02. PENYERTAAN DI TENGAH BADAI

SERI KHOTBAH “PENYERTAAN TUHAN” – 2

PDT. EFFENDI SUSANTO STH.

KISAH RASUL 23:11, 27:1-13

2/9/2012

 

Kita manusia bukan saja mahluk yang mencari makan, tetapi kita adalah manusia yang mencari makna; kita mencari makna dari apa yang kita jalani setiap hari. Kita manusia bukanlah mahluk yang melulu hanya rutin melakukan pekerjaan sehari-hari, tetapi kita adalah manusia yang selalu mencari apa makna di balik setiap pekerjaan kita. Kita akan selalu bertanya, apakah yang kita kerjakan ini berarti? Kita manusia bukan saja mahluk yang mengalami dan menjalani kejadian demi kejadian di dalam hidup kita, tetapi kita juga adalah manusia yang senantiasa bertanya, apa arti yang tersembunyi di balik dari setiap kejadian dan peristiwa yang ada di dalam hidup kita. Maka dari situ kita tahu “meaning” itu lebih penting daripada “things”; makna itu lebih berarti daripada materi, sebab itulah yang menggerakkan kita. Orang di dalam kerutinan hidupnya bekerja akhirnya akan sampai pada satu titik tidak ada gunanya mendapatkan uang lebih banyak kalau dia merasa bahwa apa yang dia kerjakan itu tidak mendatangkan arti apa-apa. Tetapi ada orang yang hidup di tengah himpitan dan kesukaran tetap menjalaninya dengan sukacita sebab dia tahu waktu dia menjalani itu ada makna dan nilai yang lebih penting dan lebih berarti di baliknya.

 

Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, pada waktu kita berada di dalam kejadian-kejadian yang terus-menerus beruntun terjadi di dalam hidup kita, saya percaya ada satu titik mungkin kita bertanya dalam hati pertanyaan ini: what’s wrong with me? Apa yang salah di dalam hidupku sehingga saya terus-menerus harus mengalami kesulitan ini? Itu pertanyaan pertama. Pertanyaan yang kedua, how long? Berapa lama aku harus terus-menerus diterpa oleh kesulitan dan penderitaan di dalam hidupku? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan saja mempertanyakan mengapa hal ini terjadi, tetapi kita ingin mencari tahu. Setelah kita mendapat jawabannya, tidak ada masalah kalau hal-hal itu terus terjadi, asal yang penting kita tahu ada arti dan nilainya.

 

Dan waktu engkau bertanya: what’s wrong with me? Ini adalah pertanyaan yang wajar keluar dari hati kita yang bingung dan confused. Jawabannya adalah: tidak ada. Tidak ada yang salah. Jangan merasa guilty, jangan merasa takut dan kecewa dan merasa ada sesuatu apa lagi sampai engkau merasa bahwa Tuhan tidak lagi mencintai dan mengasihimu. Setiap minggu kita dengar firman Tuhan, setiap hari kita membaca firman Tuhan; janji-janji Tuhan itu melimpah ruah kita temukan di dalam Alkitab. Tetapi pada waktu kita meletakkan janji-janji itu di dalam konteks hidup kita, saya percaya kita tergelitik untuk mengeluarkan pertanyaan seperti ini.

 

Tuhan janji kepada Paulus, dan itu bukan janji sekedar janji tetapi keluar dari mulut Tuhan secara in person sendiri, Yesus hadir secara pribadi di hadapan Paulus, berdiri di sisinya dan berkata, “Take courage for I AM with you.” Jangan takut sebab Aku beserta dengan engkau. But, HOW, o Lord? Janji itu datang, tetapi janji itu tidak membukakan cara dan metode bagaimana Tuhan akan melepaskan Paulus dari penjara, padahal bukankah itu dia yang inginkan? Kita mau Tuhan memberitahu kita jalan keluarnya, cara Dia memperlihatkan penyertaanNya kepada kita. Tuhan hanya janji saja. Sama seperti kepada Ishak, Allah juga berjanji menyertai dan memelihara dia. Bala kelaparan dan kesulitan terus datang dalam hidupnya dan entah berapa lama dia harus melewatinya. Janji Tuhan datang kepada Ishak, “Aku menyertai engkau.” Tetapi pada waktu kita meletakkan janji itu di dalam konteks hidupnya, betapa tidak gampang dan tidak mudah adanya. Berkali-kali sumur sumber hidupnya ditutup atau direbut orang karena iri hati, bukan? Inilah situasi yang unfairness, situasi yang engkau dan saya bisa hadapi kapan saja.

