17. Glory to God Alone

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 23/6/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (17)

Nats: Keluaran 14:1-15

 

Di dalam perjalanan hidup seseorang yang sukses dan lancar dan tidak mengalami kesulitan, kita tidak bisa melihat “the best and the worst” dari orang itu. Di balik pakaian mewah yang dikenakannya dan generosity yang dilakukannya memberi kepada orang lain, secara penampakan luar dia bisa memperlihatkan betapa baik dan sempurnanya hidupnya. Tetapi pada waktu orang itu mengalami tantangan dan kesulitan yang begitu berat dan besar, pada waktu dia harus melewati satu fase yang paling susah dalam hidupnya, di situlah kita bisa melihat “the true colour” siapa orang itu sesungguhnya. Kitab Keluaran menggambarkan itulah natur manusia yang tidak berubah, jaman dulu maupun jaman sekarang, karakter orang yang berdosa demikian memang adanya. Kalimat Firaun kepada Musa memang singkat saja, tetapi jelas membukakan identitas sesungguhnya dari orang ini. Walaupun kepalanya bermahkota emas dan mengenakan baju yang berkilauan dengan segala kemuliaan, tetapi di dalam diri sedalam-dalamnya dia hanyalah seorang yang memikirkan diri sendiri dan bagaimana dia dengan segala kuasanya mengeksploitasi orang lain dengan penindasan dan perbudakan, itulah Firaun. Sebelum Musa diusir, Firaun mengeluarkan kalimat yang saya sebut “the sinner’s prayer,” satu doa dari orang berdosa. Firaun berkata kepada Musa, “Bawalah juga kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu, tetapi pergilah! Dan pohonkanlah juga berkat bagiku” (Keluaran 12:32).

Bagaimana bisa? Bukankah sepatutnya dia berkata, “Maafkan kesalahanku, ampunilah dosaku, ini semua terjadi karena kesalahanku. Aku sudah menindas orang Israel dengan tanpa belas kasihan. Aku telah membunuh begitu banyak orang dan merampas hak orang-orang yang tidak bersalah ini. Sekarang aku melepaskan engkau pergi.” Namun Firaun tidak mengeluarkan kalimat itu. Yang dia keluarkan adalah, “Mintakan berkat untuk aku.” Jangan harap doa seperti ini Tuhan akan jawab. Jikalau orang Kristen juga berdoa dengan mentalitas kafir seperti ini, jangan harap Tuhan akan menjawabnya. Meskipun doa itu dipanjatkan kepada Tuhan, tetapi hanya bicara soal bagaimana aku mendapat berkat. Itulah sebabnya tidak heran pada waktu orang itu ditimpa kesulitan dan sakit-penyakit, yang keluar dari mulutnya, “Kenapa aku sakit? Bukankah tidak sepatutnya aku sakit?” Kenapa kita tidak pernah balik cara berpikir kita, pada waktu kita sehat dan lancar, pernahkah kita bertanya, kenapa bisa saya sehat? Karena kita tahu di dalam tubuh kita masing-masing ada potensi sel kanker itu cepat atau lambat muncul. Kalau kita buka bagian dalam pencernaan kita, kita bisa kaget karena jumlah bakteri yang ada di situ lebih banyak daripada jumlah manusia yang ada di dunia ini. Puji Tuhan, kalau sampai hari ini dia jadi teman kita yang baik, yang bermanfaat dan menolong kita. Tetapi pernahkah kita berpikir someday they will turn against us? Biar dalam seluruh doa yang kita naikkan kepada Tuhan, semata-mata ucapan syukur dan kagum, di dalam kesehatan dan kelancaran yang kita terima, itu adalah anugerah Tuhan yang memelihara aku. Tetapi di dalam sakit dan kesulitan sekalipun, kita tetap menyatakan syukur karena kita tahu kita tidak berhak menuntut Tuhan selalu memberi kita kesehatan dan kelancaran sebagai hak yang harus kita dapat dariNya.

