14. Kesempatan dan Tawaran Anugerah

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 2/6/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (14)

Nats: Keluaran 11:1-10, 12:29-30

 

“Lalu Firaun berkata kepada Musa, ‘Pergilah dari padaku, awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati” (Keluaran 10:28).

“Lalu firman Tuhan kepada Musa, ‘Engkau tidak tahan memandang wajahKu sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Keluaran 33:20).

Seorang hamba Tuhan Rev. Philip Ryken mengkontraskan dua ayat ini mengatakan, pada waktu Firaun mengeluarkan kalimat itu, itulah momen dia menempatkan diri menjadi tuhan. Sebesar-besarnya kuasa seorang manusia, tidak ada orang yang boleh mengatakan kalimat itu, walaupun kita jujur berkata, orang bisa punya kuasa untuk melakukan hal seperti itu. Tetapi Firaun menerima tulah demi tulah, hukuman demi hukuman karena di situlah Tuhan ingin memperingatkan dia supaya dia jangan pernah menganggap diri setara dengan Tuhan adanya. Tuhan bukan saja menghukum illah-illah dan dewa yang disembah orang Mesir, Tuhan juga sekaligus menyatakan hukuman pada waktu Firaun menempatkan dirinya sebagai titisan dewa Amon-Re dan memiliki kuasa mencabut nyawa orang.

Namun bukankah dunia yang berdosa ini seperti itu adanya? Berhati-hatilah jika kita telah menjadi seseorang yang dipercayakan Tuhan dengan perusahaan yang besar, dengan kekuatan mengatur dan mengontrol hak hidup orang banyak, dengan kekayaan yang besar dan harta yang banyak dan menjadi seorang konglomerat, tapi tanpa sadar kita memakai kalimat yang sama seperti Firaun, ‘saya bisa mematikan perusahaanmu.’ Pada waktu kita mempunyai bawahan dan pegawai bekerja kepada kita, kita memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mencekik usaha dia, menutup segala saluran dan kran pertolongan yang dia cari, memakai segala cara menghabisi hidupnya. Perusahaan yang satu menghabisi dan memakan perusahaan yang lain, orang yang satu menjegal usaha orang yang lain, hanya karena dia punya uang, punya kekuatan dan punya kuasa. Kita dipanggil menjadi orang Kristen yang harus selalu mawas diri di hadapan Tuhan, tidak mempermainkan kuasa dan kekuatan yang kita miliki dengan semena-mena. Hanya Dialah Tuhan yang patut kita puji dan sembah, yang berkuasa atas hidup kita seutuhnya. Yesus berkata, “Janganlah kamu takut kepada mereka orang yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Matius 10:28). Kalimat ini mengingatkan kita, betul, orang punya kuasa, punya uang, punya kekayaan, dia sanggup bisa menghilangkan nyawa orang lain, tetapi kita diingatkan jangan pernah bermain menjadi Tuhan, itu adalah hak prerogatif Tuhan dan biar kita boleh hidup selalu percaya dan bersandar dan selalu dengan hormat dan respek kepada Tuhan.

Maka dengan segala tanda mujizat tulah yang Tuhan berikan kepada orang Mesir ada maksud dan rencana untuk itu terjadi supaya menjadi pembelajaran iman. Pembelajaran iman berarti di dalam peristiwa itu terjadi, orang-orang yang ditimpa dan orang-orang yang melihat boleh menyadari siapa Tuhan yang benar dan mereka takut akan Dia dan mencariNya; pembelajaran iman supaya mereka menyadari dan mengoreksi diri dan merendahkan diri. Puji Tuhan, kita menemukan sebagian daripada orang-orang Mesir pun akhirnya takut kepada Tuhan dan percaya kepadaNya. Juga banyak orang dari berbagai bangsa ikut bersama orang Israel keluar dari Mesir untuk menyembah Tuhan (Keluaran 12:38). Namun bukan saja melalui setiap mujizat yang terjadi kita melihat betapa dahsyatnya tulah-tulah itu, tetapi kita melihat dengan kagum akan atribut dan sifat Tuhan seperti apa di balik dari semua mujizat yang terjadi itu.

