19. Perjalanan Pengudusan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 21/7/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (19)

Nats: Keluaran 15:22 – 16:20

 

Peristiwa turunnya manna dari langit adalah satu mahakarya Tuhan yang tidak pernah berulang lagi di dalam sejarah. Kita bisa menyaksikan Musa dan Harun diperintahkan oleh Tuhan mengambil sedikit dari manna itu menjadi sample untuk disimpan supaya generasi yang selanjutnya dari orang Israel tahu Tuhan pernah melakukan satu mujizat yang luar biasa menurunkan roti dari langit. Namun sekaligus kita patut mengerti bahwa peristiwa turunnya manna itu memiliki makna rohani yang amat penting sehingga waktu Yesus datang ke dunia Ia mengatakan, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya…” (Yohanes 6:51).

Peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir melewati Laut Teberau adalah satu peristiwa historis yang tidak pernah berulang lagi sampai sekarang, satu mujizat yang luar biasa Tuhan membawa dan melepaskan mereka dari kejaran tentara Mesir, sekaligus peristiwa itu memiliki makna rohani yang amat penting adanya. Dalam 1 Korintus 10 Paulus menggambarkan peristiwa itu sebagai satu baptisan, keluar dari perbudakan dan masuk ke dalam satu lembaran hidup yang baru (ayat 1-2). Mereka bukan lagi budak, melainkan orang yang bebas. Tetapi di dalam kebebasan dari perbudakan itu mereka harus belajar hidup menjadi budak Tuhan. Demikian juga kita yang dahulu adalah budak dosa memperoleh pembebasan dari Tuhan, kita menjadi budak Tuhan Allah, kita menjadi budak kebenaran. Namun sebagai budak Tuhan terjadilah paradoks, kita tidak akan merasa menjadi budak Tuhan itu sebagai suatu penindasan, karena Tuhan tidak pernah menginjak-injak dan memperlakukan kita dengan tidak baik. Tetapi sebagai anak dan budak Tuhan, kita menemukan keindahan dan kebebasan yang sejati adanya. Peristiwa ini harus kita mengerti seperti demikian. 1 Korintus 10 selanjutnya Paulus mengingatkan apa yang sudah terjadi, peristiwa sejarah itu menjadi contoh dan peringatan bagi kita bagaimana menjalani hidup kita (ayat 11). Keluaran 14 dan 15 adalah klimaks yang penting yaitu mujizat keluarnya bangsa Israel melewati Laut Teberau dan diakhiri dengan pujian indah dari Musa boleh kita sebut di dalam pattern hidup Kristen kita adalah “the joy of salvation,” suatu sukacita yang melebihi segala joy daripada apa yang kita dapatkan di dalam dunia ini. Itulah sukacita kita, pada waktu setelah kita diselamatkan dan ditebus dari dosa kita, kita boleh datang ke rumah Tuhan, kita boleh datang berbakti dengan keindahan yang tidak terkatakan. Maka Keluaran 15 ditutup dengan lagu ini yang menggambarkan penuhlah sukacita kita diselamatkan. Kita tidak berjalan bersama mereka di dalam perjalanan sejarah itu, tetapi pattern itu terus berulang di dalam hidup kita menjadi anak Tuhan. Maka tidak heran Paulus mengingatkan kita semua yang bangsa Israel jalani menjadi contoh dan peringatan bagaimana hidup Kekristenan kita.

