05. DAUD

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Tuhan berkata “Tidak” (5)

1 Tawarikh 17:1-3

Pdt. Effendi Susanto STh.

26/12/2010

 

Daud berkata, “Lihatlah aku ini diam di dalam rumah dari kayu aras padahal Tabut Perjanjian Tuhan itu ada di bawah tenda.” Lalu berkatalah Natan kepada Daud, “Lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu sebab Allah menyertai engkau.” Tetapi pada malam itu juga datanglah firman Tuhan kepada nabi Natan (1 Tawarikh 17:1-3). Dan di dalam firman itu dua hal yang penting muncul. Pertama, Tuhan memberikan pengertian konsep yang jelas: Dia tidak tinggal di dalam rumah buatan manusia sebab Dia lebih besar daripada segala sesuatu. Tetapi alasan yang kedua muncul di dalam 1 Tawarikh 22:6-8, Daud berkata kepada Salomo, “Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama Tuhan, Allahku, tetapi firman Tuhan datang kepadaku, demikian: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi namaKu sebab telah kau tumpahkan sangat banyak darah di hadapanKu…”

 

Kalimat dari nabi Natan yang menggugah hati saya dan kalimat ini penting sekali mengajak kita memikirkan kembali, mengkoreksi kembali, membangkitkan hati kita kembali kepada Tuhan: Do whatever you have in mind. Lakukanlah apa yang dipandang baik dari hatimu.

Setiap akhir tahun saya juga terus bertanya di dalam hati bagaimana dengan sikapku, bagaimana dengan motivasiku, bagaimana dengan apa yang saya kerjakan melayani Tuhan? Apa yang menjadi ‘passion’ di dalam diriku? Apa yang menjadi dorongan yang paling besar dalam hatiku dan hatimu? Sudahkah aku sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dan melayani Tuhan? Apakah hati pelayananku itu tidak berubah? Setiap kali kalimat-kalimat pertanyaan ini datang di dalam hati saya menjadi satu pertanyaan yang mengajak saya untuk memikirkan kembali panggilan Tuhan di dalam pelayanan saya, mengapa saya menjadi hamba Tuhan. Apakah sebagai hamba Tuhan saya sudah sungguh-sungguh menjadi seorang hamba Tuhan yang Tuhan memang inginkan? Hal ini menjadi penting luar biasa.

Mungkin sekarang ini persepsi orang agak negatif mengenai orang yang mau jadi hamba Tuhan karena banyak orang berpikir menjadi hamba Tuhan sekarang berarti pasti motivasi hidupnya akan lebih terjamin dan lebih kaya daripada orang lain. Tetapi kalau engkau tanya kepada hati saya sejujurnya waktu dua puluh lima tahun yang lalu mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan, saya bersyukur kepada Tuhan tidak ada keinginan dan motivasi seperti itu. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa pada waktu keputusan mau menjadi hamba Tuhan, kerinduan dan kecintaan untuk terus mau melayani Tuhan, mempersiapkan khotbah dengan baik, itu tetap ada dan terus ada di dalam hati saya.

