03. KAPAL YANG KANDAS

SERI KHOTBAH “PENYERTAAN TUHAN” – 3

PDT. EFFENDI SUSANTO STH.

KISAH RASUL 27:14-44

9/9/2012

 

Di dalam hidup ini tidak banyak di antara kita pernah mendapat pengalaman berada dalam situasi antara hidup dan mati, berada di atas kapal yang terombang-ambing dengan wilayah kebebasan bergerak di antara 10x20m; tidak banyak di antara kita yang dipojokkan dengan situasi dimana tidak ada lagi opsi dan pilihan. Setidaknya kita menghadapi tantangan kesulitan, paling tidak masih ada pilihan dan masih ada alternatif jalan kita cari. Di atas kapal itu boleh kita katakan Paulus dan 275 orang lain terperangkap, tidak bisa keluar, tidak ada pilihan. Alkitab mencatat tidak henti-hentinya dan terus-menerus mereka diterpa oleh angin dan topan yang dahsyat sampai dikatakan “kami putus harapan tidak mungkin bisa selamat” (ayat 20). Bagaimana mungkin bisa selamat? Di depan, di belakang, di samping kiri dan kanan semua air, mau lompat kemana? Kesulitan itu lebih sulit lagi karena situasi ini dialami oleh Paulus bukan karena keputusannya sendiri, tetapi karena keputusan orang lain. Sebagai tawanan, sebagai orang yang dibelenggu, Paulus tidak bisa memutuskan sendiri. Yang memutuskan untuk jalan adalah perwira Yulius yang lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda daripada perkataan Paulus (ayat 11). Keputusan itu adalah keputusan yang sangat riskan luar biasa. Paulus sudah menasehatkan untuk jangan mengambil keputusan itu karena keputusan itu akan mendatangkan kesukaran dan kerugian yang sangat besar dan membahayakan jiwa (ayat 10). Tetapi karena tempat itu tidak terlalu nyaman untuk ditinggali, perwira itu memutuskan untuk terus berlayar. Betapa sering orang mengambil keputusan dengan cara seperti itu, bukan? Betapa sering orang lebih pikir kenyamanan, lebih pikir mana yang enak, sehingga tidak memikirkan aspek-aspek lain yang lebih penting? Maka decision kita bagaimana?

 

Banyak orang membuang pertimbangan-pertimbangan yang penting, yang menentukan hidup dan mati diri dan begitu penting bagi masa depannya diganti dengan keputusan yang hanya dengan pertimbangan kenyamanan yang sementara. Hanya karena tidak mau tinggal selama tiga bulan di musim dingin di satu kota kecil yang kurang fasilitas dan boring, berpikir jarak begitu dekat ke kota Feniks, hanya 20 km, tetapi akhirnya tidak pernah sampai ke sana. Empat belas hari mereka terombang-ambing antara hidup dan mati oleh karena keputusan itu.

Kadang inilah unfairness yang terjadi, bukan karena keputusanmu engkau akhirnya diterpa badai; bukan karena salah pertimbanganmu tetapi karena keputusan gegabah yang diambil orang di sebelahmu, akhirnya engkau ikut menderita karenanya. Reaksi yang normal dan wajar, kita mungkin marah, kita frustrasi, kita bertanya, ‘mengapa?’ kita melempar kesalahan kepada orang itu, kita menjadi self-pity mengasihani diri, coba seandainya aku punya kebebasan untuk menentukan dan memilih dan bukan orang lain yang memutuskan dan menentukan pilihan yang mengakibatkan kesulitan terjadi dalam hidupku. Namun mari kita lihat, situasi itu tidak berubah, kita tetap ada di atas kapal, kita tidak bisa keluar. Awan gelap, topan dan badai terus menghantam. Tetapi bagian firman Tuhan ini mengajarkan beberapa hal di tengah situasi seperti itu ada yang harus dan patut kita lakukan dan kerjakan ketimbang marah dan frustrasi dan self-pity.

