11. Kanker Pengajaran di dalam Gereja

20/5/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (11)

Nats: 2 Timotius 3:1-10

 

Charles Spurgeon adalah seorang hamba Tuhan yang dijuluki “the Prince of Preachers.” Sampai hari ini tulisan-tulisan khotbahnya menjadi berkat besar bagi orang-orang Kristen yang membacanya. Khotbahnya memakai bahasa yang indah luar biasa. Charles Spurgeon berasal dari keluarga hamba Tuhan. Kakeknya seorang pendeta, demikian juga ayahnya seorang pendeta. Pada usia remaja ia bertobat dan meskipun dia tidak pernah masuk sekolah teologi, Spurgeon selama beberapa tahun rajin dan tekun membaca buku-buku teologi yang ada di rumahnya. Pada usia 17 tahun Spurgeon mulai berkhotbah dan melayani Tuhan di satu gereja di kota kecil dimana dia berada. Bermula dari belasan orang jemaat yang hadir, selama 3 tahun dia melayani, hampir seluruh penduduk kota itu datang berdesakan tiap minggu menghadiri kebaktian yang dipimpinnya. Kesuksesan itu menyebabkan nama Spurgeon terkenal dimana-mana dan kemudian sebuah gereja di London bernama New Park Street Chapel mengundang Spurgeon menjadi hamba Tuhan di sana. Selama 3 tahun pertama pelayanannya, mulai dari seratus lebih orang jemaat, akhirnya dua kali Gereja itu harus pindah karena tempat tidak cukup karena jumlah orang yang datang menjadi 10.000-an setiap minggu berbondong-bondong datang mendengarkan khotbahnya.

Saya membaca beberapa naskah khotbahnya dan memang luar biasa hamba Tuhan ini. Meskipun tidak punya gelar formal, tetapi isi khotbahnya begitu ketat dan tajam dan indah. Selama dia melayani kesuksesan datang, tetapi itu bukan tanpa melewati hal yang sulit dan berat. Setiap hari koran-koran di London menyerangnya habis-habisan; selalu mencari-cari berita untuk menjadi sensasi negatif; seorang yang tidak punya edukasi pendidikan formal, cuma seorang anak kecil yang tahunya bicara saja, dst. Spurgeon diserang habis-habisan oleh orang-orang yang tidak suka akan Kekristenan lewat surat kabar seperti itu namun dia tidak peduli dan tidak merasa terganggu dengan serangan dari Setan dari luar Gereja yang dipakai untuk menyerang dia.

Selama 38 tahun Charles Spurgeon melayani dengan setia hingga akhir hayatnya. Dari seorang anak muda yang Dia tetap berkhotbah dan tetap melayani dengan baik dan setia. Tetapi ada hal yang akhirnya mengganggu hatinya dan membuat dia menjadi depresi hingga akhir hayatnya. Beberapa tahun terakhir sebelum dia meninggal, kadang di tengah khotbahnya dia menangis mencucurkan air mata kesedihan yang begitu dalam. Mengapa demikian? Karena ada satu peristiwa yang begitu keji terjadi pada salah satu kebaktian yang begitu menyedihkan dia. Di tengah kebaktian yang penuh sesak, tiba-tiba ada seorang jahat berteriak “Kebakaran! Kebakaran!” menyebabkan kepanikan dan orang berdesak-desakan lari keluar. Hari itu puluhan orang jemaatnya mati terinjak-injak orang yang panik. Sdr bayangkan ada orang punya pikiran jahat seperti itu. Sejak hari itu Spurgeon mengalami depresi yang begitu dalam.