Namun mendapatkan sukacita di dalam keselamatan adalah satu hal, namun ada hal yang lain lagi yang perlu kita ingat baik-baik. Keselamatan itu hanyalah awal. Maka perjalanan sampai di Mara dan Elim, sampai di Rafidim, di gunung Sinai, dan sampai masuk ke Tanah Perjanjian, boleh dikatakan menjadi proses kedua dalam hidup Kekristenan kita, setelah the joy of salvation itu sekarang kita masuk kepada “the journey of sanctification.” Proses perjalanan pengudusan ini mengingatkan kita bahwa setelah Tuhan menyelamatkan kita, Tuhan tidak segera menyerahkan warisan surgawi yang Ia telah janjikan bagi kita. Tetapi kita dipersiapkan supaya bisa layak menerima warisan itu melalui satu waktu persiapan Tuhan, melalui proses perjalanan hidup kita ikut Dia. Perjalanan itu adalah satu perjalanan yang keras, satu perjalanan yang sulit, satu perjalanan yang panjang, sebab kita senantiasa diperhadapkan dengan bagaimana kita belajar taat di tengah segala kesucian dan keagungan Tuhan, dan bagaimana kita belajar untuk terus-menerus me-resist kelemahan dari dosa yang tidak akan pernah berhenti berjuang terus melawan kita, menembakkan panah keraguan, menciptakan hati yang tidak percaya di tengah segala tantangan dan kesulitan. Itulah arti perjalanan dari Mara, Elim, Rafidim, gunung Sinai, sampai masuk ke tanah Kanaan. Bangsa Israel melewati hal itu, dan dengan melihat kegagalan dan jatuh bangun yang dialami oleh mereka, supaya itu boleh menjadi contoh dan peringatan bagi kita semuanya agar kita tahu dan mawas diri betapa tidak gampang dan tidak mudahnya dan betapa panjangnya perjalanan pengudusan itu di dalam hidup kita. Ada waktu, ada proses, ada persiapan, dan kadangkala sebagai anak Tuhan kita takut dibentuk oleh Tuhan di dalamnya. Di dalam hidup kita, di dalam segala yang kita kerjakan, di dalam pelayanan kita, di dalam berkeluarga, saya percaya di dalamnya ada persiapan, ada proses dan ada pembentukan Tuhan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan supaya di dalam perjalanan pengudusan itu kembali lagi firman Tuhan mengingatkan kita apakah kita berjalan di dalam ketaatan kepada firmanNya yang menguji kita bukan supaya kita jatuh dan ditertawakan orang, tetapi Allah menguji kita supaya kita boleh berjalan dan bertumbuh di dalam hidup kerohanian kita.

Keluaran 15:22, perjalanan di padang gurun tiga hari lamanya membuat mereka yang tadinya “singing with joy” atas keselamatan dari Tuhan, dari mulut mereka keluar betapa agungnya, betapa cintanya, betapa belas kasih Tuhan kepada mereka, dalam sesaat berubah menjadi sungut-sungut dan gerutu oleh teriknya matahari dan tandusnya tanah yang mereka tapaki. Perjalanan keselamatan kita yang diawali dengan sukacita kita tahu akan menjalani perjalanan yang mungkin melewati padang gurun. Di padang gurun itu orang Israel yang kehausan tidak mendapatkan air. Betapa sukacita luar biasa ketika mereka melihat di depan ada sumber air, tetapi begitu minum baru tahu airnya pahit tidak bisa diminum. Karena kecewa, air yang sudah pahit menjadi semakin pahit rasanya. Karena kecewa, karena keinginan yang tidak tercapai, marah karena keadaan yang tidak sesuai dengan pengharapan, semua itu membuat hidup menjadi pahit dan bersungut-sungut.

