08. Keluar dari Penggorengan Masuk ke Perapian

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 21/4/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (8)

Nats: Keluaran 5:1-24

 

Dalam film “The Hobbit” muncul kalimat, “Out from the frying-pan into the fire.” Siapa bilang sudah ditolong keluar dari kesulitan berarti hidup akan lancar? Kalau istilah pribahasa Indonesia, keluar dari penggorengan, masuk ke perapian. Itu yang orang Israel alami dalam Keluaran 5 ini. Kaget, bingung dan hati kecut dan mempersalahkan Tuhan melihat kenapa taat kepada Tuhan justru hidup makin susah dan sulit di depan? Pernahkah engkau juga mengalami hal seperti ini? Kadang-kadang kita pikir kita sudah bekerja begitu berat melakukan tanggung jawab kita dengan baik, tetapi bukan kesempatan dan masa depan yang cerah yang datang, melainkan situasi yang makin gelap dan makin kelabu yang terjadi. Orang yang melihat keadaan kita menertawakan kita, mempertanyakan apakah tindakan dan keputusan yang kita ambil itu sungguh benar atau tidak. Seorang mengambil keputusan pergi bersama isteri dan anaknya yang masih kecil untuk menjadi misionari di pedalaman. Orang tuanya sangat menentang keputusan itu. Tidak lama setelah tiba di ladang misi, anaknya yang masih kecil itu mengidap penyakit yang berat, mau tidak mau mereka harus kembali untuk mengobatinya. Anak Tuhan yang berani mengambil keputusan untuk tidak menerima tawaran cinta dari seorang pemuda yang bukan Kristen, menanti tahun demi tahun tidak kunjung datang pemuda Kristen yang baik ke dalam hidupnya. Seorang pendeta yang memutuskan untuk memulai satu pelayanan Bible Study dengan jumlah yang hadir 20 orang. Berjalan enam bulan lamanya, tinggal 5 orang tersisa. Tidak ada yang salah dengan khotbahnya. Tidak ada yang salah dengan eksposisi Alkitabnya. Tidak ada yang salah dengan motivasi hatinya yang jujur tidak mencari keuntungan apa-apa dari pelayanan ini. Seorang Kristen yang melihat ada hal yang tidak beres di dalam pembukuan di perusahaan dimana dia bekerja. Dia hanya berkata kepada finance manager-nya ada angka yang berbeda di pembukuan ini. Tiga bulan kemudian dia dipecat tanpa alasan.

Seperti inilah yang bisa kita lihat terjadi dalam hidup kita hari ke hari, menjadi bagian di dalam pengalaman dan perjalanan setiap kita.

Sebelum Musa pergi menghadap Firaun, Musa mengeluarkan begitu banyak excuses dan keberatan kepada Tuhan. Siapa saya? Bagaimana kalau mereka tanya siapa Engkau? Bagaimana kalau mereka tidak percaya kepadaku? Bagaimana kalau mereka tidak mau terima apa yang aku katakan? Seperti engkau dan saya yang hendak mengambil keputusan, tidak ada di antara kita yang sudah dewasa dan bertanggung jawab, yang tidak memikirkan side-effect dan konsekuensi yang harus kita tanggung, memikirkan apa yang terbaik dan paling bijaksana di dalam situasi itu dan kita juga pasti akan memikirkan ‘the worse case‘ apa outcome terburuk yang bisa terjadi. Musa sudah memikirkan hal-hal itu, dan kalau kita membaca Kitab Keluaran selanjutnya, hampir semua yang dia kuatirkan dan takutkan memang akhirnya terjadi. Musa bisa berkata dan complain kepada Tuhan, “See, I told You so…” Excuses Musa itu bukan ketakutan dan kekuatiran yang tidak berdasar. Keluaran 5 ini memperlihatkan memang akhirnya itu terjadi. Bangsa Israel tidak mengindahkan apa yang Musa katakan. Firaun juga mengejek dan menertawakan dia.

