16. Respons atas Karya dan Anugerah Tuhan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 16/6/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (16)

Nats: Keluaran 12:40-51; 13:1-22

 

Bagaimana kita seharusnya berespons kepada setiap karya dan anugerah yang Tuhan beri kepada kita? Pemazmur berkata, “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikanNya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Bahkan dengan segala apapun seumur hidup kita lakukan bagi Dia, tetap itu tidak akan bisa membalaskan semua kebaikan Tuhan kepada kita karena memang tidak terbalaskan adanya.

Mungkin kita tidak bisa mengerti kenapa perlu lewat waktu yang panjang, yang tidak tahu kapan selesai setiap pergumulan kesulitan datang kepada hidup kita. Pada waktu sakit yang berat datang kepada kita, pada waktu sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, kita tidak mungkin bertanya, kenapa Tuhan memberikan hal itu kepada kita, dan kita tidak gampang mendapatkan jawabannya. Alkitab mengatakan selama 430 tahun orang Israel berada di dalam perbudakan, ada penderitaan yang sangat berat, penindasan, kekerasan dan pembunuhan yang semena-mena kepada mereka. Dalam proses waktu yang tidak kunjung selesai, keadaan yang seolah tidak ada pengharapan, kerinduan mereka untuk lepas dari segala kesesakan itu, generasi berganti, tidak ada jawaban dan pertolongan Tuhan tiba kepada mereka, segala doa mereka seolah tidak pernah didengar. Pengharapan mereka hampir punah dan mungkin mereka pikir memang Tuhan sudah tidak mengindahkan mereka lagi. Tetapi Allah adalah setia dan tidak pernah berubah. Ia mendengar dan bertindak pada waktu yang ditetapkanNya. Kenapa perlu waktu yang panjang seperti itu? Saya tidak tahu. Tetapi pengalaman seperti ini sepatutnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita, seperti janji Tuhan bahwa sampai putih rambut kita, Tuhan tidak akan mengabaikan kita. Ia menggendong dan menopang kita dengan kasih dan kebaikanNya (Yesaya 46:4). Janji Tuhan tidak berubah, penyertaan Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Walaupun kita mengalami perubahan demi perubahan, walaupun kondisi tubuh kita makin hari makin merosot, tetapi semangat dan spirit kita, iman dan cinta, pengharapan kita kepada TUhan jangan pernah merosot, bahkan seperti Paulus kita berdoa supaya justru semua itu makin diperbaharui dari hari ke hari (2 Korintus 4:16).

Point yang paling penting adalah mulai dari Keluaran 12 selesai sudah pengalaman masa lampau, semua itu harus dikubur dalam-dalam. Penderitaan dan air mata selama 430 tahun selesai sudah. Kepahitan hanya menjadi memori di dalam ingatan mereka. Semua selesai dan mulai chapter yang baru dalam hidup mereka. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan mereka, bulan dimana mereka keluar dari Mesir yaitu bulan keempat diubah menjadi bulan baru, bulan pertama di tahun yang baru. Maka Keluaran 13 menjadi awal mereka memulai menjalani hidup sebagai anak Tuhan, meresponi apa yang Tuhan sudah kerjakan melepaskan mereka dari perbudakan Mesir. Itulah yang menjadi pertanyaan saya yang penting bagi sdr pada hari ini, bagaimana engkau berespons terhadap setiap karya keselamatan yang Tuhan kerjakan di dalam hidupmu? Pada waktu kita membaca bagian ini betapa hati kita tersentuh, kenapa Tuhan perlu mengulang dua kali untuk mengingatkan mereka melakukan perayaan Paskah.

