06. Memori akan Kesetiaan Tuhan

25/3/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (6)

Nats: 2 Timotius 2:8-19

 

Kemajuan teknologi, khususnya dalam dunia komunikasi begitu luar biasa, dengan “smart phone” di tangan, apa saja ada di situ. Namun kemajuan teknologi yang mendatangkan banyak kemudahan itu ternyata juga mendatangkan hal-hal yang merugikan yang mungkin tidak pernah kita sadari. Malah saya pikir kemajuan ini lebih banyak rugi daripada untungnya. Paling tidak dulu sebelum ada smart phone, kita paling sedikit hafal 30 nomor telpon orang-orang yang kita kenal. Bukan saja nomor telpon mereka, kita juga hafal kapan ulang tahun mereka, kita juga hafal alamat rumahnya. Tetapi sekarang karena kecanggihan handphone, paling-paling kita hanya hafal nomor telpon rumah dan nomor telpon isteri kita. Selebih dari itu kita tidak ingat apa-apa lagi, karena itu menjadi tugas smart phone mengingatkan kita. Demikian juga GPS yang ada di mobil membawa kita kemana saja tempat yang kita mau tuju, tetapi kadang-kadang ada GPS yang ‘dableg’ suruh kita belok kiri, padahal di kiri hanya ada sungai. Kelemahan GPS sedikit banyak mengurangi daya imajinasi kita dalam dimensi spatial. GPS menyebabkan kita hanya bisa melihat satu bagian kotak, berbeda dengan peta, yang memampukan kita mencari alternatif jalan apa yang bisa kita pilih untuk pergi ke satu tempat. Pada saat yang sama GPS menuntun kita, pada saat yang sama GPS mem-blur direksi jalan kita. Inilah beberapa hal yang unik yang tanpa sadar menjadi efek dari kemajuan teknologi yang kita nikmati, melemahkan daya hafal kita, mengurangi keindahan kita memahami semua dari memori yang sudah ada. Akhirnya juga kadang-kadang mempengaruhi relasi kita dengan orang lain menjadi shallow adanya, karena kita tidak dikuatkan untuk membangun satu relasi berdasarkan ketajaman memori kita.

Itu sebab kontras dengan kalimat Paulus yang indah muncul di sini: “Ingatlah…” (2:8). Apalagikah yang masih dimiliki oleh seorang rasul yang ada di penjara? Tidak ada lagi apa-apa yang dia miliki di situ.

Seorang survivor dari camp konsentrasi Auschwitz, Viktor Frankl menulis satu kalimat, “… I understood how a man who has nothing left in this world still may know bliss, be it only for a brief moment, in the contemplation of his beloved…” Tidak ada apa-apa lagi yang dia miliki di dalam dunia ini, tidak ada uang, tidak ada harta, tidak ada lagi harga diri dan dignitas padanya di tempat itu. Yang tersisa hanyalah memori yang tidak bisa direbut dan dirampas oleh siapapun.

Paulus ditangkap dan dipenjara, dan jelas dari suratnya kita bisa membayangkan situasi yang dia alami, “…dibelenggu seperti seorang penjahat…” (2:9). Diperlakukan sebagai seorang kriminal. Itu tentu di dalam konteks bagaimana kota Roma sebagian besar dibakar oleh Nero waktu itu dan mengkambing-hitamkan orang-orang Kristen sebagai pelakunya. Sdr bisa bayangkan ketegangan rasial, pertentangan agama “gara-gara orang Kristen”, Paulus ditangkap dan kali ini dia diperlakukan sebagai seorang kriminal,  seorang penjahat. Dia dipenjara dan dibelenggu, diperlakukan sama seperti pembunuh, pemerkosa dan orang-orang amoral adanya. Di dalam penjara itu tidak ada lagi yang tersisa kecuali satu, yakni memori yang indah, memori akan karya dan penebusan Tuhan.

Kekuatan apa yang datang kepada Timotius menghadapi kesulitan hidupnya? Kekuatan apa yang ada di dalam diri kita menghadapi perjalanan hidup kita yang sehari-hari ‘in the present time’ seperti ini? Paulus mengajak kita untuk mengingat baik-baik memori ini yang penting, yaitu Injil yang kita kabarkan dan beritakan, itulah yang menjadi kekuatan bagi kita menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada. Bukan kelepasan masa sekarang tetapi pengharapan dan janji yang sudah kita lihat nyata terbukti melalui pengalaman-pengalaman yang lalu Tuhan berkarya di dalam hidup kita.

