04. MASIHKAH ENGKAU PERCAYA PENYERTAANNYA?

SERI KHOTBAH “PENYERTAAN TUHAN” – 4

PDT. EFFENDI SUSANTO STH.

Daniel 1:1-2, 3:17-18; Ibrani 5:7-10

16/9/2012

 

Di dalam perjalanan hidup yang mudah berubah, yang sementara, yang diikat oleh limitasi waktu, bagaimana janji penyertaan Tuhan itu memberi kekuatan kepada setiap situasi yang mungkin kita alami? Masihkah engkau percaya Tuhan sepenuhnya mengontrol hidupmu jikalau kejayaan dan kesuksesanmu hilang lenyap dan sampai engkau tua semua itu tidak pernah kembali lagi? Masihkah engkau percaya Allah beserta memelihara dan Allah memiliki maksud dan rencana yang indah bagimu jikalau kesehatan dan kekuatan fisikmu hilang diganti dengan sakit-penyakit yang tidak henti-hentinya menderamu? Mungkinkah engkau masih bisa melihat keindahan dan keagungan Tuhan jikalau segala pleasure dan kenyamanan hidup yang pernah engkau nikmati telah dijarah dan dirampas habis dari hidupmu?

 

Daniel pasal 1 bicara akan hal itu semua. Bahkan bukan saja kebanggaan, kejayaan, kesuksesan, kemegahan itu hilang lenyap dari kehidupan orang-orang ini, penistaan dan penghinaan datang lebih lanjut dengan cara orang Babel merubah nama mereka. Di dalam nama mereka ada kebanggaan identitas bahwa mereka penyembah Yahweh Elohim, Allah yang sejati. Nama Daniel, Hananya, Misael, Azarya, pada nama-nama mereka ada kata “EL” dari “Elohim” dan “YA” dari “Yahweh” itu memberi identitas iman kepercayaan mereka. Nama-nama mereka diganti dengan identitas dewa-dewa Babel. Semua itu menjadi sign dan tanda atribut mereka, kebanggaan mereka sebagai umat Tuhan dipreteli satu persatu. Mungkin secara fisik mereka tidak diperlakukan dengan kejam, bahkan mereka diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan fasilitas edukasi terbaik di istana. Tetapi mereka menerima itu semua dengan satu “kompensasi” menelan harga diri dan rasa malu. Tetapi puji Tuhan, anak-anak muda ini tidak menaruh atribut kebanggaan mereka kepada simbol-simbol agama, tidak kepada gedung Bait Allah, tidak kepada identitas lahiriah lainnya. Jauh lebih penting daripada semua itu, mereka tetap percaya Allah menyertai dan memelihara mereka di situ.

 

Daniel 1:1-2 dibuka dengan satu catatan singkat namun betapa dahsyat impact yang sesungguhnya terjadi kepada bangsa Israel. Dari fenomena yang kelihatan, Nebukadnezar sukses, Nebukadnezar bangga berhasil mengalahkan kerajaan Israel dan dia dengan pongah mengambil semua perkakas yang berharga dan menghancurkan apa yang tidak bisa dibawa ke negerinya. Ia mengambil semua itu sebagai satu tanda raja dan Tuhan orang Israel sudah dia kalahkan. Dan secara simbolik semua perkakas dari Bait Allah yang dianggap mewakili keberadaan Allah sendiri dibawa ke rumah dewanya untuk menjadi tanda Allah sudah dikalahkan dan ditaklukkan oleh dewa orang Babel. Tetapi Alkitab mengatakan dengan clear dan jelas, bukan Nebukadnezar yang melakukan semua itu melainkan Tuhan Allah sendiri yang serahkan. Tuhan sendiri tidak merasa perlu untuk mempertahankan dan menyimpan segala kebanggaan jikalau itu semua telah membuat umatNya menggantikan diri Allah sendiri. Gedung Bait Allah yang megah, itu bukan identitas yang penting dalam berbakti kepada Tuhan.

