05. Pelihara Harta yang Dipercayakan kepadamu

18/3/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (5)

Nats: 2 Timotius 2:1-13

 

Surat 2 Timotius Paulus tulis untuk memberi kekuatan kepada Timotius, yang sedang melayani dengan berat sekali di satu Gereja di Efesus. Sdr akan melihat nanti di pasal-pasal selanjutnya dari 2 Timotius, ia menghadapi oposisi di dalam pelayanan ini; ia menghadapi realita rekan-rekan yang desersi meninggalkan pelayanan. Di dalam Gereja ada pengajaran-pengajaran yang membingungkan, ada sikap pelayanan yang berbeda dari hamba-hamba Tuhan itu. Saya percaya anak muda ini sedang bertanya-tanya, mana yang benar? Sikap pelayanan yang bagaimana yang harus saya pegang, kerjakan dan lakukan? Menderitakah atau tidak? Memberitakan Injil yang tidak populer dan tidak banyak orang yang mau ikut atau memberitakan Injil yang bisa menarik banyak orang menjadi pengikutnya? Ini pertanyaan yang berkecamuk di dalam diri Timotius. Bagaimana saya tahu itu adalah ajaran yang benar? Bagaimana saya tahu itu adalah ajaran yang baik? Bukankah jumlah banyaknya orang yang menjadi pengikut boleh menjadi tolok ukur bahwa itu adalah ajaran yang baik dan benar? Seberapa setiakah saya mengerti satu pengajaran atau ajaran Gereja yang benar-benar otentik itu seperti apa adanya? Inilah yang ingin Paulus tekankan sehingga berkali-kali ia mengatakan, “Inilah Injil yang aku beritakan…” Inilah Injil yang kita beritakan; inilah Injil yang harus engkau jaga dan pelihara; inilah Injil yang harus engkau ajarkan. Kenapa? Sebab ada “Injil yang lain,” ada pengajaran yang lain dan yang berbeda.

Kalau sdr bertanya, bagaimana saya tahu ajaran itu baik dan benar? Bagaimana¬† saya tahu seberapa setianya ajaran itu kepada Injil yang sejati? Jawabannya singkat dan sderhana, yaitu kalau Injil itu sesuai dengan “the Apostolic Gospel,” yaitu Injil yang diberitakan dan dicatat dan ditulis oleh para rasul yang ada di dalam Alkitab, Injil itu yang kita beritakan, Injil itu yang kita ajarkan. Paulus meminta Timotius menjaga dan memelihara Injil yang sudah ia terima secara wahyu oleh para rasul. Dalam Efesus 2:20 Paulus menulis tanda Gereja itu benar, Gereja itu sejati, Gereja itu dibangun di atas dasar para rasul dan nabi dan Kristus sebagai batu penjurunya. Pertama, Gereja itu benar, sebab batu penjuru yaitu batu yang mengukur segala sudut dengan benar dan tepat adalah Yesus Kristus. Kedua, Gereja itu benar, sebab fondasinya dibangun di atas ajaran para rasul dan nabi. Jabatan untuk menyelesaikan fondasi hanya diberikan kepada rasul, dan ketika rasul itu semua sudah mati, era fondasi Gereja selesai, tidak ada lagi rasul baru. Waktu kita baca di 1 Korintus 14 Paulus mengatakan, “Aku sangat rindu kalau bisa semua kalian memiliki karunia nubuat…” Kenapa begitu? Sebab Gereja yang ada pada waktu itu masih berada di dalam era fondasi Gereja, sebab para rasul masih hidup pada waktu itu. Era Tuhan memberikan wahyu sebagai fondasi Gereja belum selesai. Sehingga Paulus berharap bisa saja di antara jemaat yang ada Tuhan memberikan wahyu dan nubuat kepadanya. Tetapi ketika era fondasi itu sudah selesai, kembali kepada firman Tuhan, saya dan semua orang yang lain, kita menerima panggilan ini: ajarlah dengan setia Injil ini; kabarkanlah dengan benar; peliharalah baik-baik Injil yang sudah diturunkan dan diwariskan oleh para rasul kepada setiap kita. Maka tidak boleh lagi, tiba-tiba ada orang di tahun ini tiba-tiba mengaku-ngaku dan menamakan dirinya rasul. Biar dia ngomong sudah naik turun surga neraka, biar dia ngomong malaikat sudah putar tujuh keliling di depan dia, saya tidak terima. Biar dia mengaku-ngaku dipanggil sama Tuhan sendiri, biar dia bilang punya sertifikatnya dari Tuhan diangkat jadi rasul, saya tidak terima. Kenapa? Karena puji Tuhan, ada Alkitab ini, yang memberi dengan jelas batasannya. Kalau tidak ada pernyataan seperti ini, kita akan bingung dan kacau. The foundation of the Church was built by the teaching of the prophets and the apostles. Pendeta-pendeta sekarang tidak boleh mengaku-ngaku punya jabatan rasul; bahkan yang eranya lebih dekat dengan Paulus, yaitu Timotius, sendiri tidak boleh mengaku-ngaku dirinya rasul. Maka inilah panggilan dan tuntutan bagi generasi selanjutnya setelah para rasul meninggal: ajarkanlah Injil yang sudah engkau terima dari aku, peliharalah harta bejana Injil yang sudah engkau terima dan ajarkanlah dengan setia. Mari kita lihat perbedaan status Paulus dan Timotius itu dari dua ayat yang bisa kita perbandingkan langsung, Filipi 1:1 dan Kolose 1:1. Kedua surat ini ditulis oleh Paulus kira-kira pada waktu yang sama saat ia berada di dalam penjara. Dalam Filipi 1:1 Paulus menulis “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus…” namun dalam Kolose 1:1 Paulus tidak bilang, “Dari Paulus dan Timotius, rasul-rasul Kristus Yesus,” tetapi dengan sangat jelas dan teliti Paulus menulis, “Dari Paulus, rasul Yesus Kristus, dan dari Timotius, saudara kita…” Soal kita ini sama-sama hamba Tuhan, sama-sama melayani Tuhan, Paulus dan Timotius sama sederajat. Namun dalam hal status panggilan Tuhan, sebagai seorang rasul, itu tidak diberikan kepada Timotius.

