39. Keindahan dan Sukacita dalam Tuhan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 11/5/2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (39) – TERAKHIR

Nats: Keluaran 34:29-35

 

Lima pasal terakhir dari kitab Keluaran adalah lima pasal yang begitu indah luar biasa, begitu penuh dengan sukacita. Semua hal yang indah, yang agung, yang mulia, keindahan yang terjadi, bisa kita pelajari dari bagian ini.

Pertama, betapa bersinarnya wajah orang yang bertemu muka dengan muka dengan Allah. Beberapa kali Musa bertemu dengan Tuhan tetapi Alkitab tidak memberi catatan wajahnya bersinar. Namun Alkitab mengatakan setelah pertemuan dengan Tuhan itu wajah Musa begitu bercahaya (Keluaran 34:29-30). Keindahan wajah Musa bersinar setelah berjumpa dengan Tuhan itu adalah satu konfirmasi Tuhan berkenan kepada Musa. Setelah peristiwa lembu emas itu, sedihlah hati Musa oleh sebab bangsa Israel menolak Musa memimpin mereka. Kalimat penghinaan “this guy Moses,” yang mereka katakan tentang Musa begitu menyakitkan, tetapi yang sangat dalam bagi Musa penolakan mereka kepada Musa itu juga merupakan penolakan mereka kepada Tuhan yang memimpin mereka (Keluaran 32:1ff). Tidak heran kemah pertemuan kecil yang dibuat oleh Musa sebagai tempat khusus dia bersujud dan berdoa dan menangis untuk bangsa ini, Tuhan membuat wajahnya setelah keluar dari tempat itu bersinar karena indah dan agung luar biasa karakter Musa seperti ini.

Kemana Musa harus pergi memohon atas kehancuran spiritual bangsa Israel kecuali dia datang kepada Tuhan? Kemana lagi Musa harus pergi untuk mencetuskan setiap keluhan hati dan kesedihannya serta pergumulan yang dialaminya kecuali dia pergi mencari wajah Tuhan? Hal ini mengingatkan engkau dan saya pada waktu kita menghadapi berbagai persoalan, kesulitan dan tantangan di dalam hidup kita, jangan lihat itu. Mari kita datang melihat wajahnya Tuhan. Mari kita bergumul mencari wajah Tuhan dan perkenananNya. Saya berharap dan berdoa, kiranya kita jangan melalaikan dan mengabaikan hidup kita berdoa kepadaNya. Memang betul setiap hal yang kita alami kita pasti senantiasa merencanakan sesuatu untuk mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi, kita memikirkan bagaimana setiap resources yang kita mampu untuk bisa melakukan apa yang ada di dalam hidup kita, kita juga memikirkan opsi-opsi yang ada jikalau hal-hal itu terjadi di dalam hidup kita, tetapi kita diajarkan dari bagian ini, tidak boleh dan jangan pernah melupakan untuk mencari wajah Tuhan di dalam hidup setiap kita.

Hal yang kedua terjadi saat Musa datang mencari wajah Tuhan, di situlah dia berdoa kepada Tuhan, mencari pimpinanNya, memohon penyertaan Tuhan bagi bangsanya, dan pada saat yang sama Alkitab mencatat setelah dia keluar dari pertemuan dengan Tuhan, tidak disadari wajahnya bersinar. Saya percaya Musa bingung waktu dia keluar dari kemah itu kenapa orang-orang itu semua lari. Lalu waktu Musa memanggil mereka, sadarlah Musa wajahnya bersinar. Kita tidak perlu terlalu kuatir bagaimana melihat wajah kita, kita tidak perlu terlalu kuatir bagaimana orang lain melihat wajah kita, kita tidak perlu takut dan anxiety bagaimana orang melihat ‘achievement’ dan prestasi kita. Musa lupa akan semua hal itu, karena pada waktu dia sudah bertemu dengan Tuhan, melihat keindahan dari wajah Tuhan yang boleh menuntun dan memelihara dia, lenyap sudah semua bagaimana kita melihat diri kita.