 

Kisah Rasul 24:27 memperlihatkan genap dua tahun Paulus tetap berada dalam penjara. Janji Tuhan yang datang kepadanya di pasal 23:11 tidak bersegera membuat dia terlepas dari kesulitan hidupnya. Alkitab tidak menceritakan lebih banyak, tetapi bayangkan betapa tidak gampang dan tidak mudahnya bagi Paulus tidak bisa melakukan apa-apa, dibelenggu di dalam penjara menanti janji Tuhan bahwa Ia beserta dengan Paulus. Dua tahun lewat, tidak ada hal yang terjadi. Ganti gubernur, ganti penguasa, ganti kapolda, ganti kepala penjara, semuanya lupa dan mengabaikan dia.

 

Kisah Rasul 26:31 memperlihatkan bahkan orang-orang ini sendiri mengakui Paulus tidak melakukan sesuatu yang setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara. Paulus dipenjara secara tidak fair. Sudah dua tahun, tidak adil perlakuan mereka dan tidak tahu sampai berapa lama lagi hal ini akan Paulus lewati. Bagaimana janji Tuhan ‘Aku memelihara engkau’ di taruh di dalam konteks hidup, melewati satu perjalanan waktu yang panjang, seolah-olah Tuhan tidak ada, Tuhan tidak bekerja, tidak tahu dengan cara apa melepaskan diri dalam penjara, sementara orang-orang lainpun yang tahu Paulus tidak bersalah, tidak peduli dan tidak melakukan apa-apa. Itulah artinya hidup di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Itulah artinya hidup di dalam masyarakat yang tidak suka kepada Tuhan Yesus, kita betapa gampang dan mudah menghadapi hal-hal seperti ini. Ada yang kita sebut sebagai situasi yang engkau dan saya tidak bisa lepas, situasi yang tidak adil, yang tidak tahu kapan akan berakhir.

 

Yang kedua, dalam Kisah Rasul 27 Paulus bertemu dengan situasi yang “melawan angin.” Pasal ini memperlihatkan bagaimana Tuhan pelihara Paulus di tengah kapal yang kandas. Ayat 4, waktu mereka berlayar mereka menghadapi angin sakal dari depan sehingga mereka hanya bisa menyusur pantai. Ayat7-8, selama beberapa hari dengan susah payah mereka melawan angin dari depan yang terlalu kencang. Jangan lupa, kapal mereka adalah kapal layar dan tidak ada mesinnya. Lukas mencatat perjalanan itu menghabiskan waktu terlalu panjang, waktu puasa sudah lewat dan musim dingin sudah tiba.

 

Situasi ini situasi melawan angin. Ada banyak situasi yang tidak menguntungkan, dari depan terus menerpa kehidupan tanpa henti.

Awalnya perjalanan kapal ini terlihat cukup lancar, tidak ada insiden apa-apa. Tetapi tidak terduga, menjadi tidak lancar. Saya percaya banyak di antara kita melewati perjalanan hidup yang mungkin seperti ini. Di tengah-tengah kita ada yang silih berganti terus diterpa sakit, bolak-balik ruang emergency, masuk ICU, menghadapi pisau operasi berkali-kali dalam hidupnya. Belum lagi hal-hal lain yang tidak terungkapkan terjadi dalam hidup, yang menguras habis air mata kita. Itu yang kita sebut “angin sakal,” angin yang menghantammu dari depan. Tidak ada henti-hentinya dia datang bertubi-tubi. Yang bisa kita kerjakan hanya seperti kapal ini, zig-zag jalan hidup kita, tidak bisa maju. Yang bisa kita kerjakan adalah berusaha seminimal mungkin tidak diterpa bahaya lebih besar lagi.

