21. Peperangan Rohani Luar dan Dalam

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 4/8/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (21)

Nats: Keluaran 17:1-16

 

Bolehkah kita mengeluh kepada Tuhan? Berdosakah kita menyatakan segala teriakan hati kepada Tuhan? Alkitab mencatat ada banyak anak-anak Tuhan yang karena iman percayanya kepada Tuhan, yang tahu dan percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang menjaga, mengatur dan mengontrol hidup ini, namun pada realitanya tidak melihat akan hal itu, mereka mencetuskan teriakan hati bahkan sekaligus meminta Tuhan menegakkan hidup mereka di tengah injustice yang mereka alami dari orang-orang yang melakukan hal yang jahat kepada mereka. Dengan teriakan dan air mata mereka berseru, “Tuhan, janganlah diam. Bersegeralah menolong kami… lihatlah kesulitan kami…” Itu adalah “the right complained” dari orang-orang yang mengeluh secara benar di hadapan Tuhan. Keluhan itu keluar bukan karena hati tidak percaya kepada Tuhan. Keluhan itu muncul sebab di dalam ketidak-mengertian kita, dalam keterbatasan kita tidak mampu melihat apa yang akan terjadi di depan, kita mengeluh kepada Tuhan justru karena kita tahu Ia adalah Allah yang berkuasa namun betapa berat beban hidupku dan tidak ada tempat pertolongan yang lain selain daripada Allah semata-mata. Di dalam keluhan itu mereka bertanya kepada Tuhan bukan karena tidak percaya tetapi karena mengaku betapa lemahnya iman mereka, kalau bukan Tuhan yang menopang, mereka sudah tidak kuat lagi.

Tetapi pada bagian yang kita baca ini, betapa besar perbedaan yang terjadi. Kita melihat berkali-kali orang Israel bersungut-sungut dan menggerutu pada saat mengalami hal yang tidak menyenangkan di dalam hidupnya. Inilah bangsa Israel, yang Tuhan begitu banyak telah melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidup mereka. Berapa kali Tuhan telah menolong, berapa kali Tuhan memimpin mereka keluar menjadi orang merdeka setelah beratus-ratus tahun menjadi budak orang di Mesir? Sepanjang perjalanan itu kurang air sedikit mereka sudah bersungut-sungut kepada Tuhan; kurang makanan sedikit, mereka sudah berteriak-teriak kepada Tuhan.

Keluaran 17:1 mencatat setelah beberapa waktu mengembara di padang belantara Sin, mereka tiba di tempat persinggahan yang dinamakan Rafidim, yang artinya kira-kira “tempat peristirahatan.” Orang Israel bisa menyebutkan berbagai alasan membenarkan sungut-sungut mereka, karena sudah begitu lama berjalan di padang gurun tanpa menemukan air, sampai di Rafidim yang seharusnya tempat peristirahatan yang nyaman dan enak, ternyata mereka tidak menemukan sumber air di situ sehingga mereka menjadi sangat kecewa. Tetapi kali ini bukan hanya sungut-sungut yang keluar dari mulut mereka; bukan hanya gerutu dan rasa tidak puas yang tercetus dari mulut mereka. Kali ini lebih daripada itu, mereka sekarang mengeluarkan kata-kata yang keras dan lebih intense, mereka bertengkar dengan Musa (Keluaran 17:2). Kalau baru sungut-sungut hanya mengeluarkan ketidak-puasan terhadap situasi dan kondisi yang ada; tetapi bertengkar adalah satu sikap ingin merampas satu posisi dimana mereka merasa itu adalah hak mereka. Mazmur 95:8-9 memberikan penjelasan kepada kita ada apa di balik keluarnya kata-kata ketidak-puasan mereka dan pertengkaran mereka karena di balik daripada itu sebenarnya ada hati yang melawan Tuhan. “Pada hari ini sekiranya kamu mendengarkan suaraNya, janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, munguji Aku, padahal mereka melihat perbuatanKu…” Di situ mereka membalikkan posisi, dimana mereka menjadi hakim dan Tuhan sebagai terdakwa. Mereka mengadili Tuhan.