Keputusan menjadi hamba Tuhan dua puluh lima tahun yang lalu itu bukan keputusan yang gampang bagi saya. Saya masih ingat itu adalah pergumulan hampir satu tahun lebih lamanya. Waktu SMA itu adalah moment-moment saya menggumuli firman Tuhan dan di masa remaja itu keinginan saya satu yaitu bagaimana membuktikan Alkitab itu benar dan tidak berlawanan dengan science, sehingga saya suka sekali membaca buku-buku yang berhubungan dengan hal-hal seperti itu. Memang waktu kelas tiga SMA ada terbersit kerinduan mau menjadi hamba Tuhan tetapi itu saya pendam dalam-dalam karena sebagai anak pertama dan papa saya sudah menderita kanker sejak umur 44 tahun saya menekan perasaan itu karena tidak mungkin. Saya tahu saya harus selesaikan sekolah menjadi tulang punggung bagi keluarga. Tetapi suatu hari Tuhan memanggil saya menjadi hambaNya dan hari itu saya mempersembahkan diri di hadapanNya. Beberapa waktu setelah itu, saya memikirkan dan ingin lari dari panggilan itu karena terlalu banyak alasan tidak mungkin. Waktu itu saya berjalan sendiri di dalam kegelapan, saya bilang sama Tuhan, “Maaf, Tuhan, saya tidak jadi… saya tidak mungkin jadi hambaMu.” Waktu sedang berkata demikian sama Tuhan, tiba-tiba sebuah Metro Mini entah dari mana menabrak saya. Saya terjatuh dan dengan gemetar mencari kacamata minus 6 yang terlempar. Sampai di rumah saya berlutut dan bergumul sampai jam dua pagi saya baru akhirnya berkata, “Ya, Tuhan, saya serahkan diriku jadi hambaMu.” Dan itu keputusan yang tidak saya tarik lagi seumur hidupku. Kenapa? Karena waktu malam itu ditabrak Metro Mini, pikiran yang muncul begitu sederhana, menjadi satu warning dari Tuhan, “It is very simple and very easy bagiKu untuk ambil nyawamu. Kalau saat itu engkau mati ditabrak, apa yang menjadi cita-citamu, keinginanmu di depan, tidak ada arti dan gunanya lagi. Siapa yang pegang hidupmu? Itu yang menjadi lebih penting. Kepada siapa engkau menaruh hidupmu dan mempercayakan hidupmu, itu jauh lebih penting daripada cita-citamu, keinginan hatimu, pengharapanmu terhadap hidup itu, sedangkan hidup itu sendiri adalah hidup yang tidak mungkin engkau genggam dan pegang.”

Tetapi pergumulan setelah keputusan itu tidak gampang. Itu adalah awal permulaan badai. Papa saya begitu marah dan tidak setuju dengan keputusan saya. Meskipun dia adalah seorang majelis gereja, dia tidak rela anaknya sendiri menjadi hamba Tuhan. Mau makan apa nanti kalau jadi hamba Tuhan? Akhirnya sampai keluar ultimatum, “Kalau kamu tetap dengan keputusan itu, mulai hari ini saya bukan papamu lagi.” Sampai setahun sekolah di SAAT, tidak pernah papa saya bicara menelpon.

Waktu saya mengambil keputusan itu, hanya ada satu keinginan saya yaitu menjadikan hidupku ini indah dan berarti bagi Tuhan. Apa artinya dan gunanya saya merencanakan segala sesuatu untuk hidupku kalau hidup itu sendiri tidak dijadikan sebagai satu hidup yang dipersembahkan bagi Dia yang memimpin dan memegang hidupku? Sejak dari itu, saya masuk ke SAAT dan mempersiapkan diri, mewujudkan apa yang menjadi kerinduan saya bagaimana bisa membawa orang khususnya mereka yang mengalami kesulitan berkaitan dengan iman Kristen.

Saat mempersiapkan khotbah ini, kalimat nabi Natan sangat menyentuh hati saya. Dan saya harap setiap kita boleh memasuki tahun yang baru, renungkan kalimat ini, “Do what thought in your heart.” Kalimat itu begitu dalam bagi saya. Itulah yang membedakan antara ide dengan passion; itulah yang membedakan antara impulse dengan passion.

