04. Desersi Iman

11/3/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (4)

Nats: 2 Timotius 1:9-18

 

Mudah sekali kita goyah, pada waktu seorang hamba Tuhan yang masih muda melayani, tahun demi tahun melayani makin melihat betapa banyak hamba Tuhan, rekan-rekan sepelayanan akhirnya satu-persatu pergi meninggalkan Tuhan. Betapa mudah kita berpikir mungkin ada yang salah di dalam pelayanan kita. Kalau kita sudah tekun begitu lama melayani dengan sungguh, dengan dedikasi dan dengan air mata, bahkan mungkin dengan curahan darah karena kesulitan dan penderitaan, kita menyaksikan tidak begitu banyak orang datang berlimpah-limpah mengikuti kebaktian. Mungkin mudah kita goyah dalam perjalanan kita mengikut Tuhan hari demi hari. Dengan kesungguhan kita mau terus cinta Tuhan; dengan etika yang jujur kita bekerja; dengan keberanian menolak segala cara tipu muslihat demi untuk mendapatkan banyak kekayaan dengan cara yang mudah. Tetapi justru di tengah-tengah cara hidup seperti itu, ternyata hidup kita tidak lebih lancar dan lebih sukses daripada orang-orang lain.

“Jangan malu, jangan takut. Atas Injil inilah aku berdiri dengan teguh dan aku yakin Tuhan akan pelihara aku sampai akhir…” Itu kalimat agung yang keluar dari rasul Paulus kepada Timotius, seorang hamba Tuhan yang masih muda melayani, yang sementara di sebelahnya ada dua hamba Tuhan muda yang lain bernama Figelus dan Hermogenes justru telah meninggalkan Tuhan. Kalimat itu mungkin menjadi sesuatu hal yang ingin meneguhkan kaki Timotius yang goyah, yang sedang dalam keadaan confused dan discouraged, dan mungkin ia sedang bertanya-tanya apa yang salah dengan pelayanan ini?

Itulah sebabnya bagi saya ini merupakan bagian yang sangat penting sekali, ketika Tuhan ingin membentuk hambaNya di dalam satu pelayanan. Pelayanan itu tidak gampang dan tidak mudah, sama seperti hidup setiap kita tidak gampang dan tidak mudah, pada waktu apa yang akan kita kerjakan itu bukan saja soal apa itu hal yang baik, bukan saja kita menjadi seorang Kristen yang berdedikasi tinggi. Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah kenapa tidak banyak orang Kristen yang berjalan di jalan ini? Mengapa tidak banyak orang Kristen yang mengambil perjalanan iman seperti ini? Dan mengapa tidak banyak orang Kristen yang berbisnis dengan cara seperti ini? Mengapa tidak banyak orang Kristen yang rela dan berani membayar harga untuk memiliki sikap hidup seperti ini? Itu menjadi pergumulan dan pertanyaan yang muncul waktu kita melihat sekitar kita dan bisa membuat kita goyah dan tersandung adanya.

Paulus juga adalah seorang hamba Tuhan yang mempunyai darah dan daging, yang ketika berada di dalam penjara bisa muncul perasaan pain of loneliness. Pain itu lebih menyakitkan lagi ketika ia sudah memberikan kepada Tuhan semua yang terindah, semua yang terbaik, namun satu-persatu orang-orang itu pergi meninggalkan Tuhan. Dan ia menyatakan kesedihan dan perasaannya itu dengan kalimat-kalimat yang kelihatan ‘exaggerated’ “engkau tahu semua orang sudah meninggalkan aku…” tentu sebenarnya tidak semua. Karena jelas tetap masih ada orang-orang yang melayani Tuhan bersama dia di tengah kesulitan, sakit dan dipenjara seperti itu. Namun kalimat ini boleh membukakan kita sesuatu yang lebih dalam, betapa lonely-nya hamba Tuhan ini; betapa sedihnya dia ketika dia sudah melakukan semua yang terbaik bagi Tuhan, namun satu-persatu orang lari meninggalkan Tuhan. Saya percaya juga banyak orang Kristen sedih dan menangis dan akhirnya mungkin hati goyah untuk terus menapaki perjalanan hidup dengan integritas di dalam setiap aspek kehidupannya ketika mereka melihat kenapa orang-orang Kristen yang lain tidak melakukan hal seperti itu. Maka mereka bisa saja tergoda, kalau begitu tidak ada gunanya mempertahankan hati yang bersih, lebih baik hidup sama seperti mereka.

