18. Lembaran Hidup yang Baru

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 14/7/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (18)

Nats: Keluaran 14:15-31, 15

 

Tidak ada orang yang tidak pernah mengenal kisah ini, dari anak kecil sampai orang dewasa, semua tahu ini adalah satu cerita yang penting, satu klimaks yang ada di dalam kitab Keluaran, yaitu bagaimana Tuhan dengan kuasaNya yang besar dan agung membelah laut Teberau dan menyelamatkan orang Israel dari kejaran tentara Mesir. Ini adalah peristiwa dimana Tuhan berkarya menyelesaikan semua musuh yang melawan Tuhan, dimana Tuhan menyatakan keadilanNya terhadap setiap ketidak-adilan yang dialami oleh bangsa Israel di tengah penderitaan mereka akibat perbudakan, penindasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Firaun. Tuhan menjatuhkan sepuluh tulah sebagai hukuman dan warning yang membuat orang Mesir seharusnya sadar siapa Tuhan itu dan menyembahNya dengan takut dan hormat karena Ia adalah Allah yang patut menerima puji selama-lamanya. Klimaks yang pertama ini menyatakan satu lembaran baru dibuka, lembaran baru dari sisi bangsa Israel, meninggalkan lembaran lama dari negeri Mesir memasuki lembaran baru sebagai umat yang bebas dan umat yang telah ditebus oleh Tuhan melewati peristiwa ini.

Namun sesungguhnya ada tiga klimaks yang penting luar biasa di dalam kitab Keluaran. Klimaks yang kedua adalah peristiwa Tuhan turun di gunung Sinai menyatakan diri di dalam satu perjanjian kepada umat Israel yang sudah Tuhan tebus, umat yang menjadi milik Tuhan. Menjadi milik Tuhan berarti kita akan hidup seturut dengan siapa Tuhan yang kita sembah. Menjadi milik Tuhan berarti Tuhan itulah yang menentukan bagaimana umatNya datang berbakti dan bagaimana orang dari bangsa-bangsa lain tahu ini adalah umat yang ditebus oleh Tuhan. Maka terjadilah perjanjian di gunung Sinai itu dan Tuhan memberikan Sepuluh Hukum sebagai prinsip dasar yang paling penting untuk hidup sebagai umat Allah (Keluaran 19-20). “Akulah YAHWEH, Allahmu. Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu…” Ia adalah satu-satunya Allah yang sejati dan Ia adalah Allah yang telah menebus dan melepaskanmu dari perbudakan. Tidak boleh kita membuat apapun yang lain sebagai allah kita, baik itu yang kelihatan berupa patung berhala maupun hal-hal lain yang kita bersandar kepadanya. Dan selanjutnya Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar moral bagaimana hidup sebagai umat Allah yang hidup seturut dengan sifat Allah yang kita sembah itu.

Lalu klimaks yang ketiga muncul dalam Keluaran 40 setelah Tuhan menyuruh umat Israel membangun Kemah Suci sebagai satu tempat dimana mereka berbakti dan menyembah Allah. Setelah Kemah Suci itu selesai dibuat, maka kemuliaan Allah memenuhi Kemah Suci itu. Tuhan hadir di dalam kemuliaanNya sepenuhnya ketika kita berbakti dengan benar dan sungguh di hadapanNya. Sekaligus ini adalah satu “foretaste” Imanuel, Allah beserta dengan kita. Dimulai dengan datangnya Allah Anak di dalam darah dan daging, Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaanNya (Yohanes 1:14). Kata ‘diam’ itu berarti Allah ‘tabernacle’ di tengah-tengah kita. Itulah arti Imanuel, Allah beserta kita. Nanti sampai kepada kitab Wahyu, konsep hadirnya Allah Imanuel beserta kita selama-lamanya di dalam Kemah Suci di kota Yerusalem baru dimana Allah yang kudus turun dari surga (Wahyu 21:3).

