09. Pembentukan menjadi Perabot yang Mulia

6/5/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (9)

Nats: 2 Timotius 2:20-26

 

Beberapa waktu yang lalu ada satu perusahaan besar dari Amerika ingin mencari tenaga kerja dari Australia. Salah satu pemuda Gereja kita yang baik dan pandai yang berhasil lolos, yang kalau tidak salah dari kota Sydney saja hanya 3 orang, yang terpilih dari ribuan orang yang mendaftar. Betapa bangga kita akan hal itu. Bisa dipilih dan dipakai oleh satu perusahaan yang besar dan bonafide melalui test yang sangat berat, itu merupakan kehormatan yang luar biasa. Dia dipilih bukan karena KKN, dipilih bukan karena katabelece, dipilih memang karena kualitasnya, dipilih karena memang ada sesuatu dari diri orang itu. Sekolah-sekolah selektif yang ada di NSW juga adalah sekolah-sekolah yang harus kita hargai dan hormati. Kalau tidak salah ada 20.000 anak SD setiap tahun untuk berjuang masuk ke salah satu sekolah selektif itu. Dan dari 20.000 anak, cuma 3.000 yang bisa terpilih masuk. Kita bangga dan mengakui anak-anak yang bisa lolos itu adalah anak-anak yang baik, yang pandai, yang mature di dalam banyak aspek sehingga bisa bersekolah di situ. Perusahaan yang besar, sekolah yang hebat, kalau anak kita bisa masuk dan bisa dipakai dan bekerja di situ, itu merupakan hal yang membanggakan luar biasa. Namun saya percaya tidak ada hal yang lebih indah dan membanggakan dan lebih mulia jikalau, seperti kalimat yang Paulus pakai di sini, “You will become a vessel of honour because you’ve chosen by God to be used for good works for God.” Bukan dipakai oleh perusahaan yang besar, bukan dipakai oleh konglomerat yang besar, bukan bersekolah di sekolah yang elite, tetapi dipakai oleh Allah sendiri.

Maka 2 Timotius pasal 2 khusus ditulis oleh Paulus bagi Timotius yang muda ini, bagaimana boleh menjadi seorang hamba Tuhan yang dipakai oleh Tuhan. Saya percaya nasehat berharga ini bukan untuk Timotius saja tetapi juga bagi setiap kita, anak-anak Tuhan, mulai dari fokus, mulai dari disiplin, mulai dari kerja keras, mulai dari tanggung jawab, itu semua proses pembentukan Tuhan, sampai kepada metafora yang terakhir ini, “Timotius, di dalam rumah yang besar ada perabot yang dipakai untuk pekerjaan yang biasa, ada yang dipakai untuk pekerjaan yang agung dan mulia…” (ayat 20). Mari kita boleh menjadi satu Gereja dan menjadi seorang Kristen yang disebut oleh Tuhan, “You are My vessel of honour.” Bukan karena kita adalah seorang hamba Tuhan selebriti, bukan karena kita ingin dilihat oleh orang, bukan karena kita mengerjakan pekerjaan yang megah dan besar. Kalau kita baca seterusnya kalimat-kalimat Paulus ini tidak ada kaitannya dengan soal kuantitas berapa banyak orang yang sudah engkau pertobatkan, berapa sukses pelayanan yang engkau kerjakan; tetapi bagian ini bicara soal bagaimana karakter dan pembentukan Tuhan kepada seorang yang melayani Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu dunia bisnis dan sektor finansial dikejutkan dengan mundurnya seorang yang memiliki jabatan tinggi di satu hedge fund besar, yang akhirnya menulis artikel kenapa dia resign, karena perusahaan tempat dia bekerja tidak punya lagi kompas moral. Perusahaan tidak memikirkan bagaimana orang-orang yang invest di situ boleh mendapatkan benefit tetapi bagaimana bisa rip off uang sebanyak-banyaknya dari customer untuk menjadi bonus diri sendiri. Itu sebab dia mundur dari perusahaan itu.