Hari ini mari kita coba belajar, apa yang menjadi kekuatan bagi rasul Paulus menghadapi semua hal ini. Saya percaya kekuatan yang paling indah keluar dari kalimat ini, biarlah nanti pada harinya Tuhan kita bisa melihat semua yang kita kerjakan dan lakukan pada saat ini, yang kelihatannya tidak menghasilkan buah, yang kelihatannya tidak berhasil, yang kelihatannya orang lain lebih sukses dan lebih berhasil, jangan kita terkecoh oleh fenomena seperti itu. Kita tidak perlu mempunyai motivasi ingin membesarkan Tuhan tetapi pada saat yang sama pada waktu kita bersaksi mengenai kebesaran Tuhan, kita terlalu membesar-besarkan hal-hal yang ternyata bukanlah suatu realita. Betapa kecewa kita waktu mendengar orang Kristen bersaksi dengan satu motivasi ingin memuliakan Tuhan, tetapi sesungguhnya pada saat yang sama ia tidak membesarkan Tuhan, melainkan ia hanya membesarkan sesuatu yang tidak pada kenyataannya.

Pada waktu kita pergi bekerja, atau waktu memulai satu usaha yang baru, mungkin ada tawaran-tawaran yang bisa menggoyahkan kita, biar firman Tuhan hari ini boleh menjadi satu kekuatan bagi kita. Jangan sampai hal-hal yang kelihatan fenomena itu terlalu gampang membuat kita goyah; dan jangan juga biarkan hal-hal yang kita sudah jalani dengan cinta Tuhan sepenuh hati ikut dia, lalu kita bertanya mengapa realitanya hidup menjadi lebih susah dan lebih sulit, lalu kita menjadi kesulitan di dalam iman kita dan membuat kita goyah. Tetapi Alkitab mencatat bahwa hal itu bisa terjadi. Paling tidak, di dalam bagian ini Paulus menyebut rekan-rekan kerjanya secara kontras. Ada yang secara positif Paulus menyebut seorang bernama Onesiforus. Secara negatif Paulus menyebut nama Figelus dan Hermogenes. Dengan menyebut nama-nama mereka kepada Timotius yang sedang melayani di Efesus, di Asia Kecil, paling tidak kita tahu orang-orang ini adalah orang penting. Entah mereka adalah hamba Tuhan atau pengurus Gereja; dengan menyebut nama mereka maka semua orang akan tahu siapa mereka. Inilah fakta yang terjadi yaitu terjadi “desersi iman.”

Dalam menafsir konteks pemenjaraan Paulus waktu menulis surat ini, kapan kira-kira itu terjadi, paling tidak dalam Kisah Rasul 28 ada dicatat satu kali mengenai pemenjaraan Paulus. Dalam Kisah Rasul 28:16 Paulus tiba di Roma dan menjalani tahanan rumah selama dua tahun penuh. Pemenjaraan ini berbeda dengan pemenjaraan di surat 2 Timotius sehingga kita bisa coba menyusun kronologinya, walaupun Kisah Rasul tidak mencatat lebih daripada itu. Kita percaya sesudah menjadi tahanan rumah selama dua tahun ini, Paulus lalu dilepaskan. Dan waktu ia sudah bebas, ia pergi dan kemungkinan kembali dipenjarakan. Dalam 2 Timotius ini kita menemukan indikasi pemenjaraan ini memang berbeda dengan Kisah Rasul 28, karena dikatakan oleh Paulus di sini “darahku sudah mulai tercurah, hari-hariku sudah semakin dekat…” Dari situ kita bisa melihat betapa lonely-nya dia sebab Paulus adalah seorang yang menjaga dengan sangat indah sekali relasi persaudaraan di dalam Tuhan. Dia adalah seorang yang mempunyai rekan kerja yang banyak sekali. Paling tidak, Roma 16 mencatat 30 lebih nama yang Paulus sebut sebagai rekan-rekan kerjanya. Tetapi kenapa di dalam 2 Timotius ini ketika ia dipenjarakan, satupun nama-nama yang ada di surat Roma tidak disebutkan lagi? Maka banyak penafsir setuju Paulus dipenjarakan di sini di dalam masa kondisi ketika Nero berkuasa dan dari tahun 64-68AD Nero melakukan penganiayaan yang sangat sistematis. Salah satunya adalah Nero dengan sengaja membakar separuh dari kota Roma dan menuduh orang-orang Kristen menjadi kambing hitam penyebab kebakaran itu. Banyak orang-orang Kristen ditangkap pada waktu itu dan dilemparkan di tengah-tengah stadium untuk dijadikan mangsa binatang buas di sana. Sebagian dari mereka dijadikan lilin hidup yang dibakar untuk menerangi stadium waktu malam. Itulah sebabnya kita bisa melihat di Roma tidak ada siapa-siapa lagi. Di dalam kondisi itu banyak orang Kristen yang dahulu adalah teman-teman Paulus tidak ada lagi di sisinya. Paling tidak, sebagian sudah mati dan sebagian lagi entah kemana bersembunyi. Terlalu susah dan berat kondisi menjadi orang Kristen pada waktu itu. Tetapi ada sebagian lain lagi yang saya sebut sebagai pelaku desersi iman. Paulus menggunakan bahasa militer berkali-kali di situ: berdiri teguh, pelihara iman, jadilah seorang militer yang gagah berani, jangan menjadi pengecut. Itu kalimat-kalimat yang dipakai Paulus untuk Timotius untuk mengingatkan dia ini bukan satu peringatan yang kosong adanya.

