24. Keagungan dan Kedahsyatan Allah

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 8/9/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (24)

Nats: Keluaran 19:7-25

 

Bagaimana kita bertindak, bagaimana kita berprilaku di dalam hidup ini sangat ditentukan juga dengan berapa besar, berapa agung, berapa luas kita memahami Tuhan Allah itu di dalam hidup kita. Pada waktu kita hidup di dalam kekuatiran, selalu tidak ada damai, takut menghadapi apa yang akan terjadi di depan, di situ mungkin bisa mewakili perasaan kita yang tidak terlalu percaya bahwa Tuhan itu mengatur dan mengontrol segala apa yang ada di depan. Penulis surat Ibrani mengingatkan, “Janganlah kita menjadi hamba uang, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Tetapi prinsip hidup seperti itu didasarkan di atas pengertian tentang siapa Allah yang kita sembah, karena penulis Ibrani melanjutkan, “…karena Allah sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau.” Demikian juga Paulus mengatakan, “Allah akan memenuhi keperluanmu menurut  kekayaan dan kemuliaanNya di dalam Yesus Kristus” (Filipi 4:19). Maksudnya, bukan berarti semua orang Kristen harus hidup sederhana, tetapi pada waktu kita menjalani hidup ini di dalam hari ke sehari mungkin hari ini kita makan seturut dengan apa yang ada dan mungkin belum tentu ada makanan untuk besok, itu tidak akan mengganggu hati kita untuk tidak melihat cinta kasih dan damai sejahtera Tuhan memenuhi hidup kita karena kita punya Allah yang mengatur hari depan kita.

Keluaran 19 ini menggambarkan siapakah Allah itu, betapa dahsyat dan mengagumkannya Dia, betapa besarnya Dia yang bisa mengatur dan mengontrol segala sesuatu dengan hikmat dan kekuatanNya. Alam semesta yang Ia ciptakan dengan segala yang kemegahan itu hanya ingin merefleksikan Allah Pencipta yang jauh lebih megah, jauh lebih besar dan jauh lebih dahsyat. Itulah sebabnya seluruh elemen-elemen alam semesta mencoba ingin menggambarkan kalau Ia datang, kalau Ia hadir, kalau Ia berdiri di tengah-tengah kita, seperti apakah itu adanya. Pada waktu Keluaran 19 diperhadapkan kepada kita, kita melihat satu balance muncul bagaimana memahami Allah Pencipta langit dan bumi ini, yang kita sembah di dalam Yesus Kristus, adalah Allah yang immanent di dalam hidup kita; Ia adalah Allah Imanuel, yang beserta dengan kita; Allah yang menyatakan satu relasi yang begitu intim, yang mencoba melukiskan bagaimana care Tuhan yang digambarkan seperti induk burung rajawali membesarkan anak-anaknya. Begitu intim, begitu dekat. Tetapi bagian yang sama di sini sekaligus juga memberitahukan kita Allah kita adalah Allah yang transcendent, yang agung, yang mulia dan besar, God who is there. Ia tidak bisa kita samakan dengan patung-patung berhala; Ia tidak bisa kita samakan dengan apa saja yang ada di dunia ini. Ia adalah Allah yang besar, ajaib dan dahsyat adanya.

Keluaran 19 ini boleh kita katakan merupakan salah satu bagian yang memperlihatkan bagaimana kebesaran Allah dinyatakan dengan skala yang colossal. Sebagaimana di atas bukit Golgota Allah menyatakan kedahsyatanNya, cintaNya, kasihNya dengan alam semesta gelap gulita dan gempa bumi yang menggoncangkan. Di sini, di gunung Sinai, di seluruh wilayah itu dipenuhi dengan awan yang gelap, dengan gempa yang menggetarkan bumi, suara sangkakala yang memekakkan telinga. Maka semua orang yang ada di situ diliputi kegentaran yang hebat dan ketakutan yang dahsyat. Tetapi itu hanya mewakili sedikit saja dari kebesaran dan keagungan Allah, karena Allah jauh lebih besar dan lebih agung daripada semua itu. Jangan sampai tidak digugah hati kita pada waktu kita datang ke dalam rumah yang kecil dan sederhana seperti ini, jangan sampai kita kehilangan kekaguman kita akan siapa Allah yang kita sembah itu.