Di situlah letak perbedaan hati yang mengeluh kepada Tuhan membawa kesulitan hidup kita kepadaNya, menyatakan betapa berat hidup kita, kita mengeluh sebagai anak kepada Bapa kita. Tetapi bangsa Israel bertengkar, bersungut-sungut, menggerutu, bukan saja karena situasinya susah dan berat, tetapi mereka merubah posisi. Tuhan yang adalah Hakim yang adil, yang tidak pernah bersalah di dalam tindakan dan keputusanNya, yang memiliki kuasa yang tidak terbatas, Allah yang adil dan bijaksana, Allah yang mengontrol segala sesuatu, itu seharusnya memberikan kepada kita kekuatan. Walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, kita percaya Allah yang menjaga, mengontrol dan mengarahkan hidup kita dan di situ kita aman dan sentosa di hadiratNya. Kita tidak tahu apa yang ada di depan, tetapi kita belajar bersandar dan percaya penuh kepadaNya. Tetapi ketika posisi itu dibalik, bangsa Israel menempatkan diri sebagai hakim dan menjadikan Tuhan sebagai terdakwa, sekarang mereka sedang berdiri menghakimi Tuhan.

Dalam bagian ini ada tiga tuduhan mereka kepada Tuhan. Yang pertama, mereka berteriak kepada Musa, “Berikanlah air kepada kami!” (Keluaran 17:2). Bukan mereka berdoa kepada Tuhan meminta, bukan mereka sabar menunggu, tetapi mereka menuntut hak sepatutnya dan seharusnya mereka mendapatkan air saat itu juga. Mereka merasa itulah hak mereka untuk dicukupkan dalam segala kebutuhan mereka; hak untuk tidak boleh susah; hak untuk tidak boleh sakit; hak untuk tidak boleh menderita; hak untuk tidak boleh lapar dan kekurangan. Itu tuntutan mereka. Yang kedua, mereka berseru, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Sekarang nada gerutu menjadi tuduhan yang intense dan sudah mengadili Tuhan di situ. Mereka tidak mau mengakui setiap perjalanan yang terjadi adalah karena perlindungan Tuhan dan yang mereka lihat adalah Tuhan bermaksud mencelakakan mereka. Jelas sekali Tuhan tidak membawa mereka keluar dari Mesir untuk mati di padang gurun. Tuhan sudah menjaga, memelihara, melindungi sampai pada saat itu, tanpa kekurangan apa-apa. Tuhan membawa mereka keluar supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyai hidup yang berkelimpahan di tanah yang Ia janjikan kepada mereka. Perjalanan di padang gurun itu bukan untuk membuat mereka mati di situ. Yang ketiga lebih keras lagi, mereka bertengkar dan mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan, ‘Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?'” (Keluaran 17:7). Sekarang bukan lagi bicara mereka tidak merasakan apa yang Tuhan telah beri kepada mereka; mereka tidak lagi melihat setiap momen sejarah perjalanan mereka di dalam perlindungan Tuhan; masuk kepada aspek yang lebih dalam, mereka tidak melihat Tuhan di dalam hidup mereka.

Umat itu menempatkan diri menjadi hakim dan menghakimi Tuhan, tetapi karena Tuhan tidak kelihatan maka mereka menyerang dan melawan Musa. Bagaimana cara mereka menghakimi Musa? Mari kita coba bayangkan, kalau sampai Musa berseru-seru kepada Tuhan, “…mereka akan melempari aku dengan batu!” (ayat 4) situasi yang ada pada waktu itu betapa ricuh dan ributnya. Barangkali baju Musa sudah ditarik-tarik, tubuhnya sudah didorong-dorong dan didesak dari segala arah. Dan sekarang dengan batu di tangan mereka sudah siap-siap melempari Musa sampai mati.

