02. From Bad to Worse

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 3/3/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (2)

Nats: Keluaran 1:15 – 2:10

 

Tidak ada secuil kebaikan apapun yang kita bisa raih dari tindakan berbuat kejahatan sekecil apapun. Tidak ada keuntungan yang kita bisa dapat nantinya di dalam hal kita bernegosiasi dengan dosa. Tidak ada hal yang kita bisa poles seputih dan secantik apapun terhadap sesuatu yang sudah kelihatan najis dan tidak indah adanya. Sebab Yesus Kristus sendiri berkata, “…tidak ada pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik…” (Lukas 6:43). Tidak akan pernah kita bisa mengail dan meraih kebaikan dan keuntungan di dalam kolam kenajisan dan dosa. Hal yang bisa kita kerjakan dan lakukan bukan negosiasi, bukan menutup, bukan memikirkan ‘something good will happen’ dari tindakan yang sudah salah di depan kita, itu tidak akan pernah bisa terjadi. Yang bisa kita kerjakan dan lakukan hanya satu, yaitu kita confess, kita akui dan kita tinggalkan dan tidak akan lakukan lagi. Jangan pernah bermain-main dengan kejahatan, sebab pure evil akan melahirkan evil; dan tidak akan mungkin ada hal yang indah dan baik terjadi di dalamnya. Jangan pikir kita mungkin sanggup bisa bernegosiasi karena kita pasti akan selalu kalah langkah dan tindakan yang kita kerjakan hanya menutupi kesalahan di atas kesalahan sampai kita tidak sanggup bisa mencegah dan mengontrol evil itu akhirnya merajalela di dalam hidup kita.

Banyak tragedi di dunia ini bermula dari satu langkah kecil, perselingkuhan, lalu langkah itu berkembang mengikat dan menjadi spiral yang lepas kontrol. Keadaan itu membuat muncul keinginan untuk menutupinya akhirnya menjadi pembunuhan, dari membunuh pasangan lalu membunuh anak yang menyaksikan tindakan itu, dan selanjutnya dan selanjutnya menjadi bola salju yang makin lama makin besar dalam hidup ini. Alkitab telah mengingatkan, “Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya? Atau dapatkah orang berjalan di atas bara dengan tidak hangus kakinya?” (Amsal 6:27-28).

Seorang adik dari pendeta terkenal di Amerika meng-grooming seorang jemaat wanita yang sudah menikah selama delapan tahun lamanya, membujuk dengan mengatakan ‘engkau adalah tulang rusukku yang sejati, my soul mate. Istriku yang sekarang itu sebetulnya aku salah nikah.’ Sampai akhirnya anak dari perempuan itu membongkar dan membuka skandal itu di depan umum. Akhirnya adik dari pendeta itu, yang seorang pendeta juga, sudah step down dari pelayanan khotbahnya. Sangat sedih dan kasihan sekali, perempuan itu terlalu labil dan di tengah kesulitan keluarga dan relasi dengan suami, dimana orang yang engkau percayai yaitu pendetamu, orang yang sepatutnya menjadi tempat memberikan pertolongan dan kekuatan, justru menjadi tempat dimana dia makin merusak hidup rumah tangga orang lain.