Pertama, melalui setiap mujizat ini kita percaya dan kita tahu Allah menyatakan diriNya sebagai Allah El-Shaddai, Allah yang maha kuasa. Allah yang maha kuasa berarti Ia adalah Allah Pencipta, Allah yang berkuasa untuk menghasilkan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Creatio ex nihilo, create from nothing, hanya Allah yang bisa seperti itu, hanya Tuhan El-Shaddai yang sanggup melakukan segala sesuatu di luar daripada yang tidak mungkin. Hanya Tuhan yang patut kita sembah dan percaya bahwa Dia yang mengontrol segala sesuatu. Segala sesuatu itu menjadi indah pada waktunya di bawah kontrol Tuhan.

Kedua, melalui mujizat-mujizat yang terjadi, melalui koreksi, perlindungan dan disiplin yang ada, supaya kita tahu Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang cemburu adanya. Allah yang cemburu berarti Allah tidak akan pernah mau berbagi kemuliaanNya dengan apapun dan dengan siapapun. Allah dengan cemburu akan menarik kita keluar jikalau hati kita sudah terlalu kuat bertaut dengan sesuatu yang mengambil tempat kemuliaan Allah lebih daripada Allah sendiri dari hati kita. Dia pasti akan menyingkirkan dan membongkar pada waktu ada illah-illah lain yang kita taruh di dalam hati kita untuk mencuri kemuliaan Allah. Itulah arti Allah yang cemburu adanya. Allah ingin kita tahu hanya Dia yang berhak mendapat pujian dan sembah sujud selama-lamanya. Tidak ada kompromi mengenai hal itu. Firaun mungkin berusaha menawarkan kompromi tetapi Musa menolak dan tidak menanggapi tawaran Firaun itu. Tuhan tidak mau hati kita bercabang adanya. Bukan saja pada waktu tulah-tulah itu diberi, pada waktu hidup kita sekarang Allah yang sama adalah Allah yang cemburu dengan cemburu yang suci. Ketiga, melalui setiap mujizat yang terjadi kita tahu Ia adalah Allah yang adil dan ‘just.’ Allah yang adil berarti kebenaranNya dinyatakan dengan adil atas setiap dosa yang ada. Allah yang adil adalah Allah yang tidak pernah pandang bulu dan tidak pernah menilai secara penilaian manusia yang begitu mudah salah dan keliru. Kita menghormati orang ketika kita melihat baju dan asesorinya lebih keren; kita respek kepada orang ketika kita melihat warna kulitnya; kita tertunduk-tunduk kagum waktu bertemu dengan orang yang punya jabatan dan kedudukan yang tinggi. Itulah kita yang menempatkan penilaian kepada orang seturut dengan apa yang kita lihat dari luarnya seperti itu. Tetapi Allah kita tidak pernah memandang orang seperti demikian. Ia hanya memandang dan melihat ke dalam hati manusia sedalam-dalamnya, melihat iman dan ketulusannya dan tidak melihat berapa tinggi kedudukan dan kekayaan seseorang. Ia juga tidak perhatikan soal apakah kulit kita hitam atau putih, siapapun sama di mata Tuhan. Ia tidak pandang bulu, apakah itu orang yang bekerja kasar di ladang dan pabrik ataukah orang itu duduk di belakang meja, di hadapan Allah kita semua sama adanya. Allah yang adil berarti Ia akan menyatakan kebenaranNya dengan adil terhadap setiap dosa manusia. Firaun perlu mendapatkan sampai terakhir keadilan Allah tiba, bukankah saat-saat sebelumnya ia menjadi tirani yang makin hari makin jahat, makin ke belakang hari makin kejam adanya? Apa yang Firaun dan bangsa Mesir lakukan bukan sekedar memperkerjakan budak orang Israel dengan memeras tenaga mereka dan menarik keuntungan dari mereka, tetapi tindakan membinasakan bayi dan anak laki-laki Israel yang tidak berdaya, itu lebih dari sekedar memperbudak mereka. Allah melihat semua dan Allah menyatakan keadilan kepada mereka.

