04. MUSA

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Tuhan berkata “Tidak” (4)

Ulangan 3:23-29, Bilangan 20:1-13

Pdt. Effendi Susanto STh.

19/12/2010

 

Ada bagian-bagian di dalam hidup kita seperti melukis di kanvas lukisan Cina. Yang dituntut di situ adalah kita hati-hati menarik stroke itu, sebab ada keputusan, ada tindakan, ada reaksi di dalam hidup kita mungkin tidak bisa diulang kembali di dalam hidup ini dan itu adalah coretan yang tidak bisa diperbaiki lagi. Salah membeli mobil, salah beli rumah, sdr mungkin masih bisa ganti dengan yang lain. Namun ada beberapa keputusan yang sifatnya ‘irreversible,’ seperti waktu sdr bermain catur, salah langkah tidak boleh seenaknya tarik mundur lagi.

Paling sederhana, adalah keputusan memilih pasangan hidup kita. Itu adalah satu keputusan yang sangat penting di dalam hidupmu. Tidak mungkin setelah beberapa waktu menikah kita rasa sudah salah pilih, lalu datang ke mertua untuk mengembalikannya, “Maaf, yang ini tidak cocok… tolong kasih ganti yang lain.” Dalam hal-hal tertentu di dalam hidupmu, engkau salah melangkah engkau tetap harus bagaimana memikirkan selanjutnya melakukan perjalanan dengan tetap langkah yang salah itu tidak bisa dihapus mundur kembali. Itu adalah ‘irreversible decision, irreversible reaction, irreversible things’ di dalam hidup sdr dan saya tidak mungkin bisa dibalik lagi.

Kisah yang kita baca hari ini, itulah bagian hidup Musa yang irreversible. Bagaimana perasaan Musa membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, itu adalah keinginan dia, itu adalah panggilan dia dari awal dan sudah hampir sampai ke tanah perjanjian, tinggal beberapa waktu dan tinggal sedikit saja jaraknya, terjadi sesuatu peristiwa di dalam hidupnya dan peristiwa itu begitu fatal baginya sebab hukuman Tuhan kepadanya adalah hal yang paling dia idamkan dan dia cita-citakan seumur hidupnya dan itu justru yang tidak bisa tercapai dan tergenapi.

Kalau kita membaca dengan teliti Ulangan 3:23-29 kita menemukan beberapa detail yang menarik, permohonan doa Musa bukan hanya satu kali tetapi berkali-kali Musa minta Tuhan balik kembali dari keputusan dia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Di ayat 23 Musa memakai kata “mohon.” Kedua, jarang-jarang nama lengkap Allah muncul disebutkan “Elohim Yahweh” sehingga ada penafsir mengatakan kalimat doa ini memperlihatkan betapa intimnya hubungan Musa dengan Tuhan, betapa dalam dia mengenal kebaikan Tuhan, tetapi betapa sedihnya hati dia yang punya hubungan paling dekat dengan Tuhan, tetapi Tuhan bilang, “Cukup! Tidak usah bicarakan lagi hal itu. Aku tidak mau dengar lagi, jangan doa lagi akan hal itu.”

Mari kita lihat konteks apa yang menjadi penyebab Tuhan begitu keras terhadap Musa, mengapa kesalahan Musa menghasilkan hukuman Tuhan tidak membawanya masuk ke tanah Kanaan.

Penyebab Musa bereaksi marah dan mengambil tindakan yang salah itu karena bangsa Israel sudah “kelewatan.” Setiap reaksi terjadi karena ada provokasi. Maka pertanyaan saya, wajarkah kalau Musa akhirnya bereaksi marah dan mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar? Wajarkah kita mengatakan orang Israel ini tidak tahu diri? Saya jujur katakan, wajar. Ada dua hal penting terjadi. Ke satu, di Bilangan.20:1 Alkitab mengatakan Miriam baru saja meninggal. Kalau mau lihat baik-baik, sangat besar kemungkinan Miriam punya hubungan yang sangat dekat dengan Musa. Kita pasti ingat kisah waktu Musa masih kecil, Miriam yang menemani dan melihat adiknya di dalam keranjang mengapung di sungai Nil sampai selamat di tangan puteri Firaun, saya percaya dia memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Musa. Sehingga tidak heran kita melihat waktu Musa mengambil seorang perempuan Kush menjadi isterinya, ada “jealousy” dari kakak perempuannya ini, Miriam tidak senang dan menjelek-jelekkan Musa (Bilangan 12:1). Sekarang Miriam meninggal dunia di Kadesy, di tempat itu, tidak bisa kita bayangkan berapa besar kesedihan Musa atas kejadian ini. Rakyat ini tidak tahu diri, rakyat ini tidak tahu terima kasih, rakyat ini tidak punya hati yang sedikit empati kepada pemimpinnya yang lagi sedang berduka. Wajar kita bilang rakyat ini tidak berguna, betul-betul tidak berperasaan. Mereka ribut soal air minum, soal sepele saja, mereka mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.

