15. Karya Penebusan Allah yang Berharga

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 9/6/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (15)

Nats: Keluaran 11:9-10; 12:1-13, 29-36

 

Kita tidak perlu heran dan bisa memahami mengapa Tuhan mendatangkan tulah demi tulah, sengsara demi sengsara, bencana demi bencana kepada Mesir sebab Alkitab mencatat bagaimana Firaun terus-menerus mengeraskan hati. Tetapi pada sisi yang lain, tulah itu terus datang supaya bangsa Israel sendiri tahu dan sadar sesadar-sadarnya, tidak ada cara lain yang bisa membuat mereka keluar selain tangan Tuhan yang kuat dan perkasa; tidak ada yang bisa membuat mereka menghargai dan bersyukur kepada Tuhan sebelum melewati segala derita dan kesusahan yang luar biasa, membuat mereka mengerti dan memahami kalau bukan Tuhan yang melepaskan mereka, tidak mungkin mereka bisa keluar dari perbudakan Mesir ini. Tetapi pada saat yang sama pada waktu kita membaca bagian ini biar hati kita juga memiliki sikap yang sama dan tetap selalu bertanya, pada waktu ada goncangan, bencana yang datang mungkin tidak secara langsung menimpa engkau dan saya secara pribadi, tetapi dia ada di sekitar kita, di dalam berita yang mungkin dekat dengan kita, dan pada waktu itu terjadi, harap semua itu membuat kita membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar apa yang Tuhan ingin katakan kepada kita melaluinya.

Kenapa perlu melewati satu kesulitan kepada kesulitan yang lain dan terus berulang seperti itu, telinga kita masih tetap tidak mau mendengar apa yang Tuhan ingin bicara kepada kita? Mengapa pukulan demi pukulan perlu tiba kepada pundak orang-orang Mesir tidak juga sanggup membuat lutut mereka bertekuk dan jatuh tersungkur dan membuat mereka berseru dan datang kepada Tuhan? Adanya bencana kesulitan yang datang patut membuat telinga kita mendengar dengan peka; patut membuat mata kita melihat dengan jeli dan selayaknya membuat kaki kita segera berlari datang mencari Tuhan sebab kita tahu semua bencana demi bencana tiba secara spesifik khususnya tulah kepada Mesir untuk membuktikan siapa Tuhan yang patut disembah dan sekaligus tulah itu secara spesifik untuk mengajak orang Mesir satu pembelajaran penting: setiap illah dewa berhala mereka tidak sanggup mencegah mereka terhindar dari bencana. Tuhan menunjukkan superioritasNya, menyatakan tidak ada illah yang patut manusia sembah selain Tuhan yang menciptakan alam semesta dan yang sanggup mengontrol dan memimpin hidup manusia. Dialah Allah yang patut menerima segala sembah sujud dan hormat dari semua ciptaanNya.

