03. Bertindak dengan Cara Sendiri

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 10/3/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (3)

Nats: Keluaran 2:11-22

 

Pernahkah terbersit dalam pikiran sdr ingin membunuh orang? Saya percaya, sampai hari ini mungkin kita tidak pernah punya pikiran dan keinginan untuk membunuh orang. Dan saya harap pikiran dan keinginan seperti itu tidak akan pernah muncul dan ada di dalam diri kita, apalagi sampai melakukan tindakan seperti itu. Tetapi mungkin pikiran itu akan muncul jikalau sdr sebagai seorang ayah atau seorang ibu mengalami peristiwa dimana anak gadismu satu-satunya diculik, diperkosa dan dibunuh dengan sadis oleh segerombolan pemuda pada waktu dia pulang dari sekolah. Akankah terbersit dalam pikiran sdr kalau akhirnya bertemu dengan pemuda-pemuda itu sdr akan bunuh mereka? Kita mungkin tidak pernah berpikir untuk membunuh orang sampai di depan mata kita menyaksikan orang tua kita diikat dan dipukuli setengah mati oleh perampok yang datang ke rumah kita. Pada waktu kita melihat ketidak-adilan terjadi, pada waktu kita melihat kejahatan dilakukan orang bersenjata terhadap orang lemah, kita bertindak untuk melindungi orang yang diperlakukan tidak adil; kita bertindak untuk mencegah kejahatan terjadi, itu adalah hal yang sepatutnya dan selayaknya kita lakukan. Kadang-kadang kita tidak mungkin bisa berdiam diridalam situasi seperti itu.

Di dalam sepanjang sejarah kita menemukan ada dua macam penafsiran yang muncul dari hamba-hamba Tuhan yang menafsir tindakan Musa membunuh di bagian ini. Bapa Gereja Tertullian membela tindakan Musa, menganggap tindakan Musa membunuh ini tidak boleh dikategorikan sebagai tindakan salah. Bapa Reformator John Calvin juga membela Musa, menganggap itu adalah satu tindakan yang memang di tengah melihat ketidak-adilan dan tidak ada cara lain selain cara itu dia bertindak, Calvin juga tidak menganggap Musa bersalah dalam hal ini. Tetapi di pihak lain ada orang yang berpendapat, apapun alasannya, membunuh tetap membunuh. Kalaupun saya tanyakan kepada sdr, pasti juga ada split dua pendapat pro dan kontra terhadap Musa di sini.

Kalau kita membaca kisah ini dengan teliti, kita melihat tidak ada premeditative dari tindakan Musa membunuh ini. Ditinjau dari sudut hukum, Musa tidak berencana untuk membunuh orang Mesir itu. Lalu ditinjau dari sudut murni pembunuhan, terlepas dari soal itu orang Yahudi atau orang Mesir, jangan lupa, Musa adalah seorang pangeran sedangkan orang Mesir itu adalah pegawai bawahan. Persoalan yang muncul adalah persoalan etnis di situ karena motif Musa membunuh adalah untuk membela orang Yahudi. Tetapi jikalau itu adalah suatu pembunuhan yang murni dilakukan kepada seorang yang memang berbuat salah, tindakan Musa secara hukum Mesir pada waktu itu Musa tidak akan diperlakukan apa-apa karena dia adalah seorang pangeran dan yang dia bunuh hanya orang biasa.

Jika sdr melihat ada orang sedang dipukul setengah mati, apakah kita akan membiarkannya? Maka dengan mengerti konteks situasinya seperti ini paling tidak kita bisa memahami tindakan Musa membunuh orang Mesir itu.

Tetapi kalau kita membaca bagian Kejadian 2 ini kita akan menemukan persoalan sebenarnya bukan di dalam motif, bukan di dalam hati tetapi persoalan adalah kepada tindakan Musa yang melihat itu adalah satu-satunya solusi bagi persoalan yang dihadapinya. Dan akibatnya dia mengambil tindakan dengan keputusan sendiri, main hakim sendiri, itu menjadi problemnya. Apakah tindakan membunuh orang Mesir itu adalah tindakan satu-satunya? Ingatkan, dia seorang pangeran. Kalau pangeran menyuruh mandor itu tidak memukul, tentu mandor itu akan menurut dan menaatinya. Musa boleh marah, Musa boleh bereaksi, tetapi kemarahan Musa yang meluap-luap itu tetap tidak menjadi satu pembenaran Musa bertindak seperti itu.