Ada serangan dari luar Gereja, itu tidak kita pungkiri pasti akan selalu terjadi. Banyak orang yang tidak suka akan Kekristenan akan selalu menyerang dan menjelek-jelekkan orang yang dipakai Tuhan. Berbagai serangan character assassination dipakai untuk menyerang hamba Tuhan. Spurgeon tidak peduli akan semua itu. Namun peristiwa yang terakhir adanya orang di dalam Gereja berteriak seperti itu, itu harus membuka fakta di hadapan kita: ada orang jahat di tengah-tengah kumpulan orang percaya. Ini fakta. Ada orang yang datang ke Gereja belum tentu cinta Tuhan; ada orang yang datang ke Gereja belum tentu mau dengar firman Tuhan; ada orang yang datang ke Gereja itu adalah orang yang dititipkan Setan untuk merusak dan menghancurkan Gereja. Itu yang dikatakan Alkitab kepada kita, itu yang diingatkan oleh Paulus kepada Timotius dalam bagian ini.

Dalam beberapa khotbah Spurgeon mengenai Gereja, dia mengatakan ini yang harus kita pilah baik-baik; di dalam Gereja ada orang Kristen yang lemah, itu tidak kita pungkiri. Itu sebab Spurgeon mengatakan kalau engkau datang ke Gereja hanya supaya bisa ketemu banyak malaikat di dalamnya, kamu akan kecewa. Tetapi sebaliknya orang Kristen dalam Gereja waktu ada orang baru datang lalu menyambut mereka seperti malaikat datang menumpang ke rumahmu, itu juga keliru dan salah. Kepada orang yang baru, kalau datang ke Gereja hanya ingin melemahkan anak-anak Tuhan, jangan lakukan itu karena Gereja sendiri sudah lemah. Kalau kamu datang ke Gereja hanya ingin menimbulkan hal yang tidak sempurna, jangan lakukan itu sebab Gereja sendiri tidak sempurna adanya. Tetapi kita tahu kalau memang Gereja itu akan dihancurkan dan gampang dihancurkan, sudah dari dulu-dulu Gereja punah. Tetapi justru kita tahu ada kekuatan dan kuasa Tuhan, cinta Tuhan yang besar kepada Gereja yang memeliharanya sehingga Gereja tidak akan pernah hilang di sepanjang sejarah.

Perlu kita belajar memilah beberapa hal.

Pertama dari kumpulan orang yang bergereja banyak orang Kristen yang lemah. Yang lemah itu mudah tersandung melihat hidup orang-orang Kristen yang kuat imannya, yang mungkin tidak sensitif di dalam mengasihi dan kurang mencintai saudara yang lebih lemah. Tetapi sebaliknya ada orang Kristen yang lemah, kiranya jangan terlalu gampang dan terlalu mudah menghakimi orang Kristen yang lain. Gereja adalah kumpulan orang berdosa yang ditebus oleh Tuhan. Kita berbakti sama-sama sebab kita adalah orang-orang berdosa yang ingin disucikan oleh Tuhan. Tetapi sekaligus Alkitab juga mengingatkan bahwa yang hadir di dalam kumpulan Gereja dan Rumah Tuhan yang Paulus katakan “kelompok pembangkang.” Kepada Timotius Paulus mengatakan kelompok pembangkang ini masih ada kesempatan untuk dididik, diajar, ditegur dan diberi nasehat. Tetapi ada kelompok ketiga, yang datang ke dalam Gereja yang sama sekali tidak pernah mengalami pembaharuan iman dan tidak pernah mengenal Kristus dengan benar. Maka Paulus mengatakan kepada Timotius untuk menjauhi mereka. Mereka seperti ulat yang beracun merayap menyusup masuk ke dalam Gereja. Mereka menjerat dan menipu banyak orang Kristen.

Paulus memberikan satu panggilan urgensi meminta Timotius menjaga Gereja menghadapi masa yang sukar dan genting. Paulus mengingatkan Timotius, kalau bisa melindungi Gereja dari penyakit kanker yang bisa merusak dan menghancurkan Gereja, dari orang-orang yang menyusup masuk ke dalam Gereja dan menimbulkan hal-hal yang merusak iman banyak orang Kristen yang lain.

