09. Jangan Lari ketika Kesulitan Datang

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 28/4/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (9)

Nats: Keluaran 6:1-26

 

Di dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan yang seolah tidak pernah ada habis-habisnya; di tengah kerutinan kesibukan yang tidak pernah berhenti; di tengah segala beban persoalan, tekanan berat, kesulitan yang datang ke dalam hidup, betapa kita ingin bisa libur sejenak untuk melepaskan diri dari semua itu, bukan? Kita ingin dengan libur itu kita bisa mendapatkan kelegaan dan kesegaran dan lepas dari segala problem dan kesulitan. Namun bukankah kita harus akui, mempersiapkan liburan itu sendiri sudah menjadi beban yang baru. Kita yang berpikir dengan libur berarti kita bisa menghindar dari persoalan, akhirnya baru sadar problem tetap ada pada waktu kita berlibur. Ban mobil kempes, dompet dicopet dan paspor hilang. Waktu Jakarta banjir besar bulan Januari kemarin, ada yang pulang harus dijemput perahu karet karena tempat tinggalnya terendam banjir dan tidak bisa kemana-mana selama liburan itu. Beberapa tahun yang lalu ada yang pergi liburan sekeluarga ke Jepang, sampai di sana terjadi gempa luar biasa. Listrik mati dan semua kendaraan umum lumpuh, mereka jalan kaki 2 jam lebih untuk kembali ke hotel. Liburan? Bukankah justru makin stress daripada tidak pergi liburan? Dimana di dunia ini ada tempat yang bebas dari persoalan? Jangan pernah pikir ada tempat di dunia ini yang stress-free, jangan pernah pikir ada lahan kosong di dunia ini dimana engkau tidak menjumpai kesulitan dan problem. Barangsiapa berpikir bisa lepas dan lari dari satu problem, pergi ke tempat lain, dia akan bertemu dengan problem yang berbeda.

Itulah sebabnya kontras dari Alkitab berkata, tempat satu-satunya dimana kita bisa bernaung dan berlindung dari badai dan topan yaitu kita berlindung kepada Allah yang menjadi batu karang kita yang kokoh selama-lamanya. Hanya di tempat itu kita bisa berlindung. Tidak ada tempat yang lain, tidak ada di lokasi manapun di dunia ini engkau dan saya bisa lepas dari beban, problem dan kesulitan yang ada. Kecuali kita datang, kita kembali, kita tinggal teduh di dalam naungan Allah, di situlah kita tahu dan sadar hanya itulah tempat dimana kita mendapat pertolongan dan kekuatan. Bawa segala pergumulanmu kepada Tuhan, serahkan segala kekuatiranmu kepadaNya, di situlah kita boleh berteduh dengan tentram adanya.

Dalam Keluaran 3 Musa mendapat panggilan khusus dari Tuhan. Sekalipun dia bergumul setengah mati tidak mau menerima panggilan itu, tetapi Tuhan mau memakai dia di dalam segala kelemahan dan kekurangannya. Tuhan menyertai Musa dengan kuasa, Tuhan menyertai Musa dengan janji, Tuhan menyertai Musa dengan segala mujizat, supaya itu bisa convinced orang Israel yang sudah 400 tahun lamanya berada di dalam perbudakan, mereka boleh kuat dan berani untuk bisa keluar dari Mesir lepas dari perbudakan.

Kita melihat setelah itu Keluaran 4 dan Keluaran 5 sungguh berbeda “ending”-nya. Pasal 4 ditutup dengan scene yang luar biasa indah. Setelah Musa kembali ke Mesir, bertemu dengan Harun dan tua-tua orang Israel, menyampaikan firman Tuhan dan panggilan Tuhan kepadanya. Respons dari tua-tua itu menutup Keluaran 4 dengan satu “doxology” semua orang yang hadir bersembah-sujud menyembah Tuhan, semua mulut bibir mereka memuji dan memuliakan Tuhan.

Setiap minggu kita beribadah, kita membawa doxology ke hadapan Tuhan. Kita menerima panggilan Tuhan untuk menjalani kehendakNya. Tetapi pada waktu panggilan Tuhan itu di-“test” di dalam realita perjalanan hidup kita, setelah kita keluar dari ibadah, setelah kita selesai memuji dan memuliakan Tuhan, bagaimana?