Ada dua alasan kenapa bisa terjadi desersi iman. Alasan yang pertama adalah karena sekelompok orang yang melayani Tuhan ini lebih mengambil sikap untuk memberitakan “The Easy Gospel” versi ringan dari Injil, yaitu Injil yang tidak ada penderitaannya; Injil yang dimana orang yang ikut Tuhan akan mendapat berkat berlimpah; ikut Tuhan tidak ada penjara, dsb. Nanti di belakang suratnya Paulus akan mengatakan sebagian daripada mereka suka menyampaikan khotbah-khotbah yang menyedapkan telinga. They want to listen only what they want to hear, cuma mau dengar apa yang mereka suka saja. Maka Figelus dan Hermogenes mengambil sikap berpaling dari Paulus dan pergi meninggalkan pelayanan Injil yang menderita (2Timotius 1:15). Dan di akhir surat 2 Timotius Paulus juga menyebut orang-orang yang mengajarkan ajaran yang salah di dalam Gereja Tuhan. Dengan demikian waktu kita melihat konteks seperti ini kita akan mengerti ada kelompok-kelompok hamba Tuhan yang seperti ini, yang akhirnya meninggalkan ‘the right path’ dari perjalanan Injil yang memang tidak gampang dan tidak mudah. Mereka hanya mau memberitakan Injil yang enak didengar telinga (4:3-4).

Yang kedua, alasan desersi yang mungkin terjadi adalah sebab penderitaan yang menimpa kepada hamba Tuhan ini, rasul Paulus, mungkin bisa menjadi satu bukti bahwa dia bukan hamba Tuhan yang sejati. Sebab hamba Tuhan yang sejati mestinya Tuhan jaga dan Tuhan lindungi. Kenapa Paulus menderita? Kenapa Paulus ada di penjara? Realita yang berat di dalam hidup kita dan pelayanan kita mungkin bisa membikin iman kita goyah dan mungkin bisa membuat iman kita desersi, sebab kita rasa ikut Tuhan, jalan bersama Tuhan, ternyata Tuhan tidak memimpin dan menyertai dengan indah dan dengan baik adanya.