Dalam bagian yang kita baca hari ini kita bisa lihat kejahatan yang ada di dalam hati Firaun dari hari ke sehari terus-menerus menggumpal dan dia berusaha menutupi tindakan yang sudah salah dengan kesalahan yang lebih kejam, dengan kesalahan yang lebih dahsyat lagi. Kebencian itu mulai dari mana? Mulai dari ketidak-sanggupan untuk bisa berkompetisi secara ekonomi dengan suku pendatang. Firaun desperate, Firaun kuatir, Firaun tidak berdaya. Semakin lama dia melihat orang-orang ini makin beranak-pinak memenuhi negeri Mesir. Maka Firaun melakukan segala sesuatu yang dapat dia pikirkan untuk menghentikan kekuatan orang Israel. Maka Firaun menanam kebencian dan sentimen rasial di antara orang Mesir terhadap orang Israel. Bukankah hal yang seperti ini terus berulang dan kembali berulang di dalam sejarah? Dan ketika sentimen rasial tidak terjadi dan tidak sanggup bisa mengalahkan suku pendatang ini, lalu kemudian Firaun menggunakan sistem perbudakan. Dengan perbudakan dia ingin menghancurkan spirit, menjatuhkan harkat dan martabat dari orang-orang yang diperlakukan sebagai minoritas dari suku pendatang. Mereka tidak diberi KTP, tidak diberi kesempatan dan fasilitas apa-apa. Firaun terus berusaha mempermalukan orang Israel, itu yang dikatakan firman Tuhan. Segala usaha dan cara dilakukan untuk demi tujuan memahitkan hati mereka, ‘to break them down’ (Keluaran 1:14). Tetapi itu tidak sanggup dan tidak mempan untuk bisa menghancurkan spirit umat Tuhan. Alkitab mencatat, “Makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka…” (Keluaran 1:12). Akhirnya Firaun menggunakan sistem genocide dengan membunuh bayi-bayi yang dilahirkan wanita Israel. Mulanya dengan cara yang lebih sedikit tidak kentara, bisa terjadi kesalahan prosedur medis karena Firaun tidak ingin kelihatan secara terang-terangan terjerumus di situ. Dia diam-diam memanggil dua bidan orang Ibrani yaitu Sifra dan Pua dengan pesan, ‘kalau bayi laki-laki orang Israel yang lahir, bunuh segera; kalau bayi perempuan, biarkan mereka hidup.’ Tetapi tindakan evil yang diam-diam itu ternyata tidak bisa jalan, sehingga Firaun harus melakukan tindakan yang lebih terbuka dan lebih kejam. Kali ini dia memperalat bukan saja tentaranya tetapi seluruh rakyatnya dia libatkan untuk melakukan kejahatan. Kalau ada tetanggamu yang akan melahirkan dan itu adalah anak laki-laki, engkau punya hak untuk merampas dan membuangnya ke sungai Nil (Keluaran 1:22).

Bukankah hal yang sama dilakukan oleh Nazi kepada orang Yahudi? Mulai dengan cara mengkambing-hitamkan orang Yahudi sebagai penyebab jatuhnya ekonomi Jerman, akhirnya dibatasi kegiatannya dalam ekonomi, sesudah itu mulai dikumpul diberi tanda bintang Daud di lengan baju, lalu dikumpul dalam ghetto, setelah itu dipekerjakan di pabrik-pabrik, dst. Juga beberapa dokter-dokter yang kejam direstui untuk melakukan berbagai eksperimen hidup-hidup dan sampai akhirnya muncullah kamar gas Austwitch yang amat mengerikan itu. Semua ini hanya memberitahukan kita, pada waktu evil itu terus-menerus dibiarkan, maka dia akan beranak-pinak, tidak ada yang bisa mengatur dan mengontrolnya. Kita tidak pernah akan bisa bernegosiasi dengan dosa dan jangan pernah berharap akan ada sesuatu yang baik muncul daripadanya. Tinggalkan itu. Jadikan hidup kita berbalik dan bertobat kepada Tuhan.

Kalau kita ada di tengah-tengah situasi seperti itu, apa tindakan yang harus kita ambil? Bagaimana kita harus bersikap? Kadang-kadang ada situasi yang terlalu besar dan terlalu berat, kita bertindak apapun kita rasa kita tidak sanggup bisa merubah situasi itu secara drastis. Namun pada waktu kita berada di situ, setidak-tidaknya kita tidak boleh menjadi orang yangpasif dan berkata tidak ada hal yang kita bisa lakukan, tidak ada hal yang bisa kita kerjakan karena kita orang yang kecil dan sederhana, bukan orang yang punya kuasa dan kekuatan militer.

