12. Ketika Tangan Tuhan Berkarya

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 19/5/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (12)

Nats: Keluaran 8:16 – 9:12

 

Tidak semua kekacauan, penderitaan, kesulitan ekonomi dan sakit-penyakit yang datang kepada kita sebagai cara satu-satunya Setan bekerja dan berusaha menghancurkan kita. Sebab bisa jadi segala kelancaran dan hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita memberi kesuksesan dan kelimpahan pun juga bisa merupakan tipuan dan godaan dari Setan untuk menina-bobokan kita. Dan di pihak lain, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil asumsi setiap kali kita mengambil keputusan dan mendapatkan jalan lancar dan pintu kesempatan yang terbuka berarti itu adalah suatu konfirmasi pekerjaan dan pimpinan Tuhan dan sebaliknya pada waktu menghadapi kesulitan dan hal-hal yang tidak baik terjadi kita menganggap Tuhan tidak memimpin kita di situ.

Yang membedakan adalah pada waktu kita berada di dalam situasi yang tidak menyenangkan, sakit, dsb, kita melihat di situ Setan bekerja hanya terus menimbulkan kekacauan dan tidak bisa memulihkan dan membawa kita lebih indah dan lebih baik berjalan ikut Tuhan. Di tengah pencobaan dan kesulitan, Setan akan terus menjepit dan menghancurkan kita. Sebaliknya melalui sakit, kesulitan dan penderitaan yang ada dalam hidup kita Tuhan bisa memakai semua itu untuk menjadikan hal yang lebih indah dan lebih baik.

Datangnya tulah kepada orang Mesir adalah cara kerja Tuhan yang memperlihatkan betapa Ia panjang sabar dan berlambat untuk marah, tetapi sekaligus memperlihatkan kepada kita jangan sampai kesabaran Tuhan dipermainkan karena bukan seperti itu seharusnya kita memperlakukan Tuhan. Tulah-tulah itu diberikan sebagai warning yang memanggil orang untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, menjadi satu masa anugerah, sampai pada waktu tulah datang tanpa peringatan ke dalam hidup manusia, masa anugerah selesai dan tidak ada kesempatan lagi.

Dalam documentary dari National Geographic, beberapa tulah yang muncul di Mesir juga masih menjadi fenomena alam yang muncul di dalam dunia modern ini. Salah satunya adalah ketika wabah belalang datang menyerbu beberapa daerah di Afrika. Wabah itu adalah suatu bencana alam yang devastated dan merusak luar biasa, karena ketika belalang itu datang memakan seluruh tanaman, mereka tinggal di sana untuk bertelur dan setelah beberapa waktu telur-telur itu akan menetas menjadi belalang generasi baru. Sehingga wabah itu bukan datang sesaat lalu lenyap, melainkan menjadi wabah yang berlangsung dalam jenjang waktu yang cukup lama.

Dalam buku “Archaeology and Bible History” penulis bernama Joseph Free memberikan lima hal yang muncul disini yang membuat kita harus mengaku tangan Tuhan dan pekerjaan Tuhan yang dahsyat yang bersifat supranatural di dalam fenomena datangnya tulah-tulah itu.

Pertama, ada aspek intensitas di dalam fenomena itu. Memang ada belalang, memang ada katak, memang ada lalat pikat, bencana seperti ini bukan hanya datang pada waktu itu saja, sebelumnya pernah ada dan kembali datang setelah itu, bahkan sampai kepada dunia modern sekarang ini. Tetapi yang membedakannya adalah intensitasnya lebih daripada kenormalan. Alkitab mencatat bagaimana wabah itu datang secara intensif memenuhi terus sampai ke rumah-rumah mereka.

Kedua, ada aspek prediksi. Itu bukan sekedar fenomena alam yang terjadi tanpa diketahui kehadirannya sebelumnya. Musa berkata, “Besok…” sebelum tulah itu datang menyerbu negeri Mesir (Keluaran 8:23, 9:5, 9:18, 10:4) Kalau engkau mau aku berdoa supaya tulah itu tidak terjadi besok, maka aku akan membuatnya tidak terjadi besok. Jadi ini bukan sekedar satu wabah fenomena alam, tetapi ada aspek prediksinya dimana Allah ‘in control’ terhadap wabah itu.

