15. Hidup yang Membayar Harga

1/7/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (15)

Nats: 2 Timotius 3:10-13

 

“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan…” (3:12-13). Kalimat Paulus di ayat 12 ini menjadi satu axiom yang berlaku bagi semua orang Kristen sepanjang jaman, tidak pandang bulu siapa dia, tidak bicara soal karena dia seorang hamba Tuhan maka dia menderita, bukan karena dia pergi menjadi misionari maka dia menderita. Kalimat ini bicara mengenai desain hidup dari Tuhan bagi setiap orang Kristen, setiap anak-anak Tuhan yang mau menjalani hidup yang godly life di dalam Kristus Yesus akan menghadapi suffering di dalam hidup ini.

Dua ayat yang bersambungan (3:12 dan 3:13) bicara tentang dua jenis orang yang ada di dalam Gereja, yang satu adalah orang yang mau hidup beribadah dan yang satu adalah orang jahat dan penipu. Di sini Paulus memberikan satu separasi secara rohani, separasi yang tidak bisa dilihat secara fisik; sama-sama hadir di dalam Gereja, sama-sama mengaku sebagai orang Kristen, tetapi berapa banyak jenis orang yang kedua yang hidupnya menjadi batu sandungan bagi orang yang tidak percaya Tuhan, sehingga orang di luar berpikir semua orang Kristen sama saja, mereka mengaku percaya kepada Tuhan tetapi kelakuan mereka seperti itu. Separasi yang samar sekali.

Maka Paulus dengan tegas menyebut mereka adalah “impostor,” orang Kristen palsu, orang Kristen yang jahat dan penipu. Mungkin sama-sama memberitakan Injil tetapi mereka Paulus sebut sebagai “paddlers” yaitu satu kata bicara mengenai satu pekerjaan yang paling hina sebenarnya di jaman itu, yaitu paddlers jaman dulu menjual wine, bilangnya wine asli tetapi sebenarnya sudah dicampur air. Mereka menjual barang palsu atau barang kualitas rendah dengan harga mahal. Mereka mengaku sebagai orang Kristen, hidup seperti orang Kristen, tetapi Paulus mengatakan ada separasi antara genuine Christians dan imitation Christians. Bedanya adalah orang Kristen yang genuine waktu hendak menjalani hidup yang saleh dan godliness, dia rela menderita suffering dan aniaya. Dalam pengertian apa?

Beberapa hari yang lalu ada berita di koran mengenai keputusan seorang hakim yang melarang seorang ibu untuk mendapat akses kontak secara fisik dengan ketiga anaknya sampai mereka nanti berusia 18 tahun. Penyebabnya adalah dalam 3 tahun terakhir ini anak dari ibu ini yang berusia 9 tahun sudah 115 kali masuk ER. Tetapi waktu tinggal dengan ayahnya selama 3 bulan, anak itu tidak pernah sakit. Tetapi waktu balik ke ibunya, sakit lagi. Akhirnya mereka mulai curiga, ada sesuatu pada diri ibu ini. Ternyata selidik punya selidik baru tahu ibu ini punya kelainan mental yaitu demi untuk mendapatkan perhatian dari orang dia rela menyakiti anaknya. Maka penderitaan yang dia alami bertujuan untuk mendapatkan perhatian dan simpati orang lain. Tetapi saya percaya bukan suffering seperti ini yang Paulus maksud. Itu adalah self pity suffering. Saya percaya Tuhan tidak menginginkan orang Kristen menjalani suffering semacam ini. Kita menciptakan satu penderitaan, kita mengambil satu sikap seolah-olah menderita supaya kita mendapat perhatian dan belas kasihan orang.