Keempat, sekaligus kita lihat pada waktu Allah mendatangkan tulah-tulah ini Allah juga adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan. Tuhan tidak pernah lupa dan tidak pernah lalai, Ia melihat dan mendengar setiap air mata dari umat Tuhan yang berseru kepadaNya. Tuhan tidak akan pernah mengabaikan semua hal itu. Itulah sebabnya kita menyembah Dia dan mengasihiNya. Kita tidak pernah kecewa terhadapNya sebab kita tahu Ia adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan dan rahmat.

Kelima, melalui mujizat dan tanda yang dilakukanNya menyatakan Ia adalah Allah yang berdaulat adanya. Berdaulat artinya segala sesuatu Allah kerjakan di dalam kontrol dan pengaturanNya. Tulah-tulah itu bukan sebagai suatu kedahsyatan alam belaka yang membabi-buta terjadi, karena bagaimana menjelaskan datangnya dan perginya tulah yang bisa diatur kalau bukan itu adalah tangan Allah yang penuh dengan kuasa mengontrol semuanya? Biar melalui pemahaman ini kita mengerti Allah yang berdaulat memimpin apapun yang terjadi di dalam hidup kita selalu berada di dalam maksud dan rencana Tuhan adanya.

Tuhan memberikan tulah yang terakhir sebab dari setiap waktu dan kesempatan yang ada, Firaun terus-menerus mengeraskan hati. Melalui tulah yang terakhir itulah Ia akan membuat Firaun mengusir bangsa Israel keluar dari negerinya. Barulah Firaun akan menaklukkan diri dan sadar bahwa ia tidak sanggup bisa menghadapi Allah yang seperti itu. Tulah yang ke sepuluh ini adalah kematian. Ini adalah tulah yang tragis luar biasa. Tidak ada penjelasan itu penyakit apa, karena datangnya tulah itu sangat spesifik sekali, hanya anak sulung dari manusia dan binatan yang ditimpa oleh kematian itu. “Dan kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian” (Keluaran 12:30). Ini adalah tulisan dari saksi mata yang melihat sendiri tidak ada rumah yang tidak mengeluarkan suara tangisan yang memilukan hati karena tidak ada rumah yang tidak ada kematian di dalamnya. Memang betul, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa terlepas dan luput dari kematian. Tetapi pada hari itu kita bisa melihat kematian itu datang sekaligus dan kita tidak bisa membayangkan destruksi yang begitu dahsyat, kesedihan yang begitu besar, kehilangan yang paling dalam. Siapa lagi yang harus menghibur siapa? Tidak ada yang bisa menghibur yang lain sebab semua masing-masing membutuhkan penghiburan. Siapa yang dapat membantu tetangganya untuk menguburkan anak tetangganya sebab hari itu pun dia menguburkan anaknya sendiri? Maka bayangkan saat kematian datang secara tiba-tiba kepada semua keluarga, itu menjadi satu tragedi dan pembelajaran yang dahsyat luar biasa, tidak ada dewa manapun dan kekuatan apapun yang sanggup mencegah kematian ini tidak datang kepada mereka. Secara spesifik firman Tuhan menyebut satu hal yang unik untuk menegur dewa Anubis, dewa kematian orang Mesir yang dilambangkan dengan binatang berwujud anjing. Alkitab mencatat, “kepada siapa juga dari orang Israel, seekor anjing pun tidak akan berani menggonggong…” (Keluaran 11:7) artinya tidak ada kematian yang bisa datang malam itu kepada orang Israel karena Tuhan membuat perbedaan itu.

