08. Panggilan untuk menjadi Perabot yang Mulia

29/4/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (8)

Nats: 2 Timotius 2:20-26

 

Memang Surat 2 Timotius nampaknya diberikan dari pribadi Paulus yang sedang berbicara kepada Timotius mempersiapkan dia melayani dengan baik, namun tetap kita harus melihat surat 2 Timotius bukan hanya sebuah surat yang ditujukan secara pribadi yang tidak ada kaitannya dengan kita. Kenapa kita harus melihat surat ini di dalam perspektif yang lebih luas daripada sebuah surat pribadi? Karena dalam 2 Timotius 3:17 menjadikan sifat surat pastoral ini berubah menjadi surat general bagaimana Tuhan membentuk dan mempersiapkan bukan saja seorang Timotius, bukan saja seorang hamba Tuhan, tetapi setiap kita yang melayani, setiap orang Kristen, setiap orang percaya memiliki satu goal, kita itu menjadi ‘man of God’ di dalam hidup ini. “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Kita diproses oleh Tuhan, dibentuk oleh Tuhan, dipersiapkan oleh Tuhan supaya kita hidup di dalam dunia ini untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Jadi ayat ini tidak lagi bicara untuk satu pribadi, tetapi bicara kepada setiap pribadi yang ada di dalam Jemaat Tuhan. Maka berangkat dari fokus ayat ini kita melihat Surat 2 Timotius ditulis Paulus, seorang hamba Tuhan yang senior membentuk seorang hamba Tuhan yang junior seperti Timotius.

Dalam 2 Timotius 2:20-26 Paulus memberikan panggilan bagi setiap orang Kristen, panggilan untuk menjadi sebuah perabot yang mulia di hadapan Tuhan. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia…” (ayat 21).

Ada beberapa hal yang menarik dari bagian ini. Pertama, ayat 21 LAI menterjemahkan kata “pekerjaan yang mulia” sebenarnya kata ini persis sama dengan 2 Timotius 3:17 “ergon agathon” yaitu pekerjaan yang baik. Namun indahnya kita melihat Paulus mengatakan setelah kita menjadi ‘the vessels of honour” kita siap untuk melakukan pekerjaan yang baik. Kata “siap” menunjukkan keadaan di dalamnya ada proses pembentukan, karena memakai kata “siap” berarti ada fase “belum siap.”

Kedua, kalau kita kumpulkan semua kata “good works” yang dipakai oleh Paulus dari tiga Surat-surat Pastoral, 1 Timotius, 2 Timotius dan Surat Titus ini secara prosentasi lebih banyak pemakaiannya daripada surat-surat Paulus yang lain. Maka kita bisa menyimpulkan inilah yang menjadi fokus pikiran Paulus di dalam hari-hari terakhir hidupnya ketika menulis surat-surat ini, yaitu bagaimana saya meletakkan prinsip hidup yang penting sehingga setiap orang Kristen sadar what is good works itu; pekerjaan yang indah, yang agung dan mulia adanya. Kita keluar dari Gereja, kita pulang ke tempat kita masing-masing, hidup kita mengerjakan the worthy things, itu yang menjadi fokus pikiran Paulus. Yang kedua, di dalam bagian ini secara khusus Paulus juga membicarakan kaitan antara konsep good work dengan satu karakter ‘mulia’ atau honour, noble. Bagaimana hidup agung dan mulia itu berkaitan dengan pekerjaan baik itu? Bagaimana satu hidup menjadi agung, mulia, menjadi hormat dan respek itu berkaitan dengan apa yang dikerjakan seseorang selama hidupnya di dunia?

