02. Ingredient Dasar bagi Man of God

26/2/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (2)

Nats: 2 Timotius 1:1-8

 

Paulus mengatakan satu kalimat yang amat penting bagi Timotius dan bagi setiap kita, “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:17). That the man of God may be competent, equipped for every good work. Kita bukan saja manusia milik kepunyaan Allah, we are not only belongs to the Lord, yang dicintai dan dikasihi Tuhan, tetapi kita adalah manusia Allah, kita adalah men of God, maksudnya adalah kita hidup memprioritaskan Dia, hidup kita bagi Dia. Hidup yang seperti itu adalah satu hidup yang agung, yang perlu direspek, satu hidup yang lebih daripada hirarki dalam hubungan keluarga, hubungan anak dan ayah. Maka Paulus merubah tone suratnya, dalam 1 Timotius di pasal 1 ia menggunakan panggilan intim “Timotius, anakku yang sah dalam iman…” (ayat 2) tetapi di pasal 6 ia memanggil dengan nada tone yang berbeda, “Hai engkau manusia Allah…” (ayat 11). Dia tidak lagi memanggil Timotius “my beloved son,” tetapi “you, man of God.” Demikian juga di surat 2 Timotius, Paulus memulai pasal 1 dengan panggilan yang sangat intim, “Timotius, anakku yang kekasih di dalam Tuhan…” (ayat 2). Tetapi di pasal 3, nada suaranya berubah, “demikianlah manusia Allah dibentuk oleh Tuhan, dilengkapi oleh Tuhan, supaya kita mengerjakan pekerjaan yang baik bagi Tuhan…” (ayat 17). Maka tema berubah, bukan lagi surat pribadi antara ayah rohani dan anak rohani, tetapi sekarang menjadi satu nasehat penting kepada Timotius dan kepada setiap kita dipanggil oleh Tuhan menjadi man of God.

Di dalam Perjanjian Lama kita menemukan ini yang terjadi pada nabi Elia, bagaimana Tuhan membentuk dia menjadi seorang man of God. Dalam 1 Raja 17, kisah mengenai Elia dibuka dengan kalimat, “Elijah, man of Tishbe…” Tisbe itu dimana? Itu sebab Alkitab perlu menambahkan keterangan, “Tisbe yang di Gilead” karena itu adalah satu nama tempat yang insignificant. Mungkin itu bukan satu kota, mungkin itu hanya satu desa kecil yang ada di Gilead. Tidak ada yang bisa menemukan di peta, dimana letaknya sesungguhnya. Namun tidak peduli darimana dia berasal, tidak peduli dari latar belakang apa, yang terpenting adalah kalimat penutup pasal 17 yang menulis, “Elijah, man of God…” (ayat 24). Elia disiapkan oleh Tuhan untuk mengerjakan hal-hal yang besar dan agung bagi Tuhan. Tuhan merubah ‘Elijah man of Tishbe’ menjadi ‘Elijah man of God’. Elia hidup di jaman pemerintahan raja Ahab yang dicatat Alkitab sekitar 22 tahun lamanya ia memerintah di Israel. Hanya ada dua raja di dalam kerajaan Israel yang dicatat “melakukan kejahatan lebih besar daripada pendahulunya yang lain…” yaitu raja Omri dan raja Ahab, ayah dan anak. Tidak ada raja-raja lain yang melakukan kejahatan lebih besar daripada mereka berdua. Selama berpuluh-puluh tahun mereka melakukan kejahatan, tetapi siapa yang berani maju ke depan untuk menegur dosa-dosa mereka dalam nama Tuhan? Apakah tidak ada nabi-nabi lain, sehingga Tuhan memakai Elia yang insignifikan ini? Pasal 17 dibuka dengan kalimat, tiba-tiba ada seseorang bernama Elia ‘stand up’ di hadapan raja Ahab. Siapa dia? Dia bukan lulusan dari sekolah elite; dia bukan berasal dari kelompok nabi. Saya mengatakan demikian, sebab di pasal 18 kita menemukan situasi yang memperlihatkan bukan tidak ada nabi-nabi lain pada waktu itu. Kalau nabi ini berada di dalam lingkungan pejabat-pejabat, berarti ini adalah nabi-nabi yang elite. Kalau sampai mereka dilindungi oleh menteri di dalam kerajaan Ahab, berarti mereka adalah nabi-nabi yang berharga. Ayat 4 menceritakan, pada waktu Isebel, isteri raja Ahab melenyapkan nabi-nabi Tuhan, Obaja mengambil seratus orang nabi lalu menyembunyikan mereka dalam gua…” Bahkan di pasal 19, ketika ELia mengira sudah tidak ada lagi orang Israel yang menyembah Tuhan, Tuhan mengatakan ada tujuh ribu orang Israel yang masih setia beribadah kepadaNya. Mereka bersembunyi, mereka tidak sanggup tahan di tengah-tengah situasi yang jahat luar biasa dari Ahab dan Isebel kepada mereka. Tidak gampang dan tidak mudah, situasi susah dan berat, muncul sedikit, kepala langsung ditebas. Sekarang, tiba-tiba Elia orang Tisbe muncul di hadapan raja, siap sedia menerima reaksi terburuk sekalipun, termasuk berkorban jiwa mati bagi Tuhan.