Maka kembali lagi, darimana kita bisa tahu ajaran seseorang atau satu Gereja itu setia atau tidak, yaitu apakah Injil yang dia beritakan adalah the Apostolic Gospel; apakah Alkitab yang dikabarkan adalah Alkitab yang diuraikan dari firman Tuhan ini. Ini yang dibaca, ini yang didengar, ini yang ditaati. Baru dari situ kita tahu apakah Gereja atau orang itu setia kepada Injil yang sejati. Sehingga kalau seseorang mulai berdiri di mimbar dan berkata, “Saya dapat wahyu yang baru, Allah berkata langsung kepadaku… dsb, dsb,” itu berbeda sekali dengan prinsip yang dikatakan Paulus kepada Timotius dalam bagian ini.

Dalam 2 Timotius 1:13-14 Paulus menulis, “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar daripadaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah yang telah dipercayakanNya kepada kita oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.” Dan dalam 2 Timotius 3:10 dan 14 kembali Paulus mengingatkan Timotius untuk memegang dan memelihara apa yang ia telah terima dan dengar dan mengajarkannya kepada orang lain. Maka seorang hamba Tuhan yang setia adalah hamba Tuhan yang menggali dengan sungguh dan memberitakan serta mengajarkan semua kebenaran firman Tuhan yang sudah kita terima. Itulah tugas dan panggilan kita.

Kepada hamba Tuhan yang malu dan minder ini Paulus kemudian memberikan pesan yang begitu indah di pasal 2, yang begitu penting dan perlu baginya, “Hai anakku, jadilah kuat…” Jadilah berani, berdirilah teguh di dalam Tuhan.

