19. Karakter Kristen yang Mulia

29/7/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (19)

Nats: 2 Timotius 4:9-22

 

Di tengah keadaan yang lancar mungkin kita tidak bisa mengetahui ‘the true nature’ dan karakter seseorang. Di dalam keadaan sukses, sikap orang yang baik kepada kita belum tentu menjadi ujian yang sejati bagi karakter yang sedalam-dalamnya dari orang itu. Tetapi pada waktu keadaan susah, sulit dan berat, ketika ada sepuluh orang harus berebutan mendapatkan sepotong roti untuk menjadi penyambung nyawa, di situ baru kita bisa menyaksikan the true nature dan karakter seseorang, siapa orang yang mengerti bagaimana memikirkan kesejahteraan dan dignitas hidup orang banyak dan siapa di antara orang itu yang menyatakan sikap egois dan tidak ada bedanya dengan binatang pada waktu keadaan lapar mementingkan diri sendiri.

Dalam keadaan lancar, dalam keadaan baik, dalam keadaan sukses, orang-orang yang ada di sekitarmu bisa menjadi teman, sahabat dan rekan bisnis yang baik, namun belum tentu bisa menunjukkan the true nature dan karakter orang itu yang sesungguhnya kepadamu. Tetapi pada waktu keadaan yang susah dan sulit dalam hidupmu, di situ baru kita bisa melihat orang itu seperti apa adanya. ‘Tough friends for tough time’ sungguh kita perlukan di dalam hidup kita.

Itu sebab di dalam janji pernikahan mengapa kita perlu menyatakan dengan sungguh komitmen kepada pasangan kita untuk tetap mengasihi dan setia di dalam keadaan lancar maupun tidak lancar, dalam keadaan sakit maupun sehat, kaya atau miskin, karena di situlah kita menjadi teman sejati kepada pasangan kita di dalam kondisi yang paling buruk dan paling suram dalam hidup ini. Di situ kita bisa melihat keindahan cinta yang sejati dalam diri seseorang.

Nelson Mandela menjadi satu figur yang agung yang ada di dunia ini. Saya percaya dari gejolak politik dan situasi perubahan dari satu negara, South Africa memperlihatkan satu hal yang begitu indah adanya. Berbeda dengan Syria, berbeda dengan Mesir, berbeda dengan Libya, bahkan termasuk dengan Indonesia, ketika seseorang diturunkan dari pemerintahan, perlu gejolak, perlu pertumpahan darah, perlu pembunuhan dan balas dendam karena sebelumnya pernah diperlakukan tidak adil dan tidak baik. Tetapi ketika terjadi pergantian pemerintahan dari Apartheid yang dihapuskan di South Africa, Nelson Mandela menjadi contoh the greatest human kind di dalam dunia ini. Pada waktu dia naik dan jaya, dia bilang tinggalkan segala kebencian dan kemarahan. Kita tidak perlu dan tidak harus melakukan balas dendam. Presiden yang lama sama sekali tidak diapa-apakan olehnya. Orang-orang yang pernah memenjarakan dia, termasuk sipir penjara disalaminya satu persatu. Tidak berarti semua pengalaman pahit itu terhapus benaknya, tetapi itu bukan menjadi point yang terpenting untuk bisa memulai satu lembaran yang baru. Dari situ kita bisa melihat ada orang yang menghadapi situasi yang susah dan berat, orang itu menunjukkan karakter yang honorable, yang respek, yang mulia dan agung adanya.