Kita semua layak menerima kematian sebab kita tahu kita adalah orang yang berdosa. Namun pernahkah muncul pertanyaan, kapankah kematian itu datang menimpa kita? Sekuat-kuatnya orang Mesir mempersiapkan kematian mereka dengan segala tradisi, uang dan kekayaan yang ada, tetap sesiap-siapnya, waktu kematian itu sungguh datang, tidak ada yang siap menghadapinya. Itulah sebabnya di tengah kematian datang menimpa, mari kita belajar melalui peristiwa ini ada pengharapan yang datang, diberikan Tuhan kepada orang Israel, sehingga tidak ada kematian datang kepada rumah mereka sebab mereka beriman dan percaya kepada Tuhan. Melalui janji Tuhan adanya penebusan melalui darah AnakNya yang tunggal Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam 1 Korintus 5:7 Paulus menyebut secara spesifik Ia adalah Domba Paskah Allah. Dari sana kita dibawa untuk mengerti setiap peristiwa dan cara Tuhan mempersiapkan domba pada malam hari itu dipersembahkan untuk menjadi satu peringatan dan bayang-bayang Domba Allah yang nantinya datang yang sanggup untuk menebus dan memelihara kita dari kematian dan kesedihan yang datang menimpa. Kita semua sebagai anak-anak Tuhan pun satu saat akan menghadapi kematian itu tetapi kita tahu hidup kita tidak berhenti saat kematian tiba kepada kita sebab kematian Kristus sudah menjadi tebusan bagi engkau yang percaya kepadaNya.

Malam itu tulah penghukuman bagi orang Mesir, juga sekaligus menjadi kesempatan terakhir tawaran anugerah Tuhan datang. Alkitab mencatat sebagian dari orang Mesir pun keluar dan ikut bersama orang Israel karena mereka tahu siapa Allah yang disembah dan dipercaya oleh orang Israel. Malam hari itu tulah datang kepada mereka yang tidak percaya, tetapi sekaligus Tuhan memberikan anugerah kepada orang Israel. Salah satunya kita lihat dalam Keluaran 11:2-3, Tuhan berkata setiap laki-laki dan perempuan pergilah meminta emas, perak dan barang berharga ke rumah orang Mesir. Nanti di belakang disebut, demikianlah Tuhan “merampasi” mereka. Tidak berarti dengan ayat ini kita boleh menjarah, sebab di ayat selanjutnya Tuhan juga membuat orang Mesir “bermurah hati” untuk memberi kepada orang Israel (Keluaran 12:35-36).

Dengan kata “merampasi” secara spesifik kita menafsir peristiwa ini terjadi akibat beberapa hal. Pertama, dengan memakai kata “merampasi” berarti kita tahu di dalam anugerah dan keadilan Tuhan itu adalah satu pembayaran yang tertunda dari yang selama 430 tahun tidak pernah mereka terima dari orang Mesir karena mereka berada di bawah perbudakan. Alkitab mengingatkan kita, “Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kau tahankan upah yang harus kita beri kepada bawahan kita” (Imamat 19:13). Dengan kata “merampasi” berarti Tuhan selalu ingat akan ketidak-adilan yang terjadi kepada kita dan melalui peristiwa ini orang Mesir harus kembalikan semua uang yang belum pernah mereka bayar kepada orang Israel.

Kedua, dengan memberikan hal itu kita tahu Tuhan tahu apa yang menjadi kebutuhan bangsa Israel di dalam perjalanan ke depan. Namun sekaligus kita juga nanti akan belajar, setiap anugerah Tuhan selalu datang memberikan kemungkinan kita bisa taat dan bersembah sujud kepadaNya, tetapi sekaligus itu juga bisa menjadi satu alat yang menjebloskan mereka ke dalam penyembahan berhala. Pada waktu Tuhan meminta mereka mendedikasikan harta benda mereka yang terindah dan terbaik untuk menjadi bahan pembangunan Kemah Suci, puji Tuhan, mereka bisa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan apa yang mereka punya sebab mereka sudah terima dari orang-orang Mesir. Tetapi pada saat yang sama ketika Harun akhirnya didesak untuk membuat lembu emas, emas yang sama yang mereka terima sebagai hasil pemberian anugerah Tuhan dipakai untuk membuat penyembahan berhala. Kita bersyukur kepada Tuhan untuk setiap anugerahNya yang datang kepada kita, tetapi kita selalu harus mawas diri setiap anugerah Tuhan yang datang juga bisa menjadi kemungkinan dan kesempatan menjadi berhala di dalam hati kita.