Sampai hari ini orang ingin mencari batang pohon apa yang bisa membuat air menjadi manis di daerah padang gurun, belum ada orang yang menemukannya. Kita hanya bisa melihat dan mengetahui itu adalah mujizat yang Tuhan lakukan, tetapi memiliki makna simbolis di baliknya. Suatu kali kelak ada “sebatang pohon” yang bisa menebus hidupmu dari kekecewaan dan melepaskan engkau dari semua kesulitan dan dosamu. Ia adalah Anak Allah yang digantung di atas “pohon” itu. Melalui satu kayu yang Tuhan beri kepada Musa menjadi alat untuk membuat bangsa Israel bisa minum dari mata air yang pahit itu. “Mara” itu berarti pahit. Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Reaksi yang seperti itu mungkin kita katakan wajar, sebab lepas dari kejaran maut dan menyeberang laut, menjadi perlambang ini adalah umat yang masih baru, orang Kristen yang masih bayi. Wajar kita katakan iman mereka masih kanak-kanak dan sederhana. Tetapi kita tidak boleh memberi excuses kepada kondisi rohani ini. Masakan tiga hari perjalanan di padang gurun itu begitu mudah menghapus memori pengalaman manis menerima keselamatan dari Tuhan? Masakan tiga hari perjalanan tanpa air itu membuat mereka bersegera melupakan apa yang Tuhan kerjakan di dalam suatu mujizat yang luar biasa? Jikalau selama 430 tahun mereka telah melalui hidup yang penuh kegetiran dan air mata oleh karena penindasan dan perbudakan Mesir, akhirnya kelepasan dari Tuhan terjadi juga. Peristiwa kelepasan itu seharusnya mendatangkan sukacita yang lebih panjang daripada tiga hari perjalanan di padang gurun. Tetapi mengapa begitu mudah kekeringan itu menghapus hujan berkat yang datang di dalam hidup mereka sebelumnya? Itu tidak boleh menjadi sebuah excuse adanya. Justru sebaliknya, sungut-sungut yang muncul memperlihatkan kepada kita itulah tanda dari suatu ketidak-dewasaan rohani. Anak-anak kecil juga memperlihatkan sikap childish behaviour yang tidak mau belajar menunggu, yang langsung menuntut apa yang dia mau harus dia dapatkan sekarang juga. Ketidak-dewasaan rohani akan disertai dengan kalimat yang terus berulang muncul sebagai respons bangsa Israel kepada Tuhan, mereka bersungut-sungut. Inilah sikap dosa pertama yang dilakukan oleh bangsa Israel setelah melewati “baptisan” Laut Merah. Dalam 1 Korintus 10:6-10, sungut-sungut mereka kemudian berubah menjadi empat bentuk. Pertama, Paulus mengingatkan kita, “Jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat…” (ayat 6). “Jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala sama seperti mereka…” (ayat 7). “Jangan ada percabulan seperti mereka…” (ayat 8). “Janganlah kita mencobai Tuhan…” (ayat 9). Menarik sekali, Paulus menyebutkan hal-hal ini dari hal yang seolah kelihatan paling serius dan paling berat, menginginkan hal yang jahat, menyembah berhala, percabulan, mencobai Tuhan, dan baru yang paling akhir “janganlah bersungut-sungut” (ayat 10) seolah yang terakhir itu adalah hal yang paling ringan, sekedar merengek-rengek dan tidak puas. Secara perjalanan sejarah, kita lihat sungut-sungut datang paling awal, tetapi kenapa dalam 1 Korintus 10 menjadi urutan paling akhir? Kalau hati yang bersungut-sungut tidak segera dibereskan, end-up-nya akan sampai kepada penyembahan berhala. Betapa ini harus menjadi peringatan dan warning yang serius kita terima, mulai dari hal sederhana, bersungut-sungut dan menggerutu di hadapan Tuhan terhadap sesuatu situasi. Saya tidak mengecilkan betapa berat dan dahsyatnya kekeringan dan dahaga di padang gurun yang kering dan panas. Betapa tidak gampangnya situasi memberi minum kepada jutaan orang yang kehausan seperti itu. Tetapi mari kita melihat itu bukan sebagai sesuatu yang “isolated” di bagian itu saja, tetapi mari kita melihatnya dalam suatu konteks yang besar. Mereka baru saja dilepaskan melewati Laut, mereka sudah melihat dan mengalami terlalu banyak keindahan keajaiban Tuhan di dalam hidup mereka. Yang mereka perlu adalah hati yang sabar sebab sebetulnya tinggal jalan sedikit di depan mereka akan tiba di Elim, tempat yang limpah dengan air, dua belas oasis dan tujuh puluh pohon korma, minum sampai drowning-pun tidak akan habis-habis airnya. Tetapi ketidak-sabaran, childish behaviour, itu menjadi hal yang kelihatan dari hidup umat Tuhan.