Ketiga, ada aspek pengecualian. Kalau itu satu wabah bencana alam menimpa satu daerah, sama seperti bencana bushfire terjadi di satu daerah, di situ ada rumah orang Kristen di antara rumah orang bukan Kristen yang sama-sama bisa terkena bushfire seperti itu tanpa pengecualian. Tetapi dalam tulah ini terjadi pengecualian karena daerah Gosyen tempat tinggal orang Israel tidak sampai. Lalat juga bisa tahu ada verbodden, penyakit sampar tidak akan hinggap pada ternak-ternak orang Israel, supaya engkau tahu Akulah TUHAN mereka, dan mereka adalah umatKu (Keluaran 8:22, 9:4, 9:26).

Keempat, ada aspek order keteraturan yang memiliki ‘severity’ yang makin lama makin meningkat sampai puncaknya pada tulah yang kesepuluh dengan kematian anak sulung orang Mesir.

Kelima, ada aspek maksud dan tujuan moralnya. Yang pertama, tujuan moral seluruh tulah ini adalah untuk menyatakan TUHAN lebih besar dan lebih berkuasa dan bahwa seluruh illah dan dewa sembahan orang Mesir bukanlah illah yang bisa disandari oleh Firaun dan orang Mesir, sehingga mereka tahu semua yang mereka sandari dan sembah itu tidak sepatutnya menjadi tempat persandaran mereka. Tujuan moral kedua, Tuhan tidak menghukum dengan satu tujuan kebencian dan kemarahan Tuhan. Sdr akan melihat keindahan muncul dari tulah-tulah ini sampai nanti Tuhan bilang, berapa lama lagi Firaun, engkau tidak mau merendahkan hatimu dan bertobat? (Keluaran 10:3). Tuhan tidak menyatakan ekspresi kemarahannya saja tetapi Tuhan mempunyai satu tujuan supaya mendesak Firaun dan para pemimpin yang ada di sekitarnya mengakui Tuhan yang disembah Musa dan orang Israel adalah Allah yang sejati. Ketiga, ini bukan cerita bagaimana Musa menjadi pahlawan yang secara taktik militer membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Kalau bukan Tuhan yang bekerja tidak ada kemungkinan orang Israel itu bisa lepas keluar dari perbudakan Mesir. Tuhanlah Penebus, Tuhanlah Penyelamat bagi bangsa Israel. Ini mengingatkan kita kembali kita tidak mungkin bisa lepas dari segala ikatan dan perbudakan dosa yang membelenggu kita sampai pada waktu kita berada di dalam situasi yang begitu desperate dan tidak ada kemungkinan kita bersandar kepada apapun di dalam hidup ini, barulah kita menyerah dan berkata, hanya Engkaulah Tuhan, Juruselamat dan Penebus hidupku.

Seorang penafsir bernama John Currid berkata tulah ini memperlihatkan kepada kita satu perbandingan dengan penciptaan. Di dalam penciptaan Tuhan “created,” di dalam tulah Tuhan “de-creating.” Tuhan menciptakan terang, di dalam tulah Tuhan mendatangkan kegelapan. Di dalam penciptaan Tuhan memakai debu tanah membentuk manusia yang nantinya akan berkuasa atas segala ciptaan yang lain di dalam keharmonisan, di dalam tulah yang ketiga dari debu tanah Tuhan mengeluarkan nyamuk. Sekarang yang berkuasa dan bertahta adalah binatang yang seharusnya dikontrol oleh kuasa manusia yang Tuhan sudah beri, semua itu sekarang tidak bisa dikontrol lagi oleh manusia. Di dalam penciptaan Tuhan memisahkan air yang di atas dan yang di bawah dengan order yang indah, di dalam tulah Tuhan merubah air menjadi darah. Dari sisi ini John Currid ingin menyatakan Allah kita adalah Allah yang sanggup mencipta, tetapi Allah kita juga adalah Allah yang sanggup men-‘de-create,’ Allah yang memutar-balikkan segala hal yang indah dan baik dan setelah itu bisa memulihkannya kembali. Setan hanya bisa memproduksi chaos dan kekacauan, tetapi tidak bisa memulihkan kembali. Tuhan menciptakan keindahan alam sekaligus Tuhan juga bisa memulihkannya. Setan hanya bisa ikut-ikut cabut, tetapi hanya bisa bikin air menjadi darah, katak semakin banyak, tetapi tidak bisa memulihkan kembali. Tuhan bukan saja bisa mencipta, Tuhan bisa menggunakan chaos itu dan yang terlebih Tuhan bisa melakukan redemption langit dan bumi yang baru, memulihkan segala yang sudah rusak akibat perbuatan dosa dan Setan. Dosa telah menghancurkan dan merusak sehingga tidak ada lagi pengharapan sampai nantinya muncul Tuhan Juruselamat yang akan membawa umatNya keluar menuju tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu. Hanya Tuhan yang bisa mengerjakan hal seperti itu. Itulah sebabnya ketika ahli-ahli sihir Mesir dipanggil oleh Firaun, yang bisa mereka kerjakan adalah membuat hal yang lebih merusak lagi.