Dari sembilan tulah yang turun menimpa negeri Mesir, itu bukan sekedar satu bencana natural yang tidak mempunyai tujuan dan arah, tetapi itu adalah pekerjaan tangan Tuhan yang supranatural sehingga Tuhan melindungi tanah Gosyen tempat tinggal orang Israel tidak mendapatkan tulah-tulah itu supaya orang tahu Tuhan melindungi umatNya. Namun sampai kepada tulah yang ke sepuluh, tulah itu tidak pandang bulu. Tuhan akan mendatangi seluruh negeri Mesir dan termasuk tanah Gosyen dan tidak ada orang yang bisa luput darinya. Tuhan akan datang dengan tangan yang teracung membunuh semua anak sulung dari setiap rumah yang ada. Tidak ada yang bisa menghindar dan lari daripadanya. Alkitab mencatat, “…dan kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian” (Keluaran 12:30). Tidak ada rumah yang tidak kehilangan anak sulungnya; tidak ada rumah yang tidak kedengaran tangisan dan ratapan kematian. Tulah itu akan datang kepada semua orang, sebab semua kita adalah manusia yang berdosa adanya. Upah dosa itu adalah kematian (Roma 6:23a). Sehingga di situ tidak ada perbedaan apakah itu bangsa Israel ataukah bangsa Mesir, orang merdeka atau budak, orang kaya atau orang miskin, semua sama-sama sudah berdosa dan patut menerima hukuman yang selayaknya atas perbuatan dosanya. Tidak ada perkecualian, tidak ada perlakuan khusus, tidak ada yang diistimewakan, semua orang dilihat dengan standar yang sama, dan semua orang kedapatan berdosa di hadapan Tuhan yang maha kudus itu. Demikian kita semua yang datang ke rumah Tuhan, bukan karena kita lebih baik daripada orang-orang yang lain. Kita sama dengan semua orang yang lain. Bukan karena etika moral hidup kita lebih baik daripada orang lain; bukan karena hidup kita lebih baik daripada orang yang tidak percaya Tuhan; bukan karena ras dan warna kulit kita, tidak ada apa-apa dari diri kita yang membuat kita bisa datang kepada Tuhan. Kita ada pada hari ini karena kita sudah merendahkan diri di hadapan Tuhan, kita datang mencari Tuhan dan kita mengaku kalau bukan darah Tuhan Yesus Kristus yang telah tercurah di kayu salib melindungi aku, aku juga tidak mungkin bisa terhindar kalau malam hari itu Tuhan berjalan melewati, karena tidak ada satu rumah yang akan terluput dari hukuman itu. Itu adalah satu warning dan peringatan dari Tuhan yang tidak boleh kita pernah lupa dan abaikan.

Maka sebelum tulah yang ke sepuluh datang, Tuhan memberikan anugerah kepada bangsa Israel, kepada umat Tuhan yang akan diselamatkanNya. Anugerah Tuhan itu adalah mereka mendapatkan belas kasihan dan mereka tidak akan ditimpa oleh tulah kematian anak sulung bukan karena mereka umat Tuhan saja, tetapi karena ada satu hal yang harus mereka lakukan. Di situ mereka belajar apa artinya keselamatan itu. Mereka dijauhkan dari tulah kematian ini sebab mereka mendapatkan penebusan dari Tuhan dengan cara yang Tuhan tetapkan sendiri. Penebusan itu terjadi dengan cara Tuhan yang secara spesifik diberikan sehingga mereka akan terhindar dari kematian yang akan menimpa seluruh negeri yaitu ada darah domba yang harus dicurahkan menjadi media penebusan. Darah domba yang disembelih itu kemudian dikuaskan kepada ambang pintu rumah, menjadi tanda perlindungan ketika pada malam hari Tuhan datang melewati pintu rumah mereka yang diberi darah domba, maka Tuhan tidak menjatuhkan tulah kepada mereka. Cara ini bukan menjadi satu konsep mistik tetapi konsep penebusan. Penebusan berarti ada sesuatu yang dipakai untuk menggantikan sesuatu yang ditebus. Karena upah dosa adalah maut, maka untuk terhindar dari maut tidak ada cara lain kecuali melalui penebusan, ada kematian yang harus menggantikan, sehingga orang yang sepatutnya menerima kematian akan terluput daripadanya. Itulah artinya penebusan.

Tuhan menetapkan cara penebusan dan proses penebusan yang akan dilakukanNya. Ini adalah prinsip yang penting dan perlu kita mengerti. Tidak ada satu orang pun yang boleh menetapkan dan menentukan cara yang dia mau lakukan karena itu tidak berkenan kepada Tuhan. Maka bangsa Israel patut mentaati dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada mereka. Domba itu bukan domba sembarang; domba itu adalah domba Paskah. Tuhan dengan teliti memberikan prinsip-prinsip memilih dan mempersiapkan domba yang patut menjadi domba Paskah itu. Mengapa domba itu tidak boleh dipilih dengan sembarangan? Sebab peristiwa malam Paskah itu akan menjadi model yang mereka akan lakukan sampai kepada genapnya “Model” yang sejati yang akan datang yaitu Yesus sebagai Domba Paskah Allah. Tuhan menyuruh mereka memilih domba atau kambing yang tidak ada cacat dan luka, tidak boleh mengambil sembarang domba. Domba Paskah haruslah domba yang sehat dan paling sempurna untuk dipersembahkan kepada Tuhan, karena itu akan menjadi perwakilan sampai nanti Yesus Kristus yang sempurna dan tidak bercacat menjadi Domba Paskah Allah yang memperdamaikan dan menebus dosa-dosa kita semua.