 

Ada dua kali kata yang muncul memberitahukan itu adalah hal yang biasa terjadi di dalam hidup kita, kita menjadi takut adanya (ayat 17 dan 29). Tuhan berjanji, ‘Aku menyertaimu'; Tuhan berjani ada malaikatNya di sisi kita. Tetapi menghadapi situasi yang terlalu berat dan sulit, mungkin tidak bisa kita kontrol, Tuhan meminta kita hadapi ketakutan yang ada di dalam hati kita. Takut itu pasti akan timbul. Tidak ada orang di dalam dunia ini yang tidak mengalami rasa takut. Berani tidak berarti tidak pernah takut. Berani berarti kita bisa mengontrol ketakutan itu tidak menelan kita. Menghadapi situasi yang sama, prajurit dan perwira Romawi yang gagah perkasa bisa takut; awak kapal dan kapten yang berpengalaman bisa takut; murid-murid yang ikut bersama Paulus bisa takut; saya percaya Paulus pun tidak lepas dari perasaan takut itu. Sebab penulis yaitu Lukas ini berulang-ulang memakai kata “kami… kami…” Jadi jangan anggap di antara 276 orang yang ada di atas kapal itu Paulus dan teman-temannya yang beriman kepada Tuhan berbeda dengan orang lain. Mereka pun selama 14 hari tidak makan seperti orang-orang yang lainnya. Mereka pun selama 14 hari tidak tidur seperti orang-orang yang lainnya. Tetapi perlu belajar bagaimana kita menghadapi ketakutan itu. Tidak bisa tidak kita pasti takut, tetapi jangan biarkan takut itu melumpuhkan hidup kita. Jangan sampai takut itu mematikan semangat kita. Jangan sampai takut itu membuat kita tidak berdaya melakukan apa yang masih bisa kita kerjakan dan lakukan. Jangan biarkan ketakutan itu mengontrol hidup kita. Biar kita belajar bagaimana menghadapi dan mengontrol ketakutan yang ada di dalam hati kita.

 

Beberapa prinsip ini biar menuntun kita. Pertama, ingat bagaimana Tuhan sendiri memberi janji, seperti kepada Timotius yang begitu penakut dan pemalu, Paulus mengingatkan dia, “Roh yang ada pada kita bukan roh penakut; roh yang Tuhan beri itu adalah roh yang mendatangkan kasih, keberanian dan penguasaan diri” (2 Timotius 1:7). Itulah Roh Allah yang ada di dalam kita. Berdasarkan kekuatan kita, kita bisa putus asa; berdasarkan kemampuan kita, kepintaran kita, kita tidak bisa jalan dalam situasi seperti itu. Mereka takut, tetapi di tengah situasi itu kekuatan iman mereka bersandar kepada Roh Tuhan yang menolong. Biar Roh itu memimpin hati kita mengontrol ketakutan yang ada. Biar doa ini kita angkat kepada Tuhan, “Tuhan, beri saya keberanian untuk menghadapi dan melewati semua hal ini.” The worst scenario situasi itu apa? Skenario terburuk adalah kapal itu hancur dan kandas. Kalau itu terjadi, hari itu saya mati, saya siap, saya ketemu Tuhan.

 

Kedua, apa yang diambil orang dalam situasi seperti itu? “Anak-anak kapal itu berusaha melarikan diri dari kapal…” (ayat 30-31). Kita tidak mungkin bisa lari dari datangnya kesulitan, persoalan angin ribut itu menerpa kita. Tetapi di tengah-tengah itu Tuhan berjanji memberi kekuatan dan penyertaan kepada kita, Tuhan minta satu hal saja: berdiri; hadapi terpaan itu; jangan pernah lari dari persoalan. Dalam situasi yang begitu sulit, kita bisa melihat ada the beautiful human characters tetapi juga ada the worst human characters di situ. Salah satunya adalah orang-orang yang melarikan diri dari kapal ini. Dan jangan lupa orang-orang yang melarikan diri ini justru adalah orang-orang yang paling ahli dan paling mengerti kerjanya kapal dan sanggup mengontrol kapal itu yaitu awak kapal. Kata Paulus, kalau awak kapalnya saja lari, pasti kita semua binasa.

 

Keluarga betapa susah dan sulitnya, sebagai ayah jangan engkau pernah lari dan tinggalkan isteri dan anakmu berjuang sendiri. Engkau nahkodanya; engkau yang memimpin; engkau yang mengerti bagaimana mengemudikan kapal hidup keluargamu, betapapun sulitnya.