Perayaan Paskah setahun sekali penting sebab itu adalah momen lahirnya mereka sebagai satu umat yang ditebus oleh Tuhan. Meskipun nanti generasi akan lewat, mereka tidak lagi melihat dengan mata kepala sendiri tangan Allah yang perkasa yang telah melepaskan nenek moyang mereka, dengan perayaan ini mereka diingatkan dengan kisah yang terus akan diulang menjadi cerita yang penting. Melalui perayaan paskah ini mereka memahami Tuhan mengeluarkan mereka dari perbudakan dengan free of charge, dengan sukarela Tuhan kerjakan bukan karena ada hal apapun dari diri mereka. Demikian sama halnya Tuhan menebus kita dari perbudakan dosa, tidak ada syarat dari diri kita menyebabkan kita bisa ditebus oleh Tuhan. Bukan karena kita lebih baik, lebih pintar, lebih kaya daripada orang lain, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan. Tetapi kalau Tuhan dengan sukarela memberikan kepada kita, tidak berarti kita boleh berespons kepada Tuhan dengan sesuka-suka kita dan dengan sembarangan. Pada waktu kita memberi persembahan kepada Tuhan, pada waktu kita berbakti kepadaNya, pada waktu kita melayaniNya, semua itu kita lakukan dengan penuh respek dan sukacita. Di dalam semua itu kita harus menghargai, mencintai setiap anugerah Tuhan itu dengan nilai yang sepantasnya, bukan dengan sesuka kita dan semau kita.

Ada tiga hal penting di dalam perayaan Paskah. Pertama, Paskah sebagai satu perayaan. Setiap kali engkau merayakan, katakan kepada anak-anakmu, kepada generasi selanjutnya, dengan tangan yang kuat Allah melepaskan engkau dari perbudakan Mesir. Dengan sayur yang pahit engkau merayakan Paskah bukan untuk memahitkan hati kita tetapi untuk menjadi satu memori yang kita ingat baik-baik betapa manisnya kita bisa dilepaskan dari perbudakan di Mesir. Juga sekaligus mengingatkan kita pada waktu kita datang berbakti kepada Tuhan kita telah menerima anugerah Tuhan dengan cuma-cuma, kita berbakti, kita berdoa, kita bersyukur, mengingat segala kesalahan kita bukan untuk memahitkan hati kita tetapi untuk ingat betapa manisnya hidup menjadi orang yang percaya kepada Tuhan; betapa manisnya anugerah Tuhan yang kita telah terima di dalam keselamatan yang Ia berikan kepada kita.

Tuhan menyuruh orang Israel merayakan Paskah dengan cara seperti ini, kalau ada keluarga yang kecil jumlahnya atau mereka keluarga yang tidak mampu, maka mereka boleh bersama dengan keluarga yang lain menyembelih domba Paskah bersama-sama. Perayaan Paskah diberikan oleh Tuhan supaya mereka boleh merayakannya sebagai sesuatu yang boleh di-share sama-sama, sebagai satu komunitas umat yang telah ditebus, dirayakan sama-sama. Keselamatan tidak boleh dimengerti sebagai sekedar pengalaman pribadi saja. Keselamatan harus dipahami sebagai satu kumpulan dimana setiap pribadi-pribadi yang ditebus oleh Tuhan datang berkumpul menikmati sukacita dengan sharing bersama, saling menguatkan di dalam iman, di dalam doa bersama dan di dalam ibadah bersama. Di situ kita mendapatkan kekuatan karena ada anak-anak Tuhan yang lain yang perlu kita topang dengan penghiburan dari kita dan ada iman dari anak-anak Tuhan yang berjuang dan bergumul di dalam hidup mereka menjadi contoh teladan bagi kita. Penderitaan, kesulitan dan aniaya menyebabkan sebagian jemaat yang menerima surat Ibrani akhirnya mundur dan tidak mau berbakti lagi. Mungkin mereka takut karena percaya kepada Yesus mengandung resiko besar. Maka di dalam Ibrani 10:25 penulis Ibrani mengingatkan, “Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah seperti yang dibiasakan beberapa orang…” Biar dengan iman yang sama kita boleh saling menguatkan dan saling menghibur satu dengan yang lain.

