01. From Good to Bad

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 24/2/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (1)

Nats: Keluaran 1:1-22

 

Mengapa kisah Exodus, keluarnya bangsa Israel dari Mesir menjadi satu peristiwa yang begitu penting? Dalam Perjanjian Baru kita akan menemukan kata “Exodus” exodos, atau “departure,” yang dalam Alkitab terjemahan Indonesia “tujuan kepergian” berbicara mengenai kepergian Yesus Kristus ke Yerusalem, yaitu pada waktu Kristus ada bersama-sama dengan dua representasi nabi dalam PL, Musa dan Elia, dalam peristiwa transfigurasi (Lukas 9:31). Tentu di sini maksudnya adalah peristiwa Yesus akan mati di atas kayu salib di bukit Golgota. Dari sini kita mengerti bahwa seluruh rangkaian keselamatan yang dilakukan Yesus Kristus membawa kita keluar dari perbudakan dosa menggunakan kata Exodus. Maka ada dua peristiwa besar di dalam sejarah Alkitab, yang satu adalah dimana Allah mengeluarkan satu bangsa, satu umat, dari perbudakan di Mesir keluar menuju tanah perjanjian. Itu adalah peristiwa besar Exodus di PL, menjadi satu representasi bayang-bayang satu kali kelak ada satu exodus yang jauh lebih besar, exodus yang bukan membawa manusia keluar dari perbudakan fisik, tetapi lebih daripada itu mengeluarkan mereka dari perbudakan dosa dan perbudakan maut. Ada satu tokoh yang dipanggil oleh Tuhan di tengah segala kesulitan membawa bangsa Israel keluar yaitu Musa, dan nantinya ada Seorang yang lebih besar daripada Musa yang dipakai untuk membawa kita keluar dari perbudakan dosa yaitu Yesus Kristus. Dua peristiwa sejarah ini penting, dua peristiwa sejarah ini ditandai oleh berbagai peristiwa spektakuler yang sejajar, untuk memberitahukan kepada kita dengan segala mujizat dan dengan segala fenomena alam muncul; ada angin, ada badai; ada tanah, ada air; ada manna turun dari langit, ada 5000 orang diberi makan roti oleh Yesus; ada Musa membelah air, ada Yesus berjalan di atas air; semua itu peristiwa mujizat di dalam sejarah manusia tidak pernah terjadi begitu banyak dan begitu berlimpah selain di dalam dua peristiwa ini. Dua peristiwa ini untuk memberitahukan kepada kita siapakah Allah yang kita sembah ini, yaitu Allah maha kuasa yang penuh dengan perhatian, Allah yang begitu adil, begitu suci, penuh dengan cinta kasih. Allah yang sama yang sudah bekerja di masa yang lampau itu adalah Allah yang juga tetap sama bekerja dan memelihara hidup kita, Allah yang tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan kita.

Kisah Exodus dalam kitab Keluaran dimulai dengan sesuatu hal yang membingungkan sejarawan dunia ini: kenapa Exodus tidak mencatat siapa nama Firaun pada waktu itu? Cuma disebut ‘firaun’ tetapi Firaun yang mana? Di dalam perdebatan sejarah mengenai Exodus, ada dua kubu. Kubu yang satu berkata peristiwa Exodus terjadi di tahun 1200BC dan kubu yang kedua mengatakan peristiwa itu terjadi di tahun 1400BC. Kalau di tahun 1400BC maka kira-kira berdasarkan penemuan sejarah yang digali oleh arkeolog mengenai Mesir kuno, mereka menemukan silsilah raja-raja Mesir yang memerintah, dan kalau peristiwa itu terjadi di tahun 1400BC, itu ada dua kemungkinan raja yaitu Firaun Amenhotep II atau Firaun Thutmose III. Kalau di tahun 1200BC, itu adalah Firaun Rameses II. Alasannya kenapa nama Rameses, karena di Keluaran 1 ini dicatat nama kota perbekalannya Pitom dan Raamses. Maka mereka mengatakan tentu itu adalah firaun yang menginginkan namanya diabadikan. Tetapi kalau peristiwa itu di tanuh 1200BC maka akan terjadi diskrepansi waktu karena dikatakan orang Israel ada di Mesir selama 400 tahun. Karena kalau di tahun 1200BC berarti orang Israel tinggal di Mesir kurang daripada itu. Tetapi kalau di tahun 1400BC itu masa Firaun Amenhotep II dan Thutmose III.