Maka pergilah Musa dan Harun menghadap Firaun di pasal 5. Yang terjadi sejujurnya adalah di luar dari apa yang mereka harapkan. Semua orang yang memuji menyembah Tuhan itu tidak ada yang berani maju bersama dia. Bukankah Tuhan menyertai? Bukankah Tuhan berkuasa? Bukankah Tuhan sudah berjanji? Tetapi justru fakta dan realita yang terjadi betapa jauh berbeda daripada apa yang diharapkan. Hidup mereka makin sulit; beban dan persoalan makin berat; secara fisik dan emosi mereka mengalami tekanan yang luar biasa. Maka Keluaran 5 ditutup bukan dengan pujian kepada Tuhan tetapi sumpah serapah dari orang Israel kepada Musa. Kiranya Tuhan memperhatikan perbuatanmu dan menghukum engkau. Gara-gara engkau maka hidup kami tambah susah. Kalau saja engkau tidak pernah kembali ke sini, walaupun kami tetap budak, tetapi pekerjaan kami tidak seberat sekarang ini. Kesulitan kami makin bertambah-tambah.

Kalau sudah begini, kemana Musa harus pergi? Apakah dia harus kembali ke padang gurun supaya menjauh dan lepas dari beban kesulitan itu? Di tengah kekecewaan menerima reaksi dan perlakukan orang Israel itu, tempat pengungsian yang dia datangi adalah hadirat Tuhan. Di situ dia membawa segala beban kesulitannya di dalam doa kepada Tuhan. Keluaran 5 berakhir seperti itu.

Kepada orang-orang yang sedang berada di dalam beban kesulitan yang menghimpit dia, bagaimana Tuhan memberi kekuatan, bagaimana Tuhan menolong Musa di tengah hal yang dihadapinya? Keluaran 6 dibuka dengan kalimat Tuhan, “Akulah TUHAN.” Berapa kali Tuhan perlu mengulang dan mengulang lagi kalimat ini? Dari ayat 1-7 ada empat kali Tuhan mengatakan, “Akulah TUHAN.” Itulah jawaban Tuhan kepada Musa. Musa tidak melihat problem itu berlalu dan menyingkir dari hidupnya. Kalau kita baca makin ke belakang, kita menemukan perjalanan itu  makin lama makin berat. Kita mudah membacanya sebab kitab Keluaran ini sudah selesai dan lewat, kita tahu ending-nya yaitu mereka berhasil keluar dan lepas dari perbudakan Mesir. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk mengerti dan memahami pergumulan orang Israel karena kita tidak menjalaninya ‘day by day’ seperti mereka. Mereka menderita, fisik dan mental, mereka menjalani semua itu tanpa tahu apakah usaha Musa akan berhasil melepaskan mereka.

Kekuatan apa yang bisa mereka pegang pada masa-masa seperti itu? Janji apa yang Tuhan berikan kepada Musa? Tuhan tidak bersegera memberitahukan kepada Musa langkah-langkah apa yang Tuhan akan kerjakan dan lakukan ke depan, tetapi Tuhan mengingatkan Musa, siapa TUHAN yang dia sembah dan percaya. Kalau engkau tahu Ia adalah TUHAN, Allah yang berkuasa, itu cukup bagimu, sebab Ia pasti akan menyatakan karya dan kuasaNya sesuai dengan sifat dan karakter Tuhan. Kita tahu Ia adalah Tuhan yang maha tahu dan maha adil, kita tahu Ia akan mengerjakan segala sesuatu di depan seturut dengan karakter dan sifatNya. Maka Tuhan datang terlebih dahulu kepada Musa dengan kalimat, “Akulah TUHAN. I am the LORD.”