Paulus bicara betapa susahnya pelayanan itu tetapi sekaligus dia ingatkan Timotius jangan sampai akhirnya walaupun hanya tinggal sendiri mengerjakan biar tetap kita memelihara hubungan dengan rekan-rekan kerja yang lain. Banyak hal mungkin di dalam hidup dan pekerjaan, kita sudah berjuang untuk keluarga, kita kerja keras dengan sungguh-sungguh, berjuang untuk Tuhan kita. Sama seperti Paulus sudah memberikan hatinya seluruhnya bagi pekerjaan yang ada di situ, wajar dan lumrah kalau akhirnya dia merasa hurt, lonely dan merasa semua orang sudah meninggalkan dia. Kita belajar, jangan karena takut hurt lalu kita isolasi diri; jangan karena merasa apa yang engkau kerjakan tidak dihargai oleh anakmu, engkau jadi terluka dan sakit hati. Itu tidak boleh menjadi penghalang bagi kita, menjadi excuses kalau begitu kita tidak usah melakukan apa-apa lagi; kalau begitu percuma ikut Tuhan, dsb. Itu yang akhirnya dilakukan oleh Filegus dan Hermogenes. Hal-hal yang engkau dan saya alami terluka itu gampang dan mudah, tetapi itu tidak boleh menjadi penghalang kita terus tetap setia mengasihi Tuhan dan tetap mengerjakan apa yang harus kita lakukan karena kita tahu itu adalah hal yang benar dan memang itulah arti dari kita mencintai dan mengasihi Tuhan. Maka di pasal 3 Paulus bilang, barangsiapa yang ingin beribadah kepada Tuhan, terimalah fakta bahwa ibadah itu perlu penderitaan (3:12). Kita tidak bisa membayangkan kondisi Paulus waktu menulis surat ini adalah satu kondisi dimana Nero sedang berkuasa dan sedang melakukan penganiayaan yang besar dan berat luar biasa adanya. Sampai di Asia Kecil tempat Timotius melayani, ia mengalami hal yang sama yaitu sebagian orang Kristen mengambil cara cepat, menyingkir meninggalkan Gereja, tidak mau terbuka mengaku diri orang Kristen, dsb karena mungkin takut akan penderitaan dan kesulitan karenanya.

Satu pelayanan yang indah adalah satu pelayanan yang memerlukan rekan kerja, teman yang baik, satu kesehatian dan sehati sepikir. Suami isteri seperti itu juga, bukan? Bukan soal kesulitan begitu berat datang kepada kita; bukan berapa banyak problema yang ada; tetapi yang penting adalah pada waktu semua kesulitan itu datang, apakah kita berdua mau menanggung bersama-sama atau tidak. Yang bikin kita susah setengah mati adalah kalau itu ditanggung sendiri. Seringkali waktu pemuda jatuh cinta, mereka tidak memikirkan hal itu terlalu dalam. Yang penting pikir asal ada cinta lalu menikah pasti bahagia. Tetapi perjalanan hidup rumah tangga kita tidak hanya ditopang oleh cinta. Realita itu harus ditopang oleh banyak pilar yang ada. Kita akan menjadi sedih, kecewa dan susah luar biasa jikalau kita merasa kita mengayuh perahu itu seorang diri dan dia tidak berbagian di situ. Dan yang lebih sakit lagi kalau kita mengayuh salah arah, satu ke kanan satu ke kiri. Di situ sdr baru tahu betapa pentingnya iman yang satu di dalam pernikahan. Pada waktu mengalami persoalan kita ingin berlutut minta pertolongan dari Tuhan, yang satu coba cari cara yang segampang mungkin lepas dari kesulitan. Di situlah engkau dan saya baru tahu betapa pentingnya perjalanan iman yang sama antara suami isteri bertumbuh dengan iman yang sama. Persoalan yang kita alami akan menjadi ringan kalau dua orang itu bisa memikul sama-sama. Itulah teman; itulah sahabat.

Betapa sedih dan kasihan Paulus karena orang-orang yang meninggalkan dia, namun waktu menyebut nama Onesiforus, Paulus mengatakan betapa kehadirannya menyegarkan jiwaku. Itu seperti orang itu datang bawa air kelapa yang sejuk dan menyegarkan di hari yang terik. Itu yang Paulus gambarkan mengenai Onesiforus. Ayat 16-18 memberikan sedikit indikasi mengenai apa yang sedang terjadi waktu itu. Paulus mengatakan, “Kiranya Tuhan mengaruniakan love, mercy dan blessing kepada the household of Onesiforus, yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. Ketika di Roma, ia berusaha mencariku dengan susah payah dan akhirnya ketemu aku. Kenapa Paulus bilang ‘kiranya Tuhan membalas ia pada hariNya’? Kenapa tidak sekarang juga? Apakah berarti Onesiforus sudah mati? Bagaimana orang yang baik, yang cinta Tuhan, sudah mati?