 

Mungkinkah engkau masih bisa berbakti kepada Tuhan jikalau rumah ibadah yang megah itu dihancurkan orang? Mungkinkah engkau masih bisa mencintai Tuhan dan berbangga sebagai anak Tuhan jikalau kalung salib itu dicabut orang dari lehermu? Mungkinkah engkau masih bisa percaya Tuhan itu sepenuhnya mengatur dan mengontrol ketika engkau tidak lagi bisa bebas pergi beribadah ke Gereja dan seluruh atribut rohani kita sebagai orang Kristen diambil dan dirampas dan dibakar? Kebanggaan apa lagi yang masih tersisa?

Pada waktu situasi hidup kita sama seperti anak-anak muda ini dan kita mungkin diperhadapkan dengan api yang membara yang bisa membakar habis tubuh fisik kita, bagaimana janji firman Tuhan, kekuatan kebenaran firman Tuhan yang kita terima itu memimpin dan memelihara hati kita. Apa yang terjadi jikalau kita diminta untuk menyangkal iman dan percaya kita kepada Tuhan untuk mengganti keselamatan kita?

 

Tiga anak muda ini, Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang diperhadapkan dengan api yang siap membakar mengatakan, “Tidak. Kami tidak akan menyembah patung emas yang raja buat.” Pernyataan ketiga anak muda ini lebih baik dibaca tanpa ada kata “jika” di depannya, karena dalam bahasa aslinya memang tidak ada. Kata “jika” bisa memberikan indikasi ketiga anak muda ini sendiri masih ragu, masih kurang yakin akan kesanggupan Allah melepaskan dan membebaskan mereka dari situasi yang berat dan sulit itu. Mereka jelas tidak meragukan kekuatan dan kuasa Tuhan di situ. “Allah yang kami puja dan sembah sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala dan dari tangan raja. Tetapi seandainya Ia tidak berkehendak, kami tidak akan memuja dewa tuanku dan kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan” (Daniel 3:17-18).

 

Saya percaya persoalan bagaimana memberi jawaban yang baik dan memuaskan kepada orang-orang yang mengalami problema kejahatan, evil dan suffering terjadi di dalam hidup mereka betapa susah dan sulit luar biasa. Kita bisa membagi evil dan suffering yang dialami oleh manusia itu dalam dua aspek, kalau mungkin itu terjadi akibat relasi dengan orang, misalnya orang melakukan satu kesalahan atau kejahatan kepada kita, atau kita merasa kita telah berbuat salah dan akibatnya ada kesulitan menimpa kita, walaupun sulit kita mungkin bisa menerimanya. Tetapi penderitaan yang terjadi berkaitan dengan natural disaster, berkaitan dengan bencana alam, yang tidak ada kaitannya secara personal dengan diri orang, betapa sulit mencari jawaban kenapa hal itu terjadi dan menimpa orang itu. Ada orang-orang yang sendiri sudah susah dan miskin, kemudian ditimpa bencana dan gelombang tsunami, habis seluruh hidup mereka tidak ada yang tersisa. Kita mungkin akan bertanya, kenapa Tuhan membiarkan hal-hal seperti ini terjadi?

 

Ada seorang teolog yang walaupun mungkin tidak Injili, dia memberikan satu jawaban yang cukup baik, namanya John Hicks. Kita percaya Allah yang kita sembah itu baik dan berkuasa, bagaimana kita tetap percaya Allah seperti itu tidak berubah walaupun kita tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan di tengah-tengah pertanyaan mengapa ada penderitaan dan kesulitan menimpa umat manusia? Pendekatan yang Hicks berikan adalah melihat ada 2 tahap kreatifitas Tuhan di dalam penciptaan. Di dalam karya penciptaan yang begitu kreatif itu merefleksikan karakter dan sifat yang ada dari Tuhan di dalamnya, sehingga kita bisa melihat ada wisdom Tuhan, ada kuasa Tuhan, ada keindahan Tuhan yang di-display di situ begitu sempurna adanya. Tetapi evil iri dengan segala keindahan dan kesempurnaan itu dan merusaknya. Itulah evil yang iri kepada hubungan manusia yang begitu intim dengan Allah; itulah evil yang iri kepada seluruh ciptaan Allah yang begitu indah dimana manusia bisa menikmatinya dan evil akhirnya merusak dan menghancurkan kesempurnaan dan keindahan itu.