Puji Tuhan, di tengah-tengah orang yang tidak mengenal Tuhan, yang hidup di dalam konteks kuasa kegelapan dan sihir seperti itu, mereka mengeluarkan satu kalimat pujian kemuliaan yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Keluarlah kalimat, “Oh, Firaun, ini adalah jari-jari Tuhan Allah” (Keluaran 8:19a). “This is the finger of God.” Walaupun pengakuan dari ahli sihir ini adalah satu pengakuan kepada Allah yang benar, walaupun pengakuan ini belum tentu menyebabkan dia menjadi orang percaya, tetapi setidaknya di dalam pengakuan itu dia menyadari ada limitasi dari kekuatan dan kuasa sihirnya dan ada hal yang dia tahu di luar daripada kemampuan dia.

Dimana saja kita berada, kalau mata kita mau terbuka lebar dan dengan rendah hati kita melihat, maka sikap dan respons kita akan kehadiran kuasa Allah begitu nyata. Firaun pada waktu mendengar pernyataan ahli sihirnya tetap dan bahkan makin mengeraskan hati tidak mau percaya.

Betapa banyak orang seperti itu, tidak berani dengan jujur dan tulus hati melihat apa saja yang ada di dalam hidup kita, kita bisa menyaksikan “the finger of God” berkarya. Mazmur 8:4 berkata, “Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Engkau tempatkan…” Pada waktu engkau menyaksikan alam semesta ini, this is the finger of God. Bukan saja mata kita memandang jauh ke alam semesta yang besar ini, lihat sekitarmu dan sekelilingmu, bukankah semua yang ada di situ membuat kita amazed dan terpesona akan karya jari tangan Tuhan di situ? Kemana saja kita pergi, kalau hati kita penuh dengan kerendahan dan kepekaan ini, kita mengakui betapa indah dan agungnya tangan Tuhan itu berkarya. Tidak perlu bencana datang dulu baru kita mengaku ini jari tangan Tuhan. Tidak perlu kesulitan datang, tidak perlu sampai kepada satu titik yang engkau tidak bisa kontrol lagi, baru kita bilang ini jari tangan Tuhan. Di dalam kehidupan kita yang biasa, yang ordinary, kita tidak akan habis-habisnya amazed dan kagum kepada karya pekerjaan Tuhan yang begitu nyata. Keindahan Tuhan membentuk alam ini, kebaikan Tuhan menata hidup kita, pemeliharaanNya yang tidak pernah berkesudahan, jangan sampai lepas dari kesadaran dan kekaguman kita akan jari tangan Tuhan di dalam hidup kita.

Tulah ketiga membuat para ahli sihir ini mengaku tidak ada yang bisa mengerjakan dan melakukan hal ini kecuali jari tangan Allah sendiri. Namun Firaun tidak mau mengakui hal itu, bukan karena tidak ada. Jikalau Musa yang bilang kepada Firaun itu jari Allah dan Firaun bilang itu kepercayaanmu; tetapi jikalau oposisi dari pekerjaan Allah, para ahli sihir itu sendiri yang mengatakan hal itu, Firaun tidak mau dengar, betapa menakutkan. Karena Alkitab ke belakang mencatat, inilah hati Firaun yang berulang-ulang menggelapkan dan mengeraskan hatinya, tidak mau merendahkan diri dan bersandar kepada Tuhan melainkan bersandar kepada kekuatan kuasanya semata-mata. Kekerasan hati Firaun yang tidak mau melihat itulah yang menyebabkan tulah tidak berhenti sampai yang ketiga, tetapi bertubi-tubi turun tulah sampai kepada yang kesepuluh nantinya.