Kisah Gideon dalam Hakim-Hakim 7 menjadi satu kisah legenda yang boleh terus dipelajari oleh berbagai negara di dunia untuk membentuk satu pasukan khusus yang betul-betul kuat dan hati tidak pernah takut. Pada waktu itu Tuhan menyuruh Gideon berperang melawan orang Midian yang jumlahnya 135.000 orang. Di pihak Israel sendiri jumlah orang yang ada 32.000 orang saja. Dalam ilmu perang kalau dikalkulasi, pihak yang ingin menang secara offensif menyerang, 4 lawan 1. Tetapi kalau engkau di pihak yang 1 itu, sekuat-kuatnya paling hanya deffensif bertahan. Tetapi cara hitung matematika Tuhan berbeda dengan manusia. Jumlah bangsa Israel yang 32.000 dianggap terlalu banyak. Maka saringan yang pertama, Gideon bilang, “Siapa yang takut, boleh pulang!” Kalau itu klausalnya, siapa yang tinggal? Itu adalah kesempatan escape yang terbuka lebar-lebar. Kalau Gideon bilang, “Siapa yang umurnya dibawah 20 tahun boleh pulang…” Yang umurnya 21 tahun tidak bisa kabur. Kalau Gideon bilang, “Siapa yang baru menikah, boleh pulang…” Yang masih bujangan tidak bisa lari. Tetapi Gideon bilang, “Siapa yang takut…” Siapa yang tidak takut? Itu bagi saya satu saringan yang sangat besar sekali lubangnya. Dari 32.000 orang, pulang 22.000, sisa tinggal 10.000 orang. Dan saya percaya yang sisa ini adalah orang-orang yang sungguh sangat berani dan tidak goyah sedikitpun. Tetapi itupun masih dianggap terlalu banyak oleh Tuhan, sehingga Gideon harus saring lagi sampai tersisa 300 orang saja, yang betul-betul pemberani dan alert luar biasa.

Paulus sangat amazed dengan tentara. Berkali-kali dia menggunakan tentara sebagai ilustrasi dalam surat-suratnya. Saya percaya waktu dia berada di dalam penjara, dia melihat betapa disiplin para tentara menjaga dia walaupun dia bukan penjahat kriminal atau pembunuh yang bertubuh besar dan kuat. Paulus tidak mungkin bisa kabur dari selnya, tapi dia melihat tentara dengan penuh konsentrasi dan tidak lengah menjaga di depan selnya, tiga kali pergantian shift tiap delapan jam tanpa henti. Itu membuatnya kagum. Mereka adalah tentara-tentara yang dilatih tidak boleh bergeming dan tidak boleh mempunyai rasa takut sedikitpun. Maka kalimat Paulus, “Be strong…” dikaitkan dengan panggilannya kepada Timotius, jadilah seperti seorang tentara yang siap menderita bagi Tuhan. Ini adalah satu contoh spiritual yang indah. Jikalau dalam hal-hal yang bersifat lahiriah, hal-hal yang sepele, engkau bisa melihat tentara itu demikian disiplin dan waspada, fokus luar biasa, kita sebagai anak-anak Tuhan juga harus seperti itu. Ini bukan hanya panggilan bagi hamba-hamba Tuhan, tetapi bagi setiap anak-anak Tuhan, yaitu bagaimana hidup kita alert, bagaimana kita fokus, bagaimana kita tidak bergeming mengerjakan sesuatu dengan satu kesadaran, tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menyenangkan Tuhan. Ini fokus kita, seumur hidup kita tidak lain kita siap sedia dipakai Tuhan sampai matipun kita siap untuk Dia dan kita tidak bergeming dari situ.

Banyak hal di dalam hidup engkau dan saya, kekurangan kita hanya satu ini.

Masih ingat riset yang pernah saya ceritakan mengenai anak-anak di TK yang diuji kesabarannya dengan marshmallow? Tim penguji memberi satu marshmallow kepada setiap anak dan mengatakan mereka boleh makan marshmallow itu sekarang juga, tetapi kalau mereka mau tunggu sebentar untuk tidak memakannya, setelah ibu guru kembali ke kelas kira-kira beberapa menit, mereka akan mendapat satu marshmallow ekstra. Sebagian anak tidak mau tunggu, langsung memasukkan marshmallow itu ke mulutnya, sedangkan sebagian lagi dengan sabar menunggu sampai guru kembali, dan mendapat satu potong lagi. Setelah 15 tahun kemudian, tim riset mengumpulkan kembali anak-anak yang sudah menginjak usia pemuda itu, dan mereka mendapatkan anak-anak yang bisa bertahan menunggu sebentar tidak langsung memakan marshmallow-nya ternyata memiliki prestasi sekolah yang baik, lebih sabar dan lebih disiplin secara karakternya, lebih tinggi inteligensinya, lebih baik social skills-nya.

