29. Menghormati Hak Azasi Sesama Manusia

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 13/10/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (29)

Nats: Keluaran 20:15-17; 22:1-27; 23:1-9

 

Sungguh indah sekali perintah Tuhan di dalam 10 Hukum yang Ia berikan sebagai pemeliharaan terhadap hak dan azasi manusia. “Jangan membunuh,” bicara mengenai hak hidup orang yang tidak boleh dirampas; “jangan berzinah,” bicara soal hak orang memiliki satu hubungan eksklusif yang tidak boleh diintervensi orang luar; “jangan mencuri, jangan berdusta, dan jangan mengingini milik orang lain” ini lebih luas lagi bicara soal sikap hati yang tidak boleh mengingini segala atribut yang dimiliki oleh orang lain. Tuhan memerintahkan kita menjaga dan pelihara property orang, hidup orang, esensi hak orang untuk survive hidup.

Di sinilah kita boleh melihat betapa indah dan agungnya hati Tuhan yang seperti itu adanya. Tuhan mengingatkan “Sebab Aku ini Tuhan Pengasih…” (Keluaran 22:27). Tuhan adalah Pembela janda dan anak yatim dan orang asing. Tidak ada yang boleh merampas dan menindas mereka,karena Tuhan sendiri yang akan maju membela mereka. Tuhan mengingatkan dahulu engkau sendiri pernah mengalami ditindas, diperbudak dan menjadi orang asing. Pengalaman hidup yang susah dan pahit seperti itu menjadi satu pembelajaran yang indah bagi mereka supaya mereka tidak memperlakukan orang yang lemah dengan cara seperti itu.

Hari ini kita akan melihat 3 perintah Tuhan yang terakhir dari 10 Hukum, “Jangan mencuri, jangan bersaksi dusta dan jangan mengingini milik orang.” Jangan mencuri itu bicara soal kita tidak boleh mengambil property orang; jangan bersaksi dusta itu berarti kita tidak boleh merusak kredibilitas orang; jangan mengingini itu berarti jangan kita merusak hati kita sendiri dengan sikap yang serakah, yang tidak pernah puas, yang akan menjadi sumber utama kita mengambil property orang. Kenapa orang mencuri? Kenapa orang bersaksi dusta? Karena hukum ke 10 bicara soal sumbernya yang datang dari hati. Yakobus mengatakan, “Darimana datangnya sengketa dan pertengkaran itu? Bukankah itu datang dari hawa nafsumu? Kamu mengingini tetapi tidak memperoleh, lalu kamu membunuh; kamu iri hati tetapi tidak mencapai tujuanmu lalu kamu bertengkar dan berkelahi…” (Yakobus 4:1-2). Keinginan untuk memiliki itu ada di dalam hati yang tersembunyi, akar dari segala keserakahan dan ketidak-puasan. Jadi hati itu sudah rusak sehingga dari situ menghasilkan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain.

Perintah “jangan mencuri” adalah satu perintah yang umum dimengerti dan diterima. Entah itu orang percaya Tuhan atau tidak, dimana saja kita berada, di dalam budaya apa saja, kita tidak boleh mencuri milik orang. Siapa saja yang melanggarnya harus dihukum karena itu adalah tindakan amoral dan merugikan orang lain. Namun Alkitab membukakan banyak aspek perlu kita perhatikan dari konsep kata “mencuri” ini.

Ada beberapa latar belakang teologis mengapa kita tidak boleh mencuri. Yang pertama bicara mengenai kepemilikan. Artinya kalau konsep kepemilikan pribadi itu tidak ada, berarti hukum ‘jangan mencuri’ tidak berlaku, bukan? Orang bisa bebas mengambil karena semua yang ada di dunia ini milik bersama, bayangkan betapa kacaunya dunia ini. Kita bersyukur, dalam pemeliharaanNya Tuhan memberi dan menghargai hak kepemilikan secara pribadi kepada kita. Kita berhak akan apa yang menjadi milik kita, walaupun secara basic theology-nya tidak ada di antara kita yang menjadi pemilik sejati. Alkitab mengingatkan pada waktu kita lahir ke dunia tidak ada satu orangpun yang membawa apa-apa. Tuhan adalah Pemilik utama dari segala sesuatu yang ada, Ia memanggil kita manusia yang diciptaNya untuk boleh mengelola alam semesta milikNya ini, memelihara bumi kepunyaanNya ini, mengusahakan apa yang ada di dalam ciptaanNya. Maka kita boleh katakan semua yang kita miliki sesungguhnya kita tidak miliki secara 100% hak itu tetapi kita memilikinya sebagai seorang penatalayan. Sebagai penatalayan kita tahu semua ini bukan milik kita, itu milik Tuhan yang Ia percayakan kepada engkau dan saya untuk kelola. Tetapi pada saat yang sama, Tuhan memberi dengan bebas kepada manusia untuk menikmatinya sebagai hasil kerjanya. Dengan demikian orang yang bekerja menghasilkan banyak, kita menghargai itu adalah hak dia, dia boleh menikmati apa yang menjadi hak dia, dan kita tidak boleh mengatakan orang itu serakah dan tidak mau bagi-bagi. Itu adalah sesuatu kepemilikan yang Tuhan beri sebagai hak dia.

