seorang menurut jumlah jiwanya… mereka mengumpulkan ada yang banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya, yang mengumpulkan banyak tidak berkelebihan, yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan, tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya…” bandingkan dengan 2 Korintus 8:12-15, “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan, seperti ada tertulis ‘orang yang mengumpulkan banyak tidak berkelebihan, orang yang mengumpulkan sedikit tidak berkekurangan’…” Waktu ayat itu ditulis dalam Keluaran 16, itu tidak berkaitan dengan soal offering yang mereka bawa ke hadapan Tuhan, namun ayat ini dipakai oleh Paulus menjadi satu ayat yang penting bicara soal persembahan. Sabat diberi oleh Tuhan di dalamnya Tuhan memberi anugerah, tetapi di dalam Tuhan memberi anugerah, Tuhan meminta mereka untuk tidak membuang-buang anugerah itu dengan sembarangan. Tiap-tiap orang mengambil seturut dengan kebutuhannya, ada yang mengambil lebih karena mau simpan sampai besok pagi, akhirnya busuk dan berulat. Marahlah Tuhan atas hal itu. Sekaligus hal ini mengajarkan betapa kita bersandar kepada anugerahNya, tetapi di situ Tuhan mengajarkan kita untuk tidak boleh apa yang kita dapat secara cuma-cuma dari Tuhan lalu dibuang secara cuma-cuma. Anugerah Tuhan tidak boleh diperlakukan seperti itu. Tetapi hal ini sekaligus menjadi keindahan, dipakai oleh Paulus untuk bicara soal bagaimana kita membawa satu pemberian. Maka kenapa di dalam ibadah orang Kristen setiap minggu kita datang memberi offering? Mengapa offering harus menjadi part daripada ibadah kita? Sabat berarti saya merangkul nilai memberi lebih penting daripada nilai hanya menerima dan mendapat saja. Pemberian itu lahir dari hati yang melihat keseimbangan, keindahan dimana saya datang bukan untuk menerima, tetapi saya datang dengan sikap hati selalu ingin memberi. Maka pada waktu kita menguduskan hari Sabat, itu bukan sekedar kita rest, kita berhenti dari kuatir kita, dari perasaan kita ingin menjadi tuhan atas hidup kita, dari hidup yang sudah diperbudak oleh ritme materialisme dari dunia ini, kita ‘break’ dari semua itu, bersandar kepada anugerahNya, menyadari bahwa hidup yang kita di-nourished sampai hari ini karena anugerah Tuhan. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, Sabat juga berarti it is time I value others, fellowship dengan orang lain, value keluargaku, menghargai kita hidup sebagai part daripada satu komunitas hidup yang ditebus oleh Tuhan.(kz)