07. Peringatan atas Ketidak-setiaan Ajaran

15/4/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (7)

Nats: 2 Timotius 2:14-19

 

2 Timotius 3:17, “Demikianlah tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik…” adalah ayat inti yang penting sekali karena ayat ini merupakan dasar pelayanan Paulus yang memanggil Timotius dan juga memanggil setiap kita yang ikut Tuhan, that’s how God shapes the man of God, demikianlah Tuhan membentuk, mengkikis, memperlengkapinya supaya mereka boleh mengerjakan pekerjaan yang baik, yang noble, yang mulia bagi Tuhan. Ini tidak bicara mengenai segelintir orang saja tetapi bicara mengenai bagaimana Tuhan membentuk hidup setiap kita supaya kita boleh menjadi manusia-manusia kepunyaan Allah, manusia yang menjadikan Tuhan lebih utama daripada segala-galanya.

Itu sebab berangkat dari ayat ini maka kita melihat struktur dan tema dari surat 2 Timotius; pasal 1 kita melihat bagaimana ingredients bahan mentah yang penting di dalam diri seseorang itu dibentuk menjadi manusia kepunyaan Allah. Kita tidak perlu mempersoalkan hal-hal disadvantage yang ada pada diri kita, terutama diri Timotius saya percaya mungkin boleh mewakili setiap kita karena ia lahir dari keluarga yang tidak memiliki advantages dalam hal keuangan finansial karena ibunya mungkin hanya seorang janda. Disadvantage yang lain adalah dia memiliki tubuh yang tidak begitu sehat dibandingkan dengan orang-orang yang lain (band.1 Timotius 5:23). Namun itu semua tidak boleh menjadi penghalang dan alasan bagi anak-anak Tuhan untuk tidak dibentuk dan dipakai oleh Tuhan. Kalau Tuhan mau membentuk seseorang, apapun halangannya, apapun kesulitannya, Tuhan bisa melampaui apa yang ada di dalam hidupnya. Ada orang sakit, di dalam kesulitan dan sakitnya ia makin menyulitkan orang lain dan terus menggerutu kenapa ia tidak beruntung dan hal seperti ini terjadi di dalam hidupnya. Tetapi kenapa ada orang di dalam kesakitannya, di dalam penderitaannya, bisa memikirkan hal yang baik, hal yang positif dan menjadi berkat bagi begitu banyak orang lain? Itulah artinya bagaimana Tuhan membentuk, Tuhan mengkikis, Tuhan memperlengkapi dan memproses seseorang itu boleh menjadi manusia Allah. Ada bahan mentah ingredient yang penting berkaitan dengan hal ini. Pertama, jangan kita takut dan malu karena Tuhan memberikan Roh yang kudus di dalam hidup setiap orang percaya. Roh itu bukan roh yang penakut adanya. Roh itu sanggup membantu dan membuat kita bisa mengerjakan hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita pikirkan bisa kita lakukan. Kedua, kalau ada hati yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan tulus dan murni adanya, Tuhan akan pakai dia di hadapan Tuhan melebihi persembahan yang lain, karena ia mempersembahkan hidup seutuhnya bagi Tuhan.

Selanjutnya di pasal 2 Paulus bicara mengenai proses pembentukan. Maka dia mengingatkan Timotius, bentuklah manusia Allah dengan berani, cari orang-orang yang bisa dilatih supaya nanti ada generasi pelanjut bagi Kerajaan Allah. Yang kedua, paling tidak Paulus memakai 5 metafora untuk proses pembentukan seseorang dalam 2 Timotius 2:3-6. Di dalam 5 metafora itu kita menemukan keindahan yang ada menjadi keunikan dari profesi, pekerjaan dan contoh supaya kita mengambil sifat yang ada di dalamnya. Pertama, biar kita dibentuk Tuhan layaknya seperti seorang tentara atau prajurit.  Seorang prajurit begitu ditugaskan pergi berperang, dia tahu fokus utamanya adalah taat dan setia kepada komandannya. Kedua, seorang atlit atau olahragawan. Waktu seorang atlit akan masuk ke dalam pertandingan marathon, ia wajib menjalani pelatihan selama 8 bulan lamanya. Maka bagi Paulus seseorang yang mau dipakai Tuhan kita harus dengan disiplin mempersiapkan diri dengan baik. Ketiga, seorang petani. Petani adalah seorang yang tahu moment dan opportunity, seorang yang peka dan mengerti kalau lewat waktunya musim tanam selesai. Seorang petani tidak bisa tinggal diam, ada saatnya dia menanam, mencabut rumput liar, memberi pupuk. Namun di tengah kerja keras itu, Paulus mengingatkan ada sukacita tersendiri bagi seorang petani karena dia akan menikmati hasil kerja kerasnya. Metafora keempat di 2 Timotius 2:15, Paulus menggambarkannya sebagai pekerja, seorang budak, yang dengan rajin dan hati-hati dan taat, seseorang yang memiliki hati yang tidak pernah berontak. Di sini Paulus mengingatkan kita sebagai seorang yang meng-handle firman Tuhan carefully. Metafora ke lima kita masuk kepada gambaran Paulus di 2 Timotius 2:20, yaitu sebagai perabot di dalam sebuah rumah.

