10. Panggilan, Ketaatan dan Kesetiaan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 5/5/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (10)

Nats: Keluaran 6:27 – 7:13

 

Dalam menapaki perjalanan hidup ini kita akui kadang kala betapa penuh hati kita dengan kekuatiran dan ketakutan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Kadang-kadang kita bangun pada pagi hari dengan susah dan sulit ketika kita ingat kita harus mengerjakan sesuatu yang rutin dan tidak melihat hasil yang baik daripadanya. Namun betapa lebih susah dan lebih sulit jika kita mengerjakan sesuatu dan kita tahu apa yang kita kerjakan itu pasti tidak akan berhasil.

Martin Luther pada waktu membaca bagian Keluaran 7 ini mencetuskan pertanyaan ini, apa gunanya Tuhan menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu dan jikalau yang dilakukan itu tidak akan pernah berhasil? Tuhan menyuruh Musa pergi menghadap Firaun dan menyampaikan apa yang Tuhan firmankan kepadanya tetapi Firaun tidak akan mendengarkan apa yang Tuhan katakan kepadanya. Bahkan Tuhan akan mengeraskan hati Firaun sehingga dia tidak akan pernah mendengar akan hal itu (Keluaran 7:3). Kita menemukan dalam bagian ini Musa kembali lagi menyatakan keberatannya kepada Tuhan melaksanakan tugas itu. Apa gunanya? Saya tidak pandai bicara, saya seorang yang berat lidah. Untuk apa saya mengerjaka hal ini? Tetapi nanti terjadi satu perubahan yang sangat penting sekali dicatat dalam Keluaran 7:6, dicatat berulang “Demikianlah diperbuat Musa dan Harun seperti yang diperintahkan Tuhan kepada mereka, demikianlah diperbuat mereka.” Di sini kita menemukan satu perubahan terjadi ketika Tuhan menyatakan siapa diriNya kepada Musa, ketika Tuhan menyatakan janjiNya untuk menyertai Musa dan memberikan firman kepadanya. Walaupun itu bukan tugas yang gampang, bahkan hampir boleh dikatakan tidak ada hasilnya, yang diperlukan di situ tidak lain dan tidak bukan melainkan ketaatan dan kesetiaan.

Tuhan tidak pernah janji kepada kita memberikan satu perjalanan yang indah dan mulus selamanya. Tetapi di tengah perjalanan itu, tugas dan panggilan kita hanya satu: ikut Tuhan dengan taat dan setia. Ketaatan berarti kita menaklukkan diri kepada otoritas Tuhan yang kita percaya tidak pernah bersalah di dalam firmanNya; kesetiaan berarti dari hari ke sehari kita akan menjalani dengan komitmen meskipun mungkin ke depan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Mungkin pada waktu setiap hari kita berdoa untuk papa mama dan orang-orang yang kita cintai yang masih belum mengenal Tuhan, kita perlu ketaatan dan kesetiaan mengerjakan hal itu. Di dalam kita bekerja, mungkin kita merasa lelah, susah dan sulit, tetapi kita perlu ketaatan dan kesetiaan karena melalui itu kita boleh menjadi terang dan saksi Tuhan meskipun kadang di dalamnya kita menghadapi kesulitan dan resiko. Pada waktu kita mengerjakan semua hal itu jangan sampai kita menjadi lemah dan putus asa, jangan merasa kita tidak bisa mengerjakannya. Kita percaya kepada Tuhan. Pada waktu Tuhan mengutus kita di dalam tugas pekerjaan dimana saja kita berada kita percaya ada kekuatan dan anugerah Tuhan disana.

Keluaran 7:7 lebih menarik lagi, kenapa Alkitab perlu mencatat umur Musa dan Harun di sini? Mereka bukan orang muda lagi. Musa sudah berumur 80 tahun, Harun 83 tahun. Ini menjadi suatu encouragement bagi kita, ketika kita sudah tua dan lanjut usia, biar ini menjadi doa dan harapan kita, menyaksikan bukan kemampuan dan kehebatan kita bisa merubah sesuatu, tetapi yang dituntut Tuhan dari kita adalah sanggupkah kita setia dan taat kepada Tuhan? Berarti bukan soal dia masih muda atau sudah tua, ketika Tuhan memanggil mereka, Tuhan pasti memberi kuasa dan karunia, tidak ada kaitan soal umur mereka. Karena itu tidak boleh ada orang yang berkata, saya sudah terlambat dan bukan saya lagi yang patut dipakai Tuhan. Secara fisik, mereka bukan anak muda yang gagah perkasa.