Itulah pola yang terjadi kepada kita juga. Kita hadir pada hari ini sebab Allah sudah berkarya di dalam hidup kita, menebus dan membawa kita keluar dari perbudakan dosa. Kekristenan bukan sejumlah peraturan bagaimana membuat kita menjadi orang baik, supaya dengan mentaati peraturan-peraturan itu kita bisa katakan kepada Tuhan kita sudah cukup baik dan layak di hadapanNya. Kekristenan bicara soal keselamatan yang Tuhan beri kepada kita bukan karena usaha kita, melainkan semata-mata anugerah dan belas kasihan Tuhan belaka. Itulah berita Injil, itulah keselamatan yang Tuhan beri kepada kita.

Dengan demikian tidak heran kenapa di awal dari Pengakuan Iman Westminster kita ditanya, apa yang menjadi tujuan hidup kita, tidak lain dan tidak bukan yaitu supaya kita boleh memuliakan Tuhan di dalam setiap aspek hidup yang sudah Tuhan tebus ini. Glorify God berarti menjadikan Tuhan seperti apa adanya Dia di dalam hidup kita. Glorify God berarti tidak ada lagi passion yang lebih penting di dalam hidup kita selain kita menjadikan Tuhan itu agung, mulia dan yang terutama di dalam hidup kita lebih daripada segala-galanya. Dan kepada orang yang menjadikan Tuhan Allah lebih agung dan lebih utama di dalam hidupnya, berlakulah janji yang Ia katakan di dalam Matius 6:33, barangsiapa mengutamakan Tuhan di dalam hidupnya, mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaranNya terlebih dahulu maka Allah akan mem-provide segala sesuatu yang ia butuhkan di dalam hidupnya. Itulah sebabnya hati kita akan selalu damai dan tenang adanya pada waktu kita tahu kita berjalan di depan, kita hanya ingin memuliakan Tuhan. Yang lain Tuhan akan sediakan dan lengkapkan bagi kita. Ia tidak akan pernah membiarkan dan mengabaikan kita. Bahkan termasuk di saat kita mengalami penderitaan dan kesulitan sekalipun kita percaya di situ ada anugerah Tuhan dan kemuliaan Tuhan terjadi. Itulah sebabnya kita bersyukur melalui kitab Keluaran ini kita bisa melihat pola itu, melepaskan kita dari perbudakan dosa, memimpin kita bagaimana hidup di dalam anugerah Tuhan sebagai anak-anak Tuhan, dan tidak berhenti sampai di situ, kita nantinya akan bertemu dengan Dia di dalam kemuliaanNya, karena itulah yang paling penting adanya: Allah hadir diam bersama-sama dengan kita.

Keluaran 14, dimana kira-kira lokasi tempat dimana Tuhan membelah laut menjadi dua itu? Di dalam bahasa aslinya, laut teberau ini memakai kata “yam-suph” yang di dalam Keluaran 2:3 diterjemahkan dengan ‘teberau’ atau reed atau buluh, dan kalau memang kata “suf” disini berarti “reed” yaitu tanaman buluh yang tentunya tidak akan tumbuh di tempat yang dalam di laut, tetapi lebih kepada daerah delta yang lebih dangkal airnya. Sehingga dalam terjemahan bahasa Inggris akan lebih kelihatan, “Red Sea” ataukah “Reed Sea.” Itulah sebabnya sejak lama terjadi perdebatan di antara penafsir, di bagian manakah tepatnya lokasi Tuhan membelah laut untuk menyeberangkan umat Israel itu. Kalau itu adalah “Red Sea” maka mengacu kepada laut yang dalam yang membelah benua Afrika dengan Arab Peninsula. Tetapi ujung dari “Red Sea” itu memanjang sampai kepada delta yang sekarang ini kita kenal dengan terusan Suez. Ujung laut ini melewati beberapa daerah dan danau-danau kecil di sekitar tanah Gosyen di bagian sebelah timur delta. Akibatnya ada penafsir yang dengan pesimis mengatakan kemungkinan orang Israel itu tidak menyeberangi laut yang dalam, tetapi cuma di daerah rawa-rawa saja karena di situlah buluh papirus itu tumbuh, sehingga fenomena itu bisa dijelaskan sebagai gejala alam yang natural dan bukan sebuah mujizat yang spektakuler. Namun Alkitab mencatat dengan mendetail sebagai seorang saksi mata yang ada dan mengalami perisitwa mujizat itu secara real. Dia bicara soal bagaimana air laut itu terbelah dan menjadi tembok bagi mereka. Jadi meskipun kita tidak tahu dengan jelas dimana lokasi peristiwa ini terjadi, yang pasti dengan gambaran adanya tembok air ini setidaknya kita tahu air laut yang terbelah dua itu berada di lokasi laut yang cukup dalam. Bagaimana bisa air terbelah seperti itu kalau mereka mencoba menjelaskannya sebagai siklus pasang surut air laut?

