22. Moment yang Merubah Hidup

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 18/8/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (22)

Nats: Keluaran 18:1-27

 

Kita sebagai anak Tuhan selalu harus menghargai moment di dalam hidup kita, kesempatan yang mungkin hanya datang sebentar dan tidak pernah berulang lagi. Kita dipanggil untuk peka akan hal seperti ini. Pada waktu kita bertemu dengan orang, pada waktu kita hadir di satu tempat, mungkin kita hanya berlibur, mungkin itu di tengah jalan, mungkin orang itu tidak pernah kita kenal, kita tanya kepada Tuhan, apakah ini menjadi moment yang patut dan perlu dan penting bagiku? Adakah kita memakai moment-moment seperti itu sebagai moment yang berharga dan tidak boleh lalu begitu saja di dalam hidup kita tanpa memperkenalkan Tuhan kita? Saya percaya begitu banyak Tuhan sudah bekerja dan berkarya di dalam hidup kita. Kalau ada waktu dan kesempatan kita bertemu dengan orang, biar orang boleh melihat dan mengetahui bagaimana karya keselamatan Kristus telah merubah hidup kita.

Di situlah kepekaan ini muncul pada diri Musa dan Yitro dalam Keluaran 18 ini. Satu moment yang singkat, kesempatan yang tidak banyak, Yitro bertemu dengan Musa. Tetapi justru moment itu mereformasi dan transformasi yang merubah Yitro dan merubah Musa.

Keluaran 18:1 mengintroduksi siapa Yitro itu, mertua Musa dengan sebutan “imam di Midian.” Lalu ayat 27 ditutup dengan kalimat “…kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya.” Entah berapa lama Yitro datang berkunjung, satu minggu, dua minggu, dia hanya tinggal sementara di situ. Tetapi kita bisa melihat bagaimana moment yang sementara itu dipakai oleh Musa untuk memberitahukan betapa agungnya Tuhan yang kita sembah, betapa ajaibnya segala perbuatan Tuhan yang sudah merubah hidup kita. “Imam Midian,” itu berarti Yitro adalah seorang pemimpin agama lain. Pada waktu Musa lari dari Mesir, pergi dan tinggal di Midian, dan mendapatkan isteri di situ, yang adalah anak dari Yitro, imam di Midian ini, Yitro jelas tahu Musa ini seorang pemuda asing yang telah menolong anak-anaknya, adalah seorang yang berkarakter agung dan mulia. Alkitab mencatat Musa tidak menyunatkan anaknya (band. Keluaran 4:24-26). Dari situ kita tahu ada konflik yang terjadi antara iman Musa yang percaya kepada Tuhan di tengah keluarga dan mertuanya yang masih belum mengenal siapa Tuhan yang disembah oleh Musa. Mungkin setidaknya ada respek, ada perasaan masing-masing memegang agamanya sendiri-sendiri dan tidak mengangkat hal itu menjadi isu yang perlu dibicarakan. Sampai kemudian panggilan Tuhan datang kepada Musa untuk pergi ke Mesir memimpin bangsa Israel keluar dari sana. Tetapi di tengah jalan Tuhan marah dan menuntut Musa untuk berdiri sebagai seorang pemimpin yang bukan saja sanggup memimpin bangsa Israel, tetapi pertama-tama sanggup memimpin keluarganya setia dan taat kepada Tuhan. Maka yang pertama, anak-anaknya disunat. Dari situ baru kita tahu bahwa selama ini Musa hidup bersama mertuanya Yitro, mungkin ada konflik dan kesulitan seperti itu.