Kita perlu setia ikut Tuhan; kita perlu taat kepadaNya dalam segala hal yang kita kerjakan. Ini bukan panggilan hanya kepada mereka yang menjadi hamba Tuhan atau yang melayani Tuhan di ladangNya, tetapi ini adalah panggilan Tuhan kepada setiap anak-anakNya. Pada waktu Tuhan memanggil kita untuk mengerjakan sesuatu di dalam hidup kita, Tuhan melengkapi kita dengan karunia dan bakat yang kita perlukan di situ. Tuhan tidak pernah menuntut apa yang kita tidak punya dan Tuhan tidak memakai kita karena kita sanggup dan bisa, tetapi karena Ia akan melengkapi kita.

Rev. Kent Hughes dalam bukunya “Liberating Ministries from the Success Syndrome,” menceritakan di awal pelayanannya ia hampir saja meninggalkan pelayanan dan menjadi hamba Tuhan, sebab ia begitu confused dan kecewa akan kegagalannya. Tidak lama setelah lulus dari seminari, ia memulai satu pelayanan bersama 20 orang teman. Tetapi waktu berjalan, satu persatu mereka meninggalkan dia dan hanya tersisa 5 orang saja. Hughes menulis kalimat yang menarik, “Banyak orang yang melayani Tuhan tidak pernah bahagia di dalam hidup ini, sebab mereka merasa gagal di mata mereka sendiri. Kita sangat mengharapkan Tuhan memberkati apa yang kita kerjakan. Bagaimana saya bisa memberi seluruhnya dan terus berjalan jika saya tidak melihat hasilnya? Seandainya saya punya kharisma, punya kemampuan fasih bicara, punya personalitas yang besar, punya karakter yang bisa mengontrol orang, kalau saya bisa menjadi seorang pemimpin yang tanpa belas kasihan mengorbankan orang lain demi kesuksesan diri sendiri, saya pasti bisa menjadi orang yang sampai di puncak dan menjadi sukses. Tetapi mengapa sindrome sukses harus menjadi tolok ukur Tuhan memberkati kita?”

Pada waktu seseorang berada pada puncak kesuksesan oleh karena kemampuan dan kharismanya, seringkali mereka tidak sadar dan tidak melihat apa yang mereka capai itu ada kaitannya dengan Tuhan yang menjaga dan memelihara dan memberkati di situ. Sebaliknya di dalam keadaan tidak sukses, di tengah kegagalan dan kesulitan, betapa mudah kita mengatakan Tuhan tidak memberkati kita. Aku baru menjadi anak Tuhan, tetapi kenapa aku mendapat sakit yang berat? Aku baru memberi persembahan bagi pekerjaan Tuhan, kenapa aku dipecat? Aku baru saja giat melayani Tuhan, kenapa usahaku malah bangkrut? Semua itu mungkin membuat kita confused dan tidak mengerti, sebab kita mengharapkan karena hati dan motivasi kita cinta Tuhan dan tidak ada hal yang selfish dan negatif, tentu kita mengharapkan Tuhan setidaknya menghalangi segala yang tidak baik datang ke dalam hidup kita, dan kalau boleh membalaskan segala sacrifice yang sudah kulakukan bagi Dia. Pada waktu kita mau setia dan taat mengatakan hal yang benar, bersaksi dengan hidup kita seturut dengan Injil yang telah kita terima, belum tentu orang lain menghargai, bahkan mungkin orang akan mendepak kita.

Yesaya diutus kepada umat Tuhan yang juga tidak mau mendengar dan menerima firman Tuhan sama seperti Musa. Walaupun apa yang mereka kerjakan seolah tidak mendatangkan hasil, tetapi yang dituntut adalah ketaatan dan kesetiaan mengerjakan tugas yang Tuhan berikan dengan hormat dan takut kepada Tuhan. Pada waktu kita berhasil, lutut kita gemetar tersungkur di hadapan Tuhan karena kita tahu itu bukan karena kita sanggup dan bisa. Pada waktu kita berada dalam keadaan yang susah dan sulit dan Tuhan memberikan jalan keluar, di situ kita hanya bisa berkata kepada Tuhan, itu bukan karena saya.