 

Lukas mencatat di sini, perjalanan itu begitu panjang waktu dikorbankan, susah dan berat setengahmati kapal itu berlayar sebab angin itu ada di depan. Banyak di antara kita menjalani hidup seperti itu. Tidak jalan lurus hidup kita. Kita perlu navigasi sedikit demi sedikit, setidak-tidaknya kita bisa survive dalam kondisi itu.

 

Tuhan hanya bilang, “Aku menyertaimu…” Namun betapa sulit melihat dan merasakan penyertaan Tuhan di tengah angin yang menerpa kita, bukan? Betapa sulit melihat dan merasakan penyertaan Tuhan di tengah perlakuan unfair yang tidak ada yang menolong dan perlu menunggu bertahun-tahun lamanya. Saya percaya kita akan bertanya, “Dimana penyertaanMu, Tuhan?”

Apa yang kita perlu belajar dari peristiwa perjalanan Paulus ini? Di sini kita melihat penyertaan Tuhan yang tidak secara kelihatan itu tetapi pelan-pelan terjadi di dalam hidup yang kita coba navigasi pada waktu kita menghadapi angin yang besar menghadang hidup kita.

 

Kapal itu dibawa dengan cara berlindung di balik batu karang pulau sehingga terpaan angin keras tidak menghantam kapal secara langsung. Saya percaya kita bisa mendapatkan makna rohani yang dalam di sini. Alkitab berulang kali menggambarkan Allah kita adalah Batu Karang yang kokoh dan teguh adanya, barangsiapa yang berlindung kepadaNya, Ia akan menjaga dan memeliharanya. Ia tidak akan pernah kecewa dan kalah terhadap situasi berat sekalipun. Pada waktu kita berada di situ, Tuhan hanya minta kita berlindung saja kepadaNya, bersandar saja. Dapatkan kekuatan dari situ. Kita memang tidak sanggup bisa berdiri menghadapi angin keras itu; kita tidak bisa dengan kuat bergumul di tengah tangan kita terbelenggu dan kita tidak punya daya apa-apa. Ada hal-hal kita tidak sanggup bisa hadapi, termasuk angin dari alam yang begitu dahsyat, kita hanya bisa cari perlindungan di situ. Jangan kita pernah lalai dan selalu berlindung di dalam kekuatan Tuhan. Perlindungan itu adalah perlindungan yang tidak akan pernah mengecewakan hidupmu.

 

Yang kedua, catatan Kisah Rasul 27:3 di Sidon Paulus diperbolehkan untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya supaya mereka memperlengkapkan keperluan Paulus di dalam perjalanannya. Paulus perlu uang, Paulus perlu bekal makanan, Paulus perlu baju. Itu semua diberikan oleh sahabat-sahabatnya. Betapa kita belajar hal indah di sini. Jangan simpan sendiri, jangan pendam sendiri kalau engkau sedang menghadapi kesulitan. Kontaklah sahabat yang terdekat, yang baik. Di tengah kesulitan angin sakal menyerangmu, kita ada saudara seiman dan sahabat yang saling mendukung dan menolong. Sdr yang dalam keadaan lancar, biar kita boleh memperhatikan mungkin ada teman-teman yang memerlukan pertolongan dan kekuatan darimu. Teman-teman dekat Paulus, termasuk Lukas tidak membiarkan Paulus sendiri dan menyertai dia dalam perjalanan itu. Teman-teman Paulus bisa apa? Mereka tidak bisa lepaskan Paulus dari belenggu; mereka tidak bisa mengganti status Paulus sebagai seorang tawanan. Yang bisa mereka kerjakan hanya membantu dan itu sudah cukup menjadi pertolongan dan kekuatan bagi Paulus. Jangan kita menjadi self-pity dan terus menyimpan kesusahan kita seorang diri. Cari teman, beritahu mereka. Dan kita juga boleh menjadi teman dan sahabat yang baik bagi orang-orang yang melewati badai seperti itu.