“To glorify God and to enjoy Him forever,” hidup yang memuliakan Tuhan dan berkenan kepada itulah yang harus selalu menjadi keinginan dan kerinduan kita, yang menjadi tujuan hidup kita. Dan di dalam perjalanan menuju ke sana, Tuhan akan memperlengkapi kita dengan tools yang kita perlukan untuk memuliakan Dia. Tuhan akan mencukupkan segala kebutuhan kita, termasuk segala berkat dan karunia yang Dia beri untuk supaya kita bisa mencintai dan mengasihi Tuhan lebih maksimal dan lebih baik lagi, dengan tujuan akhir semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.

Pada waktu Firaun minta kepada Musa supaya berdoa bagi dia, supaya Tuhan memberkati dia, dari situ kita tahu dia tidak berani directly datang kepada Tuhan dan bicara sama Tuhan. Sebab pada waktu dia datang dan berdiri di hadapan Tuhan, saya percaya bukan doa seperti itu yang akan keluar dari mulutnya. Firaun tidak pernah melihat setiap tulah yang datang itu karena kesalahan dia. Firaun tidak pernah melihat bahwa setiap kesulitan, bahkan sampai matinya anak sulung sebagai tulah hukuman yang terakhir itu sebagai konsekuensi dari hidupnya yang mengeraskan hati dan tidak mau tunduk diri kepada Allah yang menciptakan dia. Dia hanya pikir yang bisa dia persalahkan adalah orang lain; yang bisa dia persalahkan adalah situasi dan keadaan lingkungannya. Dia tidak pernah merubah hati, tidak mau merubah prinsip, tidak mau merubah diri, tidak mau bertobat dan menerima semua yang terjadi sebagai konsekuensi perbuatannya.

Tidak heran, itulah cara manusia berdosa datang kepada allahnya. Waktu dia bersembah sujud kepada yang dipanggilnya sebagai allah dan allah itu tidak memberinya apa yang dia minta, kelancaran, kesuksesan, kesehatan, berkat, dsb, saya percaya yang dilakukannya bukan bertobat dan merendahkan diri, tetapi ganti tuhan saja. Janganlah kita juga kita sebagai orang Kristen, waktu kita mengajak orang untuk percaya dan berbakti kepada Tuhan kita Yesus Kristus, dengan mengatakan, “Ayo, ikut Tuhan Yesus saja, supaya hidupmu lancar, sukses dan baik.” Jangan kita terjebak memperkenalkan Tuhan seperti itu. Jangan kita juga hanya mencari berkat dan terus saja berkat dari Tuhan. Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya titip anak kita, “Mama tidak ke gereja hari ini, titip mintakan berkat dari Tuhan buat mama ya…” Pendeta juga sering diundang datang ke rumah untuk mendoakan dan menyampaikan berkat Tuhan seperti salonpas yang tokcer seperti itu. Kita terus mengutip Alkitab dan memberi ayat-ayat yang menjanjikan Tuhan memberi berkat dan lancar dan sukses bagi hidupmu. Jangan biarkan spirit seperti itu masuk dan merasuk mempengaruhi setiap cara kita datang dan beribadah kepada Tuhan.

“Aku akan menyatakan kemuliaanKu sehingga orang Mesir mengetahui Akulah TUHAN” (Keluaran 14:4). Tuhan berkata bahwa Tuhan melakukan itu semua demi untuk kemuliaan Tuhan. Kita kaget mendengar kalimat seperti ini keluar dari mulut Tuhan, bukan? Kita kaget, karena selama 430 tahun bangsa Israel mengalami penderitaan, kesulitan, perbudakan yang luar biasa berat, mereka mungkin sudah tidak lagi bertanya ‘kenapa semua ini terjadi kepada kami?’ Kita mungkin tidak bisa mengerti dan memang Tuhan tidak memberi jawaban tuntas akan pertanyaan seperti itu. Shock terjadi, apalagi kalau itu datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Shock terjadi, waktu dokter bilang kita terkena penyakit kanker stadium akhir. Shock terjadi, waktu sakit, kebangkrutan, kegagalan datang tiba-tiba kepada kita. Bisakah kita melihat di situ, bahwa semua yang terjadi adalah demi kemuliaan Tuhan? Sulit untuk kita bisa melihat seperti itu, selama kita berpikir bahwa hidup yang lancar, sukses dan sehat adalah hak yang sepatutnya aku dapatkan? Itulah sebabnya biar hati kita terbuka dengan perspektif ini. Pada waktu kita mengalami disiplin dan penderitaan sebagai didikan Tuhan, biar kita mengoreksi diri, kita berlutut di hadapan Tuhan dan berbalik kepada Tuhan. Jangan kita menjadi seperti Firaun yang justru memperalat orang dan memperlakukan dengan bengis orang yang berada di bawah kuasanya, tetapi di saat yang sama tetap masih ingin berkat Tuhan bagi hidupnya.