Yang kedua, suffering yang dimaksud di sini bukanlah suffering yang kita alami karena kita jatuh di dalam dosa, karena semua orang, entah dia Kristen atau bukan Kristen, mengalami penderitaan yang sama akibat kejatuhan dosa (band. Roma 8:22). Kita sama-sama menderita sakit, kita sama-sama dirugikan, kita sama-sama bekerja berat, sama-sama mengeluh, sama-sama sakit bersalin, sama-sama mengalami mengalami unfairness di dalam hidup ini. Maka sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengeluh akan penderitaan semacam ini, karena penderitaan yang kita alami tidak lebih besar daripada penderitaan orang lain yang bukan Kristen karena itu bukan penderitaan yang dimaksud di sini. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengeluh karena kita sakit, seolah-olah itu adalah penderitaan yang lebih berat daripada orang yang bukan Kristen yang menderita sakit yang sama. Orang yang tidak percaya juga mengalami penderitaan dan sakit yang sama. Kita tidak boleh mengeluh bahwa kita dirugikan di dalam pekerjaan dan menganggap itu adalah salib berat yang kita tanggung karena orang yang tidak percaya juga mengalami hal yang sama. Kita tidak boleh mengeluh memelihara dan membesarkan anak begitu berat seolah-olah orang tua lain yang tidak percaya Tuhan tidak mengalami hal yang sama.

Jadi apa yang dimaksudkan oleh ayat ini?

Saya akan menarik range yang cukup besar di sini. Yang pertama, menderita bagi Kristus karena menjalani satu hidup godliness itu karena Christian life is a very costly life. Menjalani hidup Kekristenan dengan dedikasi, keputusan kita mengikuti Kristus itu adalah keputusan yang costly luar biasa. Yesus mengingatkan setiap orang yang ikut Dia untuk siap membayar harga. Barangsiapa lebih mencintai ayahnya, ibunya, keluarganya, pekerjaannya, dan barang-barangnya lebih daripadaKu, ia tidak layak menjadi muridKu.

Begitu banyak orang berbondong-bondong ikut Yesus karena melihat mujizat yang Ia lakukan, tetapi ketika firman Tuhan yang keras menegur dan menuntut komitment satu obedience yang total, orang-orang itu protes “perkataanNya terlalu keras” lalu pergi meninggalkan Dia (Yohanes 6:25-66). Yesus tidak takut kehilangan orang-orang seperti itu. Bahkan Yesus menantang murid-muridNya, “Apakah kalian tidak mau pergi juga?” (Yohanes 6:67). Yesus mengingatkan, barangsiapa hendak membangun menara, biar dia menghitung seluruh biayanya baik-baik. Jangan sampai sudah membangun separuh di tengah jalan ia berhenti karena kehabisan uang. Kalau mau mengerjakan sesuatu tidak sampai selesai, pikir baik-baik. Mengikut Tuhan adalah satu hal yang bayar harga adanya. Yesus mengingatkan barangsiapa yang hendak berperang biar dia kalkulasi baik-baik, kalau tentaranya lebih sedikit daripada tentara musuh, lebih baik dia berdamai dengan musuhnya daripada seluruh tentaranya dikorbankan padahal sudah pasti kalah (Lukas 14:28-33). Demikianlah arti ikut Yesus.

Percaya Kristus berarti ada resiko dianiaya. Percaya Kristus berarti ada resiko dibunuh. Tetapi sejarah membuktikan percaya Kristus dan tahu ada resiko dianiaya dan menghadapi ancaman berat tidak pernah membikin orang itu mundur dan takut adanya. Yesus sudah membuka di depan apa yang akan dihadapi oleh orang yang mau sungguh-sungguh ikut Dia, dan sejarah membuktikan orang-orang seperti itu sampai akhir tidak pernah undur, keder dan takut mengikut Tuhan.

Dalam Yohanes 15:20 Yesus mengatakan, “Seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya.” Kalau Yesus ditolak dan dianiaya oleh dunia ini, sudah pasti the true believers akan menghadapi hal yang sama sebab kita menjalani perjalanan hidup yang sama seperti Kristus. Mungkin kita tidak mengalami ancaman fisik seperti itu tetapi siapa yang tahu, hal-hal seperti itu mungkin saja terjadi. Tetapi datang tidak datang, ada tidak ada secara fisik penganiayaan itu menghadang kita, kita siap dan rela. Itu maksudnya. Orang yang mengikut Kristus memiliki resiko seperti itu. Ancaman, intimidasi, penganiayaan, tekanan, itu semua bisa terjadi kapan saja.

