36. Doa Seorang Hamba

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 6/4/2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (36)

Nats: Keluaran 33:12-23

 

Keluaran 33 adalah satu bagian dari perjalanan perubahan bangsa Israel, jatuh dari atas ke dalam jurang paling bawah di dalam peristiwa penyembahan patung lembu emas di Keluaran 32. Di sinilah kita melihat section pertama satu perubahan dan pertobatan sejati muncul di dalam hati umat Tuhan yang akhirnya menyadari apa yang paling penting di dalam hidup ini. Apa gunanya kami memiliki segala berkat yang dijanjikan Tuhan kalau Tuhan sendiri tidak beserta dengan kami? Apa gunanya ada perlindungan dari Tuhan dengan malaikatNya berjalan di depan kami menghalau semua musuh jikalau penyertaan itu tidak ada Tuhan di tengah kami? Kami tidak mau berjalan sendiri. Mereka berkabung, mereka menangis, mereka berseru kepada Tuhan di dalam dukacita yang sangat besar.

Itulah reaksi yang seharusnya mengingatkan kita, orang Kristen, bahwa kita tidak menginginkan anugerah berkat Tuhan, kekayaan, kelimpahan, kesehatan, perjalanan yang lancar, penyertaan dan perlindungan dari malaikat Tuhan sekalipun, jikalau kita tahu di balik semua yang kita terima itu Tuhan tidak ada dan hadir beserta kita. Buat apa semua itu? Kita tidak boleh balik, menghampiri Tuhan dengan konsep dan prinsip itu. Tuhan ada di sekitar kita dan beserta dengan kita, itu yang terindah dan terpenting bagi kita. Sehingga kita bisa berkata seperti nabi Habakuk, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah…” (Habakuk 3:17) atau seperti pemazmur Asaf berkata, “Sekalipun dangingku dan hatiku habis lenyap…” (Mazmur 73:26), sekalipun seluruh harta milikku habis dan tidak ada yang tersisa sedikit pun, namun Tuhan beserta dengan aku, aku tetap mencintai dan mengasihiNya.

Selanjutnya, Keluaran 33:12-23 memperlihatkan bagaimana Musa sebagai seorang pemimpin menjadi mediator yang ada di tengah-tengah umat Israel, keagungan karakternya, keindahan seorang gembala yang luar biasa. Musa berdoa syafaat dan memohon kepada Tuhan memberi pengampunan bagi bangsanya, di sini kita perbandingkan dengan kalimat Musa dalam Ulangan 9:25 “Maka aku sujud di hadapan Tuhan 40 hari 40 malam lamanya, karena Tuhan telah berfirman akan memunahkan kamu…” Musa keluar dari perkemahan bangsa Israel dan membuat sebuah kemah pertemuan jauh dari tempat dimana mereka berada. Di kemah itu berdialoglah Musa dengan Tuhan muka dengan muka seperti dengan teman (Keluaran 33:11).

Dalam Keluaran 33:12-23 ini ada tiga bagian permohonan Musa dalam proses dialog pergumulan doa penuh air mata dan gentarnya Musa berseru kepada Tuhan demi cintanya kepada bangsa ini.
Bagian pertama, ayat 12-14 Musa berdoa memohon kepada Tuhan, meminta supaya dia boleh menjadi mediator pengantara bagi umat Israel di hadapan Tuhan. Musa meminta Tuhan bukan malaikat itu yang menyertai mereka, Musa tidak mau malaikat Tuhan, Musa memohon Tuhan kiranya yang memimpin mereka. “Tuhan, Engkau sudah memanggil aku, dan aku sudah menerima tugas panggilan ini,” kata Musa. Pada waktu Musa menerima tugas ini bukankah Tuhan berjanji akan menyertai dia? Bangsa Israel sudah berdosa, bangsa Israel sudah bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan. Di tengah naik turunnya pergumulan keluar dari tanah Mesir, di tengah segala kebesaran, keagungan, kemuliaan Tuhan, Musa melihat kegagalan dia memimpin bangsa Israel, kegagalan dia di tengah umat yang sudah menjadi seperti “kuda liar lepas dari kandang” (Keluaran 32:25). Tetapi siapa lagi yang harus berdiri di hadapan Tuhan sebagai mediator bagi mereka selain diri Musa sendiri? Tuhan tidak mengabaikan Musa, Tuhan tidak meninggalkan Musa, Tuhan tidak membuang Musa. Musa boleh menjadi pengantara bagi umat ini kepada Tuhan. Tetapi pada saat yang sama Tuhan sendiri sudah begitu murka dengan orang Israel dan menyebut mereka “bangsa ini,” this people, bukan My people. Tetapi Musa memohon kepada Tuhan, “Ingatlah bahwa bangsa ini umatMu” (Keluaran 33:13b). Pada waktu Tuhan memanggil Musa di tengah semak berapi, bukankah Tuhan menyebut mereka “umatKu”? (Keluaran 3:7). Musa berdiri di hadapan Tuhan mengingatkan kalimat ini kepada Tuhan, this people is YOUR people. Di sinilah kita menemukan keindahan yang luar biasa dari hati Musa. 