Kitab Pengkhotbah bilang, “Akhir lebih baik daripada awalnya…” (Pengkhotbah 7:8). Tidak masalah kapan kita baru memulai sesuatu, mungkin kita start dengan tidak memiliki banyak resources dan advantage dalam hidup. Itu tidak menjadi soal. Yang terpenting adalah how do we finish and accomplish sampai selesai. Kita mungkin tidak bersekolah di sekolah elite, kita mungkin bukan datang dari keluarga yang mampu, kita mungkin melakukan sesuatu dengan banyak kegagalan dan hambatan. Kita tidak perlu merasa kecewa, kuatir dan takut akan semua itu. Yang terpenting adalah apakah kita menyelesaikan dengan baik, menyelesaikannya dengan indah dan manis di dalam hidup kita? Itu adalah fokus, yang mungkin banyak kita kekurangan akan hal itu. Kita bukan kekurangan minat, kita bukan kekurangan beban untuk melakukan sesuatu yang baik, kita juga bukan kekurangan talenta dan bakat. Tetapi saya rasa yang menjadi kekurangan dan kelemahan kita adalah kita tidak sanggup menyelesaikan dengan tuntas dan baik, dengan sabar dan tahan akan setiap hal yang kita kerjakan di dalam hidup kita, dalam pekerjaan kita, dalam studi kita. We are lack of focus. Keinginan kita untuk bisa menyenangkan dan memuliakan Tuhan sampai akhir ada, tetapi konsistensi dan enduransi begitu kurang adanya. Itu sebab Paulus memberikan ilustrasi pertama ini: belajar menjadi seperti seorang tentara. Seorang tentara yang baik tidak memusingkan hal-hal lain. Apa yang menjadi assignment yang ditugaskan baginya, itu dia fokus dan selesaikan dengan baik. Ini menjadi fokus hidup kita, tidak mau menyenangkan hal-hal yang lain, kecuali menyenangkan Tuhan yang sudah memanggil kita.

Saya percaya ada hamba-hamba Tuhan yang mempunyai sikap hati seperti itu. Kita bisa menyaksikan hamba-hamba Tuhan yang membuat hati saya begitu terharu dan amazed melihat dedikasi mereka, kesungguhan mereka, mereka berdoa bergumul mencari keinginan Tuhan semata-mata. Kadang-kadang panggilan Tuhan membuat air mata keluar sebab mungkin tidak dimengerti oleh keluarga, tidak dimengerti oleh kekasih, tidak dimengerti oleh orang lain. Tetapi kita bersyukur panggilan Tuhan boleh kita responi dengan baik.

Seorang atlit akan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh mahkota menurut aturan olah raga. Pada waktu itu seorang atlit yang akan bertandingan di olimpiade harus latihan yang begitu berat selama 10 bulan. Kalau engkau menjadi seorang hamba Tuhan, ikuti peraturan mendisiplin diri menjadi seorang hamba Tuhan. Kalau engkau menjadi seorang dokter, seorang lawyer, apapun, sekolah bertahun-tahun sampai selesai. Menjadi hamba Tuhan juga seperti itu, bukan saja sekolah bertahun-tahun tetapi juga persiapan hati tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas pekerjaan dan studi. Jadi bertanding seturut dengan aturan itu menyangkut kesiapan hati untuk memang disiplin, untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita sebelum kita bisa dipakai oleh Tuhan. Paulus bilang panggilan ini kepada semua kita, bawa spirit sebagai seorang atlit. Kita tidak usah ‘ngoyo’ ingin mendapat satu jabatan tertentu dan tidak perlu iri dengan orang lain. Yang kasihan adalah orang yang ditaruh di satu jabatan tinggi tapi dia tidak punya kualifikasi untuk jabatan itu. Jatuhnya jauh lebih berat. Sdr bisa lihat orang yang cuma pandai ngomong lalu bisa jadi manager padahal tidak bisa mengerjakannya, maka yang terjadi, mau tidak mau dia tekak-tekuk kiri kanan, akhirnya cari orang yang bisa selesaikan tugas dia, lalu dia tinggal tanda tangan. Sdr marah dan jengkel. Tetapi jujur, orang yang tidak punya kualifikasi tapi duduk di kursi itu, it’s a matter of time dia jatuh dan lengser. Sebaliknya kalau sdr punya kualifikasi tetapi belum sampai di situ, it is a matter of time juga. Ini prinsip yang ktia pakai dan kita terapkan terus dalam hidup kita hari lepas hari.