Kedua, Musa kita bisa lihat sebagai satu tipologi atau model bagaimana nantinya Tuhan akan membawa umat manusia keluar dari perbudakan dosa seperti Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Tuhan tidak berkenan dengan cara Musa sebab bukan dengan cara manusia, bukan dengan pikiran manusia, dan bukan dengan waktu manusia Tuhan mau bekerja untuk melepaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir. Kita juga akan menyaksikan nanti sampai di Perjanjian Baru prinsip yang diangkat oleh rasul Paulus kejahatan tidak mungkin dikalahkah oleh kejahatan; kalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21). Sesuatu yang salah dan jahat terus-menerus dilawan dengan kejahatan, pembalasan demdam yang dilakukan manusia kepada manusia yang lain selalu merupakan mata rantai yang tidak mungkin bisa memiliki keseimbangan di dalam keadilan kita.

Ayat 11 “Pada waktu itu ketika Musa telah dewasa…” kalau kita merujuk ayat ini kepada Kisah Rasul 7:23 maka kita akan tahu pada waktu itu usia Musa sudah 40 tahun. Selama itu ia tinggal di istana dan menikmati segala fasilitas sebagai anak dari puteri Firaun. Kemudian selanjutnya muncul kalimat ini, “…ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka…” Kata ‘keluar’ atau “yatza” yang dipakai adalah kata “exodus” yang menjadi judul dari kitab Keluaran ini. Di sini menunjukkan Alkitab mempunyai satu tema penting muncul dari kata ini. Musa sebelum membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, ia terlebih dahulu harus keluar dari kenyamanan kekayaan dan kenikmatan dari istana Mesir. Surat Ibrani tidak mencatat tindakan Musa ini, tetapi penulis Ibrani dengan peka menekankan aspek yang lain di dalam tindakan Musa ini dengan kalimat, “Karena iman maka Musa setelah dewasa menolak disebut anak puteri Firaun karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah…” (Ibrani 11:24-25). Penulis Ibrani juga mencatat kata penting di sini “pandangannya.” Bandingkan dengan Keluaran 2:11 di atas, “Musa keluar… dan melihat…” itu adalah turning point di dalam hidup seseorang. Musa keluar melihat, itu bukan suatu perjalanan tamasya; itu bukan pengalaman untuk dia bersukacita melihat satu tempat. Itu adalah satu pengalaman perjalanan yang merubah hidupnya selama-lamanya.

Ada seorang dokter kandungan yang terkenal dari Australia pergi jalan-jalan ke satu daerah di Afrika dan dia melihat begitu banyak anak perempuan yang masih sangat muda sudah dipaksa untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dan akhirnya melahirkan bayi pada usia remaja, umur 11-12 tahun. Kematian bayi dan ibu muda begitu besar di sana. Melihat hal itu, dokter kandungan ini tinggal di sana belasan tahun untuk menolong anak-anak gadis ini.

Kedua, Musa keluar dan melihat, penulis Ibrani mengatakan ini adalah pandangan yang melihat dengan hati yang tersentuh adanya. Musa bukan sekedar melihat, tetapi Musa melihat dengan emosi, melihat dengan mata terbuka, melihat dengan satu sikap ‘aku perlu mengambil satu tindakan.’ Walaupun itu adalah tindakan dari satu ekses kemarahan yang meluap, tetapi kita harus menghargai dan melihatnya seperti yang penulis Ibrani melihat, itu adalah satu tindakan yang membuat dia kehilangan segala-galanya dan dia tidak gain apa-apa daripada semua itu.

