28. Menghargai Kemurnian Seksualitas

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 6/10/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (28)

Nats: Keluaran 20:13-15, 1 Tesalonika 4:1-12

 

“Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami sorang anak dara, demikianlah Allah yang membangun engkau akan menjadi suamimu…” (Yesaya 62:5). Ini adalah ayat yang luar biasa indah menggambarkan pernikahan manusia, pria dan wanita, sebagai ilustrasi hubungan Allah dengan umatNya. Tuhan menggambarkan seperti girangnya hati seorang mempelai laki-laki melihat mempelai perempuan, demikian girangnya hati Tuhan melihat engkau dan saya. Sebelum kita memahami betapa seriusnya Tuhan bicara mengenai ketidak-murnian dan ketidak-setiaan seksualitas di dalam sebuah pernikahan, kita perlu dan harus melihat betapa seriusnya larangan Tuhan itu ketika kita membandingkan betapa berharganya, betapa cintanya Tuhan, dan betapa hormatnya Tuhan kepada institusi pernikahan. Kita hidup di dalam satu era dimana relasi seksualitas di antara suami isteri tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif. Betapa sedihnya kita dan betapa kasihannya masyarakat ketika kita melihat perceraian terjadi disebabkan karena perselingkuhan dan perzinahan. Pernikahan anak-anak Tuhan tidak terlepas dari situasi ini, memperlihatkan betapa rentannya kita terhadap hal ini. Salah satunya disebabkan karena kita tidak melihat bagaimana cintanya Tuhan kepada pernikahan yang Tuhan beri kepada kita.

Kitab Hosea adalah satu kitab yang sangat menyentuh hati dan dipahami dengan dalam oleh Hosea sebab realita hidupnya memiliki isteri yang tidak setia. Apa yang bisa menguatkan hati kita melihat kesulitan dan pergumulan serta tantangan di dalam satu pernikahan selain juga kita melihat betapa indahnya Tuhan menghargai dan mencintai pernikahan kita. Hosea 2:13-19 memakai gambaran hubungan suami isteri menjadi relasi Allah dengan umatNya. Dalam relasi Tuhan dengan umatNya Ia menuntut kesetiaan, hormat dan respek serta hubungan yang eksklusif. Tidak boleh ada pihak ketiga di dalam hubungan itu. Kalau Allah memakai gambaran hubungan suami isteri menjadi gambaran relasi Dia dengan umatNya, itu berarti Allah juga menuntut kita memiliki relasi yang setia, hormat, respek dan eksklusif dengan pasangan di dalam pernikahan kita.