Paulus meminta kita mengingat dua hal di sini: pertama, Injil yang kita beritakan adalah Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati; dan yang kedua, Yesus Kristus yang kita beritakan lahir sebagai keturunan Daud. Ini penting secara konteks, sebab nanti kalau kita lihat ke belakang, di dalam Gereja Efesus dimana Timotius melayani, ada dua orang yang bernama Himeneus dan Filetus yang sudah mengajarkan hal-hal yang telah merusak iman sebagian orang (2:17-18). Paulus nyata-nyata menyebut nama mereka untuk mengingatkan Timotius, Injil yang Paulus ajarkan berbeda dengan ajaran Himeneus dan Filetus.

Dua aspek yang Paulus sebutkan mengenai Injil yang ia kabarkan sekaligus juga mewakili dua aspek dari pribadi Kristus yang luar biasa ajaib dan misterius. Ia telah bangkit dari antara orang mati, ini menjadi satu tanda Yesus Kristus adalah Ilahi adanya; Ia adalah Tuhan yang sejati. Tetapi sekaligus, ada aspek Ia lahir dari keturunan Daud, berarti Ia adalah sungguh-sungguh Manusia yang sejati adanya. Maka dua aspek ini sekaligus memperlihatkan kepada kita keunikan Tuhan Yesus Kristus. Ia satu Pribadi yang memiliki dua sifat: Ia adalah 100% Allah dan 100% Manusia adanya. Ini adalah kebenaran yang sungguh menguatkan dan menolong Paulus dan ini juga kekuatan yang menopang hidup kita.

Dalam Roma 6:4, Efesus 1:19-20 dan 1 Korintus 15:20-22, Paulus memberikan konsep mengenai kelahiran baru apakah mungkin dengan konsep lahir baru yang dimengerti oleh Paulus juga sebagai kebangkitan rohani disalah-mengerti oleh Himeneus dan Filetus? Yaitu mereka mengatakan tidak perlu lagi ada kebangkitan karena kita sudah bangkit. Perhatikan baik-baik, kenapa kuasa kebangkitan Kristus menjadi kekuatan yang penting? Sebab ketika kita lahir baru, ketika kita menerima Kristus, kita bangkit dari mati rohani menjadi hidup secara rohani. Itu terjadi di dalam kematian Kristus secara fisik dan di dalam kebangkitan Kristus secara fisik, kita dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus di situ. Itu yang dikatakan Paulus dalam Roma 6:4 ketika kita percaya Tuhan, hidup kita tidak lagi sama seperti sebelum kita tidak percaya Tuhan karena kita sudah hidup di dalam hidup yang baru. Ada kuasa kebangkitan Kristus di dalamnya, kuasa kebangkitan yang menciptakan sikap dan attitude baru dalam hidup kita yang tidak mau lagi cinta terhadap dosa dan hidup baru adalah hidup yang membuat kita keluar dari kematian yang dihasilkan dan belenggu dosa. Itu sudah cukup menjadi kekuatan bagi kita menghadapi hal-hal yang terjadi di dalam hidup ini. Tetapi kebangkitan rohani karena kita sudah lahir baru akan dinyatakan Allah dengan indah lagi sampai kita menanti kebangkitan kita yang mulia adanya.

Ini Injil yang kuberitakan, Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati, menjadi satu bukti Ia adalah Tuhan yang Ilahi adanya. Sehingga pada waktu murid-murid pergi ke kubur untuk melihat mayat Yesus, malaikat berkata, “Mengapa engkau mencari Dia yang hidup di antara orang mati?” Tetapi Yesus bukan saja Tuhan yang Ilahi, maka Paulus memakai satu kalimat yang penting: Ia juga lahir dari keturunan Daud. Ayat ini penting untuk mengingatkan kita. Yesus lahir sebagai Manusia sebagai penggenapan dari janji Allah yang setia kepada kita terbukti di dalam sejarah. Janji itu telah diberi kepada Abraham dua ribu tahun sebelum Kristus datang; janji itu telah diberi kepada Daud seribu tahun sebelumnya. Ia adalah Allah yang berjanji dengan setia dan salah satu bukti Allah setia dengan janjiNya adalah dengan memberikan Yesus Kristus lahir dari keturunan Daud, sebagaimana yang sudah Allah janjikan bahkan dari Adam dan Hawa (Kejadian 3:16), janji itu telah ternyata dengan kelahiran Tuhan Yesus dari keturunan Daud.