Gereja yang menghadapi tantangan kesulitan, sebagai hamba Tuhan jangan engkau pernah lari dan tinggalkan jemaatmu berjalan sendiri. Engkau harus memimpin domba-dombamu menghadapi tantangan kesulitan disitu.

Pemimpin perusahaan pun sama. Apapun yang terjadi, jangan lari, jangan tinggalkan anak buahmu. Tetapi kita sebagai anak-anak Tuhan lebih daripada itu. Kita dipanggil untuk tidak lari daripada persoalan. Lari dari persoalan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan itu sendiri.

 

Maka Paulus bilang, kalau mereka pergi, kita semua pasti mati. Keputusan harus diambil; keputusan yang paling susah dan sulit: potong tali sekoci, biarkan sekoci itu hanyut dan buang semua. Lho, kalau tidak punya sekoci lagi, nanti naik apa? Bukankah kalau akhirnya kapal ini tenggelam, yang penting sekoci ada menyelamatkan kita? Paulus bilang, sekoci itu bisa menjadi sumber temptation godaan yang bikin engkau akhirnya mau lari.

 

Kita kadang-kadang bertindak menjadi pengecut dalam hidup ini, tidak berani berjuang sebab kita tergoda untuk bergantung kepada “sekoci-sekoci” yang bisa mem-back up kita. Ada di antara kita yang terlalu bergantung hidup kepada “sekoci-sekoci” itu sehingga Tuhan harus memaksa kita memotong dan membuang semua sarana yang mungkin bisa menggoda engkau tidak bersandar kepada pertolongan Tuhan. Berani ambil keputusan itu; berani ambil tindakan itu karena kita tahu ini adalah hal yang bisa membuat kita jatuh, membuat kita lari dari persoalan itu. Jangan pernah lari dari persoalan.

 

Ketiga, Paulus menyuruh semua orang di kapal untuk makan karena “hal itu perlu untuk keselamatan mereka” (ayat 33-38). Normal menghadapi situasi tantangan kesulitan yang berat dalam hidup kita, kita lupa makan. Mau makan pun juga susah, tidak ada keinginan. Kita lihat manusia di tengah stress situasi kapal itu mereka tidak makan sampai empat belas hari lamanya tidak rasa apa-apa. Tetapi makan tidak makan, you juga tidak bisa merubah apa-apa; you tetap berada di atas kapal terombang-ambing. Namun ini yang penting dan perlu kita perhatikan, Paulus bilang makanlah karena ini perlu untuk keselamatanmu. Mungkin mereka pikir, buat apa makan? Toh sebentar lagi kita semua akan mati. Makan, karena engkau perlu itu untuk keselamatanmu. Tuhan sudah janji untuk menyelamatkan mereka. Mereka hanya perlu satu hal: siap-siap berenang dan berjuang untuk bisa hidup. Mau berenang, engkau perlu kuat. Mau kuat, engkau perlu makan. Tidak selamanya Tuhan mengerjakan segala sesuatu untuk kita; tidak selamanya Tuhan angkat kita dengan cara ajaib mengeluarkan kita dari kesulitan itu. Tetapi bisa jadi Tuhan bekerja MELALUI kita, melalui segala kekuatan yang Tuhan beri kepada kita. Tetapi pada saat kita perlu “berenang keluar dari kapal yang karam itu” kita mungkin tidak selamat kalau kita tidak punya kekuatan untuk berenang sampai ke pantai. Itu sebab Paulus bilang, kita semua perlu makan. Tidak punya nafsu makan? Jelas tidak ada nafsu makan. Tetapi dengan Paulus memecah-mecahkan roti di hadapan mereka semua, mengucap syukur kepada Allah, itu menjadi satu kesaksian yang indah, lalu dia makan sehingga orang lain menjadi kuat hatinya dan juga ikut makan.