Perintah Tuhan, “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri” adalah tiga komponen larangan yang penting dan serius dari Tuhan karena Tuhan mengetahui betapa destruktif sifat dari ketiganya ini di dalam relasi antara sesama manusia. Kita tidak punya hak untuk mengambil nyawa seseorang, kita tidak punya hak merusak masa depan orang, kita tidak punya hak mengambil milik orang. Secara spesifik hari ini kita akan melihat di dalam relasi yang lebih kecil, relasi keluarga kita, sebagai suami isteri, itu merupakan relasi yang penting yang menopang keteraturan dari sebuah struktur masyarakat. Sebuah negara yang baik dan kuat adalah negara yang memiliki masyarakat yang kuat dan baik; satu masyarakat yang kuat dan baik terbentuk dari keluarga-keluarga dan setiap individu yang ada kuat dan baik juga karena mereka menghargai dan menghormati relasi yang paling indah dan paling dekat. Tuhan meminta kita trust satu sama lain, Tuhan memanggil kita memiliki keterbukaan di antara suami dan isteri. Paulus mengingatkan dan memanggil kita dalam 1 Tesalonika 4:1-12, di tengah kehidupan struktur masyarakat penuh dengan percabulan, penuh dengan ketidak-setiaan, biar hidup kita lebih bersungguh-sungguh lagi kudus dan berkenan kepada Tuhan. Kita dipanggil menjalani hidup yang hormat, menjadi contoh yang baik, hidup relasi yang beres sehingga orang-orang luar melihat dan respek karena hidup kita sungguh berbeda. Bukan saja mereka melihat kita setia berbakti kepada Tuhan, tetapi kehidupan kita di tengah-tengah keluarga, pekerjaan kita, itu menjadi contoh yang indah. Paulus menguraikan bagaimana hidup yang kudus itu dipagari di dalam tiga aspek ini. Aspek pertama, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan…” (ayat 3-8). Paulus dengan teliti dan serius mengingatkan orang percaya mengenai kebahayaan sexual impurity. Dari situ kita tahu, kebahayaan ini bukan saja exist pada jaman modern ini, tetapi sudah ada dua ribu tahun yang lalu, itu merupakan persoalan yang juga dialami oleh Gereja Tuhan. Sebagai orang-orang yang hidupnya sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus yang kudus, bagaimana kita jadikan hidup kita berbeda dengan orang luar? Unik di sini hal yang pertama dibicarakan Paulus adalah aspek seksualitas kita. Baru kemudian selanjutnya Paulus mengingatkan bagaimana kita menyatakan kasih kita kepada orang lain, khususnya saudara seiman kita (ayat 9-10). Jadi orang luar dapat melihat inilah hidup seorang Kristen yang sungguh indah. Aspek ketiga Paulus ingatkan kita hidup memuliakan Allah dan berkenan kepadaNya di dalam cara kita bekerja dengan rajin dan baik, mencari nafkah dengan jujur dan hidup tidak bergantung kepada orang lain (ayat 11-12). Dengan demikian orang respek dan hormat karena kita tidak menjadi benalu masyarakat dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain di dalam hidup kita.

Kenapa pernikahan itu harus kita betul-betul hargai dan hormati? Waktu kita memasuki pernikahan tentu tidak lepas dari romantic love. Kita berpikir dan berangan-angan luapan cinta dan keindahan hubungan kita selalu baru dan fresh dan bahkan semakin indah seiring dengan berjalannya usia pernikahan itu. Tetapi penuntutan akan romantic love menjadi hal yang tidak realistik ketika kita menjalani hari-hari kita bersama, ketika anak-anak sudah mulai muncul di dalam keluarga, kesulitan ekonomi, tantangan pekerjaan dan hal-hal lain mewarnai kehidupan keluarga kita. Kalau dulu di awal pernikahan waktu masih berdua, kita bisa bicara berjam-jam dengan intim dan mesra, pergi bertamasya dan berbulan madu, tentu kita tidak bisa menuntut dan mengharapkan hal yang sama bisa terus terjadi. Setelah bertahun-tahun menikah bagaimana kita seharusnya tidak menuntut dan menjadikan romantic love mendominasi hubungan kita dan menjadi tolok ukur keindahan pernikahan kita. Sebuah pernikahan anak Tuhan yang baik justru makin mempertumbuhkan kasih dan komitment dengan masing-masing pihak me-maintain hubungan itu secara seimbang bukan dalam aspek romantik semata-mata. Kalau kita masuk ke dalam pernikahan dengan satu tuntutan supaya apa yang kurang dari diri kita dipenuhi oleh pasangan kita, cepat atau lambat perjalanan pernikahan kita akan penuh dengan tuntutan demi tuntutan.

Mengapa perselingkuhan dan penyelewengan bisa terjadi? Saya percaya tindakan perselingkuhan dan penyelewengan jarang yang terjadi karena dorongan impulse sesaat, tetapi karena hubungan antara suami isteri sejalan dengan waktu yang berlalu semakin drifted away. Pernikahan menjadi sesuatu yang membosankan dan dragging dan melelahkan mental emosional. Tidak ada lagi perasaan cinta, ketertarikan seksual, dan komunikasi yang dingin di antara kedua pihak, akhirnya membuka celah bagi pihak ketiga untuk masuk intervensi di dalam hubungan itu. Mungkin kita tidak ada pikiran untuk menyeleweng dengan orang lain, mungkin kita tidak ada pikiran untuk melukai perasaan pasangan kita dengan kedekatan hubungan kita dengan orang lain. Namun kita perlu waspada jangan sampai secara tanpa sadar kita sudah menjalin hubungan emosional yang dalam dengan orang lain yang bukan pasangan kita karena dari situ bisa menjadi awal perselingkuhan dan penyelewengan yang berakhir dengan perzinahan fisik.

