04. Belajar dari Kegagalan

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 17/3/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (4)

Nats: Keluaran 2:15b – 3:9

 

Ada hal-hal yang kita lihat tidak merubah hidup kita, tetapi ada hal yang kita lihat sekejap mata, hal yang membuat kita bereaksi, itu total merubah hidup dan arah seluruh perjalanan hidup kita. Ketidak-adilan yang dilihat oleh Musa di hadapan matanya, penderitaan yang dialami oleh umat Israel menjadikan Musa bertindak, membunuh orang Mesir yang lalim dan keji. Sekalipun tindakan membunuh itu adalah satu tindakan yang keliru dan salah, tetapi hati dan motivasi Musa dan cintanya untuk melihat bagaimana keadilan harus ditegakkan, itu merupakan sesuatu yang ada di dalam hati Musa. Namun keinginannya untuk memberikan pembebasan, keinginan itu tidak tercapai. Bukan saja tidak tercapai, Musa harus pergi dan menjadi seorang pelarian yang tidak memiliki apa-apa di padang gurun. Seorang fugitive, dan nobody.

Betapa sulit menyelami dan memahami perasaan Musa pada waktu itu. Ketakutan, kengerian, bingung, kecewa, segala sesuatu berkecamuk di dalamnya saat dia harus lari dari kejaran Firaun, yang tidak memberi alternatif lain selain perintah untuk membunuh Musa (Keluaran 2:15). Pendidikan tinggi universitas Mesir tidak ada arti lagi; pengetahuannya yang luas tidak memberinya penghiburan; kemampuan strategi militernya tidak mampu melepaskannya dari situasi ini. Langkah demi langkah yang dia tapak di atas pasir yang panas membakar di padang gurun yang tidak bertepi hanya membawanya menuju satu destinasi, “Life is over. I’m absolutely finished.”

Kita adalah orang yang tidak lepas dari berbuat kekeliruan dan salah di dalam hidup ini. Ada kesalahan yang kita buat oleh sebab kita tidak berpikir dengan matang. Ada kesalahan yang kita buat oleh sebab kita terlalu gegabah mengambil keputusan. Ada kesalahan yang kita buat oleh sebab kita tidak mendengarkan nasehat orang kepada kita. Ada kesalahan yang kita buat oleh sebab kita pikir kita lebih hebat daripada orang lain di dalam kita mengambil keputusan. Tetapi walaupun kita sering dan berulang kali melakukan kesalahan, kesalahan itu mungkin tidak terlalu mengganggu sebab kesalahan itu tidak berefek besar di dalam hidup kita. Kesalahan itu mungkin hanya menciptakan hal yang tidak nyaman di dalam hidup kita dan dengan mudah kita bisa memperbaikinya dan mungkin bisa mendapatkan pelajaran yang berarti dari kesalahan kecil yang kita buat itu. Namun saya percaya engkau dan saya akan berada di dalam kondisi putus harapan, kecewa dan tidak tahu apa yang bisa kita kerjakan dan lakukan jikalau tindakan kesalahan yang kita buat itu merubah arah perjalanan hidup kita 180 derajat.

“Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk di tepi sebuah sumur…” (Keluaran 2:15b). Berada di situ tersendiri, saya percaya barulah meresap sedalam-dalamnya Musa memahami apa akibat tindakannya. Dia tidak bisa kembali ke Mesir. Dari hidup di istana sekarang dia harus hidup di padang belantara; dari hidup dijamu orang, sekarang dia tidak tahu bagaimana mendapatkan makan dan minum. Di istana dia memiliki masa depan yang baik, namun sekarang dia berada di padang belantara tidak tahu apa yang harus dia kerjakan. Bukan itu saja, dia tidak tahu harus berlindung dimana malam itu di tengah tanah yang gersang dan keras. Walaupun kita mungkin menghadapi kesulitan akibat kesalahan yang kita buat di sekolah atau di tempat pekerjaan kita, selama kita masih bisa pulang dan selama masih ada orang tua yang supportif terhadap apa yang kita alami, kita tahu masih ada kesempatan kedua. Waktu kita pulang membawa kesalahan itu kepada isteri atau suami kita, selama dia masih bisa menerima dan menanggungnya bersama kita dan mencari jalan keluar sama-sama, seberat-beratnya akibat kesalahan itu mungkin masih bisa kita menanggungnya. Selama engkau masih bisa pulang ke rumah, saya percaya kita masih punya satu tempat identitas rasa aman dan nyaman di situ.

