35. God is not Going with Us

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 30/3/2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (35)

Nats: Keluaran 33:1-11

 

Apa yang menjadi tujuan utama dari peristiwa exodus keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir? Tidak lain dan tidak bukan supaya mereka pergi menyembah kepada Tuhan dan tahu siapa Tuhan yang sejati itu. Sebelum bangsa ini mengenal siapa Dia, sebelum Tuhan mengeluarkan bangsa ini dari Mesir, Tuhan terlebih dahulu sudah menyebut umat Israel ini dengan sebutan “My people.” Kalimat itu diucapkan Tuhan kepada Musa dalam Keluaran 3:7, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir…” Tuhan membawa bangsa ini keluar dari lumpur perbudakan, keluar dari satu hidup yang tidak ada pengharapan, ditarik sedikit demi sedikit dari perjalanan itu setelah lepas, bebas, dibersihkan, disucikan, dicuci bersih melalui simbol peristiwa mereka menyeberang laut teberau, menjadi umat Allah. Dibawa di kaki gunung Horeb, di situ Tuhan memperkenalkan diriNya melalui segala kemuliaan dari hukumNya, dan mereka berdiri dan berbakti di hadapan Tuhan menyembah serta mengadakan perjanjian. Maka sampai di akhir rangkaian peristiwa itu ditutup dengan satu hal yang amat indah, kalimat yang paling intim dan paling dalam keluar dari Tuhan, “I will stay among My people.” Tuhan berfirman, buatlah tempat yang kudus bagiKu sebab Aku akan diam di tengah-tengahmu (Keluaran 25:8).

Itulah peristiwa exodus, yang tidak hanya kita mengerti sebagai peristiwa Tuhan membawa umat ini keluar dari perbudakan Mesir dan membebaskan mereka, tetapi sebagai peristiwa Tuhan ingin memperkenalkan diriNya lebih dalam, lebih intim, di dalam relasi dengan umat yang ditebusNya. Tidak ada allah yang seperti itu, Allah yang membawa bangsanya dekat, makin dekat, dan Allah ingin mereka mengenal Dia makin dalam dan makin dekat. Demikian juga dengan panggilan Tuhan Allah kepada engkau dan saya, Dia ingin engkau mengenal Dia seperti demikian. Bukan saja engkau melihat dan mengalami keselamatan yang terjadi di dalam diri kita, bukan saja memahami Dia memelihara dan memberkatimu, tetapi Allah ingin memiliki hubungan relasi yang lebih dekat dan lebih intim dengan engkau dan saya, dan Dia juga ingin engkau mengenal Dia lebih dalam dan lebih dekat. Itulah kalimat yang diucapkan oleh rasul Paulus dalam “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya…” (Filipi 3:10).

Tetapi sampai kepada Keluaran 31, setelah Tuhan menyuruh mereka membuat kemah suci supaya Ia boleh tinggal di tengah-tengah mereka, tabernakel, Allah hadir di situ dengan simbolik kemah suci dibuat berlokasi di tengah-tengah perkemahan mereka, muncul satu peristiwa di Keluaran 32, peristiwa umat Israel menyembah patung lembu emas menjadi peristiwa kegelapan spiritual yang begitu dalam, karena di situ adalah satu turning point titik dimana bangsa ini jatuh ke jurang yang paling dalam. Itulah kerusakan hidup kerohanian yang dahsyat dari umat Tuhan.

Ada konsekuensi dari kesalahan itu, dan pada hari itu Tuhan melenyapkan orang-orang yang telah melihat kemuliaan Tuhan, yang meskipun telah ditegur oleh Tuhan dan telah dinyatakan kesalahannya, namun tetap tidak mau bertobat dan tidak mau menyesalinya. Suku Lewi menyatakan kesetiaan mereka dan membunuh orang-orang yang notabene adalah teman dan saudara mereka sendiri. Satu peristiwa yang sangat menyedihkan. Peristiwa itu mengingatkan kepada kita bagaimana ketaatan kesetiaan kepada Tuhan harus melebihi segala apapun yang dekat dengan kita. Selesai semua. Mereka menangisi dosa mereka. Lalu apakah mereka tetap tinggal di situ? Tidak. Allah adalah Allah yang berjanji, Allah yang tidak akan pernah berhenti di tengah jalan dan lupa akan janjiNya. Allah yang sudah memimpin dan pasti akan membawa mereka kepada perjalanan menuju ke tanah perjanjian itu.