Dalam 2 Samuel 7:12-16 Tuhan berjanji kepada Daud, “Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, tahtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.” Ini tidak boleh kita tafsir janji secara fisik, berarti kelak akan muncul kerajaan Israel yang akan memerintah selama-lamanya. Janji ini harus dimengerti secara spiritual bahwa akan ada satu keturunan dari Daud yang akan menjadi Raja untuk selama-lamanya. Yeremia 36:30 “Sebab itu beginilah firman Tuhan tentang Yoyakim, raja Yehuda: ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas tahta Daud…” Apakah janji Tuhan putus? Tuhan telah berjanji kepada Daud, keturunanmu akan kokoh untuk selama-lamanya. Lalu lahirlah beberapa raja turun-temurun dalam kerajaan itu dan di belakang, beberapa raja berbuat jahat di mata Tuhan dan sampai kepada Yoyakim, raja yang jahat ini, akhirnya kerajaan itu habis dihancurkan oleh Babel. Putuskah janji Tuhan itu? Alkitab begitu luar biasa. Tuhan menyuruh Matius dan Lukas menuliskan dengan teliti silsilah dari Yesus Kristus, dan pada waktu kita membaca dan membandingkannya kita akan menemukan sebenarnya dua silsilah itu tidak sama. Kita melihat Matius 1:6 “Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria…” Tuhan berjanji kepada Daud, “keturunanmu akan kokoh untuk selama-lamanya.” Dan dari garis Daud, keturunan raja secara kelihatan duduk di atas tahta adalah raja Salomo dan turun kepada raja selanjutnya. Dari garis keturunan itu sampai kepada raja Yoyakim, Tuhan mengatakan keturunannya tidak akan duduk di atas tahta Daud. Apakah berarti Tuhan telah menganulir janjiNya oleh karena dosa yang diperbuat oleh manusia? Kita membandingkan catatan silsilah yang ditulis oleh Lukas, “Anak Melea, anak Mina, akan Matata, anak Natan, anak Daud, anak Isai…”(Lukas 3:31). Catatan silsilah Matius menulis dari Daud turun kepada Salomo, tetapi catatan silsilah Lukas menulis dari Daud turun kepada Natan. Kenapa catatan ini berbeda? Kita melihat 1 Tawarikh 3:5 “Inilah yang lahir bagi Daud di Yerusalem: Simea, Sobab, Natan dan Salomo, empat orang dari Batsyua…” Batsyua adalah Batsyeba, isteri Uria. Anak Daud yang lahir dari Batsyeba ada empat orang ini. Silsilah dari Matius adalah silsilah dari garis Yusuf yang adalah keturunan Daud melalui Salomo, sedangkan silsilah dari Lukas adalah silsilah dari garis Maria yang adalah keturunan Daud melalui Natan. Tuhan sediakan satu garis keturunan yang secara fisik tidak duduk di tahta raja, tetapi Natan adalah seorang anak raja, dan dari garis itu turunlah kepada Maria. Dan ingatkan catatan penting dari Matius, walaupun ia mencatat silsilah dari garis keturunan Yusuf, Matius begitu peka menulis, “Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus…” (Matius 1:16) dengan memakai kata ‘melahirkan’ dalam bentuk “feminine gender” berarti tidak ada benih laki-laki dalam kelahiran Yesus Kristus. Maka dari sini kita melihat janji Tuhan bahwa keturunan Daud itu akan bertahta untuk selama-lamanya tergenapi oleh Yesus Kristus.

