27. Menghargai Hidup yang Berharga

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 29/9/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (27)

Nats: Keluaran 20:1-17

 

Bagian ini bicara mengenai 10 Hukum yang Tuhan beri kepada Musa yang menjadi prinsip moral di dalam relasi yang paling penting antara Tuhan dengan umatNya. Empat hukum pertama adalah mengenai sikap dan ibadah kita kepada Tuhan dan enam hukum selanjutnya bicara bagaimana relasi kita secara moral kepada sesama kita manusia, mulai dari orang-orang yang terdekat, ayah ibu dan keluarga sampai kepada komunitas yang lebih luas dalam hidup bermasyarakat. Ini adalah prinsip moral yang sesungguhnya bukan hanya berlaku dan Tuhan beri secara eksklusif bagi umatNya, bangsa Israel yang hari itu sedang mengadakan perjanjian dengan Allah yang sudah membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir, tetapi juga menjadi prinsip moral bagi engkau dan saya dan bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Yang menjadi persoalan adalah prinsip moral yang begitu indah ini, yang merefleksikan siapa Tuhan kita, Allah yang suci, Allah yang agung, Allah yang adil dan penuh cinta kasih, bagaimana bisa kita praktekkan dan jalani di dalam hidup di dunia yang real yang sudah jatuh di dalam dosa? Maka dalam bagian selanjutnya mulai dari Keluaran 21-31 boleh kita katakan merinci bagaimana 10 Hukum ini diaplikasikan di dalam hidup manusia sehari-hari.

Perintah “Jangan membunuh,” adalah prinsip yang penting luar biasa bagaimana menghargai nyawa orang, dan dengan sekuat tenaga melindungi kehidupan orang. Bukan saja perintah ini bicara saya tidak boleh membunuh orang, tetapi kalau saya lalai di dalam melindungi hidup orang lain, tetap Alkitab mengatakan itu adalah satu pelanggaran yang harus dihukum. Ada tanggung jawab moral, ada ganti rugi, ada hukuman yang harus dibayar dan ditanggung oleh sang pelaku. Di dalam Keluaran 21:12-36 secara spesifik kemudian firman Tuhan mengelaborasi bagaimana hukum itu menetapkan konsekuensi dari kejadian seperti itu. Di tengah dunia yang sudah jatuh di dalam dosa ini tetap perlu prinsip-prinsip bagaimana keadilan yang sebaik mungkin ditegakkan walaupun mungkin kita sadari keadilan yang benar-benar adil memang tidak bisa terwujud di dalam dunia ini. Allah tidak mengijinkan siapapun mengambil nyawa orang lain, namun di satu sisi Tuhan melarang orang membunuh, tetapi pada bagian ini Allah mengijinkan adanya hukuman mati kepada orang yang melakukan tindakan membunuh orang lain. Ada kasus-kasus dimana Allah memberikan otoritas kepada pemerintah yang kita kenal sebagai “Capital Punishment” atau hukuman mati.¬† Ayat 12-16 bicara mengenai wilayah “Capital Punishment,” hukum yang harus ditegakkan oleh negara atau pemerintahan yang dipercayakan Tuhan mengatur hal itu. Jadi individu tidak berhak main hakim sendiri secara personal melakukan capital punishment ini. Pemerintah diberi hak oleh Tuhan untuk menegakkan keadilan, khususnya bicara mengenai orang yang membunuh dengan kesengajaan, dengan intention mengambil nyawa orang lain. Tuhan percayakan kepada Pemerintah, sebab kita perlu satu keteraturan di dalam masyarakat dimana hukum dan keadilan ditegakkan dengan seadil-adilnya. Meskipun demikian kita juga mengakui hukum yang dilakukan satu pemerintah bisa ‘bias’ dan tidak adil sepenuhnya, tetapi tetap di tengah dunia yang sudah jatuh di dalam dosa ini kita membutuhkan pemerintahan yang dipercayakan oleh Tuhan menjadi perpanjangan tangan Tuhan Allah menyatakan prinsip keadilanNya di atas muka bumi ini.