Life goes on. Life should move on, itu hidup kita. Ada set back yang terjadi di Keluaran 32, dan di Keluaran 33 datanglah firman Tuhan kepada umat Tuhan, “Pergilah, berjalanlah dari sini, ke tanah perjanjian yang Aku sudah janjikan” (ayat 1). Tuhan kita adalah Allah yang seperti itu, Allah yang tidak berhenti terus memproses kita untuk menuju kepada tujuan yang Ia inginkan bagi kita. Banyak hal di dalam hidup kita mungkin kita berjalan, berhenti dan jatuh, waktu kita jatuh mungkin kejatuhan itu adalah kejatuhan yang berat dan dahsyat, kita mungkin tidak bisa berdiri dan melangkah lagi, karena kesulitan dan kegagalan  yang terjadi di dalam hidup kita, bisa disebabkan oleh tekanan kesulitan yang besar oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, tetapi bisa jadi itu juga adalah buah kebodohan dan mistake yang kita buat di dalam keputusan hidup kita. Tetapi Allah kita adalah Allah yang tidak pernah membiarkan umatNya berhenti di situ. Bangkit, maju dan berjalan lagi.

Namun di dalam bagian ini kita menemukan ada distance yang terjadi akibat dosa mereka dan bagaimana pemulihan relasi itu terjadi. Ada perbedaan yang terjadi sebelum peristiwa gelap ini, Tuhan menyebut mereka “My people,” tetapi di sini berubah menjadi “this people.” Yang kedua, dalam Keluaran 33:2, “Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu…” dalam Keluaran 23:23 Tuhan berkata, “Aku akan mengutus malaikatKu…” Tuhan yang berjanji tetap menggenapkan janjiNya. Tuhan yang berjanji untuk memimpin hidupmu adalah Tuhan yang tetap mengutus malaikatNya menjaga dan memelihara engkau. Tuhan adalah Tuhan yang pemurah dan baik dan agung dan indah. Yesus Kristus berkata, “…Bapamu yang di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45). Allah adalah Allah yang tetap menggenapkan janjiNya, dan Ia berkata kepada bangsa Israel, Aku akan berikan tanah perjanjian itu, karena Ia sudah bersumpah, sudah berjanji kepada nenek moyang mereka. Allah tidak akan berubah, kuasaNya tidak kurang daripada itu semua, Allah yang sama itu juga berjanji akan melindungi engkau dan saya. Ia akan pimpin, Ia akan lindungi dan Ia akan berkati.

Tetapi kalimat yang terakhir adalah bom yang dijatuhkan Tuhan kepada mereka, “Namun Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu…” (Keluaran 33:3b). Ia tetap memberi tanah perjanjian itu? Ya. Ia tetap mengutus malaikat menyertai mereka? Ya. Tetap mereka akan sampai kepada tujuan menikmati tanah yang berlimpah susu dan madu? Ya. Tetapi bedanya hanya satu, dan itulah bom yang Tuhan ledakkan di tengah-tengah umat Israel: Aku tidak akan tinggal di tengah-tengahmu lagi. God is not going with us! Mendengar kalimat ancaman yang mengerikan itu membuat hati setiap orang distressed, Alkitab Bahasa Indonesia mengatakan, “…berkabunglah mereka” (ayat 4). Itu adalah satu teriakan lolongan kesedihan yang dahsyat luar biasa, oleh karena mereka tahu mereka kehilangan hal yang paling indah dalam hidup mereka. Apakah gunanya kita menikmati setiap berkat Tuhan, namun kita kehilangan Sang Pemberi berkat? Apa gunanya mereka melihat ada malaikat Tuhan yang menjaga memelihara tetapi Allah sendiri, Sumber pemeliharaan kekuatan dan Sumber segala anugerah dan berkat itu tidak menyertai mereka hari itu dan seterusnya?

