01. Menjadi ‘Man of God’ yang Sejati

12/2/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (1)

Nats: 2 Timotius 1:1-18

 

Paulus berkata, “…dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah dilengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:17). “… so that the man of God may be thoroughly equipped for every good work.”

Apa yang menjadi pencapaian hidupmu? Apa yang menjadi tujuan hidupmu? Apa yang menjadi sasaran hidupmu? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus ada di dalam setiap kita dan harus menemukan jawabannya. Orang yang tidak pernah bertanya apa yang menjadi pencapaian hidupnya, tidak pernah merenungkan apa yang menjadi tujuan hidupnya, dan yang tidak pernah memikirkan dalam-dalam dan menemukan apa yang menjadi sasaran hidupnya adalah orang yang akan terus berputar-putar menjalani hidup tanpa makna.

Melalui surat yang pribadi ini memperlihatkan bagaimana Tuhan membentuk Paulus, bagaimana Tuhan membentuk Timotius, bagaimana Tuhan juga boleh membentuk hidup kita; bagaimana Tuhan membentuk hidup kita sebagai hamba-hamba Tuhan; dan bagaimana Tuhan juga membentuk hidup setiap anak Tuhan, apa yang menjadi pencapaian, apa yang menjadi tujuan hidup, apa yang menjadi sasaran hidup kita. Biar setiap kita menyatakan kepada Tuhan, “Tuhan, bentuklah aku sampai satu hari kelak orang boleh melihat hidupku dan mengatakan, ‘this is the man of God’.

“Man of God’ berarti orang itu hidup bukan lagi untuk dirinya sendiri; orang itu menjalani hidup bukan mencari tujuan bagi dirinya sendiri; tetapi orang bisa melihat hidupnya semata-mata memperkenan hati Tuhan, seorang manusia Allah yang siap mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang baik bagi Tuhan. Dengan melihat seluruh surat 2 Timotius kita bisa melihat bagaimana rasul Paulus mendidik, dari seorang hamba Tuhan senior kepada yang junior, perlahan demi perlahan firman Tuhan membentuk Timotius supaya suatu kali kelak Tuhan boleh mengatakan ia adalah man of God dan orang yang Tuhan siapkan, Tuhan boleh pakai untuk setiap pekerjaan yang baik yang Tuhan mau ia kerjakan bagiNya.

2 Timotius 1:1-2 merupakan satu permulaan yang general, yang umum di dalam seluruh surat-surat Paulus semuanya memiliki kemiripan seperti ini, dari rasul Paulus kepada orang atau jemaat yang ia tuju, lalu disertai salam dan blessing dan keinginan supaya mereka mendapatkan sukacita dan damai sejahtera dari Tuhan. Nampaknya ini adalah salam umum, satu salam yang mungkin terbiasa keluar dari mulut kita seperti kita datang ke rumah orang lalu mengatakan, hallo apa kabar, atau ‘assalammualaikum’, atau ‘shalom’ kepada orang. Tetapi kita menemukan ada hal-hal yang indah dan unik di dalam setiap kali Paulus menyebutkan sesuatu salam yang bersifat umum ini dia menambahkan kata-kata yang justru merupakan sesuatu pengalaman hidupnya, hal yang sedang terjadi dalam hidupnya dan di situ dia menemukan keindahan dan kekuatan Tuhan bekerja kepadanya. “Paul, an apostle of Christ Jesus by the will of God according to the promise of the life that is in Christ Jesus…” (ayat 1). Ini adalah kalimat yang sangat paradoks sekali karena Paulus di akhir suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa hidupnya sudah hampir berakhir (2 Timotius 4:6). Setelah 2 Timotius ini tidak ada lagi ditemukan surat Paulus, memberitahukan kepada kita ini benar-benar adalah suratnya yang terakhir dan di situ ia mengatakan “darahku sudah mulai tercurah dan saat kematianku sudah dekat…”