Waktu janji Tuhan seolah putus, kita kaget. Tuhan, bukankah Engkau sudah berjanji, Engkau akan pelihara, Engkau akan jaga, Engkau tetap sertai, kenapa hal seperti ini terjadi? Tuhan ingatkan, jangan salah, janjiKu disertai dengan konsekuensi dan tanggung jawab, apakah engkau setia atau tidak? Dan di tengah-tengah perjalanan keturunan Salomo tidak setia, maka Tuhan mencabut janji itu dari mereka. Tetapi Tuhan menurunkan janji itu kepada garis keturunan Daud yang setia, yaitu melalui Natan, menurunkan Seseorang yang akan duduk di atas tahta Daud untuk selama-lamanya, sesuai dengan janji Tuhan itu.

Maka ketika Paulus mengatakan inilah Injil yang aku beritakan, Injil ini harus kita ingat terus-menerus sebagai kekuatan memori kita, ketika kita tidak punya apa-apa lagi, kita tahu satu kali kelak kita akan bangkit bersama-sama Kristus; kita tahu Ia adalah Manusia Sejati yang lahir sebagai anak keturunan Daud, dari janji Allah yang setia selama ribuan tahun itu, kita bisa pegang janjiNya akan tergenapi selama-lamanya. Keturunan Daud yaitu Yesus Kristus, Dialah Raja yang bertahta untuk selama-lamanya. Dua ayat ini menjadi satu kekuatan penting dari Paulus kepada Timotius untuk terus melayani Injil.

Kemudian setelah itu Paulus menggunakan satu puisi (2 Timotius 2:11-13) untuk mengingatkan Timotius, “Benarlah perkataan ini, this is the trustworthy saying…” Ini adalah perkataan yang dapat kita sandari, ini kekuatan yang engkau pegang di dalam hidupmu sebagai seorang yang melayani Tuhan dan sebagai seorang anak Tuhan. Bisa jadi ini adalah bagian dari puisi atau syair lagu yang diingat dan dihafal oleh Jemaat pada waktu itu. Jangan lupa, pada waktu itu mereka belum memiliki Alkitab seperti kita sekarang, dan kebanyakan mereka mengingat kata-kata yang pendek dan singkat dalam bentuk syair lagu seperti ini menjadi kalimat yang merefleksikan kebenaran firman Tuhan. Perkataan ini berbicara mengenai fase kita bertobat, kita menjalani kehidupan Kekristenan kita, dan di tengah perjalanan itu, bagaimana? Pertama, ini bicara soal awal dari pertobatan kita, “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia…” (ayat 11). Pada waktu kita mati bersama Kristus, kita percaya kelak kita akan hidup dengan Kristus untuk selamanya. Pada waktu kita bertobat, itu tandanya kita mati bersama Kristus. Kita dikubur di dalam kematianNya, dan kita bangkit bersama di dalam kebangkitanNya. Kedua, Paulus bicara mengenai perjalanan hidup kita setelah menjadi anak Tuhan, adakah perseverance di dalamnya. “Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia…” (ayat 12). Tahan terus di dalam iman sampai akhir, menjadi orang Kristen yang imannya terbukti sampai akhir. “Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya” (ayat 13). Ada perbedaan di antara dua kalimat ini, karena kata ‘menyangkal’ di sini bicara mengenai orang yang belum lahir baru, yang dari luar mengaku sebagai orang percaya tetapi di tengah jalan kemudian pergi meninggalkan Tuhan dan menolak Dia, jangan pikir dia yang menolak Tuhan, karena Tuhan pun akan menolak Dia. Tetapi sebaliknya kalimat yang di bawah bicara mengenai orang Kristen di dalam perjalanan hidup kelihatan mungkin mirip dengan orang tadi itu tetapi beda, sebab ini adalah orang yang sudah lahir baru tetapi di tengah kesulitan hidup, di tengah tantangan dan aniaya, mungkin kehilangan kesetiaan iman secara sementara. Seperti Petrus pada waktu di tengah kesendiriannya tidak berani mengaku murid Yesus dan menyangkal Dia tiga kali. Tetapi setelah itu dia sedih, dia menangis, dan dia bertobat. Kadang-kadang ada orang hidup seperti Petrus, mengalami tantangan, kesulitan dan aniaya yang terlalu berat sehingga dia tidak mencerminkan dan mencetuskan dengan kelihatan imannya. Tuhan mengerti di tengah kesulitan seperti itu. Ayat ini menjadi kekuatan bagi Timotius, di tengah perjalanan hidupnya mungkin ia menghadapi hal-hal seperti itu. Waktu kita kecewa, waktu kita mengalami kesulitan, ada bagian firman Tuhan yang memberikan penghiburan, Tuhan tidak pernah menyangkal kesetiaanNya.