Pada waktu kita berjalan di dalam hidup ini kita menghadapi perjuangan, tantangan kesulitan yang ada di depan, ingat di belakang semua itu kita harus tahu peperangan kita juga menghadapi kuasa-kuasa kegelapan yang ada. Dalam Efesus 6:10 Paulus mengingatkan kita, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Karena perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi kuasa kegelapan yang tidak kelihatan…”

Musa pergi menjumpai Firaun, itu bukan sekedar peperangan antara orang Israel dan pemerintah Mesir. Menarik sekali, dalam Keluaran 7:1 Tuhan memakai kalimat ini, “Aku akan mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun dan Harun akan menjadi nabimu…” Jelas tidak berarti Musa akan menjadi mahluk supranatural atau menjadi Allah, tetapi maksudnya Tuhan memberikan otoritas terhadap apa yang akan dikatakan dan disampaikan Musa kepada Firaun sebagaimana Tuhan sedang berbicara di situ. Ini merupakan sesuatu kekuatan yang penting bagi Musa sebab di situ berarti Tuhan menaruh kesejajaran Musa dengan Firaun, karena bagi Firaun dia adalah keturunan dewa. Di tanah Mesir, siapa Allah? Firaun. Maka Tuhan mengangkat posisi Musa dengan menjadikannya Allah. Di sinilah terjadi suatu peperangan, bukan antara Musa dengan Firaun sebagai individu terhadap individu yang lain, tetapi di baliknya kita bertemu dengan peperangan antara kuasa Allah yang sejati dengan illah-illah yang palsu di dalam dunia ini. Ketika Roh Kudus datang ingin bertahta di dalam hatimu, ada illah dalam hatimu yang pasti tidak akan mengijinkan dan melepaskan dengan sukarela Roh Kudus Allah bertahta di dalam hatimu. Jelas dan pasti Roh Kudus juga tidak mau berbagi tempat dengan illah-illah ini. Pada waktu Ia datang, Roh yang Kudus dan Suci itu pasti dengan kekuatan dan kuasanya menarik turun illah-illah yang bertahta di dalam hati kita supaya kita tahu pada waktu kita bersandar dan percaya kepada Tuhan kita tidak akan pernah lagi bersandar dan percaya kepada illah-illah itu.
Roh Kudus bisa mencabut kesombongan kita dan kepercayaan diri kita kepada kekuatan dan kesuksesan, dan saat itu Tuhan mungkin memberikan kita kegagalan. Ia mungkin akan mencabut financial security kita supaya di situ kita betul-betul tidak bersandar kepada illah itu di dalam hidup ini. Tuhan mungkin meletakkan penyakit di dalam hidup kita supaya kita tidak lagi bersandar kepada kekuatan fisik kita sebagai anak muda yang merasa sanggup bisa mengerjakan apa saja di dalam hidup ini. Bukan karena Tuhan tidak baik, bukan karena Tuhan ingin mencari-cari kesusahan bagimu, tetapi karena Ia ingin segala illah itu tidak lagi menjadi persandaran kita.

Firaun berdiri sebagai allah Mesir, maka Tuhan mengutus Musa sebagai Allah bagi Firaun, itu adalah peperangan Tuhan mana yang lebih besar. Pada mahkota Firaun ada figur ular kobra; maka waktu Tuhan menampakkan diri kepada Musa, banyak penafsir setuju tongkat Musa berubah menjadi ular kobra yang berukuran besar. Jenis ular apa mungkin kita tidak usah perdebatkan di sini, tetapi unsur teologis dibalik itu yang perlu kita mengerti. Firaun, yang engkau taruh pada mahkota di kepalamu, yang menjadi dewa sembahanmu, yang engkau pikir sanggup bisa menjaga dan memeliharamu dari bahaya, itu lebih rendah kuasanya daripada Tuhan. Itulah tipuan Iblis kepada manusia. Semakin manusia takut kepadanya, maka mereka akan menyembahnya. Setiap penyembahan berhala, setiap permainan dukun dan ilmu hitam sangat berbeda dengan penyembahan kita kepada Allah. Orang yang ikut Tuhan, orang yang takut akan Tuhan, tidak pernah Tuhan peralat dan dibikin takut. Kita takut akan Tuhan sebagai ekspresi kita mencintai dan mengasihi Tuhan dengan hati yang bersyukur dan penuh dengan kelimpahan. Hanya orang-orang yang menyembah kuasa kegelapan, kita menemukan hidup mereka dikuasai dan ditaklukkan oleh ketakutan mereka.