Kedua, setelah domba itu disembelih, ambil darahnya dan sapukan ke ambang pintu rumah. Dengan konsep itu menjadi satu perlambangan cover perlindungan terjadi dimana darah Tuhan menyelamatkan. Nanti belakangan konsep keselamatan kita dari dosa makin diperjelas dimana darah penebusan menjadi satu-satunya cara Tuhan memberi pengampunan mengganti dan menebus kita. Inilah indahnya Alkitab dengan penulis yang begitu banyak, yang melewati proses ribuan tahun, dari Kejadian sampai Wahyu, tema konsep mengenai darah dan penebusan menjadi konsep yang mengikat semuanya. Kejadian 3, ketika Adam berdosa dan berusaha menutupi diri dan keberdosaannya dengan daun-daunan, maka Allah datang dan memberikan pakaian dari kulit binatang bagi mereka. Pada hari itu ada binatang yang mati dan dikorbankan bagi mereka. Kita perhatikan, di sini satu korban meng-cover satu orang. Lalu sampai kepada Keluaran 12, satu korban meng-cover satu keluarga. Kalau keluarga kecil, mereka boleh bergabung dengan keluarga yang lain, seturut dengan keperluan mereka (ayat 1-4). Kemudian sampai di Imamat, satu korban meng-cover satu bangsa. Satu kali satu tahun pada hari raya Paskah imam menyembelih seekor domba lalu memercikkan darahnya di hadapan Tuhan di BaitNya. Ini mereka lakukan sampai Tuhan Yesus Kristus, Domba Paskah Allah datang ke dunia, meng-cover seluruh dunia. Sebagaimana Yohanes Pembaptis mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).

Alkitab mengatakan setiap tahun imam menyembelih domba demikian berulang-ulang, memperlihatkan domba itu tidak sanggup menghapuskan dosa manusia. Itulah sebabnya setiap tahun harus ada pengorbanan itu (band. Ibrani 10:1-4). Sampai datang Anak Domba Allah yang darahNya meng-cover dosa seluruh umat manusia karena yang mati di kayu salib adalah Anak Allah yang memiliki hidup yang tidak terbatas adanya. Dengan hidup yang tidak terbatas itu Ia sanggup bisa mengampuni dosa siapa saja. Tidak ada dosa sebesar apapun yang tidak bisa Tuhan ampuni oleh darahNya yang begitu berharga, karena yang mati di kayu salib itu bukan manusia biasa tetapi Anak Allah yang datang ke dalam dunia. Ia adalah Domba Allah yang sejati. Sampai kepada kitab yang terakhir yaitu Wahyu, tema ini terus sama. “Semua orang yang di atas bumi akan menyembah Dia, yaitu Anak Domba yang telah disembelih itu…” (Wahyu 13:8). Betapa mengagumkan Alkitab kita, dari Kejadian sampai Wahyu menuliskan tema konsep penebusan ini. Penebusan berarti harus ada kematian menggantikan kita yang seharusnya mati karena dosa kita. Dalam Ibrani 9:22 tertulis, “…tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Ibrani 10:4 “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa kita.” Ibrani 13:12 “Itu jugalah sebabnya Yesus menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umatNya dengan darahNya sendiri.”