Bagian yang terakhir surat Paulus kepada Timotius ini kita menemukan perjalanan hidup yang dialami rasul Paulus, yang adalah perjalanan hidup yang mungkin dialami oleh kita. Saat-saat yang susah dan berat di dalam perjalanan keluarga kita akan terjadi; saat-saat yang susah dan berat di dalam perdagangan bisnis akan terjadi. Kelancaran, kesehatan hidup tidak selama-lamanya kita nikmati. Satu saat akan terjadi kita sakit adanya. Di dalam pelayanan seseorang kita menemukan ada orang-orang yang terus menjadi rekan dan sahabat di sebelah kita di dalam kondisi apapun. Tetapi ada orang yang akhirnya meninggalkan kita di sana. Di saat-saat yang lancar betapa gampang orang puji Tuhan, di saat-saat dia sukses betapa mudah bersaksi hidupnya diberkati Tuhan. Tetapi bagaimana pada saat-saat paling berat, seperti yang digambarkan oleh Daud dalam Mazmur 22 “Aku dicela dan dihina orang, mereka mengolok-olok dan mencibirkan bibirnya” (ayat 7-9), pun di situ dia merasa Tuhanpun telah meninggalkan dia? Dalam kondisi seperti itu Paulus menghadapi kenyataan, dia berada seorang diri dalam penjara dan hanya Lukas yang mendampinginya. Di antara orang-orang yang tadinya ada di sekitarnya akhirnya banyak yang tidak kuat dan tidak sanggup. Salah satunya Paulus sebutkan Demas, akhirnya pergi meninggalkan Paulus karena dia “lebih mencintai dunia” (2 Timotius 4:10).

Mari kita melihat beberapa hal yang penting di dalam bagian ini, pada waktu kondisi menjadi sangat berat, situasi berubah dalam hidupmu bagaimana kita mencetuskan sikap, bagaimana kita merefleksikan karakter yang agung dan mulia dan indah adanya.

Yang pertama, di dalam penjara yang membatasinya, di tengah limitasi yang sangat tidak nyaman, didera dan disiksa, mungkin tidak cukup baju sampai Paulus minta dibawakan jubahnya yang dia tinggalkan di Troas (2 Timotius 4:13). Malam dia kedinginan, siang dia kelaparan. Tetapi di dalam kondisi yang berat, situasi yang sulit seperti ini tetap tidak membuat Paulus lumpuh total tidak melakukan apa-apa. Meskipun fisiknya terbatas, hatinya tidak dibatas oleh penjara itu, dia masih tetap berpikir dan bertindak apa yang semampu dan sebisa yang dia kerjakan. Ini adalah point yang saya rasa harus ada di dalam hati setiap kita. Ada orang di rumah sakit, di tengah-tengah sakitnya, betapa indah dan agung dia masih memakai kesempatan untuk mengunjungi dan menghibur sesama pasien yang terbaring di sebelahnya.

Menarik luar biasa dalam bagian ini yaitu Paulus tidak pernah melupakan hal-hal yang perlu, jangan sampai karena dia dipenjara, pekerjaan Tuhan tidak jalan. Maka dia bilang, Kreskes telah pergi ke Galatia, Titus ke Dalmatia, Tikhikus kukirim ke Efesus, dsb. Saya percaya ini boleh menjadi satu teladan yang penting dan baik bagi kita. Pada waktu dalam keadaan seperti itupun tetap Paulus tidak pernah lumpuh dan tetap memikirkan apa yang bisa dia kerjakan, apa yang bisa dia lakukan, apa yang bisa dia pikirkan, hal yang di luar daripada kemampuan dia.

Kita tidak pernah boleh self-pity, kasihan kepada diri sendiri, pada waktu kita berada dalam situasi sulit di dalam hidup kita. Apa yang kita bisa pikir dan lakukan dalam keadaan sakit untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Ayah ibu di tengah sakit mereka tetap berusaha bekerja, menyediakan makan bagi anak-anak, karena cinta dan pengorbanan yang ada. Saya rasa dalam banyak aspek seperti ini boleh menjadi contoh yang indah bagi kita.

Yang kedua, dalam kondisi yang berat, situasi yang berat, bisa memunculkan orang Kristen macam apa jadinya kita? Apakah kita akan menjadi orang Kristen yang berkarakter mulia, ataukah kita menjadi orang Kristen yang mengambil sikap egois, hanya memikirkan diri sendiri? Apakah di situ kita menjadi satu karakter yang agung, yang menguatkan orang lain, yang memberi penghiburan bagi yang membutuhkan, bersedia mengorbankan sesuatu bagi orang lain? Ada hal-hal yang mungkin tidak bisa kita lakukan; kita tidak bisa menolong orang yang sakit menjadi sembuh; kita tidak bisa merubah orang yang miskin menjadi kaya; kita tidak sanggup membantu orang dalam kondisi apapun; ada saat dimana situasi dan keadaan tidak bisa berubah, tetapi tidak berarti kita helpless dan tidak bisa mengerjakan sesuatu di situ.