Allah tetap akan memberkati banyak kehidupan anak-anak Tuhan, termasuk engkau dan saya, tetapi kisah ini mengingatkan kita sekali lagi, kita tidak mau berkat Tuhan, kita lebih mau Sang Pemberi berkat itu di dalam hidup kita. Kita tidak mau seorang malaikat yang menjaga dan memelihara kita, kita mau Tuhan itu sendiri yang datang menjaga dan memelihara hidup kita. Karena kita ingin memiliki hubungan yang lebih dalam dan lebih dekat dan mengenal siapa Tuhan lebih daripada apa yang Dia beri. Kita ingin  mencintai mengasihi Tuhan terlepas daripada bagaimana keadaan kondisi hidup kita. Itulah sebabnyakita memahami kalimat dari pemazmur, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku adalah Tuhan selama-lamanya” (Mazmur 73:26). Juga Habakuk berkata demikian, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, Allah Tuhanku itu kekuatanku…” (Habakuk 3:17-19). Allah hadir lebih penting daripada segala pemberianNya. Kita telah melihat “a true forgiveness” dari Tuhan dalam bagian ini begitu luar biasa. Allah mengampuni dosa-dosa kita, seperti kata pemazmur, “sejauh timur dari barat demikian dijauhkanNya segala pelanggaran kita” (Mazmur 103:12). Musa berdoa, berpuasa dan berseru kepada Tuhan 40 hari 40 malam, dan Alkitab memakai bahasa manusia, “…dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatNya” (Keluaran 32:14). Itu adalah the true forgiveness, Allah mengampuni umatNya yang bersalah seperti itu. Keluaran 33 mengajarkan kepada kita apa itu “a true repentance” di hadapan Tuhan.

What is a true repentance? Apa itu pertobatan yang sejati? Apa itu perubahan totalitas dan transformasi hidup yang sejati? Keluaran 33 membicarakan kepada kita bagaimana pemulihan hubungan dengan Tuhan terjadi tetapi sekaligus kita bisa melihat indahnya satu bukti yang nyata dari kehidupan pertobatan yang sejati. Pertobatan yang sejati bukan saja sikap hati yang berbalik kepada Allah dan membenci dosa yang ada, tetapi terlihat dari kelakuan yang kelihatan dengan sungguh. Pertobatan sejati itu dinyatakan dengan kelakuan mereka membuang semua perhiasan, anting-anting emas, kalung emas, semua yang mereka miliki, mereka tidak akan pakai lagi semua itu di hadapan Tuhan. Pertobatan sejati itu akhirnya merubah satu budaya, pertobatan sejati merubah kebiasaan, pertobatan sejati merubah satu culture yang dicatat di Keluaran 33:6 “Demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb.” Maka dengan tidak pernah lagi memakai perhiasan-perhiasan di tubuh mereka, menanggalkan semua kemewahan mereka, hari itu semua orang sama, hari itu tidak ketahuan mana orang kaya mana orang miskin, hari itu di hadapan Tuhan mereka sama.

Pertobatan sejati bangsa Israel sekaligus mengingatkan kepada kita bagaimana sikap kita terhadap perhiasan yang bergelantungan di dalam hidup kita. Pertobatan yang sejati akan menyebabkan kita menyadari tidak boleh ada hal-hal yang lebih berarti dan lebih berharga yang bergelantung di dalam hidup kita lebih daripada Tuhan. Bagaimana kita memiliki satu perspektif yang benar mengenai uang dan harta, di situ akan membuat kita memahami bagaimana pertobatan yang sejati itu memberikan perubahan dalam hidup kita. Dia bukan saja menyebabkan perubahan di dalam tingkah laku agama kita, kita datang berbaktimencintai dan mengasihi Tuhan, dia juga mengubah relasi kita dengan keluarga kita, dia juga merubah kebiasaan kita di dalam kebudayaan, dia juga merubah sikap kita terhadap semua benda materi yang ada di dalam hidup ini. Pada waktu pertobatan terjadi di dalam diri Zakheus, Alkitab mencatat Zakheus dengan hati yang sukacita menerima Tuhan Yesus di dalam rumahnya dan berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin…” (Lukas 19:8).