Saya kutip lagi ucapan dari Ferdinand Sadeli, salah satu jemaat kita yang masih muda dan terpilih menjadi salah satu CFO terbaik di Indonesia yang dipilih oleh majalah Swa, dia mengatakan kita waktu hendak meng-‘hired’ orang untuk masuk ke perusahaan selalu melihat 3 hal yang penting, background education-nya, banyaknya experience dan skill apa yang bisa dia kerjakan. Tetapi kita ‘fired’ orang because of his attitude and character. Attitude dan karakter tidak pernah kelihatan muncul di awal, tetapi selalu muncul di akhir adanya.

Dalam 2 Timotius 3:8 Paulus mengkontraskan pelayanan Timotius dengan orang-orang yang dia samakan dengan Yanes dan Yambres yang menentang Musa, iman mereka tidak tahan uji. Ini kata yang sering Paulus pakai bicara mengenai perseverance. Dalam 2 Korintus 13:5-7 berkali-kali Paulus juga memakai kata itu. Perjalanan iman seseorang juga tidak bisa dilihat di dalam satu durasi waktu yang pendek. Tahan uji, demikian salah satu ciri the vessel of honour, dibersihkan oleh Tuhan, disucikan oleh Tuhan, baru dia siap dan be ready to do good works for God. Ada prosesnya, supaya someday kita boleh terbukti tahan uji sampai akhir.

Tuhan menciptakan banyak hal di dalam dunia ini juga memiliki karakter dan sifat seperti ini, bukan? Berlian sebenarnya secara material dasarnya tidak jauh berbeda dengan arang hitam yang dipakai tukang sate, yaitu karbon. Bedanya cuma, akibat panas yang ribuan derajat Celsius dan tekanan atmosfir di bawah bumi membuat ikatan antara karbon itu berbeda. Sehingga ada yang menjadi arang untuk bbq, ada yang menjadi berlian. Keramik juga demikian, ada yang begitu berharga ribuan dollar, ada yang cuma dipakai untuk menjadi kendi air. Apa yang membedakannya? Bedanya adalah tanah yang dipakai untuk vas dibakar di dalam suhu ribuan derajat Celsius, sehingga waktu keluar dari pembakaran dia bukan lagi tanah liat, tetapi vas keramik yang mahal harganya.

Maka ayat ini bicara mengenai dua aspek. Pertama, kalau kita rela membersihkan diri, menyucikan diri dan punya hati yang murni adanya. Tetapi aspek kedua tidak bisa lepas, yaitu Tuhan yang menyucikan, membersihkan. Proses pembersihan dan penyucian yang dilakukan oleh Tuhan membuat seseorang layak dipakai, dan pada waktu Tuhan membersihkan dan memakai kita menjadi satu perabot bejana yang mulia, tidak gampang dan tidak mudah adanya. Kita ingin hasil akhir, kita semua tidak suka proses pembentukan perjalanan menjadi sebuah bejana yang mulia adanya.

Minggu lalu kita sudah melihat beberapa aspek dari kata respek dan hormat dipakai oleh Paulus. Respek itu bicara soal bagaimana sikap kita menghormati orang; respek juga bicara soal bagaimana secara hubungan relasi itu benar adanya. Ada ordo yang baik; yang muda menghargai yang tua; yang tua mengerti bagaimana memberi kesempatan kepada anak-anak muda supaya mereka boleh melayani Tuhan dengan baik.

Yang pertama, kita melihat aspek dimana Paulus meminta adanya kehormatan dan respek selayaknya kepada mereka yang patut menerimanya. Kita menghormati orang yang patut dihormati; kita menolak hormat yang datang kepada kita jikalau kita tidak sepatutnya dihormati. Itu point yang diangkat Paulus. Yang kedua, Paulus bicara mengenai aspek relational dari respek. Artinya, itu hal yang menjadi ordo yang penting di dalam komunitas masyarakat. Dunia ini akan chaos dan anarkis jikalau ordo soal respek ini tidak dihargai dengan baik. Maka Paulus bilang kepada Timotius, tegurlah dengan sopan mereka yang lebih tua sebagai bapamu; cintailah yang lebih muda sebagai adikmu; janda-janda yang sangat miskin luar biasa yang mengasuh anak dengan baik, hargai dan hormati mereka. Orang-orang yang memiliki jabatan yang mulia sebagai diaken dan penilik jemaat, itu adalah jabatan yang patut direspek; hargai orang-orang seperti itu. Demikian juga kita boleh mencintai dan mengasihi hamba-hamba Tuhan yang dari muda sudah mempersembahkan diri dan melayani berpuluh tahun lamanya; saya harap setiap Gereja menghargai sikap pelayanan hamba-hamba Tuhan seperti itu.

