11. Ketika Tuhan Menggoncang Fondasi Kehidupan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 12/5/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (11)

Nats: Keluaran 7:14 – 8:19

 

Bagaimana caranya Tuhan membawa orang Israel lepas dan keluar dari himpitan perbudakan bangsa Mesir? Pakai cara apa? Bagaimana orang Israel punya kekuatan untuk melawan kekuatan militer yang punya senjata dan kuda perang? Bagaimana mereka bisa menghadapi kekuatan politik Firaun yang begitu kuat kuasanya? Pada waktu kita membaca bagian ini, Alkitab mencatatnya hanya di dalam beberapa pasal saja, tetapi sesungguhnya peristiwa ini tidak terjadi sehari dua hari, namun melewati satu jangka waktu yang cukup panjang dan melewati tragedi demi tragedi. Bangsa Israel penuh dengan kesulitan dan penderitaan yang begitu berat dan panjang. Hati mereka telah tawar, harapan mereka sudah putus, sehingga setiap kali mereka mendengar janji-janji dan penghiburan dari Tuhan melalui Musa, mereka menutup telinga karena betapa beratnya kesulitan dan penderitaan yang mereka alami (Keluaran 6:8). Bukan saja kerja keras yang tidak pernah berhenti, pukulan secara fisik dan tekanan intimidasi menghancurkan mental, tetapi juga ada ibu-ibu yang telah kehilangan anak mereka yang dibuang ke sungai Nil.

Tidak pernah terbersit dalam pikiran siapapun, bahwa Tuhan akan memakai seluruh kekuatan alam ciptaanNya yang dahsyat untuk menjadi perlawanan bagi segala kekuatan kuasa politik dan militer bangsa Mesir, menggoncangkannya sampai ke seluruh infrastruktur dan sendi-sendi kehidupan mereka. Hanya dengan cara itu Tuhan memaksa bangsa Mesir melepaskan orang Israel keluar dari negerinya sesuai dengan janji Tuhan kepada Musa (Keluaran 3:20, 6:5, 7:4).

Tulah kepada orang Mesir terjadi sebelum akhirnya bangsa Israel keluar sebagai satu titik penting. Tulah-tulah ini muncul dengan satu fokus, “Biarkanlah umatKu pergi keluar dari Mesir sehingga mereka bisa beribadah kepadaKu.” Tuhan akan bekerja mengikis setiap oposisi, mengikis setiap halangan yang mungkin menyebabkan hati orang yang beriman dan percaya kepada Tuhan, yang tadinya tidak berbakti dan menyembah Tuhan dengan setulus hati untuk kembali kepadaNya. Tuhan akan menyingkirkan segala hambatan, segala hal yang kita cintai dan sayang dan yang membuat hati kita tidak melihat fokus ini, beribadah sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan akan membersihkan umatNya dari hal-hal yang kotor, Tuhan akan melindungi mereka dari orang-orang yang merusak dan ingin menghancurkan mereka, supaya mereka bisa pergi beribadah dan berbakti kepada Tuhan.

Tulah-tulah ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang Mesir, tidak ada dewa-dewa yang mereka sembah, tidak ada tempat perlindungan dimana mereka bisa bersandar; tetapi sekaligus ini juga menjadi peringatan bagi orang Israel yang melihat kedahsyatan dan kuasa Tuhan mereka. Tulah-tulah ini diberikan sebagai satu kontes pertandingan dimana orang Mesir dan orang Israel akan mengetahui siapa TUHAN itu dan tidak ada yang setara dengan Dia. Maka secara spesifik kita melihat tulah-tulah ini dijatuhkan kepada orang Mesir sebagai penghinaan kepada dewa-dewa orang Mesir yang tidak punya kuasa apa-apa.