Yang ketiga, jadilah seperti seorang petani. Dari jaman dulu hingga jaman sekarang tugas seorang petani tidak pernah gampang dan mudah. Lebih-lebih jaman dulu, belum ada mesin dan peralatan seperti sekarang. Tetapi ada proses yang tidak bisa dihindari oleh petani jaman dulu maupun petani jaman sekarang. Yang pertama, petani itu tidak bisa kehilangan waktu. Waktu itu begitu berharga dan precious. Ada banyak hal kita mungkin bisa menunda melakukan sesuatu, tetapi petani tidak bisa tunda waktu. Sdr bisa ulur-ulur bikin assignment sampai dekat deadline, sdr bisa kerjakan pagi, sdr bisa kerjakan malam hari. Petani tidak bisa pilih tanam benih malam hari karena bangun kesiangan. Itu bedanya. Banyak pekerjaan lain tidak terlalu berkaitan dengan berharganya waktu. Tetapi pekerjaan seorang petani tidak bisa kehilangan waktu, dia bekerja di dalam kaitan dengan waktu. Sedikit moment hilang, kesempatan hilang. Dia harus tanam pagi-pagi jam 4, dia harus bangun pagi jam 4. Dia tidak bisa tunda sampai jam 11 siang.

Yang kedua, tugas petani selalu constant melakukan aktifitas yang berulang-ulang. Tidak ada habis-habisnya dia harus menggali tanah, menggemburkan tanah, membajak dan memupuk, menanam benih, mencabut rumput liar, dst. Itu bukan sesuatu yang mudah. Ada waktunya panen, ada waktunya menyimpan, semua siklus itu dikerjakan dengan constant dan berulang-ulang.

Yang ketiga, seorang petani selalu siap menerima kekecewaan. Dia tidak bisa apa-apa kalau banjir datang; dia tidak bisa apa-apa kalau musim kering tiba. Dia bisa sedih dan menangis hama dan penyakit datang menyerang. Hati selalu siap menerima kekecewaan terhadap hal-hal yang seringkali tidak bisa dikontrol dan diprediksi.

Yang keempat, seorang petani harus sabar luar biasa. Dalam hidup kita dipanggil menjadi seperti petani, diperlukan kesabaran. Semua kegiatan yang dikerjakan oleh petani, dia menanti proses. Petani yang tidak sabaran lalu tarik-tarik benih yang masih kecil supaya lebih tinggi, pasti akan mati.

Yang kelima, petani bisa constant jemu dan akhirnya menjadi lemah dan kecewa. Maka puji Tuhan, di bagian ini Paulus menambahkan satu kalimat yang begitu indah, melayani sebagai petani, engkau akan menikmati hasilnya. Tidak selamanya susah dan sulit, tidak selamanya penuh dengan air mata. Maka ilustrasi ini indah. Itu sebab saya rindu ini menjadi kekuatan dan dorongan bagi setiap kita di dalam apapun yang engkau kerjakan dan lakukan dalam hidup ini.

Memulai sesuatu boleh terlambat, tetapi kita boleh mengakhirinya dengan kekuatan dan kesetiaan dari Tuhan. Akhir selalu lebih penting daripada awalnya, kata Pengkhotbah. Sudah mengambil langkah mengerjakan sesuatu, beranilah kerjakan berulang-ulang, sabar, konsisten, sampai kita bisa melihat hasilnya di dalam setiap apa yang engkau dan saya kerjakan.

Ini panggilan rasul Paulus kepada Timotius dan kepada setiap kita di dalam kita mencintai, mengasihi dan melayani Tuhan, hidup di dalam pekerjaan yang dipercayakan kepada kita. Jangan sampai kita kehilangan fokus, pada waktu kita melakukan banyak hal dalam hidup kita, kita tidak ingin mengerjakannya demi hanya untuk diri kita sendiri. Biar kita mau menjadi alat yang memuliakan Tuhan di dalam seumur hidup kita. Biar Tuhan menopang kita menjadi hambaNya yang setia, yang di dalam hidup kita orang boleh menyaksikan karakter kita, sukacita kita, hidup kita yang menjadi terang dan saksi, orang bisa melihat kita anak-anak Tuhan yang sungguh mencintai dan mengasihiNya.(kz)