Yang kedua, Paskah itu harus dirayakan dan dilakukan oleh orang-orang yang memang sudah menerima anugerah Tuhan; oleh mereka yang sudah tahu arti dan makna dari Paskah itu. Paskah dirayakan oleh orang yang telah menerima keselamatan. Itulah sebabnya Tuhan memberi aturan hanya umat Tuhan yang boleh merayakan Paskah. Orang-orang asing yang tinggal di sekitar mereka tidak boleh merayakan Paskah, kecuali kalau mereka disunat. Jadi ini bukan soal ras, bukan soal karena mereka bukan orang Yahudi maka mereka tidak boleh merayakan Paskah. Tetapi ini adalah soal konsep anugerah. Kedua, ini bukan soal beda status, karena Tuhan sendiri berkata, kalau budak belian yang ada di tengah-tengahmu tetapi dia masuk menjadi umat Tuhan dan mau disunat, dia pun ikut perayaan Paskah. Dia boleh ikut makan domba Paskah itu.

Kalau kita bawa di dalam dunia kita sekarang, prinsip itu juga harus kita pegang baik-baik. Gereja melaksanakan perjamuan kudus bukan untuk semua orang yang datang ke gereja, tetapi perjamuan kudus hanya diberikan untuk mereka yang sudah percaya Tuhan yang dinyatakan secara kelihatan kepada orang lain dengan baptisan secara publik. Maka kenapa kita perlu dibaptis, kenapa kita perlu menyatakan bahwa kita adalah orang percaya di depan publik? Dengan baptisan itu engkau mencetuskan iman percayamu bukan sekedar private matter tetapi menjadi sesuatu yang kita nyatakan kepada publik, menyatakan dirimu telah menjadi anak Tuhan dan murid Tuhan di hadapan umat Tuhan yang lain. Perjamuan Kudus tidak diberikan kepada semua orang, sama halnya perayaan Paskah juga tidak diberikan kepada semua orang. Kenapa domba Paskah itu tidak boleh dimakan dengan sembarangan? Karena Tuhan hanya memperkenankan orang yang sudah mengerti makna keselamatan dan penebusan Tuhan baginya. Perayaan ini adalah satu perlambangan dari makna yang sesungguhnya yaitu pengakuan bahwa Allah adalah Tuhanku dan aku adalah umatNya yang sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus. Itu yang kita lakukan sekarang di dalam perjamuan kudus.

Yang ketiga, pada hari mereka merayakan Paskah, mereka akan menceritakan kembali kepada anak dan cucu mereka bagaimana tangan Tuhan yang perkasa dan kuat itu telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.

B.B. Warfield, seorang teolog Reformed, pernah berkata, “There is no one of the title of Christ which is more precious to Christian’s hearts than this title: Redeemer.” Tidak ada gelar yang diberi kepada Kristus yang lebih daripada satu gelar yang sangat berharga dan sangat bernilai di dalam hatimu dan hatiku, yaitu mengenal Dia sebagai Penebus. Bukan saja kata itu menyatakan kita menerima keselamatan melalui Kristus, tetapi juga sekaligus kita mengapresiasi betapa berharganya hal yang Ia telah lakukan di dalam keselamatan itu. Mengapa Tuhan meminta anak sulung dari setiap keluarga bagi Dia? Karena Ia, Allah sendiri telah memberikan AnakNya yang tunggal, yang satu-satunya itu bagi engkau dan saya. Tidak ada kata yang lebih bernilai dan lebih berharga daripada kita memahami kata “Redeemer” itu. Di situ kita mengerti keselamatan itu kita terima dari Kristus; di situ kita mengerti ada harga yang dibayar oleh Kristus untuk menggantikan kita sehingga keselamatan itu terjadi. Ritual itu mengingatkan kita adalah milik Tuhan selama-lamanya. Keluarga kita ada sampai hari ini adalah milik Tuhan. Engkau dan saya yang pada waktu Tuhan mempercayakan anak-anak di dalam keluarga kita, anak itu adalah anak yang Tuhan titipkan supaya kita memimpin dan membawa mereka memuliakan Tuhan di dalam hidup mereka selama-lamanya. Bukan saja kepada bangsa Israel Tuhan menuntut respons yang sepatutnya atas karya keselamatan yang Tuhan sudah beri kepada mereka, tetapi juga kepada kita berespons kepadaNya. Mari kita berespons kepada setiap anugerah keselamatan Tuhan dengan tidak pernah malu secara publik menyatakan imanmu, dengan datang berbakti ke rumah Tuhan memuliakan Tuhan. Iman itu tidak kita simpan bagi diri sendiri tetapi akan menjadi satu lembaran hidup yang orang lihat dan baca. Kita mengingat Tuhan yang sudah mati bagi kita dan sudah membayarku dengan harga yang mahal, itulah arti kata “Redeemer” bagiku. Sehingga apapun yang paling berharga dan paling bernilai di dalam hidup kita, yang diwakilkan dengan “anak sulung” sebagai simbol dan sumber identitas keluarga, yang paling awal, yang menjadi pewaris keturunan, pelanjut generasi, kita persembahkan kepada Tuhan karena kita adalah milik Dia. Begitulah caranya kita harus meresponi Tuhan.