Alkitab tidak mencatat siapa nama Firaun pada waktu Exodus terjadi, ini menarik sekali. Alkitab tidak mau catat siapa Firaun dari kisah Exodus; Alkitab hanya mau mencatat siapa Tuhan dari kisah Exodus. Alkitab tidak mau meng-glorify dan membesarkan siapa Firaun itu, karena itu bukan hal yang penting. Yang paling penting dalam kisah Eexodus itu adalah kita tahu siapa Tuhan exodus yang memimpin hidup kita. Dan pada waktu Dia pimpin kita, Dia menarik kita keluar lepas dari tengah segala hal yang impossible dan ketidak-mungkinan, kita bisa menyaksikan betapa ajaib dan betapa indahnya Tuhan kita seperti itu. Biar peristiwa Exodus juga selalu membawa hati dan hidup kita melihat indahnya sentralitas keselamatan yang begitu agung diberikan oleh Yesus Kristus dalam hidup kita. Lahir dalam keadaan sederhana, tidak punya kekuatan politik, tidak punya apa-apa, tetapi Ia adalah Tuhan Juruselamat yang menjadi yang terutama di dalam hidup kita, memberikan pengharapan, memberikan hidup yang baru, memberikan masa depan yang indah, dan menjadikan hidup kita itu sebagai orang yang dikatakan biji mata Tuhan sendiri karena Yesus Kristus di dalam hidup kita. Tidak gampang dan tidak mudah kita menghargai dan melihat akan keindahan cinta kasih Tuhan; tidak gampang dan tidak mudah kita melihat di balik segala kesulitan, penderitaan, salib yang membawa kita keluar dari perbudakan dosa, kita melihat sebenarnya kita dibawa keluar dari jurang kenistaan dan dari keputus-asaan. Kalau sdr baca Exodus kita juga akan menemukan betapa mereka, orang Israel, juga tidak mudah melihat itu. Di tengah perjalanan mereka merasa lebih enak balik ke Mesir kembali. Kenapa? Mereka datang ke Mesir kira-kira cuma 70 jiwa, tidak punya dan tidak membawa apa-apa, sebagai pengungsi dari kelaparan yang hebat yang terjadi pada waktu itu, dan Yusuf memelihara keluarganya dengan memenuhi segala kebutuhan mereka. Bahkan setelah Yusuf meninggal, kebesaran Yusuf, nama Yusuf, jasa Yusuf itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dilupakan oleh bangsa Mesir. Mesir bukan saja bisa survived keluar dari kelaparan selama 7 tahun, tetapi Yusuf juga memimpin Mesir menjadi satu bangsa yang super power pada waktu itu. Maka orang Israel diberi tempat tinggal di Gosyen, satu tanah delta yang paling subur. Maka orang Israel keadaannya Mesir sudah kaya, sudah makmur, sudah enak. Empat ratus tahun beranak cucu, tinggal di Mesir tidak ada kesulitan. Mereka akhirnya berpikir ‘inilah negeriku, inilah tempat tujuan terakhirku, inilah destinasi kami.’ Sdr baru mulai berpikir, bukan, bagaimana Tuhan menggoyangkan, bagaimana Tuhan perlu menggugah hati, bagaimana Tuhan perlu menyadarkan orang yang berada di dalam kenikmatan dan merasa sudah tidak perlu lagi keluar pergi ke tanah perjanjian yang Tuhan telah janjikan kepada Abraham, nenek moyang mereka. Dimana tanah itu? Belum tahu. Di sini kami sudah beranak-pinak, sudah makmur dan jaya, buat apa pergi lagi?