Kita bisa melihat dan menyaksikan, peristiwa terbelahnya laut ini adalah satu karya pekerjaan Allah campur tangan dengan kuasaNya. Allah memang tidak secara langsung melakukan banyak hal yang direct, turun dari surga ke dalam hidup kita. Ia bisa menggunakan hal-hal yang Ia ciptakan di dalam alam semesta ini menggenapkan maksud dan rencanaNya. Tetapi pada waktu Allah menggunakan hal-hal yang bersifat alamiah, kemampuan dan kepintaran manusia di dalam dunia ini, tetap tidak boleh melepaskan kekaguman kita dan hati pikiran kita yang bersyukur dan mengatakan itu melampaui akal pengertian kita. Kita tahu dan kita bersyukur kepada Tuhan yang memberikan bijaksana di dalam diri manusia untuk mengenal keindahan dan keagungan harmoni ciptaan Tuhan terhadap tubuh manusia, sehingga kemajuan ilmu kedokteran bisa mendapatkan berbagai penemuan yang baik. Waktu kita sakit, Tuhan bisa memakai kepandaian para dokter dan kemajuan ilmu kedokteran untuk mendatangkan pengobatan dan kesembuhan kepada kita. Tetapi di balik daripada sarana alam, kepintaran dan bijaksana manusia yang menemukan kehebatan yang Tuhan kerjakan di dalam dunia ini, itu tidak boleh membuat hati kita tidak takluk dan bersyukur kepada Tuhan, menyadari betapa ajaibnya Tuhan sudah menyelamatkan dan menyembuhkan kita.

Dalam surat Paulus kepada Jemaat Korintus, Paulus menjadikan peristiwa itu sebagai suatu perbandingan dengan hidup rohani kita. Paulus berkata, “…nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut…” (1 Korintus 10:1-2). Menarik sekali, Paulus menyebut keluarnya bangsa Israel berjalan melewati tanah kering dasar laut ini dengan sebutan “pembaptisan.” Dengan demikian Paulus ingin membandingkan kita yang waktu percaya Yesus Kristus dan menyatakan pengakuan kita ini di depan publik dengan menerima Sakramen Baptisan, memiliki makna yang seperti itu. Tidak berarti meskipun Paulus menyebut peristiwa menyeberangi laut itu sebagai baptisan lalu Paulus mengecilkan makna mujizat yang terjadi di situ. Tetapi dengan menyebut seperti itu dengan kata lain Paulus ingin memberitahukan kepada kita, kita tidak lagi melewati laut sepeti bangsa Israel tetapi kita melewati pengalaman bagaimana menjadi umat Tuhan yang terjadi di dalam baptisan kita, itu adalah perpindahan yang penting, perpindahan dari dunia perbudakan dosa kita masuk ke dalam hidup yang baru adanya.

Kenapa bangsa Israel perlu melewati peristiwa ini? Supaya pengalaman ini menjadi satu ingatan bagi mereka bahwa mereka sekarang adalah umat Tuhan dan bukan lagi bangsa yang diperbudak.

Sebelum peristiwa penyeberangan laut ini, kita menemukan situasi yang nantinya akan terus berulang dan berulang menjadi pola spiritualitas mereka. Pada waktu mereka berada di tepi laut, pada waktu tidak ada pertolongan yang bisa mereka dapatkan dan tidak ada lagi pengharapan, maka mereka ingin balik kembali ke Mesir (Keluaran 14:11). Setiap kali mereka menghadapi kesulitan, berulang lagi mereka mengingat betapa manisnya hidup di Mesir, betapa enak dan indahnya hidup di dalam perbudakan Mesir. Ironis, bukan?