Mengapa kita harus menghargai nyawa orang dan sekuat tenaga melindungi kehidupan orang? Dasar teologis yang menjadi background yang paling penting karena Tuhan adalah Pemilik dari kehidupan, Tuhan yang mencintai hidup. Hidup itu datang dari Tuhan, hidup itu bukan milik kita, sehingga kita tidak boleh mengambil kehidupan itu dan kita tidak berhak merampas hidup orang lain. Hidup itu adalah hak Tuhan sepenuhnya. “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambarNya sendiri…” (Kejadian 9:6). Manusia adalah gambar Allah; Allah yang memberikan hidup itu dan tidak ada seorangpun yang berhak mengambil hidup orang lain. Allah sangat serius dengan hidup. Kematian itu bukan bagian daripada rencanaNya. Allah tidak menciptakan kematian bagi manusia, kematian terjadi akibat keberdosaan kita, sebagai hukuman yang terjadi akibat pelanggaran kita. Ketika kita sudah binasa di dalam dosa, Allah tidak ingin kita binasa selama-lamanya. Allah mengirim Yesus Kristus supaya kita yang percaya kepadaNya tidak binasa dan memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Allah itu sumber kehidupan, Ia sangat mencintai hidup itu adanya. Allah respek dengan hidup dan Ia ingin engkau dan saya memiliki hidup itu dengan penuh (Yohanes 10:10). Bukan saja hidup yang kita jalani sehari-hari di dunia ini, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memiliki hidup yang kekal bersama-sama dengan Tuhan nantinya.

Dengan mengerti dasar teologis ini, maka kita perlu mengelaborasi pemahaman kita akan perintah “jangan membunuh” ini. Pertama, sesusah-susahnya, seberat-beratnya kita merasa tidak berdaya menjalani hidup ini, tidak boleh menjadi alasan kita merasa hidup ini sudah tidak bernilai dan berarti lagi dan kemudian kita membunuh diri.

Kedua, Imamat 19:18 mengatakan, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang melainkan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Secara prinsip moral kita melihat ketika ada kejahatan dan hal-hal yang mencederai hidup kita, melukai dan bahkan tindakan orang itu menghasilkan kematian kepada orang-orang yang kita kasihi, secara personal Tuhan meminta setiap kita untuk tidak menjalankan tindakan balas dendam dengan main hakim sendiri. Tuhan ingin kita menyerahkan hal ini kepada Tuhan yang adil untuk membalaskannya. Jika kita membalas dendam dan kemudian membunuh orang itu, tidak akan selesai orang saling membunuh. Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menuntut balas, bukan dalam pengertian sistem legal pengadilan, tetapi dalam pagar relasi antar pribadi, dengan sikap revenge dendam menuntut balas kepada orang yang melakukan. Biar kita serahkan hal itu menjadi hak Tuhan yang satu kali kelak akan menegakkan dengan seadil-adilnya bagi kita. Dengan demikian kita memutuskan rantai dendam yang tidak akan pernah selesai menjadi lingkaran setan yang bisa menghancurkan hidup banyak orang. Ketika kita bicara mengenai relasi pribadi, ketika kita mengalami hal yang tidak adil dari tindakan orang berbuat jahat kepada kita, Yesus mengkontraskan hal ini, “Kamu telah mendengar firman ‘jangan membunuh’ tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum…” (Matius 5:21-22). Secara fisik pembunuhan itu tidak terjadi, tetapi apa yang tersimpan dalam hati, yang menjadi motif, itu sudah terhitung melanggar perintah ini. Rasul Yohanes juga mengingatkan kebencian dan kemarahan itu bisa menjadi sesuatu yang equal dengan tindakan membunuh, “setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia” (1 Yohanes¬† 3:15).