Musa menerima panggilan Tuhan, Musa menerima jabatan melayani Tuhan sebagai pemimpin, tetapi pada saat yang sama dia berlutut di hadapan Tuhan sebab dia tahu kemampuan dia tidak cukup untuk memimpin bangsa ini; kekuatan dia sendiri tidak sanggup bisa mengatur bangsa ini. Talentanya, bakatnya, apapun yang ada tidak mampu untuk memimpin bangsa ini. Musa sangat jelas dan sangat tahu dia perlu Tuhan kemana saja dia pergi. Demikian kita pun tahu hal itu. Tidak ada sejengkal di depan kita yang kita boleh jalan dan gerakkan kalau kita tidak yakin Tuhan sungguh memimpin dan menyertai kita, sekalipun dengan segala kekuatan kemampuan kita boleh memikirkan dan merencanakan apa yang ada di depan, tetap itu tidak boleh menjadi kekuatan kebanggaan kita untuk melangkah.

Jelas Musa seorang pemimpin yang hebat; jelas Musa seorang hamba Tuhan yang luar biasa. Tetapi hari itu dia berdoa dengan kalimat ini, “Tuhan, pimpin saya dan jalanlah di depan.” Tugas memimpin bangsa Israel adalah tugas yang besar, tidak sanggup dilaksakanan seorang diri dan dengan kekuatan sendiri. Kalau kita tarik ini di dalam aplikasi hidup kita masing-masing, sebagai anak-anak Tuhan setiap kita dipanggil Tuhan untuk menjadi terang dan saksi Tuhan, berdiri di dalam pelayanan dan hidup kita sebagai orang Kristen di tengah masyarakat yang sudah tidak terlalu menghormati Tuhan, kita tahu itu adalah tugas pelayanan yang tidak gampang dan tidak mudah adanya. Gereja-gereja Tuhan juga dipanggil untuk berdiri, besar atau kecil, kuat atau lemah, kaya atau miskin, tidak ada pekerjaan Tuhan yang begitu besar yang bisa dan sanggup dikerjakan oleh satu denominasi atau satu organisasi saja. Kita membutuhkan rekan kerja yang lain; kita membutuhkan gereja-gereja yang lain untuk mengerjakan sama-sama pekerjaan Tuhan yang besar. Itu yang harus menjadi spirit hidup dan pelayanan kita. Tidak ada satu gereja atau organisasi yang boleh mengatakan dia tidak perlu orang Kristen yang lain bergandengan tangan di dalam pelayanan. Mari kita melihat tugas dan pelayanan kita bersama-sama juga dengan sikap seperti itu. Tantangan yang kita hadapi di dunia begitu besar dan gereja perlu Tuhan beserta dan memimpin di depan. 
Dalam ayat 13 ini Musa berkata, “Maka sekarang jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapanMu, beritahukanlah kiranya jalanMu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau…” Musa tetap menerima tanggung jawab yang Tuhan berikan kepadanya sekalipun dia tahu dia tidak kuat dan tidak sanggup. Tetapi di tengah ketidak-sanggupan dan tidak mampunya dia, Musa mengeluarkan satu permohonan yang indah dan agung luar biasa, meminta Tuhan mengajarkan jalan-jalanNya kepadanya supaya dia boleh mengenal Tuhan. 