Mazmur 105:40-41 mengisahkan peristiwa ini, “DibukaNya gunung batu, maka terpancarlah air, lalu mengalir di padang-padang kering seperti sungai…” Secara unik dalam 1 Korintus 10:4 Paulus mengatakan, “…mereka semua minum minuman rohani yang sama sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Itu adalah sesuatu yang luar biasa, bagaimana PB menafsir peristiwa yang terjadi di dalam PL. Paulus bilang batu yang mengikuti mereka, batu yang mengeluarkan air itu, adalah Yesus Kristus sendiri.

Apalagi yang bisa kita bilang kepada orang-orang yang tidak pernah puas, kepada orang-orang yang mempunyai motivasi memperalat Tuhan, yang menganggap Tuhan tidak baik, yang selalu menuntut Tuhan memberi dan memberkati mereka? Kepada orang-orang ini sekalipun, Tuhan tetap memberi dengan murah hati. Meskipun mereka mempersalahkan Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai terdakwa di situ, Tuhan mengampuni mereka. Tetapi tidak berarti anugerah kasih dan pengampunan itu datang begitu saja. Bagi Paulus peristiwa itu adalah satu peristiwa dimana Tuhan berhak mendatangkan penghakiman dan keadilanNya. Tuhan berhak menghukum orang yang sudah menunggang-balikkan situasi yang salah, dengan kurang ajar mengadili Tuhan sebagai terdakwa di situ. Namun kita melihat betapa cintanya Tuhan, bukan dari soal Ia memberi mereka air untuk diminum, tetapi ada batu yang dipecahkan di situ. Itu sebab Paulus bilang batu itu adalah Yesus Kristus adanya. Batu itu dipukul memiliki makna Tuhan mengasihi, Tuhan memberi air hidup kepada mereka, melalui satu batu yang dipukul hingga pecah. Itulah lambang pengampunan Tuhan yang indah bagi kita.

Di dalam segala kelemahan dan kekurangan kita, walaupun kita menuntut kepada Tuhan, Tuhan tidak pernah mengabaikan pemeliharaanNya sebagai Bapa yang penuh cinta kasih kepada setiap hidup kita. Coba tengok ke belakang, coba tilik dan lihat semua, adakah Tuhan tidak mendatangkan perlindungan dan pemeliharaanNya kepadamu?

Tetapi lihat Mazmur 106:13, inilah yang saya sebut sebagai “amnesia spiritual” yang terjadi pada umat Israel, “Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatanNya dan tidak menantikan nasihatNya…” Ketika kita berada di dalam keluhan karena kesulitan di dalam perjalanan hidup yang panjang, kita jangan sampai menjadi lupa dan menghapus memori kita akan penjagaan dan pemeliharaan Tuhan atas hidup kita. Kita mengaku betapa lemahnya hidup kita, betapa mudahnya kita melupakan semua yang baik yang Tuhan lakukan kepada kita, hanya sesaat ditelan oleh kesulitan dan persoalan, betapa mudahnya kita melupakan betapa baiknya Tuhan di dalam hidup kita. Biarlah setiap kali kita bangun pagi, ketika kita menghirup udara untuk bernapas, biar kita berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan kalau kita masih mendapat hari yang baru, kesempatan yang indah dan moment yang baik menjalani hidup di dunia ini. Hanya dengan mengingat terus sepanjang perjalanan hidup kita sampai kita bisa berdiri pada hari ini dengan memiliki tubuh yang sehat, tubuh yang kuat, kita mendapatkan segala kecukupan, itu adalah obat yang paling manjur untuk menyembuhkan penyakit amnesia rohani di dalam hidup kita.