Ayat 8, sampai kemudian terjadi perubahan, “Bangkitlah seorang raja baru yang tidak mengenal Yusuf…” Muncullah seorang firaun yang tidak mengenal jasa Yusuf. Ini adalah sejarah yang terus-menerus berulang, tetapi sekaligus juga menjadi hal yang kita harus ingat baik-baik. Orang terlalu gampang dan terlalu mudah melupakan jasa orang lain. Mesir bisa menjadi negara yang besar dan berjaya karena ada satu orang bernama Yusuf. Namun Alkitab mencatat muncullah seorang raja yang tidak ingat akan jasa Yusuf. Kalimat dari firman Tuhan ini penting untuk mengingatkan kita pun juga tidak boleh melupakan jasa orang. Lebih-lebih lagi kita tidak boleh dan tidak bisa melupakan Tuhan yang men-sustain hidup kita selama-lamanya. Orang-orang yang pernah menolong, membantu dan men-sustain hidup kita mungkin tidak lama, tetapi tetap kita harus belajar menjadi orang yang tidak boleh melupakan orang-orang seperti itu.

Ayat 9-12, Firaun ini kemudian berkata mengenai orang Israel, “Bangsa ini terlalu besar. Marilah kita bertindak dengan bijaksana…” yaitu dengan cara menciptakan satu kondisi perbudakan. Bukan saja demikian, dengan sistematis mereka menekan orang Israel sehingga hidup mereka menjadi susah dalam segala aspek. Inilah cara yang kemudian juga dipakai dalam dunia politik kepada kaum minoritas sampai hari ini, yaitu negara men-sponsor kekerasan, negara men-sponsor terorisme. Mungkin kita tidak menghadapi tekanan secara politik seperti itu, tetapi tidak berarti kita juga lepas berada di dalam dunia yang seperti itu. Kita bertemu dengan orang yang mungkin tidak mengingat segala sumbangsih kita; kita mungkin bertemu dengan orang yang berusaha membuang apa yang sdr sudah kerjakan bagi dia, bahkan mungkin dia berusaha menindas dan menyingkirkan sdr dengan segala hal yang begitu licik dan jahat. Sdr dan saya juga menghadapi hal yang sama waktu kita memasuki satu corporate yang besar. Di situ kita tidak lepas dari bully, kita tidak lepas dari pressure yang menekan, yang merasa setelah sdr bekerja di situ, dia berhak memiliki hidupmu sepenuhnya. Dan jika sdr tidak taat di situ, sdr bisa dicekik dan dihempaskan. Dimana saja itu bisa terjadi.

Namun yang perlu kita perhatikan ini bukan saja sekedar satu usaha dari Firaun yang ingin mencekik nafkah hidup dari orang Israel, di balik semua hal itu ada satu representasi dari evil power yang ingin berusaha untuk menghancurkan anak-anak Tuhan. Dan di dalam kondisi seperti itu peristiwa Exodus selalu mengingatkan kita ‘what kind of God of exodus we believe in.’ Walaupun kita mengalami di dalam waktu yang mungkin berat, yang panjang dan susah, tidak ada cahaya terang, di tengah perjalanan itu kita tahu Allah kita ada dan menyertai.

Ayat 13-14, “Dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja…” untuk apa? Untuk memahitkan hidup mereka. Saya senang sekali dengan terjemahan bahasa Indonesia, ‘memahitkan hidup.’ Dalam bahasa aslinya bisa diterjemahkan ‘to break them down into pieces.’ Semua itu terjadi tujuannya cuma satu yaitu supaya hati orang Israel pahit, hidup mereka menjadi sulit dan berat, sepahit empedu. Tidak ada yang bisa meragukan ini adalah evil yang diciptakan oleh kebrutalan manusia. Kita mungkin susah dan tidak bisa mengadu, kita bisa marah dan kecewa kalau penderitaan itu terjadi because of natural disaster, tetapi kita mungkin lebih sulit dan susah menerima kalau penderitaan itu akibat perbuatan orang, apalagi jikalau orang itu tidak mengingat jasa kita; jasa nenek moyang kita, yang sudah membesarkan keluarga itu sudah jadi, sudah jaya, sudah makmur, sekarang dia mau bunuh usaha keluarga kita, kita tidak bisa terima. Itu bisa terjadi di dalam hidup kita. Namun jangan biarkan engkau akhirnya menjadi pahit dan hancur berkeping-keping karenanya.