Kedua, bagaimana kita meresponi Tuhan yang telah beranugerah menyelamatkan kita dan mengeluarkan kita dari perbudakan dosa kita? Dari Keluaran 13:17-22 Alkitab mengajar kita, biar Tuhan memimpin hidup kita selama-lamanya; biar Dia yang berjalan di depan engkau siang dan malam. Jangan takut berjalan pada malam hari sebab Dia akan memimpinmu dengan cahaya sinarNya yang menyertaimu melewati lembah kekelaman. Tidak usah takut, itu respons kita. Kita percaya Tuhan pimpin hidup engkau dan saya. Yang Dia tuntut dari engkau adalah mari kita berjalan dengan setia dan taat kepadaNya. Pada waktu Ia memimpin, taruhlah di dalam hatimu bahwa Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagimu. Walaupun belum tentu perjalanan dan pengalaman itu paling nyaman dan paling baik bagimu, percayalah apa yang Tuhan kasih pasti yang terbaik bagi kita.

Alkitab jelas memberitahu jalan yang paling pendek adalah jalan melewati negeri Filistin (Keluaran 13:17). Dengan melihat peta kita akan tahu, tanpa berjalan terlalu jauh, hanya tinggal berjalan lurus melalui delta dan pesisir pantai, bangsa Israel bisa tiba di tanah yang dijanjikan Tuhan itu. Itu jalan yang paling pendek, kalau ditempuh dengan berjalan kaki, dua minggu sudah sampai. Kenapa Tuhan pimpin mereka jalan memutar sampai 40 tahun? Kenapa jalan itu yang Tuhan ambil? Kadang-kadang perjalanan hidup kita harus berputar, tetapi jangan sampai berputar-putar. Itu dua hal yang berbeda. Berputar-putar artinya orang itu ‘dableg,’ tidak mau dengar, keras kepala. Berputar-putar artinya kita terus melakukan hal yang sama karena kita tidak mau menerima koreksi yang membuat kita lebih baik. Berputar artinya sesuatu yang kita pikir seharusnya begini akhirnya tidak, itu membuat kita menjadi tidak nyaman dan tidak suka, tetapi nanti pada akhirnya baru kita akan tahu ini adalah pimpinan Tuhan yang terbaik bagi kita. ‘The best way’ mungkin harus kita jalani dengan tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Kalau mau bicara soal nyaman, jalan dua minggu lewat jalan negeri orang Filistin langsung sampai. Tetapi itu adalah perjalanan yang sangat beresiko besar, karena di situ seluruh tentara Mesir yang terbaik bermarkas. Mereka ada di situ menjaga perbatasan supaya orang Filistin dan bangsa-bangsa lain dari utara tidak menyerang mereka. Di situlah kubu-kubu pertahanan tentara Mesir yang sangat kuat. Ingatkan, bangsa Israel waktu keluar dari Mesir belum siap. Mereka tidak punya senjata, mereka tidak mampuĀ  berperang. Karena belum siap dan belum mampu, Tuhan tahu kelemahan kita. Tuhan tahu kekuatan kita hanya sampai seberapa. Itulah sebabnya Dia tidak kasih jalan itu. Maka Tuhan memimpin bukan melalui jalan yang lurus dan langsung tiba, tetapi suatu perjalanan yang berputar sedikit mengarah kepada satu jalan yang mungkin tidak seturut dengan apa yang kita bayangkan dan pikirkan. Tetapi selalu taruh di dalam hati setiap kita, pada waktu Tuhan memimpin kita demikian, itu adalah jalan yang terbaik bagi kita karena Tuhan tahu kelemahan dan keterbatasan kita. Kedua, pada waktu Tuhan pimpin hidup kita di dalam ketaatan yang sepenuhnya sebagai anak Tuhan yang sudah ditebus olehNya, ingatkan Tuhan itu setia