Ada dua kemungkinan penafsiran mengenai hal ini. Yang pertama adalah akibat melayani akhirnya ia hilang di dalam pelayanan. Itu sebab kenapa Paulus memakai kalimat “May the Lord have mercy on his family…” karena Paulus bisa merasakan betapa sedihnya hati keluarga Onesiforus. Kita bisa membayangkan kedatangannya mencari Paulus di penjara di kota Roma bukan perjalanan yang mudah. Sesudah ketemu Paulus mungkin Onesiforus pulang dan dalam perjalanan mungkin ia ditangkap atau dibunuh, tidak ada kabar sama sekali. Itu sebab penafsir memperkirakan kalimat, “Tuhan akan menunjukkan rahmatNya kepadanya pada hariNya…” kemungkinan karena hal itu. Penafsiran yang kedua, Onesiforus sudah tua dan meninggal dunia. Kita bisa melihat bagaimana Paulus di tengah pelayanan ada perasaan yang sedih, ada rasa terluka, ada rasa kesepian, dan orang-orang yang begitu baik di dalam pelayanan sudah tidak ada lagi, orang-orang yang tadinya kelihatan cinta Tuhan ternyata tidak berekor panjang dan langgeng dan bisa menjadi contoh bagi orang-orang Kristen generasi yang selanjutnya, tetapi justru orang-orang yang tadinya kelihatan begitu baik akhirnya mempermalukan nama Tuhan.

Maka dua contoh ini dipakai oleh Paulus untuk menjadi kekuatan kepada Timotius, mengingatkan dia jangan ikut jejak Figelus dan Hermogenes, tetapi ikutlah jejak Onesiforus yang mendedikasikan diri di dalam hidupnya, yang mengerti arti bagaimana orang-orang Kristen yang lain yang mengalami kesulitan dan penderitaan itu memerlukan seorang rekan dan sahabat di dekatnya.

Itu sebab melalui firman Tuhan ini saya mengajak sdr boleh mengambil sikap di wilayah mana kita akan menjadi orang Kristen, sebagai seorang Onesiforus-kah yang mungkin tidak mengerjakan banyak hal namun menjadi satu kesegaran di dalam pelayanan Tuhan; yang mungkin hanya hari demi hari datang mengunjungi orang-orang yang kesepian, yang menderita sakit, yang dalam kesulitan hati dan imannya, kita ada di situ dan kita boleh menjadi teman dan sahabat yang memberi kekuatan dan kesegaran kepadanya. Atau seseorang yang tidak serta-merta di tengah perjalanan terlalu cepat dan terlalu gampang berhenti dari hal yang ia kerjakan dan lakukan. Maka bagian ini menjadi satu refleksi bagi kita masing-masing, kita boleh menjadi seorang yang memberi perhatian yang konsisten, lama dan kehadiran kita boleh menjadi satu kesegaran orang-orang yang dilayani.

Kita menyaksikan di tengah perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan ada orang-orang Kristen yang walaupun susah dan sulit ikut Tuhan, ia tidak pernah undur dan tidak pernah pergi dan tidak pernah kecewa dan tidak merasa Tuhan tidak baik kepada mereka. Apapun yang terjadi di dalam hidup mereka, kita saksikan mereka tidak pernah lalai mengerjakan apa yang menjadi tugas dan panggilannya sampai ajal menjemputnya. Kita bersyukur kita boleh melihat, kita boleh mendengar, kita boleh menyaksikan banyak contoh-contoh seperti ini dalam hidup kita. Dengan cucuran air mata kita juga mungkin melihat begitu banyak orang Kristen yang akhirnya meninggalkan Tuhan, yang kecewa mengikut Tuhan, lari dan pergi meninggalkan Gereja. Dan akhirnya mereka tidak menjadi anak-anak Tuhan yang rela dan berani memikul tugas dan panggilan yang berat oleh sebab terlalu gampang dan terlalu mudah dikecewakan oleh hal-hal yang sepele di dalam hidup ini. Biar pada waktu kita menjadi orang Kristen yang ada di pekerjaan, di keluarga, di manapun kita berada, kita boleh menjadi rekan yang bersatu-padu dengan orang-orang yang dekat, mengerjakan dengan indah pekerjaan Tuhan yang ada di depan kita. Biar Tuhan pimpin setiap kita bersaksi melalui hidup kita, Tuhan beri ketekunan dan keberanian mengasihi Tuhan sampai akhir.(kz)