Penderitaan bisa menjadi satu disiplin Tuhan mendidik anak-anak Tuhan. Disiplin itu menjadi tanda kita adalah anak-anak Tuhan yang sejati. Disiplin itu juga menjadi proses pendewasaan kerohanian kita. Namun Ibrani 12:15 mengingatkan kita agar jangan sampai timbul akar yang pahit di dalam hati kita karena didikan Tuhan datang ke dalam hidup kita. Itu bisa terjadi jikalau seorang anak tidak bisa melihat pendidikan dan teguran yang baik yang membentuk hidupnya menuju kepada pertumbuhan dan menuju kepada kedewasaan adanya. Dia akan melihat semua yang terjadi itu adalah tanda kebencian, tidak cintanya orang tua kepadanya. Itu mungkin bisa terjadi di tengah keluarga kita sebab ayah ibu kita mungkin kurang pendidikan, ayah ibu kita mungkin tidak memiliki teknik cara edukasi kepada anak-anaknya. Tetapi sedalam-dalamnya hati orang tua, tidak ada orang tua normal yang memukul anaknya dengan satu motivasi untuk menghancurkan dan mencelakakan anak itu. Tetapi memang kita harus akui tidak selamanya didikan dan teguran dari orang tua dengan metode disiplin itu adalah satu metode yang mencapai apa yang diinginkan hatinya. Karena mungkin pengertian kurang, emosi berkelebihan, cara didik yang salah, diterima dengan salah oleh anak sehingga benci dan pahitlah hidupnya. Sehingga penulis Ibrani bilang, orang tua kita mendidik dengan cara yang menurut dia baik dan dengan waktu yang terbatas. Tetapi Tuhan kita tidak demikian dan tidak pernah bersalah di dalam pendidikanNya kepada anak-anakNya. Tetapi kita yang mungkin bersikap dan berespons salah terhadap pendidikan Tuhan itu. Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan kita jangan sampai kita lari, kita kecewa, kita tidak berdoa, kita tidak mau bersekutu lagi dengan Tuhan dan saudara seiman dan menghasilkan akar yang pahit di dalam hati kita. Dan bukan saja kepada kita, tetapi juga menjadi ‘bitter root’ kepada orang-orang yang lain. Apapun yang terjadi, apapun yang kita alami, tekanan dan kesulitan yang kita hadapi, beratnya kita menjadi orang Kristen di dalam hidup ini, sekali lagi mungkin Tuhan tidak janji semua itu tidak ada di dalam hidup kita, tetapi Tuhan mengingatkan kita tujuan Tuhan mengerjakan semua itu adalah semata-mata untuk mendewasakan imanmu dan bukan untuk menghancurkanmu hingga berkeping-keping. Kita menjadi orang Kristen bisa cacat bisa pecah, tetapi jangan sampai akhirnya kita kehilangan harapan dan tidak lagi melihat jalan keluar dari segala yang terjadi dalam hidup ini.

Yang kedua, di tengah tindakan orang Mesir menyiksa orang Israel, Tuhan justru bekerja dengan ajaib. Sekuat-kuatnya mereka berusaha memahitkan hidup orang Israel, seberat- beratnya mereka terus dengan kejam mengerjakan hidup mereka, terjadi hal yang ironi. Tujuan dari Firaun sebenarnya memberikan semua kesulitan ini supaya mereka jangan bertambah banyak, ternyata justru makin ditekan jumlah mereka malah semakin banyak. Jadi Firaun bingung, tujuan dia memberikan kesulitan dan penderitaan supaya mereka tambah banyak, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Inilah humor Tuhan. Anak Tuhan makin exhausted hidupnya, pulang ke rumah dia mendapatkan air sejuk yang menghiburkan dan memberi vitalitas hidup sehingga mereka tidak melihat kesulitan di luar karena menikmati anugerah Tuhan, akhirnya beranak terus. Tujuan kedua untuk memberikan kesulitan dan penderitaan adalah supaya jangan membiarkan mereka pergi dari negeri Mesir, tetapi justru di dalam tekanan seperti itu akhirnya mereka justru mau pergi. Kalau tidak ada kesulitan dan penderitaan, tidak mungkin mereka akan berpikir untuk meninggalkan Mesir. Di sinilah kita menemukan keindahan yang begitu paradoks.