Maka biar hari ini kita sama-sama melihat kembali bagaimana relasi suami isteri kita perlu memperbaiki apa yang rusak, memperindah yang sudah ada dan menjadikannya sebagai relasi yang kuat dan kokoh. Kalau ada tantangan dan kesulitan, bicara baik-baik dengan pasanganmu, bukan dengan wanita atau pria lain. Jangan sampai perhatian dan simpati orang lain menjadi sesuatu yang lebih kita cari daripada pasangan kita. Itu tidak akan menyelesaikan problem kita, malah akan menjadikannya lebih rumit lagi. Jadikan pasangan kita sebagai seorang yang paling dekat dan paling erat di hati kita sehingga kita tidak memberi celah bagi diri kita untuk memasukkan orang lain di antaranya. Berusaha lebih keras, berjuang lebih sungguh, lahirkan inisiatif dan mulai dengan lebih aktif lagi menjadikan pernikahanmu lebih baik. Jangan hanya menunggu hal itu datang dari pasangan kita lebih dulu dan jangan take it for granted untuk segala usaha yang dilakukan pasanganmu memperbaiki hubungan kalian. Pernikahan itu penting kita hormati dan hargai karena Tuhan mencintai dan menghargainya. Jangan memasukkan aspek apa saja yang bisa merusak pernikahan kita, terutama ketidak-setiaan di dalam aspek seksualitas.

Rev. Tim Keller mengingatkan di dalam bukunya “The Meaning of Marriage” dengan mengatakan, “Sex is a covenant cement in marriage.” Seks begitu kuat dan begitu dalam mempersatukan pernikahan satu sama lain. Itulah sebabnya Paulus sangat serius mengingatkan jangan sampai ada percabulan karena di situ berarti seseorang mengikatkan diri dengan wanita lain. “Tidak tahukah kamu bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul menjadi satu tubuh dengan dia?” (1 Korintus 6:16).

Gereja bertanggung jawab untuk memberikan persepsi dan edukasi yang benar bagi jemaat mengenai seksualitas dan arti sebuah pernikahan di antara orang percaya. Sebelum gerakan Reformasi terjadi, Gereja telah memberikan konsep yang keliru mengenai hal ini. Gereja mempromosikan celibacy sebagai sebuah tanda super-spiritual pada diri seseorang dan sebaliknya seks dan pernikahan menjadi sesuatu yang dianggap hina dan kotor. Konsep ini ditertawakan oleh orang dunia ketika mereka melihat kemunafikan yang terjadi di balik tembok gereja, tindakan sexual abuse dan berbagai penyelewengan secara seksual yang dilakukan orang yang mengaku para rohaniwan bukan rahasia umum lagi, akhirnya terbuka dan tersingkap dan mempermalukan nama Tuhan dan Gereja.

Sebagai Gereja kita mungkin enggan berbicara tentang topik seks karena kita tidak melihat kaitan atara seksualitas dengan spiritualitas. Tetapi kalau kita baca 1 Korintus 6:15-20, jelas Paulus mengatakan betapa erat aspek seksualitas dengan spiritualitas adanya. Paulus melarang hidup seks yang tidak benar, karena itu adalah hal yang mendukakan Roh Kudus yang ada di dalam hidup kita. Kita yang sudah ditebus dan dibayar lunas dengan darah Yesus yang kudus dan mahal, tidak sepatutnya kita melakukan hal-hal yang tidak patut.