Dalam 2 Timotius 2 Paulus menggunakan 5 metafora yang memperlihatkan sifat yang penting bagaimana Tuhan membentuk seorang hamba Tuhan, membentuk kita di dalam pelayanan, memproses kita sampai siap melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik. Ayat 3, metafora pertama sebagai seorang prajurit. Apa hal yang terpenting dari seorang prajurit? Prajurit memiliki fokus dia mau membela negara, dia tidak menjadi prajurit supaya menjadi kaya. Hidup dengan fokus, apa yang mau engkau kerjakan dan lakukan, jangan bercabang hati. Ayat 5 metafora kedua, seorang olahragawan. Ini bicara mengenai preparation. Menjadi seorang hamba Tuhan tidak bisa terjadi begitu saja. Olahragawan yang akan bertanding di dalam olimpiade harus berlatih minimal 8 bulan dan ia harus berjanji untuk bertanding sesuai dengan rule yang benar. Metafora ketiga, ayat 6, menjadi seperti seorang petani yang konstan dengan kerja keras. Sebetulnya ketiga hal ini bisa dipakai di dalam segala aspek hidup ini, bukan? Sdr mau sekolah dimana, pilih jurusan apa, masuk di dalam bidang pekerjaan apa, semua ini memerlukan kualitas dan aspek-aspek tsb. Perusahaan meng-interview calon pegawai juga seperti itu, kenapa dia mau bekerja di sini; berarti dia sedang bertanya ‘what is your main focus?’ Apa kualifikasimu sehingga engkau merasa mampu bekerja di sini; berarti dia sedang bertanya mengenai preparation yang sudah dijalani. Prinsip ini berlaku dimana saja, dan Tuhan juga tidak mem-bypass ini di dalam membentuk seorang hamba Tuhan. Pemuda-pemudi yang hendak masuk ke Sekolah Teologi untuk menjadi seorang hamba Tuhan akan diperhadapkan dengan tiga hal ini: fokus, preparation, dan hidup pelayanan yang penuh kerja keras. Metafora keempat, ayat 15, seorang servant yang meng-handle carefully the word of God; di sini bicara mengenai kecakapan, bicara mengenai ketrampilan, firman Tuhan yang engkau layani dan khotbahkan di mimbar tidak boleh disampaikan dengan sembarangan. Handle it carefully. Baru yang terakhir metafora kelima menjadi konklusi, kehormatan dan respek itu bukan datang di depan tetapi datang di belakang. Orang yang fokus, orang yang siap dan telah melewati proses, orang yang rajin bekerja keras, orang yang menyampaikan firman dengan integritas, dengan sendirinya kehormatan itu datang kepadanya. Orang yang menjalani hidup dengan prinsip ini dengan sendirinya fokus dan dedikasi hidupmu kepada Tuhan, mempersiapkan dirimu dengan baik, bekerja dengan konsisten dan kerja keras, handle dengan segala ketrampilan dan kecakapan di dalam hidup, semua akan menghasilkan the vessel of honour, satu perabot yang mulia.

Maka orang yang masih muda, kalau menuntut minta dihormati dulu, itu bukan prinsip Alkitab. Bahkan prinsip seperti ini juga tidak berlaku di dalam dunia, dimanapun itu. Kita mau membesarkan diri, kalau memang tidak dibentuk oleh Tuhan menuju ke sana, tidak akan jadi. Tidak ada orang bisa direspek secara karbitan di dalam hidup ini. Semua memerlukan proses dan dibuktikan oleh perjalanan waktu. Maka dalam metafora kelima ini Paulus mengatakan, biarlah kita menjadi satu bejana yang mulia di hadapan Tuhan, to be useful to do honour things in your life.

Bagaimana menjadi seorang yang hormat; seorang yang mulia; seorang yang patut direspek; seorang yang memiliki martabat dignitas dan kehormatan di dalam hidup ini? Banyak orang Kristen ingin menjadi perabot yang mulia yang siap melakukan setiap pekerjaan baik, namun mari kita bertanya apa yang kita maksudkan dengan kata ini? Apakah menjadi perabot yang mulia berarti menjadi seorang pengkhotbah selebriti yang terkenal dan dipuja dan di sanjung orang? Apakah menjadi perabot mulia berarti menjadi seorang pendeta yang keliling dunia pergi ke mana saja disembah-sembah seperti seorang dewa? Apakah sukses menjadi perabot mulia berarti menjadi seorang pendeta yang menggembalakan sebuah mega church?  Saya percaya tidak dalam pengertian seperti itu. Jadi apa sebenarnya maksud Paulus secara konkrit bicara mengenai ‘good works’ itu? Apa yang termasuk kategori ‘good works’ itu sesungguhnya?