Musuh bisa menyerang dan datang dari berbagai sudut, dari kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Bagian kedua dari Keluaran 17 ini bicara untuk pertama kalinya bangsa Israel diserang oleh pasukan musuh dari luar. Di Rafidim ini mereka menghadapi satu serangan yang tiba-tiba dan tidak terduga yang datang dari kelompok orang Amalek, bangsa nomad, bangsa pengembara yang tinggal di balik bukit-bukit batu di padang gurun. Orang Amalek ini adalah keturunan Esau, saudara kembar Yakub, yang keberadaannya terus-menerus menciptakan ketegangan etnis antara mereka (Kejadian 36:12). Bangsa Amalek menyerang secara tiba-tiba, satu serangan yang pengecut karena tidak ada provokasi dari orang Israel kepada mereka. Dalam Ulangan 25:17-18 Musa mengingatkan kembali kisah penyerangan orang Amalek ini, “…bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah…”

Semua ini memberitahukan kepada kita musuh rohani kita pun bisa melakukan hal yang sama, ia tidak mempunyai¬† belas kasihan kepada kita. Padang gurun Sin boleh mewakili kondisi ekonomi yang susah, boleh mewakili masa depan yang kita tidak tahu, beratnya pekerjaan dan ketakutan kita untuk bisa mempertahankan pekerjaan dan usaha kita, sakit-penyakit yang menimpa kita atau orang-orang yang kita kasihi, adanya aspek-aspek di dalam relasi keluarga antara suami isteri atau anggota keluarga yang lain, keributan dan cekcok, semua itu menguras energi dan emosi kita sehingga membuat kita letih dan lesu. Jangan sampai kita lupa Setan adalah musuh kita yang tidak pernah berbelas kasihan kepada kita. Jangan kita menjadi lengah di dalam keadaan kita yang lelah dan lesu, justru musuh mengambil keuntungan dan menyerang dari belakang di saat-saat yang tidak kita duga. Kita harus selalu waspada, jangan biarkan ada lubang yang lowong dimana Iblis bisa menyerang kita. Karena lemah dan lesu kita lalu excuses diri untuk tidak berdoa kepada Tuhan, tidak membaca firmanNya, tidak berbakti kepadaNya dan sebagainya. Serangan Amalek ini boleh mewakili gambaran “spiritual battle” yang tidak akan pernah berhenti muncul di dalam perjalanan hidup kita. Iblis bisa menembakkan panah berapi, menciptakan keraguan dan ketidak-percayaan akan Tuhan ke dalam hati kita, membuat hati kita menjadi pahit dan kecewa, sehingga tekanan dan kesulitan yang ada itu membuat kita drifted away dari Tuhan.

Yang menarik dan yang indah dalam bagian ini adalah kemenangan yang datang kepada orang Israel bukanlah karena kekuatan militer dari kepemimpinan Yosua, bahkan bukan juga karena kekuatan spiritual dan doa dari Musa, tetapi karena tangan Allah yang menopang dan memelihara mereka.

Semampu-mampunya kita dengan segala bijaksana dan kepintaran kita, strategi dan planning yang kita buat, jangan biarkan semua itu mengambil-alih persandaran rohani kita sepenuhnya kepada Tuhan.

Yosua berperang bersama tentara-tentaranya melawan orang Amalek, tetapi peperangan yang sesungguhnya adalah peperangan spiritual yang besar melawan Setan. Alkitab mencatat ada sesuatu yang unik di dalam peperangan ini. “Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek…” (Keluaran 17:11). Bayangkan kakek umur 80 tahun, terus-menerus mengangkat tangannya, makin lama makin gemetaran. Tangan itu mulai turun, dan lemah juga tentara Israel. Waktu tangan itu terangkat, tentara Israel menjadi kuat kembali. Maka Harun dan Hur memegang tangan Musa di kiri dan kanannya sehingga terus terangkat sampai matahari terbenam dan musuh akhirnya dikalahkan.