Orang yang seperti inilah yang dibutuhkan oleh Gereja saat ini. Gereja tidak kekurangan orang-orang yang mampu; Gereja tidak kekurangan orang-orang yang berintelektual tinggi; Gereja tidak kekurangan orang-orang yang berduit. Gereja hanya kekurangan orang-orang yang rela dan mau berkorban.

Mereka bersembunyi; tidak ada yang mau; tidak ada yang berani. Maka Elia muncul di hadapan raja Ahab. Siapa dia? Darimana dia datang? Elia berdiri seorang diri dan berkata, “Demi Allah yang hidup, Allah yang kulayani…” Inilah sikap terpenting dan yang kita perlu.

Terlalu banyak orang berkata hal-hal yang negatif, terlalu gampang orang mengeluarkan kritik terhadap pelayanan dan pekerjaan Gereja, mengatakan, “Kenapa kita tidak sediakan dana yang cukup untuk pelayanan misi?” Mari kita berhenti mengkritik, mari kita berhenti berkata negatif, mari kita sendiri belajar mulai memberi dan berbagian di dalam pelayanan.

Menghadapi tantangan pelayanan misi, sdr akan tahu betapa susah dan sulitnya. Sebab di tengah kucuran dana yang begitu besar dari satu individu yang memberi banyak sekali, yaitu Bill Gates, hanya sayang sekali ia bukan orang percaya Tuhan, ia seorang humanis. Kita perlu orang-orang Kristen yang sungguh memikirkan bagaimana membangun sumber daya orang-orang setempat tetapi sekaligus menciptakan satu lapangan kerja yang menghasilkan profit bagi mereka. Tidak banyak orang Kristen yang memperhatikan hal-hal seperti ini. Mari kita mempunyai pengertian kebenaran firman Tuhan yang komprhensif seperti ini.

Kenapa Elia bisa menjadi man of God? Apa ingredients dan dasar bahan mentah yang ada padanya? Seorang yang berani berdiri walaupun ia berasal dari kalangan yang insignificant, bukan dari kelompok sekolah nabi yang ada. Tetapi dia rela, dia mau, dan dia committed.

Orang-orang yang mengatakan, mana pelayanan misi Gereja? Mari kita berhenti berkata seperti itu. Mari kita coba pikirkan, bisakah saya dipakai oleh Tuhan untuk itu? Banyak orang mampu, banyak orang sanggup, banyak orang berintelektual, itu banyak di sekitar kita. Namun satu yang kita kekurangan yaitu hati yang rela dan berani berkorban, yang berani muncul dan berdiri.

Tetapi sampai di situ saja tidak cukup. Berani, mampu dan rela, tidak cukup. Itu sebab Elia memerlukan “sekolah” dari Tuhan; sekolah dimana dia belajar bersandar kepada Tuhan; sekolah dimana dia belajar trust sepenuhnya, tidak punya apa-apa. Dia dilatih oleh Tuhan dengan dua cara yang sama sekali tidak pernah kita pikirkan, Tuhan pakai burung gagak, Tuhan pakai janda miskin. Supaya diakhir pendidikan sekolah Tuhan itu, Elia bukan lagi ‘man of Tishbe’ tetapi Elia adalah ‘man of God.’