Yang ketiga hari ini saya bicara bagaimana diri kita sendiri rela dibentuk oleh Tuhan dengan satu goal supaya seumur hidup ini kita boleh menjadi seorang anak Tuhan yang dipakai untuk pekerjaan yang mulia adanya. Paling tidak ada 3 point bicara mengenai pembentukan karakter di sini.

Pembentukan karakter yang pertama Paulus bicara dari aspek negatif, 2 Timotius 2:22a “Jauhilah nafsu orang muda…” flee from youthful desires, yang salah satu sisi bicara mengenai kemurnian dalam seksualitas. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat berita yang menyedihkan, seorang hamba Tuhan yang senior melayani konseling jemaatnya yang sedang mengalami permasalahan keluarga. Bukan membantu mereka melewati prahara rumah tangga, akhirnya dia malah menikah dengan perempuan itu. Ada hamba Tuhan yang melayani merasa isterinya tidak terlalu mendukung pelayanan dia, akhirnya kemudian dia transference dengan hamba Tuhan perempuan yang sama-sama pergi melayani sebagai tim misi, akhirnya rusaklah pelayanan dia. Hal-hal seperti itu berbahaya sekali; luar biasa bahaya sekali.

Itu sebab Paulus mengeluarkan kalimat itu, bicara soal kehati-hatian di dalam konseling, Galatia 6:1 “…sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Bagi konselor profesional diberi garis yang tegas, tidak mempunyai kedekatan emosi dengan orang yang dikonseling karena hal itu dianggap sebagai tindakan yang tidak profesional. Jikalau sampai akhirnya engkau yang dipercaya oleh orang akhirnya sendiri melakukan kesalahan di dalam konseling, betapa menyedihkan. Tetapi sayangnya di dalam Sekolah Teologi ataupun di tengah-tengah pelayanan, banyak hamba Tuhan tidak menyadari akan hal itu.

Paulus menyadari betapa luar biasa kebahayaan pencobaan seperti ini. Maka menjadi seorang pelayan yang patut dihormat dan direspek adalah belajar membersihkan dan mengikis hal-hal yang tidak boleh ada di dalam hidup kita, sesuatu passion dan desire yang tidak benar di hadapan Tuhan, yang Paulus sebut sebagai youthful desire. Alkitab menyebut ini bukan dengan maksud mendiskriminasi anak-anak muda, tetapi untuk menunjukkan sisi aspek di dalam jiwa anak muda.

Sdr pasangan yang sudah menikah lama, perhatikan hal-hal seperti ini, pupuk cinta di dalam pernikahan dengan baik. Susahnya kerja, setengah mati membesarkan anak, mungkin bisa membuat relasi menjadi hambar. Tetapi cinta itu tidak sama dengan membeli barang, yang kalau disimpan di gudang akan tetap sama. Cinta harus dipupuk oleh dua belah pihak, saling mencintai saling mengasihi. Kasihan dan celakalah kalau pernikahan itu menjadi hambar dan uang menjadi banyak dan masing-masing mencari kesenangan sendiri.

Gordon Fee mengatakan Paulus tidak sepenuhnya hanya berbicara soal sexual desire di sini, maka dia menerjemahkan youthful desire dengan headstrong passion of youth. Maka Paulus minta kepada Timotius sebagai seorang hamba Tuhan yang muda belajar memiliki hati, sikap, karakter yang mengontrol diri. Walaupun umur masih muda tetapi karakter kita indah dan dewasa adanya. Anak muda yang memiliki kematangan kedewasaan, betapa indah melihat hidup mereka, membuktikan kepada orang tua bahwa mereka layak dan patut dipercaya adanya. Apa yang menyebabkan headstrong passion of youth? Ketidak-sabaran, saklek, keras kepala, tidak mampu untuk bisa belajar melihat perspektif orang lain, merasa dirinya lebih pintar dan lebih hebat daripada yang lain.