Musa adalah seorang nabi Tuhan. Tuhan memperkenalkan diriNya kepadanya dan berfirman kepadanya bahkan sebelum Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Dari antara semua orang yang keluar dari Mesir tentu Musa yang paling sering menerima firman Tuhan. Dari antara semua orang yang ada bersama-sama dia, tidak ada yang lebih dekat dan lebih kenal Tuhan selain Musa. Sebelum Musa memanjatkan doa ini, bukankah Tuhan sering datang berfirman dan memperkenalkan diriNya dan hukum-hukumNya kepadanya? Tetapi Musa yang “mahir” akan firman Tuhan, yang sangat mengenal suara Tuhan, Musa tetap mengatakan, “teach me Your way, o Lord.” Itu berarti setiap hari perjalanan hidup kita baru, tantangan yang kita hadapi baru, kita memerlukan firman Tuhan yang indah yang senantiasa menyegarkan rohani kita. Tidak ada orang yang boleh berkata aku sudah cukup tahu firman Tuhan sehingga aku bisa berjalan sendiri tanpa meminta Tuhan memberikan firman dan pimpinanNya. 

“Ajarkanlah jalanMu kepadaku, Tuhan, supaya aku boleh mengenalMu.” Dengan kalimat ini ada dua prinsip dari Musa yang boleh menjadi pembelajaran yang indah bagi setiap kita. Pertama, tidak ada seorang pemimpin gereja yang boleh berkata bahwa dia sudah sangat jelas dan perkataan-perkataan dia setara dengan firman Tuhan. Seorang pemimpin gereja yang berani berkata, “Apa yang kukatakan ini adalah suara Tuhan dan pimpinan Tuhan,” layak kita mengernyitkan alis dan mempertanyakan statement seperti itu. Kalau orang itu berani berkata “tidak ada orang lain yang mengenal dan mengerti kehendak Tuhan selain aku,” kalimat seperti itu adalah kalimat yang tidak pernah menyadari bahwa Tuhan yang berdaulat mengatur dan kita hanyalah hamba-hambaNya saja. Musa bukankah sudah tahu tujuan perjalanan mereka adalah menuju ke tanah perjanjian, Musa tahu dia harus pimpin mereka ke sana, tetapi kenapa Musa mengeluarkan kalimat ini? 

Biar kita bergumul dengan serius keputusan-keputusan yang harus kita ambil di depan, bijaksana yang kita perlukan di dalam dunia ini dengan membawa itu dengan bergumul bersama firman Tuhan. Pagi hari, sumber apa yang pertama kali kita cari untuk menjadi guidance bagi kita? Apakah itu berita di televisi? Surat kabar? Obrolan di facebook? Apa yang membawa engkau dan saya memikirkan apa yang harus kita ambil dan putuskan hari ini? Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh mengabaikan firman Tuhan yang harus kita baca dan renungkan setiap hari. 

Kedua, pada waktu Musa berkata, “Tuhan, beritahukanlah kiranya jalanMu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau,” ini adalah suatu spirit yang ‘teachable’ dari seorang nabi. Seseorang yang makin mengenal Tuhan dan mengenal firmanNya dengan dalam akan melahirkan jiwa yang seperti ini. Seseorang yang menempatkan diri sebagai murid yang tidak pernah selesai dan lulus dididik oleh Tuhan 
Dari doa Musa itu, Tuhan menjawab demikian, “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu” (Keluaran 33:14). Dalam bahasa aslinya Tuhan berkata, “My presence will go with you and I will give you rest.” Tuhan berjanji akan menyertai Musa dan memberikan wajahNya kepada Musa. Banyak hal yang engkau dan saya akan alami dan hadapi di dalam perjalanan hidup di depan yang kita belum tahu. Selain pimpinan Tuhan, kita juga merindukan satu keteduhan hati dan ketentraman tinggal di dalam hati kita. Hal-hal di luar yang sulit dan tidak bisa kita kontrol, jangan sampai membuat kita kehilangan hati yang tentram, yang teduh dan tenang di hadapan Tuhan karena kita tahu Tuhan yang menyertai dan memelihara kita. 