Pertobatan yang sejati dari bangsa Israel adalah satu sikap membawa hati mereka kepada Tuhan. Apa yang kita miliki itu datangnya dari Tuhan. Mendapatkan Tuhan satu-satunya yang kita mau di dalam hidup ini, itu sudah cukup karena dari dalamnya akan mengalir berkat, kasih, pengampunan, penebusan, berkat pertumbuhan di dalam pengudusan, berkat yang kita dapat sebagai anak-anak Allah lebih daripada segalanya. Kita yang membaca kisah selanjutnya tahu akhirnya Tuhan kembali tinggal bersama-sama mereka dan Kemah Suci kemudian dibangun, tetapi berbeda dengan sebelumnya sekarang terjadi perubahan sikap hati yang begitu indah, karena kita akan melihat begitu Kemah Suci akan dibangun dalam Keluaran 35-36 mereka, “setiap orang yang tergerak hatinya” memberi dan membawa seluruh persembahan itu kepada Tuhan berlimpah-limpah. Bukan untuk menyuap Tuhan, bukan supaya melalui pemberian yang banyak mereka mendapatkan berkat dan balasan Tuhan. Tetapi karena dalam Keluaran 33 ini sudah terjadi satu transformasi pertobatan. Sekarang hati mereka mengerti yang mereka mau hanya satu: Tuhan tinggal beserta dan berdiam di tengah-tengah mereka. Tanah perjanjian berlimpah susu dan madu, bukan itu yang menjadi goal di dalam hidup kita. Malaikat yang menyertai sepanjang perjalanan tidak menjadikan kita cukup. Kita mau Tuhan datang dan hadir di tengah-tengah kita. Itu kerinduan dan keinginan kita.

Dalam seminar kemarin Rev. Timothy Keller mengatakan, kita tahu apa itu Injil, kita dengar Injil, kita paham isi Injil. Tetapi dia mengingatkan, Injil itu bukan advice, Injil itu adalah News. Injil bukan “nasehat untuk mengerjakan sesuatu supaya;” Injil itu adalah berita. Berita apa? Berita apa yang sudah Tuhan lakukan bagi kita. Grace harus menyentuh hati setiap kita dan menjadikan kita tahu apapun yang kita dapat dan kita miliki senantiasa selalu ingatkan kita tidak layak menerimanya. Identitas orang Kristen haruslah kepada Kristus. Pada waktu kita teropong lebih dalam lagi ke dalam identitas kita, Kristus yang seperti apa? Kristus yang sudah dihina, diolok, diludahi, disiksa dan mati di atas kayu salib. Kalau kita mencari identitas diri kita kepada kesuksesan dan pencapaian, kita keliru. Tetapi sekaligus pada waktu kita dihina orang, pada waktu kita mengalami kesulitan dan gagal, kita merasa tidak punya arti dan nilai, kita juga keliru. Sebab yang ada di dalam identitas diri kita adalah Kristus yang mati terhina dipaku di kayu salib.