Tuhan dengan sabar menjawab semua excuses Musa. Tuhan berikan janji penyertaanNya kepada Musa. Tuhan menyatakan kuasaNya dengan melakukan mujizat di depan mata Musa. Itu semua membuktikan Musa tidak ditinggalkan sendirian melakukan tugasnya. Janji dan penyertaan Tuhan kepada keraguan dan ketakutan Musa tidak berarti membuat keraguan dan ketakutan itu tidak terjadi. Bahkan setelah Musa melakukan semua tanda dan mujizat Tuhan di hadapan bangsa Israel, tetap itu semua tidak menyebabkan mereka mengikuti Musa. Kalau akhirnya seperti itu, apa yang engkau dan saya akan lakukan? Ini yang menjadi point penting bagi kita. Kalau engkau sekarang sedang bergumul untuk memutuskan banyak hal di depan, bagaimana engkau akan mengambil keputusan, di dalamnya ada kesempatan, tetapi juga akan ada resiko; di dalamnya ada unsur-unsur yang tidak terduga bisa terjadi. Tetapi melalui bagian kisah ini membuat kita tidak mengendurkan hati kita untuk berani berjalan dan melangkah, karena kita tahu Tuhan yang berfirman dan berjanji menyertai kita. Selama kita tahu kita berjalan di dalam kebenaran firmanNya, kita berjalan dengan hati yang bulat untuk memperkenan Tuhan di situ.

Musa setelah menerima panggilan dan pengutusan Tuhan, menerima janji penyertaan Tuhan, ada banyak aspek yang Tuhan sudah bilang terlebih dulu kepadanya terjadi, Musa tetap berjalan walaupun berat dan susah. Salah satunya kita perhatikan ada perbedaan di pasal 3 dan 5. Dalam Keluaran 3:18 “Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus beserta para tua-tua Israel pergi kepada raja Mesir…” Benar, pada ayat terakhir Keluaran 4 Musa pergi kepada Harun dan berkata kepada tua-tua orang Israel dan apa yang mereka katakan membuat tua-tua Israel percaya, mereka tersungkur berlutut dan menyembah Tuhan (Keluaran 4:31). Namun dalam Keluaran 5:1, siapa yang pergi menghadap Firaun? Dimana semua tua-tua itu? Di situ kita melihat satu kesadaran kolektif Tuhan sudah pimpin dengan jelas kepada semua dan mereka percaya dan mau bersatu-padu sama-sama melaksanakannya, dan Tuhan mau firmanNya yang datang kepada Musa juga diamini oleh sekelompok pemimpin tua-tua ini. Tuhan sudah menyuruh Musa menyampaikannya kepada mereka dan mereka tahu ini adalah firman Tuhan Allah dan mereka akan menjalankan hal ini. Tetapi dalam Keluaran 5:1 kenapa hanya Musa dan Harun yang datang menghadap Firaun? Di mana mereka? Ini memberikan kita sedikit gambaran, betapa situasinya tidak gampang dan tidak mudah, bukan? Sdr bisa bayangkan mereka harus menghadap raja yang besar, pemerintah yang powerful, militer yang begitu kuat, mereka yang sudah lama dijajah dan ditindas sudah tidak punya keberanian untuk bereaksi dan berontak lagi walaupun hati sudah menanggung beban begitu berat, mereka ‘keder’ dan tidak berani datang. Kalau sudah begitu, Musa dan Harun harus bagaimana? Alkitab mencatat Musa dan Harun tetap pergi. Tua-tua yang lain bilang, “Ya! Kita dukung! Mari!” Sudah sampai di pintu gerbang hati jadi ciut, “Eh, Musa, kamu saja yang masuk. Kita takut kepala kita juga ikut dipenggal.” Wajar reaksi orang-orang seperti ini bisa terjadi, hati mau tetapi tidak ada keberanian. Namun pada saat yang sama kalau engkau seorang diri harus mengambil keputusan, engkau sendiri yang harus fight untuk dirimu, berjuang untuk apa yang engkau rasa benar dan yakini, engkau tidak bisa bersandar dan berharap kepada orang lain. Musa tidak bisa bilang, ‘kalau kalian tidak berani masuk sama-sama, saya juga tidak jadi masuk dong.’ Sdr bayangkan bagaimana kecamuk yang ada di dalam hati Musa dan Harun saat itu. Mereka tinggal berdua saja menghadap Firaun. Namun di situ kita juga melihat meskipun semua yang dia pikirkan, semua yang dia takutkan terjadi, itu tidak mengendurkan hatinya dan perasaannya untuk tetap maju.