Dalam Mazmur 106:32-33 sdr akan bisa melihat jelas apa yang terjadi waktu itu. “Mereka memahitkan hatinya sehingga ia teledor dengan kata-katanya…” Terjemahan Inggris mengatakan “…so he spoke harsly to them.” Bangsa ini sudah memahitkan hati Musa. Seharusnya mereka simpati kepada orang yang sedang berduka; seharusnya mereka berdiam, itulah sopan santun kita sebagai masyarakat. Ini ada pemimpinmu lagi berduka, dan engkau hanya memikirkan tidak ada minum hari ini, itu yang saya bilang kelewatan dan tidak tahu diri. Kenapa tidak bisa sabar sedikit?

Kedua, orang-orang ini tidak tahu diri karena ini bukan kali pertama peristiwa seperti ini terjadi; ini bukan kali pertama Tuhan memberi mereka minum air keluar dari batu; ini bukan kali pertama Tuhan menyatakan mujizat dan kuasaNya melepaskan mereka dari kesulitan. Mengapa mereka tidak bisa sabar sedikit? Itu sebab pemazmur menyatakan fakta ini, “Mereka memahitkan hati Musa…” Itu adalah ‘boiling point’ hati Musa di tengah padang gurun yang memang sangat panas. Akhirnya Musa bereaksi begitu keras kepada mereka.

Alkitab mencatat Musa adalah orang yang paling lemah lembut hatinya, lebih daripada semua orang yang pernah ada di atas muka bumi (Bilangan 12:3). Tetapi sdr jangan lalu berpikir Musa gayanya seperti kewanita-wanitaan, “Aduh… mari sdr, kita pergi ke Sinai…” Tidak ada yang mau ikut dia. Bisa membawa dua juta orang keluar, pasti karakter seorang ‘Alpha male.’ Tetapi Tuhan menyebut dia seorang yang paling lemah lembut yang pernah ada di muka bumi ini kenapa? Sebab di situ kita menemukan bagaimana Tuhan memproses, merubah dan memakai seseorang yang memiliki kelemahan. Apa kelemahan dia? Musa adalah seorang yang gampang sekali mengeluarkan reaksi marah yang sangat berbahaya di dalam hidup dia. Jelas sekali, kemarahan dia begitu besar membuat dia membunuh orang Mesir waktu dia lihat orang itu memukul orang Yahudi yang lemah (Keluaran 2:11-12). Marah itu wajar, sebab dia melihat ketidak-adilan. Ada orang yang lemah, tidak sanggup membela dirinya dipukul, dia pasti marah dan membunuh orang Mesir karena ketidak-adilan yang dilihatnya itu. Tetapi bisakah kemarahan menyala-nyala karena melihat ketidak-adilan terjadi membenarkan dia membunuh orang itu? Toh akhirnya kita lihat karena reaksi tindakannya, Musa harus membayar 40 tahun melarikan diri ke padang belantara Midian sebelum akhirnya Tuhan memanggil dia. Karena cara Tuhan untuk menghadap Firaun tidak pakai senjata tetapi pakai tongkat. Keluaran 11:8b “Lalu Musa meninggalkan Firaun dengan marah yang menyala-nyala…” Ini marah yang tidak perlu muncul karena kebodohan dan kedegilan orang. Tuhan ‘kan sudah bilang orang itu memang ‘dableg,’ dia pasti tidak akan mendengarkan firman Tuhan. Orang itu memang degil, dia tidak akan melepaskan bangsa Israel dengan begitu saja. Tuhan suruh kasih firman untuk memperingatkan dia tetapi Tuhan sudah bilang kepada Musa, Firaun akan mengeraskan hati dan tidak mendengarkan peringatan itu. Tetapi penolakan Firaun tidak perlu membuat Musa menjadi marah. Itu urusan Tuhan dengan Firaun. Tetapi di sini Tuhan minta Musa sendiri catat celah-celah Musa memiliki sifat seperti ini. Ketiga, dalam Keluaran 32:19 waktu Musa melihat bangsa Israel menyembah lembu emas, “…maka bangkitlah amarah Musa, dilemparkannyalah dua loh batu itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu.” Kemarahan ini adalah kemarahan yang suci sebab kemarahan ini bereaksi kepada dosa dan tindakan penyembahan berhala bangsa Israel. Tetapi kemarahan yang suci ini jangan sampai akhirnya disertai dengan satu tindakan yang merugikan dan merusak hal yang bernilai dan berharga yang ada di tanganmu. Apa yang bernilai dan berharga di tangan dia? Loh batu yang dibuat oleh Tuhan dan ditulis oleh Tuhan sendiri itu. Dan Keluaran 34 memberitahukan kepada kita meskipun Tuhan tidak menegur Musa atas tindakannya itu, dengan cara Tuhan menyuruh dia memahat sendiri batu yang baru berarti Tuhan tidak setuju Musa memecahkan loh batu itu. Dan kali ini Tuhan tidak mau lagi menulis sepuluh hukum di situ melainkan Musa disuruh menulisnya sendiri. Loh batu itu adalah barang yang paling berharga. Loh batu bertulis sepuluh hukum dari tangan Tuhan sendiri, itu merupakan harta peninggalan dunia yang tidak ternilai dibanding dengan apapun.