Hari itu Yitro, imam orang Midian itu datang, dan di situlah moment dimana Musa men-sharing-kan iman dia, kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 8). Dan kita bersyukur dan puji Tuhan, Alkitab mencatat respons Yitro setelah mendengar hal itu, “Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan yang dilakukan Tuhan kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir…” Tidak ada sukacita lain dari seorang yang sudah tua dan lanjut umur seperti dia, selain sukacita bertemu dengan Tuhan yang sejati. Lalu kemudian terjadi satu pengakuan, confession seorang imam Midian, keluar dari mulutnya, “Terpujilah Tuhan… sekarang aku tahu bahwa Tuhan lebih besar daripada segala allah…” (Keluaran 18:10-11). Tidak ada allah lain yang lebih besar daripada Yahweh, Allah kita. Allah itu hidup, Ia Allah seluruh alam semesta, Ia bukan Allah teritorial, seperti kepercayaan konsep umum waktu itu. Setiap bangsa, setiap suku bangsa, setiap tempat, mempunyai dewa sendiri-sendiri. Tetapi ketika bangsa Israel tinggal di Mesir, Tuhan menyatakan diriNya sebagai Allah yang berkuasa bukan hanya bagi orang Israel, Allah menyatakan diriNya jauh lebih berkuasa daripada dewa-dewa sembahan orang Mesir. Selama perjalanan di padang gurun, itu wilayah yang lain, itu wilayah orang Midian, namun tetap Allah itu hadir dan berdaulat di situ menyatakan kuasaNya. Ia memberikan manna dari langit menjadi roti yang mengenyangkan umatNya; Ia memberikan air dari batu karang memuaskan dahaga mereka. Melihat semua karya Tuhan itu, keluarlah pengakuan dari mulut Yitro, “Inilah Allah yang lebih besar daripada segala allah!” Keluaran 18:12 memperlihatkan satu perubahan besar terjadi di dalam hidupnya, setelah Yitro mengaku Allah itu lebih besar daripada segala allah, dia mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan bagi Allah. Peristiwa itu boleh kita katakan sebagai dedikasi diri di hadapan publik dia menyatakan iman percaya kepada Tuhan dan dengan mengaku percaya Tuhan, yang dalam konteks kita sekarang itu adalah seperti orang yang menerima baptisan lalu memberikan persembahan. Hari itu, moment yang singkat itu, merubah hidup seorang pemimpin agama lain menjadi percaya Tuhan. Setelah moment itu, Yitro di Keluaran 18:27 tidak lagi memakai embel-embel “imam orang Midian,” Yitro pulang, dia bukan lagi menjadi imam agama lain. Dia sekarang beriman dan percaya kepada Tuhan. Ada saatnya moment kesempatan Tuhan datang menyentuh hati kita, membukakan pikiran kita, membawa kita boleh mengenal siapa Dia. Saat itu adalah satu moment yang betapa indah dan berharga dalam hidup kita.

Tetapi pada saat yang sama, ini moment yang penting bukan saja bagi Yitro tetapi juga bagi Musa. Musa seorang pemimpin yang berhasil, seorang yang sukses dalam hidupnya, perjumpaan dengan Yitro juga merubah Musa, mendatangkan satu perombakan struktur hidupnya karena ada hal yang lebih baik, lebih efektif, lebih maksimal, daripada yang telah dia kerjakan. Perubahan itu hanya bisa terjadi ketika seseorang yang sudah berhasil dan sukses masih mendengarkan nasehat dan berani untuk melakukan perubahan di dalam hidup ini.