Paulus tahu sebentar lagi ia akan mati. Tetapi menyongsong kematian, menghadapi saat-saat hari dimana kita tahu sebentar lagi kita akan meninggal, saya percaya kadang-kadang itu adalah pikiran yang mungkin kita tidak inginkan ada di dalam pikiran kita, bukan? Semua kita lebih suka pada waktu kematian itu datang kepada kita lebih baik secara tiba-tiba dan mendadak, paling ideal waktu kita dalam keadaan tidur, misalnya. Tetapi kalau hari demi hari harus dijalani melewati dan tahu tidak berapa lama lagi kematian itu akan menghampiri kita, mungkin kita gentar, kita takut, kita tidak tahu apa yang harus kita kerjakan, mungkin itu bisa melumpuhkan kita; atau sebaliknya kita menjadi kecewa kepada Tuhan, kita menjadi marah, kita merasa kenapa Tuhan tidak memberi kita waktu yang lebih panjang, dsb. Mari kita coba bayangkan kondisi situasi Paulus seperti ini dan di tengah kondisi situasi seperti itu, dia menulis suratnya dengan sangat berbeda. Aku rasul Kristus, aku dipanggil oleh kehendak Allah untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, dan Injil yang aku percaya itu adalah “the promise of life.” Kalimat ini diucapkan oleh seseorang yang sebentar lagi akan mati; diucapkan oleh seseorang yang sebentar lagi hidupnya tidak ada, tetapi kalimat ini menjadi kekuatan bagi dia melwati segala sesuatu. Injil Yesus Kristus yang kumiliki, harta satu-satunya yang ada di dalam hidupku, itu adalah the promise of life. Jangan biarkan kita kehilangan fokus di dalam hidup ini, ketika kesehatan kita tidak ada; ketika harta kita hilang lenyap; ketika banyak hal di dalam hidup kita satu persatu lepas dari kita, jangan kita kehilangan fokus: kita punya satu harta yang paling indah dan paling berarti adanya, karena harta itu adalah harta yang melebihi segala sesuatu yaitu Yesus Kristus.

Kristus adalah janji bagi hidup; Kristus adalah Alfa dan Omega; Kristus adalah Gembala yang agung yang menuntun dan menggendong kita, mencari domba yang hilang dan tersesat; Ia adalah Air Hidup yang memberikan kelegaan kepada kita. Tuhan Yesus mengundang, “Datanglah kepadaKu, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Jesus is the promise of our life, the joy of our life.

“Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulaani dengan hati nurani yang murni…” (ayat 3-5). Paulus meminta Timotius sebagai hamba Tuhan di tengah tantangan dan kesulitan dan beratnya pelayanan, jangan melihat apa-apa, jangan terganggu apa-apa, tetapi ‘be a man of God’ (band. 1 Timotius 6:11). Jadilah manusia Allah yang mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Ingredient apa, pembentukan apa yang sdr dan saya perlu dan harus kita terima meskipun mungkin itu susah dan berat, kita mau dibentuk menjadi man of God? Dalam 2 Timotius 1:3-5 ada dua hal yang penting bagi diri kita. Pertama, setiap kali kita melayani Tuhan, setiap kali kita melakukan apa saja, pelayanan itu tidak boleh lepas dari apa yang kita ajarkan betul-betul harus bersih dan sehat. Itu sebab Paulus mengatakan, aku tahu ada iman yang murni tumbuh di dalam hidupmu. Aku tahu imanmu tulus ikhlas, isi dari imanmu benar adanya. The sound doctrine, pengajaran yang sehat, itu merupakan ingredient yang penting. Tetapi itu saja tidak cukup. Diperlukan keseimbangan hati dan pikiran yang bersih adanya. Itu sebab Paulus mengatakan di ayat 3, aku melayani Tuhan dengan ‘clear conscience’ hati nurani yang murni. The sound doctrine and the clear conscience adalah dua hal yang penting. Hati bersih, nurani tulus di hadapan Tuhan, pengajaran yang kita ajarkan tidak ada maksud dan motivasi yang tidak benar; pengajaran yang kita berikan bukan pengajaran yang menipu orang; pengajaran yang kita berikan tidak ada “twisted” dari apa yang dikatakan oleh Alkitab, tetapi hal yang indah dan benar adanya. Maka mari kita mengukur satu kesuksesan pelayanan adalah karena orang itu adalah man of God, dan man of God itu didasarkan kepada satu hati yang murni, tulus, terbuka dan bersih di hadapan Tuhan.

Tetapi selain Paulus bicara mengenai dua aspek ini, Paulus menambahkan informasi yang penting apa yang menjadi tugas dan panggilan kita di dalam pelayanan, khususnya kalau sdr dan saya memiliki keluarga dan anak, bicara mengenai edukasi pendidikan keluarga. “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike…” (ayat 5).