Yang kedua, Allah telah menggoyangkan seluruh sendi-sendi dan fondasi kehidupan yang menjadi sandaran Firaun dan orang Mesir; Allah telah menggoncangkan seluruh kepercayaan mereka kepada illah-illah orang Mesir dan menyatakan semua illah itu bukan Tuhan, sekaligus Tuhan meruntuhkan sendi-sendi perekonomian Mesir yang makmur. Jelai, gandum dan seluruh panen dalam sekejap hancur oleh hujan es, dan sisanya dilahap habis oleh hama belalang. Seluruh tulah itu datang menggoyangkan masa depan Mesir ketika semua anak sulung mati binasa. Hari itu tidak ada lagi penerus tahta. Biar semua itu membawa kita kepada satu perenungan yang dalam, adakah saya sudah menata hidupku dan hidup keluargaku dengan fondasi yang benar? Mungkinkah sesungguhnya aku tidak menata hidupku di atas fondasi yang solid dan kuat adanya?

Tetapi yang terjadi adalah Firaun ingin menyelesaikan satu hal lagi yang terakhir karena dia pikir dia masih punya segala sesuatu. Maka Keluaran 14:5 Firaun bilang, “Apa yang sudah kita perbuat ini? Mengapa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?” Dia tidak pikir itu sebagai perbuatan salah yang dia harus lepas dan memperbaiki hidupnya, tetapi dia melihat hal itu sebagai sesuatu yang tidak boleh terjadi. Maka di tengah-tengah sendi sudah goyah, orang itu justru berdiri di atasnya dan masih mempertahankan arogansinya dan di situlah dengan habis-habisan, dengan sisa-sisa terakhir dari hal yang masih ada padanya, dibawa semua itu terkubur di dasar laut.

Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir sekaligus juga memperlihatkan kepada kita betapa hidup dan hati manusia begitu gampang berubah. Hari ini bisa keluar sebagai ‘hero’ besok keluar sebagai ‘zero.’ Hari ini bisa gagah perkasa, besok lari bagaikan tikus terbirit-birit. Keluaran 14:8 “Firaun mengejar orang Israel, tetapi orang Israel ‘went out boldness’…” Bangsa Israel keluar dengan boldness, dengan gagah perkasa, dengan tahu ini adalah campur tangan dari Tuhan yang perkasa. Tetapi hanya dua ayat berikutnya, apa yang terjadi? Keluaran 14:10 “Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh… lalu sangat ketakutanlah mereka…” Mari kita perbandingkan kisah keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir ini seperti ketika kita menjadi anak Tuhan yang baru saja keluar dari perbudakan dosa. Hari itu kita ikut Tuhan dan dengan sukacita dan komitmen kita katakan kepadaNya, “Tuhan, Engkau yang paling indah dan paling utama. Tidak ada yang lebih besar dan lebih penting daripada Engkau di dalam hidupku. Aku tinggalkan semua illah-illahku, aku tidak mau lagi bersandar kepada kesuksesanku, aku tidak mau lagi bersandar kepada uangku, aku tidak mau lagi bersandar kepada kehebatan diriku. Aku hanya bersandar kepadaMu…” Itulah doa dan keinginan kita waktu kita bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa semua yang kita tinggalkan itu tidak tinggal diam? Pernahkah kita berpikir bahwa semua itu akan dengan aktif terus berusaha membuat kita kembali kepada hidup yang lama? Kita akan diperhadapkan kembali bagaimana komitmen hati kita itu tetap konsisten dan tidak berubah. Tidak ada henti-hentinya peperangan rohani akan terjadi di dalam hidup kita. Peperangan rohani itu akan selalu datang pada waktu kita diperhadapkan di dalam situasi yang lancar kita menjadi terlena dan tidak sadar; atau sebaliknya pada waktu kita ikut Tuhan bukan pohon berkat yang datang melainkan semak duri dan orak belukar yang tajam dan himpitan menyesakkan kita karena kita menjadi anak Tuhan. Dari situlah kita tahu kita akan terus-menerus menghadapi peperangan rohani yang tidak mudah; peperangan rohani yang menuntut apakah kita boldness terus menatap kepada Tuhan dan berjalan di dalam kebenaranNya dengan penuh komitmen.