Sederhana orang-orang ini, tetapi merekalah justru yang berani berdiri dan melawan perintah Firaun. Mereka adalah dua bidan perempuan Ibrani yang bernama Sifra dan Pua. Dari namanya kelihatan mereka bukan bidan yang berperawakan besar. Sifra artinya cantik; Pua artinya indah bercahaya. Mereka hidup memiliki karakter yang begitu indah; mereka hidup dengan tindakan yang begitu cantik, seturut dengan nama mereka. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Firaun memakai bidan orang Ibrani, karena siapa yang mau menjadi algojo buat orang sendiri? Belum tentu. Kalau sampai Firaun memakai mereka berarti mungkin dia menemukan ada orang-orang yang demi keuntungan sendiri tidak lagi melihat ras, suku, dsb. Bahkan ada orang yang demi keuntungan sendiri, demi keamanan sendiri, mereka rela menjerumuskan orang yang mereka kenal. Di dalam hal seperti itu, apa yang bisa dan harus kita kerjakan? Mari kita stand up, berani untuk resist, berani untuk tolak ketika ada kejahatan dan ada dosa yang kita tahu itu tidak sebenarnya dan tidak sepatutnya, walaupun tidak gampang dan tidak mudah, resiko berada di dalamnya. Dan di tengah-tengah keadaan seperti itu kita melihat keindahan dimana Tuhan menjaga dua orang bidan ini jangan sampai mati konyol karena tindakan mereka. Belajar juga untuk bisa cerdik seperti ular di dalam keadaan dan situasi yang seperti ini.

Perdebatan mengenai jawaban dari kedua bidan ini kepada Firaun dalam Teologi Etika, akhirnya menjadi pertanyaan klasik: bolehkah kita berbohong untuk kebaikan? Beberapa penafsir mengambil sikap bahwa apa yang dilakukan oleh Sifra dan Puah itu adalah jawaban yang berbohong, tetapi Tuhan mengampuni dosa berbohong itu oleh sebab di dalam tindakan berbohong itu, mereka melakukan tindakan yang jauh lebih baik yaitu menyelamatkan jiwa orang. Tetapi ada pendapat kedua yang mengatakan, kita tidak pasti bahwa jawaban Sifra dan Pua itu bohong dan tidak benar, karena apakah ada kasus memang perempuan Ibrani sudah melahirkan sebelum bidan itu datang? Saya percaya, ada. Tetapi bolehkah Sifra dan Pua waktu ditanya oleh Firaun lalu menjawab seperti itu?

Matthew Henry dalam tafsirannya mengatakan tindakan kriminal yang dilakukan oleh Firaun tidak bisa menjadi satu tindakan yang menuntut ketaatan orang untuk say ‘yes’ kepadanya. Maka bagi Matthew Henry dua bidan perempuan ini bukan berbohong tetapi mereka menyatakan ketidak-setujuannya dengan satu sistem, satu program, satu hukum yang dikeluarkan oleh Firaun yang pada dasarnya bukan untuk demi kebaikan tetapi untuk kejahatan, kita sebagai orang Kristen berhak tidak setuju di situ. Namun point yang paling penting kita tidak melihat ada indikasi Tuhan menganggap sikap Sifra dan Pua itu tidak benar, bahkan dua kali Alkitab mengatakan Sifra dan Puah mengambil tindakan seperti ini karena mereka takut akan Tuhan (ayat 17 dan 21). Tidak ada orang yang boleh bilang mereka bersalah, sebab firman Tuhan sendiri mengatakan mereka tidak bersalah. Mereka berdiri berani untuk berkata kepada Firaun ‘saya tidak setuju dan saya tidak mau melakukan tidakan yang jahat adanya.’

Kalau kita diperhadapkan kepada situasi seperti mereka, bisakah engkau dan saya bersikap seperti itu di dalam hidup ini? Kita tahu betapa tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi percayalah sikap itu jauh lebih indah dan lebih baik di dalam karakter dan hidup kita daripada kita sudah mengambil tindakan yang salah lalu kita berusaha mencari jalan pembenaran terhadap tindakan kita. Mari kita di tengah situasi dan keadaan yang begitu berat dan susah, kita ambil tindakan untuk stand up itu walaupun kita rasa tidak merubah apa-apa, tidak merubah budaya dimana sdr tinggal; tidak merubah sistem dalam perusahaan dimana  sdr bekerja, dsb. Tetapi setidaknya kita tahu apa artinya kita hidup takut akan Tuhan. Perjalanan hidup orang yang takut akan Tuhan dicatat oleh Alkitab mendatangkan keindahan yang tidak ada habis-habisnya.