Keluaran 2 mencatat sesuatu yang sangat confused sekali. Dikatakan bahwa Musa adalah orang Ibrani, dan Musa ingin mengidentikkan diri dengan bangsanya (Keluaran 2:11). Dan pada waktu dia mengidentikkan diri dengan bangsanya, orang Ibrani sendiri menolak dan menganggap Musa bukan orang Ibrani (Keluaran 2:14). Setelah dia lari ke Midian, anak-anak Rehuel atau Jethro mengatakan dia adalah seorang Mesir (Keluaran 2:19). Jelas mereka menyebut Musa begitu karena pakaian yang dikenakannya. Orang Mesir sendiri tidak menganggap Musa orang Mesir. Dan celakanya dia adalah orang Mesir yang tidak bisa pulang kembali ke Mesir. Jadi Musa itu siapa? Ini adalah perasaan dan pengalaman yang real. Tidak ada tempat dimana dia harus pergi; tidak ada identitas diri lagi. Bayangkan bagaimana jadinya jikalau engkau melakukan kesalahan dan papa mama bilang ‘engkau bukan anak saya lagi’? Bagaimana jikalau akibat kesalahan yang engkau buat, tidak ada tempat bagi sdr untuk pergi.

Tidak heran dan tidak aneh kalau kita melihat dari sudut pandang ini hidup Musa selesai finished di situ. Tidak heran dan tidak aneh dari perspektif ini Musa berkata, “My life is over. ‘I’m finished. Aku tidak punya tempat dan jalan keluar lagi…” Mungkin ada satu masa dan satu moment di dalam hidupmu, engkau merasakan hal yang sama. Kecewa, putus asa, tidak ada jalan keluar yang baik, tidak ada harapan untuk memulai sesuatu yang baru. Ijinkan saya berkata kepadamu, jikalau kita tidak memiliki perspektif ilahi untuk bisa melihat apa yang terjadi di balik semua kesalahan itu, kita tidak akan bisa keluar darinya. Di tengah situasi yang tidak ada lagi tempat untuk berpegang, pegang satu hal ini: saat ini mungkin engkau tidak bisa melihat apa yang ada di depan dan akibat satu kesalahan hidupmu mengalami perubahan 180 derajat. Namun kita percaya firman Tuhan yang berkata, “Allah turut bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya…” (Roma 8:28). Jangan pernah kecewa, jangan pernah menyesal.

Memang betul penulis Ibrani mengatakan Musa melepaskan semua itu dan menganggapnya sebagai sesuatu kerinduannya untuk berbagian di dalam penderitaan Kristus (Ibrani 11:26), tetapi jangan lupa itu adalah kesimpulan yang diambil setelah melihat penuh 120 tahun perjalanan hidup Musa. Namun pada saat peristiwa itu terjadi, Musa hanya bisa lari dan duduk termenung di tepi sebuah sumur di tengah padang belantara yang kering dan tandus. ‘Apa yang harus aku lakukan ke depan? Aku tidak tahu. Kemana aku harus pergi? Aku tidak tahu.’ Itu sebab situasi seperti itu menjadi situasi yang terus dia ingat selamanya, sehingga waktu anaknya yang pertama lahir, Musa memberinya nama Gersom, yang artinya “Aku adalah seorang pendatang di tanah yang asing (Keluaran 2:22). Itulah hidup Musa.

Kalau kita berada di dalam situasi seperti itu, sekali lagi, jangan kita kecewa dan jangan putus asa. Saya harap kita jalani hidup kita dari hari ke hari dengan mempelajari apa hikmat yang perlu darinya. Selama 40 tahun di padang gurun ini adalah fase dimana Tuhan mengerjakan sesuatu yang mungkin dari sudut mata kita adalah sesuatu yang tidak baik, tetapi dari sudut pandang Tuhan itu adalah hal yang indah.

Pertama, Musa walaupun pernah melakukan kesalahan, dia belajar dari kesalahan itu. Keluaran 2:17 “…maka datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka…” Kita tiba kepada satu setting yang mengalihkan perhatian Musa kepada persoalan pribadinya yang sangat berat itu. Musa duduk tidak jauh dari sumur sumber air. Ketika anak-anak gadis Imam Rehuel sedang berada di situ untuk menimba air, datang gembala-gembala yang kasar mengganggu mereka. Hati yang baik, hati yang cinta keadilan, jangan biarkan hal itu tidak ada dan padam dari hidup kita ditelan oleh persoalan dan kesulitan. Dimana-mana ketidak-adilan dan unfairness terjadi; dimana engkau melihat ada orang lemah diperlakukan dengan tidak baik, itu akan selalu ada. Di samping istana, ketidak-adilan terjadi; di tempat pekerjaan, ketidak-adilan terjadi; di tempat dimana orang berjuang untuk mendapatkan uang dengan ketatnya kehidupan, ketidak-adilan terjadi. Jangan pikir sdr pergi ke padang gurun, ketidak-adilan tidak terjadi di sana. Memang padang gurun simple hidupnya, biasa-biasa saja. Orang-orang yang ada sederhana dan tidak berpendidikan. Namun cerita ini mengatakan sampai di situ pun ada ketidak-adilan. Cuma bedanya, di samping istana Firaun, ketidak-adilannya adalah tuan memperlakukan budak dengan semena-mena. Di padang gurun, laki-laki memperlakukan perempuan dengan semena-mena. Kasihan Rehuel yang tidak punya anak laki-laki, semua anaknya tujuh perempuan. Tetapi hebatnya mereka adalah perempuan yang kuat dan tangguh menjadi gembala. Alkitab mencatat hari itu Rehuel heran, waktu anak-anaknya ini pulang, tidak biasanya pulang lebih cepat, berarti setiap hari Rehuel tahu anak-anaknya selalu di-bullied dan baru hari itu kaget, tidak seperti biasanya (Keluaran 2:18).