dan janjiNya Ia pelihara selama-lamanya. Kita bisa melihat itu dari kalimat Yusuf, walaupun akhirnya janji Tuhan itu baru tergenapi setelah tubuhnya tinggal tulang-belulang saja, dia tahu Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya. Maka sebelum mati, Yusuf meminta anak cucunya untuk berjanji. Ini kuburan di Mesir, ini bukan tanah perjanjian. Maka berjanjilah kepadaku, kalau nanti kalian keluar dari Mesir bawalah tulang-tulangku beserta engkau (Keluaran 13:19). Kejadian 50:24-26 mencatat hal itu, dimana setelah Yusuf meninggal, mayatnya dibalsem atau dimumifikasi. Sebagai pejabat negara, walaupun dia bukan orang Mesir asli, hal itu bisa dilakukan terhadap Yusuf. Maka di antara 600.000 pria dan sekitar 2 juta orang wanita, anak-anak dan orang dari bangsa lain, hanya satu yang ikut keluar walaupun dia sudah lama mati, yaitu Yusuf. Maka penulis Ibrani mengatakan, “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya” (Ibrani 11:22). Walaupun sudah menjadi tulang-belulang Yusuf dengan iman tahu bahwa janji Allah itu hidup dan kekal selama-lamanya. Artinya sampai usia kita lanjut, sampai rambut kita putih seluruhnya, sampai perjalanan kita selesai di dalam dunia ini, janji Tuhan tetap setia dan anugerahNya selalu terjadi bagi kita. Walaupun kita tidak melihatnya sekarang, walaupun kita belum mengalaminya, kita percaya anugerah, janji dan penyertaanNya selalu memimpin kita selama-lamanya. Taruhlah hal ini baik-baik di dalam pikiran kita. Yusuf tidak melihat pengharapan itu terjadi selama ia hidup, mungkin kita pun tidak melihat janji Tuhan tergenapi saat kita hidup, tetapi mungkinkah kita memiliki pengharapan yang seperti ini? Sampai kita menjadi tulang-belulang, Tuhan tetap setia, adil dan baik kepada kita. Terakhir, ikut Tuhan, jangan lupa dan selalu ingat, Tuhan yang jalan di depan. Tuhan adalah Gembala yang baik. Ingat, gembala itu selalu berjalan di depan. Tuhan berjalan di depan mereka. Pada siang hari Tuhan berjalan dalam tiang awan dan pada malam hari dalam tiang api. Tuhan selalu hadir dan beserta dengan kita karena Ia adalah Allah Imanuel. Tuhan tidak lagi menampakkan diri dalam tiang awan dan tiang api seperti masa lampau, tetapi penyertaan Tuhan bagi engkau dan saya jauh lebih indah dan lebih personal sebab Yesus Kristus berkata, “Aku akan memberi Roh-Ku yang kudus diam di dalammu dan Ia akan selalu mengingatkan engkau setiap firman yang Aku berikan kepadamu” (Yohanes 14:26). Kita punya firman Tuhan, kita punya Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita. Yang kita perlu adalah bagaimana kita belajar taat berjalan di dalam setiap pimpinan Tuhan, teguran Tuhan dan bagaimana Roh yang Kudus itu berkata-kata di dalam hidup kita melalui firman yang kita baca dan renungkan dan kita berespons dengan taat kepadaNya. Bersyukur untuk setiap anugerah Tuhan yang datang, kita akan meresponinya dengan segala syukur kepada Tuhan dan memahami keindahan Kristus menebus hidup setiap kita. Biar kita belajar menghargai setiap anugerah dan pemberian Tuhan dan dengan sukacita kelimpahan hidup kita mengasihiNya. Biar kita mengikut Tuhan dengan taat karena kita percaya pimpinan Tuhan tidak akan pernah bersalah.(kz)