Maka panggilan firman Tuhan hari ini mengingatkan kita pada satu sisi untuk menyerahkan keadilan kepada pemerintah yang Tuhan beri mandat, namun pada saat yang sama ketika keadilan itu tidak terjadi kepada kita, biar kita menyerahkannya kepada Tuhan, yang berjanji akan menegakkan keadilan seadil-adilnya bagi mereka yang mengalami ketidak-adilan di dalam dunia ini. Di tengah situasi itu kita bisa marah, sedih dan menangis, kita berteriak menyatakan ketidak-adilan itu kepada Tuhan. Kita menjadi terhibur dan tahu, meskipun di dunia ini kita tidak mendapatnya, kelak Tuhan akan menyatakan keadilan dan pembalasan kepada orang yang telah bersalah kepada kita (Roma 12:19).

Keluaran 21:12-36 memberikan beberapa kasus sebagai panduan mengenai hukum ini. Kasus pertama, kalau terjadi kasus pemukulan yang fatal yang menyebabkan kematian, orang yang melakukannya harus dihukum mati. Kasus kedua, kalau itu adalah pembunuhan yang tidak disengaja, tidak ada intention dari pelakunya, mungkin suatu self-defense, maka pelakunya harus dilindungi untuk tidak mendapatkan pembalasan dari pihak yang meninggal dengan menaruhnya di “kota-kota perlindungan” supaya dia mendapat proses pengadilan yang adil (band. Bilangan 35:11-12). Kasus ketiga adalah kasus pembunuhan yang berencana, yang patut mendapatkan hukuman mati. Kemudian selanjutnya ada kasus pembunuhan kepada orang tua, yang tidak ada keringanan bagi tindakannya. Tuhan melihat aspek ini begitu serius, bahkan kalau ketahuan ada seorang anak mengutuki ayah atau ibunya, anak itupun harus dihukum mati. Lalu kasus penculikan, dianggap setara dengan mengambil hak hidup seseorang, pelakunya harus dihukum mati juga.

Selanjutnya ada hukuman denda membayar ganti rugi, yaitu kalau dalam pertengkaran yang satu memukul yang lain sehingga terluka, maka pelakunya harus membayar pengobatan dan menanggung biaya hidup korban sampai dia sembuh. Kemudian ada kasus pihak ketiga tanpa disengaja yaitu seorang ibu hamil sedang lewat di antara dua orang yang sedang berkelahi, lalu menabrak ibu itu sehingga mengalami prematur atau keguguran, suaminya boleh menuntut ganti rugi atas kehilangan bayi itu. Kalau ibu itu juga meninggal dunia, maka pelaku akan mendapat balasan yang setimpal juga.

Terhadap budak, Tuhan juga secara spesifik memberikan perlindungan hukum bagi mereka. Kalau majikan memukul budaknya sampai mati, majikan itu harus diadili dan dihukum. Apabila budak itu terluka, matanya buta atau giginya tanggal, maka budak itu boleh menjadi orang merdeka sebagai ganti pemukulan itu.

Alkitab juga memberikan batasan yang cukup jelas mengenai kematian yang terjadi karena negligence ketidak-sengajaan dengan kematian yang terjadi karena ignorance atau kelalaian. Kasus di ayat 28 ada kematian yang terjadi karena seekor lembu tanpa disengaja oleh pemiliknya lepas dan menanduk orang sampai mati, maka lembu itu yang harus menanggung hukumannya, seperti kalau dalam dunia modern ini, anjing yang menggigit orang harus di “put down” sedangkan pemiliknya bebas dari hukuman. Namun kasus di ayat 29 kalau kita sudah tahu historinya lembu itu suka menanduk orang dan sudah berkali-kali pemiliknya diperingatkan untuk menjaga lembu itu tetapi dia lalai melakukannya sehingga membuat orang meninggal ditanduknya, maka bukan saja lembu itu mendapat hukuman, pemiliknya pun menanggung hukuman yang setara. Ada hukum yang memberikan perbedaan juga di dalam konsekuensi yang harus ditanggung pemilik lembu tsb. Kalau yang ditanduk lembu itu adalah seorang budak, maka ada yang disebut di sini sebagai “uang pendamaian” sebagai ganti rugi terhadap pemilik budak sehingga pemilik tidak menerima capital punishment.