Tradisi orang Yahudi membagi 10 tulah di dalam 3 bagian yang memiliki struktur pola yang sangat unik sekali. Pola yang terlihat dalam tulah 1-3, kemudian berulang pada tulah 4-6, dan berulang lagi pada tulah 7-9. Pertama, Musa menjumpai Firaun pada pagi hari pergi ke sungai Nil, kemudian Musa menjumpai Firaun di dalam istananya, kemudian tulah ketiga datang tanpa peringatan. Pola ini berulang lagi sampai tulah 9 dan kemudian puncaknya adalah tulah ke 10 dimana seluruh anak sulung orang Mesir dibunuh oleh Tuhan. Pola ini memperlihatkan kepada kita bagaimana Tuhan menulahi orang Mesir itu dari air, dari darat dan dari udara, untuk memperlihatkan kepada orang Mesir bahwa Tuhan mengatur dan mengontrol segala apa yang ada dan yang terjadi di air, di darat dan di udara.

“Pergilah kepada Firaun pada waktu pagi, pada waktu biasanya ia keluar ke sungai…” (Keluaran 7:15). Jelas Firaun pagi-pagi pergi ke sungai Nil bukan bertujuan untuk mandi di sana tetapi untuk melakukan ritual penyembahan dan ibadahnya kepada dewa-dewa sungai Nil. Di sanalah Tuhan memberikan tulah yang pertama, air berubah menjadi darah. Orang berusaha mencari penjelasan secara natural, bahwa peristiwa seperti ini bisa saja terjadi yaitu air berubah menjadi merah karena adanya algae merah yang disebabkan oleh oksigen yang tidak balance di sungai Nil pada waktu banjir terjadi. Maka hal ini menyebabkan sungai Nil dipenuhi oleh algae berwarna merah itu sehingga air sungai Nil seolah-olah berubah menjadi darah.

Saya percaya Tuhan bisa menggunakan segala hal dan fenomena alam yang natural itu, tetapi Tuhan menggunakan semua yang natural itu dengan satu kekuatan yang supranatural dari Tuhan, dengan kontrol dan waktu Tuhan dan dengan kedahsyatan yang berlipat-ganda adanya. Sehingga dari situ orang bisa melihat ini adalah pekerjaan Tuhan yang besar luar biasa. Namun perlu kita tekankan tulah-tulah ini bukanlah gejala fenomena alam yang Tuhan pakai untuk mendatangkan tulah, tetapi makna teologis yang ada di baliknya adalah Tuhan menggunakan setiap tulah ini untuk menyatakan superioritas Tuhan atas dewa-dewa yang disembah oleh orang Mesir. Untuk memberitahukan kepada mereka ibadah yang sejati itu kepada Tuhan saja dan tidak boleh ada illah-illah lain di hadapan Tuhan. Kepada kita, anak-anak Tuhan, Tuhanpun juga selalu mengingatkan kita bahwa hanya kepada Tuhan kita berbakti dan hati kita bertaut hanya kepadaNya dan tidak boleh ada illah-illah lain di hati kita. Pada waktunya Tuhan akan mengikis dan melepaskan kita dari illah-illah itu. Sehingga di tengah kebandelan dan kekerasan hati orang untuk terus mau memegang, Tuhan bisa menempa dengan keras, orang yang tidak percaya Tuhan hatinya akan semakin keras sehingga tidak berpaling dan datang kepada Tuhan, tetapi bagi anak-anakNya itu akan membuat kita surrender dan lutut kita bertelut dan menyatakan kepada Tuhan seluruh dedikasi kita kepadaNya.

Sungai Nil adalah jantung kehidupan mereka, tempat mereka mendapatkan sumber makanan dan minuman, tempat mereka bekerja, ladang dan jalur transportasi mereka. Di tepi sungai Nil setidaknya ada 4 dewa yang disembah orang Mesir. Pertama, dewa Hapi, dewa yang melindungi Mesir dari banjir, memberi panen yang berlimpah-limpah, memberi kemakmuran kepada mereka. Kedua, dewa Khnum yang menjadi penjaga sungai Nil. Ketiga, dewa Osiris, dewa yang menguasai hidup setelah kematian. Keempat, dewa Nu, dewa kehidupan, menjaga ekosistem dan memberi mereka ikan, dsb. Inilah dewa-dewa yang mereka sembah di sungai Nil. Mengapa Tuhan memulai tulah di sungai Nil? Yang terutama dan terpenting adalah karena sungai Nil adalah fondasi kehidupan orang Mesir, tempat mereka mendapat makanan, jantung aktifitas kehidupan mereka. Kenapa Tuhan mengguncangkan sungai Nil? Sebab Tuhan ingin memberitahu orang Mesir apa yang mereka pegang, apa yang menjadi persandaran hidup mereka, dewa-dewa yang mereka sembah tidak sanggup bisa mencegah dari segala bencana kesulitan yang mereka alami.