Itu sebab kalimat Paulus menjadi satu cetusan yang sama, waktu Paulus mengatakan satu-satunya harta berharga yang bisa ia tinggalkan kepada Timotius adalah pesan ini, “…demikianlah tiap-tiap manusia Allah, Tuhan shape dia, Tuhan equip dia supaya boleh mengerjakan pekerjaan dan pelayanan yang baik, yang indah, yang mulia bagi Tuhan.” Kita perlu masuk ke “sekolah” dari Tuhan, yang akan membentuk dan mempersiapkan setiap kita menjadi man of God bagi Tuhan.

Dalam khotbah yang lalu, saya sudah bicara mengenai dua dasar penting yang patut dimiliki seseorang yang melayani Tuhan, yaitu hati nurani yang murni disertai dengan iman yang sehat dan tulus ikhlas. Ada air mata di dalam pelayanan Timotius dan Paulus, itu menjadi bahan dasar yang kita bisa lihat menjadi satu pembentukan Tuhan bagi seorang manusia Allah. Paulus mengatakan, aku tahu ada iman yang murni tumbuh di dalam hidupmu. Aku tahu imanmu tulus ikhlas, isi dari imanmu benar adanya. The sound doctrine, pengajaran yang sehat, itu merupakan ingredient yang penting. Tetapi itu saja tidak cukup. Diperlukan keseimbangan hati dan pikiran yang bersih adanya. The sound doctrine and the clear conscience adalah dua hal yang penting. Hati bersih, nurani tulus di hadapan Tuhan, pengajaran yang kita ajarkan tidak ada maksud dan motivasi yang tidak benar; pengajaran yang kita berikan bukan pengajaran yang menipu orang; pengajaran yang kita berikan tidak ada “twisted” dari apa yang dikatakan oleh Alkitab, tetapi hal yang indah dan benar adanya.

Hari ini saya bicara hal lain yang menjadi pembentukan Tuhan bagi seorang man of God.

Dua kali Paulus memakai kata ‘jangan malu’ di 2 Timotius 1:8. Jangan malu, jangan takut, jangan minder di dalam hidupmu. Secara latar belakang mungkin ada faktor pengganjal yang membuat Timotius bisa merasa ini sesuatu disadvantage di dalam hidupnya. Ia dibesarkan oleh seorang ibu janda. Alkitab tidak catat siapa ayahnya. Kita tidak perlu berspekulasi apa yang terjadi pada ayahnya. Alkitab tidak catat siapa kakeknya. Dan kita pun tidak perlu berspekulasi akan hal ini. Yang mungkin kita bisa membayangkan, anak ini lahir mungkin tidak pernah melihat ayahnya. Alkitab hanya mencatat dia dibesarkan oleh neneknya Lois dan ibunya Eunike. Sebagai anak seperti itu, pasti ada keinginan untuk memiliki mainan seperti teman-temannya yang lain, tetapi mama tidak punya uang untuk membelinya. Ingin punya pakaian yang sama seperti teman-temannya, tetapi mama tidak mampu membelinya. Itu adalah situasi yang disadvantage, itu yang membuat dia minder; itu yang membuat dia tidak bisa berdiri di depan publik dengan confident. Ia hanya seorang anak janda yang sehari-hari mungkin mengais-ngais makanan untuk membesarkan dia. Tetapi firman Tuhan mengingatkan, tidak peduli siapa engkau; tidak peduli dari keluarga apa engkau berasal; jangan malu dan jangan minder, sebab Tuhan punya kuasa di balik semua itu untuk memakai engkau menjadi alat dan perabotNya yang mulia dan dipakai olehNya. Elia? Darimana dia? Siapa dia? Apa dia bisa dipakai Tuhan?