Maka ingat baik-baik, kisah Keluaran ini bukanlah kisah mengenai kepahlawanan Musa; kisah Keluaran adalah kisah tentang TUHAN yang kita sembah dan kita percaya di dalam hidup ini. TUHAN ini kita kenal bukan sekedar pemahaman teologis belaka; TUHAN ini kita tahu bukan berdasarkan berapa banyak khotbah yang kita terima dan dengar. Pada waktu kita menjalani perjalanan hidup kita, lewat dari hari ke sehari, terus menerobos menghadapi tantangan demi tantangan, kesulitan demi kesulitan, kita tidak pernah menyerah dan menyingkir demi hanya untuk menghindar daripadanya. Kita akan sampai kepada satu titik dimana kita harus menghadapinya, dan di situ kita tahu darimana datangnya pertolongan itu. Pertolongan itu datang dari TUHAN adanya.

Dalam Keluaran 6:5-7 ada tujuh janji yang Tuhan sampaikan kepada Musa. Setelah Tuhan menyatakan diriNya kepada Musa, Tuhan menyatakan segala janjiNya yang akan Ia laksanakan kepada bangsa Israel ini. Janji pertama, “Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir.” Janji kedua, “Aku akan melepaskan engkau dari perbudakan mereka.” Janji ketiga, “Aku akan menebus engkau dengan tangan yang teracung.” Janji keempat, “Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu.” Janji kelima, “Aku akan menjadi Allahmu,” Janji keenam, “Aku akan membawa engkau ke negeri yang Kujanjikan itu.” Janji ketujuh, “Aku akan memberikan tanah itu menjadi milik pusakamu.” Tujuh janji ini indah dan unik adanya, dibuka dan ditutup dengan kalimat materai “Akulah TUHAN.” Tujuh janji ini indah dan unik karena angka tujuh menyatakan kesempurnaan. Namun semua itu menjadi janji yang kosong kalau yang berjanji tidak mampu memenuhi janji itu. Maka kalimat “Akulah TUHAN” menjadi jaminan bahwa janji itu pasti akan ditepatiNya.

Semua janji Tuhan ini nantinya akan menjadi tema yang berulang lagi di dalam Perjanjian Baru, dan makin jelas lagi. Bukan kita dibebaskan dari perbudakan dan penjajahan bangsa lain, tetapi kita dibebaskan dari perbudakan dosa. Kita akan dibebaskan dari kuk perhambaan dan perbudakan dosa. Kita akan ditebus. Tebus berarti ada harga yang dibayar, ada tebusan yang harus diberikan. Maka Yesus Kristus mati menjadi tebusan kepada murka Allah sebagai pengganti kepada kematian kita yang hanya bisa diselesaikan dengan hal itu.

Ketika Musa menyatakan hal itu kepada orang Israel, apa reaksi mereka? Keluaran 6:8 menyatakan, “…tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu.” Kuasa dosa terlalu kuat adanya. Saking terlalu kuat, sehingga dia menciptakan satu kesan kita tidak akan sanggup untuk bisa keluar dan lepas dari belenggunya. Dengan demikian sudah tidak ada jalan keluar dan tidak ada cara untuk lepas, maka manusia tetap tinggal di situ. Kepada siapa mereka datang minta pertolongan? Mereka tidak bisa lagi meminta pertolongan kepada Tuhan dan mereka tidak mau lagi dengar suara janji Tuhan yang berkata kepada mereka. Janji-janji itu tidak bisa lagi menjadi suara yang memberi kekuatan dan pengharapan kepada mereka. Mereka tinggal dan putus asa di dalam situasi mereka.

Itulah sebabnya semua ini mengajar kepada kita mengapa keselamatan dan jalan keluar tidak mungkin terjadi kecuali kita melihat tangan Tuhan yang kuat dan perkasa itu menarik dan melepaskan kita.