Banyak orang menekankan aspek ini secara timpang, sebagian hanya menekankan Allah itu transenden adanya. Teologi abad pertengahan seperti ini. Allah digambarkan jauh di sana, Allah yang terlalu suci, terlalu besar, terlalu tinggi di surga sana, tidak ada yang sanggup mendekat kepadaNya. Ia adalah Allah yang tidak sama dengan ciptaanNya. Maka ketika penekanan Allah yang transenden ini yang diajarkan, terefleksi dengan desain gereja katedral dengan langit-langit yang tinggi, sehingga setiap kali orang masuk ke dalam gereja seperti ini, engkau bisa merasakan megahnya Allah dan betapa kecilnya kita di hadapanNya. Siapakah kita yang bisa datang di hadapan Allah yang besar seperti itu? Namun kita tidak boleh juga hanya menekankan konsep transcendent dan mengabaikan konsep kedekatan Allah yang immanent, yang menyatakan intimacy dan mau bergaul dengan kita. Demikian sebaliknya pada saat yang sama sebagai orang berbakti atau mendekat kepada Tuhan kalau hanya menekankan immanency Allah, sehingga perasaan bersekutu dengan Tuhan menjadi casual adanya, menganggap Tuhan sekedar teman yang berbicara dan mengobrol saja. Sehingga pada pagi hari Tuhan bilang ini dan itu, tanpa mengingat dan menyadari pada waktu Tuhan berkata, perkataanNya itu benar dan amin, perkataanNya itu harus kita lakukan dan taati karena itu keluar dari mulut Allah yang suci dan kudus adanya. Kita tidak bisa dengan sembarangan menyatakan kedekatan kita dengan Allah itu tanpa mendatangkan sesuatu perasaan sadar dan hormat kita bahwa Ia adalah Allah dan bukan manusia. Sedekat-dekatnya hubungan kita dengan Allah, kita hanyalah ciptaanNya dan Ia adalah Pencipta kita. Dua sifat karakter Allah yang transcendent dan immanent selalu harus bergema di dalam praktik hidup kita sehari-hari dan di dalam hidup berbakti kepada Tuhan.

Wahyu 4:5 menyatakan, “…suaraNya seperti bunyi sangkakala, dan dari tahta itu keluarlah kilat dan bunyi yang menderu dan tujuh obor yang menyala-nyala di hadapan tahta itu, itulah ke tujuh roh Allah…” kita satu kali kelak akan kembali melihat bagaimana Allah men-display kehadiranNya di hadapan kita, memperlihatkan siapa Dia, dan pada waktu Ia hadir seluruh alam semesta menyatakan kebesaranNya di dalam guntur, kilat dan gempa bumi yang dahsyat, menyatakan kuasaNya; di dalam api yang menyatakan kesucianNya; di dalam bunyi sangkakala yang dahsyat menyatakan betapa besarnya Tuhan. Dalam 1 Timotius 6:16 “Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Baginya hormat dan kuasa yang kekal, amin!” Saya percaya ayat ini muncul ketika Paulus merefleksikan bagaimana Allah menyatakan diri di dalam kedahsyatanNya di dalam skala yang besar dalam Keluaran 19 ini.

Allah datang, tetapi pada waktu Ia datang, Ia berkata kepada Musa, “Persiapkanlah bangsa ini bertemu dengan Aku.” Kita tidak perlu takut betapa dahsyat, betapa besarnya, betapa awesome transendensi Allah dengan kilat dan guntur yang menggelegar, dengan warning ‘jangan engkau mendekat karena engkau akan mati,’ karena ada kalimat di depan, “Aku datang… Aku mau berfirman kepada mereka…” Sekali lagi mengingatkan kita Allah bisa mengatur prinsipNya, Ia bisa datang bertemu dengan manusia dengan aman, tanpa mencederai manusia itu.