Orang Kristen berada di bawah penganiayaan justru bertumbuh semakin banyak. Kalau kita membaca buku dari “Heavenly Man” Brother Yun mengeluarkan satu kalimat yang begitu agung, “Kepada orang Kristen yang bebas, doakanlah kami yang ada di Cina, bukan supaya kami lepas dari penganiayaan, tetapi supaya Tuhan memberi kami bahu yang kuat untuk menanggung penganiayaan ini.” Don’t pray for the persecution to stop. We shouldn’t pray for a lighter load to carry, but a stronger back to endure. Kalimat ini keluar dari seorang yang telah melihat inilah pattern dan pola di dalam sejarah, pertumbuhan Gereja dan anak Tuhan yang sejati justru terjadi karena penganiayaan dan kesukaran terjadi. Charles Spurgeon mengatakan hal itu. Pattern itu terjadi dan terjadi berulang. Pada Gereja yang mula-mula, rasul Petrus ditangkap dan dipenjara, tetapi justru itu menyebabkan orang Kristen makin bertambah jumlahnya. Penganiayaan yang terjadi setelah pembunuhan Stefanus menyebabkan orang Kristen makin tersebar ke berbagai tempat. Kesulitan dan penganiayaan itu tidak pernah melenyapkan orang Kristen, tetapi justru semakin menjadikan kita bertumbuh. Orang Kristen di dunia Barat mengalami kesulitan dan tantangan dalam dimensi yang berbeda, bukan dengan aniaya fisik tetapi dalam bentuk yang lain, ridicule, slander or rejection. Namun itu semua membuat Gereja percaya dan sadar di tengah kesulitan dan tekanan tidak akan membuat kita hancur, tapi makin membuat kita kuat adanya.

Salah satu hal yang perlu kita ingat dan doakan adalah orang-orang Kristen yang ada di Mesir, yang kira-kira secara statistik berjumlah 8-10 juta, banyak di antara mereka orang-orang penting di dalam ekonomi, tetapi secara jumlah mereka minoritas. Naiknya muslim brotherhood dalam pemerintahan yang baru di Mesir menjadi satu kesempatan dimana semua kaum minoritas termasuk orang Kristen disikat habis. Banyak yang sudah kabur dan pergi, tetapi yang kasihan adalah orang-orang Kristen yang miskin dan tidak mampu lari. Ini juga terjadi di Siria dan di daerah Timur Tengah lainnya, banyak dari mereka dibunuh, diperkosa, dsb. Juga diperkirakan tahun 2020 Cina akan membabat habis gereja-gereja bawah tanah secara sistematis.

Yang kedua, penganiayaan dan tekanan akan menghasilkan satu turning point bagi orang Israel sehingga mereka tahu mereka perlu keselamatan dan perlu Tuhan membawa mereka keluar dari perbudakan itu. Air mata, sakit penyakit mungkin datang kepada seseorang menjadi satu turning point orang itu menyadari dia perlu Tuhan dalam hidup ini. Kalau penderitaan kesulitan tidak diberikan kepada seseorang, mungkin menggerakkan orang Israel keluar dari hidup yang sudah enak di tanah Mesir dan yang membuat mereka merasa itulah tanah perjanjian Tuhan bagi mereka, apa yang bisa membuat mereka bisa memalingkan wajah melihat tanah perjanjian yang sesungguhnya? Pada waktu kita hidup nyaman dan enak di dalam dunia ini, ketika kita menghadapi hal yang mungkin merusak semua itu, mata kita pasti akan tertuju kepada surga yang indah dan permanen yang menjadi tempat kita yang paling indah selama-lamanya.

Puji Tuhan, biar pada waktu kita melihat ada hal-hal yang terjadi tak terduga, keluar kalimat doa yang sama di dalam hidup kita, Tuhan, jangan sampai semua ini membuat hidupku pecah berkeping-keping. Biar seluruh kesulitan dan aniaya yang datang ke dalam hidup anak-anak Tuhan akan menghasilkan maturity dan pertumbuhan di dalam ketulusan iman. Mungkin selama ini kita ikut Tuhan dengan cara yang ogah-ogahan. Kalaupun kesulitan, sakit dan kebangkrutan terjadi di dalam hidupmu biar itu menjadi suatu turning point sehingga kita bisa melihat keselamatan yang lebih agung di dalam Tuhan Yesus Kristus, membukakan kepada kita Tuhan yang seperti apa yang mendesain hidup setiap kita yang juga boleh memimpin menyertai jalan dan hidup kita. Kita tahu dan kita percaya betapa indah, betapa agung dan betapa mulia bijaksana Tuhan yang kita sembah itu.(kz)