Saya percaya semua orang pasti tidak ingin waste hidupnya, tetapi ketika kita ingin hidup kita itu tidak waste, dalam pengertian apa kita tidak menyia-nyiakan hidup kita? Apakah dengan menjadi seorang yang sukses dan kaya, berarti itu tandanya kita tidak waste hidup kita? Apakah dengan membangun karir sampai berhasil menjadi seorang CEO di satu perusahaan berarti itu tandanya kita tidak waste hidup kita?

John piper mengatakan, “I will tell you what a tragedy is. I will show you how to waste your life. Ada suami isteri mengambil pensiun awal, suami berumur 59 tahun dan isterinya 51 tahun. Lalu mereka berdua menghabiskan sisa waktu dengan tinggal di tepi pantai bersantai dan mengumpulkan kulit kerang. Inikah hidup yang engkau mau? Waktu Yesus datang pada hari Penghakiman dan bertanya ‘what did you do with your life?’ Apakah engkau bilang, ‘Look, Lord, see my shells.’ That is a tragedy.” Saya percaya kita tidak mau waste hidup kita dengan cara seperti itu, bukan?

Hari ini Paulus bicara soal proses yang Tuhan beri kepada hidup kita dengan memberikan prinsip-prinsip yang penting yaitu you become the vessel of honour yang dipakai untuks setiap pekerjaan baik dan mulia adanya.

Apakah saya harus menjadi orang kaya, orang sukses, memegang jabatan yang penting di perusahaan, baru saya dikatakan ‘do good works’ sehingga seorang yang tidak pernah punya kesempatan menjadi orang kaya harta, tidak pernah punya kesempatan bersekolah di universitas terbaik di dunia, tidak pernah punya kesempatan bekerja mencapai jabatan tinggi, berarti saya tidak punya kesempatan melakukan ‘good works’ itu? How to make the most from the least opportunity you have in your life?

Martin Luther King Jr. pernah berkata, “If it falls your lot to be a street sweeper, sweep streets like Michelangelo painted pictures, sweep streets like Beethoven composed music, sweep streets like Shakespeare wrote poetry. Sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will have to pause and say: Here lived a great street sweeper who swept his job well.”

Maka penting sekali untuk mengerti apa sesungguhnya arti dari kata ‘good works’ yang Paulus maksudkan supaya kita tidak salah mengerti, sehingga kita tidak salah menghormati orang, salah mengerti apa itu hormat dan respek, dan juga salah memahami apa sebenarnya ‘good works’ yang indah itu adanya.

Seperti yang tadi saya katakan, kata ‘pekerjaan baik’ atau good works banyak muncul di dalam ketiga surat Pastoral Paulus. Maka pertama-tama mari kita melihat beberapa penggunaan kata ini sehingga kita akan memahami secara integral apa arti dari kata ini.

1 Timotius 2:10 “…hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik seperti layaknya seorang perempuan yang beribadah…” Paulus sedang berbicara soal kontras menjadi ibu rumah tangga kalau hanya sibuk mendandani diri tetapi tidak mendandani rumah tangganya dengan pekerjaan baik, kita tidak mengerti apa panggilan Tuhan kepada kita sebagai seorang ibu rumah tangga. Ini hal yang sederhana sekali, to do good works di dalam hidup rumah tangga kita.