Jangan ada di antara kita yang akhirnya mengabaikan betapa penting dan indahnya doa itu di dalam hidup setiap orang percaya. Di dalam doa, kita mengakui kebergantungan mutlak kita kepada Tuhan untuk menghadapi semua musuh-musuh kita. Tidak ada senjata lain yang dapat mengalahkan mereka selain kaki yang berlutut dan berdoa, bersandar mutlak kepada Tuhan. Tetapi tangan Musa yang naik, lalu turun, naik lagi, lalu turun, mengingatkan kita juga seringkali berdoa seperti itu. Apalagi kalau kita merasa apa yang kita doakan tidak segera mendapatkan jawaban dan pertolongan dari Tuhan, akhrnya kita menjadi lemah dan merasa bosan mengapa pokok doa yang itu-itu saja yang kita doakan di hadapan Tuhan. Maka kita bisa lelah dan capai berdoa. Walaupun Musa berdoa dengan tekun, tetap dia adalah seorang mediator yang memiliki kelemahan, maka di dalam doanya dia juga bisa lemah. Bersyukur kita punya seorang Mediator yang tidak akan pernah lelah terus berdoa bagi kita yaitu Yesus Kristus yang ada di sebelah kanan Allah Bapa berdoa syafaat bagi kita senantiasa (band. Ibrani 7:25b). Itulah sebabnya kita boleh teguh dan aman berlindung di dalam Pengantara kita Yesus Kristus yang tidak pernah lelah berdoa bagi engkau dan saya.

Namun kisah ini sekaligus juga mengingatkan kita doa Musa adalah satu doa yang mendorong setiap orang Kristen untuk tidak sombong dan merasa karena ketekunan doanya yang menyebabkan segala sesuatu terjadi. Tidak ada orang yang boleh membanggakan diri akan kemampuan dan kesanggupannya yang membuat segala sesuatu terjadi. Kemuliaan hanya boleh diberi kepada Tuhan, sebab Ialah yang menjawab doa-doa kita dengan penuh rahmat dan menolong kita dengan kekuatan yang Ia berikan bagi kita. Dan yang terpenting, jangan kita melupakan doa dan kesehatian dari Musa, Harun dan Hur merupakan keindahan suatu doa bersama. Firman Tuhan berkata, “Dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu di situ Aku ada bersama mereka…” (Matius 18:19-20). Di sinilah kita belajar hal yang indah dari kekuatan dan kesehatian dari mereka berdoa bersama, saling mendukung, kita meliaht kemuliaan dan kuasa Tuhan nyata di dalam peristiwa ini. Biarlah ini menjadi kekuatan yang sekali lagi mendorong kita untuk bersama-sama bersehati di dalam doa di dalam hidup bergereja bersama-sama.

Yang terakhir, setelah peristiwa peperangan dengan Amalek itu, Musa mengatakan “The Lord is my banners, Tuhan adalah panji-panjiku, Yahweh Nissi…” Di tengah mereka sudah kalah dan terdesak, mata mereka melihat kepada tangan Musa yang berdoa kepada Tuhan, maka bangkitlah harapan, kekuatan dan keberanian di dalam diri mereka. Bagaimanapun mereka lemah dan tidak siap, mereka maju menghadapi setiap musuh itu dengan pertolongan Tuhan. Ini mengingatkan kepada kita, kita punya banners, kita punya panji-panji pada waktu kita menghadapi peperangan rohani kita, biar kita ingat Tuhan kita Yesus Kristus yang sudah menang di atas kayu salib, Ialah panji kemenangan kita. Ia adalah batu yang sudah dipecahkan untuk mengganti segala caci-maki, pertengkaran, sungut-sungut, ketidak-percayaan kita, perasaan hati kita yang egois menuntut semua yang terbaik datang ke dalam hidup kita, semua dosa itu telah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib itu. Di tengah kita menghadapi segala tantangan dan peperangan, pada waktu kita hampir kalah, jangan kita kecewa dan lari karena kita punya panji-panji yang mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus kita sudah menang. Biar kita boleh tenang dan teduh di hadapan Tuhan, melihat bagaimana Tuhan menjaga dan memelihara kita.(kz)