Firaun tidak mau mendengar peringatan Musa sebab ahli-ahli sihirnya juga bisa membikin air berubah menjadi darah. Kuasa kegelapan juga sanggup bisa menciptakan counterfeit, satu tipu daya sehingga Firaun bilang bukan hanya engkau yang bisa merubah air menjadi darah, ahli-ahli sihirku pun bisa melakukan hal yang sama. Tetapi sekalipun kuasa kegelapan itu bisa mengerjakan sesuatu dengan kuasanya, kita bisa lihat mereka tidak bisa mencegah dan melawan apa yang menjadi rencana Tuhan, sebaliknya mereka menggenapkan apa yang Tuhan kerjakan. Ahli-ahli sihir Mesir seharusnya membuat darah menjadi air yang bersih, tetapi yang bisa mereka buat adalah merubah air menjadi darah juga. Kuasa Setan bisa meniru mirip seperti apa yang Tuhan lakukan, tetapi dia tetap tidak bisa mencegah dan melawan pekerjaan Tuhan.

Apa yang kita pelajari dari hal ini secara pemahaman teologis? Tuhan menentang Firaun untuk memperlihatkan apa yang mereka sembah, segala hal yang menjadi fondasi hidup mereka itu semua digoncang-balikkan oleh Tuhan sehingga tidak ada satu orang pun bisa melihat jaminan kelepasan datang dari dewa-dewa mereka. Adakalanya pelajaran berharga juga kita dapat sebagai anak Tuhan di tengah krisis ekonomi, beban finansial yang ada bisa mendatangkan krisis rohani di dalam hidup kita bukan untuk menjatuhkan kita tetapi untuk menyadarkan kita tidak ada fondasi yang kokoh dan kuat yang kepadanya kita bersandar, kecuali kita bersandar sepenuhnya kepada Tuhan yang memelihara hidup kita.

Firaun mengeraskan hatinya, maka tulah kedua datang. Tulah kedua yaitu tulah katak ini sebenarnya lucu. Apa sih kerusakan yang didatangkan oleh katak? Tulah ini datang mengganggu hidup mereka, malam-malam tidak bisa tidur karena suara katak yang ribut, dan berloncatan di sekitar mereka. Tuhan tidak memberikan sakit jantung, sakit kusta atau penyakit yang mematikan, tetapi mengirimkan banyak sekali katak-katak bagi mereka.

Di sini kita melihat kontes Tuhan dengan dewa yang disembah oleh orang Mesir, dewi Heqet yang berbentuk kodok. Dewi ini adalah dewi kesuburan, dewi yang disembah untuk memiliki anak. Jangan lupa, Firaun dalam kekejamannya memerintahkan supaya semua bayi laki-laki orang Israel dilempar ke sungai Nil dan mati di sana. Tujuannya supaya keturunan orang Israel menjadi habis. Tetapi di sini Tuhan pakai tulah katak untuk mengingatkan orang Mesir, Tuhan Allah lebih berkuasa daripada dewi fertilisasi mereka. Seberapa jahatnya orang Mesir membunuh bayi-bayi yang tidak berdaya, Tuhan tetap memberikan buah kandungan kepada orang Israel. Dan kini Tuhan memberikan tulah katak kepada orang Mesir sebagai satu “humor” Tuhan atas dewi kesuburan mereka. Dewi Heqet dianggap sebagai dewi yang suci, dihargai dan dihormati dan dalam penjelmaan sebagai katak tidak boleh dibunuh oleh orang Mesir. Maka tidak heran pada waktu katak-katak itu akhirnya mati, mereka hanya mengumpulkan bangkai-bangkai katak itu di satu tempat sehingga sangat berbau busuk (Keluaran 8:14). Mereka tidak berani membakar atau memusnahkan bangkai katak itu.