Terracota, lukisan Monalisa, ada berbagai benda di dunia yang sudah termasuk kategori “priceless,” karena memang tidak ternilai harganya. Bayangkan kalau sampai sekarang loh batu yang asli ditulis Tuhan masih ada. Sayang sekali sudah pecah. Musa boleh bereaksi terhadap dosa dan kejahatan orang Israel, tetapi di belakang reaksi itu menyebabkan dia membuang dan melepaskan ‘something good in his life.’ Tetapi itu kita manusia, bukan? Jangankan kita, Musa yang Tuhan sebut sebagai orang yang paling lemah lembut bisa jatuh. Kita manusia berdosa, kita punya kelemahan, tetapi Tuhan mengajarkan kepada kita melalui firman Tuhan ini: hati-hati dengan sisi-sisi yang begitu lemah di dalam hidupmu, yang jangan sampai melalui sisi itu kita mengambil keputusan di dalam hidup, kita bertindak, kita bereaksi sebagai sesuatu kefatalan yang tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Ada titik-titik tertentu dimana kita belajar berhenti di situ.

Itu sebab tidak heran mengapa Paulus mengingatkan kalimat pendidikan yang bagus sekali kepada para ayah, waktu engkau marah kepada anakmu, hati-hati jangan sampai engkau hancurkan spiritnya (Kolose 3:21). Paulus tidak bilang kita tidak boleh marah sama anak kita ; Paulus tidak bilang orang tua tidak boleh mendisiplin anak; Paulus tidak bilang orang tua tidak boleh tegur anak dengan kalimat yang tegas, keras dan berat. Tetapi hati-hati membedakan garis teguran kasih yang merubah dia dengan teguran amarah yang menghancurkan spirit dia. Musa boleh marah karena ketidak-adilan. Musa boleh marah oleh sebab dosa bangsa Israel. Tetapi Musa tidak boleh karena alasan itu menyebabkan dia melakukan sesuatu yang destruktif dan merugikan.

Sekarang, kita lihat peristiwa kemarahan Musa di Meriba-Kadesh. Itulah kemarahan yang fatal, yang membuat Tuhan menegur dia dan konsekuensinya adalah Musa tidak boleh masuk ke tanah Kanaan. Kita coba membandingkan beberapa hal berkaitan dengan peristiwa ini. Pertama, Ulangan 3:26 memperlihatkan ‘very close intention’ dari para penafsir, kalimatnya demikian, “…tetapi murka Tuhan terhadap aku oleh karena kamu…” Because of YOU, hai orang Israel, ini keluar dari mulut Musa. Kedua, Mazmur 106:33, ini yang tulis orang lain, “Mereka memahitkan hatinya sehingga Musa teledor dengan kata-katanya…” Penulis mencatat fakta situasi konteks dua-dua pihak sudah salah. Pihak orang Israel yang sudah menyakitkan hati Musa dan pihak Musa yang bereaksi mengeluarkan kata-kata yang kasar kepada mereka. Itu pengamatan dari penulis mazmur terhadap fakta ini. Ketiga, dalam Ulangan 32:51 apa yang Tuhan sendiri katakan mengenai hal ini? “Oleh karena kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin dan oleh sebab engkau…” Tuhan bilang kepada Musa, because of you… Moses.