Yesus mengatakan barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus memikul salibnya. Kalau dia tidak mau memikul salibnya, dia tidak layak menjadi muridKu. Ada beban, ada suatu resiko di dalam mengikut Kristus. Tetapi saya ingin mengangkat satu paradoks yang indah sekali di dalam kalimat Tuhan Yesus yang lain, “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang…” (Matius 11:28-29). Ada beban dosa yang begitu berat dan begitu mengikat kita, beban itu diambil dan dipikul oleh Kristus. Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada menyadari hutang yang begitu besar yang tidak bisa kita bayar ternyata dibayar lunas oleh orang. Berapa besar sukacita dan kelegaan dan syukur kita kepadanya, saya percaya sulit untuk kita balas kepadanya segala kebaikannya. Orang itu mungkin bilang kepada kita, mulai dari sekarang ini adalah lembaran baru bagi hidupmu, tidak ada hutang lagi. Kerja baik-baik, jangan berhutang lagi. Tetapi betapa lebih indah lagi kalau selanjutnya dia memberi kita satu modal, dia tulis cek lalu bilang, ini ada uang sedikit untuk modal hidupmu. Kalau sudah diperlakukan seperti itu, saya ingin bertanya, apakah ada orang yang tidak tahu diri, mencairkan uang itu lalu berfoya-foya dan pakai untuk berjudi atau untuk pesta mabuk-mabukan? Saya percaya, dia akan terima uang itu, dia akan cairkan dan pakai dengan gentar dan penuh tanggung jawab, membuktikan kepada orang yang sudah menolongnya, saya bisa berhasil mengerjakan uang yang engkau beri kepada saya.

Yesus memberi kelegaan itu, tetapi sekaligus Ia mengatakan pikullah kuk yang Kupasang, kuk itu ringan adanya. Sdr tidak boleh mengeluh, bebanku sudah diambil, kok kemudian diberi kuk lagi? Jangan pernah berpikir seperti itu karena tidak pernah beban itu menjadi berat. Kristus sendiri bilang kuk itu ringan adanya. Biar kita terima kuk itu dengan ketaatan, kita terima beban pelayanan itu untuk Kristus. Beban itu tidak boleh membuat hidup Kekristenan kita joyless, muram, dan tidak ada sukacita.

Orang sering takut dan tidak suka mendengar khotbah mengenai penderitaan. Kenapa harus bicara penderitaan? Dari Senin sampai Sabtu hidup sudah susah, sekarang kita mau dengar yang enak-enak, yang menghibur dong. Jangan salah mengerti, karena tidak begitu maksud dari perkataan Yesus. Kuk yang Tuhan beri itu ringan adanya, berarti ketika kita mengalami kesusahan hidup, itu tidak akan membuat orang Kristen muram dan tidak ada sukacita. Kita bisa menyaksikan berapa banyak orang yang menderita di dalam Tuhan dan karena nama Tuhan, waktu berjumpa dengan dia, justru engkau yang terhibur olehnya. Dia tanggung penderitaan itu dengan hati yang bersyukur kepada Tuhan, teduh di hadapan Tuhan, tenang dan indah. Yesus yang berjalan di depan kita adalah Yesus yang juga pikul salib dan mati bagi kita. Tetapi kita terima beban pikul salib itu karena Tuhan sudah pikul beban kita itu lebih dulu sehingga waktu kita pikul, kita pikul dengan taat dan dengan sukacita sebab kita ingin membuktikan kepada Tuhan bahwa anugerah yang Tuhan kasih kepada kita tidak pernah kita sia-siakan dalam hidup kita.

Kedua, penderitaan yang dimaksud di sini berarti kita tidak dipanggil untuk dibentuk oleh Mamon dari dunia ini. Lebih baik kehilangan hidup bagi Kristus daripada menyia-nyiakan hidup dalam kesenangan dunia. Sangat sedih sekali mendengar Kekristenan berkembang dan maju karena Prosperity Theology yang menjamur luar biasa. Tetapi hidup daripada pemimpin-pemimpin mereka sungguh tidak menjadi cermin yang baik.