Pertama, Tuhan datang dengan segala kebesaranNya yang majestic dan awesome ini memperlihatkan “The God who is there.” Ini adalah kalimat dari buku Rev. Francis A. Schaeffer, dan yang satu lagi adalah “He is there and He is not silent.” Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang agung dan Allah itu datang dan menyatakan diriNya kepada kita. Ia datang dan ingin berkomunikasi, bersekutu dengan umatNya. Tetapi tetap keinginan Tuhan bersekutu dengan kita membutuhkan satu respons degan satu syarat Allah sendiri tidak bisa menyangkali syarat itu, yaitu ada separasi antara Allah yang suci dan kudus dengan manusia yang berdosa. Keluaran 19:10 Tuhan mengatakan kepada Musa, “Persiapkanlah mereka tiga hari lamanya mereka harus menyucikan diri, membersihkan diri…” Tidak ada orang yang boleh berdiri di hadapan gunung Tuhan kalau dia tidak bersih. Demikian kita yang hidup di dalam Perjanjian Baru, tidak ada orang yang bisa datang berbakti dan bertemu dengan Tuhan jikalau dia tidak disucikan dan dibersihkan oleh kematian dan penebusan dari darah Tuhan Yesus  Kristus di atas kayu salib.

Ibrani 12:18-29 adalah bagian yang sangat penting bagaimana penulis Ibrani mengkontraskan gunung Sinai dengan gunung Sion. Di gunung Sinai semua orang datang dengan gemetar dan takut karena Allah itu begitu dahsyat. Tetapi puji Tuhan, kita datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, yang memberikan kepada kita penebusan di dalam Kristus. Tetapi apakah attitude kita bisa berbeda dan meremehkan apa yang kita dapat di dalam Kristus ini? Jawabannya, tidak, karena Allah itu tidak berubah. Maka penulis Ibrani menutup bagian ini dengan kalimat “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:29). Our God is a Consuming Fire. Setiap orang yang menghampiri hadiratNya perlu bersih dan suci karena itulah the true identity of our God. Tuhan yang kita sembah itu suci adanya, yang dilambangkan dengan api yang suci dan kudus. Apa saja yang kotor dan najis dan tidak sesuai dengan api itu dengan sendirinya akan dibakar habis olehnya.

Ketika Kristus belum datang, maka karya penebusanNya harus diberikan perlambangan dan simbol dari PL yang mengantisipasi kedatanganNya. Tetapi dari beberapa aturan yang muncul kita tahu aturan-aturan ini hanya memberitahukan kepada kita penyucian harus berkaitan dengan luar dan dalam. Luar diwakilkan dengan mereka datang dengan pakaian yang sudah dicuci bersih, menjadi satu outwardly respect kepada Tuhan. Yang kedua, perlu proses tiga hari lamanya dan di situ mereka dilarang untuk bersetubuh dengan isteri mereka (Keluaran 19:15). Ini tidak berarti bahwa berhubungan seks adalah hal yang berdosa, tetapi dengan tidak melakukan hal itu merupakan satu perintah dari Tuhan untuk menjadi contoh konkrit bagaimana mereka inwardly prepared ketemu dengan Tuhan. Maka dalam tiga hari itu mereka berdoa dan berpuasa di dalam berbagai aspek physical needs mereka. Mereka di situ harus fokus secara luar dan dalam dengan tanpa memikirkan hal-hal yang bersifat kebutuhan fisik yang tentunya diwakilkan dengan dua aspek ini, berpuasa tidak makan dan bertarak tidak berhubungan seks. Kebutuhan fisik mereka tidak lagi menjadi prioritas dan kebutuhan yang utama pada waktu itu.

Pada waktu kita berbakti dan datang berdoa kepadaNya kita harus memiliki hati yang siap seperti ini. Kita datang dengan sukacita dan kegembiraan ke hadapan Allah di dalam ibadah kita, tetapi tetap dengan menyadari aspek ini, kita bersih dan suci di dalam dan di luar. “Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Yaitu dia yang bersih tangannya dan murni hatinya…” demikian kata Daud (Mazmur 24:3-4). Itulah sebabnya Tuhan menuntut orang pada waktu datang menghampiri Dia ada kesucian.