Bagaimana dengan kasus kematian akibat self-defense? Keluaran 22:2-3 memberi prinsip self-defense yang unik, “Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul hingga mati, si pemukul tidak berhutang darah. Tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah.” Bagaimana kita mengerti ayat ini? Mungkin artinya kalau “setelah matahari terbit” artinya kita masih bisa telpon polisi, kita masih punya kesempatan teriak “Maling!” sedangkan kalau di malam hari tidak ada orang yang menolong kita maka di situ kita ada hak untuk melakukan self-defense membela diri dan milik kita. Meskipun orang itu maling yang berniat merugikan harta milik kita, uang kita tidak setara nilainya dengan nyawa seseorang. Di sini kita melihat satu detail yang indah. Tuhan menghargai nyawa hidup seseorang, siapapun dia, termasuk pencuri, sampah masyarakat, sekalipun.

Bagaimana dengan euthanasia terhadap seorang yang mengalami terminal ill? Bolehkah kita mengambil keputusan untuk tidak memberikan pengobatan kepada anggota keluarga yang sakit dengan alasan ekonomi? Dua kasus ini menjadi sulit luar biasa karena menyangkut hal yang sangat personal. Maka nasehat saya adalah jauh-jauh hari hal seperti ini perlu sdr bicarakan baik-baik dengan pasangan kita, atau dengan anak-anak kita, sehingga mereka bisa mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan kita. Apakah berarti ketika kita tidak melakukan apa-apa kepada orang yang sekarat itu setara dengan membunuh? Bagi saya, selama kita melakukan hal-hal yang normal baginya, kita tidak mencegah makanan nutrisi diberikan kepadanya, kita tidak mencegah infeksi yang muncul di tubuhnya diobati, namun tidak melakukan hal-hal yang ‘extra-ordinary’ seperti memberi mesin untuk nafas buatan, kita tidak bersalah dalam hal itu. Sebagai orang Kristen kita harus mengerti prinsip kita memberi pengobatan bukan supaya orang itu bisa hidup selama-lamanya. Kadang-kadang di dalam proses pengobatan kita menghadapi kontras ini, kontras antara kita ingin memperpanjang hidup dan mengangkat sakit pada sang penderita. Maka jangan sampai karena kita ingin memperpanjang hidupnya kita membuat proses itu menjadi lebih membuatnya menderita. Secara teologis kita mengerti hidup kita tidak hanya yang di sini saja. Pada waktu kita meninggal, kita berjumpa dengan Tuhan, itu adalah momen dimana sudah tidak ada lagi sakit dan penderitaan pada tubuh fisik ini.