Tanpa mengecilkan begitu banyak ajaran sesat dan salah yang beredar di dalam Kekristenan sekarang ini, paling tidak kita masih lebih baik kondisinya karena kita sudah punya Alkitab yang lengkap, kita bisa melihat dan meneliti karena banyak resources kita bisa dapatkan. Tidak seperti orang Kristen di jaman itu yang belum mempunyai Alkitab dan mereka tentu percaya dan bersandar kepada siapa yang menyampaikan firman Tuhan di mimbarnya. Maka tidak heran begitu Gereja semakin bertambah dan bertumbuh di dalam era waktu itu, pengajaran sesat dan palsu juga ikut tumbuh dengan subur adanya. Maka Paulus mengingatkan Timotius untuk bersiap hati dan siap sedia menghadapi masa-masa yang sukar bagi Gereja. Kita akan meneliti 2 Timotius 3:1-10 ini lebih detail.

“Pada hari-hari terakhir…” the last days. Kita penting membedakan dua kata ini di dalam Alkitab: “the last day” (bentuk singular) dan “the last days” (bentuk plural). The Last Day atau Hari Terakhir itu jelas mengacu kepada hari dimana Yesus Kristus datang kali yang kedua. Tetapi the last days atau hari-hari terakhir itu bicara mengenai satu periode waktu dari kedatangan Yesus Kristus yang pertama hingga kedatangan Yesus Kristus yang kedua nanti. Sdr dan saya dan Gereja sejak awal berdiri hidup di dalam era the last days ini. Maka kata the last days ini tidak boleh kita tafsir Paulus sedang bernubuat membicarakan hal-hal yang akan terjadi nanti. Waktu Paulus menulis, hal ini juga sudah terjadi. Mengapa saya mengatakan demikian? Sebab di ayat 5 berbentuk Present Tense, berarti orang yang disebut Paulus ini sudah ada di Gereja Efesus.

Paulus tidak bicara mengenai orang yang berada di luar Gereja, tetapi Paulus bicara mengenai mereka yang datang ke Gereja. “Mereka adalah orang-orang yang menjalankan ibadah tetapi mereka memungkiri the power behind the religion” mereka tidak menjalankan dan tidak menghidupi apa yang mereka terima. Pengajaran ada, pengertian ada, tetapi hidup mereka sama sekali tidak seperti apa yang diajarkan. Maka di dalam bagian ini Paulus sedang berbicara mengenai sekelompok orang yang mengaku orang Kristen. Apa cirinya? Ayat 2-5, “Mereka ini mencintai diri sendiri dan menjadi hamba uang. Lebih cinta diri daripada cinta Tuhan…” Di tengah-tengah cinta diri ini kita melihat sifat-sifat yang muncul: hamba uang, orang yang sombong di dalam kata-kata, orang yang tidak menghormati otoritas, tidak berterimakasih, ungrateful, suka mengadu domba dan memecah kehidupan Gereja.

Di sepanjang sejarah Gereja kita akan menemukan hal-hal seperti ini selalu muncul terus-menerus. Bagaimana kita melihat secara konkrit kelompok orang ini yang secara sifat seperti ini tidak gampang karena apa yang ada di dalam hati orang, apa yang menjadi motivasi orang tersembunyi dan tidak bisa dilihat orang lain. Tetapi di sini Paulus membukakan metode mereka: “mereka menyelundup ke rumah orang-orang dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu…” (ayat 6).

Untuk mengerti bagian ini kita perlu meneliti latar belakangnya. Jaman itu waktu Gereja ada di Efesus, Gereja yang dilayani oleh Timotius tidak bersifat sentral di dalam satu gedung seperti sekarang ini. Kebanyakan Gereja-gereja waktu itu adalah Gereja Rumah tetapi di bawah supervisi dari Timotius. Gereja-gereja Rumah itu banyak orang yang memimpinnya.