Yang ketiga, pada waktu Musa bertemu Tuhan, wajahnya bersinar, kemuliaan Tuhan ada dan penuh di dalam kehidupan Musa, sebab dia bertemu dengan Allah yang suci, Allah yang agung, Allah yang indah, Allah yang adalah terang cahaya, dan Allah yang kita cari wajahNya itu betul-betul merubah dan mentransformasi Musa.

Paulus di dalam 2 Korintus 3:7-11 memberi kontras yang lebih lagi, jikalau Musa turun membawa 10 hukum Tuhan kepada bangsa Israel, hukum itu begitu indah dan begitu agung namun bangsa Israel tidak sanggup dan tidak bisa menaati tuntas hukum itu, sehingga kata Paulus hukum yang dibawa oleh Musa adalah “hukum yang membawa kematian.” Tetapi meskipun demikian, wajah Musa berseri dan bercahaya. Lebih-lebih lagi Yesus yang membawa Injil menjadi hukum kehidupan, betapa lebih lagi sukacita yang dibawaNya. Maka Ibrani 1:3 mengatakan Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan wajah Tuhan. Jikalau dibandingkan dengan kemuliaan wajah Musa bersinar, wajah Musa hanyalah sinar lampu dibandingkan dengan cahaya kemuliaan Kristus yang bersinar seperti matahari. Matius 17 mencatat wajah Yesus bersinar seperti matahari, bajuNya putih bercahaya dan murid-murid menjadi takut luar biasa pada waktu Yesus mengalami transfigurasi penuh kemuliaan di atas gunung itu.

Kemuliaan Allah tidak akan mungkin tertahankan bersinar dari wajah orang-orang itu mencari dan bertemu dengan Tuhan di dalam hidupnya. Seberat apapun kesulitan yang kita alami, yang bisa mengerutkan dahi kita, yang bisa memutihkan rambut kita, tidak akan sebanding tatkala orang melihat wajah kita yang menaruh perharapannya kepada Tuhan. Di situ orang yang mencari wajah Tuhan akan merefleksikan sifat dan karakter Tuhan muncul padanya. Saat kita berdiri dengan terbuka, dengan tulus dan dengan jujur di hadapan Tuhan, sinar kemuliaan Tuhan, kasihNya, sukacitaNya, pemeliharaanNya, kekuatanNya, itu pasti akan datang merembes dan menjadi cahaya yang menyentuh hati setiap kita. Musa datang ke dalam kemah pertemuan membawa kesulitan dan air mata bagi dosa bangsa Israel yang sudah menyembah patung lembu emas, Musa keluar membawa sukacita, damai sejahtera, sinar kemuliaan Tuhan itu menjadi berkat dan sukacita bagi orang yang melihatnya.

Apakah setiap kali melihat wajahmu dan wajahku orang akan melihat pemeliharaan Tuhan di situ? Apakah setiap kali melihat wajahmu dan wajahku orang akan melihat ada pengharapan di situ? Apakah setiap kali melihat wajahmu dan wajahku dia akan melihat berkat dan keteduhan di situ?

Point kedua, keindahan apa yang bisa kita lihat di dalam 5 pasal yang terakhir kitab Keluaran ini? Kita melihat keindahan hati yang rela memberi secara bersama-sama. Keluaran 35:21 mengatakan “…sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya dan terdorong jiwanya membawa persembahan…” Keluaran 35:29, “…semua laki-laki dan perempuan yang terdorong hatinya…” Keluaran 36:6 “Musa memerintahkan, tidak usah lagi membawa persembahan sebab bahan yang diperlukan telah cukup, bahkan berlebih.” Memberi kepada Tuhan yang keluar dari hati adalah ciri seorang anak Tuhan yang sejati, ciri dari seseorang yang mengetahui apa yang sudah Tuhan lakukan bagi hidupnya.

