23. Kasih yang Dimateraikan dalam Perjanjian

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 25/8/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (23)

Nats: Keluaran 19:1-13

 

Di bagian ini kita menemukan satu kata yang penting yang menjadi tema teologis yang mengikatkan seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, yaitu kata “Perjanjian” atau “Covenant.” Ini adalah kata yang penting: PERJANJIAN, bagaimana Allah yang menciptakan kita, yang mengasihi kita, yang sebenarnya kita tidak layak menerima anugerahNya, tetapi rela datang mengikatkan hubungan dan menjadikan hubungan itu sebagai satu “hukum” dalam arti Ia janji akan mencintai kita, mengasihi kita. Dan janji itu akan Ia tepati karena sudah diikatkan di dalam satu perjanjian. Allah tidak memiliki kewajiban untuk mencintai mengasihi kita, kita pun tidak berhak menerima cinta kasih Allah, namun Ia datang dan mau memberikannya. Tetapi dengan perjanjian, kita juga tahu bagaimana anugerah Tuhan, kasih Tuhan, harus diletakkan di dalam satu kerangka hukum, kita harus mengertinya sebagai sesuatu yang tidak sembarangan.

Kita mencintai seseorang kenapa tidak boleh berhenti sampai dengan “yang penting kita saling mengasihi, engkau tahu saya berkorban bagimu, engkau tahu saya mencintaimu, engkau tahu saya memberikan hidupku kepadamu, lalu mari kita hidup bersama.” Mengapa kita tidak boleh berhenti sampai di situ? Karena bukti dari cinta itu harus diikatkan dengan “the covenant of marriage.” “The covenant of marriage” terjadi sebab dua orang saling mencintai, pada saat itu kita menyatakan ‘I put my love to you into a commitment and responsibility as a husband and wife.’ Di situ kita berjanji untuk menjadikan hidup orang yang kita menikah itu lebih flourish, lebih indah di dalam perlindungan satu kerangka hukum. Tetapi kalau menikah hanya dilihat sebagai satu cetusan emosional, tidak heran dan tidak aneh setelah orang itu tidak merasa mencintai lagi, maka dia pergi begitu saja meninggalkan pernikahannya karena dia tidak memahami konsep ‘covenant’ itu.

Ada orang bilang, buat apa ke gereja? Belum tentu orang-orang yang datang ke gereja itu orang yang cinta Tuhan, orang yang sungguh-sungguh percaya Tuhan. Lebih baik saya yang tidak ke gereja tetapi cinta Tuhan. Pendapat itu salah karena mengabaikan aspek penting ini: Allah mencintai kita, tetapi what kind of love kasih Allah itu? Itu bukan kasih yang emosional, itu bukan kasih yang sembarangan. Kasih itu perlu didefinisikan dengan aturan dan hukum, kasih yang berada di dalam kerangka yang menuntut komitmen sehingga kita tahu itu bukan kasih yang emosional dan sembarangan.

Kata “Perjanjian” itu penting. Di awal kita menemukan Perjanjian itu dilakukan antara Allah dengan pribadi, Allah berjanji dengan Abraham, Allah berjanji dengan Ishak, Allah berjanji kepada Yakub, lalu diganti dengan Israel yang ada 12 suku di dalamnya. Sampai di sini setelah bangsa Israel dibawa keluar dari Mesir, maka Perjanjian itu berubah dari individu menjadi satu bangsa. Tuhan tidak berjanji dengan Musa di sini. Posisi Musa adalah sebagai mediator pengantara dari bangsa itu. Sehingga Musa naik turun gunung, Musa naik bertemu Tuhan, lalu Tuhan mengatakan firmanNya, lalu Musa turun menyampaikan firman Tuhan kepada umat Israel, dan setelah umat Tuhan menyatakan “Ya, kami akan melakukan firman Tuhan,” kemudian Musa naik lagi bertemu Tuhan menyampaikan janji itu kepada Tuhan. Ini menyatakan satu hal kepada kita, Perjanjian ini adalah satu peristiwa yang sangat serius adanya.

Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Di tengah jalan Tuhan dengan panjang sabar menanggapai keluh-kesah mereka, sungut-sungut dan gerutu mereka. Setelah tiga bulan maka Tuhan mengatakan apakah mereka mau berjanji di dalam satu perjanjian dengan Tuhan. Maka setelah Perjanjian terjadi, barulah Tuhan kemudian memberikan Sepuluh Hukum kepada umatNya ini. Karena sebelum Tuhan memberikan 10 Hukum, Tuhan meminta bangsa Israel sadar dan mengerti apa itu masuk ke dalam satu ikatan perjanjian dengan Tuhan.

Siapa Allah yang berjanji itu? Keluaran 19 memberitahukan kepada kita, kemuliaanNya dan keagunganNya luar biasa. Maka hal itu langsung muncul di dalam statement ini, “Jangan berdiri dekat-dekat di gunung ini, jikalau engkau menyentuhnya engkau akan mati” (ayat 12). Ketika Allah datang dengan suaraNya yang megah dan kemuliaanNya yang luar biasa, maka sikap yang muncul adalah gentar, takut dan hormat dari umatNya (band. Ibrani 12:18-24).

Sekalipun kita datang dengan penuh sukacita, dengan tidak ada lagi batasan tirai yang memisahkan tempat yang suci dan tahta Allah yang maha suci, itu tidak boleh membutakan mata kita melihat dan menyaksikan betapa dahsyat, betapa agung dan mulianya Tuhan yang kita sembah dan yang berfirman di tengah-tengah kita. Meskipun kita boleh menghampiri Tuhan Allah tidak lagi dengan ketakutan yang dahsyat seperti Musa pada waktu bertemu dengan Tuhan di atas gunung Sinai, itu tidak boleh membutakan mata kita melihat sebab kedahsyatan kemurkaan dan kekudusan Allah sudah digenapkan dan diteduhkan melalui kematian Yesus Kristus di atas kayu salib. Sepatutnya penglihatan kita kepada Dia yang ada di atas bukit Golgota, kematian yang ditanggungNya, kengerian yang dahsyat itu membuat hidup kita ‘trembling’ dan gemetar sama seperti Musa. Maka sekalipun kita tidak melihat awan yang gelap, guntur yang menggelegar, kegelapan yang pekat dan menakutkan saat Allah yang suci itu hadir di atas gunung Sinai, yang membuat Musa sendiri begitu gemetar ketakutan, tetapi saya percaya indahnya lagu yang muncul mengenai salib Kristus, “Were You There when They Crucified My Lord?” Hadirkah engkau waktu Tuhan disalib? Itu membuatku gentar dan gemetar. Gambar dan film mengenai kematian Yesus Kristus umumnya dilukiskan dengan mereka yang melihat peristiwa itu meneteskan air mata kesedihan dan kepedihan dari orang-orang yang mengasihiNya. Ingatkan, waktu itu di tengah-tengah wanita-wanita yang menangisiNya, Yesus berkata, “Jangan menangis untuk Aku, jangan kasihan kepadaKu. Menangislah untuk dirimu dan untuk anak-anakmu…” (Lukas 23:28). Kesedihan melihat penderitaan Yesus di atas kayu salib bisa mendatangkan simpati dan air mata kita, tetapi respons emosi seperti itu masih belum memahami bahwa Dia mati di kayu salib bukan karena luka dan penderitaan yang menimpaNya, tetapi Dia mati di kayu salib karena menanggung murka Allah atas dosa kita. Jadi hadirnya Allah, turunnya Allah di gunung Sinai dengan segala kedahsyatan kesucianNya juga harus hadir di depan mata rohani kita pada waktu mengingat Yesus Kristus mati di atas kayu salib. Sehingga seperti lagu itu, waktu kita melihat salib Yesus, kita menjadi gentar dan gemetar.