Kita harus memahami konsep ini baik-baik. Tuhan tidak memarahi dan menegur seseorang karena dia kaya; tetapi jelas Tuhan menegur orang yang sumber kekayaannya datang dari tindakan opression kepada orang yang bekerja baginya, yang memperkaya diri dengan memeras keringat pekerjanya (band. Yakobus 5:1-6). Saya percaya Tuhan tidak melarang kita untuk menikmati apa yang Tuhan beri kepada kita di dalam kemewahan. Tetapi yang ditegur Tuhan adalah kemewahan dan foya-foya yang dilakukan orang itu yang diraih dengan merebut hak orang lain dan menahan upah yang sewajarnya dan sepatutnya mereka terima dari jerih pekerjaan mereka.

Yang kedua, perintah ‘jangan mencuri’ itu berkaitan dengan soal etika kerja kita. Dalam Efesus 4:28 Paulus mengatakan, “Orang yang mencuri janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Dari ayat ini kita menemukan aspek jangan mencuri dikaitkan secara positif dengan soal etika kerja kita. Kita mungkin sepanjang hidup tidak dikategorikan sebagai pencuri atau garong yang masuk ke rumah orang dan mengambil barang-barangnya. Kita tidak dikategorikan sebagai pencopet yang mengambil dompet orang yang lengah. Kita tidak melakukan hal-hal seperti itu. Tetapi tidak berarti kita tidak pernah melanggar perintah ini karena ‘mencuri’ memiliki aspek yang begitu luas. Kita mungkin tidak melakukan sesuatu yang secara langsung merugikan orang lain, tetapi kalau kita orang yang malas, yang hidup bergantung kepada pemberian orang lain, Paulus menegur akan hal itu (band. 2 Tesalonika 3:6-12). Dengan cara hidup yang malas dan tidak mau bekerja, orang itu telah menjadi beban bagi orang lain, sehingga Paulus berkata dengan keras, “Jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan!” (2 Tesalonika 3:10). Sebagai anak-anak Tuhan kita bekerja dengan giat dengan tangan sendiri dan makan dari makanannya sendiri. Kita tidak merugikan orang dengan merebut dan merampas barang kepunyaannya, tetapi kita mungkin merugikan orang lain dimana ada bantuan yang sepatutnya diberikan kepada orang yang jauh lebih membutuhkan daripada kita, kita ambil secara tidak benar oleh karena kemalasan kita. ‘Jangan mencuri’ juga memiliki dimensi aspek bagaimana hidup Kristen juga mencakup ketika kita tidak melakukan sesuatu yang bersumbangsih, karena selain bekerja mendukung diri sendiri, Paulus juga memanggil kita bisa bersumbangsih menolong orang lain yang berada di dalam kekurangan.

Aspek yang ketiga adalah pemakaian metafora dari kata mencuri, khususnya berkaitan di dalam wilayah rohani. “Siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan perampok…” (Yohanes 10:1), Tuhan Yesus menggambarkan pemimpin-pemimpin agama yang palsu dengan istilah pencuri.

“Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata, ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan perpuluhan dan persembahan khusus!” (Maleakhi 3:8), pada waktu firman Tuhan bicara mengenai orang yang tidak memberi perpuluhan dan persembahan itu pencuri, tentu bukan mengambil property orang atau merugikan orang, tetapi kata ini memiliki dimensi metafora secara spiritual. Kepada mereka yang mengambil dan tidak membawa persembahan yang sepatutnya menjadi milik Tuhan juga disebut sebagai pencuri. Dengan mengkaitkan kata ‘mencuri’ di dalam dimensi rohani khususnya dalam kaitan dengan Tuhan kita diingatkan ada banyak hal dari hidup kita yang menjadi hak Tuhan, milik Tuhan yang sepatutnya kita beri kepadaNya namun kita tidak taat dan tidak melakukannya, kita sudah bersalah di hadapanNya. Menjadi seorang Kristen yang setia dan sejati kita rindu dan ingin apa saja yang menjadi hak dan milik Tuhan, kita melakukannya dengan taat dan rela. Setiap anugerah yang Tuhan beri di dalam hidup kita, setiap apa yang Tuhan beri menjadi milik kita, jangan hanya kita nikmati untuk diri kita sendiri. Setiap anugerah dan pemberian yang menjadi hak milik kita, Tuhan juga minta kita menatalayan dengan baik. Kita tidak perlu kecil hati dan kuatir setiap usaha dan kerja keras kita tidak akan menghasilkan hal yang optimal, karena sampai selama-lamanya itu akan permanen menjadi milik kita. Dalam perumpamaan tentang talenta kita melihat orang yang diberi talenta, talenta itu menjadi milik dia selama-lamanya (band. Matius 25:28-29). Kalau kita membaca kitab Wahyu kita menemukan orang-orang akan datang membawa kekayaannya di hadapan Tuhan (Wahyu 21:24-26). Tetapi pada waktu Tuhan memberi dengan limpah kepada kita, pada waktu kita mendapatkan banyak hal dari Tuhan, itu hak Tuhan beri sepenuhnya untuk kita nikmati,  namun kita dengan rela me-release hak kita untuk menikmati sepenuhnya dengan berbagi kepada orang lain yang membutuhkan, saya percaya itu sekedar penundaan sukacita kita di hadapan Tuhan dan sesungguhnya sukacita kita menjadi berlipat ganda. Menunda untuk menikmati sepenuhnya demi orang lain berbahagia dengan nikmat kita adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