Musa sampaikan janji Tuhan, Musa sampaikan firman Tuhan, bangsa ini menutup telinga mereka rapat-rapat. Kenapa akhirnya Tuhan berulang dan berulang lagi menyatakan hal yang sama di pasal 6, 9 dan 12 Musa diutus lagi dengan panggilan yang sama, pergilah menghadap Firaun. Kenapa Tuhan perlu panggil lagi, panggil lagi? Panggilan itu perlu menguatkan dia sekali lagi. Itulah sebabnya kenapa kita juga perlu berulang-ulang diingatkan, diingatkan, diingatkan kembali, karena kita terlalu pelan untuk mengerti, terlalu lamban untuk percaya, terlalu lambat untuk taat. Bisa jadi karena kita tidak mengerti, bisa jadi karena kita ditipu oleh dosa. Problemnya adalah yang memberikan kesan memang tidak ada jalan keluar untuk lepas, buat apa berusaha? Buat apa saya kerjakan lagi kalau hasil akhirnya sudah predictable? Itu excuse Musa. Hasil akhirnya pasti Firaun tidak mau percaya dan mendengarkan perkataan Musa. Buat apa dilakukan lagi jikalau outcome-nya sudah pasti orang Israel tidak mau mendengarkan Musa. What’s the point? Lebih baik saya give up. Kita tidak boleh give up, kita tidak boleh pergi dan lari pada waktu kita berada di dalam setiap kesulitan karena memang tidak ada tempat yang “free of stress,” tidak ada lokasi yang “free of problem.” Yang ada ialah dimana naungan sentralitas yang tidak bergerak itu, di pangkuan Tuhan engkau mendapat kekuatan Tuhan. Kadang-kadang pada waktu kita menghadapi awan gelap kesulitan seperti itu, kita bisa melihat orang kehilangan kekuatan dan pengharapan untuk bisa melihat adanya jalan keluar yang Tuhan beri baginya. Walaupun janji Tuhan terus mengingatkan dia, betapa susah dan berat pergumulan yang mereka alami, Tuhan tidak pernah jemu-jemu terus memberikan kekuatan dan janji itu. I am the LORD. Akulah TUHAN. Aku akan memeliharamu dari awal sampai akhir.

Selanjutnya, kenapa kita perlu terus kontinu, kenapa kita tidak boleh give up, kenapa kita tidak boleh lari dan pergi? Karena kita tidak tahu perjalanan hidup kita di depan akan bagaimana. Itulah sebabnya mengapa penting silsilah, supaya kita bisa track dan keep the record, betapa setianya Tuhan di dalam hidup kita. Kalau kita menengok ke belakang dan nanti melihat apa yang terjadi di depan, kita akan mengerti jalan dan pekerjaan Tuhan yang setia kepada kita. Keluaran 6:13-26 mencatat silsilah beberapa generasi dari Harun. Dari silsilah ini muncul tiga nama beserta umur mereka, umur Lewi 137 tahun (ayat 15), umur Kehat 133 tahun (ayat 17) dan umur Amram 137 tahun (ayat 19), yang ditotal kira-kira lebih dari 400 tahun. Dari silsilah ini memperlihatkan “there is no little people” di dalam pandangan Tuhan. Darimana datangnya Harun? Dari keturunan Lewi. Harun bisa besar, Harun menjadi penting, jangan lupa dia datang dari keluarga yang sederhana. Siapa sangka anak cucu kita nanti akan menjadi seorang yang indah dan agung bagi kerajaan Tuhan? Tetapi anak cucu itu bisa jadi demikian karena ada perjalanan penyertaan Allah terjadi dalam hidup engkau dan saya. Pada waktu Harun menjadi orang besar, Harun tidak boleh bangga dan sombong, bahwa semua kesuksesan itu akan terus ada di dalam keluarganya. Silsilah ini memperlihatkan kepada kita ada sisi gelap dari anak-anak Harun yang membuat dia menangis menyaksikan dua dari anak-anaknya mati kena hukuman Tuhan karena mereka sembarangan dalam melayani Tuhan (Imamat 10). Mungkin di dalam silsilah keluarga kita ada orang-orang yang sederhana, tetapi jangan pikir tidak lahir dari mereka great people yang besar dan agung, sehingga kita tidak boleh menghina orang seperti itu. Kalau kita berasal dari keluarga yang jauh dari ideal, kita tidak boleh putus asa, kita tidak boleh berhenti sebab mungkin langkah selanjutnya di depan kita akan melahirkan keturunan yang sukses dan mencintai Tuhan. Dan jangan pikir kalau namanya Harun dan besar, generasi selanjutnya akan besar dan agung juga. Tidak ada jaminan seperti itu. Jangan puas dan berbangga diri kalau anak kita berhasil dan sukses, sebaliknya kita bersandar kepada Tuhan karena kita tidak tahu prahara apa yang akan terjadi kepadanya yang bisa melahirkan keluarga yang mendukakan hati kita. Dalam semua hal itu, kita pegang baik-baik, Tuhan itu setia dan Tuhan mengontrol jalannya sejarah. Itulah sebabnya kita tidak bersandar kepada uang kita, kepada kesuksesan masa lampau kita, kepada kepintaran kita untuk mengarungi apa yang ada di depan. Biar kita kembali kepada kalimat yang Tuhan katakan, “I am the LORD.”