Siapakah Allah yang berjanji kepada kita itu? Siapakah Allah yang telah memberikan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita? Siapakah Dia yang rela datang, yang memberikan begitu banyak anugerah dan berkat kepada kita, yang tidak ada sebab dan jasa kita, bukan karena hak dan kelayakan kita? Semuanya tidak lain dan tidak bukan karena Allah yang bersemayam di atas tahtaNya yang indah dan kudus, sang Pencipta alam semesta yang begitu agung dan dahsyat, Allah Tuhan itulah yang agung, besar, dahsyat dan mengagumkan itu yang berjanji kepada kita. Di situlah sepatutnya kita sadar, Allah yang kita sebut sebagai Bapa kita, yang mencintai dan mengasihi kita, itulah Dia.

Tuhan Allah mengeluarkan kalimat ini, “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepadaKu…” (Keluaran 19:3-4). Ini pertama kali Allah berbicara menyatakan relasiNya dengan bangsa Israel dengan menggunakan satu metafora burung rajawali. Keluaran 19 memperlihatkan sejak bangsa Israel keluar dari Mesir sampai mereka berdiri di gunung Tuhan untuk mengadakan satu perjanjian ada jenjang waktu 3 bulan lamanya (ayat 1). Saya percaya bukan satu hal yang kebetulan, induk rajawali membesarkan anaknya sebelum anak itu bisa terbang dan mandiri 100 hari lamanya, notabene 3 bulan lamanya juga. Bangsa Israel keluar dari Mesir boleh dikatakan sebagai bayi rohani di hadapan Tuhan. Bayi itu masih lemah dan banyak salahnya, kita bisa mengerti dengan sabar. Demikian sama halnya seperti orang Kristen yang lebih dewasa rohaninya harus memiliki hati yang lapang, lebih sabar untuk mencintai dan menerima kelemahan orang Kristen yang masih baru. Orang yang masih baru masih terbatas pengetahuannya, masih ‘up and down’ emosinya, masih belum tahu berkata dan bersikap sebagai orang percaya, kadang-kadang menjadi kecewa waktu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, kita memahami orang seperti itu. Tetapi jikalau kita sudah lama percaya Tuhan, secara natur kita harus bertumbuh menjadi dewasa, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang terus bersifat kekanak-kanakan di dalam relasi kita dengan Tuhan.

Setelah tiga bulan lewat maka Tuhan berkata kepada Musa “Aku akan mengadakan Perjanjian…” Level hubungan menjadi berubah meskipun hakekatnya sama. Sekarang mereka harus melihat relasi itu harus menjadi relasi yang mutual antara Allah dengan mereka yang ditebus. Aku sudah membawa engkau keluar dari Mesir, bukan karena ada jasa dan kebaikanmu, hanya oleh cinta kasih dan belas kasihan Tuhan kepada orang yang ditindas, orang yang mengalami sengsara. Allah mengasihi bangsa Israel seperti itu, Allah juga mengasihi engkau dan saya seperti itu. Bukan karena kita lebih baik, lebih bermoral, lebih berpendidikan, lebih kaya daripada orang lain Tuhan mengasihi kita.

Ada dua hal yang penting muncul di Keluaran 19:4-5 ini. Yang pertama, betapa berharganya kita sebab kita dipelihara dengan indah oleh Allah dengan menggunakan metafora induk burung rajawali yang mengasihi anaknya. Yang kedua, Ia menyatakan keindahan berharganya engkau dan saya dengan seperti Allah melindungi kita di dalam satu proteksi milik pusaka barang yang berharga milik kepunyaanNya.

Allah yang penuh rahmat itu berjanji akan menjadi seperti seekor burung rajawali yang membawa dan menggendong kita di atas sayap dan membawa kita kepadaNya. Itulah pendidikan Tuhan membawa kita menjadi dewasa. Musa kemudian menggunakan metafora yang sama di dalam Ulangan 32:11, “Laksana rajawali yang menggoyang-bangkitkan isi sarangnya… demikianlah Tuhan sendiri menuntun dia.”