Kemudian, siapa yang dimaksud Paulus “perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa” Ini? Dalam 1 Timotius 5 ada beberapa kategori janda yang Paulus sebutkan di sini. Pertama, di ayat 3 “hormatilah janda yang benar-benar janda…” bagaimana kita mengertinya? Kategori pertama, di ayat 4 ada janda yang masih punya keluarga, anak dan cucu yang bisa memelihara dan mencukupi kebutuhan neneknya. Maka keluarga mereka patut melakukan tugas merawat dan mencukupi janda ini. Itu tanggung jawab dan tugas penting dari keluarga dan Gereja tidak mengambil tanggung jawab itu. Kalau anak dan cucu tidak mau tanggung jawab, Paulus bilang berarti mereka lebih jahat daripada orang yang tidak percaya Tuhan (ayat 8). Kategori kedua, di ayat 5, janda yang sangat susah dan miskin yang tidak punya anak dan cucu atau keluarga untuk merawat dan memelihara dia. Gereja bertanggung jawab memelihara janda seperti ini. Kategori ketiga, di ayat 6, janda yang suaminya meninggal dan meninggalkan kekayaan kepada dia sehingga menjadi janda yang kaya sekali. Kategori keempat, di ayat 12 ada janda yang mengambil keputusan menjadi pelayan Tuhan di dalam Gereja. Mereka mengambil sumpah tidak akan menikah lagi dan menjalani sisa hidupnya untuk melayani sepenuhnya di dalam Gereja. Mereka membasuh kaki, memberi tumpangan, menolong sesama orang Kristen, dsb. Dalam hal ini Paulus mengingatkan Timotius untuk mendaftarkan hanya yang umurnya 60 tahun ke atas. Yang umurnya di bawah itu jangan dulu, karena bisa saja mereka kemudian memutuskan untuk menikah lagi. Maka dalam hal ini yang masuk ke dalam kelompok janda yang melayani full time hanya yang 60 tahun ke atas.

Kelompok janda-janda kategori ketiga, yang memiliki kekayaan yang luar biasa memiliki kesempatan membuka rumah mereka untuk menjadi tempat ibadah Gereja Rumah. Paulus menggambarkan ada diantara mereka¬† dalam 2 Timotius 4:3 “orang tidak lagi dapat menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru untuk memuaskan telinga mereka…” Mereka adalah janda-janda kaya, bisa membuat persekutuan di rumah mereka yang besar, dan mereka sanggup mencari dan memelihara guru-guru sendiri seturut dengan apa yang mereka mau. Itu kondisi yang Paulus sebutkan di sini.

Siapa kelompok orang ini? Lihat metodenya, lihat sifat orang ini, mereka adalah kelompok orang yang menyusup masuk ke rumah-rumah perempuan yang sangat lemah imannya. Wanita-wanita ini punya kemampuan keuangan, namun mereka hanya ingin mendengarkan apa yang mereka mau dengar tetapi tidak pernah mendapatkan pengertian kebenaran yang sejati. Kasihan luar biasa wanita-wanita ini, mereka punya resources, mereka punya kekayaan, tetapi iman mereka lemah luar biasa, gampang diperalat. Kelompok orang ini adalah kelompok orang yang dikatakan oleh William Barclay menjadi korban “seduction in the name of religion.” Kepada orang-orang seperti ini Paulus mengingatkan Timotius untuk menghindari mereka dan sekaligus menjaga dan melindungi anak-anak Tuhan yang ada di dalam Gereja.

Yang kedua, kenapa iman orang-orang ini lemah? Kenapa mereka mudah sekali terseret? Paulus kemudian memakai satu istilah yang perlu sekali menjadi koreksi dan introspeksi bagi setiap kita di ayat 7, “…yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” Ayat 5, “…secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkirinya.”

Maka Paulus mengatakan kepada Timotius perhatikan baik-baik kepada situasi hidup rohani seperti ini. Perhatikan baik-baik kepada situasi hidup rohani kita masing-masing. Walaupun ingin diajar, tetapi apakah pengajaran itu membuat kita mengenal kebenaran lebih dalam? Walaupun rajin berbakti, rajin melakukan bentuk kesalehan, tetapi walaupun semua itu dijalankan, kita memungkiri kekuatannya. Kalau ibadah itu tidak memberikan sukacita, hati yang lebih cinta Tuhan, lebih mengasihi Dia di dalam hidup kita, kita pun bisa terjebak jatuh kepada kondisi rohani seperti ini.