Di dalam tahap pertama, Allah menciptakan segala sesuatu di dalam keindahan dan kebaikanNya, engkau bisa melihat the beauty of God’s wisdom, engkau bisa melihat the beauty of His power, engkau bisa melihat keindahan dari bijaksana Tuhan di dalam semua itu. Nanti pada waktu Tuhan datang kembali kepada good creation yang sudah dirusak oleh evil dan dosa, Ia akan merestorasinya kembali indah dan sempurna. Bila hidupmu sudah dirusak oleh dosa dan kejahatan, Tuhan bisa menatanya kembali. Inilah tahap kedua dari kreatifitas Allah yang berkuasa, Ia bisa membuat apa yang sudah dirusak Setan itu di-redeem dan direstorasi olehNya.

Olympics dan Paralympics kira-kira bisa menggambarkan dua tahap ini. Di dalam Olympics kita bisa melihat dalam diri manusia yang Tuhan ciptakan ada power, beauty dan fleksibilitas yang begitu luar biasa. Kita terkagum-kagum akan kekuatan stamina dan kelenturan fisik mereka yang begitu sempurna. Segala potensi yang mungkin ada di dalam diri manusia di display dalam pertandingan Olympics. Tetapi Paralympics perlu ada untuk memperlihatkan kita di dalam ketidak-sempurnaan itu ada jiwa-jiwa yang kuat melampaui segala keterbatasan yang ada. Engkau tidak punya kaki, lalu tidak bergunakah engkau? Engkau tidak punya tangan, tidak bisa berenangkah engkau? Paralympics menggambarkan satu pentas dunia yang sudah dirusak oleh Setan, Tuhan begitu berkuasa, begitu penuh dengan hikmat dan anugerahNya, Dia merestorasi dan menata semua yang sudah rusak, yang tidak sempurna dan perfect itu dijadikan indah olehNya. Paralympics tidak menunjukkan the beauty dari kesempurnaan manusia; Paralympics tidak menunjukkan the power yang bisa dicapai oleh manusia; Paralympics tidak menunjukkan kecantikan dan keindahan fisik manusia; Paralympics tidak menunjukkan kesempurnaan kelenturan manusia. Paralympics menunjukkan kepadamu the power of passion; Paralympics menunjukkan kepadamu the power of persistence; Paralympics menunjukkan kepadamu the power of perseverance; Paralympics menunjukkan kepadamu orang yang cacat sekalipun bisa menyatakan keindahan sukacita kepada dunia ini. Dua-dua itu harus bersanding.

Keindahan dan kesempurnaan dunia ini tidak mencetuskan simpati kita karena begitu perfect adanya. Yang ada hanya kekaguman melihatnya. Tetapi penderitaan dan kesulitan yang datang kepada manusia, dirakit, ditata, direstorasi, didesain lagi oleh Tuhan, sehingga bukan saja kita amazed melihatnya, di dalamnya kita menjadi lebih simpati, kita menjadi lebih berbelas kasihan, kita belajar menghargai kelemahan orang, kita belajar overcome temptations, kita belajar menyingkirkan ketidak-sabaran, kita belajar menjadi rendah hati dan memuliakan Tuhan. Itu yang jauh lebih berharga dan lebih bernilai daripada medali emas yang kita peroleh waktu kita sukses dan berjaya di dalam kesehatan kita.

Maka ini jawaban John Hicks: Tuhan punya dua tahap dalam kreatifitasnya. Yang pertama, Dia menciptakan segala sesuatu dalam kesempurnaan dan keindahan. Kita mau yang seperti ini selalu. Tetapi jangan lupa di dalam ketidak-sempurnaan, di dalam kerusakan yang ada, Allah juga menyatakan kreatifitasNya merestorasi menjadi indah dan agung, membuat kita bisa bertumbuh di dalam aspek-aspek yang tidak akan pernah kita dapatkan pada waktu kita berada dalam kesempurnaan. Kita tidak punya apa-apa lagi yang bisa menjadikan kita kecewa.