Apakah hukuman Tuhan terhadap Musa terlalu keras? Kenapa hukuman itu jatuh kepada hal yang paling Musa kepingin dalam hidupnya? Itu cita-cita dia, keinginan dia, masuk ke tanah perjanjian Tuhan… so close yet so far, dan Tuhan hancurkan cita-cita dan keinginan itu. Apakah itu bukan hukuman yang terlalu keras bagi Musa? Kenapa Tuhan tidak kasih dia kena sakit kusta saja, biar satu minggu dia menderita akibat kesalahannya itu? Atau Tuhan kasih hukuman yang lainlah. Tetapi mengapa Tuhan justru mengambil yang paling Musa mau, tidak boleh masuk ke tanah perjanjian itu?

Musa meratap, Musa memohon, “I beseech You o, Lord Yahweh… saya mohon… please, let me see that good land… o Lord Yahweh…” Dia berlutut, dia menangis, dia memohon.

Musa mempunyai hubungan yang begitu intim dengan Tuhan. Bahkan Tuhan berkata ‘tidak’ kepada dia, tetap tidak merubah hubungan yang begitu dekat dengan Tuhan. Berapa banyak orang Kristen, waktu Tuhan bilang ‘tidak,’ langsung kecewa dan lari dari Tuhan? Engkaukah itu? Pernahkah engkau duduk di kakiNya, meratap, memohon, meminta dengan keintiman kedekatan seperti Musa ini? Tuhan bilang ‘tidak,’ pun tidak merubah hati Musa datang, datang dan dekat kepada Tuhan. Kenapa Tuhan tidak cabut hukumanNya? Sekarang kita bisa pahami konteksnya, bukan? Because of Moses’ rampant rage,’ karena kemarahan dia yang tidak bisa terkontrol di dalam dirinya, lepas dari kondisi dia memang cape dan sedang berduka berkabung. Tetapi di tengah-tengah konteks seperti ini, mudah kita mempersalahkan orang lain terhadap tanggung jawab engkau dan saya untuk belajar tahan diri, jangan sampai kita meledak melakukan kesalahan yang fatal. Tuhan tahu mereka provokasi, Tuhan tahu mereka kurang ajar, Tuhan tahu merekalah yang membuatmu menjadi marah. Tetapi tetap Musa bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri. Karena kemarahannya telah melakukan dua hal, yaitu “engkau melanggar kesucianKu dan engkau berubah setia kepadaKu.” Inilah dua sebab hukuman Tuhan kepada Musa. Sebab ini penting berhubungan dengan nama tempat peristiwa itu terjadi. Sdr tahu, tempat pertama bangsa Israel bertengkar dengan Tuhan karena tidak ada air adalah di Meriba-Masa. “Meriba” artinya ‘they quarelled with God.’ Peristiwa Meriba pertama ini jelas yang salah adalah orang Israel, maka namanya Meriba Masa, “Masa” artinya mereka mencobai Tuhan. Peristiwa yang kedua ini terjadi di Meriba-Kadesh. “Kadesh” berkaitan dengan ‘qadosh,’ kesucian dan kemuliaan Tuhan. Berarti yang terjadi di sini adalah memang mereka bertengkar, memang mereka mencobai Tuhan, tetapi sekaligus ada satu kesalahan dosa yang jauh lebih besar dan itu dilakukan oleh hambaNya di depan publik: melanggar kesucian Tuhan. Penghinaan terhadap kesucian Tuhan itu dilakukan Musa di depan publik. Itu sebab Tuhan yang adil dan suci itu sekalipun Musa begitu dekat dan intim dan adalah seorang pemimpin, Tuhan bilang ‘TIDAK.’

Dimana letak persoalan sampai disebut Musa melanggar kesucian Tuhan? Bilangan 20:7-11 Tuhan menyuruh Musa di depan seluruh bangsa Israel untuk mengatakan kepada batu itu untuk mengeluarkan air. Di dalam surat Korintus, Paulus menyebutkan batu itu sebagai simbol dari Yesus Kristus (1 Korintus 10:4). Batu itu bukan batu sembarangan. Batu itu menjadi simbol kehadiran Tuhan. Itu sebab dengan memukul batu itu dua kali menunjukkan Musa dengan kemarahan yang tidak terkontrol, memukul berarti Musa menghina simbol kehadiran Tuhan. Ini adalah point yang paling penting. Jangan sampai di dalam tindakan kesalahan kita, kita menajiskan nama Tuhan, kita menghina kesucian Tuhan di depan publik. Sebagai hamba Tuhan di dalam pelayanan kita pun harus belajar melayani Tuhan dengan selalu memperhatikan hal ini.

