01. PEMELIHARAAN ALLAH DI TENGAH KELAPARAN

SERI KHOTBAH “PENYERTAAN TUHAN” – 1

PDT. EFFENDI SUSANTO STH.

KEJADIAN 26:1-33

26/8/2012

 

Dilihat dari permukaan, hidup orang percaya dengan hidup orang yang tidak percaya Tuhan seolah tidak ada bedanya. Ada orang yang menjaga kesehatan baik-baik juga sakit; ada orang yang sudah kerja baik-baik tidak mendapatkan hasil yang sepatutnya; ada orang yang sudah belajar dengan sungguh-sungguh tetapi tidak mendapat pekerjaan yang selayaknya. Itu bisa terjadi dalam hidupmu, itu bisa terjadi dalam hidup orang percaya seperti juga kepada orang yang tidak percaya Tuhan. Tetapi di balik permukaan yang seolah sama, dimana kekuatan rohani yang harus membedakannya? Siapa yang menyertai kita ketika kita melewati segala situasi seperti itu, walaupun tersendiri, walaupun berada di dalam situasi yang tidak mengenakkan itu, kita mendapatkan kekuatan yang sejati adanya?

Kitab Suci berkali-kali menuliskan kalimat yang begitu penting luar biasa dari Tuhan, “Aku menyertai engkau. Kuatkan hatimu, jangan takut, Aku akan menyertai engkau.” Lihat janji firman Tuhan ini terjadi di dalam hidup kita dan di dalam perjalanan hidup orang-orang yang dikasihi Tuhan. Hari ini kita akan melihat hal itu terjadi di dalam hidup seorang bernama Ishak.

 

Dalam Kejadian 26 ini tiga kali kalimat ini muncul tetapi dalam bentuk tenses yang berbeda. Dalam terjemahan bahasa Indonesia hal ini tidak terlalu kelihatan seperti dalam terjemahan bahasa Inggrisnya. Yang pertama dalam bentuk Future Tense, “Aku akan menyertai engkau” (ayat 3). Yang kedua dalam bentuk Present Tense, “Aku menyertai engkau” (ayat 24). Ketiga dalam bentuk Past Tense, “Tuhan telah menyertai engkau” (ayat 28).

 

Dari tiga bapa ‘patriach’ bangsa Israel yang dicatat oleh Alkitab, kisah hidup Ishak dicatat paling pendek daripada kisah hidup Abraham dan Yakub, dan akumulasinya di Kejadian 26 ini. Melalui kisah hidup Ishak kiranya kita meletakkan janji Tuhan kepadanya ini di dalam konteks hidup kita juga, bahwa Tuhan akan menyertai kita dan mendampingi kita. Di situlah kita boleh membedakan diri kita dengan orang lain, meskipun perjalanan hidup kita bisa sama, tetapi reaksi kita harus berbeda, iman kita harus berbeda, kepada siapa kita mencari pertolongan menghadapi itu semua harus berbeda. Kita harus memegang janji ini sebab Allah yang kita sembah adalah Allah yang maha hadir, Ia tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Dalam Yeremia 23:23-24 dikatakan Tuhan Allah memenuhi langit dan bumi. Dimana ada tempat yang jauh bagi Allah? Allah kita adalah Allah yang hadir di dalam ruang, tetapi sekaligus Ia adalah Allah yang maha hadir memenuhi segala ruang dan waktu. Allah juga adalah Allah yang hadir secara khusus di dalam hidup setiap anak-anak Tuhan. Itu janji Tuhan yang harus kita ingat baik-baik.

 

Dalam konteks hidup Ishak ini kita akan melihat beberapa prinsip yang menjadi pegangan kita.

Yang pertama, janji Tuhan menyertai Ishak itu tidak dengan serta-merta membuat Ishak tidak mengalami kesulitan dan tantangan permasalahan dalam hidupnya. Janji Tuhan menyertai kita tidak berarti tidak ada kesulitan dan permasalahan datang ke dalam hidup kita. Janji Tuhan menyertai kita tidak berarti kita mendapatkan privilege untuk terus minta kelancaran dan melepaskan kita dari segala permasalahan yang ada.