Ada aspek lain soal pencuri dikatakan oleh Alkitab ketika hidup di dalam sosial masyarakat yang sudah jatuh di dalam dosa, ada satu ayat yang “sedikit” simpati kepada pencuri, Amsal 6:30 dalam terjemahan bahasa Inggris, “People do not despise a thief if he steals to satisfy his appetite when he is hungry,” orang tidak menghina seorang pencuri kalau ia mencuri untuk memuaskan keinginannya ketika ia lapar. Dengan kata lain, kalau engkau tidak ingin dia mencuri, jangan biarkan dia lapar. Yang sangat berbahaya adalah orang yang mencuri bukan karena dia lapar; mencuri karena dia serakah, mencuri karena dia iri, mencuri karena tidak senang orang memiliki apa yang dia tidak punya. Amsal melihat ada orang-orang tertentu yang terpaksa mencuri karena dia tidak punya cara lain untuk memenuhi rasa laparnya. Di dalam hal seperti itu kita sedih dan patut bersimpati kepadanya. Ketika ini dikaitkan dengan kemiskinan dan kelaparan seseorang, maka ini menjadi panggilan Tuhan bagi orang Kristen bagaimana menjadi penatalayan yang setia atas kekayaannya mengentaskan kemiskinan.

Gereja selain dipanggil memiliki “the ministry of Gospel,” kita juga dipanggil oleh Tuhan memiliki “the ministry of mercy.” Selain kita dipanggil Tuhan memiliki panggilan pelayanan “the ministry of Grace,” menyampaikan anugerah keselamatan kepada orang, kita juga harus mengimbanginya dengan “the ministry of Goodness,” belas kasihan. Belas kasihan di situ bicara soal penatalayanan kita yang setia terhadap kekayaan dan mengentaskan kemiskinan. Gereja tidak saja memberikan pengharapan keselamatan kepada orang tetapi juga me-manage dengan adil kepada orang-orang yang membutuhkan uluran kasih dan perhatian kita di dalam setiap kebutuhan mereka hari ke sehari.

Dalam 1 Timotius 6:6 Paulus berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup memberi keuntungan besar.” The godliness of contentment, istilah yang muncul di situ. 1 TImotius 6:17-19, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap kepada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan kepada Allah yang di dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati…Peringatkanlah agar mereka berbuat baik, kaya di dalam kebajikan, suka memberi dan membagi…” ini menjadi suatu investasi dalam kekekalan.

Kitab Taurat juga mengingatkan kita tidak mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain, jangan mengambil bunga atau riba waktu menghutangkan uang kepada orang yang membutuhkan, dsb. Kalau hal-hal itu kita terapkan di dalam hidup kita, yayasan-yayasan Kristen non profit melayani sebagai lembaga misi di satu tempat, sambil mengabarkan Injil mereka juga melakukan bantuan seperti kredit tanpa bunga supaya orang-orang Kristen yang ada di situ selain bertumbuh di dalam imannya mereka juga mendapat kesempatan dari usaha memperoleh nafkah bisa berjalan dengan baik. Itu beberapa dimensi pelayanan yang harus kita lihat dan kita dukung untuk dikerjakan bukan saja oleh gereja dan badan misi tetapi juga sebanyak-banyaknya orang Kristen dalam hal menjadi penatalayan Tuhan yang setia mendistribusi kekayaan yang Tuhan beri kepada kita untuk mengentaskan kemiskinan. Biar hati kita tergugah dan tergerak mengambil bagian di dalam aspek dan dimensi seperti ini. Kita hidup tidak merugikan orang lain, tetapi kita juga dipanggil Tuhan untuk melakukan sesuatu yang membangun dan mensejahterakan orang-orang yang kurang daripada kita.