Dalam 1 Korintus 7:5 Paulus melihat aspek “preparation” dari fokus seseorang untuk melayani Tuhan dengan tanpa ada distracted dari hal lain yang salah satunya adalah kebutuhan seksualitasnya, “Janganlah kamu saling menjauhi kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama supaya Iblis jangan menggoda kamu karena kamu tidak tahan bertarak.” Mungkin telah terjadi kesalahan konsep dimana seks dianggap berdosa dan seks menjadi against dari kesucian dan holiness dari spiriitualitas. Maka banyak orang Kristen di Korintus melakukan hidup bertarak atau berpisah dan pergi meninggalkan dengan isterinya dalam waktu yang lama untuk berdoa di gunung. Paulus memberikan koreksi dan balance di situ. Jangan menganggap hubungan seksual itu sebagai sesuatu yang berdosa dan tidak suci adanya. Paulus mengatakan kalau pasangan itu ada waktu untuk berdoa atau mempunyai satu fokus tertentu tetapi jangan terlalu lama sehingga tidak terjatuh di dalam pencobaan Iblis karena natur manusia kita tidak tahan bertarak.

Ibrani 8:6 berkata, “…karena Ia menjadi Pengantara dari Perjanjian yang lebih mulia yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi.” Dari ayat ini maka kita mengatakan Musa pun tidak memiliki pengecualian, tetapi kenapa dia bisa datang bolak-balik menghadap Tuhan, saya percaya sebelum Musa naik turun gunung itu dia telah melakukan sacrifice dulu, karena tetap dia adalah seorang yang berdosa adanya. Tetapi Tuhan minta dia untuk memberi tanda pagar batasan yang tidak boleh dilewati oleh orang Israel dan berkali-kali Tuhan mengingatkan untuk tidak melewati pagar batasan itu karena bisa jadi setelah Musa naik turun tidak terjadi apa-apa bisa membuat orang Israel ingin tahu lalu coba-coba melanggar batas itu. Maka Tuhan mengingatkan jangan sekali-kali hal itu mereka lakukan, sampai nanti mereka mendengar bunyi sangkakala, barulah mereka boleh mendekat. Tetapi Alkitab mencatat saat mereka mendengar bunyi itu tidak seorang pun berani mendekat. Mereka sudah keburu gemetar dan gentar luar biasa.

Kenapa Musa bisa datang bolak-balik menghadap Tuhan tanpa celaka? Jawabannya penulis Ibrani memberikan perbandingan Musa saat itu menjadi seorang pengantara mediator. Namun peran Musa sebagai mediator di situ jauh berbeda secara kualitas dengan peran Yesus Kristus yang menjadi Mediator Pengantara kita dengan Tuhan Allah. Musa sebagai mediator membawa doa orang Israel kepada Tuhan sekaligus dia juga menjadi mediator membawa firman Tuhan kepada bangsa Israel. Yesus Kristus adalah Mediator kita yang adalah Tuhan sendiri yang datang berfirman kepada kita di dalam darah dan daging menjadi manusia. Ia dekat dengan kita, Ia adalah Allah yang berfirman kepada kita. Ia adalah manusia yang tidak berdosa dan bercacat-cela dan hari itu Ia naik ke atas kayu salib untuk menjadi Mediator antara Allah dan manusia. Sehingga Ibrani 12 memberikan dimensi yang lain pada waktu kita datang berbakti di gunung Sion penulis Ibrani mengatakan inilah kontras yang terjadi ketika umat Tuhan berbakti di gunung Sinai dan umat Tuhan berbakti di bukit Sion (Ibrani 12:22-29). Di bagian sebelumnya darah Tuhan Yesus, darah Anak Domba Allah yang mulia dan berharga yang ditumpahkan satu kali untuk selama-lamanya dikontraskan dengan darah korban sembelihan yang dikorbankan di atas mezbah terus-menerus setiap tahunnya. Di bagian ini darah Tuhan Yesus dibandingkan dengan darah Habel, yang bagi saya lebih menekankan aspek darah yang suci dan tidak bersalah yang ditumpahkan. Darah Yesus bukan saja lebih berharga daripada darah Habel, karena darahNya yang tidak berdosa itu ditumpahkan menjadi penebusan bagi orang yang berdosa. “Jadi karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita bersyukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut” (Ibrani 12:28). Perhatikan baik-baik, pertama, urutannya sebelum ‘hormat dan takut’ reaksi kita di dalam ibadah adalah bersyukur. Karena kita datang kepada kerajaan yang tidak tergoncangkan di atas gunung Sion dimana Yesus Kristus sudah menjadi Pengantara yang darahNya lebih mahal daripada darah Habel, lebih innocent daripada darah Habel, lebih agung daripada darah Habel, maka marilah kita datang berbakti kepadaNya dengan penuh syukur. Sikap yang kedua adalah kita datang kepada Allah dengan cara yang berkenan kepadaNya, dengan kagum dan hormat, penuh respek kepadaNya. Kita datang beribadah kepada Tuhan karena kematian Kristus Yesus memungkinkan kita bisa beribadah. Kita boleh datang dengan sukacita, dengan joyful di hadapanNya karena Ia sudah menjadi Pengantara yang mati bagi kita.