 

Kejadian 26 dibuka dengan kalimat “Timbullah kelaparan di negeri itu, dan ini bukan kelaparan yang pertama yang telah terjadi dalam jaman Abraham…” (ayat 1). Ini jelas bukan pertama kali terjadi dan juga bukan satu-satunya.Pada masa Abraham hidup dia mengalami bala kelaparan yang hebat. Realita perjalanan hidup ini terjadi dan anak-anak Tuhan tidak immune dari hal seperti ini. Ketika kelaparan terjadi kita coba melihat ini fase begitu berat dan disitu nampaklah betapa lemahnya untuk kita bisa bertahan memegang janji Tuhan itu. Langkah dan sikap yang pertama diambil oleh Ishak di situ adalah dia lari, bukan? Saya percaya ini sifat dan tendensi umum dari manusia. Pada waktu kesulitan datang, kita coba cari selamat. Pada waktu kita mengalami kesulitan yang lebih besar lagi kita coba secepat-cepatnya bisa lepas dari situasi itu. Dan kemana di tengah bencana kelaparan dan kekeringan Ishak lari? Secara logis dia akan lari ke satu tempat yang tidak akan pernah kering airnya, yaitu sungai Nil di Mesir. Itu sebab Abraham waktu bala kelaparan juga lari ke Mesir (Kejadian 12:10). Ishak perlu belajar dari sejarah, karena pada waktu Abraham lari ke Mesir itu dia menemukan kesulitan demi kesulitan justru makin banyak datang ke dalam hidupnya, seperti keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Maka pada waktu kelaparan terjadi, Ishak dengan segala kelemahannya sebagai seorang manusia lari cari selamat, pergi menuju ke sungai Nil. Namun sebelum sampai ke sana, dia berhenti dulu di sebuah kota bernama Gerar di daerah Filistin. Kota Gerar itu diperintah oleh seorang raja bernama Abimelekh, sama seperti nama Abimelekh yang 80 tahun sebelumnya berjumpa dengan Abraham (Kejadian 20:1ff.). Apakah orangnya sama? Kita tidak terlalu jelas mengetahui. Yang bisa kita tahu nama “Abimelekh” itu sesungguhnya adalah nama gelar seorang raja, sama halnya “Firaun” juga bukan nama pribadi melainkan nama gelar raja Mesir. Maka kita tidak tahu apakah dua-dua ini adalah Abimelekh yang sama, tetapi melihat jarak waktu yang cukup panjang dari dua peristiwa ini (Kejadian 20 dan Kejadian 26) besar kemungkinan ini adalah dua Abimelekh yang berbeda.

 

Kelaparan membuat mereka lari. Tetapi di tengah-tengah kesulitan yang hebat ini datanglah janji Tuhan kepada Ishak, “Jangan pergi ke Mesir. Tinggallah di Gerar. Hadapi situasi itu…” (Kejadian 26:2). Kalau kita mau menarik aplikasi rohaninya bagi kita, panggilan Tuhan supaya jangan lari itu adalah sesusah-susahnya dan sesulit-sulitnya situasi kita sebagai orang Kristen, jangan pernah lari dan lepas dari boundary yang penting yaitu iman kita kepada Tuhan yang begitu berharga. Jadi keluar dari tanah yang sudah dijanjikan Tuhan itu diaplikasikan bagi kita sesusah-susahnya hidup ini jangan kita pernah lari dan lepas dan mundur dari tempat dimana janji Tuhan itu senantiasa beserta dengan kita.

 

Saya tahu tidak gampang dan tidak mudah hidup di tengah-tengah situasi kita yang kadang kala begitu sulit dan berat, tantangan dan pressure yang menyebabkan kita harus bekerja enam hari seminggu pun masih belum cukup memenuhi kebutuhan kita. Tetapi jangan sampai tantangan dan pressure yang berat yang kita alami di dalam dunia ini membuat persekutuan rohani kita dengan Tuhan dan dengan keluarga kita abaikan. Jangan biarkan itu membuat kita melepaskan kesempatan untuk datang ke Rumah Tuhan pada hari Minggu, supaya kita selalu tahu dan sadar janji Tuhan ini walaupun berat dan susah akan terbukti menjadi janji yang sangat memberikan kelegaan kepuasan di dalam hidup rohani kita. Kenapa saya tidak boleh pergi ke sungai Nil? Di sana air berlimpah tanpa perlu kerja keras. Tinggal di Gerar? Hidup begitu berat, harus putar otak untuk menggali sumur mendapatkan air. Itu yang terjadi nantinya pada Ishak. Berusaha dan berjuang, dan belum tentu dapat. Tetapi Tuhan melarang dia pergi ke Mesir. Situasimu tidak akan lebih baik dengan kamu pergi ke Mesir, tetapi dengarkan janji ini: Aku akan menyertai engkau.