Banyak hasil dokumentari mencatat penggalian dari Mesir kuno memperlihatkan betapa megah dan majunya Mesir pada waktu itu. Musa mengecap dan menikmati semua fasilitas istana Mesir dan mengecap pendidikan yang sangat progresif di sana. Semua itu wajar membuat Musa berpikir dia lebih tinggi, lebih agung, lebih mulia dan semua orang Ibrani yang menjadi budak itu sudah sepatutnya menerima perlakuan dan penghinaan seperti itu dari orang Mesir. Bagaimana semua itu berubah. Saya percaya ada satu moment di dalam hidupnya yang membuat Musa berpikir, siapa saya? Tetapi keputusan untuk keluar dan melihat, keberanian untuk bertindak setelah melihat situasi itu dan mau mengidentifikasi hidupnya bersama bangsa yang menderita ini, dia mendapat apa? Sebetulnya bukan saja dia tidak mendapat apa-apa, tetapi dia kehilangan segala-galanya. Tidak ada keuntungan apapun dia dapat dari semua itu. Itulah yang penulis Ibrani katakan sebagai perjalanan iman adanya.

Kadang-kadang Tuhan menggoyahkan comfort zone yang melingkupi hidup kita, kadang-kadang kita perlu dipanggil keluar dari situasi yang kita rasa aman dan menyenangkan sampai pada satu pengujian dimana Tuhan menginginkan kita belajar mana yang lebih penting, mana yang lebih indah dan mana yang lebih berarti di dalam hidup ini. Adakalanya pada waktu kita menghadapi kesulitan di dalam keluarga, sakit-penyakit, kesulitan kita mendapat pekerjaan, kesulitan kita mendapat uang, justru di dalamnya kita dilatih dan dididik oleh Tuhan untuk surrender kepadaNya dan berkata memang kita tidak bisa bersandar kepada kekayaan dan uang semata-mata.

“Dilihatnya seorang Mesir memukul seorang Ibrani… Ia menoleh ke sana-sini, dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir…” (ayat 12). Kita bisa menafsir ayat ini secara hurufiah Musa ingin melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi. Berarti dia tahu tindakan itu salah adanya. Ketika tidak ada yang melihat maka dia bunuh orang itu dan disembunyikan di dalam pasir. Tetapi kita juga bisa menafsir kalimat ini dengan satu makna teologis yang lebih dalam kalau kita bandingkan dengan Yesaya 59:16 “Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil dan tidak ada yang membela…” Musa ingin bertindak sebagai seorang penyelamat, padahal Yesaya ingin menekankan tidak ada orang lain kecuali Tuhan yang akan bertindak. Yesaya bilang tidak ada orang yang bisa tolong, itulah sebabnya Allah yang menjadi Penolong dan Juruselamat. Dengan konsep ini maka kita mengerti mengapa Tuhan tidak mengijinkan dan akhirnya Musa pergi dan lari dan harus tunggu sampai 40 tahun di padang gurun baru akhirnya Tuhan mengutus dia untuk kembali ke Mesir. Di balik itu ada satu motif teologi yang penting: tidak ada kemungkinan dengan kita berbuat sesuatu sebagai jasa kita untuk mendapatkan keselamatan. Dengan cara seperti ini maka Musa belajar hanya dengan kekuatan Tuhan, God is the only Saviour, Allah adalah Juruselamat satu-satunya; Musa hanya sebagai alat dan bukan sebagai juruselamat itu sendiri. Sampai kepada Perjanjian Baru maka motif teologi ini makin dalam yaitu tidak ada kemungkinan kita bisa lepas dari dosa, tidak da kemungkinan kita bisa lepas dari ketidak-adilan yang dilakukan oleh dosa, kecuali kita kembali kepada Tuhan yang bekerja sepenuhnya dan Tuhan yang melakukan di dalam anugerahNya melalui kematian dan kebangkitan dari Tuhan ita Yesus Kristus. Dengan Tuhan berdiam dan tidak bertindak dalam situasi itu kita bisa bertemu bagaimana Tuhan mengajak dan melatih Musa melihat kadang-kadang di dalam hatinya, motifnya, kerinduannya, dia perlu belajar bagaimana taat dan dia perlu belajar bagaimana sabar cara Tuhan bekerja di dalamnya.