Seksualitas adalah hal yang indah dan baik, Tuhan mau kita menikmatinya di dalam kasihNya sebagai bagian dari the good creation Tuhan bagi ciptaanNya. Seksualitas itu baru kita nikmati dengan benar pada waktu kita menempatkannya di dalam satu institusi pernikahan yang Tuhan beri kepada kita. Kita tidak perlu malu memperlihatkan kepada orang betapa indah, betapa manis, betapa bangga, betapa suci, betapa berharga seksualitas yang dilakukan di dalam hidup pernikahan kita. Kita tidak boleh memberikan persepsi yang keliru bahwa hidup rohani berarti menjauhkan seksualitas dan memberi kesan bahwa seksualitas bisa menjauhkan hubungan kita dengan Tuhan. Justru seorang yang memiliki hubungan spiritual yang benar dan indah dengan Tuhan akan menghasilkan relasi hubungan yang benar dengan pasangannya. Seseorang yang dengan tulus mencintai isterinya, menghormati dengan respek akan suaminya, akan melahirkan refleksi cinta yang sehat secara seksual satu sama lain. Di situ Tuhan akan memberkati dengan indah dan baik hidup pernikahan mereka.

Berapa panjang hidup pernikahan kita, biar kita menjalani dengan satu komitmen yang tulus karena kita sudah diikatkan Tuhan di dalam satu perjanjian yang eksklusif dimana pasangan kita adalah satu-satunya orang yang menjadi pendamping kita. Tidak boleh ada orang lain yang lebih dekat selain dia. Berapa bergelombangnya hidup pernikahan kita, kita mohon Tuhan boleh memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa menjalaninya berdua. Karena pada waktu kita mencintai dan menghargai pernikahan kita dengan baik dan indah seperti itu, it will turn into a wonderful story. Seorang pujangga bernama Wendell Berry menulis syair yang begitu indah, “Sexual love is the power that join a couple together, marriage as the way we protect the possibility that  sexual love can become a story.” Story itu menjadi indah dan wonderful bukan berhenti dan berakhir pada waktu kita melihatnya sebagai sesuatu yang memberatkan hidup kita. Itu akan menjadi story yang indah yang turun kepada anak-anak kita, turun kepada generasi yang akan datang. Betapa sayang kalau story itu berakhir dengan tragedi yang menyedihkan, story tentang ketidak-setiaan, perzinahan dan perselingkuhan. Apa kisah yang akan tertulis mengenai pernikahan kita? Apakah itu kisah mengenai cinta dan pengorbanan? Apakah itu kisah mengenai cinta dan kesetiaan yang tidak luntur oleh sakit-penyakit, kemelaratan pernikahan yang terus langgeng dan indah? Kita ingin menulis kisah seperti apa tentang hidup pernikahan kita?