Dalam bagian ini kita bisa menemukan sebelum Musa memberi hukum dan aturan mengenai kewajiban memberi persembahan, bagian ini memperlihatkan pemberian itu adalah pemberian yang bersifat sukarela, pemberian yang terjadi karena setiap orang itu tergerak hatinya. Tetapi yang lebih indah lagi bukan saja mereka memberi dengan sukarela dan hati yang tergerak, tetapi mereka tergerak secara bersama-sama. Kemah Suci yang akan dibangun itu perlu emas, perlu perak, perlu tembaga, dan bukan saja itu semua dimiliki oleh orang yang kaya dan berada, Kemah Suci itu juga perlu kain dan orang-orang yang memiliki kain membawanya ke hadapan Tuhan. Dan bukan saja Kemah Suci perlu emas, perak, tembaga, dan kain, Kemah Suci juga perlu kayu, perlu tali, perlu kulit kambing, dsb. Keindahan dari bagian terakhir kitab ini adalah ketika Tuhan menyuruh setiap mereka masing-masing pulang ke kemahnya, memikirkan apa yang akan mereka bawa sebagai persembahan bagi pembangunan Kemah Suci, dua pasal ini, Keluaran 35 dan 36, memperlihatkan persembahan mereka seperti air bah yang mengalir tidak henti-henti dan tidak habis-habisnya masing-masing orang, laki-laki dan perempuan, semua orang Israel itu tergerak hati secara bersama-sama datang membawa apa yang mereka miliki yang indah dan berharga kepada Tuhan, sampai Tuhan berkata sudah cukup. Kenapa mereka memberi dengan indah seperti itu? Oleh sebab hati mereka sudah mengerti apa yang Tuhan telah lakukan di dalam hidup mereka. Mereka sudah melihat Tuhan begitu murah hati, ‘God is so gracious,’ panjang sabar dan berlimpah kasih dan setianya. Mereka menyadari mereka ada di ujung tepi jurang, layak mereka dihukum dan dibinasakan oleh karena ketidak-taatan mereka kepada Tuhan yang sudah terlalu baik itu. Muncul kesadaran betapa murah hati Tuhan mengampuni mereka, cinta kasih Tuhan tidak bisa dibayar dan diganti dengan apapun yang mereka miliki. Itulah sebabnya mereka tergerak memberi apa yang ada pada mereka kepada Tuhan.

Tidak banyak catatan Alkitab mengenai pemberian yang bersifat ‘gracious.’ Alkitab ada mencatat Yesus mengamati seorang wanita miskin membawa persembahan di Bait Allah memberi dengan jumlah kecil dibanding yang lain, tetapi Tuhan Yesus memuji wanita ini memberi semua yang ada padanya seluruhnya bagi Tuhan (Markus 12:41-44). Alkitab mencatat seorang wanita yang telah diampuni dosanya datang kepada Yesus dan memberikan persembahan minyak narwastu yang mahal untuk mencuci kaki Yesus. Menyadari betapa besar anugerah Tuhan baginya, dia rela memberikan minyak wangi yang mahal harganya itu sebagai ucapan syukurnya (Lukas 7:36-50). Paulus juga memberi kesaksian Jemaat Makedonia yang begitu indah memberi dipakai oleh Paulus menjadi contoh bagi jemaat yang lain yang jauh lebih kaya yaitu Jemaat Korintus. Paulus mengatakan meskipun mereka begitu miskin, mereka memberi memberi lebih daripada kemampuan mereka memberi (2 Korintus 8:1-5). Alkitab tidak mencatat semua pemberian yang penuh dengan sukacita dan pengorbanan itu dengan iming-iming janji bahwa Tuhan akan membalas berlipat ganda memberkati mereka yang telah memberi. Yesus tidak memberi iming-iming janji bahwa sepulang dari Bait Allah janda itu akan hidup kaya berlimpah dengan berkat dari Tuhan. Tetapi tidak adanya janji seperti itu tidak membuat mereka tidak memberi karena mereka mengetahui dan menyadari apa yang Tuhan telah terlebih dulu memberi kepada mereka.

Satu orang yang tergerak untuk memberi itu mendatangkan sukacita, tetapi pemberian itu tidak sanggup bisa memenuhi seluruh keperluan dari Kemah Suci. Tetapi ketika semua orang bersama-sama datang membawa persembahan mereka, maka Kemah Suci itu dibangun oleh sebab setiap orang yang tergerak hati, laki-laki dan perempuan, orang kaya dan pemimpin serta wanita sederhana, memberi dengan sukacita keluar dari hati yang tergerak. Limpahlah keindahan orang yang tergerak hatinya oleh sebab dia tahu apa yang Tuhan sudah beri di dalam hidupnya. Limpahlah lebih dalam jikalau dia tergerak secara bersama-sama, hati itu disatukan, dan dalam bagian ini menghasilkan pemberian yang berkelebihan di dalam Rumah Tuhan.