Bagian kedua dari permohonan Musa kepada Tuhan kali ini dia memohon bukan untuk dirinya sendiri tetapi dia memohon untuk umat Israel. Ayat 15, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini…” Jiwa seorang gembala yang tahu pemeliharaan dan penyertaan Tuhan atas dirinya tidak membuat dia merasa lebih hebat rohaninya daripada domba-domba yang dia gembalakan. Sedihlah hatinya kalau hanya dia yang mendapat pemeliharaan dan penyertaan Tuhan, namun umatnya tidak mendapatkan pemeliharaan dan penyertaan yang sama. Hati Musa luar biasa. Dia tidak mau menjadi seorang pemimpin yang eksklusif, yang merasa ‘super-spiritual’ paling rohani daripada yang lain, yang meng-klaim hanya dengan dia Tuhan berfirman dan dengan orang lain Tuhan tidak berfirman. Ini merupakan satu godaan yang luar biasa bagi Musa dan bagi setiap pemimpin-pemimpin spiritual dari jaman ke jaman. Tuhan berjanji kepada Musa, tetapi Musa tidak mau. 

Kita masih ingat peristiwa dalam BIlangan 11:26-29, pada waktu Roh Tuhan datang kepada 70 orang tua-tua yang dipilih Musa, lalu ada 2 orang bernama Eldad dan Medad juga mengalami kepenuhan Roh, dan di situ Yosua bereaksi mengatakan kepada Musa, “Tuanku, cegahlah mereka!” Tetapi Musa menjawab Yosua, tidak perlu bereaksi seperti itu, bahkan Musa rindu betapa bahagianya kalau saja seluruh umat Tuhan dipenuhi oleh Roh Tuhan seperti itu.

Musa ingin bahwa Tuhan tahu bahwa umat ini sungguh-sungguh ingin menjadi umat Tuhan yang sejati dan setia. Kiranya Tuhan memimpin dan menyertai mereka juga. Musa ingatkan sekali lagi, “Lord, this people is Your people. Bagaimana orang akan mengetahui bahwa Engkau sungguh memberikan kasih karunia kepada kami selain karena mereka melihat Engkau berjalan bersama kami?” 

Setelah Musa berdoa demikian, Tuhan menjawab “Aku akan melakukan apa yang engkau minta itu karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapanKu dan Aku mengenal engkau” (Keluaran 33:17). Musa tidak berhenti sampai di situ. Musa menyatakan permintaan ketiga, “Perlihatkanlah kemuliaanMu kepadaku” (Keluaran 33:18) oleh karena Musa menyadari betapa kurangnya pengenalan dia akan Tuhan. Tuhan begitu indah, begitu dalam, begitu agung dan ajaib, tidak ada yang bisa diukur dan diperbandingkan dengan Dia. Seperti Paulus yang berseru, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” (Roma 11:33). Jadilah orang Kristen miliki satu kehausan yang seperti itu, makin mengenal Tuhan dan melihat kemuliaan Tuhan. 

Permintaan Musa ini tentu tidak dapat dikabulkan Tuhan karena esensi hadirat Tuhan yang tidak mungkin bisa dialami oleh manusia. Itu sebab Tuhan mengatakan kepada Musa, “Engkau tidak tahan memandang wajahKu sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Keluaran 33:20). Namun Tuhan akan memperlihatkan bagian belakangNya kepada Musa, tetapi wajah Tuhan tidak akan dapat dilihat Musa karena begitu terang menyilaukan. Tuhan menyuruh Musa berdiri di atas sebuah bukit batu yang berlekuk, lalu ketika Tuhan lewat di depannya, Musa harus menutup muka dan tangan Tuhan melindungi Musa dari sinar yang begitu terang membutakan.