Paulus memberi ilustrasi kepada Timotius dan setiap kita seperti seorang pekerja (labor). “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus-terang memberitakan perkataan kebenaran itu…” (ayat 15). Terjemahan bahasa Inggris lebih teliti memakai kalimat “correctly handle the Word of God…” ketimbang kalimat “terus terang memberitakan…”untuk kata “ortos” di ayat ini. Kata “ortos” punya akar kata yang sama dengan kata “orthopaedic” dan “orthodox.” Seorang pekerja yang dengan lurus menyampaikan kebenaran Tuhan. Ini adalah panggilan yang penting bagi seorang hamba Tuhan. Tugas tanggung jawab seorang hamba Tuhan bukan saja menggembalakan dan melayani jemaat, tetapi juga bagaimana meng-handle firman Tuhan dengan benar dan setia adanya.

Dengan memakai kata “corectly handle” berarti setiap hamba Tuhan dipanggil untuk menggali baik-baik, betapa kaya dan limpahnya firman Tuhan itu, tetapi celakanya betapa dangkalnya yang disampaikan di atas mimbar. Kita seharusnya meng-eksposisi firman Tuhan, menggali dalam-dalam, sehingga seperti ladang minyak yang melimpah-limpah keluar, setiap orang mendengar dan menikmatinya. Betapa sedih, setelah firman Tuhan yang indah dibaca, makin dikhotbahkan makin menjadi kabur dan membingungkan.

Kita tidak boleh menjadi seorang pekerja yang malas. Paulus sengaja memakai kata ‘pekerja’ (labor) menjadi seorang yang rajin menggali firman Tuhan, rajin meng-handle firman Tuhan dengan correctly. Berarti bukan sekedar membaca firman Tuhan, tetapi menggalinya, merenungkannya baik-baik dan menyampaikannya dengan lurus dan setia. Saya percaya tidak mungkin kita akan bisa mendapatkan keindahan firman Tuhan kalau kita baca bahan Saat Teduh yang judulnya “Satu Menit bersama Tuhan.” Saya harap panggilan Paulus ini juga mengingatkan setiap kita untuk rajin, rajin melayani, rajin menggali baik-baik dan memberitakan firman Tuhan dengan setia, dengan baik, dengan tulus, dengan jujur dan dengan indah dan kaya. Kenapa? Karena kita bisa melihat Timotius menghadapi tantangan dari ajaran-ajaran yang tidak benar di sekitarnya (band. 2 Timotius 4:3-4).

Kita harus mencintai Tuhan dengan serius, kita juga harus mencintai firmanNya dengan serius dan kita jangan terlalu memperhatikan diri sendiri lebih penting daripada firman dan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan meminta setiap orang Kristen belajar firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Maka panggilan saya, jangan abaikan memprioritaskan waktu untuk membaca firman Tuhan setiap hari, gali firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, renungkan baik-baik, sudah berapa lama engkau ikut Tuhan, sudah berapa kaya engkau memahami firman Tuhan; sudah berapa dalam engkau mengerti firman Tuhan. Ini kerinduan Tuhan memanggil setiap kita bertumbuh di dalam firman, supaya kebenaran dan kekayaan firman itu memenuhi setiap hidup kita. Biar dengan setia kita ikut Tuhan, karena Tuhan itu setia adanya. Biar itu boleh menjadi kekuatan bagi setiap kita menghadapi perjalanan hidup kita hari lepas hari. Tuhan yang setia selalu memegang janjiNya dengan setia. Kita mengaku kita sering tidak setia kepada Tuhan, tetapi sekaligus kita bersyukur di tengah tidak mampu dan tidak kuat kita memegang tangan Tuhan, tangan Tuhan yang kuat itulah yang memegang tangan kita dengan teguh. Di situ kita menjadi teduh, aman di dalam naungan Tuhan.(kz)