Kedua, kita melihat aspek “Premarital Sex” juga dibahas oleh Musa dalam mengelaborasi konsep kemurnian seksualitas di dalam hukum Taurat. Keluaran 22:16-17 kasus dimana seorang pemuda membujuk dan memperdaya seorang gadis berhubungan seks dengannya. Dalam dunia yang sudah berdosa relasi di sekitar kita juga penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna. Ada cheating, ada penyelewengan, ada penipuan yang bisa terjadi. Ini bukan kasus pemerkosaan, tetapi kasus suka sama suka. Ingatkan society pada jaman itu sangat tidak menguntungkan bagi wanita jika premarital seks itu terjadi kepadanya. Dalam kitab Ulangan ada kasus kalau seorang pria pada malam pengantin menemukan isterinya sudah tidak perawan lagi, maka suaminya bukan saja berhak menceraikan dia tetapi juga orang-orang satu kota itu boleh melempari wanita itu dengan batu sampai mati (Ulangan 22:20-21). Maka di sini hukum Tuhan memberikan perlindungan kepada gadis yang ditipu. Namun sekaligus ada hal yang salah sehingga hal seperti ini bisa terjadi. Lalu bagaimana? Sebagai tindakan preventive betapa penting dan perlunya orang tua mengajar dan mendidik anak-anak kita, pemuda pemudi, betapa pentingnya kemurnian di dalam relasi pria dan wanita dan memahami menghargai seksualitas di dalamnya. Kalau ada seorang pria membujuk seorang gadis lalu tidur dengannya, ada dua hal yang harus dilakukan pria itu. Pertama, dia harus mengawini gadis itu. Kedua, dia harus membayar mas kawin. Kalau kita bandingkan dengan Kejadian 24:53 mas kawin itu diberikan kepada pengantin perempuan, boleh kita lihat perintah Tuhan ini sungguh sangat melindungi dan memproteksi kaum wanita. Sebab bisa jadi memang dinikahi tetapi setelah satu minggu lalu diceraikan. Kalau demikian, maka uang mas kawin itu bisa menjadi harta wanita itu melanjutkan hidupnya. Mengapa harus dinikahi? Supaya jangan ada pria yang boleh menggunakan cara yang tidak benar melalui seks mengikat dan menjerat seorang wanita dan hanya mau menikmati seks lalu pergi begitu saja. Dengan demikian kita melihat Tuhan menuntut orang menghargai seks dan tidak boleh menikmati seks tanpa bertanggung jawab. Namun ada kasus dimana ayah dari wanita itu menolak menikahkan anaknya dengan pemuda itu. Lalu bagaimana pengaturan hukumnya? Lebih baik ‘escape bad marriage’ daripada kecemplung masuk ke dalamnya. Keluarga itu mungkin berpikir karakter pemuda ini tidak baik dan punya maksud yang tersembunyi, dan akhirnya mencelakakan anak perawan yang masih naif dan tidak mengerti apa-apa, mungkin karena cinta, padahal pria itu tidak seperti itu. Maka pria itu harus memberi kepada orang tua gadis itu sebanyak mas kawin anak perawan.

Terakhir, Yesus menekankan lebih dalam konsep jangan berzinah, “Kamu telah mendengar firman: jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Kata ‘menginginkan’ ini adalah lustful intent, satu keinginan nafsu untuk berhubungan seks dengan wanita itu. Walaupun secara fisik hal itu tidak terjadi, tetapi secara hati, secara imajinasi pikiran, secara mental hal itu dianggap sudah terjadi. Kita manusia dicipta Tuhan dengan segala ketertarikan dan keinginan seksual sebagai bagian dari ciptaanNya yang indah dan baik. Maka ayat ini bukan bicara soal keinginan seksual kita salah, tetapi keinginan seksual yang tidak bisa terkontrol itulah yang disebut sebagai lust. Adalah hal yang wajar dan normal seseorang memiliki ketertarikan seksual kepada lawan jenisnya, tetapi berbeda dengan lustful intent yang disebutkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 5:28. Pada waktu kita memberikan edukasi kepada anak kita mengenai seksualitas, biar mereka memiliki pemahaman yang Alkitabiah, yang benar dan sehat. Godaan seksualitas bisa terjadi pada diri siapa saja, tetapi godaan itu tidak sama dengan jatuh di dalam dosa. Tentang godaan seksualitas Martin Luther, Bapa Reformator pernah mengatakan, “You can’t stop birds from flying over your head, but you can stop them from making nests in your hair.” Sexual thoughts adalah hal yang natural dan tidak bisa dihindarkan timbul dalam pikiran, namun kita bertanggung jawab tidak menanggapinya dan tinggal di dalamnya.

Firman Tuhan sangat tegas melarang berbagai penyimpangan seksualitas yang abnormal, bicara mengenai hubungan seks dengan sesama jenis, dengan binatang, dan berbagai hubungan seks yang menjadikan seksualitas sebagai komoditas yang ada dimana-mana, termasuk dengan pornografi, dsb. Sehingga pada waktu kita mencoba memahami peraturan “jangan berzinah” kita tidak hanya melihatnya sebagai penyelewengan di dalam pernikahan, tetapi dia menyentuh hidup setiap kita untuk menghargai dan menghormati seksualitas kita dengan benar. Kita dipanggil Tuhan bertanggung jawab untuk menjadi orang Kristen yang hidup di dalam kemurnian dan pengudusan Tuhan.(kz)