Bagi Gereja atau mereka yang menolak Sakramen Baptisan Anak, salah satu argumentasinya adalah biar anak itu nanti kalau besar mengaku sendiri Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Itu sebab ada Gereja yang tidak melaksanakan Sakramen Baptisan Anak karena mengatakan iman adalah pengakuan satu individual yang bebas kepada Tuhan. Kalau anak itu sejak kecil, apalagi sejak bayi, sudah dibaptis berarti sudah memaksakan mereka. Tetapi lucunya, Gereja yang menolak Baptisan Anak melakukan satu upacara yang namanya Penyerahan Anak. Bayi itu diserahkan ke Gereja tetapi tidak melaksanakan baptisan. Kalau kamu serahkan di Gereja, berarti di dalam hatimu sedalam-dalamnya engkau mau anakmu dari kecil sudah milik Tuhan, bukan? Yang saya mau perdebatkan adalah logika yang ada di belakang kalimat, “…biar dia nanti yang memilih sendiri…” Ada orang tidak mau membaptis anak sebab beralasan biar anak itu sendiri yang nanti memilih imannya. Kalau sekarang waktu bayi sudah saya baptis tapi ternyata dia besar nanti tidak mau percaya Tuhan, atau nanti dia mempersalahkan saya kenapa mama paksa saya jadi orang Kristen? Saya bisa balik argumentasi yang sama: kalau engkau tidak baptis dia sekarang, anakmu nanti besar juga bisa mengatakan mengapa mama tidak membawa saya dibaptis waktu saya kecil, padahal saya mau jadi orang Kristen. Tetapi yang saya ingin ajak sdr perhatikan adalah soal: pada waktu orang mengatakan saya ingin memberi kebebasan bagi dia. Saya mempertanyakan ini. Pertama, theologically speaking, manusia yang sudah jatuh di dalam dosa diberi kebebasan, kebebasan yang ada padanya bukanlah kebebasan yang bisa membawa dia sendiri datang mencari Tuhan. Alkitab mengatakan kebebasan dari manusia yang berdosa adalah kebebasan yang selalu memberontak kepada Tuhan. Sehingga waktu engkau suruh anakmu pilih secara bebas, pilihannya sendiri sudah tidak netral. Sebab di dalam keberdosaan, pilihannya adalah cenderung tidak pilih Tuhan malah lari meninggalkan Tuhan dan memilih dosa. Itu adalah argumentasi yang pertama.

Argumentasi yang kedua, di balik dari filsafat yang menekankan hak kebebasan dan dignitas manusia, tidak sadarkah kita di balik dari pemikiran membiarkan anak itu bebas memilih sendiri itu bukan dignitas yang dijunjung tinggi tetapi sebenarnya bersifat Evolusionistik, berarti di situ anak manusia disamakan dengan anak binatang. Ada bedanya, anak sapi begitu lahir, tidak lama kemudian dia bisa berdiri dan berjalan tanpa dibantu induknya. Tetapi anak manusia tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Itu adalah kebebasan binatang, biar dia survive hidup memilih sendiri. Dengan konsep Evolusionistik seperti itu, kita ingin terapkan kepada anak karena kita pikir kalau kita paksakan ide dan pikiran dan kehendak kita kepada anak kita itu berarti melanggar kebebasan dia. Hal-hal seperti itu menjadi kebablasan adanya, maka hati-hati dengan pikiran seperti itu. Maksudmu dengan ‘bebas’ berarti biar dia memilih semau dia sendiri dan melakukan apa yang dia inginkan, bukan? Anak manusia tidak bisa demikian, itu sebab di dalam dunia manusia ada yang namanya ‘Edukasi.’ Di dalam dunia binatang hanya ada insting. Engkau bilang, kenapa harus memaksa anak pergi ke Gereja setiap minggu? Anak juga protes, kenapa aku harus ke Sekolah Minggu? Lalu engkau pikir, sudahlah, dia tidak suka pergi ke Gereja, tidak suka ke Sekolah Minggu, tidak boleh dipaksakan, biar nanti dia pilih sendiri. Dengan berpikir seperti itu berarti engkau tidak mengerti kenapa Alkitab menekankan perlunya pendidikan dan edukasi bagi anak. Sebab anak itu lahir, dia harus dibesarkan oleh kita. Dia tidak bisa pilih sendiri karena dia perlu dibimbing oleh orang tuanya.