Hari itu bangsa Israel mengalami pertobatan yang sejati dan perubahan hidup, tetapi sekaligus di bagian ini memperlihatkan kepada kita agung dan indahnya persiapan Tuhan pertobatan sejati itu hanya bisa dimungkinkan karena ada seorang mediator yang berdoa bagi mereka; ada seorang mediator yang sudah dihina dan dilecehkan, yang sudah diperlakukan dengan tidak benar, namun tetap dia menjalankan satu tugas, berdoa dan menjadi pengantara di antara Allah dan manusia, diwakilkan oleh Musa di sini. Keluaran 33:7-10, sebelum Kemah Suci yang megah dan agung itu didirikan, Musa membuat satu kemah pertemuan yang kecil. Bedanya kemah pertemuan ini tidak boleh ada di tengah-tengah bangsa Israel karena hari itu adalah hari dimana mereka harus tahu tanah ini adalah tanah yang sudah penuh dengan kekotoran dan dosa mereka. Musa membuat kemah pertemuan itu jauh-jauh dan ke situ Musa datang bertemu Tuhan. Bangsa Israel melihat dari jauh bagaimana Musa masuk ke dalam kemah pertemuan itu dan Tuhan datang kepada kemah itu, maka mereka jatuh tersungkur dan bersujud sembah kepada Tuhan. Alkitab mencatat pertemuan Tuhan dengan Musa itu indah luar biasa. Di situ Tuhan berbicara dengan Musa berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya (Keluaran 33:11).

Ini adalah satu perbandingan yang indah luar biasa. Yesus pun menyebut orang-orang yang ditebus oleh kematianNya dengan kata yang sama. Dalam Yohanes 15:13 Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya…” Di sini Yesus menyebut “sahabat” dalam bentuk plural, berbeda dengan Keluaran 33:11 “teman” berbentuk singular. Ayat ini membicarakan satu konsep yang revolusioner dan luar biasa dalam keintiman yang dialami oleh Musa dengan Tuhan Allah, dan juga yang dialami oleh engkau dan saya, dimana kemah suci Allah ada di dalam hatimu dan hidupmu, ketika Roh Kudus tinggal di dalam diri engkau dan saya. Kita tidak lagi jauh dariNya dan tidak lagi memiliki halangan untuk mempunyai akses datang berelasi dengan Dia kapan saja, dimana saja, pada waktu kita berdiri di hadapanNya, dan menjadikan bait Allah ini dimana Roh Kudus tinggal sebagai moment kita datang bertemu dengan Tuhan muka dengan muka menyatakan satu kalimat keintiman dan kedalaman.

Sudahkah engkau hari ini betul-betul memiliki kerinduan mengenal lebih dalam, lebih indah, Sahabatmu yang sudah mati di kayu salib menebus dosamu? Dia menyebut kita sahabatNya, jauh sebelum kita bersahabat dengan Dia. Dia menyebut kita sahabatNya, saat kita masih menjadi seteru dan musuh Allah. Kita mendengar Injil, tetapi apakah Injil itu telah membawa kita lebih dekat, lebih intim, menjadi fokus dan sentral dari hidup kita?

Rev. Tim Keller kemarin mengatakan, “Let the Gospel screw in your heart.” Kalimat itu indah. Setiap hari kita berelasi dengan firman, setiap hari kita bersekutu denganNya, itu digambarkan seperti screw yang tertanam makin lama makin dalam, kita digest firmanNya makin dalam, supaya lebih intim dan lebih dekat. Jangan takut kepada Tuhan, sebab di dalam bagian ini kita tahu Ia adalah Tuhan yang ingin berelasi dan dekat dengan kita. Kita tahu kita kurang, kita kecil, kita lemah, penuh dengan kelemahan dan dosa. Itu sebab setiap hari kita harus menyatakan satu kesungguhan dan pertobatan yang sejati. Pertobatan yang bukan hanya terjadi dalam hati saja, bukan hanya sikap benci terhadap dosa dan membuang semua apa yang menjadi berhala di dalam hidup kita, tetapi yang muncul juga melalui perubahan yang dalam dari hidup rohani kita.

Kalau ada perhiasan yang begitu berharga dan berarti masih bergelantung dalam hidup kita, mari kita get rid of it, buang dia. Paulus dalam surat kepada jemaat Galatia berkata, “Hidup dalam roh itu berarti membuang kedagingan kita.” Apa itu kedagingan? Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, selfishness, kedengkian, kemabukan, dan seterusnya dan seterusnya (Galatia 5:19-21). Mari kita hidup terus bertumbuh menjadi anak Tuhan yang berkata, Tuhan, aku ingin mengenalMu lebih dalam, dan pengenalan itu juga merubah hidupku lebih serupa dengan Engkau.(kz)