Ada orang mau jadi hamba Tuhan, setiap kali mendengar keputusan itu saya bersyukur tetapi sekaligus mengingatkan dia, hati-hati mengambil keputusan seperti itu. Jangan sampai itu hanya sebagai impulse di dalam hatimu. Apa artinya impulse? Impulse adalah suatu ide yang besar, suatu keinginan yang besar, tetapi gampang sekali hilang dengan berlalunya waktu sebab impulse tidak memiliki passion yang persistent, yang perlu ada kesabaran, ketahanan di dalamnya. Banyak sekali keputusan-keputusan kita ambil berdasarkan impulse, bukan? Ada semangat, ada keinginan, meledak, tidak berapa lama pelan-pelan hilang. Itu impulse. Dengarkan kalimat Natan, “Do thought in your heart.” Ada ‘thought in heart’ dan ada ‘do.’ Thought itu bukan ada di dalam dunia abstrak tetapi thought itu ada di dalam hati, menjadikannya passion. Apa itu passion? Passion is the drive to make thought yang abstrak itu dimaterialisasi di dalam hidupmu. Passion menjadi drive, dorongan yang membuat ide yang abstrak di dalam hatimu menjadi terwujud di dalam hidupmu. Dari kalimatnya kita bisa melihat nabi Natan tahu keinginan raja Daud membangun rumah Allah bukan hanya sampai di ide saja, berarti ini sesuatu yang dia diskusikan dengan Natan hari itu tetapi menjadi passion Daud sekian lama, itu menjadi keinginan hatinya. Itu sebab di sini, waktu kalimat itu keluar dari diri Daud, kita lihat Natan sebagai nabi pun setuju. “Do thought in your heart.” Mulai segala sesuatu pasti berangkat dari ide, tetapi ide hanya akan menjadi ‘panas-panas tahi ayam’ di dalam diri kita kalau tidak berkembang menjadi passion. Saya harap sdr memegang semua prinsip ini menjadi hal yang penting bagi dirimu.

Ada lima hal sdr harus pegang baik-baik.

Pertama, ide. Ide itu abstrak, ide itu indah dan besar, dan tidak ada sesuatu berjalan tanpa hal ini.

Tetapi yang kedua, ide tidak bisa jalan kalau tidak ada passion. Banyak orang suka datang kepada saya untuk kasih ide, “Pak, bagaimana kalau di gereja kita bikin acara ini dan itu…” Setiap kali ada orang seperti itu, saya selalu bilang, “Coba lakukan sendiri…” Dari situ saya ingin menilai apakah itu benar-benar passion dia atau tidak. Kalau dia cuma cengar-cengir berarti yang ada di kepalanya hanya ide-ide saja.

Ketiga, passion akan berbeda dengan mimpi kosong sebab di sini ada berkaitan dengan faktor resources dan kemampuan. Daud mampu membangun Bait Allah? Mampu. Daud ada uang dan resources? Ada. Sdr mau melakukan sesuatu untuk dirimu, sdr mau bekerja bagi Tuhan, apapun pekerjaan itu, jangan lupakan prinsip ini. Walaupun sdr punya banyak ide, walaupun sdr begitu passion, tetapi jikalau sdr tidak punya kemampuan dan tidak punya resources, hal itu tidak jalan.

Keempat, ada timing dan proses waktu. Kalau sdr baca, Bait Allah itu baru terwujud setelah dua puluh tahun. Dan jangan lupa, Daud menghabiskan masa hidupnya mengumpulkan material bahan bangunan dan segala yang diperlukan. Jadi ada dua aspek di sini: timing dan proses waktu. Banyak hal kita punya ide, banyak hal kita punya cita-cita, sdr mau mengerjakan sesuatu untuk hidupmu, untuk pelayananmu, dsb tetapi semua itu tidak bisa terealisir kalau sdr tidak punya komitmen dan passion untuk mengerjakannya. Kalau kita sudah ada passion, mari kita coba melihat apakah kita sanggup atau tidak dan tetap kita harus memikirkan ada timing dan proses waktu. Timing itu sulit dan tidak bisa diilmiahkan. Timing itu berbeda dengan proses waktu, timing adalah moment. Sdr dan saya akan setuju, banyak hal bisa tiba-tiba terjadi di dalam hidupmu memang di dalam satu moment tetapi setelah satu moment, ada proses waktu yang panjang yang menuntut konsistensi dan kesetiaan menjalaninya.

Kelima, kalimat dari Natan itu kita pegang sebagai orang percaya, “…if God bless you.” For God is with you, jikalau Allah menyertaimu.