Puji Tuhan, pada malam hari ketika tulah ke sepuluh datang, dimana semua anak sulung di negeri Mesir mati, menggambarkan demikianlah hal yang sama akan terjadi kepada semua umat manusia yang sudah berdosa di hadapan Tuhan. Keberdosaan kita bukan sekedar kita alpa atau kurang baik secara moral. Dosa harus kita mengerti sebagai sifat dan sikap kita yang memberontak kepada Allah. Dosa bukan sekedar kita berbuat salah kepada orang lain. Dosa bukan sekedar karena kita ignorance dan tidak berbuat baik kepada orang yang sepatutnya mendapatkan kebaikan kita. Lebih daripada itu, Alkitab berkata kita telah memberontak, kita telah menentang Tuhan dan kita tidak menjadikan Tuhan yang sepatutnya dihormati dan disembah itu menjadi Tuhan di dalam hidup kita. Tulah yang ke sepuluh ini begitu serius sebab tidak ada satu orangpun yang bisa terhindar. Tetapi puji Tuhan, malam hari itu Tuhan menawarkan jalan keluar yaitu ada domba yang disembelih menjadi jalan penebusan, dan sampai kepada kedatangan Yesus Kristus, penebusan yang sejati terjadi melalui kematianNya. Kita bisa berdiri di hadapan Tuhan hari ini, kita bisa datang berbakti kepada Allah yang suci dengan bebas, bukan karena kita lebih baik daripada orang lain, bukan karena hidup moralitas kita lebih baik daripada orang lain, bukan karena itu. Kita bisa hadir dan datang ke hadapan Tuhan semata-mata karena anugerah dan belas kasihan Tuhan datang kepada kita. Kalau bukan karena Yesus Kristus Tuhan kita telah mati bagi kita, meng-cover kita dari murka Allah, tidak ada satupun di antara kita yang bisa luput daripadanya. Itulah darah Domba Allah yang begitu indah bagi engkau dan saya. Bolehkah kita menganggap remeh dan murah akan darah Yesus Kristus itu? Sekali-kali tidak. Bolehkah kita menghina dan melupakan darah Tuhan kita? Sekali-kali tidak. Itu sebab sesudah peristiwa itu, umat Tuhan harus terus mengingat dan meneruskan memori akan penebusan itu melalui peringatan dan perayaan yang terus diadakan sepanjang waktu. Tuhan menetapkan bulan mereka keluar dari Mesir menjadi bulan baru bagi mereka, new life, new chapter bagi mereka dengan melakukan perayaan yang besar sehingga anak cucu mereka akan mengerti makna dari Paskah dan hari raya Roti tidak Beragi yang sesungguhnya. Setiap orang tua wajib menceritakan dan memberitahukan kepada mereka bagaimana tangan Tuhan yang kuat membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir itu.

Kita manusia mudah sekali lupa kepada hal yang sepatutnya kita ingat. Sebaliknya kita selalu mengingat-ingat apa yang sepatutnya kita lupakan. Kita mudah lupa kalau orang berbuat baik kepada kita; kita mudah lupa kalau kita masih berhutang banyak kepada orang. Tetapi kita selalu mengingat-ingat kesalahan kecil orang lain; kita selalu mengingat-ingat kebaikan kecil yang kita lakukan kepada orang lain. Kita manusia yang gampang lupa, setelah keluar dari perbudakan Mesir, dengan tidak berdaya, dengan segala kesulitan yang ada, dengan tidak punya apa-apa, Tuhan membebaskan dan memberkati umatNya. “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, menjadi makmurlah dia dan menendang Tuhan yang sudah menjaga dan membesarkan dia…” kata Musa dengan kesedihan dan keluhan yang dalam terhadap Israel (Ulangan 32:15). Israel menjadi kaya dan makmur, lalu meninggalkan Allah yang memberkati mereka dan memandang randah kepadaNya. ┬áItulah siklus dan peristiwa yang terus akan terjadi karena kita manusia mudah sekali lupa adanya. Itulah sebabnya kita harus terus diingatkan dengan peringatan dan perayaan itu. Pada waktu kita tidak punya apa-apa, tidak sulit bagi kita untuk belajar bersandar kepada Tuhan, tetapi setelah kita sukses dan jaya, kita menjadi lupa diri. Dulu setiap hal kecil yang datang ke dalam hidup kita yang papa selalu kita terima dengan penuh syukur, tetapi setelah kita sukses setiap hal besar yang datang kita anggap sebagai kemampuan sendiri. Itulah kita yang mudah lupa diri. Maka setiap kali kita melaksanakan perjamuan kudus, di situ kita diingatkan sekali lagi bagaimana kita telah ditebus dan dilepaskan dari belenggu dosa karena Kristus telah mati bagi engkau dan saya. Kita tidak boleh lupa akan hal itu.