Paulus menyebut seorang yang namanya Demas. Siapakah Demas? Paulus tiga kali menyebut namanya di beberapa suratnya. Dalam suratnya kepada Filemon, Paulus mengatakan, “Salam kepadamu dari Epafras, Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku” (Filemon 1:23). Demas adalah seorang hamba Tuhan, seorang pelayan Tuhan, rekan kerja Paulus. Lalu dalam surat Kolose, Paulus menyebutkan beberapa nama hamba-hamba Tuhan dan kalimat tambahan menyertai mereka termasuk Demas, Paulus tulis namanya karena dia ada di situ tetapi Paulus tidak menuliskan kalimat tambahan apapun mengenai dia, “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas” (Kolose 4:14). Apakah ini memberi indikasi bahwa dalam beberapa tahun ke depan Paulus menyadari orang ini makin lama makin mengalami sesuatu kemunduran? Cintanya, bebannya, kasihnya kepada Tuhan, makin berkurang adanya meskipun dia tetap menjadi hamba Tuhan yang melayani bersama Paulus. Baru terakhir dalam 2 Timotius 4 Paulus dengan terbuka menyatakan hal itu “Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku…” (ayat 10).

John Calvin dalam tafsirannya mengenai bagian ini mengatakan kalimat ‘Demas telah mencintai dunia ini’ tidak berarti Demas menyangkal Tuhan Yesus dan tidak meninggalkan imannya, melainkan yang terjadi adalah Demas menyerahkan diri kepada ketertarikan apa yang ditawarkan dunia ini. Dunia ini jauh lebih nyaman, jauh lebih aman, tidak ada resiko mati, tidak ada resiko kelaparan seperti yang selama ini dia hadapi bersama Paulus. Tidak perlu lagi dihina orang, tidak lagi mengalami kesulitan, tidak lagi menghadapi mara bahaya dalam perjalanan. Itu sebab Demas berpikir lebih baik memperhatikan kebutuhan diri sendiri, lebih baik mendapatkan apa yang lebih enak dan lebih indah selama masih memungkinkan hidup dalam dunia ini.

Kita akan terluka jika orang yang kita kasihi itu tidak membalas baik sepadan dengan cinta kita. Kita akan merasa sangat kecewa jika kita meletakkan satu pengharapan yang tinggi kepada seseorang mungkin dia ada possibility bisa berkembang tetapi sebaliknya orang itu melepaskan kesempatan yang diberikan kepadanya. Kita harap anak kita bisa mengerjakan sesuatu dengan lebih baik, tetapi ternyata dia tidak melakukannya. Sama seperti Demas. Paulus sudah tua, melihat ada posibilitas dalam diri Demas untuk bisa kerjakan ternyata Demas tidak mengambil kesempatan itu. William Barclay berkata hal ini bisa terjadi sebab banyak orang tidak betul-betul ‘count the cost’ ikut Tuhan Yesus, tidak hitung betul-betul harga yang harus dia bayar mengikut Tuhan Yesus.

Hitung betul-betul resikonya ikut Tuhan. Kalau yang selama ini ditawarkan kepada kita, ikut Tuhan Yesus hidup kaya, sukses, lancar, sehat, saya rasa gampang dan mudah orang tertarik. Tetapi pada waktu kita dipanggil ikut Tuhan memikul salib, tidak memikirkan apa yang perlu untuk kenikmatan diri sendiri, harus memikirkan banyaknya pekerjaan Tuhan yang lain, mungkin orang pikir itu usaha bisnis yang kurang bagus. Lebih baik kita tawarkan dengan cara ikut Tuhan nanti Tuhan berkati berlipat ganda dalam hidupmu, lebih menarik dan lebih gampang mengajak orang ikut Tuhan, bukan? Tetapi jelas Alkitab berkata, ikut Tuhan kita harus betul-betul menghitung cost yang keluar dari hidup kita. Maka sayang sekali, Demas di tengah kondisi yang berat dia menjadi seorang Kristen yang berkarakter tidak agung dan tidak mulia. Betapapun beratnya, susahnya dan sulitnya kondisi keadaan kita lewati dan jalankan, jangan membuat kita mengganti keindahan persekutuan dengan Tuhan. Jangan biarkan kita rasa ikut Tuhan lebih rugi daripada kenikmatan yang ditawarkan dunia ini. Jangan pikir kita datang beribadah dan memberi persembahan bagi pekerjaan Tuhan, itu tindakan rugi daripada memakai uang yang ada untuk hal-hal yang lain. Waktu kita butuh, waktu kita rasa perlu, waktu dalam kondisi seperti itupun tetap kita tidak boleh mencetuskan sikap yang hanya untuk diri kita sendiri. Di situ akan memperlihatkan siapa dirimu yang sesungguhnya dan karaktermu yang agung dan mulia adanya.