Puji Tuhan, kita yang hidup sekarang dapat mengerti akan siapa Tuhan lebih dalam dan lebih jelas karena seperti Injil Yohanes mengatakan, “Firman itu telah menjadi daging dan tinggal di antara kita dan kita telah meihat kemuliaanNya yaitu kemuliaan dari Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14). 

Siapapun yang pernah membaca kitab Injil akan takjub dan kagum akan Yesus Kristus yang begitu agung. KasihNya, karakterNya, kelembutanNya, pengampunanNya kepada orang yang berdosa dan kelompok orang yang paling dihina di dalam masyarakat, pengajaranNya yang agung dan dalam, semua memperlihatkan keindahan Tuhan selama Ia hidup di dunia. Bahkan orang-orang yang membenciNya pun tidak dapat menemukan cacat dan kesalahan padaNya. Keinginan Musa biar menggugah kita, sebagaimana dia ingin makin lebih mengenal Tuhan lebih dalam dan melihat kemuliaanNya yang agung, demikian kita yang sudah mendapatkan anugerah demi anugerah, kita juga ingin mengenal Tuhan lebih dalam dari sebelumnya.

Dalam Yohanes 14, salah satu murid Yesus bernama Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (ayat 8). Tuhan Yesus menjawab dia, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, dia telah melihat Bapa” (ayat 9). 
Allah kita bukanlah Allah yang abstrak di sana. Meskipun kita tidak sanggup bisa melihat esensi diriNya, kita bisa melihat Tuhan di dalam sifatNya, karakterNya, kemuliaan Allah dalam bentuk yang nyata itu tidak lagi menjadi abstrak karena sudah ada di dalam diri Yesus Kristus yang pernah berjalan di atas bumi ini dua ribu tahun yang lalu. Kita tidak boleh mengabaikan Injil yang kita baca dan pada waktu membacanya bukan sekedar membaca kisah dan cerita, tetapi terus merefleksi Tuhan Yesus sebagai cermin kita ingin lebih serupa dengan Dia.

Dalam Filipi 3:10 Paulus berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan di dalam penderitaanNya dimana aku menjadi serupa dengan Dia di dalam kematianNya.” Mengapa cambuk, mengapa penolakan, mengapa hinaan tidak mengecewakan rasul Paulus? Karena saya percaya pada waktu dia menerima semua itu, dia merenungkan dan merefleksi, Tuhan, sudahkah penderitaan dan hinaan ini aku terima setara dengan penerimaan Kristus? Sudahkah penderitaan dan hinaan ini dimana aku berbagian dengan penderitaan Kristus? Semakin kita ikut Dia, semakin kita ingin mengenal Dia. Kita akan berkata seperti Paulus, “Tuhan, semakin lama aku ikut Engkau, bukan saja aku bersyukur untuk setiap berkat yang aku terima, namun di dalam perjalanan hidupku aku tidak akan pernah lepaskan apabila aku tahu itu adalah bagian daripada persekutuanku dengan Kristus.”

Mari kita memiliki ‘eagerness’ rohani yang tidak boleh berhenti, karena mengenal Tuhan kita jauh lebih dalam daripada apa yang sanggup kita bisa kenal, kita ingin lebih dan lebih lagi di dalam mencintaiNya. Paulus sudah melayani begitu lama, tetapi sampai di dalam penjara dia menulis surat Filipi, dia mengeluarkan kalimat yang agung ini, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dimana aku menjadi serupa di dalam penderitaanNya” sehingga dia boleh lebih mencintai Tuhan.
Biar hari ini hati kita digugah ingin lebih mengenal Tuhan, lebih memahami kasih Tuhan, menyelami keagungan dan kemuliaan Tuhan, supaya di dalam semua itu kita tahu betapa kecil, lemah dan hinanya kita sehingga kita rindu hari demi hari kita bertumbuh semakin lebih dalam dan lebih tinggi dan lebih luas menggapai Tuhan. Kita ingin berbagian di dalam setiap perjalanan penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus, di dalam kesengsaraanNya, pelayananNya, kasihNya, pengorbananNya.(kz)