1 Timotius 3:1 “Benarlah perkataan ini, ‘orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah’…” Ini bicara soal good works kaitannya dengan keinginan menjadi seorang hamba Tuhan; mau menyerahkan diri melayani Tuhan, itu sendiri sudah satu pekerjaan baik. Memang banyak orang mau seperti itu, tetapi apakah kita menjadi seorang penilik jemaat, majelis Gereja, pengurus dan hamba Tuhan yang mengerti konsep good work itu?

1 Timotius 5:10 “…yang didaftarkan sebagai janda… yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidupnya di dalam kesesakan…” Wanita-wanita janda itu disebutkan melakukan pekerjaan yang baik, yang respek dan agung, terbukti dalam hidupnya sehingga sudah saatnya mereka dibantu oleh Gereja. Mereka mengasuh anak, memberi tumpangan kepada orang, melayani orang lain, terutama mereka yang sedang dalam kesesakan, padahal mereka sendiri sebagai janda sendiri tidak kurang dari kesulitan setiap hari. Biar Gereja belajar menghargai orang-orang seperti ini. Mereka bukan seorang CEO, bukan orang kaya konglomerat, mereka hanya orang kecil dan sederhana. Pekerjaan baik yang Tuhan berikan bukan hanya untuk orang-orang besar dan agung menurut pikiran kita pergi memberitakan Injil berkelana keliling dunia; atau seorang yang berdiri di mimbar dengan khotbah yang menggelegar. Seorang ibu yang merawat rumah tangga dengan baik, itu adalah pekerjaan yang baik yang Tuhan mau ia kerjakan. Seorang janda yang membesarkan anak dan menolong orang lain, itu adalah pekerjaan yang baik yang Tuhan berikan untuk ia kerjakan.

1 Timotius 6:8 “Peringatkanlah agar orang-orang kaya itu berbuat baik, menjadi kaya di dalam kebajikan, suka memberi dan suka membagi…” Kaya di dalam kebajikan tidak perlu tunggu uangmu berlimpah di bank, tetapi waktu engkau rela share dan berbagi, Paulus katakan engkau sudah kaya di dalam kebajikan dan di dalam pekerjaan yang indah dan baik adanya.

Kemudian mari kita melihat beberapa ayat yang berkaitan dengan konsep “noble, mulia dan hormat” di dalam surat-surat Paulus ini. Bagaimana supaya kita bisa memberi hormat dengan sebenarnya kepada orang yang sepatutnya dan bagaimana kita juga menerima kehormatan yang sepatutnya kita terima? Salahlah kita jika kita tidak sepatutnya dihormati dan direspek, kita menerima hal itu. Salahlah kita jika orang yang sepatutnya kita hormati dan hargai namun kita kurang hormat dan respek kepadanya.

1 Timotius 5:17 “Penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar…” Di sini Paulus memberikan satu pembelajaran yang penting bagaimana konsep honors itu terjadi di dalam hidup kita bergereja, bagaimana menghargai elders dan mereka yang melayani dengan double honors. Bapa Gereja John Chrysostom menafsir bagian ini adalah mereka menerima dua hal yaitu respek dan financial support. Paulus mengutip dua ayat pada waktu mengatakan, “Janganlah memberangus mulut lembu yang sedang mengirik” (Ulangan 25:4) dan “Seorang pekerja patut mendapat upahnya…” (Lukas 10:7) dimana dia bicara soal support kepada hamba Tuhan dengan mengacu kepada prinsip Ulangan 25:4 yang dikatakan oleh Musa, sebagai prinsip yang harus dijalankan. Lembu yang sedang membajak tanahmu jangan ditutup mulutnya sehingga kalau sementara dia bekerja ada rumput muda di situ bisa dia makan. Lalu Paulus juga mengutip Lukas 10:7 perkataan dari Tuhan Yesus. Dua ayat ini menjadi dasar yang dipakai oleh Paulus menjadi penjabaran yang sangat lengkap bicara mengenai bagaimana memberikan honors secara finansial kepada mereka yang melayani di dalam Gereja. Dalam 1 Korintus 9:7-12a Paulus mendidik Jemaat untuk menghargai mereka yang melayani di dalam Gereja, tidak gampang dan tidak mudah adanya. Maka Paulus menegaskan apa yang dia katakan ini bukanlah pikiran manusia belaka. Pada waktu bicara mengenai hal ini Paulus ingin mengajar Jemaat untuk mengerti prinsip menghargai hamba-hamba Tuhan dan kita sebagai Gereja perlu memahami hal ini. Mau menjadi perabot yang mulia, itulah keinginan hamba Tuhan, itulah keinginan kita semua. Namun sekaligus kita bergereja, kita juga menginginkan memberi hormat kepada yang patut dihormati, membalas respek kepada orang yang patut direspek, memberikan kepada mereka yang sepatutnya menerima, menolak jika ada orang memberikan hormat yang tidak sepatutnya kita dapat. Itu semua prinsip yang penting.