Alkitab mengingatkan betapa tricky-nya dosa itu. Roma 6:20 mengatakan, “Sebab pada waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.” Tidak selamanya orang yang ikut Tuhan dan menjauhi dosa, hidupnya akan lebih bahagia, lebih sehat, lebih lancar dan lebih sukses. Tidak selamanya orang yang menentang Tuhan dan hidup dalam dosa, hidupnya dalam kesulitan dan kesengsaraan. Dalam Mazmur 73 pemazmur mengatakan, kenapa orang yang tidak percaya Tuhan makin gemuk dan makin makmur? Kenapa segala usaha yang dikerjakannya berhasil? Anak cucunya banyak. Apa saja yang dia lakukan dihargai dan dihormati. Sedangkan orang yang beriman dan percaya Tuhan, mengapa justru kesengsaraan, penderitaan dan kesulitan tidak pernah berhenti datang ke dalam hidupnya? Maka terjadilah kebingungan iman seperti ini. Kalau axioma yang berlaku adalah orang yang beriman kepada Tuhan akan selalu sukses dan bahagia, sedangkan orang yang diperbudak oleh dosa melulu hidup sengsara, pasti orang itu ingin segera keluar dan lepas dari dosa. Orang yang diperlakukan tidak adil, orang yang mengalami tekanan, orang yang mengalami kesengsaraan pasti punya keinginan untuk keluar dan lepas dari situasi itu. Tetapi ayat ini memberikan kita satu pengertian dan dimensi yang berbeda. Kenapa orang terus stay di dalam dosa? Kenapa orang merasa convenient hidup di dalam dosa? Kenapa mereka tidak sadar? Sebab di dalam perbudakan dosa engkau bebas. Tetapi sekaligus ayat ini mengingatkan kita, kebebasan yang ada adalah kebebasan yang  berbahaya, karena bebas dari kebenaran, bebas dari yang terang, bebas dari kesucian. Persoalannya adalah orang yang hidup di dalam dosa tidak peduli akan hal-hal itu. Yang mereka pentingkan adalah selama mereka tidak dipersulit oleh dosa, selama mereka boleh terus menikmati kebebasan dan kesenangan di dalamnya, mereka menikmati di situ. Sampai pada satu titik dimana jerat dosa itu membuatnya tidak bisa lepas lagi, baru di situ dia sadar akan bahaya dari sifat dosa itu.

Yang kedua, yang sangat unik adalah Keluaran 14 dan masuk ke dalam perjalanan bangsa Israel sebagai umat yang baru di dalam Keluaran 16, dibuka dengan Keluaran 15, sebuah pujian mazmur dari Musa. Kita bandingkan dalam Wahyu 15:3 “Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba…” Isi dari nyanyian itu apa? Wahyu menyebut nyanyian Musa. Wajiblah, layaklah, semua orang yang sudah ditebus oleh Tuhan mengalami experience menyeberang laut itu menyatakan satu respons dan tidak ada respons lain yang lebih menyatakan ekspresinya selain dengan dia berseru dan memuji nama Tuhan di dalam hidupnya. Tetapi bukan sekedar kata-kata yang keluar dari mulut kita, bukan sekedar kita mendendangkan sebuah lagu di dalam pujian lalu kita katakan kita sudah memuji Tuhan. Tetapi apa yang menjadi isi dan makna di dalam Keluaran 15 ini, disitulah kita telah menyanyikan pujian Musa itu di dalam hidup kita. Tetapi pujian dan nyanyian itu harus menjadi sesuatu yang penting di dalam hidup kita.