Siklus tulah yang keempat, kelima, dan keenam terjadi ke atas negeri Mesir, tulah lalat, penyakit sampar dan barah pada kulit.

John J. Davis menafsir bagian ini berkata, tulah lalat ini mungkin adalah sejenis lalat yang menaruh telur-telurnya pada binatang yang lain supaya dipelihara oleh binatang itu. Jenis lalat ini unik karena bagi orang Mesir lalat ini adalah manifestasi dari kebangkitan. Mungkin karena itulah mereka menyembah dewa lalat yang bernama Uatchit. Namun kalau ini bukan sejenis lalat melainkan beetles atau kumbang, maka dewa yang disembah orang Mesir adalah Kheprer, yang dilukiskan berbentuk kumbang. Atau bisa jadi itu satu nama yang terus dipakai di PB oleh orang Yahudi yang disebut Beelzebub, the lord of the flies (Lukas 11:15). Orang Mesir menyembah Beelzebub sebagai pelindung dan penjaga mereka. Sekali lagi, tulah ini diberi supaya Firaun mengetahui tidak ada kemungkinan mereka bisa bersandar kepada berhala sembahan mereka. Sampai di sini reaksi Firaun berubah karena dia meminta Musa dan Harun mempersembahkan korban kepada Allah untuk melepaskan tulah ini (Keluaran 8:25). Yang berubah adalah cara dan metode negosiasi dan sikap kompromi saja, tetapi perubahan hati tidak pernah terjadi. Sangat mungkin sekali Musa menyetujui, toh situasi tidak baik, masih menjadi budak, kalau pakai bahasa sekarang, masih belum punya gedung gereja, masih belum punya apa-apa, setidaknya kita bebas berbakti, why not? Firaun menawarkan, boleh engkau beribadah kepada Allah tetapi di negeri ini. Musa menjawab dua kalimat, kita harus keluar tiga hari perjalanan jauhnya ke padang gurun karena ini yang diperintahkan Tuhan.Ttiga hari bukan literal artinya tiga hari melainkan bahasa sopan untuk mengatakan tidak akan kembali lagi. Yang kedua, Musa menggunakan argumentasi politik disaster akan terjadi. Kalau kami mempersembahkan korban di sini, itu bisa jadi kerusuhan. Sama seperti kalau sdr masuk temple orang Hindu sambil makan beef burger, itu adalah insulting. Sama seperti sdr masuk sinagoge orang Yahudi sambil makan babi. Ini yang Musa katakan, kalau kami membawa persembahan bagi Tuhan Allah akan binatang yang dihormati orang Mesir, mereka akan melempari kami dengan batu (Keluaran 8:26,27). Orang Mesir menyembuh dewa Apis berbentuk lembu, dewi Isis berbentuk sapi, dewa Hathor berbentuk anak sapi, dewa Amon berbentuk domba. Dan itu adalah binatang-binatang yang akan dipersembahkan sebagai korban bakaran orang Israel kepada Allah. Itu adalah satu politik disaster. Tetapi sebenarnya point yang paling penting Musa ingin mengatakan kepada Firaun, itu bukan caraku dan itu bukan apa yang Tuhan mau. Kita tidak dipanggil untuk hidup dicobai terus-menerus dengan cara hidup kompromi seperti itu. Separuh ketaatan tetap bukan ketaatan. Separuh kompromi tetap bukan ketaatan yang sejati. Engkau dan saya dalam apa pun yang kita kerjakan dan lakukan kita akan menghadapi tuntutan seperti ini, mungkin untuk hidup kompromi berarti boleh berbakti tetapi berbakti di negeri ini. Musa tidak menerima tawaran itu. Namun yang lebih unik lagi Firaun berkata, berdoalah untuk aku. Sekali lagi, dia tidak minta jampi dan doa dari ahli sihirnya sebab dia tahu itu bukan jalan keluarnya. Sekarang dia datang kepada Musa dan minta didoakan. Waktu saya membaca, saya melihat ini satu pelajaran yang menyentuh hati dari orang yang tidak percaya Tuhan. Dia sendiri tahu betapa pentingnya doa itu, walaupun maksud, tujuan dan teologi dari doanya tidak benar. Tujuan dan teologi dari doa orang itu adalah bagaimana agar doa itu mendatangkan kebaikan dan conveniency kepadanya. Saya percaya kita sebagai anak-anak Tuhan tidak boleh mempunyai prinsip, metode dan motivasi doa seperti itu. Tetapi bukankah banyak orang Kristen yang sendiri memiliki prinsip, metode dan teologi doa yang benar namun tidak memiliki kesadaran akan betapa pentingnya doa itu? Ini adalah ironi. Itulah sebabnya bagian ini mengingatkan dan menegur kita betapa pentingnya doa. Kita yang mengerti doa dengan benar, adakah itu terefleksi dengan kesadaran hati kita berdoa dan bersandar kepada Tuhan?