Mari kita lihat situasi hidup yang sama seperti ini dalam diri Timotius. Saya rasa ini menjadi point yang paling penting. Tidak berarti man of God itu orang yang sudah sempurna; tidak berarti man of God itu orang yang bisa kita idolakan selama-lamanya. Kita menghina Tuhan jikalau kita mengidolakan seseorang itu tidak punya kekurangan kelemahan apa-apa, sebab Tuhan berkata, ‘Aku akan membentuk engkau,’ membuktikan kita itu bengkak-bengkok; Tuhan berkata, ‘Aku akan melengkapi engkau,’ itu berarti tugas itu terlalu besar untuk kita kerjakan. Itu sebab man of God penuh juga dengan kekurangan dan kelemahan. Namun salah satu faktor penghalang yang harus kita buang adalah melihat tugas itu terlalu besar, melihat latar belakang hidup yang insignificant, akhirnya tidak berani keluar dan melangkah. Maka kalimat Paulus, “jangan malu dan jangan minder” betapa perlu bagi setiap kita.

Yesaya 43:18 mengatakan, “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu…” jangan lagi ingat your past memories, the traumatic memories dalam hidupmu. Dan ayat 19, “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” Tidak usah minder karena masa lalumu, karena Tuhan sekarang membuat something new dalam hidupmu.

Yosua pada waktu hendak memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, tiga kali Tuhan berseru kepadanya, “Jangan takut. Kuatkan dan teguhkan dan hatimu.” Jangan kecut dan tawar hati. Kita tidak memiliki roh pengecut dan penakut. Memasuki tanah Kanaan hanya Yosua dan Kaleb yang punya past memory (band. Bilangan 13), mereka adalah dua orang dari 12 mata-mata yang masuk ke tanah itu sebagai spy. Waktu keluar, ini fakta yang dipaparkan, tanah itu berlimpah susu dan madu, tetapi kota-kota mereka besar dan berkubu dan orang-orang mereka besar bagai raksasa. Sepuluh mata-mata yang lain mengatakan, tidak mungkin mereka bisa merebut tanah itu, tetapi dua orang ini, Yosua dan Kaleb, berdiri di seberang sungai Yordan, melihat ke sana. Fakta the past memory kembali terbayang. Yang sekarang mereka bawa adalah generasi baru yang tidak mempunyai pengalaman menyeberang laut Teberau yang terbelah dua. Mereka tidak pernah melihat pekerjaan Tuhan yang ajaib luar biasa. Ini adalah generasi yang lahir di padang gurun, yang hanya tahu makan manna. Sanggupkah mereka dibawa menyeberang? Yosua takut. Yosua gentar. Di hadapannya kota Yerikho dengan benteng bertembok tinggi besar. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, be courage, be strong; jangan takut dan gentar hatimu.

Engkau dan saya tahu, bukan, anak-anak yang lahir dari keluarga yang disadvantage seperti itu. Minder, malu, tidak berani. Yang lahir dari keluarga yang miskin dan yang merasa tidak punya bakat, talenta, tidak sehebat orang-orang yang bersekolah di sekolah elite, mahal dan bermutu. Tetapi jangan takut, jangan malu, jangan minder, kata Paulus, sebab Allah memberikan kepada kita Roh yang tidak takut, Roh yang memiliki kekuatan dan kasih dan self control. Itulah Roh Allah yang bekerja di dalam diri kita. Pada waktu kita berpikir kita tidak sanggup dan tidak mungkin, Allah bekerja di dalam kita. Ingatlah, Timotius, Roh itu sudah ada di dalam dirimu. Tetapi uniknya, Paulus bilang, kobarkan Roh itu. Ia sudah ada di dalam dirimu, dan engkau perlu kobarkan Roh itu.

Kita mungkin bertanya, apakah kita pakai dulu semua talenta kita baru talenta itu berkembang; ataukah talenta itu sudah ada baru kita bisa melayani? Mana yang lebih dulu? Seseorang itu baru “jadi” karena latihan yang rutin terus-menerus; ataukah memang sudah bakatnya? Saya rasa kita tidak perlu memperdebatkan akan hal itu. Alkitab hanya mencatat, Allah memberi, tetapi yang kelihatan itu akan menjadi kelihatan kalau engkau kobarkan. Dan ia akan semakin besar kalau semakin dikobarkan. Makin dipakai, ia akan semakin besar; namun kalau tidak pernah dikobarkan, ia akan padam dan hilang dalam hidupmu.