 

Apa artinya kita menjadi orang Kristen? Apa artinya kita menjadi orang beriman? Menjadi orang beriman berarti kita adalah “Bible Believers,” berarti saya percaya apa yang Tuhan katakan dan Tuhan janjikan walaupun bisa jadi itu tidak kita buktikan dan kita alami di dalam hidup ini tetapi yang Dia janjikan di dalam Alkitab ini adalah “ya dan amin.” Itulah artinya orang percaya. Tetapi berapa sering berita di koran lebih membuat kita gentar hati? Berapa sering gossip di Facebook bikin kita percaya? Namun berapa banyak firman Tuhan yang ada di tangan kita ini kita baca, kita percaya dan kita imani dan yakin Tuhan akan menggenapi janji itu? Perhatikan keindahan yang dicatat Kejadian 26 ini. Ayat 5, Tuhan menggunakan lima kata yang berbeda untuk menekankan firmanNya “firman,” “kewajiban,” “perintah,” “ketetapan” dan “hukum.”

 

Situasi yang tidak gampang dan tidak mudah bisa membuat kita jatuh pada lubang kelemahan yang sama. Dan kisah ini membuka sisi gelap kelemahan dari Ishak. Betapa susahnya kita terima dan pegang janji itu di tengah kita minoritas di dalam masyarakat; betapa susahnya kita terima dan pegang janji itu waktu kita berada dalam kelaparan dan kita berusaha mencari jalan bagaimana kita selamat; betapa susahnya kita terima dan pegang janji itu ketika kita hidup di tengah orang yang tidak percaya Tuhan juga di dalam keadaan lapar yang sama, kita mengalami marabahaya di sekitar kita. Ishak played safe. Kalau ditanya Abimelekh, siapa Ribka, bilang dia adalah saudaraku, kata Ishak. Kenapa? Kalau orang ingin isterinya lalu akhirnya bunuh dia, bagaimana? Dia takut. Dia pikir apa betul janji Tuhan itu bisa terbukti dan nyata memelihara dan memegang hidupnya? Tetapi sekaligus bagian ini memperlihatkan kepada kita janji Tuhan itu tidak terbataskan oleh kelemahan kita. Allah menggunakan berbagai cara untuk membuktikan janjiNya bahwa pemeliharaan dan penyertaanNya akan Dia genapi.

 

Ayat 10, perkataan Abimelekh memperlihatkan satu hal yang mempermalukan Ishak, karena Ishak seorang yang sangat kompromis, yang tidak sungkan untuk berbohong di tengah tekanan kesulitan daripada berani berdiri tegas menanggung resiko; tetapi pada saat yang sama kita melihat ada orang yang tidak percaya Tuhan seperti Abimelekh menyatakan satu etika yang tinggi moralnya. Kita tidak boleh berprasangka dan prejudice kepada orang-orang dari agama lain, mengira mereka pasti hidupnya bobrok dan tidak baik. Jangan juga kita takut hidup di satu negara yang mungkin mayoritas adalah orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus, tidak serta-merta berarti di situ kita akan mengalami kesulitan. Abimelekh memperlihatkan sesuatu hal yang indah luar biasa, ada orang yang tidak percaya Tuhan tetap mengatakan tindakan mengambil isteri orang lain itu adalah salah. Melakukan hubungan seksual dengan isteri orang itu adalah salah dan berbahaya sekali. Ia tidak mau hal seperti itu terjadi di dalam masyarakatnya. Ini ciri seorang pemimpin yang baik.

Pada waktu sdr hidup di satu negara yang tidak percaya Tuhan, atau negara yang dipimpin oleh orang Komunis, atau dipimpin oleh orang berbeda agama dengan kita, bagaimana kita bersikap? Bagaimana kita hidup dalam satu society dan masyarakat seperti itu? Ini satu prinsip yang harus kita pikirkan dan pegang sama-sama.