Dari metafora itu kita akan mengerti bagaimana cara Tuhan membentuk seorang man of God. Dan pada waktu Tuhan membentuknya, wajar proses pembentukan itu kita pahami bukan satu “quick fixed” di dalam hidup kita, tetapi merupakan satu proses yang panjang, yang diuji oleh waktu, dimana nanti akhirnya kita boleh disebut sebagai manusia-manusia Allah yang mengerjakan pekerjaan yang baik bagi Tuhan.

Selanjutnya di dalam ayat 14 ini Paulus meminta Timotius memberi peringatan yang sungguh kepada jemaat Tuhan, di dalam perjalanan hidup Gereja, orang-orang yang datang ke dalam persekutuan orang Kristen belum tentu semua adalah benih gandum tetapi fakta ada benih ilalang yang ditaburkan oleh si Jahat di antara gandum, di tengah-tengah kita (band. Matius 13:24-25). Itulah sebabnya Paulus memperingatkan hal ini mulai kepada Timotius yaitu ‘you must handle the word of God carefully.’ Fakta bukan saja saat ini, tetapi sejak jaman rasul Paulus, ada orang-orang yang mengajarkan ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan sudah merusak iman sebagian orang yang ada di dalam Gereja. Berapa banyak orang Kristen berbakti di satu tempat, ikut kebaktian di satu tempat yang tidak pernah mengupas¬† firman Tuhan dengan dalam sehingga mereka pulang tidak mendapat apa-apa? Berapa banyak khotbah disampaikan pendeta dengan mencomot ayat keluar dari konteksnya lalu elaborasi seenaknya? Saya tidak bisa terima waktu membaca khotbah satu pendeta mengutip separuh ayat dari Wahyu 11:10 “…dan mereka yang diam di atas bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah…” lalu berkhotbah mengatakan inilah the spirit of merry Christmas, padahal ayat itu bicara tentang orang-orang yang sedang menganiaya orang Kristen! Itu namanya memperkosa ayat, dengan mencabut keluar dari konteks. Toronto Blessing juga main sembarangan kutip ayat sana-sini out of context untuk mengatakan orang yang penuh Roh Kudus tidak bisa berhenti tertawa. Mereka bilang, “Sarah tertawa…” (Kejadian 18:12) padahal tertawanya Sarah adalah tertawa curiga dan tidak percaya kepada janji Tuhan yang akan memberikan anak di usia tua kepadanya. Itu yang terjadi di mimbar-mimbar yang tidak bertanggung jawab seenaknya memperlakukan firman Tuhan, sehingga kita bisa menyaksikan begitu banyak anak-anak Tuhan hidup bergereja namun tidak pernah kaya dan limpah dalam pengenalan akan firman Tuhan. Maka Paulus mengatakan, peringatkanlah mereka bahwa di dalam perjalanan hidup ikut Tuhan, di dalam kehidupan bergereja, kita akan bertemu dengan gelombang seperti ini. Sebagai seorang hamba Tuhan, mari kita belajar dengan sungguh-sungguh, mari kita mempresentasikan firman Tuhan dengan setia, mari kita mengabarkan firman Tuhan dengan benar, dengan tidak sembarangan mencomot dan mengutip ayat dan sembarangan menafsir dan mencari ayat hanya untuk mendukung satu prinsip yang keliru adanya. Kenapa Gereja perlu di-remind? Dalam 2 Timotius 2:17 Paulus menyebut nama dua orang yang mungkin menduduki posisi penting di Gereja waktu itu yaitu Himeneus dan Filetus, tetapi mari kita bandingkan dengan 1 Timotius 1:20 dimana Paulus menyebut nama Himeneus dan Aleksander. Apa artinya? Saya menafsir berarti dalam selang beberapa waktu saja ajaran sesat dari Himeneus terus berkembang dengan tambahan satu leader lagi yaitu Filetus. Itu sebab jemaat harus terus diingatkan dan di-warning akan hal ini sebab ajaran sesat tidak statis dan tidak bisa didiamkan begitu saja. Dari situ kita tahu pengajaran seperti ini terus muncul sepanjang sejarah Gereja ketika pikiran dari dunia ini dicampurkan dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab.