Bukan saja itu, kita menemukan dalam bagian ini Tuhan juga memproses Musa melalui bukan saja Tuhan diam dan tidak mengijinkan cara Musa seperti itu, tetapi juga Tuhan melatih Musa melalui satu rejection yang terjadi dari orang yang dianggap perlu mendapat pertolongannya. Ayat 13-15 kita bandingkan dengan Kisah Rasul 7:23-28. Musa bertindak, Musa membela saudara-saudaranya dan berpendapat seharusnya mereka mengerti, tetapi mereka tidak mengerti. Kita mungkin bisa kaget dan kecewa ketika orang yang kita tolong menolak tindakan kita. Mungkin kita pernah mengambil keputusan untuk tidak bekerja di hari Minggu, tetapi ada konsekuensi keadaan keuangan kita tidak akan lebih baik di hari-hari lainnya. Ada saat-saat dimana sebagai orang profesional Kristen, sdr tidak mau melakukan sesuatu yang berlawanan dengan etika Kekristenan kita untuk hidup dengan baik, tulus dan jujur di hadapan Tuhan, kita rasa akibat keputusan itu Tuhan memberkati dan memimpin hidup kita, belum tentu orang yang ada di situ mengerti dan memberikan pujian kepada kita. Tetapi jikalau semua yang kita harapkan dari respons orang itu tidak terjadi, jangan sampai hal itu merubah hati kita sebab kita tahu apa yang terjadi kepada Musa adalah satu turning point yang jauh lebih berarti dan lebih berharga dari pujian dan penerimaan manusia. Artinya, seperti tafsiran penulis Ibrani, Musa mengidentifikasikan hidupnya seperti penderitaan Kristus. Ini belum terjadi di dalam hidup Musa, ia belum melihat apa artinya salib itu dan betapa terhina Kristus di situ, Musa sudah bekerja dan melakukan tindakan itu. Apalagi engkau dan saya. Adakah kehinaan yang kita peroleh demi Kristus itu lebih hina daripada Kristus dihina di atas kayu salib sehingga kita tidak berani menerima dan menanggungnya? Adalah kerugian yang kita alami karena Kristus itu lebih rugi daripada yang Kristus alami pada waktu Ia meninggalkan segala sesuatu? Penulis Ibrani berkata, Musa meninggalkan segala kenyamanan dan kenikmatan yang ada di istana Mesir, karena kenyamanan dan kenikmatan itu hanya membawa dia ke dalam dosa. Musa tinggalkan semua itu, dan dia lebih mau hidup mengidentifikasikan diri dengan penderitaan Kristus. Dia adalah Allah yang dalam rupa Allah yang mulia tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik dan hak yang harus Ia pertahankan, melainkan Ia mengosongkan diriNya dan menjadi seorang manusia, dan mengambil status yang paling rendah dari antara manusia yang lain yaitu menjadi hamba orang lain dan mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah meninggikan Dia lebih tinggi daripada segala-galanya (Filipi 2:5-11).

Dalam Kisah Rasul, Stefanus mengatakan, “Disangkanya Tuhan pakai dia sebagai hero…” tetapi nanti akhirnya dia akan tahu Tuhan tidak berkenan akan cara itu dan bukan cara itu. Bukan dengan militer, bukan dengan senjata, Tuhan suruh Musa membawa tongkatnya saja. Bukan dengan cara kekerasan tetapi dengan bersandar kepada firman Tuhan dan bagaimana Tuhan membawa keluar bangsa ini. bukan dengan cara cepat dan bukan dengan kekerasan seperti itu tetapi dengan satu cara yang Tuhan menyatakan kuasaNya nanti melalui Musa. Selama 40 tahun pembentukan di padang gurun, luka di hati Musa tetap menganga sehingga pada waktu dia disuruh kembali oleh Tuhan dengan otoritas dari Tuhan, Musa menolak dan berkata, “Bagaimana aku bisa memimpin… mereka sudah menolak aku?”