 

Tuhan menyuruh Ishak untuk tinggal, hidup baik-baik sebagai warganegara diperintah oleh Abimelekh, usaha dan kerja baik-baik di situ. Dan perhatikan dia juga memerintah dengan baik, dia menunjukkan etika moral yang baik dan tinggi. Justru sebagai orang percaya Tuhan malah malu karena engkau takut mencetuskan imanmu, di dalam situasi yang susah engkau lebih mempertahankan keselamatan diri, di hadapan Abimelekh engkau dipermalukan. Engkau hidup di negara asing, diperintah oleh raja yang tidak percaya Tuhan, tetap kerjakan tanggung jawabmu menjadi umat Tuhan yang baik. Tidak berarti kalau engkau hidup di dalam satu komunitas yang semuanya orang Kristen berarti hidup lebih baik. Justru engkau hidup di negara asing dan diperintah raja yang tidak percaya Tuhan, engkau bisa hidup baik. Tidak harus engkau paksa raja itu menjadi Kristen baru pemerintahan menjadi baik dan bersih.

Janji Tuhan nyata di tengah kelaparan.

 

Kedua, adanya janji Tuhan itu tidak serta-merta membuat Ishak tidak perlu bekerja dan berusaha. Ayat 12-22 kita menemukan keindahan luar biasa. Penyertaan Tuhan tidak berarti kita tidak mengalami permasalahan. Penyertaan Tuhan tidak berarti kita bebas dari persoalan-persoalan yang dialami orang lain. Tetapi sekaligus di sini kita menemukan janji penyertaan Tuhan senantiasa menjadi janji yang menyertai orang Kristen yang tahu janji itu maka dia bekerja dengan sekuat tenaga karena dia tahu apapun yang dikerjakannya dengan sekuat tenaga, ada tangan Tuhan yang menyertai dan memeliharanya di situ. Maka bagian ini memperlihatkan satu keindahan dan keajaiban. “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat sebab ia diberkati Tuhan…” (ayat 12).

 

Bagaimana mungkin di tengah kelaparan Ishak bisa mengeluarkan sesuatu yang berbeda dengan orang lain? Dia menjadi kaya, kian lama kian kaya sehingga menjadi sangat kaya. Tetapi sekaligus kita belajar satu hal yaitu ketika berkat datang melimpah dalam hidup seseorang, terlalu cepat orang lain bereaksi iri hati dan cemburu ketimbang tercengang dan kagum, belajar apa rahasia di balik keberhasilan orang itu. Itu konsep umum tetapi seharusnya tidak boleh ada dalam diri orang Kristen. Orang Filistin semestinya belajar darimana Ishak bisa berhasil dalam usahanya, bagaimana dia diberkati bisa dapat hasil lebih banyak. Itu berkat jelas bukan turun dari surga; itu berkat datang dari dia bekerja, berusaha, menggali dan menabur. Ishak belajar dari pengalaman lampau, Abraham ayahnya pernah menggali sumur di sini, pasti tempat ini banyak airnya. Itu yang dia lakukan dan dia mendapat hasilnya.

 

Tetapi orang lebih mudah cemburu dan iri hati daripada belajar kepada keberhasilan orang lain. Akibat cemburu dan iri hati, datang kebencian dan intimidasi. Sudah gali baik-baik, mereka timbun; sudah usaha baik-baik, mereka usir. Buka usaha baru, jalan sukses, orang iri hati lalu diusir lagi. Banyak dari kita mengalami hal seperti ini, bukan? Sudah berusaha baik-baik, konglomerat datang mencaploknya. Kalau tidak, kran ditutup, kredit bank tidak bisa turun. Sudah kerja baik-baik, bisa jadi toko dibakar. Banyak cara orang iri, banyak cara orang tidak suka. Sdr dan saya sebagai orang Kristen tidak terlepas dari hal-hal seperti ini. Tetapi hal yang kita perhatikan dari Ishak, sumur ditutup, diusir, dia pergi ke tempat lain, gali sumur dan cari sumber air lagi. Terus demikian sampai empat kali dia harus membawa keluarganya terus pindah.

 

Ada hal yang bisa kita pelajari dari sini, sebenci-bencinya orang kepadamu, tidak usah takut dan tidak usah kuatir, dia tidak punya kekuatan cukup banyak untuk selama-lamanya benci kepadamu. Di tengah jalan dia juga cape, sebab untuk memelihara kebencian itu dia perlu energi yang lebih besar daripada sdr yang pasif menerima kebencian orang itu. Lama-lama dia juga bisa sakit kepala, kolesterol, jantungan, karena dia perlu terus bakar kebenciannya baru bisa emosi benci meluap. Akhirnya Ishak sampai Rehobot, yang benci juga cape, maka dia bisa dengan lega hidup di situ.