Di tengah situasi itu bagaimana Tuhan meminta orang Israel itu berespons dengan benar? Pertama, mari kita lihat jalan dan cara Tuhan, jalan itu selalu adalah jalan yang terbaik bagi kita, walaupun jalan itu mungkin membingungkan kita. Pertama Tuhan bilang, silakan berputar (Keluaran 13:18) tetapi kemudian Tuhan menyuruh mereka untuk ‘u-turn,’ balik kembali (Keluaran 14:2). Saya percaya, kita akan bingung kalau menghadapi situasi hidup yang seperti itu. Adakalanya kita betul-betul bingung dan tidak mengerti pimpinan Tuhan, kalau ada jalan yang lurus, jalan “via Maris” itu, yang cuma dua minggu bisa langsung sampai, tetapi Tuhan pilih kita untuk berjalan berputar, lalu balik lagi, akhirnya sampai 40 tahun tidak sampai-sampai, bagaimana? Tetapi yang harus kita percaya adalah Tuhan pasti pimpin dengan indah dan baik bagi setiap kita yang taat. Karena sekali lagi, ingatkan baik-baik apa yang Tuhan katakan, pada waktu Ia melakukan itu, termasuk ada tekanan yang keras, ada penderitaan yang dibuat oleh Firaun, semua itu tidak lain untuk kemuliaan Tuhan terjadi. Kemuliaan Tuhan berarti Ia akan memuliakan diriNya sendiri sebagai Allah seturut dengan setiap sifat-sifatNya tanpa pandang bulu adanya.

Kadang-kadang umat Tuhan berteriak dan menangis ketika injustice yang terjadi kepada mereka tidak ada pembalasan yang fair; ketika anak-anak yatim piatu, orang miskin, budak yang tidak berdaya diperalat, diekspolitasi, diperlakukan dengan keji dan bengis oleh penguasa yang menghancurkan hidup orang lain; human trafickking dan prostitusi anak-anak di bawah umur yang sangat mengerikan; pengambilan dengan paksa dan penculikan anak-anak miskin untuk kemudian organ-organ tubuhnya diambil dan diperjual-belikan. Siapa yang bisa menegakkan keadilan bagi orang-orang seperti ini? Manusia yang mengalami ketidak-adilan akhirnya mungkin bisa lupa dan terbiasa ‘get used to’ karena itulah hidup. Tetapi kemuliaan Allah tidak akan membiarkan Tuhan tinggal diam dan tidak membalaskan semua kejahatan itu.

Ia yang mulia berarti Ia adalah Allah yang akan menegakkan segala karakter dan sifatNya yang mulia dan agung sebagai Allah yang suci, Allah yang penuh kasih dan keadilan. Orang-orang yang pernah hidup sebagai anak-anak Tuhan dianiaya dan mengalami penderitaan, mungkin seumur hidupnya tidak pernah melihat berkat dan janji Tuhan terjadi kepadanya, kelak Tuhan akan memberikan pembalasan yang layak bagi mereka seturut dengan keindahan dan kemuliaanNya. Kita belum melihatnya sekarang, tetapi Tuhan pasti akan melakukanNya demi kemuliaanNya sendiri. Keluarnya orang Israel dari perbudakan dan penindasan Mesir tujuannya supaya orang Mesir tahu bahwa Ia adalah YAHWEH dan Ia akan memuliakan namaNya. “Tentara-tentara dan Firaun yang mengejarmu tidak akan ada lagi selama-lamanya karena Tuhan sendiri yang akan berperang untukmu dan kamu akan diam saja” (Keluaran 14:13-14). Walaupun 430 tahun penderitaan lewat, walaupun begitu banyak penindasan yang seolah tidak ada balasannya, God’s glory will prevail. Itulah yang membuat kita hidup menjadi anak Tuhan punya respons seperti itu.