Argumentasi yang ketiga, pada waktu orang bicara mengenai hak dan kebebasan, orang itu lupa aspek ketiga: di dunia ini satu-satunya konsep bebas yang truly betul-betul independent bebas dan tidak bergantung kepada siapapun itu hanya Allah. Hanya Allah yang bebas, tidak bergantung kepada siapa-siapa, tidak membutuhkan apa-apa. Ia ada pada diriNya sendiri, Ia bisa hidup pada diriNya sendiri sebab Ia Allah yang bebas. Itulah bebas yang sesungguh-sungguhnya. Tetapi semua yang ada di dalam dunia ini, kebebasan kita bergantung kepada yang lain. Setidaknya, sebebas-bebasnya kita, tetap kita harus bergantung kepada aspek yang tidak bisa tidak ada di dalam hidup ini yaitu oksigen. Kalau begitu, sebenarnya tidak ada apapun di dalam dunia ini yang bebas dalam pengertian bebas sebagai satu entitas yang bisa lepas dari apapun. Karena kita bergantung satu dengan yang lain, maka tidak ada yang namanya purely freedom. Kita hidup pasti akan dipengaruhi oleh banyak hal. Itu sebab ada yang namanya kebudayaan; ada yang namanya pendidikan; ada yang namanya kebiasaan. Pada waktu kita katakan, biarlah anakku memilih sendiri dan kita tidak bawa dia ke gereja karena takut nanti offend kebebasan dia dan memaksakan iman orang tua kepada anak, bahayanya adalah dia tidak bisa pilih sendiri, sebab dia masuk ke dalam satu environment yang membentuk dia. Kenapa saya bawa anak saya ke Gereja? Karena saya mau lingkungan budaya Gereja membentuk dia. Tidak bisa saya lepas anak saya sendiri, sebab tidak ada yang namanya orang yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan, pola pikir yang ada di sekitarnya. Kalau engkau tidak taruh anakmu di dalam lingkungan budaya Kristen, maka otomatis dia berada di dalam lingkungan budaya non Kristen. As simple as that. Dan pada waktu dia berada di dalam lingkungan budaya non Kristen, maka filsafat cara berpikir, kebiasaan yang ada, lingkungan dan nilai yang ada akan mempengaruhi dia. Hari ini saya ingin mencabut konsep itu dari pikiran sdr, konsep mengenai independensi dan hak yang sudah keliru. Kebebasan yang sesungguhnya adalah kebebasan di dalam ‘rule’ dan aturan. Itu yang Yesus sendiri katakan, “…kebenaran itu akan memerdekakan kamu…” (Yohanes 8:32). The truth will set you free. Kebebasan di situ tidak berarti semau dan sesuka hati sendiri tetapi di dalam koridor kebenaran Tuhan. Sama seperti sebuah kereta api baru benar-benar bebas berjalan di dalam ketidak-bebasan dia, yaitu kereta itu hanya boleh bebas berjalan di atas relnya. Dia tidak bisa bilang ‘aku tidak perlu rel, aku mau berjalan ke mana saja yang aku mau.’ Justru dia akan hancur dan liar pada waktu tidak berada di relnya.

Argumentasi yang keempat, ada kalimat dilontarkan seperti ini, “Sama seperti saya dulu, saya bukan orang Kristen. Tetapi di tengah saya mencari-cari akhirnya saya menemukan Tuhan. Maka saya juga mau biar anak saya punya pengalaman yang sama dengan saya. Setelah dia cari ke sana ke mari, akhirnya baru dia temukan Tuhan.” Bagaimana sdr menjawab orang yang berkata seperti ini? Saya akan menjawab dia seperti ini: Kalau seandainya saya seorang dokter dan baru saja menerapkan satu cara operasi, dan ternyata pasien saya meninggal. Dari pengalaman itu saya baru tahu seharusnya saya tutup bagian ini dulu, baru potong yang bagian sebelah sana. Kali ini saya sudah potong bagian ini, tidak keburu tutup yang di sana. Maka dalam operasi kedua, prosedurnya saya ubah dan berhasil. Apakah di kelas, lalu saya akan bilang kepada mahasiswa, ‘terserah kalian cari sendiri, supaya kalian juga melewati pengalaman yang sama seperti saya’? Apakah engkau akan membiarkan dokter-dokter itu juga akan melewati proses yang sama, terlalu banyak orang jadi korban mati dulu, baru dia bilang ‘oh iya, aku salah…’ Itu yang namanya the accumulation of wisdom. Knowledge yang kamu dapat, kamu teruskan kepada yang lain. Dalam dunia kedokteran terus berkembang, generasi selanjutnya menemukan ternyata cara yang awal belum sempurna, lalu mereka menemukan cara yang lebih baru, dsb. Itulah ilmu kedokteran. Sdr tidak perlu kembali ke jaman Heraklitos atau Plato, yang waktu ada pasien sakit kepala, langsung batoknya dibolongi supaya menghilangkan pressurenya. Jaman dulu belum ada Panadol. Berapa banyak orang yang kepalanya dibolongi baru akhirnya tahu itu cara yang salah? Itulah knowledge di dalam sepanjang sejarah, dan Alkitab beri kita bijaksana seperti ini. Itu sebab kenapa kita membawa iman yang kita pegang, dengan conviction yang dalam, kita turunkan iman itu kepada anak kita. Itu adalah edukasi, itu adalah pendidikan, itu adalah hal yang kita kerjakan dan menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang tua yang beriman kepada Tuhan Yesus kepada anak-anak kita. Turunkan iman yang benar kepada mereka dan pada waktu kita melayani Tuhan dalam hal apapun, lakukanlah dengan hati nurani yang tulus di hadapan Tuhan.