Selain mengingatkan dari aspek negatif, Paulus juga memberikan dorongan dari aspek positif, di ayat 22b”…kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai…” bicara mengenai kelurusan hati. Barangsiapa yang sanggup berlutut di hadapan Tuhan, dia akan sanggup berdiri di depan orang-orang yang melawan Tuhan. Bicara memiliki hati yang righteous dan lurus, dia tidak usah takut, tidak usah minder, tidak usah malu menghadapi apa saja. Paulus memberikan beberapa prinsip praktis berkaitan akan hal ini. Dalam “jagalah kemurnian dirimu…”(1 Timotius 5:19-22, 1 Timotius 5:1). Righteous and purity terimplementasi secara praktis di sini: jangan terlalu cepat menumpangkan tangan kepada orang di dalam pelayanan, terutama kepada orang yang baru bertobat karena kita perlu melihat proses pertumbuhan imannya. Kalau ada orang menuduh seseorang, kita juga jangan cepat-cepat ikutan percaya tetapi periksa baik-baik. Miliki hati yang lurus, berada di garis tengah sehingga boleh menjadi panutan melihat tanpa pandang bulu. Maka setiap kita biarlah juga memiliki keinginan yang sama, mengejar hal-hal yang adil, yang murni, kasih dan damai di antara orang percaya.

2 Timotius 2:23, “Hindarilah soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran…” Paulus bicara soal jangan bertengkar, tetapi kalau perlu untuk menegur tegurlah di hadapan orang, peringatkanlah dengan sungguh-sungguh, berilah instruksi dengan gentle dan sabar. Kita harus membedakan antara berdebat dengan bertengkar; kita harus membedakan antara menegur dengan bertengkar; kita harus membedakan antara kita menegur tetapi sambil memberi instruksi dengan gentle dan dengan sabar. Ini adalah hal yang tidak gampang. Itu bukan soal keras lembutnya suara kita. Ada orang suaranya besar tetapi hatinya lembut; ada ibu suaranya lembut begitu menegur anaknya, dia langsung diam dan mendengar. Maka di sini bicara mengenai wibawa, bagaimana memberi instruksi dengan gentle, bagaimana menegur, bagaimana menghindari hal-hal yang tidak perlu dan menimbulkan pertengkaran. Ada dua definisi dari kata bertengkar. Pertama, kalau itu hal yang sepele dan tidak penting, tidak perlu dibahas dan dibicarakan. Kedua, kalau pembicaraan itu tidak ada ujung solusinya, maka kita kategorikan sebagai bertengkar. Dua orang yang berdebat memiliki tujuan supaya bisa menemukan kata sepakat dan kata akhir yang sama walaupun mungkin di awalnya berangkat dari sudut pandang berbeda. Pada waktu orang menegur, itu berarti memang ada hal yang salah dari orang yang perlu diperbaiki dan dikoreksi. Tidak demikian spirit dari bertengkar. Orang yang suka bertengkar suka membicarakan hal-hal yang kecil dan sepele yang sebetulnya tidak perlu dan tidak patut diangkat. Tidak semua peperangan perlu diperangi. Biar ada damai sejahtera di antara kita. Cara pencet odol yang berbeda, tidak usah dijadikan sumber pertengkaran. Bertengkar memiliki tujuan dan aspek yang lain, tidak ada ujung pangkalnya, tujuannya adalah demi untuk keributannya saja.