Ayat 23-30, sesudah dari Rehobot kemudian Ishak pergi ke Bersyeba. Di Bersyeba-lah datang kalimat Tuhan, “Aku menyertai engkau” dalam bentuk Present Tense. Kenapa di Bersyeba? Karena ini adalah tempat yang penting, karena itulah tempat sentral Tuhan berjanji kepada Abraham (Kejadian 21:33).

 

Seorang hamba Tuhan berkata, jangan pernah sakit hati dan pahit kepada orang yang iri hati kepadamu. Meskipun dia melakukan hal yang jahat kepadamu, menutup kran untuk mendapatkan berkat. Selama kran dari atas tidak pernah ditutup oleh Tuhan, selalu ada tangan Tuhan menjaga dan memelihara kita. Kenapa? Karena kita tahu tidak selama-lamanya orang yang benci itu punya kekuatan energi untuk melakukan tindakan kebencian kepada kita. Tetapi yang ada, setelah Ishak menggali sumur di Esek, tinggal di situ, orang mengusir dan merampasnya. Dia pindah ke Sitna, sumur itu digali, kembali orang mengusir dan merampasnya. Dia pindah ke Rehobot, di situ sedikit ada kelegaan, tetapi mungkin dia diusir lagi sehingga pergi ke Bersyeba.

 

Mari kita lihat cara tangan Tuhan memakai iri hati dan kebencian orang akhirnya bikin Ishak pergi mendekat ke sentral janji berkat Tuhan di Bersyeba. Lewat apa? Lewat Esek, lewat Sitna, lewat Rehobot. Tidak usah sakit hati, kecewa, marah, terlalu pahit dalam hidup ini kalau kita mengalami cemburu, iri hati, benci, situasi yang tidak enak, sebab tangan Tuhan menyertai kita. Berarti Dia bisa memakai semua itu justru membawa kita kembali ke Bersyeba, akhirnya kita baru tahu betapa baiknya dan indahnya Tuhan.

 

Ketiga, janji Tuhan menyertai kita harus membuat orang Kristen yang hidup di dalam janji penyertaan Tuhan itu menjadi kesempatan engkau memberi kesaksian yang indah sehingga orang yang tidak percaya pun bisa mengatakan, “Kami telah melihat sendiri bahwa Tuhan menyertai engkau” (ayat 28). Peristiwa hidup Ishak luar biasa, dari kelaparan Tuhan pelihara dan berkati; dari sukses mengalami iri hati dan kebencian, diusir; akhirnya orang yang benci datang dan mengaku sendiri Tuhan yang disembah Ishak adalah Tuhan yang sejati, Ia beserta dengan kamu.

 

Bisakah kita menjalani hidup selalu harus kita lihat dalam keadaan apapun menjadi kesempatan kita menyatakan dan bersaksi bahwa Tuhan itu sungguh hidup di dalam kita? Kalau kita tekun, kalau kita tahan menghadapi kelaparan, kalau kita tidak pernah jemu dan terus-menerus berusaha, kalau kita tidak pernah pahit dan marah dan ingin membalas sega ketidak-baikan orang kepada kita, kita tahu di situ tangan Tuhan pelihara, saya percaya itu akan menjadi hidup yang membawa berkat bagi orang lain. Janji itu tidak pernah kosong, tetapi janji itu juga tidak pernah datang tanpa di dalam konteks Tuhan memproses hidup kita. Biar janji itu kita pegang, supaya dengan janji itu kita tahan, kita berjalan, kita berjuang, kita tidak pernah letih lesu dan jemu. Tuhan berjanji di masa depan, janji itu nyata di dalam hidup kita sekarang. Orang lain juga mengakui hal itu nyata di dalam hidup kami.

 

Biar Tuhan memimpin setiap kita, sebab kita tahu kita punya Allah yang berkuasa, Allah yang khusus memimpin dan menyertai hidup kita tidak absen dan jauh daripada kita. Allah selalu senantiasa bekerja menenun hidup kita di dalam rencana dan anugerah Tuhan yang indah adanya.(kz)