 

Banyak hal mungkin kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kita prepare hidup kita sebaik mungkin, sebisa mungkin, kita jaga kekuatan dan kesehatan fisik kita, kita kuatkan diri kita, kita pikirkan opsi apa yang terbaik di depan. Kita yang terbaring di rumah sakit pun demikian, memang kita susah dan sulit makan. Kita yang ada di dalam sel penjara, memang kita susah dan sulit makan. Kita ingin cepat lepas dari situasi yang sulit ini. Tetapi Paulus bilang kekuatan rohani itu bisa ditunjang oleh kekuatan fisik kita dan dari situ kita bisa melihat lebih jernih bagaimana Tuhan menyertai kita.

 

Keempat, setelah mereka kenyang makan maka mereka membuang muatan gandum untuk meringankan beban kapal itu (ayat 38). Kita lihat sudah beberapa hal mereka terpaksa buang. Yang pertama, barang-barang yang tidak secara langsung berkaitan dengan hidup mereka, barang-barang muatan yang paling kurang perlu, dibuang dulu (ayat 18). Kedua, mereka membuang alat-alat kapal cadangan yang harus dikorbankan (ayat 19). Mungkin punya dua tali, harus buang yang satu; mungkin kain layar harus dibuang, cargo barang-barang apa boleh buat harus buang semua. Ketiga, mereka harus buang semua sekoci (ayat 32). Tentu yang paling terakhir, kita mana tahu berapa lama kita terapung di atas kapal ini, maka the most important thing adalah muatan gandum dan air bersih mereka simpan paling akhir. Tetapi menyimpan muatan makanan bahaya luar biasa karena terlalu berat. Kapal kita terombang-ambing tidak boleh terlalu berat, perlu sedikit lebih tinggi mengapung di permukaan. Maka mereka terpaksa harus membuang “lifeline” terakhir ini. Keputusan yang tidak gampang dan tidak mudah adanya. Prinsip apa yang kita belajar dari sini? Di tengah krisis seperti itu ringankanlah bebanmu seringan-ringannya. Lupakanlah hidup yang terlalu fancy dan bergaya. Jangan terlalu peduli soal pernak-pernik dan assoseries. We have to back to the basics. Tujuan yang paling penting adalah kapal itu harus mengapung cukup tinggi, tidak boleh ada air masuk, sehingga tidak tenggelam, maka ringankanlah beban yang ada. Tuhan berjanji akan mencukupkan apa yang engkau perlu dan butuhkan. Tuhan tidak berjanji memberi semua yang engkau inginkan dalam hidup ini. Kadang-kadang dihadapkan dengan itu kita belajar membuat keputusan mana yang paling penting dan paling basic yang kita perlu selamatkan. Kita ambil itu dan kita jalani karena kita tahu mana yang paling penting, mana yang kurang penting. Kesehatan kita, kekuatan kita, keselamatan kita, itu jauh lebih penting daripada hal-hal yang bersifat assoseries.

 

Kelima, Paulus mengatakan kepada semua orang yang ada di atas kapal. “Aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang telah Ia nyatakan kepadaku…” (ayat 25) tetapi malam ke empat belas mereka masih tetap dalam situasi yang sama. Mereka sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. Janji penyertaan Tuhan tidak berarti mereka mengalami perubahan dengan segera. Bukan itu saja, Tuhan bilang mereka tidak akan binasa, tetapi Tuhan tidak kasih tahu bagaimana caranya. Saya memberitahu sdr, cara Tuhan adalah situasinya terjadi from bad to worse, from worse to the worst. Kapal itu dari terombang-ambing, akhirnya karam dan kandas. Bukan saja kapal itu karam dan kandas, setelah berada di daratan, Paulus digigit ular berbisa pula (Kisah Rasul 28:3). Orang-orang melihat Paulus sampai geleng-geleng melihat dia sambil berkata satu sama lain, orang ini pasti kriminal murni. Walaupun akhirnya selamat dari kapal yang kandas oleh dewa laut, tetapi dia tidak bisa lari dari dewi keadilan. Normal bukan, orang bilang begitu waktu lihat sdr jatuh tertimpa tangga, kaleng cat tumpah di atas kepalamu, jalan beberapa langkah, tertimpa genteng lagi. Kalau engkau dan saya berada dalam situasi seperti itu, bukankah kita akan bertanya kepada Tuhan, apakah ini tidak terlalu kelewatan, tidak terlalu berat untuk saya tanggung seorang diri? Siap-siap menghadapi benturan keras, kapalmu yang terombang-ambing akhirnya pecah dan kandas. Siap-siap sampai di darat masih ada ular berbisa memagut engkau.