Menjadi sebuah bejana yang mulia, ia harus memiliki teachable spirit. Teachable spirit berarti tidak memaksakan pendapat diri sebagai kata mati, hal yang paling benar dan tidak mau menerima perubahan, dsb. Teachable spirit berarti ada hal-hal yang kita sedia belajar menerima dan mendengar bijaksana dan perspektif dari orang lain. Teachable spirit berarti pada waktu ada teguran dan petunjuk dari orang, kita bersedia mendengar dan mengintrospeksi diri. Lawan dari sikap teachable spirit adalah terus-menerus memperdebatkan dan mencari-cari hal-hal yang menimbulkan pertengkaran dan tidak ada ujung pangkalnya. Kita tidak akan pernah lulus dari pendidikan sekolah Tuhan mengenai hal ini.

“…seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar, dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat…” (2 Timotius 2:24-26). Dalam hidup sehari-hari, dalam percakapan, gampang sekali kita bisa di-offended orang lain. Orang bisa slip mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak punya maksud dan tujuan negatif, jangan cepat-cepat tersinggung. Dalam hubungan suami isteri, dalam hubungan relasi pelayanan, mudah sekali terjadi gesekan. Maka di sini Paulus mengingatkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar dan harus sabar. Sabar bukan dalam pengertian diam dan pasrah diinjak-injak; tetapi patiently enduring evil. Orang bisa saja offended kepadamu, terima dan jangan simpan dendam kepadanya. Jangan easily be offended, selalu murah hati memberi forgiveness kepada orang. Kenapa? Sebab karakter Kristen seperti ini memiliki satu tujuan tidak lain dan tidak bukan, orang yang paling benci Tuhan, orang yang paling benci kepadamu, orang yang paling benci Kekristenan, orang yang salah mengerti engkau, suatu kali kelak akhirnya dibawa kepada Tuhan, diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat, bukankah itu hal yang lebih berarti dan lebih bernilai daripada hati kita dikecewakan dan dirugikan oleh orang? Dengan lemah lembut, bertahan dengan baik, sabar dan tahan uji, karakter Kristen yang seperti itu akan menjadi bejana yang mulia bagi Tuhan. Mungkin di dalam lingkungan pekerjaan, engkau feel offended dari orang lain karena imanmu. Mungkin engkau diperlakukan tidak adil karena kepercayaanmu kepada Tuhan. Tetapi ijinkan firman Tuhan pada hari ini memberikan kekuatan kepada kita, semua itu tidak lain dan tidak bukan dipakai oleh Tuhan untuk membentuk kita sabar dan tahan uji supaya melaluinya karaktermu terbentuk menjadi bejana yang mulia dan menjadi berkat bagi orang lain. Gereja ada, hamba Tuhan ada, pelayan Tuhan ada, orang Kristen ada di satu tempat, ia harus memiliki tujuan dan karakter sebagai seperti bejana yang mulia adanya; harus memiliki karakter seperti seorang pilot yang selalu mempunyai tujuan bagaimana membawa penumpangnya tiba dengan selamat; harus memiliki karakter seperti seorang ahli bedah, bagaimanapun susah dan beratnya penyakit pasien ia berusaha menyehatkan orang itu; harus memiliki karakter seperti seorang mekanik betapapun rusaknya mesin itu ia berusaha membuat mesin itu bisa berjalan dengan baik.

Menjadi hamba Tuhan harus belajar sabar, tahan uji, diproses Tuhan dengan baik, supaya tidak lain dan tidak bukan dimana kita berada kita boleh menjadi the healing instrument of God; dimana kita berada kita boleh menjadi instrumen yang memberikan joyful kepada orang; dimana kita berada kita boleh menjadi instrumen yang memberikan benefit kepada orang. Tidak hanya di Gereja, tidak harus di Gereja. Maka Paulus bilang, sabarlah Timotius, patiently enduring evil, walaupun sakit hatimu tetapi akhirnya orang itu bertobat dibawa mengenal Tuhan dan sadar kembali, betapa indahnya. Biar pelayanan kita, hidup kita sebagai anak Tuhan memiliki karakter sebagai bejana yang mulia yang dibentuk oleh Tuhan, yang diproses olehNya, dibakar oleh Tuhan, disucikan oleh Tuhan sehingga kita menjadi tulus dan bersih adanya.(kz)