Dr. James Montgomery Boice mengatakan musik adalah satu gift dari Allah, satu pemberian Allah untuk memampukan kita mengekspresikan isi hati kita yang sedalam-dalamnya untuk meresponi Tuhan dan karyaNya. Musik itu penting sebab musik menjadi satu sarana yang meaningful dan memorable, untuk mengingat akan kebenaran Tuhan. Pujian itu bukan sekedar kata-kata keluar dari mulut kita. Musik itu adalah anugerah Allah, yang dipakai oleh Allah untuk memampukan kita mengekspresikan hati kita yang sedalamnya berespons kepada Tuhan atas karyaNya kepada kita. Yang ketiga, musik itu penting untuk menyatukan pikiran dan hati kita sehingga pada waktu kita memuji Tuhan dengan kalimat lagu itu mengamininya benar adanya dan hati kita menyorakkan hal itu. Keluaran 15 memang sebuah pujian yang panjang, seolah-olah sesuatu yang lepas dari alur narasi di pasal sebelum dan sesudahnya, menceritakan respons nyanyian Musa akan siapa Tuhan, karakter dari Tuhan yang telah membuat mereka keluar dari perbudakan Mesir. Musa menyebut Tuhan “my Strength, my Song, my Redeemer, my God.” Musa menyatakan Tuhan adalah Allah dari bapa leluhur kita, Allah dari nenek moyang kita selama-lamanya, itulah Allah yang ku sembah, Allah yang kekal. Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang telah ada jauh sebelum kita lahir, dan akan ada sampai selama-lamanya. Ayat 6, Musa menyebutNya Allah yang berkuasa, yang tangan kananNya kuat dan mulia. Keadilan dan murkaNya yang patut dipuji. Kejahatan yang ada di dalam dunia patut mendapatkan pembalasan yang seadil-adilnya. Namun bukankah banyak pelaku kejahatan yang selama hidupnya menyengsarakan begitu banyak orang, bahkan menyiksa dan membunuh dengan sangat keji, tetap menikmati hidup yang enak dan kebebasan sampai akhir hidupnya dan tidak mendapatkan keadilan yang sepantasnya atas perbuatan mereka? Bahkan mungkin hukum yang ada di dunia ini melindungi orang-orang yang seperti itu, bagaimana kita melihatnya? Saya percaya meskipun dunia ini tidak bisa melakukan pembalasan yang seadil-adilnya dan sepantasnya bagi mereka, tetap kita tahu suatu kali kelak keadilan Tuhan akan terjadi kepada orang-orang seperti itu. Kita mungkin tidak berdaya melihat orang-orang yang berbuat jahat itu sampai mati berbaring di dalam peti jenazah yang megah dan mewah, apakah keadilan masih bisa menyentuh dia? Jawabannya, ya. Keadilan itu datang dari keadilan Allah. Murka Allah dipuji dan dikagumi sebab di situ kita tahu ada Allah yang adil, bukan sebagai Allah yang bengis dan ingin menghancurkan manusia tetapi sebagai Allah yang sepatutnya kita puji dan sembah, sebab di situ keadilanNya nyata selama-lamanya.

Yang terakhir, ayat 13 balance muncul, “Dengan kasih setiaMu Engkau menuntun umat yang telah Engkau tebus…” God’s unfailing love dipuji oleh Musa. Meskipun sudah lewat 430 tahun lamanya mereka masuk ke dalam perbudakan Mesir mengalami semua penderitaan itu, kasih setia Tuhan tidak pernah gagal di dalam hidup ini. Kita puji kasih setiaNya yang berpanjang sabar pada waktu kita sudah gagal dan tidak setia sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak akan menyangkal kesetiaanNya (2 Timotius 2:13). Kenapa pujian Musa ini menjadi satu pujian yang begitu indah dan kenapa nanti pada akhirnya pujian Musa ini sekali lagi akan kita nyanyikan bersama semua orang kudus seperti yang dikatakan di dalam kitab Wahyu? Karena pujian ini memuji apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita. Kenapa pujian Anak Domba juga dinyanyikan bersama pujian Musa? Sebab itu adalah pujian mengenai keselamatan yang Ia kerjakan, tidak ada usaha dan jasa kita, semua karya Allah di dalam hidup kita, dan di dalam pujian itu kita menyatakan siapa Allah yang kita puji dan sembah, Allah yang kekal, Allah yang kuat, Allah yang adil, Allah yang suci, Allah yang murka, namun sekaligus Allah yang penuh belas kasih. Terpujilah Tuhan, oleh karena kasih setiaNya kita ada sebagaimana adanya pada hari ini. Dengan hati yang bersyukur dan sekaligus hati yang gentar kita datang menghadapNya.(kz)