Scott McNaigh menulis artikel, Prosperity Theology yang menjanjikan ikut Yesus lebih kaya, ikut Yesus lebih sukses, ikut Yesus lebih lancar begitu cepat berkembang dan lebih disukai orang? Karena berita mereka menjawab semangat jaman. Karena Prosperity Theology mengatakan kenapa Tuhan dan Mamon harus di-against? Kenapa tidak dikawinkan saja? Maka Prosperity Theology disukai karena pada saat yang sama mereka memanggil nama Allah, tetapi saat yang sama ada Mamon di situ. Dua ini tidak dikontraskan, tetapi dinikahkan.

Gereja dipanggil keluar untuk menjadi saksi bagi dunia ini. Itu sebab Gereja selalu diingatkan oleh Tuhan, jangan menjadi serupa dengan dunia ini. Lebih baik kehilangan hidup demi Kristus daripada menyia-nyiakan hidup dalam kesenangan dunia. Lebih baik sedikit menderita rugi karena Kristus, lebih baik sedikit menderita aniaya karena Kristus, daripada menyia-nyiakan hidup dalam kesenangan dunia ini. Setiap kali kita mengambil keputusan, biar kita selalu pikir lebih dulu apakah di mata dunia nama Tuhan dicela oleh karena keputusan saya? Setiap kali kita deal satu bisnis dengan orang lain, sama-sama untung, tetapi kita selalu harus tanya hal ini, apakah saya deal bisnis dengan dia tidak membuat nama Tuhan dicela? Kalau sampai bisa, tidak apa saya ambil keputusan rugi sedikit demi supaya nama Tuhan tidak dicela oleh dunia. Jangan sampai karena decision usaha kita, decision bisnis kita, decision apapun yang kita ambil dalam hidup ini mempermalukan nama Tuhan. Berapa malunya Gereja kalau sesama majelis berkelahi dan bertengkar saling menipu satu sama lain? Sebelum kita mengambil keputusan seperti itu pernahkah kita berpikir apakah tindakan yang saya ambil itu membuat nama Tuhan dicela di mata orang yang tidak percaya Tuhan? Kalau ya, let me take sacrifice, saya rela berkorban sedikit demi untuk nama Tuhan tidak dicela.

Ada hal sedikit dengan tetangga, mungkin sampahnya tidak beres, mungkin pohonnya tumbuh terlalu ke halaman kita sehingga daunnya mengotori rumah kita, tidak usah menjadi percekcokan. Itu suffering yang kita alami. Karena kita dipanggil untuk tidak boleh dibentuk oleh Mamon dunia ini, tidak di-shape oleh pikiran dunia ini. Dunia tidak akan pernah impressed ketika kita bilang Allah orang Kristen bikin orang Kristen kaya. Dunia justru akan impressed ketika melihat orang Kristen menjalani hidup dedikasi kepada Kristus dan tidak pernah merasa rugi dan merasa sudah berjasa kepada Kristus. Itulah yang akan membuat dunia ini impressed. Itu sacrifice kita demi untuk Kristus, supaya dunia tahu inilah orang Kristen yang menjalani a godly life. Dan apa yang kita kerjakan di dalam dunia ini seolah-olah rugi di mata mereka, bodoh di mata mereka, naif di mata mereka, tidak pernah rugi dan hilang dalam hidup kita. Kita memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang; kita memang tidak mungkin bisa meng-impressed semua orang. Tetapi saya percaya orang kan jauh lebih impressed melihat dedikasi hidup seorang Kristen kepada Tuhan daripada menawarkan ikut Yesus akan menjadi lebih kaya dan lebih sukses dalam hidup ini.

John Bunyan penulis buku “Pilgrim Progress” yang terkenal dalam hidupnya pernah dipenjara selama 12 tahun karena Kristus. Beberapa kali dia ditawarkan untuk dilepaskan dari penjara asal dia berjanji tidak akan berkhotbah lagi, tetapi dia menolak tawaran itu. Bukan karena dia tidak sayang kepada keluarganya, bukan dia tidak sayang kepada isterinya dan anak-anaknya yang salah satunya buta. Dia mengatakan, setiap kali aku harus berpisah dengan keluargaku itu rasanya seperti dagingku sedikit demi sedikit dicabik dari tulangku. Tetapi dia terus bertahan, dia terima itu karena Kristus. Anak isterinya tahu itu adalah penderitaan yang harus mereka tanggung karena Kristus lebih agung dan lebih mulia.