 

Namun di tengah situasi itu kita justru melihat tangan pemeliharaan Tuhan kepada Paulus betapa luar biasa. Melewati situasi yang paling terburuk dan paling terberat justru akhirnya memungkinkan Paulus menjadi seorang pemimpin dan mengabarkan berita Injil kepada orang-orang kafir ini. Seorang pemimpin bukanlah mereka yang punya jabatan di atas kapal; seorang pemimpin bukan terletak dari berapa banyak titel dan bintang kehormatan yang disemat di baju mereka; seorang pemimpin bukanlah mereka yang menjadi perwira di atas kapal, bukan mereka yang menjadi nahkoda kapal memegang kemudi, tetapi berada di atas pundak seorang tawanan yang terbelenggu itu. Bukan karena dia lebih hebat, lebih kuat, lebih gagah, lebih pintar daripada yang lain, tetapi dia menjadi pemimpin karena orang melihat wibawa datang memancar dari hidupnya. Paulus bukan seorang yang pandai mengemudikan kapal; tetapi Paulus buktikan dia bukan berjiwa seperti awak-awak kapal yang mau lari dari persoalan. Paulus bukan seperti perwira dan tentara yang punya pedang, sehingga waktu kapal itu kandas mereka mau buru-buru membunuh semua tawanan demi menyelamatkan diri sendiri. Ada orang berjiwa seperti itu, bukan? Paulus hampir dibunuh, tetapi pemeliharaan Tuhan luar biasa. Tuhan pakai perwira pemimpin yang bukan orang percaya itu, untuk tidak membunuh Paulus karena orang ini di tengah kesulitan yang ada dia tidak perhatikan keselamatan diri sendiri tetapi memperhatikan semua kita. Cara Tuhan bekerja memelihara anak-anakNya ajaib luar biasa. Tuhan bisa memakai pikiran-pikiran dari orang tidak percaya untuk melindungi engkau. Tuhan bisa memakai sarana yang paling buruk sekalipun, seperti ular berbisa, justru menjadi kesempatan kita memuliakan Tuhan.

 

Terakhir, kembali mengingatkan kita apa yang terjadi kepada keluarga Horatio Spafford, seorang lawyer Kristen yang sukses dan kaya raya. Bersama isterinya mereka memiliki 4 puteri dan satu putera. Kedukaan menerpa mereka ketika putera yang masih kecil meninggal dunia. Tidak lama sesudah itu terjadi kebakaran besar di kota Chicago yang membakar habis hampir seluruh property yang ia miliki. Dua tahun kemudian, Spafford berencana membawa keluarganya ke Inggris untuk menyembuhkan kesedihan mereka dari tragedi itu. Tetapi pada saat terakhir ia terpaksa harus tinggal beberapa hari menyelesaikan pekerjaannya, sementara isteri dan keempat puterinya berangkat lebih dulu. Namun di tengah jalan kapal itu mengalami tabrakan dan tenggelam. Isterinya satu-satunya yang selamat, hanya bisa mengirim telegram singkat dua kata saja kepada suaminya, “Saved alone.” Dalam kedukaan yang tidak terbayangkan Spafford menyusul isterinya. Di tengah laut, di tempat dimana keempat puterinya mati tenggelam, ia menuliskan isi hatinya dengan kalimat syair “when sorrow like sea billows roll, it is well, it is well with my soul.” Sekalipun ombak yang dahsyat itu bergelora menghantam hidupku, it is well with my soul. Jiwaku tenang karena aku percaya kepada Allah, semua yang Ia katakan pasti terjadi. Paulus tidak tahu bagaimana, kapan, cuaca tidak berubah. Tetapi janji Tuhan menyertai, di situ situasi dikontrol oleh Tuhan. Di saat paling buruk sekalipun, paling adversary sekalipun, tangan Tuhan memelihara jiwamu. Biar Tuhan memberi kita hati yang melihat dengan indah di dalam situasi yang paling buruk pun Tuhan boleh mengerjakan menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan.(kz)