Dalam Mazmur 106:7 pemazmur berkata, “Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatanMu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setiaMu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Maha Tinggi di tepi Laut Teberau…” Hanya satu inci lepas dari pengalaman keselamatan, segera lupa mereka, segera sukacita hilang diganti oleh gerutu dan sungut-sungut karena terlalu gampang dan terlalu cepat mereka lupa adanya. Belum terlalu jauh dari tepi Laut Teberau, mereka sudah lupa kasih setia Tuhan hanya setelah berjalan beberapa waktu tidak mendapatkan air. Mungkin setelah berjalan sama-sama beberapa waktu, masing-masing mulai membanding-bandingkan, kenapa hasil jarahan dia lebih banyak? Kenapa kambing domba yang dia dapat lebih banyak daripada aku? Akhirnya hati menjadi hilang sukacita.

Anggaplah kita orang Yahudi yang ditawan oleh tentara Nazi di dalam satu penjara bawah tanah, sudah setengah mati disiksa dan tidak ada pengharapan lagi, tiba-tiba datang tentara sekutu melepaskan belenggu dan mengeluarkan kita dari penjara itu. Kita yang sudah setengah mati entah dengan kekuatan apa bisa lari dengan sukacita. Sampai di luar, tentara sekutu lalu memberikan apa yang ada pada mereka. Selimut, baju, sandal, ikan kaleng, roti, apa saja yang ada, dan dengan berebutan kita mendapatkan seadanya. Tetapi tidak semua mendapat, dan di sinilah persoalannya. Setelah dengan sukacita keluar dari penjara, mulai membanding-banding siapa mendapat apa, lalu yang merasa mendapat sedikit mulai bersungut-sungut. Itulah persoalan yang seringkali terjadi. Bukankah patut disayangkan sukacita yang sangat berharga dibanding dengan barang-barang kecil yang begitu cepat merubah perasaan hati menjadi ungrateful seperti itu? Jangan pikir cuma bangsa Israel, jangan pikir cuma orang Yahudi, kita pun mungkin sering seperti itu di dalam hidup kita juga.

Jangan pernah lupa siapa kita di hadapan Tuhan, kita yang tidak selayaknya mendapatkan mercy dan belas kasihanNya. Sehingga setiap kali datang kepadaNya kita selalu melihat betapa ajaib perbuatan tangan Tuhan, betapa besar kasih setia Tuhan, betapa limpah anugerahNya di dalam hidup setiap kita. Dengan demikian kita tidak pernah menjadikan hal itu kita lupakan selama-lamanya. Jangan anggap enteng dosa bersungut-sunggut. Jangan remehkan dosa menggerutu. Jangan anggap sepele perasaan hati yang tidak puas dan menuntut selalu mendapatkan yang terbaik itu, karena di balik dari sungut-sungut ada dosa yang lebih serius lagi mengintip dan menguasai hati kita.

Bangsa Israel telah mendapatkan air, tetapi sekarang keluar lagi gerutu dan sungut-sungut waktu mereka tidak mendapatkan makanan. Mazmur 78:18 “Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka…” Mazmur 78:30 “Mereka belum merasa puas, sedang makanan masih ada di mulut mereka…” Setelah dari Elim yang berlimpah air dan kurma, mereka berjalan 1 bulan 15 hari lamanya. Jangan lupa, mereka keluar dari Mesir membawa kambing domba, lembu sapi, bahkan unta dan segala ternak yang bisa memberi mereka susu dan daging yang cukup. Mereka tidak kekurangan makanan. Namun masalahnya, seperti pemazmur bilang, di dalam hati mereka ada keinginan-keinginan ‘craving’ terhadap makanan-makanan yang mereka inginkan. Jadi persoalannya bukan lapar tetapi hati mereka ingin makan makanan yang dulu mereka nikmati di Mesir. Tetapi mereka tidak bilang itu, yang mereka bilang adalah mereka lapar. Bukan tidak cukup makanan Tuhan kasih, tapi persoalannya adalah hati mereka yang tidak puas. Maka pemazmur mengatakan, jangan lupa akan dosa nenek moyangmu, bukan karena kekurangan makanan, bukan karena mereka lapar, bukan karena Tuhan tidak memberkati mereka, persoalannya adalah hati yang tidak pernah puas. Dikasih apapun, kalau hati sudah tidak puas, tidak akan pernah puas. Makanan sudah ada di mulut pun, tetap masih belum puas. Itu persoalan yang mereka hadapi maka mereka terus marah, mengeluh, menggerutu. Bukan saja rohani yang tidak dewasa, bukan karena mereka gampang lupa akan berkat Tuhan, tetapi persoalan yang paling dasar adalah mereka mencobai Tuhan. Lack of faith. Kita tidak terlepas dari hal itu. Pada waktu kita berada di dalam situasi yang terkadang tidak kita sukai, panah dari si Jahat bisa menyerang kita, menimbulkan keraguan, menciptakan hati yang tidak percaya, sehingga mata kita blur dan tidak bisa membedakan “God will provide what you need, bukan what you want.” Selama masih seperti itu, kita tidak akan pernah satisfy.