Tulah ini tidak mendatangkan satu kerusakan fisik tetapi hanya mendatangkan rasa tidak enak dan tidak nyaman. Mereka harus berjalan dengan hati-hati di antara katak-katak yang berlompatan agar jangan sampai terinjak. Bayangkan betapa guilty kalau tanpa sengaja kaki menginjak “dewi” mereka. Katak-katak itu masuk ke dalam rumah mereka, ke dalam kamar bahkan ke tempat tidur mereka, masuk ke dapur dan ke dalam oven dan tempat penyimpanan makanan, bahkan di dalam adonan roti mereka.

Kali ini Firaun sadar meskipun ahli sihirnya bisa membuat katak-katak tambah banyak lagi, Firaun berespons berbeda. Waktu melihat ahli sihirnya bisa merubah air menjadi darah, hati Firaun semakin keras. Tetapi sekarang ketika ahli sihirnya membuat katak-katak semakin banyak, Firaun menjadi kesal dan marah. Mereka bukan membuat katak itu hilang lenyap tetapi malah semakin banyak. Akhirnya Firaun memanggil Musa dan Harun dan minta mereka berdoa baginya. Reaksi Firaun meminta permohonan doa menunjukkan adanya satu kesadaran dia tidak punya cara lagi bagaimana menyelesaikan persoalan ini. Dia perlu tangan yang lebih kuat dan lebih berkuasa untuk bisa menolongnya lepas dari tulah ini. Maka dia pergi kepada Musa dan minta didoakan. Musa bilang, silakan tentukan waktu kapan engkau mau katak-katak itu pergi, aku akan berdoa. Yang heran, Firaun menjawab, “Besok.” Kenapa tidak minta “hari ini”? Kenapa masih mau tidur satu malam lagi dengan kodok? Kapan engkau mau kesulitan itu hilang lenyap dari hidupmu? Kenapa engkau tidak minta hari ini juga? Firaun minta besok mungkin dengan berpikir dia tidak perlu merendahkan dirinya dan berpikir siapa tahu malam hari ini katak-katak itu sudah pergi. Firaun minta besok mungkin dengan satu pemikiran dia masih bisa mengontrol dan mengatur hari-hari di depan.

Begitu banyak orang pada satu titik sadar dia perlu Tuhan, begitu banyak orang pada satu momen sadar dia perlu mencari Tuhan, namun begitu banyak orang juga berpikir dia masih bisa mengatur dan mengontrol hidup dan waktu yang ada di depan. Namun realita memperlihatkan kepada kita tidak ada satu orang yang bisa mengatur dan mengontrol hidup dan hari-hari di depan. “Hari ini” itu panggilan Tuhan, itu tawaran Tuhan (band. Ibrani 3:15).

Kenapa Musa menawarkan hal itu? Supaya Firaun tahu jikalau hari ini dia minta, hari ini juga katak-katak itu akan lenyap. Bukan besok, hari ini jalan keluar Tuhan beri. Manusia suka bargaining dengan Tuhan karena dia tetap ingin mengatur hidupnya.

Waktu Tuhan menyatakan superioritasNya kontes dengan dewa-dewa itu, Firaun seharusnya sadar dewa-dewa itu bukan tempat dia sepatutnya bersandar. Dan pada waktu fondasi yang kita pikir bisa kita sandari itu goyah, kemana kita mencari pertolongan? Illah kita bisa bermacam-macam. Dan Tuhan kadang-kadang kontes dengan illah-illah itu supaya hati kita kembali lagi kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, hanya Engkau Alah tempat persandaranku yang sejati.”

Tetapi yang kedua yang penting adalah Tuhan juga perlu mengikis supaya kita tidak menyembah Tuhan namun pada saat yang sama masih mau memperalat Dia. Kita menciptakan Tuhan yang seturut dengan conveniency kita, apa yang kita mau. Kita membuat Allah yang bisa kita atur dan kita kontrol sesuai dengan kemauan kita.