Keluaran 18:13 menceritakan pagi-pagi benar Musa sebagai pemimpin sudah duduk di kursi mengadili berbagai orang yang datang dengan membawa berbagai persoalan mereka. Maka dua hal muncul yaitu bagaimana Musa harus menyelesaikan konflik di antara mereka dan memberikan keadilan kepada yang dirugikan. Mengurus konflik itu tidak akan pernah habis-habis. Bangun pagi saja orang-orang itu sudah berbaris mau mengadukan masalahnya sampai hari gelap. Bayangkan persoalan seperti itu kapan bisa selesai? Maka waktu Yitro melihat hal itu, dia geleng-geleng kepala. “Tidak baik seperti yang kau lakukan itu…” (ayat 17). Tidak ada orang yang meragukan motivasi Musa ingin menolong orang lain, tidak ada orang yang meragukan sacrifice Musa dari pagi sampai petang seperti itu, tetapi sesudah cape seperti itu, malam-malam pulang bukan apresiasi yang dia dapatkan tetapi kritikan seperti itu. Mungkin kita bilang Musa tidak berani bantah karena yang kritik mertua sendiri. Tapi bukan itu saya pikir, melainkan yang paling penting adalah kita bisa belajar point yang luar biasa bagaimana respons Musa terhadap hal itu. Mudah kita bereaksi negatif terhadap kritikan. ‘Siapa Yitro? Tahu apa dia urusan bergereja dan pelayanan? Baru juga datang satu hari, sudah mau ikut-ikut ngatur?’ Tetapi saya percaya Yitro tidak punya maksud hati seperti itu. Dia melihat dan mengamati. Yang lain tidak bisa melihat seperti dia karena mereka adalah bagian dari sistem yang sudah berjalan itu. Maka Yitro berkata, “Tidak baik yang engkau lakukan ini, tidak baik bagimu dan tidak baik juga bagi mereka. Kalau engkau mau mendengar perkataan dan nasehatku… ” Dari situ kita dapat membedakan apa yangmenjadi nasehat, kritikan, masukan yang datang dari teman yang punya maksud baik demi untuk memperbaiki hidup kita, dan mana kritikan atau masukan yang diberikan dengan maksud menjatuhkan kita. Nasehat yang baik akan menjadikan kita lebih baik, lebih indah dan lebih maksimal dalam hidup kita. Itu nasehat yang patut kita dengar baik-baik, meskipun itu bukan pujian atau bahkan tidak enak didengar telinga, itu tidak menjadi masalah.

Apa yang kita belajar dari hal ini? Pertama, ada visi di situ, ada yang dilihat. Apa yang dilihat oleh Yitro? Yitro melihat sesuatu yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan. Kita bersyukur kepada Tuhan, kadang-kadang hal seperti itu mendesak kita, mengarahkan hidup kita untuk berani melakukan perombakan, perubahan, transformasi, reformasi di dalam hidup kita. Mungkin itu keberanian untuk mengganti pekerjaan yang 180 derajat berbeda dari ekspertise talentamu, tetapi engkau melihat ke depan ini adalah moment dan kesempatan. Keberanian untuk melangkah ke dalam satu wilayah teritori yang mungkin belum engkau pahami tetapi engkau tahu di situ ada satu visi dan beban yang sekali lagi perlu kita ingat, yang dilihat oleh Yitro menjadi masukan dan arah yang lebih maksimal dan lebih baik bagi Musa. Itu yang kita sebut visi; itu yang kita sebut sesuatu yang menjadikan kita kembali fokus dan mengarahkan direksi dan arah hidup kita ke sana.

Kedua, ada hati yang mau mendengar. “It is not good…” suatu kalimat yang tidak manis di telinga, menyakitkan dan mengagetkan kita. Tetapi perubahan tidak mungkin akan terjadi kalau tidak ada hati yang lapang dan rendah hati di dalam dirimu, hati yang receptive dan responsive menerima nasehat orang lain. Inilah kualitas yang kita perlu ada, kerendahan hati dari seorang pemimpin yang sukses; ada jiwa yang terbuka dan receptive. Bukan kita kurang mendengar firman Tuhan, bukan kita kurang berlimpah mendapatkan kebenaran disampaikan kepada kita, bukan kita tidak menerima nasehat yang mulia dan agung, tetapi semua itu terhambat kalau hati kita tidak terlalu lapang dan jiwa kita tidak terlalu humble menerimanya. Pada waktu kita meminta dan mengharapkan sesuatu yang indah dan baru di dalam hidup kita, mari kita juga memiliki kerendahan dan kelapangan hati untuk berani melihat dan menerima semua arah dan direksi yang Tuhan pimpin dalam hidup engkau dan saya.