Siapa pernah pikir bahwa tukang-tukang sihir Mesir tidak bisa merubah tongkat menjadi ular? Mereka juga bisa. Ada penafsiran yang mengatakan bukannya tukang sihir itu merubah tongkat menjadi ular, tetapi sebetulnya mereka sudah menghipnotis ular asli dan membuatnya menjadi lurus kaku seperti tongkat. Kemungkinan itu bisa saja karena memang di daerah Timur Tengah orang yang disebut “snake charmer” bisa melakukan hal itu. Tetapi saya percaya tukang-tukang sihir ini memiliki kuasa gelap yang bisa saja melakukan hal seperti itu. Iblis punya kekuatan dan kuasa untuk melakukan hal-hal supranatural, kita tidak bisa abaikan hal itu. Maka bagian ini memberitahukan kita penyembahan berhala dan hal-hal yang ada di balik illah-illah palsu itu bukan sesuatu yang kosong, tetapi ada kekuatan dan kuasa di belakangnya. Namun ada beberapa hal yang menarik. Dikatakan tongkat mereka bukan menjadi satu ular saja, tetapi banyak ular. Tetapi ular Musa kuat luar biasa, semua ular-ular tukang sihir itu dimakannya.

Beberapa aspek penting yang kita belajar dari sini. Pertama, kuasa kegelapan memiliki kekuatan dan kuasa. Maka Paulus ingatkan Jemaat Korintus, jangan pikir engkau pergi ke kuil dan menganggap dewa-dewa itu tidak ada apa-apa. Tetapi jangan akhirnya itu membuatmu menjadi takut akan dia. Kalau engkau diundang makan daging bekas penyembahan berhala, makan saja karena kita tahu Allah kita lebih besar kuasanya daripada berhala. Tetapi kalau orang lain melihat itu adalah daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala, engkau tidak perlu makan, bukan karena takut tetapi karena kita tidak mau menjatuhkan iman orang Kristen yang masih lemah (band. 1 Korintus 8). Tetapi dengan dikalahkannya, maka kita tahu kuasa kegelapan itu tidak absolut. Alkitab mengatakan pada waktu kuasa kegelapan itu melakukan sesuatu yang merusak dan merugikan hidup kita, itu senantiasa di bawah ijin Tuhan. Tuhan tidak akan pernah mengijinkan Iblis mencobai lebih daripada kekuatan kita menanggungnya. Tetapi yang kita perlu waspada adalah Musa dan Harun merubah tongkat menjadi ular kobra, ahli-ahli sihir itu juga bisa membuat hal yang sama. Ini adalah counterfeit, pemalsuan. Ini adalah cara tipu muslihat yang tidak gampang dan tidak mudah kita kenali. Itu sebab sebagai anak-anak Tuhan biar kita selalu sadar dan selalu waspada, Tuhan selalu mengingatkan kita untuk hati-hati dan waspada terhadap segala tipuan si Jahat di dalam hidup kita.