Yang kedua, Paulus memperingatkan kita akan sesuatu yang kelihatannya cukup ‘mild’ yaitu kata “bersilat kata.” Memperdebatkan dan meributkan persoalan yang tidak penting akibatnya itu menjadi contoh yang tidak baik kepada orang yang mendengarnya. Membicarakan hal yang tidak penting bukan justru mendatangkan kebaikan di dalam kehidupan bergereja melainkan menimbulkan kekacauan. Saya ingin memberikan beberapa indikasi apa sebenarnya yang mereka ributkan di sini. Dalam 1 Timotius.4:3 “mereka melarang orang kawin, melarang orang makan…” Ada dua pengajaran yang menimbulkan silat kata dimana orang-orang ini tidak mengerti mana yang penting dan mana yang tidak penting. Pertama, mereka mengkaitkan kesucian hidup dengan pola makan. Kedua, mereka mengkaitkan kesucian hidup dengan kawin atau tidak kawin. Sehingga mereka mengatakan bagi orang yang tidak kawin, hidupnya lebih suci daripada yang kawin; mereka yang ‘cia chai’ tidak mau makan daging, hidupnya lebih suci daripada yang makan daging. Maka di situ terjadi pendangkalan mengerti soal kesucian hidup. Kesucian hidup bukan soal pola makan. Kesucian hidup bukan soal masalah menikah atau tidak menikah. Kesucian hidup adalah soal bagaimana kita berperang melawan dosa, bagaimana kita berani hidup bagi Tuhan menentang dosa. Kesucian hidup bicara soal moralitas kita, bukan soal makanan dan soal kawin. Makanan tidak bikin orang lebih suci atau kurang suci. Itu yang terjadi dengan orang Farisi, bukan? Waktu mereka melihat Yesus makan tanpa mencuci tangan, mereka bilang itu dosa. Tetapi Yesus dengan tegas menjawab mereka hanya memperhatikan apa yang di luar tetapi tidak pernah mengoreksi apa yang ada di dalam hati. Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang (Matius 15:11). Kata-kata kotor, hinaan, kata-kata yang tidak benar, caci-maki, itu yang bikin orang berdosa. Inilah yang Paulus bilang orang-orang yang hanya memperdebatkan soal-soal yang sepele dan tidak berguna adanya. Kebanyakan orang Kristen juga masih melihat konsep kesucian secara sederhana dan dari luar saja. Jika sdr tidak mau makan daging atau babi karena masalah kesehatan itu tidak ada kaitan dengan dilarang Alkitab. Tidak ada yang dilarang oleh Alkitab. Lho, kenapa dulu dalam Perjanjian Lama dilarang makan? Perjanjian Lama melarang untuk menjadi satu hal yang membedakan orang Israel sebagai umat Tuhan yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Sekarang pembedaan kita dengan orang lain bukan soal yang kelihatan seperti itu tetapi soal karakter dan cara hidup orang yang sudah ditebus oleh Tuhan. Maka Paulus bilang tidak ada suatupun yang haram jika dimakan dengan hati yang bersyukur kepada Tuhan.