Di tengah kita bergumul terhadap pekerjaan kita, keputusan hidup yang akan kita ambil, bagaimana kita akan melangkah di depan, banyak hal yang ada di depan kita, stay di sini atau kembali ke Indonesia, keputusan melepaskan satu pekerjaan dan pindah ke tempat lain, menikah atau tidak, punya anak atau tidak, pelayanan bagaimana, dsb engkau harus seorang diri menghadapinya. Bagaimana juga dengan situasi yang engkau sedang hadapi, keputusan untuk menyatakan sesuatu prinsip apa yang engkau rasa benar dan salah, semua itu memiliki kesempatan dan resiko di dalamnya. Semua itu mungkin bisa membuat engkau berdiri mengambil keputusan sendiri, dan hanya isterimu yang berdiri di sisimu, atau teman baikmu satu orang. Yang lain mungkin setuju, tetapi tidak berani ambil resiko mengambil keputusan bersama-sama.

Tetapi bagi Musa, Harun seorang diri mendampinginya sudah cukup. Tuhan sudah berjanji menyertainya, Tuhan sudah berjanji memimpin hidupnya, Tuhan sudah berjanji memeliharanya. Itu sudah cukup bagi dia, walaupun semua yang dia takutkan ternyata memang terjadi, itu tidak mengendurkan Musa karena dia tahu ini adalah tugas panggilan dan sikap hatinya untuk memperjuangkan karena dia tahu ini adalah hal yang benar dan baik adanya.

Kedua, Firaun di sini bukan hanya seorang raja yang keji, tetapi dia adalah satu perwakilan dari kejahatan dan Setan yang menjadi oposisi dari pekerjaan Tuhan. Dia tidak pernah bersikap netral dalam hal ini. Jangan pikir kita melawan kejahatan dan kejahatan tidak melawan kita. Jangan pikir kita menolak dosa dan dosa tidak melawan kita. Setan tidak akan pernah pergi begitu saja, dia akan aktif menjalankan perlawanan. Dalam kisah ini kita melihat bagaimana sikap hati Firaun yang penuh dengan kebencian itu juga mendatangkan kerusakan kepada orang secara individu, tetapi kepada anak-anak Tuhan dalam skala besar. Sejarah memperlihatkan kepada kita ketika Gereja Tuhan dan umat Tuhan mengalami penganiayaan secara sistematik, tekanan dan aniaya itu bukan dilakukan satu individu kepada satu individu yang lain. Firaun mempersulit orang Israel dengan menyuruh mereka membuat batu bata sambil mencari sendiri bahan baku jerami yang mereka. Kualitas barang harus sama, jumlah produksi harus sama, tetapi pekerjaan menjadi sangat berat karena mereka harus bangun lebih pagi, berangkat mencari bahan baku yang makin lama makin sedikit dan mereka harus berebutan dengan sesama orang Israel mendapatkannya. Inilah respons dari Firaun kepada Musa dan Harun yang hari itu datang kepadanya.

Keluaran 5:15 “Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya…” Inilah ironi yang selalu terjadi di dalam hidup orang percaya. Penindas adalah Firaun, penjajah adalah Firaun, tetapi bangsa Israel tetap mencari pertolongan kepada dia. Mana mungkin Firaun yang adalah penjajahakan membebaskan? Ini menjadi satu ironi. Mandor-mandor itu pergi dan mencari pertolongan kepada Firaun.