Keindahan yang ketiga adalah keindahan dari kerja sama dan semua pengetahuan dan semua keahlian dipakai. Ada dua orang secara khusus Tuhan perintahkan untuk Musa pakai yaitu Bazaleel dan Aholiab karena dua orang ini memiliki keahlian yang luar biasa, yang bisa mengukir dengan indah luar biasa karena Tuhan memberikan kemampuan itu kepadanya (Keluaran 31:1-11, 35:30-35). Tuhan memakai mereka dan menjadikan mereka boleh mengajar orang-orang lain sehingga bisa mengukir dan menyulam semua perangkat Rumah Tuhan dengan begitu indah, karena Allah kita adalah Allah keindahan, Allah kita adalah Allah yang memberikan semua yang begitu indah dan agung. Semua keindahan di dalam alam semesta yang begitu cantik dan indah menyatakan siapa Allah yang menciptakannya. Maka Kemah Suci dibuat dengan peralatan yang terbaik, dan dengan keindahan seni dari bakat orang-orang yang bisa mengerjakan hal-hal itu.

Musa menerima firman Tuhan, Musa mengajar. Ada 70 tua-tua yang Tuhan pakai untuk mengajar dan memimpin umat Israel. Tetapi orang-orang ini ‘lacking skill’ dan pengetahuan kemampuan yang lain. Tetapi di situ kita bisa menemukan ada orang-orang yang tertentu yang Tuhan pakai untuk mengerjakan keindahan dari skill yang mereka miliki. Ini keindahan ketiga, keindahan dari semua orang yang tahu mereka dikaruniai pengetahuan tertentu, mereka diberi keahlian tertentu dan mereka mau mempersembahkan semua itu dipakai bagi kemuliaan nama Tuhan. Musa melayani firman. Harun dan para imam yang di bawahnya mengatur ibadah secara teratur. Bazaleel dan Aholiab mempunyai karunia dalam bidang seni, wanita-wanita yang ada mempunyai keahlian untuk menenun kain, semua bekerja dengan harmonis.

Keindahan keempat yang begitu menyentuh hati saya adalah Keluaran 39:32-43, saat semua pekerjaan pembangunan Kemah Suci itu selesai, kompit, tuntas. Mereka membawa semua hasil pekerjaan mereka satu demi satu ke hadapan Musa. Alkitab mencatat beberapa kali di bagian ini “mereka telah melakukannya seperti yang diperintahkan TUHAN…” Dan di ayat 40 “…lalu Musa memberkati mereka.”

Terhapuslah air mata dan kesedihan Musa atas dosa bangsa ini yang telah memberontak dan melawan Tuhan dengan menyembah lembu emas setelah dia berjumpa dengan Tuhan di dalam kemah pertemuan. Pupus semua tangisan, air mata dan ratapan keluh kepada Tuhan pada waktu Musa melihat seluruh bangsa itu datang dengan kesehatian, dengan tergerak hati dan dengan penuh kerelaan, melakukan semua yang diperintahkan dengan tepat, tidak ada yang melenceng. Mereka bawa semua yang telah mereka buat, perkakas-perkakas semua tepat dengan ukuran yang sudah diberi Tuhan. Berkat penuh terjadi bagi mereka yang mengerjakan secara tepat apa yang Tuhan perintahkan di dalam hidup mereka.