Kita bertemu dengan pengajaran yang masuk ke dalam Gereja dan berkembang menyesatkan dan membingungkan orang percaya. Kita tidak sanggup bisa menghalanginya masuk. Yang bisa kita lakukan adalah terus mengingatkan jemaat akan bahaya pengajaran-pengajaran seperti itu.

Namun yang unik dalam 2 Timotius 2:19, “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan materainya ialah: Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya,” Paulus mengutip Perjanjian Lama dengan terjemahan LXX Septuaginta yaitu terjemahan Perjanjian Lama bahasa Yunani. Di bagian ini Paulus mengutip Bilangan 16:5 dimana dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, muncul sekelompok imam yang diangkat oleh Tuhan yaitu bani Korah dan ada yang namanya Datan dan Abiram yang mempertanyakan otoritas Musa, masakah Tuhan hanya berbicara melalui Musa saja? Maka mereka memberontak melawan Musa. Di situ Musa hanya diam saja dan berdoa kepada Tuhan. Dan Tuhan mengatakan Tuhan akan menunjukkan siapa milikNya yang sejati karena Tuhan kenal hati mereka. Dan di dalam kisah ini kemudian esok harinya terjadi gempa dimana kelompok orang yang ikut memberontak masuk ke dalam lubang bumi. Dari situ Tuhan menunjukkan Musa dan Harun adalah hamba-hambaNya yang ada di pihak Tuhan. Kalimat Tuhan, “Aku tahu siapa yang menjadi kepunyaanKu” dikutip oleh Paulus untuk menjadi satu peringatan bagi orang-orang yang seperti Himeneus dan Filetus.

Dari sini kita bisa mengetahui betapa sulit membedakan siapa yang sudah mengalami lahir baru dan siapa yang tidak karena tidak ada bukti eksternalnya. Siapa yang boleh masuk ke dalam Kerajaan Allah? Yaitu orang yang mengalami kelahiran baru. Lahir baru berarti Allah bekerja di dalam diri orang itu sehingga mereka bisa memiliki hati yang baru dan percaya kepada Tuhan. Tetapi pekerjaan Roh Kudus di dalam diri seseorang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sehingga dari dua belas murid Tuhan Yesus sendiri ada seorang yang namanya Yudas Iskariot yang sampai akhir masih mendapat anugerah kesempatan dicuci kakinya oleh Tuhan Yesus sebagai satu tawaran Injil yang paling terakhir pada malam perjamuan, namun ia tetap tidak mau menerimanya. Maka melalui kalimat ini Paulus bilang Tuhan tahu siapa yang menjadi milik kepunyaanNya, di sini kita bisa melihat bahwa keselamatan itu semata-mata Allah yang bekerja di dalam diri seseorang.

Ada contoh yang sangat menarik dalam Kisah Rasul 16:14 dari seorang wanita bernama Lidia. Tuhan membuka hatinya sehingga ia mendengar apa yang dikatakan oleh Paulus dan hari itu ia menjadi seorang percaya dan dibaptis. Lidia akhirnya percaya dan dibaptis karena ia rajin beribadah kepada Tuhan ataukah karena Tuhan membuka hatinya? Kita tidak bisa melihat Tuhan membuka hati Lidia. Yang dilihat oleh kita adalah dia rajin beribadah. Kalau ditanya kepada Lidia apakah dia yang cari Tuhan atau Tuhan yang cari dia? Mungkin dia akan bilang dia yang cari Tuhan karena dari waktu ke waktu secara rutin dia datang ke synagoge untuk beribadah kepada Tuhan. Tetapi ayat ini mengajak kita melihat satu aspek yang penting, seseorang akhirnya bisa percaya Tuhan sebab Tuhan yang merubah hatinya. Demikian pula sebaliknya orang yang dari kecil sudah ke Gereja, dibesarkan dari keluarga Kristen, tidak ada keberatan datang ke Gereja, tetap kalau bukan Tuhan yang buka hatinya, orang itu tidak bisa menjadi percaya.