Pergumulan hidup kita berjuang menghadapi situasi hidup kita mungkin seperti itu juga. Kalau kita berada pada situasi orang Israel itu kita mungkin tidak akan melakukan hal yang sama karena kita tahu betapa jahatnya evil. Tetapi Alkitab memperlihatkan datangnya tawaran dosa itu tidak sekedar sebagai suatu kejahatan yang bersifat destruktif, tetapi dia juga datang sebagai suatu yang tawaran yang tidak mudah kita abaikan dan tolak. Pada waktu kita berada di dalam kondisi yang putus asa, kita justru lari kembali kepada jerat dosa yang akan mengikat kita lebih erat. Itulah sebabnya mengapa rasul Paulus dalam Roma 7 mengatakan kita sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, jangan lagi kita memperhambakan diri kepadanya. Pergumulan orang yang sudah ditebus oleh Tuhan bagaimana menghadapi tawaran yang sangat menggiurkan dari dosa itu dituliskan oleh Paulus di sini, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki yaitu yang baik yang aku perbuat melainkan apa yang tidak aku kehendaki yaitu yang jahat aku perbuat” (Roma 7:19). Dan akhirnya keluar teriakan putus asa dan desperate bagaimana bisa lepas dari ikatan jerat dosa yang menawan kita, “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus Tuhan kita” (Roma 7:24-25). Kematian Kristus adalah kematian atas dosa, supaya setelah itu kita hidup di dalam kebenaran, kasih dan kekudusan Tuhan.

“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya karena kamu mengikuti jalan dunia ini…” (Efesus 2:1-2).  Inilah ironi yang terjadi di dalam diri orang Kristen. Kita dahulu sudah mati karena dosa-dosa kita, tetapi sekarang kita memilih hidup kembali di dalam dosa ketika kita mengikuti jalan dari dunia ini. Itu sebab nantinya berulang-ulang, meskipun bangsa Israel telah keluar dari Mesir, berjalan di padang gurun sebagai orang yang sudah lepas dan merdeka, mereka selalu menyatakan keinginan untuk kembali ke Mesir lagi. Walaupun mereka tahu hidup di bawah tekanan perbudakan Firaun betapa sulit berat dan menderita, walaupun mereka tahu Firaun begitu bengis terhadap mereka, inilah ironi yang terjadi. Mereka tidak datang kepada Tuhan minta pertolongan. Mereka tidak datang kepada Musa menyatakan memang mereka perlu dilepaskan karena penderitaan mereka semakin berat. Makin kuat tekanan dan ikatan dosa itu, mereka tertipu dan mereka pikir Firaunlah yang sanggup melepaskan mereka dari semua itu.

Pada waktu kita hidup sebagai anak Tuhan di dalam dunia ini, kita telah dilepaskan dari kuasa dosa, kita terus-menerus diperhadapkan kepada pencobaan yang bisa menyeret kita jatuh, Setan terus-menerus menggoda kita untuk kembali kepadanya karena kita pikir itu adalah tawaran yang membuat hidup kita lebih nyaman dan lebih baik. Jangan pernah kembali lagi kepada kejahatan yang telah memperbudak engkau pada masa yang lampau, karena dia akan menipu, menjerat dan mengikatmu lebih erat lagi.

Dari firman Tuhan ini kita belajar terbuka melihat dimana posisi hidup kita. Kita belajar berani berkata tidak kepada rayuan dan tipuan dosa, sekalipun hidup kita berjalan dari “bad to worse”. Seperti Paulus berkata, masakan aku harus terus-menerus hidup di dalam dosa supaya Tuhan makin berbelas kasihan dan memberikan karunia kepada kita? Tidak. Tuhan telah membebaskan kita dari perbudakan dosa, maka jangan serahkan lagi anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai menjadi senjata-senjata kegelapan. sebaliknya kita dipanggil untuk memakai hidup kita menjadi senjata-senjata kebenaran. Kita tahu pergumulan itu tidak gampang dan tidak mudah.