Tulah-tulah yang datang kita bisa lihat sebagai pembelajaran iman, bukan saja kepada orang Mesir tetapi sekaligus juga kepada umat Tuhan. Kalau Tuhan tidak mendatangkan sampai tuntas sepuluh tulah itu mungkin orang Israel tidak bisa melihat betapa ajaibnya dan dahsyatnya Tuhan mengeluarkan mereka. kalau baru satu tulah, mereka sudah diusir keluar, mereka tidak menghargai pembebasan itu. Tetapi setelah ditindas, mengalami kesulitan yang makin lama makin berat, sampai kepada tulah ke sepuluh baru mereka tahu kalau bukan tangan Tuhan yang membebaskan mereka, siapa lagi yang bisa melakukan hal itu? Di situlah anugerah Tuhan datang kepada mereka.

Tetapi sekaligus mengingatkan kita betapa gampangnya mereka melupakan hal itu.

Setelah semua tulah itu datang, nanti kita lihat sejarah di belakang dalam Yosua 24:14 semua itu datang juga untuk membuat bangsa Israel harus mengambil keputusan siapa yang harus mereka sembah. “Oleh sebab itu takutlah akan Tuhan, beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada Tuhan.” Siapa bilang bahwa bangsa Israel yang ditindas dalam perbudakan selama 430 tahun itu tidak berkompromi dalam iman mereka? Siapa bilang bahwa pada saat mereka berseru dan berharap kepada Allah Yahweh untuk membebaskan mereka, ternyata sekaligus saat yang sama mereka juga menyembah illah-illah yang lain untuk menolong mereka? Maka Tuhan Yesus memperingatkan kita bahwa kita tidak bisa bercabang hati menyembah kepada Allah dan kepada Mamon. Yosua memaparkan fakta ini, singkirkanlah illah-illah yang disembah oleh nenek moyangmu pada waktu mereka tinggal di Mesir. Ini menjadi disiplin dan hukuman Tuhan kepada orang Mesir sekaligus juga menjadi satu pembersihan dan pemurnian iman orang Israel sendiri untuk tidak mempermainkan Allah yang kita sembah itu, beribadah dengan tulus kepadaNya sebab Ia adalah Allah yang berdaulat, Ia adalah Allah yang murah hati, Ia adalah Allah yang penuh dengan keadilan, Ia adalah Allah yang El-Shaddai maha kuasa di dalam hidup kita.

Setiap kali kita menghampiri meja perjamuan kembali lagi kita diingatkan akan makna daripada perjamuan kudus itu. Kita tahu dengan jelas bahwa kematian Yesus Kristus di kayu salib menjadi Domba Paskah Allah yang sejati, dengan menerima kematianNya di atas kayu salib, menerima tubuhNya yang disesah demi untuk menebus engkau dan saya. Domba yang disembelih oleh orang Israel tidak dapat menghapus dosa, hanya kematian Yesus Kristus Domba Allah yang sejati yang sanggup menghapus dosa manusia. Itu sebabnya setiap tahun mereka harus mengulang dan mengulang lagi mempersembahkan korban domba memohon pengampunan dosa mereka. Itu selalu menjadi peringatan bagi kita demikian juga kita terima roti dan anggur dalam perjamuan kudus, kita tidak secara mistik mengerti bahwa roti dan anggur ini yang akan mengampuni dosa kita, tetapi dengan memakan roti dan minum anggur ini menjadi lambang kita menerima dan percaya Tuhan Yesus Kristus yang sudah mati menebus dosa kita dengan hati yang gentar, hormat dan sungguh karena kita tahu betapa besar cinta Tuhan bagi kita.(kz)