Daniel dan teman-temannya mengerti akan hal ini, bahwa kuasa Allah itu tidak pernah berubah; kebaikan Tuhan itu tidak pernah berkurang. Di dalamnya Allah punya cara tersendiri. Kalau Allah mau menyelamatkan saya, itu hal sepele bagiNya. Kalau Allah tidak mau menyelamatkan saya, itu tidak akan pernah mengurangi kebijakanNya dan kuasaNya. Bahkan lebih bodoh lagi kalau saya mau mengganti Tuhanku dengan patung yang tuan dirikan itu.

 

Pada waktu kita mengerti akan penyertaan Tuhan, kalau kita menyadari konsep seperti ini, biar kita memiliki sikap belajar surrender, belajar percaya, respek dan bersandar kepadaNya. Surrender berarti kita tidak pernah bernafsu untuk mengontrol seluruh kehidupan kita, karena memang kita tahu kita tidak akan sanggup bisa melakukannya. Dan kadang-kadang ada pelajaran yang sangat berharga kita pelajari kalau kita ngotot ingin terus mengontrol hidup kita, pada waktu Tuhan memberikan satu situasi di situ kita tidak bisa berbuat apa-apa baru kita bersandar dan pasrah kepada Tuhan yang kita percaya mengatur dan mengontrol hidupku.

 

Ibrani 5:7-10 memperlihatkan penyertaan dan pemeliharaan Allah begitu nyata di dalam diri Yesus Kristus. Allah sanggup bisa melepaskan Yesus dari segala hal, termasuk dari maut sekalipun. Tetapi pada waktu melalui adversary of this life, permusuhan dari dunia ini datang kepada kita melalui kesulitan, penderitaan, air mata, ejekan karena iman kita sebagai orang Kristen, hal-hal yang kita alami seperti itu, mari kita letakkan prinsip yang kedua, yaitu kita masuk ke dalam solidaritas penderitaan bersama dengan Kristus.

 

John Calvin berkata, kalau Yesus yang adalah Anak Allah sendiri tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa, memberikan Yesus melewati kontinuitas hari demi hari menanggung salib di bahunya. Kalau kita menyebut Dia sebagai Saudara Sulung, Allah yang sama juga akan memberikan prinsip pendidikan dan pelajaran yang sama kepada setiap kita. Setiap orang Kristen pasti harus memikul salibnya masing-masing. Kita tidak usah kecewa dan merasa salib kita lebih berat daripada salib orang lain. Kita tidak perlu iri dan merasa salib orang lain lebih ringan daripada salib yang ada di bahu kita. Karena yang kita lihat hanyalah yang di permukaan, kita tidak bisa melihat lebih dalam adanya.

 

Masing-masing kita menanggung dan memikul salib yang tepat dan indah dan cocok, di dalam bijaksana dari Allah. Supaya apa? Supaya di dalamnya kita belajar humble dan taat kepadaNya. Di dalamnya kita bersyukur karena kita bisa melihat semua hal yang terjadi itu adalah bagian dari solidaritas bersama dengan Kristus. Maka pada waktu para rasul dipukul, ditangkap, dipenjara, mereka bisa tetap bersyukur karena mereka boleh menderita bagi Kristus (Kisah Rasul 5:41). Demikian pula Paulus bersukacita untuk penderitaan yang dia alami dia menambahkan apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus (Kolose 1:24).

Ibrani 10:32-36 membuka satu dimensi yang ada di balik penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh anak-anak Tuhan sebagai disiplin yang datangnya dari Tuhan sendiri. Mungkin lebih mudah bagi orang Kristen untuk menerima kalau bad things terjadi dalam hidupnya sebagai sesuatu yang tidak bisa dia tolak dan pada waktu orang lain juga mengalami hal yang sama. Tetapi mungkin kita bisa sedikit “tidak rela” kalau inisiatif disiplin itu datangnya dari Tuhan. Daniel 1:1-2 jelas mengatakan inisiatif itu datang dari Tuhan Allah sendiri untuk menyerahkan segala kemuliaan bangsa Israel kepada Babel. Pada waktu kita melihat penderitaan dan sengsara Tuhan Yesus di atas kayu salib mati bagi kita, nabi Yesaya sendiri mengatakan Tuhan Allah sendiri yang berkehendak meremukkan Dia (Yesaya 53:10). Kita mungkin juga akan merasa sedikit kurang rela kalau Alkitab berkata bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu (Roma 8:28), segala hal tentu bukan saja bicara tentang hal-hal yang baik dalam hidup kita, tetapi itu juga termasuk hal-hal yang tidak baik dalam hidup kita, di situ Tuhan bekerja mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihiNya. God, the Father memakai semua itu menjadi disiplin dan pembentukan bagi hidup kita. Pada waktu itu terjadi, mari kita submit hidup kita dan berkata, “I have the big Brother Jesus Christ, Ia yang paling setia dan faithful; Yang kepadaNya Bapa berkenan, Bapa tidak spare Kristus dari segala hal untuk Dia belajar taat, apalagi kita…”