Ada Roh yang besar itu, yang sudah engkau terima waktu aku memberi penumpangan tangan dan pengutusan kepadamu. Jangan lupa itu. Tetapi hari demi hari, kobarkan Roh itu, nyalakan itu terus-menerus di dalam hidupmu. Inilah ingredient ke dua menjadi seorang man of God. Ada endurance yang boldness di dalam hidupnya. Ada keberanian yang dijalankan dengan suatu endurance yang tahan, konsisten, terus berkobar sampai selesai. Ada orang punya endurance, tetapi tanpa api semangat, akhirnya seperti pasrah, adem-ayem, pokoknya stabil saja, tidak punya keberanian. Ada orang punya api yang meletup-letup, keberanian yang luar biasa, tetapi sayangnya seperti tahi ayam, yang gampang panas tetapi langsung mendingin.

Maka menjadi seorang man of God, engkau perlu mejadi seorang yang tahan, tidak malu dan jalan terus sampai garis finish. Di dalam surat 2 Timotius bagian akhir, sdr akan menemukan nantinya Paulus menulis dengan menitikkan air mata, menyebut beberapa nama orang-orang yang dahulu melayani bersama dia, tetapi sekarang sudah pergi meninggalkan dia dan meninggalkan Tuhan. Ada yang tidak tahan, ada yang cinta uang, ada yang terlalu cinta dunia ini, dsb. Orang-orang ini hanya kekurangan satu hal yaitu kekurangan ketahanan endurance yang konsisten.

Di dalam menjalani hidup melayani Tuhan, buang segala memori masa lampau yang bisa membuatmu terhalang. Beranilah melangkah, meskipun tahu jalan itu tidak gampang dan tidak mudah, karena Paulus sendiri sudah mengingatkan untuk siap sedia menderita bagi Injil Tuhan.

Maka mari kita melihat beberapa aspek penting yang Tuhan beri kepada Timotius dan kepada setiap kita melalui surat rasul Paulus ini. Di dalam Gereja kita sejujurnya tidak terlalu banyak pergumulan yang kita hadapi. Sebagai hamba Tuhan, saya tidak punya pergumulan apa makan saya bulan depan, dibandingkan dengan hamba-hamba Tuhan yang ada di pedalaman. Kalau sampai akhirnya ada yang tidak tahan dan pergi dari pelayanan karena berbulan-bulan tidak ada gaji, betapa sayangnya.

Waktu saya mengunjungi salah satu sekolah teologi, saya pergi ke dapur menemui ibu asrama yang sedang masak menu sehari-hari yang singkong rebus dan daun singkong tok. Dia kaget setengah mati melihat saya tiba-tiba muncul di situ, speechless. Saya berikan titipan sedikit uang dari Jemaat Sydney kepada dia. Waktu saya keluar dari dapur itu, dia menangis tidak bisa berhenti. Mungkin pada hari itu dia sedang berpikir, apa makan kita hari ini. Sdr dan saya kesulitan di sini paling banter hanya committed, hari Minggu bangun lebih pagi, bawa anak ke Gereja, ambil bagian pelayanan yang tidak seberapa. Harap ini boleh menjadi dorongan bagi setiap kita.

Biar kita bersyukur, dengan percaya dan beriman menerima firman Tuhan yang indah ini, firman yang memberi janji kepada setiap kita supaya kita tidak kecut dan tawar hati. Tantangan masa lalu yang menjadi disadvantage bagi hidup kita, biar tidak menjadi penghalang bagi perjalanan hidup kita ke depan. Biar kita bisa berjalan maju sebab kita tahu Tuhan selalu memberikan hal yang baru, yang segar, yang indah di dalam hidup kita. Kita bersyukur untuk hal itu. Itu sebab biar kita dikuatkan, karena Tuhan telah memberikan terlalu banyak kasih, kekuatan dan kuasa yang begitu besar yang ada di dalam diri kita. Kekuatan yang jauh melebihi segala pemerintahan; jauh melebihi segala kuasa kegelapan. Itu sebab kita maju, bersedia bekerja bagi Injil Tuhan. Kita bersedia juga menerima kesulitan dan tantangan yang ada. Kita berani memberi lebih banyak; kita berani bekerja lebih keras; kita berani berkomitmen lebih sungguh. Kita bersyukur untuk semua yang kita dengar pada hari ini. (kz)