Bilangan 20:10 Musa mengeluarkan kalimat, “…kamikah yang harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Kenapa sampai Harun juga kena hukuman yang sama dengan Musa? Kasihan sekali Harun, padahal Musa yang bicara dan melakukan tindakan itu. Kenapa Harun juga kena hukuman Tuhan? Saya lebih cenderung menafsir Harun juga kena hukuman Tuhan karena Harun sudah terlalu lama bertindak sebagai seorang pemimpin yang tidak belajar untuk mencegah dan menghalangi sesuatu yang salah. Dalam peristiwa bangsa Israel membuat lembu emas, Harun pakai alasan, “…mereka memaksa aku.” Maka dalam peristiwa Meriba-Kadesh ini Harun juga kena hukuman Tuhan karena Harun adalah seorang yang tidak mengingatkan Musa sebagai pemimpin untuk berhati-hati dengan kalimat dan tindakannya.

Itu sebab ini menjadi point yang penting juga bagi ngkau dan saya belajar menjadi seorang Kristen yang proaktif di tengah-tengah saudara-saudara kita, teman yang kita kasihi, waktu mereka mungkin berjalan salah, kita belajar untuk menegur dan mengingatkan dia kembali kepada Tuhan.

Jangan biarkan tindakan kita, perbuatan kita yang salah itu kemudian kita anggap kita tidak 100% bertanggung jawab di dalam hidup kita. Belajar menjadi orang Kristen yang tidak menjatuhkan dan mempersalahkan orang lain di dalam tindakan dan reaksi yang kita ambil. Mari kita berhenti dari setiap excuses yang keluar dari mulut kita. Sampai terakhir Musa masih bilang orang Israel, ‘because of you’ saya mengerti karena Musa begitu mau, begitu kepingin, dia doa sambil menangis meratap tetapi Tuhan bilang, “No. You tidak boleh masuk tanah itu… It is because of you.”

Belajar menerima apa yang salah merupakan langkah yang paling penting di dalam hidup kita melakukan apa yang benar dan baik selanjutnya. Tetapi meminta yang sudah lewat itu dihapus dari hidup kita, tidak bisa. Namun tidak berarti di dalam langkah yang salah itu tidak ada anugerah Tuhan yang indah. Coba kita bayangkan kalau sewaktu Musa pukul batu itu, air tidak keluar. Tuhan tidak mempermalukan hambaNya. Tuhan tidak berkenan kepada tindakan Musa, tetapi tetap Tuhan pakai hambaNya demi supaya anugerah datang.

Kadang-kadang begitu juga di dalam hidup kita. Kita dipakaiNya tetapi mungkin Tuhan tidak berkenan. Itu adalah hal yang menyedihkan. Jauh lebih penting kita dipakai Tuhan dan berkenan kepada Tuhan. Di dalam hal yang salah Tuhan kadang-kadang menyatakan satu berkat, tetapi tidak berarti Tuhan memberkati kesalahan itu. Di dalam kesalahan Musa tetap Tuhan memberi anugerah. Ini menjadi keindahan luar biasa. Kenapa setelah ditegur oleh orang Kristen yang lain lalu akhirnya hubunganmu menjadi dingin dengan dia? Mengapa kata-kata yang begitu baik memperbaiki sdr membuatmu menjadi marah, excuses terhadap segala tindakanmu dan akhirnya menjadi tidak suka sama orang itu. Itulah kita manusia.

Tetapi Tuhan bilang ‘tidak,’ tidak merubah relasi Tuhan tetap dekat dengan Musa. Di dalam teguran Tuhan ada kasih yang memperbaiki. Di dalam kasih Tuhan kepadamu, ada koreksi kepadamu sebagai anakNya. Itulah Tuhan. Jangan kita lihat di sini betapa kejamnya Tuhan memutus habis pengharapan seseorang. Tetapi lihatlah Tuhan sedang berdiri menjadi Tuhan yang memang harus diper-Tuhan-kan di dalam hidup kita, yang mendidik kita supaya mencintai, menghormati dan menempatkan Dia sebagai Tuhan di dalam hidup engkau dan saya.(kz)