 

Yang ketiga, Kisah Rasul 27:14-26 mencatat akhirnya kapal itu kandas. Paulus mengatakan kepada mereka, “Jika sekiranya nasehatku dituruti kita tidak menghadapi kesukaran dan kerugian ini…” (ayat 21). Kalimat itu tidak sama dengan “I told you so…” seolah mensyukuri orang yang dalam kesulitan akibat bad choices yang mereka ambil. Paulus mengatakan ini untuk memperlihatkan kalau kita punya hidup yang tidak mau mendengarkan nasehat yang penting, itu bisa menghasilkan satu decision yang fatal dalam hidup ini. Memang betul, pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi tidak berarti kita harus mengalami segala sesuatu dulu baru kita memperoleh pengetahuan dan mendapatkan pembelajaran dari situ. Kita kutip kalimat itu dengan sedikit hati-hati. Sebab tidak segala sesuatu harus kita alami dulu baru kita mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang berarti. Bahkan ada hal-hal yang sama sekali tidak perlu dan tidak boleh dialami, karena kita tahu itu ‘off limit’ dalam hidup ini.

 

Paulus memang bukan kapten kapal; Paulus memang bukan seorang ahli dalam pelayaran. Tetapi Paulus sering traveling dan dia tahu dari pengalaman perjalanan itu bahwa memasuki bulan musim dingin adalah masa yang terlalu berbahaya untuk melakukan pelayaran. Paulus menasehatkan mereka untuk tinggal di tempat ini. Tetapi kepala perwira ini lebih menuruti pendapat kapten kapal yang mengatakan cuaca memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan. Maka mereka akhirnya mengambil decision, decision yang bagi saya sangat buruk adanya, sangat miskin sekali dalam pertimbangan pengambilan keputusannya. Pertama, keputusan diambil karena mereka menganggap nasehat Paulus tidak perlu didengar karena dia bukan kapten kapal, dia tidak mengerti apa-apa. Kedua, keputusan diambil karena mereka anggap “pelabuhan itu tidak baik untuk ditinggali selama musim dingin” maka mereka mau berlayar ke kota yang besar yaitu Feniks (ayat 12). Jarak dari situ ke kota Feniks mungkin hanya 20 km, secara pikiran kapten ini perjalanan cukup dekat dan mudah. Angin pun waktu itu sepoi-sepoi saja, tidak ada masalah. Kenapa mereka tidak mau tinggal di pelabuhan itu? Satu saja alasannya, karena kota itu terlalu kecil, kalau terpaksa harus tinggal selama musim dingin, mari kita cari kota yang lebih besar dan lebih nyaman untuk ditinggali. Kalau pakai bahasa kita sekarang, agak boring kota itu, tidak ada Foxtel, tidak ada fasilitas hiburan, itu kira-kira situasinya.

 

Kita dalam hidup ke depan akan banyak mengambil keputusan. Pertimbangannya adalah nasehat siapa yang bisa menolong kita dalam mengambil keputusan? Nasehat dari orang seperti Pauluskah atau nasehat dari kapten kapal? Lalu nasehat itu ditimbang dengan keputusan ini: jarak tidak terlalu jauh, kalau stay di sini, tidak ada apa-apanya; pindah tinggal di sana, lebih banyak hal bisa kita kerjakan karena fasilitasnya lebih banyak. Kadang-kadang di tengah pertimbangan-pertimbangan seperti itu, tindakan yang diambil bisa menjadi tindakan yang costly dan menghancurkan hidup kita. Satu keputusan yang kadang-kadang bisa menghasilkan angin badai dan topan yang tidak bisa kita kontrol. Banyak hal harus ditimbang baik-baik.

 

Ada satu keluarga Kristen yang banyak doa akhirnya datang kepada seorang pendeta. Mereka tercekik hutang dan tidak tahu lagi harus kemana mencari nasehat. Hamba Tuhan ini tidak menawarkan doa-doa tetapi menawarkan beberapa prinsip praktis. Pertama, berapa mobil di rumah? Dua. Jual satu. Berapa televisi di rumah? Dua. Jual dua-duanya. Ada Foxtel? Ada. Segera disconnect. Berapa mobile phone? Tiga. Pakai satu. Berapa banyak hutangmu? Hutang sana, hutang sini, segera tutup. Khususnya credit card yang bisa mencekik hidupmu dan keluargamu. Jangan pernah berhutang kepada kartu kredit.