Lalu Yitro memberikan bimbingan apa yang yang perlu dilakukan oleh Musa yaitu sharing power dan sharing pelayanan kepada orang yang bisa membantu dan menolongnya. Itu berarti suatu hal yang luar biasa dari sisi Musa, kerelaan meminimalkan kontrolnya. Dan yang indah, Musa menerima nasehat itu. Ia mengangkat 70 orang tua-tua untuk menjadi asistennya (Keluaran 18:21). Ke 70 orang itu diberi kriteria yang penting, bagaimana karakter mereka yang dewasa rohani, bagaimana kompetensi mereka yang mampu dan sanggup, bagaimana mereka dikenal baik oleh orang lain. Tetapi unik dalam Bilangan 11:24-25 kita melihat perspektif yang lain, yakni Tuhan sendiri yang mengangkat 70 orang ini. Maka saya percaya setelah Musa mendengarkan nasehat Yitro, ia membawa hal ini di hadapan Tuhan dan meminta pimpinan Tuhan akan apa yang harus dilakukannya. Ini menjadi sesuatu hal yang indah yang kita boleh belajar darinya. Ada beban dan passion di dalam hati kita, ada visi dan pikiran kita untuk melakukan sesuatu, sekaligus dibarengi dengan ada materai daripada Tuhan. Maka ke 70 orang ini dibawa ke hadapan Tuhan dan seluruh umat Israel dan di situ mereka mendapatkan konfirmasi bahwa mereka dipilih bukan dengan maksud dan tujuan yang sembarangan. Maka Tuhan mengambil sebagian roh yang hinggap pada Musa dibagi kepada ke 70 orang ini sebagai satu petanda “the Divine approval” dari Tuhan. Orang lain mengenal, orang lain mengetahui siapa mereka, tetapi juga sekaligus ini menjadi satu upacara ceremonial dimana Allah memberikan roh yang sama kepada Musa juga kepada ke 70 orang ini. Dari sudut perspektif 70 orang tua-tua yang dipilih ini ada satu kebanggaan dan sukacita bahwa mereka boleh dipakai oleh Tuhan namun sekaligus di situ ada hati yang gentar dan gemetar, karena Tuhan berkenan memakai mereka, bukan karena mereka mampu, pintar, kaya dan punya kuasa. Tetapi kebanggaan itu tidak boleh berujung kepada kesombongan. Mereka berdiri, mengambil tanggung jawab dan melaksanakan tugas mereka dengan sebaik mungkin sesuai dengan kompetensi, kemampuan dan tanggung jawab bagi mereka. Kalau kita punya spiritual gift yang banyak, adakah kita menghargai dan menggunakannya sepenuh dan semaksimal mungkin? Apakah kita bisa mengembangkannya seberani mungkin? Apakah kita bisa bekerja bersama-sama agar kita boleh melakukan sesuatu yang baru dan penting bagi pekerjaan Tuhan? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dijawab 70 orang itu. Itu juga harus menjadi pertanyaan penting yang harus dijawab oleh setiap kita, menengok ke dalam hidup kita satu-persatu.

Bilangan 11 selanjutnya unik luar biasa. Alkitab memberi indikasi ada lebih dari 70 nama yang menjadi kandidat, tetapi yang terpilih 70 orang itu. Di antara mereka yang di luar 70 orang itu ada yang bernama Eldad dan Medad dimana Roh Tuhan juga memenuhi mereka (ayat 26). Ini menjadi satu pembelajaran yang indah luar biasa. Dari situ kita tahu, kadang-kadang kita missed melihat kualitas dalam diri seseorang, tetapi Tuhan tidak pernah missed akan hal seperti itu. Mungkin secara jabatan orang itu tidak termasuk dalam 70 tua-tua yang diangkat, tetapi secara jiwa dan hati, Tuhan juga mau memakai mereka. Itu adalah perkenanan Tuhan, itu adalah urapan dari Tuhan, itu adalah panggilan Tuhan.

Karena itulah bagaimana kita melihat perspektif Ilahi dalam Bilangan 11 menjadi satu counter terhadap satu reaksi yang secara manusiawi mungkin muncul yaitu Musa harus rela share apa yang tidak mungkin bisa dia kerjakan sendiri. Kita belajar dari sini; kita juga bukan superman, banyak hal di dalam hidup kita yang kita perlu untuk berbagi. Tetapi sekaligus berarti bisa ada yang bereaksi negatif kurang menghargai Musa. Kekuatiran itu datang dari orang yang paling dekat dengan Musa yang namanya Yosua. Dalam Bilangan 11:28 Yosua berkata, “Moses, my master, stop them!” Reaksi Yosua adalah reaksi yang memperlihatkan kecemburuan, begitu “kekeh” mau membela posisi Musa. Satu reaksi yang keras dan kuat. Namun di sinilah kita melihat keindahan karakter Musa yang luar biasa berespons di sini, satu kerendahan hati yang luar biasa dari seorang pemimpin yang agung, besar dan sukses seperti dia. Tuhan memberi Eldad dan Medad kepenuhan roh dan di situ Musa tahu bukan Musa yang panggil dan pilih, tetapi karena Tuhan berkenan. Tuhan bebas memberi karunia kepada siapa saja yang Ia berkenan. Malah Musa katakan, betapa indahnya kalau semua orang mencintai Tuhan dengan hati yang sama, mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati.