Ketiga, mereka berjumpa dengan Musa dan Harun (Keluaran 5:20-21). Mandor-mandor ini menyerang dan mempersalahkan Musa sebagai penyebab kesulitan hidup mereka. Mereka marah dan mengamuk kepadanya dan memaki serta mengutukinya supaya Tuhan menghukum Musa. Pada waktu kita berjalan di dalam hidup ini, ketika kita sudah ikut Tuhan baik-baik, mengasihi mencintai Tuhan, tetapi yang terjadi di depan bukan hal yang lebih indah dan lebih baik tetapi malah lebih sulit dan lebih buruk, wajarlah kita menjadi bingung dan confused, wajar kita mungkin kecewa. Tetapi biar kita berhenti sampai di situ. Jangan kita sampai melangkah lebih daripada itu dan membuat reaksi kekecewaan dan kebingungan kita mengontrol sikap kita selanjutnya. Musa bingung, Musa kecewa, Musa tidak mengerti kenapa Tuhan tidak bertindak secara aktif di dalam situasi itu. Mari kita perhatikan dialog Musa dengan Tuhan di sini. Musa datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, mengapakah Kau perlakukan umat in begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kau utus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas namaMu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umatMu sama sekali” (Keluaran 5:22-24). Perhatikan berkali-kali Musa menuduh Tuhan di sini. Musa mempersalahkan Tuhan untuk tindakan Firaun yang bengis kepada orang Israel.

Melihat reaksi Musa, kita bisa melihat, seagung-agungnya karakter Musa, tetap dia adalah manusia yang sama seperti engkau dan saya. Sebagai seorang pemimpin wajar Musa kecewa dan mengeluh, tetapi kemudian dia mempersalahkan Tuhan, di situ kita tahu betapa lemahnya dia dan betapa kurang dan terbatasnya dia. Sebagai manusia kita juga lemah, kita berada di dalam dimensi ruang dan waktu yang terbatas adanya. Kita ada di sini, kita hanya bisa melihat yang sekarang ini, kita tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang. Kita dibatasi oleh waktu, kita tidak bisa mengontrol, mereka-reka dan mengantisipasi apa yang akan terjadi di depan. Semua ini mengingatkan kita betapa lemah dan terbatasnya kita ini. Pada waktu hal-hal yang baik terjadi di luar dugaan kita, kita bisa dengan ringan memuji Tuhan, berterima kasih untuk hal yang menyenangkan dan surprise di luar ekspektasi kita. Tetapi pada saat yang sama waktu hal-hal yang lebih buruk terjadi, bagaimana sikap kita kepada Tuhan? Kita belajar seperti Yesus Kristus, seperti yang digambarkan oleh nabi Yesaya, “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, Dia tidak membuka mulutNya” (Yesaya 53:7). Dia tidak memberontak dan melawan, Dia taat sampai pada akhirnya karena Dia tahu Allah Bapa-Nya bisa membentuk dan menenun apa yang tidak baik menjadi indah nantinya. Ia adalah Anak Allah yang memiliki kemuliaan bersama Bapa di surga, Ia patut mendapatkan segala pujian, hormat dan sembah kita. Rasul Paulus mengatakan, “Ia tidak menganggap semua itu sebagai milik yang harus Ia pertahankan, melainkan Ia mengosongkan diriNya dan menjadi seorang hamba bahkan sampai mati di kayu salib di dalam kehinaan” (Filipi 2:6-8).

Itu sebab kita perlu bersandar dan meminta pertolongan dari Tuhan kita Yesus Kristus untuk menjalani hidup kita setiap hari, apapun yang terjadi kita bukan melihat kepada siapa-siapa, kita melihat kepada Kristus. Ikutlah Dia, contohlah teladanNya, dan biar selurus sifat dan karakterNya hadir dan nyata di dalam hidup engkau dan saya. HatiNya yang taat kepada Allah, persandaranNya yang penuh kepada Bapa, itu merupakan sikap yang engkau dan saya harus turuti dan ikuti di dalam perjalanan kita sebagai anak Tuhan. Biar kita membulatkan hati kita untuk ikut Tuhan dan berjalan bersama Tuhan. Kita percaya janji dan penyertaan Tuhan itu cukup bagi setiap kita. Melalui firmanNya Ia menguatkan kita dan memberikan penghiburan bagi kita. Meskipun si Jahat seolah mengontrol situasi di sekitar kita dan selalu melakukan tindakan oposisi kepada kita, bahkan bisa membuat keadaan makin lama makin memburuk daripada yang yang kita kuatirkan, biar hati kita percaya dan bersandar kepada Tuhan.(kz)