Musafir berarti kita cuma pengelana, kita bukan pemilik dari dunia ini. Kita tidak akan bisa membawa semua dari dunia ini, kita tidak akan pegang semuanya. Kita hanya musafir, kita pakai seperlunya demi untuk perjalanan ini. Kadang-kadang kita perlu simpan karena ada waktunya kita lapar; kadang-kadang kita perlu beri pada waktu di tengah jalan bertemu dengan orang yang kurang; kadang-kadang kita perlu bawa karena kita mungkin kita perlu berteduh dari beratnya dunia ini. Tetapi tetap spiritnya kita adalah pilgrim di dalam dunia ini. Tetapi menjadi pilgrim tidak boleh statis, kita harus progress, maju terus.

Keempat, panggilan orang Kristen adalah satu panggilan “one mile extra.” Barangsiapa yang sudah merampas bajumu, berikan juga jubahmu. Barangsiapa menampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu. Barangsiapa memaksamu berjalan satu mil karena Kristus, jalanlah dengan dia dua mil. Sama seperti Bapamu memberi hujan kepada orang jahat dan orang baik, perbuatlah seperti itu. Kalau engkau hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepadamu, apa gunanya? Orang jahat juga seperti itu. Kalau engkau hanya membalas kepada orang yang memberi sesuatu kepadamu, apa gunanya? Orang yang tidak percaya Tuhan juga melakukan hal yang sama. Tetapi biarlah engkau sempurna seperti Bapamu yang di surga (Matius 5:38-48). Itulah godly life. Karena kita memang dipanggil Tuhan untuk hidup satu mil ekstra.

Apa saja satu mil ekstra yang perlu engkau tambahkan di dalam hidup ini? Biar kita pulang dan tanyakan itu dalam hidup kita masing-masing. Tujuan hidup kita sebagai orang Kristen adalah biar melalui hidup kita orang itu mendapatkan anugerah keselamatan Tuhan. Biar melalui hidup kita dan pelayanan kita orang bisa berbahagia melihat Tuhan. Maka sebagai anak-anak Tuhan saya percaya satu mil ekstra yang perlu kita tambahkan dalam hidup kita adalah punya forgiving spirit di dalam hidup ini. Sama seperti Tuhan yang selalu memberi pengampunan, kita tidak pernah mengabaikan forgiving spirit seperti itu. Orang lain mungkin tidak graceful kepadamu, orang lain mungkin tidak mau berbaikan denganmu, itu adalah urusan dia. Tetapi kita dipanggil oleh Tuhan memiliki hati yang mencintai dan mengasihi orang. Godly life berarti gracefully menerima pembentukan Tuhan agar hidup kita yang bengkok sedikit diluruskan. Godly life juga berarti gracefully menerima benturan orang lain yang bikin hidup kita yang lurus jadi agak sedikit bengkok. Dari situlah saya percaya firman ini berlaku bagi semua kita: everyone who want to live a godly life will face suffering. Pertama, kita ingat hidup Kristen itu costly. Kedua, hidup Kristen yang godliness itu berarti kita beresiko menerima aniaya dan segala hal yang ada di dalam perjalanan salib bersama dengan Tuhan, tetapi the path of the cross itu bukanlah satu hidup yang joyless, muram dan tidak ada sukacita. Ketiga, dunia tidak akan pernah impressed kepada hidup orang Kristen yang menawarkan jalan yang gampang dan mudah. Justru mereka impressed melihat dedikasi dan sacrifice orang Kristen. Keempat, godly life berarti memang our Christian life is one mile extra life. Biar orang melihat sungguh kita adalah anak-anak Tuhan yang mencintai dan menghormati Bapa yang di surga, karena kita memiliki tanda yang sejati sebagai anak-anak Tuhan yang mau menjalani hidup yang saleh di hadapan Tuhan. Biar disiplin dari Tuhan membentuk hidup kita melalui pengorbanan, kesulitan, air mata dan suffering yang kita terima dan itu semua menjadi satu sukacita dan kesaksian hidup kita, di dalamnya orang boleh memuliakan Tuhan.(kz)