Peter Enns, seorang teolog Reformed berkata, karena kita boleh datang kepada Tuhan dengan sukacita dan joyful, tidak berarti kita boleh datang kepada Tuhan dengan casually. Tuhan kita tidak berubah, He is a Consuming Fire. Setiap kali kita datang berbakti, kita datang dengan hati yang gentar dan hormat. Tetapi di depannya ada rasa syukur terlebih dahulu. Syukur itu muncul oleh sebab kita berespons dengan benar dan mengerti saya bisa datang menghampiri tahta Tuhan dengan sukacita, dengan kegirangan, dengan hati yang bebas, bisa berdoa kepadaNya dengan terbuka, sebab ada seorang Pengantara yang telah mati bagiku, yaitu Yesus Tuhan Juruselamatku. Karena Ia sudah menjadi Pengantara kita, sudah menebus segala dosa kita, sehingga kita bebas datang ke hadapan tahta Tuhan, kita boleh datang kapan saja boleh menghampiriNya, namun tidak berarti tahta kemuliaan Allah yang duduk di situ sudah berubah. Tidak. He is still a Consuming Fire. Tetapi betapa ayat ini indah luar biasa. Di dalam Perjanjian Baru, tatkala kita beribadah dan berbakti kepada Tuhan di dalam nama Yesus Kristus, kita boleh datang dengan bersyukur. Bersyukur karena kita tahu kita hanya orang yang kecil, cacing dan ulat tanah yang tidak berharga ini, kita bisa datang memanggilNya sebagai Bapa kita sebab itu dimungkinkan oleh penebusan Tuhan kita Yesus Kristus (Yesaya 41:14).

Nanti akan datang waktunya sekali lagi Ia akan datang dengan segala gemuruh, langit dan bumi akan digoncangkan dengan kemuliaanNya. Di situ selama-lamanya kita akan berbakti dan beribadah kepada Tuhan dengan cara seperti itu. Tetapi biar selama kita di dunia ini, kita boleh datang ke rumah Tuhan berbakti setiap minggu dengan segala kelemahan dan kekurangan kita, keberdosaan kita, keterbatasan kita, ketidak-mampuan kita bisa grasp kemuliaan Tuhan yang agung itu, namun tetap kita berbakti kepadaNya dengan sikap respek, hormat dan takut seperti itu. Datanglah kepadaNya dengan bebas, dengan sukacita, penuh dengan syukur, karena Ia adalah Bapa yang mencintai kita oleh karena AnakNya Yesus Kristus. Hampirilah Dia dengan selalu menyadari Tuhan seperti apa sesungguhnya yang kita sembah itu, He is a Consuming Fire. Ke hadapanNya kita berdiri dengan rasa hormat dan kagum dan yang layak menerima sembah sujud kita ciptaanNya.(kz)