 

Ada banyak hal mungkin kita tidak bisa menjawab dengan tuntas, dengan jujur dan benar mengapa bencana datang melanda suatu daerah. Saya mungkin tidak bisa memberi penghiburan yang memuaskan dan memadai bagi kesulitan, bencana, sakit yang terus-menerus datang menimpa engkau. Tetapi kalau orang yang dilanda bencana tsunami ketika berhasil diselamatkan lalu mengeluarkan kalimat ini, “Wah, tsunami itu sangat luar biasa, sekarang saya belajar betapa dahsyatnya kuasa alam itu…” Kalau seseorang berhasil sembuh setelah melewati sakit yang sangat parah lalu dia berkata, “Wah, betapa hebat dan pintarnya dokterku…” orang-orang ini missed the point dalam perspektif mereka melihatnya.

 

Wahyu 16:9 memperlihatkan di dalam bencana dan malapetaka yang terjadi pada manusia tidak pernah membuat mereka bertobat dan memuliakan Allah, sebaliknya malah membikin mereka menghujat Allah. Saya tidak mengatakan penderitaan itu datang kepada orang sebagai hukuman Tuhan kepada orang itu; saya juga tidak berkata melalui tsunami dan gempa Tuhan menghukum orang itu. Tetapi saya ingin berkata, orang-orang yang melihat, mengerti dan mengetahui peristiwa yang dahsyat seperti itu telah missed satu aspek tidak melihat maksud Tuhan di baliknya ada warning Tuhan untuk kita sadar apa yang penting dan apa yang harus membuat hati kita kembali kepadaNya. Betul, ada power yang luar biasa pada alam, tetapi pada waktu peristiwa itu terjadi, seharusnya itu menjadi satu warning yang membikin kita gentar gemetar dan self refleksi, di balik dari alam yang begitu dahsyat ada Tuhan yang besar dan dahsyat. Di balik dari kehebatan bijaksananya dokter melakukan pengobatan, di situ kita melihat ada anugerah Tuhan yang besar kepadaku.

Maka kalau kita sampai kepada hal itu kita akan menemukan keindahan di balik bencana dan penderitaan itu. Dengan kata lain, tidak apa-apa ya Tuhan, melalui semua itu saya belajar sesuatu yang jauh lebih indah, jauh lebih penting, jauh lebih agung dari apa yang saya alami. Di situ saya tahu janji penyertaan Tuhan tidak pernah kosong; di situ saya mengetahui kekuatan dan kuasa Tuhan yang begitu ajaib dan kreatif tidak akan pernah bisa dianulir oleh apapun, termasuk oleh kejelekan dan kerusakan yang diciptakan oleh kejahatan sekalipun, Tuhan tetap bisa mempresentasikan sesuatu yang indah di hadapan kita.

 

Di tengah badai yang dahsyat, Tuhan ada di sisi kita; di tengah kelaparan yang melanda, Tuhan mencukupkan kita; di tengah segala penghinaan, cercaan dan kehilangan harga diri, martabat, kebanggaan sekalipun, kita tidak kehilangan Tuhan yang indah dalam hidup kita. Di tengah kita melewati dan menjalani semuanya ini kita tahu Bapa yang baik sedang membentuk dan mendisiplin kita. Kita bersukacita sebab kita boleh berbagian di dalam penderitaan bersama dengan Kristus supaya kita bisa melihat keajaiban kemuliaan di dalam berkat Tuhan nantinya. (kz)