Tuhan memberikan Musa begitu banyak mujizat menjadi bukti bahwa Tuhan menyertai hambaNya ini. Sama halnya Yesus Kristus melakukan begitu banyak mujizat menjadi bukti Ia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun kita mungkin tidak melihat terlalu banyak pekerjaan Tuhan yang ajaib terjadi di dalam hidup kita. Tetapi mujizat tidak terjadi di dalam hidup kita tidak berarti Tuhan itu tidak sanggup untuk mengerjakannya. Tetapi Tuhan merasa tidak perlu kita lihat lagi mujizat itu karena Tuhan sudah menyatakan mujizat yang jauh lebih besar dan jauh lebih indah yaitu kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Mereka yang buta dan disembuhkan, mereka yang lumpuh disembuhkan, bahkan yang sudah mati dan dibangkitkan oleh Yesus, suatu kali akan meninggal juga. Maut adalah musuh kita yang paling terakhir. Tuhan tidak lagi memberikan banyak mujizat dan kesembuhan terjadi di dalam hidup ini, tidak seperti yang dialami oleh anak-anak Tuhan di Alkitab, bukan berarti Tuhan tidak lagi mampu dan sanggup melakukannya. Tetapi Tuhan tidak perlu lagi melakukan semua itu sebab Ia sudah melakukan satu mujizat yang jauh lebih besar yaitu Yesus Kristus yang sudah bangkit dari kematian. Dalam 1 Korintus 15:54-57 Paulus memakai kata “maut telah ditelan oleh kemenangan…” memberikan kepada kita satu bayang-bayang secara konkrit apa yang telah terjadi pada waktu ular-ular tukang sihir Firaun ditelan oleh ular Musa. Kuasa itu tidak mungkin bisa mengalahkan kuasa Tuhan, tetapi kuasa kematian yang telah menguasai setiap umat manusia tidak mungkin bisa dilepaskan kecuali oleh Satu Orang yang pernah bangkit yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. Itulah sebabnya di dalam Dia kita memiliki kemenangan itu. Maut sudah ditelan oleh kemenangan kebangkitan Kristus. Oleh sebab itu mari kita melihat karya kematian di atas kayu salib dan kebangkitan Kristus itu memberikan kita kekuatan dan penghiburan karena Tuhan kita sudah menang. Walaupun di dalam menjalani hidup ini kita akan ditimpa oleh sakit penyakit dan kematian, tetapi kita tahu itu bukan akhir dari segala-galanya. Maut sudah ditelan oleh kemenangan Tuhan kita Yesus Kristus.

Tuhan mengingatkan kepada Musa adanya efek berganda dari firman yang engkau sampaikan sanggup bisa merubah hati orang menjadi lembut, tetapi juga sanggup bisa merubah hati orang menjadi lebih keras adanya. Siapa di antara kita yang pernah melihat mujizat jauh lebih banyak daripada Firaun? Tetapi mujizat-mujizat yang dia lihat tidak merubah hati Firaun melainkan dia mengeraskan hatinya.

Tuhan menyuruh Musa menyampaikan firman Tuhan kepada Firaun tetapi Firaun akan makin mengeraskan hati.  Dari situ menjadi satu warning bagi setiap kita bahwa firman Tuhan itu tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Firman Tuhan akan merubah hati orang dan membuat mereka sadar bahwa mereka perlu akan Tuhan dan bersandar kepadaNya. Tetapi mereka yang bersandar diri dan illah-illah diri pasti akan makin akan mengeraskan hati sehingga mereka tidak akan pernah melihat kebenaran Tuhan dan bertobat. Dari situ membuat kita selalu rendah hati pada waktu kita mendengar firman Tuhan dan digugahkan, kita tahu itu adalah anugerah Tuhan baik kepada kita. Biar firman Tuhan itu seturut yang Tuhan perintahkan, kita perbuat oleh hidup kita. Dengan syukur kita datang kepada Tuhan sebab kita tahu Ia adalah Allah yang patut kita hormati dan junjung tinggi karena Ia layak menerima segala puji dan syukur dan hormat adanya. Di tengah segala hal yang baik yang kita kerjakan, kita tahu itu datangnya dari Tuhan semata-mata. Di tengah segala pekerjaan kita yang tidak menghasilkan sesuatu pun di situ kita belajar tahan dan tekun sebab kita tahu kita bersandar kepada Tuhan yang baik dan yang tidak pernah bersalah adanya. Di dalam banyak hal yang kita alami di dalam hidup ini biar kita selalu dipimpin dan diberkati Tuhan. Tugas dan pekerjaan baik yang Tuhan berikan untuk kita kerjakan sampai hari ini, kita tidak ingin meletakkan kesuksesan yang kita telah capai itu karena kita; kita tidak ingin merebut kemuliaan yang sepatutnya Tuhan punya.(kz)