Keluaran 23:1-2 “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar; janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara; janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum…”

Alkitab memberikan aturan dalam hal bersaksi, khususnya dalam PL untuk mem-balance terhadap tindakan bersaksi secara palsu kepada seseorang, kesaksian baru dianggap sah dan benar kalau ada dua orang saksi mengatakan hal yang sama. Maka ketika seseorang bersaksi terhadap seseorang baik itu dalam hidup pribadi ataupun dalam legal system, tidak boleh kita memperkarakan seseorang hanya dengan satu orang saksi. Namun kita sendiri melihat di dalam pengadilan Tuhan Yesus, dua orang yang maju bersaksi terhadapNya dua-dua mengucapkan dusta dan kebohongan. Perintah “jangan bersaksi dusta,” selain bicara di dalam legal system, juga memberikan peringatan kita tidak boleh sembarangan mengeluarkan kata-kata atau kalimat-kalimat yang bersifat termasuk kategori ‘slander.’ Kita kadang pikir gossip itu sesuatu yang ringan dan selingan yang menyegarkan di dalam kerutinan hidup yang membosankan. Kita pikir gossip sesuatu yang tidak berbahaya. Ramainya social media, facebook, twitter, kadang-kadang terlalu gampang dan terlalu mudah membuat orang mengeluarkan kalimat lalu ketika sudah spiralling dia tinggal angkat bahu mengatakan, “That’s my personal opinion… I have a right to say anything I want.” Tetapi yang kita bicarakan adalah sesuatu yang berkaitan dengan kredibilitas orang lain. Kita tidak boleh mengatakan hal itu personal opinion kita.

Bapa-bapa Reformator mengingatkan ketika kita menegur kesalahan orang sekalipun orang itu mengajarkan teologi yang keliru dan salah, kita harus memiliki argumentasi yang solid melawannya; kedua, kita juga harus memiliki bukti-bukti yang solid bahwa orang itu mengatakan kalimat seperti apa. Betapa sedih kita melihat mimbar dipakai untuk menuduh orang, menjelek-jelekkan kredibilitas orang, menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Alkitab mengatakan, “Hendaklah kamu cepat mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata…” Jangan menyebarkan kabar bohong tentang seseorang. Kalau kita tidak tahu kebenarannya, biar hal itu berhenti sampai di telinga kita, selesai. Bahkan kalau banyak orang berbicara akan hal yang sama, kita tidak boleh menyampaikan hal itu. Kenapa? Sekali lagi dengan mengucapkan saksi dusta, itu berkaitan dengan satu panggilan Tuhan menghargai orang lain dengan cara kita tidak melukai kredibilitas seseorang apalagi melakukan character assasination kepada seseorang.

Perintah “jangan mengingini” menjadi panggilan terakhir bagaimana menjaga hati kita. Betapa penting untuk selalu menjaga hati. Menghargai setiap anugerah Tuhan dengan bersyukur, masing-masing orang tidak menjadi iri kepada orang lain, tidak serakah ingin memiliki kepunyaan orang lain, berbahagia dengan apa yang Tuhan beri kepada kita, itu semua merupakan sikap kita untuk menjaga dan memelihara hati agar tidak jatuh tidak mengingini milik orang lain.

Biar firman yang kita baca selalu menegur dan mengingatkan kita menjaga hidup dan tutur kata, kelakuan dan tindakan supaya kita boleh selalu menjadi alat Tuhan yang mendatangkan kebaikan, kesukacitaan, hidup yang menghidupkan banyak orang lain. Setiap anugerah dan berkat Tuhan yang datang ke dalam hidup kita biar kita hargai dengan sukacita dan syukur; biar kita belajar mengelolanya dengan penuh tanggung jawab, dengan penuh belas kasihan, dengan penuh syukur dan generosity kepada orang yang lebih kurang daripada kita. Jangan hanya memikirkan apa yang menjadi kepentingan diri sendiri, melainkan belajar hidup mengerjakan dengan semaksimal mungkin apa yang Tuhan berikan dan percayakan di dalam hidup kita. Satu hari kelak sebagai penatalayan yang dipercaya Tuhan kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan di dunia ini. Adakah kita mengelola dengan sebaik-baiknya setiap apa yang Tuhan telah percayakan di dunia ini? Dengan pemberian Tuhan yang berbeda-beda, dengan bakat dan talenta yang berbeda-beda, dengan karunia yang berbeda-beda, kita memperlengkapi diri dengan panggilan dan tugas yang berbeda-beda untuk kita laksanakan. Biar kita menghargai semua yang ada pada kita, mencintai dengan sukacita setiap hal yang indah di dalam hidup orang yang Tuhan karuniai.(kz)