Yang kedua, apa tindakan yang kita akan ambil? Dalam Keluaran 2:1-2, unik sekali, Alkitab mencatat sebuah keluarga sederhana. Di tengah situasi yang tidak gampang, ada kesulitan, ada pembunuhan tiap hari, ketidak-stabilan politik, ada sepasang pria wanita berani menikah dan punya anak. Banyak hal di depan yang tidak pasti dan tidak kita tahu tetapi jangan biarkan hal-hal itu kemudian menghambat hidup kita tidak berani melangkah dan mengerjakan hal-hal yang sebaik mungkin dan senormal mungkin di dalam hidup ini. Jangan sampai gara-gara kita sudah pikir betapa besar ongkos punya anak di Australia lalu membuat kita tidak berani punya anak. Bisa jadi ketakutan kita melihat hidup orang lain dengan segala kesulitan yang ada bikin kita akhirnya tidak berani untuk melangkah. Membesarkan anak tidak pernah menjadi hal yang gampang; mengandung ada resikonya. Di dalam merencanakan sesuatu, normal sdr hitung-hitung resiko terburuk yang possible terjadi. Dan normal sdr coba menimbang-nimbang jikalau outcome yang terburuk yang terjadi, apakah kita bisa jalani dan bisa survive? Tetapi memikirkan hal-hal yang terburuk yang mungkin terjadi di depan, belum tentu juga terjadi. Sdr juga bisa balik sama saya: tetapi bukan berarti belum tentu tidak terjadi juga, pak. Apapun debat kusir kita, sdr toh tetap harus berjalan. Point saya adalah jangan sampai karena kita pikir the worst possibility akan terjadi lalu kita takut dan tidak berani melangkah ke depan.

Situasi apa yang mereka sedang hadapi? Lihat di atas, dekrit Firaun sudah keluar, siapa saja melihat ada bayi laki-laki engkau boleh bunuh dia (Keluaran 1:22). Banyak hal kita tidak tahu apa yang ada di depan, tetapi kalau kita terus memikirkan apa hal-hal yang akan ada di depan, akhirnya membuat kita takut dan tidak berani menjalani hidup dengan normal. Kasihan sekali orang yang takut kena kecelakaan di luar, akhirnya tinggal terus di rumah tidak berani keluar. Sdr tahu, orang yang meninggal karena terpeleset di rumah jauh lebih banyak daripada yang meninggal di atas pesawat.

Memiliki anak, itu adalah langkah iman. Membesarkan anak, itu adalah langkah iman. Semua kita takut, ke depan anak kita akan jadi apa. Tetapi apakah itu membuat kita berhenti dan tidak menjalani satu hidup yang normal dan baik adanya? Dan kapan kita berani mengambil langkah iman di dalam hal seperti ini?

Dan benar seperti dugaan mereka the worst scenario yang terjadi, lahir anak laki-laki. Ayah ibu bayi itu tidak disebutkan namanya di sini. Nanti baru keluar di pasal 6:19 nama ayah Musa adalah Amram, nama ibu Musa adalah Yokhebed. Nama itu tidak keluar di pasal 2 ini untuk menekankan ada pemimpin besar muncul, ada juruselamat datang, ada orang pemberani yang agung, lahir dan datang dari “ordinary people.” Ada hal yang luar biasa terjadi di dalam diri orang-orang ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang berani bersandar kepada Tuhan dalam berjalan ke depan. Mereka tahu mereka melakukan hal yang benar, mereka tahu ini panggilan Tuhan untuk mereka kerjakan, maka mereka kerjakan dengan taat. Kerjakan dengan senormal dan sebaik mungkin. Memiliki anak, kalau Tuhan kasih, membesarkan anak, semua itu adalah langkah iman. Bagaimana nanti kalau Ozone bikin bolong dunia, anak kita mati semua? Bagaimana dengan masa depan mereka? Kita tidak tahu. Tetapi paling tidak waktu kita membesarkan mereka, kita tahu bahwa sehari-hari kita melangkah di dalam perjalanan iman kita kepada Tuhan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, itu sebab saya bersandar dan percaya kepadaMu. Dan biar kita dengan serius membesarkan anak kita, dengan sikap seperti ini.