Yang ketiga, lebih tricky, ayat 8-9 “Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji, tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju karena seperti Yanes dan Yambres kebodohan mereka pun akan nyata di hadapan semua orang.” Siapa ini Yanes dan Yambres? Alkitab tidak mencatat nama mereka, namun di dalam Targum orang Yahudi ada menyebut mereka adalah ahli-ahli sihir orang Mesir yang melayani Firaun dan melawan Musa dengan sihir mereka. Kenapa nama mereka ada di dalam Targum? Apakah mungkin waktu orang Israel keluar dari Mesir, mereka juga ikut keluar? Mungkin. Karena selain dalam peristiwa di istana Firaun, nama Yanes dan Yambres juga disebutkan dalam peristiwa Bileam sebagai dua orang yang ikut menjadi pengikut Bileam dan yang menjadi penyebab orang Israel membuat patung lembu emas dan memberontak kepada Musa. Kita tidak tahu sampai sejauh mana kebenarannya karena ini catatan tradisi orang Yahudi, namun pada waktu Paulus menyebut nama mereka berarti jelas dua orang ini memang benar-benar ada. Musa membuat ular dengan tongkatnya, mereka juga bisa bikin ular dengan tongkatnya, berarti seolah bisa melakukan hal yang sama. Nanti bedanya adalah waktu ularnya bertarung, ular Musa menelan ular mereka.

Hal ini tidak gampang dan tidak mudah. Pelayanan yang dilakukan dalam bentuk “seduction in the name of religion” mungkin juga akan menghasilkan buah yang mirip sama dengan Gereja yang sejati. Tetapi Paulus memberikan prinsip yang penting di ayat 8-9 ini, yang membedakan pelayanan kita dan bagi pelayanan satu Gereja: someday sudah pasti apa yang mereka kerjakan dan lakukan tidak tahan uji dan orang akan bisa melihat dengan jelas satu pekerjaan yang dikerjakan dengan cinta kepada Tuhan, hati yang tulus melayaniNya, pekerjaan itu akan tahan permanen selama-lamanya. Itulah sebabnya ayat ini boleh menjadi kekuatan yang mendorong dan meng-encourage Timotius dan semua hamba-hamba Tuhan dan setiap orang yang ambil bagian di dalam pelayanan. Terlalu mudah kita menerima satu jabatan, tetapi mudah semangat kita bisa gembos di tengah jalan. Mudah kita berantusias mau memulai satu pelayanan tetapi begitu mudah juga di tengah jalan kita tidak bisa dan tidak sanggup meneruskan untuk mengerjakannya sampai tuntas. Itu sebab kita membutuhkan ketekunan, kesabaran, persistence, air mata di dalam pelayanan kita dan cinta kepada Tuhan menjadi satu bukti nyata bahwa Tuhan yang kita sembah dan layani adalah Tuhan yang setia dan tidak akan pernah meninggalkan dan mengecewakan kita. Saya percaya itu menjadi satu ciri yang penting, satu karakter yang penting dari satu pelayanan yang patut kita dukung dan doakan, satu pelayanan dimana kita harus kerjakan sama-sama. Ini adalah satu panggilan dan peringatan Paulus kepada Timotius yang juga menjadi satu panggilan dan satu peringatan bagi setiap kita, hamba Tuhan dan GerejaNya. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Biar apa yang kita kerjakan dan lakukan kepada Tuhan boleh menjadi satu pelayanan yang tahan uji dan satu pelayanan yang kita kerjakan dengan indah, menghasilkan satu buah yang kekal di hadapan Tuhan. Hidup kita yang penuh dengan tantangan di tengah dunia ini tidak boleh membuat kita kecewa dan lari dari hadapan Tuhan karena suatu hari kelak semua pengujian dan tantangan itu hanya akan membuktikan iman kita adalah iman yang sejati adanya. Biar Tuhan memimpin hidup kita masing-masing.(kz)