Dalam metafora rajawali ini Ulangan 32:11 memperlihatkan proses yang sangat menarik. “Laksana rajawali yang menggoyang-bangkitkan isi sarangnya…” Proses yang pertama adalah ketika anak rajawali itu sudah berusia 3 bulan tinggal di sarangnya, maka induk rajawali melakukan satu hal yang luar biasa berbeda dengan induk yang lain. Induk itu merusak sarangnya sendiri; rumahnya dibongkarnya sendiri. Bukankah sarang adalah tempat yang paling penting melindungi anaknya? Selama 3 bulan anak rajawali itu tinggal aman dan nyaman di dalam sarangnya, tidak pernah tahu bagaimana susah payah induknya mencari makanan bagi mereka. Yang mereka tahu ketika induknya kembali, mereka tinggal mengangakan paruh menerima makanan. Tetapi induk rajawali itu tidak menginginkan anaknya hidup seperti itu. Bagaimana mereka bisa tahu betapa susah dan sulitnya mendapatkan makanan untuk bisa survive, kecuali mereka keluar dari sarang yang aman dan nyaman itu. Maka dirusaklah sarang itu.

Pemeliharaan Tuhan sebagai satu pemeliharaan untuk mendatangkan kedewasaan iman bagi setiap anak-anaknya. Cinta kasih dan pemeliharaan Tuhan tidak pernah boleh menjadikan kita kerdil dan tidak bertumbuh dewasa.

“…melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya menampung seekor dan mendukungnya di atas kepaknya…” Ini proses kedua, sesudah itu anak itu diambil dan diangkatnya di atas sayapnya, lalu dibuang. Anak itu dengan tidak berdaya melayang jatuh, begitu hampir sampai di tanah, induknya lalu mengangkatnya naik kembali ke atas sayapnya. Terbang naik lagi ke atas, lalu jatuhkan lagi, begitu berulang-ulang sampai anak itu kuat dan siap. Setelah itu induk rajawali pergi meninggalkan anaknya berjuang.

Maka demikian Tuhan melihat bangsa Israel belajar hidup bertanggung jawab, memiliki responsibilitas menjadi umat yang meresponi anugerah Tuhan dengan sebenarnya, sepatutnya dan selayaknya.

Tuhan memberi 10 Hukum bukan untuk mengikat kita, bukan untuk memaksa kita, bukan untuk membuat hidup kita menjadi menjadi kaku dan tidak ada sukacita. Tidak boleh ada orang Kristen yang melihat setiap peraturan, panggilan komitmen, ketaatan kesetiaan menjalankan hidup yang suci dan kudus di hadapan Tuhan sebagai satu keterpaksaan, sebagai satu aturan religi keagamaan yang memberatkan dan memperbudak kita. Tidak boleh ada orang Kristen yang kehilangan sukacita sekalipun di tengah segala beban berat yang dia tanggung karena nama Tuhan, dianiaya, dipenjara, disiksa dan dibunuh; karena nama Tuhan kehilangan pekerjaan, dikucilkan dan kehilangan hak, jangan dia melihatnya sebagai hal yang memberatkan dan merugikan dia. Sebaliknya itu semua bukan menghilangkan kebebasan kita tetapi justru menghasilkan sukacita kita ikut Tuhan. Dari situ kita tahu apa artinya Tuhan mencintai kita. Allah mencintai kita bukan dengan cinta yang semena-mena.

Demikian juga orang tua, kita tidak boleh mengatakan kita mencintai anak kita lalu memberikan apa saja yang dia minta. Itu bukan cinta tetapi sikap yang merusak anak.

Allah yang berjanji itu adalah Allah yang seperti apa? Apa yang telah Ia kerjakan dan lakukan kepada kita? Di dalam Perjanjian itu Allah hanya menuntut satu hal, mencintai Tuhan dengan segenap hati dan menaati firmanNya. Tetapi setiap pemberian dan janjiNya menjadi indah luar biasa di dalam bagian yang selanjutnya. “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang kepada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa… kamu akan menjadi BagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Keluaran 19:5-6).