Alkitab bukan hanya bicara bagian soal bagaimana pembalasan yang setimpal dan adil terhadap kasus-kasus di atas. Ada aspek emosional yang muncul terutama bagi pihak korban yang mengalaminya. Maka Alkitab juga membahas aspek ini sebagai prioritas yang Tuhan Allah perhatikan. Ketika terjadi kehilangan nyawa, bisa karena intention seseorang, bisa karena negligence ketidak-sengajaan, bisa karena self-defense, setiap kasus harus mendapat hukuman dan konsekuensi yang patut dan layak. Namun bagi keluarga yang mengalami kematian dan kehilangan, Tuhan ingin ada sikap tidak membalas dendam, tidak terus ditelan oleh kemarahan, kebencian dan kepahitan. Meskipun akibat peristiwa itu tidak bisa terjadi rekonsiliasi dengan pihak pelaku, firman Tuhan memanggil kita untuk tidak terus terikat dengan rantai dendam dan kebencian yang tidak pernah menyelesaikan hal ini. Firman Tuhan memberi contoh kasus bagaimana seharusnya sikap kita terhadap musuh dan orang yang kita benci. Keluaran 23:4, apabila kita melihat lembu musuh kita tersesat, kita wajib segera mengembalikan binatang itu kepadanya. Apabila kita melihat keledai musuh kita jatuh rebah karena bebannya terlalu berat, kita wajib menolong musuh kita membongkar muatan keledainya. Tidak mudah, bukan? Dalam kehidupan kita, mungkin ada orang yang menjadi saingan bisnis yang pernah menipu atau merugikan kita, lalu bagaimana sikap kita ketika melihat dia mengalami kemalangan, kita dipanggil Tuhan untuk menolongnya. Apapun situasi dan relasi kita dengan seseorang, tetap jangan sampai membuat kita kehilangan hati yang lebar dan lapang untuk tidak membalasnya, dan panggilan Tuhan hari ini meminta kita berbuat baik bukan hanya kepada orang yang baik kepada kita, tetapi termasuk kepada orang yang menjadi musuh kita. Maka betapa indah hukum Tuhan memberikan perbedaan bagi hidup etika kita sebagai umat Tuhan.

Tuhan Yesus mengatakan, “Kamu telah mendengar firman ‘kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu,’ tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga…” (Matius 5:43-45). Kalau kita berbuat baik hanya kepada orang yang baik kepada kita, tidak ada bedanya kita dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Secara etika dan common sense, hal yang sama juga mereka lakukan kepada teman dan sesama. Maka Tuhan memanggil kita memiliki ciri yang membedakan kita sebagai anak-anak dari Bapa kita, Allah yang sempurna, yang tidak pilih kasih dan dengan murah hati memberkati dan memberi kepada orang, termasuk mereka yang menolak Dia. Kebaikan Tuhan, murah hati dan panjang sabar Tuhan tidak pernah tergantung kepada sikap dan perlakuan orang kepadaNya. Dia Tuhan yang baik, Tuhan yang murah hati, Tuhan yang panjang sabar, karena itulah sifat dan natur Tuhan kita. Ketika kita mengerti akan hal ini, bukan membuat kita menjadi seenaknya dan semaunya memperlakukan Tuhan, tetapi justru seharusnya membuat kita menjadi kagum dan hormat kepada Tuhan. Kalau sikap dan perlakuan Tuhan kepada kita setara dengan sikap dan perlakukan kita kepadaNya, siapa kita yang lemah ini? Maka kagum, hormat dan respek kita akan Tuhan yang baik, murah hati, panjang sabar dan memberi kekuatan kepada kita untuk meneladaninya dalam memperlakukan orang lain, termasuk musuh kita dan orang yang membenci kita.

Perintah ‘jangan membunuh’ bukan saja menghilangkan nyawa orang lain dan melindungi hidup orang lain, tetapi ada implikasi praktis yang perlu kita ingat. Di situ kita sekuat tenaga sebisa mungkin menjaga kualitas hidup tidak membuang sia-sia, kita menjaga kesehatan sebaik-baiknya, kita merawat diri sebaik-baiknya, secara praktis kita menjalani perintah ini. Maka, apakah orang yang merokok, drug abuse, yang tidak menjalani lifestyle yang sehat sampai akhirnya sakit dan mati, secara praktis telah melanggar hukum ini? Ya. Bagi saya tidak ada hal yang baik dari segala kecanduan yang merugikan hidup dan tidak memperhatikan kualitas hidup dengan sebaik mungkin, jangan kita tidak menghargai hidup yang Tuhan sudah berikan bagi kita. Biar firman Tuhan ini boleh menuntun kita untuk memelihara hidup yang Tuhan cintai, Tuhan hargai dan Tuhan pelihara dengan baik supaya melaluinya kita boleh memuliakan Tuhan di dalam hidup yang sementara di dunia ini.(kz)