Ada dua nama yang disebut Paulus, Kreskes pergi ke Galatia yang sekarang tidak jauh dari Ankara di Turki dan Titus pergi ke Dalmatia yang sekarang adalah daerah Bosnia, mereka diutus Paulus pergi untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yang diperlukan di sana. Maka tinggal Lukas sendiri bersama Paulus. Tetapi kalau Timotius pergi ke Roma, siapa yang tinggal di Efesus? Maka Paulus utus Tikhikus menggantikan Timotius. Dan Paulus minta Timotius segera datang mengunjunginya. Memang Timotius dekat dengan Paulus, tidak berarti Lukas, Kreskes, Titus atau Tikhikus tidak dekat dengan Paulus, tetapi sebab beberapa orang ini sudah mendapat kekuatan, pertolongan, prinsip-prinsip dan estafet pelayanan, sedangkan Timotius tinggal cukup jauh dan dia juga membutuhkan hal-hal itu dan sangat mungkin ini adalah pertemuan yang terakhir dengan Paulus, tidak ada kesempatan lagi. Itu sebab Paulus pakai kalimat yang sangat mendesak, “Datanglah segera…” (4:9), “berusahalah kemari sebelum musim dingin…” (4:21). Untuk perjalanan dari Efesus ke Roma paling sedikit perlu perjalanan tiga bulan lamanya dan sebelum musim dingin seluruh pelayaran kapal berhenti karena ombak terlalu keras dan terlalu berbahaya melakukan perjalanan waktu itu.

Kedua, Paulus menulis, “Pada waktu pembelaanku yang pertama, tidak ada seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka…” (4:16). Paulus tidak benci, tetapi Paulus diminta oleh Tuhan untuk menuliskan kalimat itu sebagai satu fakta. Mungkin Paulus bilang ‘It is OK, it doesn’t matter for me…’ tetapi Tuhan tidak mau fakta ini tidak dibukakan. Orang yang tidak baik kepadamu, orang berbuat jahat kepadamu, kamu bisa bilang ‘it’s OK’ tetapi soal salah dan perlakuan seperti itu bukan soal horisontal antara aku dan engkau, itu juga soal vertikal kita dengan Tuhan. Dia perlu dan harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Di tengah perlakuan orang seperti itu, Paulus berdoa, “Kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka, ya Tuhan…” Pada waktu pengadilanku di Roma, tidak ada satu orangpun ada di sebelahku. Bukankah sebelum ke Roma, Paulus sudah pernah menulis surat Roma kepada mereka? Bukanlah Paulus waktu akhirnya tiba di Roma, selama dua tahun penuh melayani Jemaat Roma (Kisah Rasul 8:30). Ada banyak orang di Roma yang pernah menikmati pelayanan Paulus di situ, tetapi kenapa tidak ada seorangpun mendampingi Paulus? Kemana mereka semua? Dimana orang-orang Kristen ini?