Lukas 9:49-50 ada kemiripan dengan bagian ini. Yohanes melihat ada seorang mengusir setan dengan nama Tuhan Yesus, lalu dia mencegah orang ini dengan alasan orang ini “bukan pengikut kita.” Perhatikan, Yohanes tidak bilang orang ini “bukan pengikut Yesus,” tetapi “bukan pengikut kita.” Meskipun demikian, sikap Yohanes adalah jelas ingin menarik Yesus kepada sikap eksklusifitas, mana yang menjadi “grup-kita,” mana yang “orang-kita,” mana yang bukan. Tuhan Yesus tidak mau terjebak dengan sikap yang sempit seperti ini. Maka Ia menegur sikap Yohanes dan mengatakan, “Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu,” artinya miliki hati yang besar menerima orang yang mungkin bukan dari “grup-kamu,” yang bukan “orang-kamu” karena Tuhan bekerja melalui diri dan pelayanan mereka juga. Orang yang dalam kasus Yohanes juga mengusir setan dengan nama Tuhan Yesus, cuma persoalannya dia tidak menjadi bagian daripada kelompok murid-murid. Yesus bilang, meskipun dia bukan bagian dari kalian, bukan berarti dia melawan kalian. Nantinya baru kita mengerti ada banyak orang-orang yang muncul yang bukan bagian dari kumpulan murid-murid itu. Ada muncul Yusuf dari Arimatea, ada muncul Nikodemus, yang bukan dari bagian kumpulan murid-murid di sekitar Yesus (band. Yohanes 19:38-39).

Kita bisa terjebak kalau karena soal kita mampu dan kita bisa dan kalau kita pikir hanya kita yang bisa dan tanpa kita pekerjaan Tuhan tidak berjalan. Kita menjadi orang Kristen, kita menjadi Gereja yang dipercayakan Tuhan mengerjakan pekerjaanNya, mari kita kerjakan semua dengan sikap “God honouring,” Dia yang kita agungkan dan kita muliakan. Orang Reformed Injili seperti apakah kita ingin menjadi? Itu point yang paling penting kita pikir baik-baik. Kalau itu adalah gereja¬† yang basic theology dalam konstitusinya adalah Reformed faith dan yang memiliki jiwa semangat yang Injili, label dan nama apapun yang mereka pakai, meskipun mereka tidak satu plakat gereja dengan kita, mereka adalah saudara. Karena Tuhan berkenan, Tuhan memakai, Tuhan mau mari kita mengerjakan satu pelayanan dengan sikap “God honouring” seperti ini.

Pertemuan Musa dengan Yitro membentuk hidup Yitro mengenal Tuhan; membentuk hati pelayanan Musa menjadi lebih maksimal, lebih indah, dan dia bisa kerjakan lebih baik dan lebih banyak di dalam keberagaman dan kesehatian daripada beberapa orang yang bekerja sama-sama. Tuhan Yesus juga memberi satu prinsip yang penting, di dalam kita melayani Tuhan selalu harus mempunyai open heart dan open mind. Kita bersyukur untuk kesempatan, kemampuan, dan setiap karunia yang ada. Bukan supaya untuk menjadi milik kita sendiri, dan bukan untuk menjadikan kita berbeda dengan orang lain, dan bukan untuk menjadi satu kebanggaan kesombongan karena kita lebih rohani daripada yang lain. Tetapi semua itu diberi supaya kita boleh menjunjung tinggi Tuhan dan menghargai setiap pelayanan yang Tuhan kerjakan di dalam dunia ini.(kz)