Bukanlah suatu dosa kalau kita membawa segala kesulitan kita ke hadapan Tuhan, dengan keluhan di dalam hati, “Tuhan, kesulitanku terlalu berat, tidak ada jalan keluar… Aku datang mengeluh dan berseru kepadaMu, memohon Engkau menjawab aku.” Allah mengundang engkau dan saya membawa semua beban dan air matamu kepadaNya di dalam doa. Ketika kita mencetuskan segala kesulitan kita di dalam doa, itu bukan dosa. Tetapi adalah sebuah dosa kalau kita mengeluh bahwa selain menyatakan segala kesulitan yang kita hadapi, di situ kita pun menuduh Tuhan tidak adil kepada kita. Adalah sebuah dosa kalau kita berkata bahwa Tuhan telah membiarkan kita dan akhirnya kita kehilangan sukacita dan hati kita menjadi pahit. Kita lari dari persekutuan dengan Dia dan mencurigai kebaikan Tuhan, maka itu adalah sebuah dosa.

Maka ayat-ayat ini mengingatkan kita, semua itu terjadi bukan karena situasi itu terlalu berat; bukan karena itu adalah padang gurun; bukan karena itu kesulitan yang tidak bisa kita tanggung. Segala sesuatu ada dalam kontrol Tuhan kita yang baik. Maka muncul kalimat, “Allah menguji…” Berarti ada tujuan yang agung dan mulia di balik hal itu. Allah menguji, berarti waktu kita diuji kita belum tahu apa hasilnya, kita tidak mengerti. Itu hal yang wajar. Tetapi setelah waktu lewat berjalan, kita tahu dan kita bisa melihat ada tujuan Tuhan atas semuanya, yaitu supaya kita semakin bersinar memuliakan Tuhan. Setelah peristiwa itu lewat, sebelum Musa meninggal dunia, dia terakhir kembali menuliskan memory atas peristiwa itu di dalam Ulangan 8:3 “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, untuk membuat engkau mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan…” Untuk membuat kita mengerti, lebih dalam lagi, walaupun sudah tidak ada makanan, tetap di dalam kelaparan, biar pengertian ini muncul, Tuhan jauh lebih berarti dan lebih berharga sebab kita bukan terutama hidup dari segala berkatNya saja. Apa gunanya mendapat daging burung puyuh, apa gunanya mendapat manna, tetapi engkau tidak menikmati Sang Pemberi segala sesuatu itu? Betapa indahnya kalau kita memahami dan mengerti bahwa Ia Allah yang agung dan mulia, Allah yang tidak pernah meninggalkan dan melupakan kita. Di dalam situasi apapun Ia hadir, Ya dan Amin di dalam hidup kita, sekalipun kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ia lebih berharga daripada apa yang diberikanNya.

The journey of sanctification, perjalanan kita ikut Tuhan, biar kita melihat itu sebagai satu perjalanan Tuhan menguduskan kita, membawa kita bertumbuh dewasa di dalam iman kita. Biar setiap kali menjalani perjalanan ini kita melewati setiap tantangan dan ujian yang ada membuat kita mengerti dan mengetahui betapa indah, betapa baiknya Tuhan, betapa kasihNya kepada kita supaya dengan demikian kita semakin serupa dengan Kristus di dalam hidup kita.(kz)