Yang terburuk terjadi pada keluarga Amram dan Yokhebed, anak laki-laki yang lahir, dan mereka hanya bisa tahan menjaga dia sampai 3 bulan lamanya. Mau apa? Bingung. Disimpan, pasti mati. Kenapa akhirnya Amram dan Yokhebed berpikir untuk menaruh anak ini di sungai Nil? Jelas sekali setiap hari mereka pasti mendengarkan teriakan dan tangisan orang karena anaknya diambil dengan paksa. Artinya, possibilitas anakku diambil sangat besar sekali. Tidak ada tempat untuk bisa sembunyi, makin dia besar makin mudah orang tahu dan ambil, end up-nya juga mati. Kadang-kadang kita sulit sekali ambil keputusan seperti ini, bukan? Disimpan, pasti mati. Dibuang, mungkin mati. Ini adalah realita yang tidak gampang, karena kita tidak tahu apa yang ada di depan.

Pembunuhan terjadi, kesulitan terjadi, hidup kita dipahitkan, namun tetap ada cerita indah. Walaupun susah dan sulit biar ini menjadi attitude kita, saya tetap mau menjalani satu hidup yang baik dan normal yang Tuhan percayakan kepadaku. Bukan saya tidak pikir resiko itu; bukan saya pikir itu sesuatu yang akan terjadi. Tetapi kalaupun peristiwa terburuk itu terjadi, doa kita, “Tuhan, saya sudah berjalan dan melangkah di dalam jalanMu, saya hanya bisa serahkan kepada Tuhan.”

Amram dan Yokhebed sudah tahan pelihara bayi ini tiga bulan. Sekarang bagaimana? Maka pada malam hari, ayah membuat keranjang yang kuat lalu melapis dasarnya dengan ter supaya air tidak masuk ke dalamnya. Kemudian pagi harinya, waktu semua belum ada, ibunya membawa bayinya keluar ke sungai Nil dan menaruhnya di air. Lalu tangan itu dengan berat hati mulai lepas. Sesudah lepas, tarik lagi karena tidak tega. Tetapi jangkauan tangan tidak bisa lagi menahan keranjang itu berjalan terbawa air. Kenapa engkau berserah kepada Tuhan? Karena tanganku sudah sekuat tenaga berusaha menahan dan tangan jauh terulur, akhirnya harus lepas. Aku tidak bisa kontrol lagi. Ketika tanganmu yang sudah terulur menahan sekuat tenaga, akhirnya harus let go, ada jarak yang engkau tidak bisa pegang lagi, ingat di situ ada tangan Allah yang tidak terbatas yang bisa mengontrol segala sesuatu.

Orang bisa bilang lucky? Tidak. Kalau hari itu puteri Firaun mandi di sungai Nil, lalu melihat bayi itu dan bisa jatuh belas kasihan, itu semua adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Pada waktu kita berkata, Tuhan, saya sudah berjalan dengan iman, tanganku sudah sekuat tenaga mengerjakan hal yang indah dan baik, biar sekarang tangan Tuhan yang tidak kelihatan itu mengontrol, memegang dan berjalan di depan. Kita butuh itu semua. Waktu masa desperate terjadi, orang jahat melakukan cruel things terhadap kita dan orang lain, dan mungkin menuntut engkau aktif melakukan kejahatan, sebagai orang Kristen, ini yang harus kita lakukan, kita berdiri, kita berkata saya tidak mau melakukan dosa dan kejahatan.

Yang kedua, situasi sesulit apapun jangan sampai itu mempengaruhi hidupku, senormal mungkin saya mau berjalan ikut Tuhan. Jangan sampai kita lumpuh di dalam ketakutan untuk hal-hal yang ada di depan yang kita tidak tahu outcome-nya.

Yang ketiga, di tengah situasi yang terburuk bagaimanapun, kita ingat Tuhan kontrol, Tuhan pegang. Itu hidup kita, itu iman kita. Di situ kita tahu kita memiliki Allah yang maha kuasa, Allah yang menjaga, Allah yang melindungi, Allah yang memelihara perjalanan hidup kita. Dengan iman seperti ini mari kita belajar berserah dan meletakkan hidup kita di depan ke dalam tangan Tuhan.(kz)