Kalau kita membaca ke belakang, ketika tulah-tulah ini diberikan, Musa mengatakan kalimat, “Aku akan berdoa…” dengan demikian dia mengatakan tulah-tulah ini datang memang dari mulutnya sebagai firman Tuhan, tetapi tidak pernah datang karena kuasanya, kekuatannya dan kemauannya sendiri tetapi selalu datang karena dari Tuhan semata-mata.

Ketika bencana lewat, Firaun bilang ya sudah lewat, dia tetap berkeras hati. Walaupun bukan saja dia minta doa, dia kirim orang untuk observasi dan melihat sendiri ke daerah Gosyen, bahwa Tuhan tidak menimpakan tulah kepada umatNya. Artinya apa? Kalau engkau betul-betul mau melihat semua evidence dan bukti-bukti pekerjaan Tuhan, tidak mungkin engkau bisa tolak kehadiranNya itu nyata. Persoalannya adalah hati Firaun terus-menerus keras adanya. Dan kali ini kalimat Musa berubah, di dalam Keluaran 8:19 ahli sihir mengatakan “this is the finger of God” tetapi sekarang Musa mengatakan “Behold, the hand of the Lord will be on you…” (Keluaran 9:3). Kalau engkau tidak mau dengar, tidak mau merendahkan diri dan humble, kali ini bukan finger yang datang, melainkan the hand of God yang datang, a very severe disaster dan punishment. Mengapa engkau tidak mau melihat dan mengakui kedahsyatan Tuhan dan takluk kepadaNya? Kali ini jangan pikir Firaun yang berinisiatif; jangan pikir Firaun yang menjadi sutradara dan Tuhan hanya menjadi aktor pelengkap. Dalam Keluaran 8 Firaun tetap mengeraskan hati, di Keluaran 9:12 ketika tulah keenam selesai, posisi berbalik. Sekarang Tuhan yang mengeraskan hati. Jangan pikir engkau yang menolak Tuhan, Tuhan yang menolak engkau. Paulus mengingatkan Jemaat Korintus, setiap peristiwa sejarah yang terjadi kepada bangsa Israel punya tujuan supaya kita belajar di dalamnya, sehingga kita merendahkan hati, kita tidak mengeraskan hati dan tidak congkak kepada Tuhan (1 Korintus 10:11). Terpujilah nama Tuhan, yang berkarya di dalam segala hal, yang membawa kita menyadari Tuhanlah yang patut dimuliakan dan ditinggikan di dalam hidup kita. Ketika kita menghadapi berbagai hal yang tidak mungkin kita bisa bersandar kepada kekuatan kita, kita memiliki Allah yang tidak pernah membawa kita kepada keputus-asaan karena kita tahu Tuhan bisa menciptakan, memulihkan dan menebus keindahan langit dan bumi yang baru bagi kita semua. Kita bersyukur dan menerima apa yang ada di dalam hidup kita dan tidak pernah melupakan betapa jejak-jejak kehadiran Tuhan senantiasa ada beserta dengan hidup kita masing-masing.(kz)