Firaun tahu bahwa hanya Tuhan Allah Yahweh yang sanggup melepaskan dia, itu sebab dia minta Musa mendoakan dia. Tetapi pada saat yang sama dia masih memakai klausal sendiri. Banyak orang ingin minta didoakan kepada Tuhan, tetapi mungkin bukan untuk merendahkan hati dan menaklukkan hidupnya surrender kepada Tuhan, melainkan supaya dia lebih lancar dan lebih convenient.

Pada waktu katak-katak itu sudah pergi, Firaun kembali mengeraskan hati. Itulah pilihan Firaun.

Betapa sedih, banyak orang Kristen juga berdoa dengan sikap dan cara seperti ini. Pada waktu kesulitan datang menimpanya, dia berseru dan meminta Tuhan segera melepaskannya dari situasi itu tetapi dia tidak pernah rela Tuhan mencabut akar penyebab dari konsekuensi itu. Setelah seseorang sudah berbuat dosa dan salah, begitu banyak konsekuensi yang ditanggung dia ingin cepat-cepat lepas daripadanya. Kesulitan ekonominya, keluarganya yang berantakan, dsb. Pria yang berselingkuh dengan wanita lain, mau semua kesulitan dan konsekuensinya Tuhan yang tanggung. Dia tidak membereskan dengan rendah hati di hadapan Tuhan dan mengaku salah kepada Tuhan. Dan pada waktu seseorang melakukan kesalahan seperti itu, Firaun menjadi contoh seperti itu. Dia tahu tulah itu datang karena kesalahan dia, tetapi dia tidak mau membereskan satu persoalan yang paling penting dalam hidupnya , yaitu datang mengaku dia adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan.

Kenapa perlu tunggu besok? Itu pertanyaan yang sangat penting. Pada waktu kita dipanggil dan diminta oleh Tuhan untuk berespons kepada firmanNya sekarang, kenapa masih tunda? Pada waktu tawaran Tuhan datang, jangan kita menunda dan menunda karena masing-masing kita tidak tahu apa yang ada di hari ke depan.

Kadang kita pikir perjalanan hidup kita adalah seperti pelari maraton, yaitu kita masih punya jarak yang panjang. Kita tidak pikir bisa saja Tuhan panggil kita sebagai pelari sprint. Belum tentu semua kita adalah pelari maraton. Tetapi bukan soal Tuhan panggil kita sebagai pelari maraton ataukah pelari sprint, kita harus menyelesaikan pertandingan yang Tuhan sediakan bagi setiap kita. Itu yang paling penting. Tetapi kenapa kita selalu pikir kita adalah pelari maraton, yang masih punya banyak waktu dan kesempatan dan menunda-nunda. Padahal hari itu sendiri adalah hal yang tidak pernah bisa kita pegang, atur dan genggam.

Musa dan Harun tahu dan percaya bahwa Tuhan bisa mengerjakan segala sesuatu, bahwa tulah-tulah itu datang bukan dengan kekuatan dan kuasa mereka. Itu bukan sesuatu yang mereka bisa atur dan kontrol. Maka mereka berdoa dan berseru kepada Tuhan untuk melenyapkan tulah itu.

Doa adalah hal yang penting dan serius. Doa mengingatkan kita itulah sikap attitude kita yang tahu bahwa Tuhan, dan bukan kita, yang atur dan kontrol hidup kita. Itu sebab kita dengan rendah hati berdoa kepada Tuhan. Dan Tuhan mendengarkan seru doa Musa ini. Doa adalah nafas kita, oksigen bagi paru-paru spiritual kita. Dan doa itu adalah satu kesadaran hanya kepada Tuhan kita bersandar. Doa bukan suatu penyampaian dari keinginan dan kebutuhan kita saja, tetapi doa adalah satu kesadaran kita berserah dan percaya kepada Tuhan. Biar pada hari ini kita meletakkan seluruh pergumulan kita, tantangan yang kita alami, dengan bersandar dan berdoa kepada Tuhan sebab kepada Tuhan saja kita berbakti dengan tulus hati dan tidak mau ada illah-illah lain yang masih tersimpan di dalam hidup kita. Pada waktu kita berbakti dan bersandar sepenuhnya, di situ kita menikmati damai, sukacita dan kenikmatan yang datang dari Tuhan saja semata-mata.(kz)