Yang kedua, jangan takut. Di tengah situasi ada laut menggelora di depan, ada tentara mengejar dan akan membunuh dari belakang, kalau kita berada di tengah situasi seperti itu, siapa yang tidak takut? Kadangkala kita diperhadapkan dengan hal seperti itu, bukan berarti tidak ada jalan keluar, tetapi kemana arah mata kita tertuju, itulah yang membuat kita ketakutan dan tidak melihat jalan keluar. Musa bilang apa? “Tenanglah dan diamlah. Lihatlah bagaimana Tuhan sendiri yang bertindak dan berperang bagimu.” Itulah respons yang Tuhan panggil kepada setiap kita.

Siapa bilang duduk tenang itu hal yang gampang? Kita lebih mudah mau cari jalan sendiri, cepat-cepat mau membereskan semua dengan usaha sendiri. Belajar untuk tenang, berdiam di hadapan Tuhan, biar hati kita di-saturated dengan segala kebenaran firman Tuhan, biar Tuhan dengan leluasa membersihkan semua kotoran keraguan, ketidak-percayaan, keinginan kita untuk mencari jalan sendiri. Adakalanya pada waktu kita dipojokkan dan diperhadapkan kepada situasi yang seperti itu, engkau dan saya baru kagum, menyaksikan Tuhan bekerja melampaui apa yang kita pikirkan, justru pada saat kita surrender, berlutut di hadapanNya dan mengatakan, “Aku berserah di hadapanMu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, ya Tuhan, tolonglah aku.”

Terakhir, Keluaran 14:15 “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, ‘Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepadaKu? Katakanlah kepada orang Israel supaya mereka berangkat.'” Tuhan menyuruh Musa mengatakan kepada orang Israel, they have to move on. Tuhan minta kita diam dan silent untuk mengingatkan kita pada waktu kita tenang, baru kita bisa melihat pertolongan Tuhan datang. Tetapi setelah itu kita tidak boleh tinggal diam, kita harus bergerak maju. Jalan kemana? Di depan bukankah ada air lautan yang menggelora siap menelan kita? Jalan dulu. Artinya tidak ada hidup dimana kita boleh tinggal dan diam, dan Tuhan meminta kita dengan iman kepada Dia kita berjalan maju. Sesusah-susahnya, seberat-beratnya, tetap berjalan maju ke depan. Itu yang harus menjadi spirit yang men-drive hidup kita. Seperti kata pemazmur, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mazmur 126:5-6). Jangan pikir tanah sudah keras, sudah tidak ada harapan dan tidak bisa. Tidak apa-apa kalau kita harus menangis. Tetapi kalau kita terus menangis tanpa melakukan apa-apa, tanpa menabur benih, kita tidak akan pulang dengan sorak-sorai membawa hasil panen.

Tuhan Pemelihara hidup kita, Penjaga keluar masuk kita dengan kesetiaanNya, Penebus yang mengasihi kita, kita berterimakasih karena kita tahu Ia selalu memimpin dan menyertai kita di depan. Tuhan memanggil kita selalu berjalan dengan setia mengikuti Tuhan, berharap hanya kepada Tuhan. Kiranya kita terus berjalan dengan mata yang melihat kepada Tuhan dan bukan kepada keadaan di sekitar kita. Kita berjalan maju karena kita tahu setiap perjalanan kita membuat kita semakin dekat dengan Tuhan dan semakin ingin memuliakan Tuhan di dalam hidup kita.(kz)