Salah satu ciri keindahan hati nurani yang murni dan dedikasi yang dalam dari Timotius adalah air mata yang ia curahkan (ayat 4). Apakah Paulus sendiri pernah menangis? Dalam Filipi 3:18-19 Paulus menyatakan kesedihannya dan air mata yang ia sebutkan di surat ini, padahal surat Filipi adalah surat dimana Paulus menyatakan kata ‘rejoice’ yang paling banyak. Melalui ayat ini kita mendapat kekuatan, pada waktu hal-hal yang menyedihkan terjadi di dalam hidup kita, kesulitan dan air mata muncul, ayat-ayat ini meneduhkan hati kita. Paulus mengatakan, don’t be anxious, serahkan segala kuatirmu kepada Tuhan. Bawalah semua yang ada di dalam hatimu dengan bergumul dalan doa kepada Tuhan. Kiranya damai sejahtera Tuhan besertamu (Filipi 4:6-7). Bagi saya Paulus menghadapi secara nyata dan real hidup seperti engkau dan saya. Di pasal 2 ada rekannya yang begitu erat, Epafroditus, sakit sangat keras sampai sekarat hampir mati. Paulus sendiri saat itu sedang berada di dalam penjara, tidak bisa berbuat apa-apa. Di pasal 4 ada rekan kerja, Euodia dan Sintikhe, berantem dan ribut. Paulus mengalami hal-hal seperti itu. Namun pernyataan Paulus di Filipi 3:18-19 memperlihatkan ia tidak dipengaruhi dengan apa yang meliputi situasi hidupnya. Ia justru menangis terhadap apa yang ada di luar hidupnya. Aku menangis sebab aku melihat masih banyak orang belum mengenal Injil Kristus. Aku menangis setiap kali aku melihat tuhan mereka adalah perut mereka. Paulus menangis untuk rekan kerjanya yang sakit parah; Paulus menangis karena rekan kerjanya bertengkar; Paulus menangis karena merasa banyak hal yang dia tidak bisa lakukan dan kerjakan kecuali berdoa. Tetapi sekaligus Paulus menangis karena dia tahu masih banyak orang yang menjadi seteru Injil Yesus Kristus. Itu salah satu ciri dan aspek yang memperlihatkan bagaimana Tuhan membentuk seorang ‘man of God’ hamba Tuhan seperti ini. Ciri dan aspek itu ada di dalam diri Timotius juga karena Paulus melihat air matanya. Itu sebab melalui firman Tuhan ini kita sama-sama berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menjadikan kita juga man of God yang sejati. Biar kita hidup sepadan dengan Injil yang sudah kita terima di dalam Tuhan. Biar hati kita bersyukur untuk anugerah Tuhan yang indah dan pembentukan Tuhan atas kita, melengkapi kita sehingga siap mengerjakan begitu banyak pekerjaan-pekerjaan baik yang Tuhan siapkan dan beri bagi kita, oleh karena kita adalah seorang yang menjadi manusia Allah: seorang yang percaya kepada Tuhan; seorang yang bersandar kepada Tuhan; seorang yang hidup seturut dengan hati Tuhan di dalam hidup kita.(kz)