 

Selama seorang nabi mendapatkan wahyu Tuhan, mereka berada di dalam posisi segala yang keluar dari mulutnya pasti tidak akan bersalah sekali pun manusia penuh dengan kelemahan. Ketika wahyu Tuhan datang, wahyu itu adalah firman Tuhan. Tetapi ketika seorang nabi tidak mendapatkan wahyu di dalam hidup kesehari-hariannya, mungkin nabi itu bisa salah di dalam perkataannya.

Dalam hal ini nabi Natan salah.

Itu sebab pada malam harinya Tuhan datang mengkoreksi dia, karena Natan sudah keburu bicara kepada Daud, “Lakukan sesuai dengan passion di hatimu. Tuhan menyertai engkau.” Malamnya Tuhan bilang, “Tidak.” Di satu pihak tidak salah Natan bilang seperti itu, sebab Daud punya kemampuan, dia seorang raja, dia memiliki resources, dia bisa. Dan bukan itu saja, dia punya passion, dia punya keinginan akan hal itu, dia punya pikiran yang masak-masak memikirkan akan hal itu. Itu sebab Natan melihat semua itu ada di dalam diri Daud, maka dia percaya Tuhan akan menyertai dia. Tetapi malam itu Tuhan bilang, “Tidak.” Ini merupakan hal yang mengejutkan dan kita perlu belajar dari bagian ini. Kenapa Tuhan berkata seperti itu?

Daud apakah berhenti waktu Tuhan mengatakan “tidak”? Dalam 1 Tawarikh 28:12 Daud tetap mempersiapkan segala sesuatu seturut dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Dan kita menemukan waktu Salomo akan membangun Bait Allah itu, maka segala yang ada di dalam pikiran Salomo juga dikeluarkan dan diwujudkan. Waktu Tuhan bilang ‘tidak,’ Daud belajar menerima bahwa dia bukan orang yang tepat untuk pekerjaan membangun Bait Allah. Ini tidak ada kaitannya dengan cinta Daud kepada Tuhan; tidak ada persoalan dengan hati Daud yang passion mau mengerjakan pekerjaan Tuhan. Ini tidak menyebabkan dia undur mempersiapkan segala sesuatu sampai akhir hidupnya untuk pekerjaan Tuhan. Terbalik dengan kita, bukan? Waktu gagal dan melihat tidak ada kemungkinan, apa yang kita lakukan? “Yah, wis… sudah.” Kita pergi, kita tinggalkan. Tetapi kalau sdr baca semua sampai akhir Daud siapkan semua baik-baik.

Di tahun ini mungkin ada ide, ada keinginan, ada cita-cita bagi hidupmu yang tidak tercapai, bukan karena you tidak mampu, tetapi mungkin you kurang passion enough. Gampang di tengah jalan kita berhenti dan gampang di tengah jalan karena ada hambatan, kita tidak mengerjakannya lagi atau kita pikir karena toh nanti kita tidak menikmati hasilnya, atau kita tidak mengerjakannya karena kita sudah tidak merasa berada di posisi itu, akhirnya kita kehilangan aspek yang penting ini. Tahun ini akan segera lewat tetapi segala kalimat dari firman Tuhan ini mengingatkan kita sekalian: genapkan, selesaikan, lakukan segala sesuatu yang ada di dalam hatimu. Kita punya ide, kita punya pengharapan terhadap sesuatu di dalam hidup kita, namun saya juga akan bertanya kepadamu hari ini: apa ide, apa pengharapan, apa keinginanmu, apa passionmu bagi Tuhan Allah yang sudah mengasihi dan mencintaimu? Mari kita belajar dikuatkan dan digerakkan kembali oleh firman Tuhan.