Orang yang sudah terlalu lama hidup di dalam violence, maka violence itu menjadi normalitas kebiasaan hidupnya. Tidak ada cara lain lagi untuk survive di dalam situasi perbudakan selain memakai sistem ‘survival of the fittest’ siapa yang lebih kuat akan menindas yang lemah, tidak peduli itu adalah saudara sebangsa. Kita melihat ini yang terjadi di bagian ini, bukan saja orang Israel telah diperlakukan kejam dan tidak adil oleh penjajah orang Mesir, tetapi di antara mereka sendiri yang setiap hari berjuang untuk hidup, kita bisa menemukan orang Israel yang lebih kuat tega memperlakukan saudara sendiri dengan kejam juga.

Kita punya niat yang baik untuk menolong orang lepas dari kebutaan pendidikan, belum tentu orang itu sadar usaha kita yang baik. Kita mau tolong orang keluar daripada kemiskinannya, atau mau tolong orang keluar dari lingkaran prostitusi, kemabukan, judi, obat bius, dsb, maafkan, bisa jadi keinginan yang baik dalam hatimu tidak dianggap sebagai hal yang baik bagi mereka. Tindakan yang kita kerjakan dan lakukan mungkin perlu waktu yang lama dan panjang adanya. Siap-siap hati kalau engkau malah dituduh dan dicurigai ingin melakukan hal yang tidak baik terhadap mereka. Musa menghadapi hal seperti ini. Musa bilang, kenapa engkau memukul saudaramu? Mengapa engkau menyelesaikan persoalan di antaramu dengan violence? Apakah tidak ada cara lain? Musa kaget sebab jawaban orang itu, “Bagaimana bisa engkau dipakai sebagai jurudamai, padahal kamu sendiri kemarin menyelesaikan persoalan dengan kekerasan juga. Bagaimana engkau bisa jamin, hal itu tidak engkau lakukan kepadaku?” Dari situ Musa tahu, dia yang sendiri menyelesaikan persoalan dengan cara kekerasan, dia yang sendiri menyelesaikan perkara dengan membunuh, bagaimana dia bisa jadi orang yang memimpin mereka? Siapa yang memberimu kuasa? Kalimat itu menyentak dan mengagetkan Musa. Betapa penolakan dari orang-orang yang dianggapnya saudara sendiri yang akan dia tolong, justru adalah orang yang menolak dia. Di situ perlulah nanti dia bersekolah lagi di padang gurun selama 40 tahun. Sekolah dimana dia dibentuk untuk rendah hati, sekolah dimana dia belajar bersandar kepada Tuhan, sekolah dimana dia berjalan bukan dengan keinginan dia, bukan dengan cara dia, tetapi dengan keinginan dan cara Tuhan. Di situ kita melihat dan belajar betapa indahnya Tuhan membentuk Musa dan betapa indahnya Tuhan juga membentuk hidup engkau dan saya.

Keinginan yang baik, yang mungkin kita kerjakan, belum tentu menjadi sesuatu yang diterima dengan baik. Hati kita yang ingin melakukan dengan baik, belum tentu kita kerjakan dengan cara yang baik menurut Tuhan. Kemarahan kita terhadap ketidak-adilan jangan sampai akhirnya membuat kita tidak bersandar dengan cara dan waktu Tuhan. Kita bersyukur dan percaya, setiap hati yang diberi dan dipersembahkan kepada Tuhan, hati yang ingin hidup mencintai dan mengasihi Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai yang lebih indah dan lebih utama di dalam hidup kita, kita percaya tidak akan pernah merugikan setiap kita. Hanya Tuhan yang berjalan di depan, kita hanyalah alat Tuhan, biar kita bersandar kepada bagaimana cara Tuhan memimpin dan bekerja memproses hidup kita. Kiranya Tuhan pimpin setiap kita di dalam pergumulan dan tantangan yang kita alami dan hadapi.(kz)