 

Pilih hidup lebih enak di kota Feniks, memang lebih enak di situ, lebih nyaman, lebih ramai. Tetapi resikonya adalah potensi kehancuran dan hidup yang tidak bisa dikontrol. Kenapa engkau tidak tinggal di tempat yang tidak terlalu besar, mungkin agak berdesak-desakan sedikit, tidak apa susah cuma sementara saja. Kira-kira demikian bahasa praktis yang ingin kita belajar dari peristiwa ini. Paulus bilang, tidak baik berlayar pada masa sekarang, bahaya luar biasa. Bagi saya kita belajar dari peristiwa ini bagaimana menetapkan prioritas dengan bijaksana di dalam setiap keputusan yang kita ambil. Mungkin keputusan yang kita ambil tidak menjadi satu keputusan yang membuat kita mendapatkan banyak hal, tetapi pada waktu kita tahu itu jauh lebih penting, mungkin sesaat hal-hal yang kurang menyenangkan harus kita alami dan hal-hal yang kita suka tidak bisa kita dapat, tetapi apa yang kita putuskan jauh lebih baik daripada kita membuat satu keputusan yang keliru yang akhirnya mendatangkan angin topan yang dahsyat tidak bisa kita kontrol dalam hidup ini.

 

Luar biasa, akibat dari keputusan itu akhirnya mereka harus mengorbankan segala-galanya. Mereka harus membuang muatan kapal ke laut (ayat 18). Ada gandum bekal makanan, ada barang-barang pribadi, dsb. Dan dengan tangan mereka sendiri mereka harus membuang alat-alat kapal (ayat 19). Ada kain layar untuk pengganti layar yang rusak, ada barang-barang yang bisa dipakai untuk melanjutkan perjalanan, dsb. Akhirnya semua itu harus dibuang karena ada hal yang lebih penting yang harus dipelihara tidak boleh tidak ada yaitu yang penting orang selamat. Nanti setelah beberapa hari tidak ada harapan, mereka menjadi putus asa menghadapi hal-hal seperti itu.

 

Paulus bilang , “…kalau saja kalian mendengar nasehat yang aku berikan…” Selama decision diambil tidak mau mendengarkan nasehat dari firman Tuhan, walaupun di awal engkau mengira semua akan baik-baik saja, seperti angin yang sepoi-sepoi, satu kali kelak kita akan menuai badai adanya. Tuhan tidak bisa dikibuli, kata Paulus, apa yang kita tabur, itu yang kita tuai dalam hidup ini (Galatia 6:7). Adakalanya mungkin tidak nyaman bangun pagi-pagi ke Gereja bawa anak, ribet dan susah. Tetapi saya rasa adalah a bad decision jikalau karena ketidak-nyamanan itu sdr memilih lebih senang hari Minggu tinggal di rumah, tidur lebih panjang, bangun siang-siang, anak kita kita biarkan tidak mendapatkan firman Tuhan membina imannya. Itu bagian aplikasi praktis yang kita perlu belajar di sini. Paulus bilang, tidak apa tinggal di sini, biarpun kecil dan kurang nyaman ditinggali selama musim dingin, but it will safe your life. Mereka menolak nasehat itu, mereka mau ambil pilihan yang akhirnya menghempaskan mereka dengan angin topan yang membuang terlalu banyak korban dari hidup mereka. Itu sebab ini menjadi bagian yang mendidik dan melatih kita satu aspek yang penting, mari kita belajar mendengar. Mendengar dengan baik firman Tuhan, mendengar nasehat bijaksana dari firman Tuhan, dan biar firman Tuhan itu memelihara setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup ini.

 

Biar di tengah badai topan yang kita alami, kita tetap boleh melihat tangan pemeliharaan Tuhan yang baik dalam hidup kita. Hari ini biar kita berlindung di baliknya, sebab kadang-kadang kita tidak kuat dan tidak tahan karena terlalu besar badai itu menghantam kita. Kita bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan, karena Ia menjadi kekuatan perlindungan dan naungan kita. Di dalam Tuhan kita mendapatkan kekuatan yang sejati, karena Tuhan berjanji Ia tidak akan pernah meninggalkan kita selama-lamanya. (kz)