Keluaran 6:15 muncul nama Gerson, Kehat dan Merari. Mereka adalah anak-anak Lewi yang Tuhan pakai menjadi pilar-pilar yang baik mendukung dan melayani setiap pekerjaan di dalam Kemah Suci nantinya. Dalam Bilangan 3:25-37 dicatat mereka dan keturunannya melayani di dalam merawat dan memelihara Kemah Suci beserta seluruh perangkat Kemah Suci sehingga ibadah dan pekerjaan itu bisa berjalan dengan baik.

Keluaran 6:24 mencatat nama Pinehas yang artinya “hitam” lahir dari keturunan Harun yang menikah dengan seorang wanita Etiopia. Nanti kita akan melihat peran Pinehas dalam Bilangan 25, ketika orang Israel memberontak kepada Tuhan, dan dengan sengaja melakukan persetubuhan dan perzinahan dengan perempuan Moab, sementara tidak ada orang yang berani bertindak ketika seorang Israel bersama seorang perempuan Midian dengan sengaja masuk ke dalam Kemah Suci untuk bersetubuh di sana untuk menistai kekudusan Tuhan. Maka Pinehas maju dan menusuk dua orang itu. Di situ Tuhan mengatakan, “Pinehas telah menyurutkan murkaKu oleh karena dia begitu giat membela kehormatanKu di tengah orang Israel” (Bilangan 25:10) dan Tuhan memberkati Pinehas atas apa yang diperbuat bagi Tuhan.

Francis Schaeffer berkata, “Yesus perintahkan setiap orang Kristen secara sadar mencari tempat yang paling rendah dalam setiap ruangan. Kita selalu tergoda untuk mengambil tempat paling penting sebab kita berpikir kita bisa memberi pengaruh lebih besar demi Kristus dalam posisi itu. Organisasi Kristen atau individu Kristen jatuh terjebak kepada godaan untuk merasionalisasi membangun lebih besar dan lebih besar lagi dan berpikir dengan semuanya itu kita membuat pengaruh Kristus menjadi lebih besar. Kita tidak boleh jatuh ke dalam godaan itu, kecuali Tuhan mau menempa kita menjadi besar.”

Tuhan menempa seseorang dan Tuhan mau memakai dia menjadi lebih indah dan lebih agung adanya. Kenapa perlu lewat kesulitan dari Firaun, tantangan yang berat dan tekanan yang harus dilalui hari demi hari Tuhan berikan? Tujuannya suapaya melalui semua itu bangsa Israel tahu bukan Musa juruselamat mereka, bukan Firaun yang membuat mereka bisa keluar, tetapi semua itu bisa terjadi supaya mereka tahu tidak ada pertolongan lain selain daripada Tuhan. Mungkin perlu lewat orang itu sakit terus-menerus sehingga waktu dia bisa sehat, dia ingat bukan dokter dan rumah sakit yang menyembuhkan dia tetapi Tuhan sendiri yang menjadi sandarannya. Orang yang terus mengalami kegagalan di dalam pekerjaannya, seorang hamba Tuhan yang mengalami tekanan dan kesulitan dalam pelayanannya, haruskah kita berhenti di tengah jalan? Jangan. Biar kita lalui semua itu sehingga kita boleh ditempa oleh Tuhan dan kita tahu kita tidak bersandar kepada juruselamat yang lain, kita tidak mencari pertolongan dari uang, kehebatan dan kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi karena semata-mata Tuhan adanya.(kz)