Kita hidup di dalam dunia yang di banyak tempat tidak memperlakukan orang dengan adil. Engkau sudah kerja keras setengah mati, tetapi mungkin tidak dihormati seturut dengan salary dari pekerjaanmu. Kita hidup di dalam dunia yang sudah berdosa seperti itu. Tetapi saya percaya Gereja harus menjalankan dan melakukan konsep ‘honors’ yang sepatutnya dan semestinya supaya itu menjadi model setiap boss yang ada di Gereja juga melakukan respek yang semestinya kepada pegawai yang bekerja di perusahaannya. Tetapi kalau Gereja sendiri tidak menjadi model bagaimana memberi honors sepatutnya kepada mereka yang sungguh patut mendapat honors, saya rasa kita tidak menjadi model yang baik di dalam dunia ini bagi orang-orang Kristen. Dalam Yakobus 5:4 rasul Yakobus menegur orang-orang kaya jangan menahan upah pekerja yang telah bekerja dengan keras bagi mereka. Ini prinsip bukan hanya di Gereja tetapi menjadi prinsip yang harus kita pegang dimana saja kita berada. Kalau engkau menjadi perabot yang mulia, perabot seperti apa itu sesungguhnya?

1 Timotius 6:1-2 Paulus berbicara mengenai ordo dalam relationship antara budak dan tuan. Ia mengingatkan jangan sampai orang yang tidak percaya Tuhan menghujat dan menghina engkau sebab etika yang basic saja engkau tidak mengerti. Sebagai budak, engkau harus menghormati tuanmu sehingga orang luar tidak menganggap engkau tidak punya etika ini. Jangan karena engkau seorang budak atau karena sudah diperlakukan dengan kasar, engkau jadi benci kepada tuanmu. Hubungan budak dan tuan yang sama-sama orang percaya datang berbakti, di hadapan Tuhan mereka sama. Tetapi waktu pulang, waktu kita keluar Gereja, kita mempunyai pengertian ordo yang baik.

1 Timotius 5:1-2 Paulus memberikan dasar etika orang Kristen dalam relasi bergereja dan relasi di dalam melayani sama-sama. Paulus mengingatkan Timotius walaupun dia seorang pendeta harus dikasih pelajaran seperti itu. Kepada yang tua, hormati seperti orang tuamu sendiri. Yang tua berilah kesempatan kepada yang muda untuk berkembang dan maju; anak muda juga hormat dan respek belajar dari yang tuaBiar kita menjadi bejana yang mulia, yang honor, yang respek di dalam hidup kita sehingga di dunia ini tatkala orang melihat Gereja Tuhan bertindak, Gereja berlaku, anak-anak Tuhan bertingkah laku, dunia tidak akan menghina Tuhan sebab kita mengerjakannya di dalam kasih, di dalam sukacita, di dalam damai, di dalam kehormatan, di dalam segala kemurnian. Biar Tuhan memimpin hidup kerohanian setiap kita bukan sekedar di dalam pikiran tetapi nyata di dalam kelakuan dan tingkah laku kita seindah dan sebaik mungkin.(kz)