Lagu “I wonder have I done my best for Jesus” tercipta dari pengalaman hidup seorang anak muda bernama Edward Spencer. Dia adalah mahasiswa di Northwestern University di akhir tahun 1800-an dan sedang berada di atas sebuah kapal uap bernama “Lady Elgin.” Di tengah perjalanan kapal ini pecah dan kandas, dan akhirnya tenggelam. Semua orang panik dan banyak yang mati tenggelam. Edward yang terluka oleh pecahan kayu kapal berusaha menyelamatkan sebagian dari orang-orang itu dan membawa mereka ke tepi pantai. Satu persatu orang yang hampir tenggelam itu ditariknya. Ada 18 orang yang berhasil diselamatkannya sekuat dan semampu dia. Sudah exhausted luar biasa, sebelum akhirnya Edward collapsed. Selama dalam perawatan di rumah sakit, sepanjang malam berulang-ulang kalimat keluar dari mulutnya, “Did I do my best, fellows? Have I done my best?” Singkat cerita perjalanan hidupnya, Northwestern University menghargai dan menghormati perbuatan heroiknya dan memberinya plakat. Saya percaya bukan penghargaan dan pujian ini yang membuatnya menolong orang-orang itu. Akibat tragedi itu, dia terluka berat dan seumur hidup dia menjadi cacat dan duduk di kursi roda. Satu kali dia dibesuk dan diwawancara mengenai peristiwa itu, dan diceritakan Edward dengan menangis mencucurkan air mata mengatakan, “Not one of those rescued ever came back and even said thank you…” Tidak ada satupun dari delapan belas orang yang dia selamatkan pernah datang dan berterima kasih kepadanya. Saya percaya Edward Spencer tidak membutuhkan ucapan terima kasih mereka. Sudah sepantasnya, sudah seharusnya… itu kan tugasmu, itu kan hidupmu. Peristiwa ini dibaca oleh seorang bernama Ensign Edwin Young di tahun 1924 dan dia berdasarkan kalimat Edward Spencer “Did I do my best?” itu dia tergerak menulis syair lagu ini. Lagu ini mengatakan satu hal yang jauh lebih penting, bukan saja menolong jiwa orang keluar dari air tetapi menolong mereka keluar dari lumpur dosa. Lagu ini menjadi lagu yang digubah bicara mengenai bukan saja ‘did I do my best for my family, did I do my best for my church, did I do my best for my country, did I do my best for humankind. Tetapi “Did I do my best for Jesus?”

Dalam Lukas 17:11-19 bicara tentang sepuluh orang kusta berseru minta Tuhan Yesus menyembuhkan mereka. Yesus sedih dan kasihan melihat orang-orang ini dan menyembuhkan mereka. Tetapi dari sepuluh orang yang Tuhan sembuhkan itu, hanya satu yang kembali kepadaNya dan bilang, “Thank you Jesus…” Tuhan Yesus terkejut dan amazed dan bertanya, “Dimanakah yang sembilan orang lagi? Bukankah sepuluh orang yang sudah Kusembuhkan? Kenapa hanya satu yang kembali?” Apakah Tuhan Yesus perlu terima kasih kita? Apakah Tuhan Yesus perlu kita balas jasa? Apakah Tuhan Yesus perlu semua itu? Tidak! Tetapi saya percaya itu sudah sepatutnya dan seharusnya. Tuhan tidak perlu terima kasihmu. Tuhan tidak perlu engkau balas jasa. Tetapi mengucapkan terima kasih kepadaNya itu sudah sepatutnya.

Sama seperti itu kira-kira kesedihan Paulus terhadap perlakuan orang Kristen di Roma. Di saat dia berdiri sebagai anak Tuhan dihakimi dengan tidak adil, tidak ada satu orangpun berada di sampingnya. Kalau Tuhan suruh tulis fakta ini, berarti Tuhan mau menunjukkan sikap orang Kristen di Roma itu SALAH. Mereka harus datang. Mereka harus mendampingi dan memberi support moral bagi Paulus. Meskipun Paulus sudah ampuni, itu urusan lain, Tuhan suruh Paulus tulis.

Dimana jemaat Roma? Mungkin banyak excuses mereka. Itu masa berbahaya, kaisar Nero akan menangkap mereka, kepala bisa dipenggal. Tetapi alasan apapun tidak bisa menjadi alasan yang cukup, ketika situasi yang paling susah, berat dan buruk terjadi pada diri seseorang, kita percaya di situ Tuhan menguji kita, karakter Kristen seperti apa yang keluar dari hidup kita. Salah satunya, adakah engkau seorang Kristen yang tahu berterima kasih, tahu bersyukur, tahu memberi sesuatu, karena itu memang sepatutnya dan seharusnya. Biar firman Tuhan menjadi firman yang indah memimpin hidup setiap kita karena di situ kita tahu segala maksud, rencana, isi hati dan panggilan Tuhan kepada setiap kita.(kz)