Paulus menyadari sulit untuk menandakan siapa yang menjadi anak Tuhan yang sejati dan siapa orang-orang yang seperti Himeneus dan Filetus, tetapi biar kita pegang baik-baik prinsip ini: “Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya,” The Lord knows those who are His (2 Timotius 2:19). Dengan kalimat seperti itu maka sebagai hamba Tuhan hati kita terhibur dan kita boleh melayani Tuhan dengan keberanian karena dengan kekuatan dan kemampuan kita sendiri kita tidak sanggup merubah hati orang; hanya Tuhan yang bisa merubah hati orang. Maka jangan kecewa, jangan takut dan jangan pernah merasa tidak sanggup dan tidak mampu karena Tuhan yang merubah hati orang.

Dalam 2 Korintus 13:5 Paulus mengatakan “Ujilah dirimu sendiri apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus ada di dalam hatimu, sebab jika tidak demikian kamu tidak tahan uji.” Paulus tidak tahu; siapapun tidak ada yang tahu apakah seseorang sungguh anak Tuhan yang sejati, tetapi sungguh suatu fakta ada orang mengaku sebagai seorang Kristen tetapi sesungguhnya dia bukan milik kepunyaan Tuhan. Sekaligus ini menjadi panggilan bagi setiap kita, kita tidak mau hidup komunitas kita, satu pun di antara kita yang tidak memiliki hati yang kita persembahkan kepada Tuhan. Tetapi bagaimana kita tahu? Bagaimana kita tahu kita adalah milik kepunyaan Tuhan? Orang lain tidak bisa tahu. Itu sebab ayat ini merupakan satu ayat yang penting sekali. Paulus bilang, yang tahu hati orang hanya Tuhan dan diri orang itu sendiri. Tidak ada bukti eksternal, tetapi yang ada ialah kita mengevaluasi diri kita sendiri, apakah kita punya iman kepada Tuhan? Pernahkah kita mengundang Tuhan Yesus masuk ke dalam hati menjadi Juruselamat? Kalau tidak, satu kali kelak di dalam perjalanan orang itu, dia hanya ikut-ikutan dan tidak pernah percaya dengan sungguh-sungguh. Satu kali kelak dia tidak akan tahan uji. Ketika penganiayaan datang, dia lari. Ketika kesulitan datang, dia menyangkal Tuhan. God knows who belong to Him, but do you know that you belong to the Lord? Hanya engkau sendiri yang tahu. Tetapi engkau bisa yakin sebab engkau tahu ada iman kepada Tuhan ketika engkau pernah minta Yesus Kristus masuk ke dalam hatimu. Dan jelas, orang yang menjadi milik Tuhan, hidupnya meninggalkan kejahatan. Kita berbuat baik bukan supaya kita masuk surga; bukan supaya kita diterima oleh Tuhan. Perbuatan baik dan hidup yang suci dari seorang Kristen menjadi bukti bahwa dia sudah menjadi milik Tuhan. Memang tidak ada bukti eksternal dari lahir baru, namun ada bukti terjadinya perubahan hidup karena pertobatan kepada Tuhan. Di dalam hidup kita bergereja sebagai umat Tuhan, Paulus mengingatkan firman Tuhan dan janjiNya di dalam perjalananmu mengikut Dia. Kedua, kita diperingatkan setiap saat supaya kita tahu bagaimana mencegah hidup Gereja Tuhan dari kerusakan ajaran yang salah, biar kita hidup di dalam firmanNya dengan sungguh. Biar firman Tuhan boleh menjadi kekuatan dan janji yang indah bagi kita. Kita cinta kepada Tuhan, tetapi yang sungguh menjadi kesukaan kita adalah kita tahu Tuhan mencintai kita. Kita mau menjadi bagian di dalam Tuhan, namun yang lebih indah dan lebih utama adalah Tuhan terlebih dahulu menjadikan kita bagian dari Tuhan. Kita bersyukur kita boleh menjadi percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat karena Tuhan terlebih dahulu merubah hati kita. Biar perubahan dari Injil yang sejati itu merubah seluruh kehidupan kita, sehingga orang boleh melihat dan mengetahui kita adalah milik Tuhan untuk selama-lamanya. Kita menangis dan sedih jika di dalam Gereja kita menyaksikan terlalu banyak hal yang mendukakan hati Tuhan. Ada pengajaran yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab menipu terlalu banyak anak-anak Tuhan yang tulus adanya. Biar kita pegang erat-erat firman Tuhan dan minta Tuhan menguatkan iman kita di dalam mengikut Dia.(kz)