Sampai kapan pun kita tidak mungkin bisa membalas dan membayar kembali apa yang telah Tuhan lakukan di dalam hidup kita. Tetapi mari kita melihat Tuhan Allah yang sama yang tidak berubah juga menyatakan pemeliharaan dan perlindungan yang sama seperti kepada bangsa Israel, imamat yang rajani, umat tebusanNya yang dikasihiNya di dalam Kristus Yesus. Ia telah  menjadikan engkau dan saya berharga di matanya (band. 1 Petrus 2:9-10).

Satu persatu kita sebagai individu anak-anak Tuhan, Tuhan akan jaga dan pelihara seperti seekor induk rajawali. Ia tahu apa yang Ia kerjakan dan lakukan semata-mata hanya ingin menjadikan hidup kita lebih dewasa.

Kedua, keindahan pemeliharaan Tuhan dinyatakan dengan satu perlindungan seperti Ia memelihara satu benda pusaka yang sangat berharga. Itulah hidup kita. Setiap hal yang remeh dan sederhana yang kita lakukan di dalam hidup ini jangan sampai tidak kita lihat sebagai sesuatu yang bernilai dimana Tuhan membentuk dan memimpin hidup kita.

Tuhan adalah Pencipta alam semesta. Ia memberi makan bukan hanya kepada orang yang bersyukur kepadaNya tetapi juga kepada orang-orang yang tidak bersyukur kepadaNya. Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan memberi hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45). Tidak ada seekor burung pipit jatuh ke bumi di luar dari kehendak Allah, demikian rambut di kepala kita pun terhitung semuanya (Matius 10:29). Kalau hal yang kecil dan remeh bagi pandangan manusia Allah perhatikan, apalagi hal yang lain yang lebih daripada itu yang tidak dipimpin di dalam perlindunganNya.

Tetapi berbeda dan lain daripada kasih Allah Pencipta yang memelihara seperti itu, Ia sekarang menyatakan satu pemeliharaan yang lebih indah dan khusus kepada umat yang dibawa di dalam perjanjianNya, yang menjadi umat dan milik kepunyaanNya, yaitu engkau dan saya, di dalam pemeliharaan dan kasihNya seperti kepada benda pusaka yang berharga bagiNya. Sehingga Paulus berkata, “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…” (Roma 8:28). “If you obey Me fully and keep My covenant, I will be your God as an eagle to protect you on My wing. I will be your God and then out of all nations you will be My precious inheritance, My treasured possession.” Itu adalah janji dan cinta Tuhan yang indah luar biasa kepada bangsa Israel dan saya percaya juga kepada engkau dan saya. Ketika Ia menjadikan kita umat pilihanNya, Alkitab selalu ingatkan kita ditebus dengan darah yang sangat mahal (1 Petrus 1:19). Allah yang berjanji adalah Allah yang menciptakan kita, yang tidak punya kewajiban untuk menyatakan anugerahNya kepada kita. Tetapi Dia datang di dalam perjanjian untuk memberikan ikatan keselamatan dan ikatan kasih dengan kita. Dan di dalam ikatan perjanjian itu Dia menjadikan engkau dan saya yang ada di dalam perjanjian yang sangat unik dan spesial itu sebagai orang yang berharga di mataNya.

Hari ini kita bisa menghadap tahta Allah yang agung dan mulia, Allah yang sekali lagi memberikan janji pemeliharaanNya, saya tidak tahu apa yang sedang menjadi pergumulan dan tantangan yang engkau sedang hadapi, namun mari sekali lagi kita minta Tuhan jaga dan lindungi hidup kita di dalam kasih dan kesetiaanNya karena Ia mencintai dan menghargai engkau lebih daripada harta warisan pusaka yang berharga.(kz)