Tuhan berkata kepada Abraham, Aku akan memberkati engkau dan supaya hidupmu boleh menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberikan berkat kepada kita supaya kita bahagia, tetapi bukan saja supaya kita bahagia, melainkan supaya di dalam kebahagiaan kita itu berkat yang Tuhan beri itu menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Tetapi apakah hanya sampai kepada kebahagiaan orang lain saja? Tidak. Setelah orang-orang lain mendapat berkat dari kebahagiaan orang-orang yang diberkati Tuhan, kebahagiaan itu menyebabkan mereka memuliakan Tuhan yang sudah memberi berkat. Kita bisa melihat ‘cycle’ ini berulang terus. Mereka datang memberi sebab mereka tahu Tuhan sudah memberkati mereka. Tetapi di bagian ini ketika mereka datang membawa semua hasil karya pekerjaan itu, Musa penuh dengan sukacita melihat mereka telah melakukannya seturut dengan apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka setia kepada Tuhan setia kepada Tuhan sehingga setelah mereka mengerjakan semua dengan baik, Musa dengan sukacita bersyukur dan tidak ada hal lain dia mohonkan kepada Tuhan kecuali dia minta Tuhan memberkati mereka.

Orang yang memberi dan menerima berkat, dia akan memberi berkat. Dan berkat itu tidak akan pernah hilang dan habis di dalam hidupnya, terus menjadi lingkaran yang tidak habis-habis. Di situlah sukacita kita, sukacita dari orang-orang yang menerima berkat Tuhan. Pada waktu dia memberikan berkat itu kepada orang lain, berkat itu datang dengan sukacita yang melimpah. Terjadinya siklus sukacita berlimpah dari orang yang karena tahu ada anugerah dan berkat Tuhan maka mereka melakukan apa yang terindah dan terbaik kepada Tuhan seturut dengan apa yang Tuhan perintahkan kepada mereka. Lalu sesudah mereka memberikan dan menyerahkan kepada Tuhan setiap pemberian itu, itu sudah menjadi sukacita tersendiri. Alkitab mengatakan Musa menerima apa yang mereka telah kerjakan itu lalu memberi berkat Tuhan kepada mereka.

Jadi ini bukan sekedar kerutinan pemberian berkat yang dilakukan setelah kebaktian, tetapi itu harus menjadi satu prinsip bahwa Tuhan yang kita datang berbakti kepadaNya adalah Tuhan yang tidak pernah membiarkan orang-orang yang datang dengan sukacita kepadaNya berbakti dan telah menikmati berkat Tuhan itu tidak menerima berkat demi berkat dariNya. Mereka datang karena tangan sudah penuh. Mereka beri kepada Tuhan, mereka pulang pun tangan limpah dan penuh membawa berkat dari Tuhan.

Keindahan yang terakhir, penuhlah kemuliaan Tuhan turun kepada mereka di Kemah Suci itu (Keluaran 40:34). Tuhan dengan segala kemuliaanNya hadir dan menyertai untuk memimpin umat Israel sepanjang perjalanan mereka. Kitab Keluaran ditutup dengan keindahan penyertaan Tuhan yang memberikan jaminan kepastian Ia tidak meninggalkan mereka siang dan malam (Keluaran 40:36-38).

Bersinarlah wajah orang yang bertemu Tuhan muka dengan muka. Indahlah hati orang-orang yang sama-sama tergerak memberi bagi Rumah Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Bersyukurlah kita sebab ada keindahan kerja sama dari karunia dan bakat talenta daripada orang-orang yang rela dipakai Tuhan. Penuhlah berkat Tuhan justru kepada orang-orang yang dengan setia dan taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Yang terakhir, berlimpah dan penuhlah kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci.

Hari ini kita menutup pembahasan Kitab Keluaran, bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi dan memberkati dengan limpah. Biar dengan pembahasan firman ini hati kita digugah sekali lagi karena kita memiliki Tuhan Yesus Kristus, cahaya kemuliaan Allah yang duduk di tahta yang agung dan mulia. Ia yang meninggalkan rumah surgawi untuk datang mati di kayu salib untuk menebus dosa kita, yang senantiasa menjadi berkat dan sukacita kita yang tidak ada habis-habisnya. Biar kita boleh menjadi anak-anak Tuhan yang penuh dan berlimpah dengan segala keindahan keagungan dan kebesaran Tuhan. Biar bagian ini juga menjadi sukacita kita melihat bagaimana kita mencintai dan mengasihi Tuhan yang telah terlebih dahulu mengasihi kita.(kz)