“Makanlah sayur-sayuran yang pahit…” kenapa mereka perlu makan sayur yang pahit itu? Supaya mereka ingat kepahitan dan kesulitan di dalam penderitaan dan perbudakan. Kenapa perlu ingat kepahitan seperti itu? Bukankah kita disuruh membuang jauh-jauh segala kepahitan supaya kepahitan dan kesulitan hidup tidak membelenggu hidup kita dan menjadikan kita tidak bisa maju? Ada bedanya mengingat kepahitan untuk pada akhirnya membuat hati kita menjadi benci dan marah dengan mengingat kepahitan untuk selalu membuat kita menjadi mawas diri dan menghargai kebaikan dan kesuksesan yang ada sekarang ini tidak lepas daripada derita nestapa yang lalu. Itulah yang membuat hidup orang menjadi tidak takabur; itulah yang membuat hidup orang tidak menjadi lupa diri. Kenapa harus makan sayur pahit walaupun hari itu sudah jarang sayur pahit engkau temukan di dalam hidupmu? Supaya tiap kali kita diingatkan dan diperingatkan untuk hidup rendah hati dan hidup bergantung terus kepada Tuhan. Hanya karena anugerah dan belas kasihan Tuhan semata-mata kita boleh mendapatkan keselamatan dan penebusan. Hanya karena darah Yesus kita bisa keluar dengan selamat yang telah melindungi aku dari hukuman kematian yang sepatutnya aku terima.

“Sesudah itu makanlah roti tidak beragi, tujuh hari lamanya buang ragi dari rumahmu…” (Keluaran 13:6-7). Inilah hal yang selanjutnya Tuhan perintahkan kepada umatNya. Tidak boleh ada lagi ragi yang menjadi simbol benih dosa dan kejahatan yang terus kita simpan dan berkembang di dalam hidup dan rumah kita. Itulah tujuan dari membuang semua ragi.

Tuhan Yesus pernah berkata, “Berhati-hatilah dengan ragi orang Farisi…” (Matius 16:6) sebagai satu peringatan dan simbol dari benih yang jahat yang tidak boleh ada. Sesudah ditebus, Tuhan menuntut komitmen hidup kita sepenuhnya taat kepadaNya. Tidak boleh ada setitik ragi pun tinggal di dalam hidup kita. Bersihkan rumah, buang segala yang kotor, buang segala yang menjadi berhala dan segala hal yang nantinya bisa merusak komitmen kita kepada Tuhan untuk hidup dengan setulus hati. Buang semua itu dari hidup kita. Komitmen untuk hidup suci dan tulus bagi Tuhan; komitmen untuk tidak ada lagi berhala yang tersimpan di dalam hati dan di sudut ruang rumah kita dalam bentuk apapun, kenapa? Karena Tuhan telah menebus hidup kita, hidup itu harus berpadanan dengan nilai yang Tuhan sudah beri di dalam hidup engkau dan saya. Kita sudah tidak merayakan lagi hal-hal seperti itu, tetapi kita tidak boleh lupa.

Bersyukur untuk belas kasih dan anugerah Tuhan yang datang ke dalam hidup kita; bersyukur untuk kuasa penebusan Tuhan yang telah melindungi kita dari kematian dan hukuman dosa. Kiranya hal ini terus kita ingat selama-lamanya. Pada waktu kita melihat dan menilik hidup kita masing-masing, kiranya kita terus mawas diri dan menjalani hidup yang sepatutnya dan selayaknya dengan nilai penebusan yang betapa mahal itu. (kz)