Tuhan bilang kepada Daud, “Tidak. Aku tidak berkenan engkau membangun BaitKu karena tanganmu penuh penumpahan darah.” Daud mengerti, mengerti, mengerti. Daud tidak kecewa, Daud tidak marah, Daud tidak patah semangat, Daud tidak berhenti. Itu sebab satu-satunya tempat dimana dia tidak akan menumpahkan darah adalah bukit Moria di Yerusalem, tanah yang dia tidak rebut dengan paksa, bahkan walaupun Ornan, pemiliknya memberikan tanah itu kepada Daud, tetap Daud tidak mau. Dia membeli tanah di bukit Moria itu dan membayar penuh tempat itu menjadi milik Tuhan, tidak merebut paksa, tidak memakai kekerasan dan kekuatan (1 Tawarikh 21:25).

Daud mempersiapkan banyak hal bagi Bait Allah, dari tempat-tempat dimana dia menang dalam peperangan, Daud mengumpulkan emas, perak dan barang-barang berharga. Lalu sampai di 1 Tawarikh 21 terjadi satu hal yang menyedihkan, Daud tergoda dan minta panglima Yoab untuk menghitung semua harta dan pasukan yang dia punya. Hal itu jahat di mata Tuhan sehingga Tuhan marah. Daud mengaku salah dan mengaku bahwa perbuatannya sangat bodoh luar biasa (ayat 8). Tergoda sedikit melihat hasil usaha yang sudah diberkati Tuhan, mau ambil sepenuhnya nama bagi diri sendiri. Di tengah kesuksesan seseorang selalu ada warning, di tengah satu keberhasilan seorang hamba Tuhan tetap selalu ada warning di situ. Daud bilang, “I’m so stupid, so foolish!” Semua achievement dia mau jadi kebanggaan diri sendiri, Tuhan tegur dan Tuhan hukum dia dengan memberikan tulah sampar kepada orang Israel. Maka di situlah Daud membangun mezbah dan membawa persembahan bagi Tuhan di bukit Moria, di tempat dimana tulah Tuhan tidak terjadi, di tempat dimana tidak ada darah tertumpah, di situlah Daud memutuskan tempat itu untuk membangun rumah Tuhan. Daud sadar akan kesalahannya. Dia mencintai dan menghargai Tuhan. Bait Allah, Bait yang kudus, Bait yang Tuhan mau dikerjakan dan dilakukan tanpa ada satu hal yang melanggar prinsip yang Tuhan inginkan supaya itu menjadi tempat kudus bagi Tuhan. Maka Daud siapkan apa yang penting bagi segala pekerjaan Tuhan.

Dalam 1 Tawarikh 29:1, Daud berkata, “Pekerjaan ini besar… sebab bukanlah untuk manusia bait itu, melainkan untuk Tuhan Allah.” Besar boleh kita terjemahkan, ‘this is huge.’ Besar bisa juga diterjemahkan, ‘this is great.’ Huge berarti projeknya memang besar, tetapi great berarti ini adalah hal yang paling mulia dikerjakan. Daud sadar akan hal itu karena dia tahu semua itu dikerjakan buat Tuhan.

Mari kita yang melayani Tuhan sama-sama, mari kita yang hidup sebagai anak Tuhan sama-sama, kita memiliki hati yang mau untuk sesuatu yang indah bagi Tuhan. Kita cintai, hargai pekerjaan pelayanan itu sebab itu adalah hal yang mulia yang Tuhan beri kepada kita. Dan pada waktu kadang-kadang Tuhan berkata ‘tidak’ kepada sesuatu yang engkau inginkan, rencanakan dan engkau sudah pikirkan dan mampu lakukan untuk hidupmu, mari kita tidak lihat itu sebagai satu kegagalan final di dalam hidup kita tetapi kita berteduh dan belajar memikirkan apa yang Tuhan mau di situ. Tidak berarti kita tidak mencapai akan hal itu berarti kita gagal dalam hidup ini, tetapi ‘tidak’-nya Tuhan itu berarti mungkin tidak semua kita sanggup kerjakan dengan tangan kita sendiri. Itu sebab Tuhan hanya bilang kepada Daud, kumpulkan, siapkan, selesai. Itu tanggung jawabmu. Dan jangan lupakan prinsip yang terakhir dan terpenting ini: if God bless you. If God bless you… (kz)