Musa bangkit dan menolong mereka maju menghadapi gembala-gembala itu. Dia bisa mengusir orang-orang itu, tetapi kali ini dia tidak bunuh mereka. Beberapa penafsir melihat Musa tidak membunuh gembala-gembala itu menunjukkan Musa belajar dari mistake masa lalunya. Tidak selamanya luapan kemarahan melihat ketidak-adilan, tidak selamanya hal yang tidak baik yang kita lihat itu harus kita selesaikan dengan satu solusi dengan kekerasan seperti ini yaitu melakukan pembunuhan.

Tidak selamanya kesalahan yang kita perbuat mendatangkan kebaikan bagi kita selama kita tidak pernah memiliki hati yang humble untuk mengerti dan belajar dari kesalahan itu. Mengaku salah dan meminta maaf, bukankah itu sesuatu yang sulit keluar dari mulut kita? Sebelum kita belajar dari kesalahan, langkah pertama adalah sikap kerendahan hati untuk mengaku akan kesalahan yang kita perbuat. Tetapi kita yang sudah jatuh di dalam dosa, banyak hal yang kita kerjakan dan lakukan itu selalu menjadi pengulangan dan repetisi yang tidak ada habis-habisnya sebab memang tidak gampang hidup dengan percaya dan beriman kepada apa yang dikatakan. Kita selalu bertendensi tidak taat dan gegabah berbuat dulu, setelah salah baru kita menyesal dan berjanji tidak mau mengulanginya lagi.

Tinggal di padang gurun tidak tahu apa yang harus dikerjakan, Musa belajar dua hal penting. Hal pertama, dia belajar bagaimana motivasi hatinya yang cinta Tuhan, cinta akan orang yang mengalami ketidak-adilan, bagaimana menyelesaikan ketidak-adilan dengan cara belajar berubah, dengan cara dia belajar dari mistake yang ada, yaitu bukan dengan kekerasan, bukan karena saya seorang yang hebat, bukan karena saya seorang pangeran, bukan demikian. Hal kedua, dia belajar to serve. Saya percaya ini hal yang sama sekali baru Musa belajar sebagai seorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi, dia belajar humble, mulai dari bawah. Dia menolong perempuan-perempuan itu, dia menimba air untuk mereka. Sifat ini nanti kita lihat 40 tahun ke belakang, bukankah itu menjadi pelajaran yang indah adanya? Perubahan itu terjadi sebab dia belajar dari kesalahannya.

Kedua, kendati mungkin dari kacamata kita, kita saksikan Musa mengerjakan semua ini karena tidak ada pilihan. Kalau masih ada pilihan saya tidak akan menjadi gembala; kalau ada pilihan saya tidak akan tinggal di padang gurun. Mungkin semua ini kita lihat terpaksa. Mungkin semua ini kita lihat sebagai sesuatu kebetulan. Tetapi justru kalau melihat dari kacamata Tuhan, itu adalah suatu pembentukan, suatu persiapan, suatu “sekolah” yang Tuhan mendidik Musa. Tidak selamanya kita belajar banyak hal dari sekolah yang formal yang ada di ruang kelas di istana Mesir. Ada sekolah yang juga kita bisa belajar pada waktu kita berada di padang gurun. Saya percaya pada waktu kita menjalani hidup itu, ada pelajaran-pelajaran yang bisa kita pelajari bukan dari sekolah yang bikin kita sukses tetapi dari kegagalan yang kita alami kita juga bisa belajar banyak hal di dalamnya.

Padang gurun dipakai oleh Allah untuk membentuk begitu banyak orang yang penting dipakai Tuhan di dalam Alkitab. Bukankah Tuhan juga pernah membentuk Elia di padang gurun? Bukankah Tuhan juga mempersiapkan Yohanes Pembaptis di padang gurun? Bukankah Tuhan kita Yesus Kristus juga mengalami pencobaan di padang gurun? Dan jangan lupa tiga tahun lamanya setelah Paulus bertobat, dia juga tinggal di padang gurun.

Padang gurun menjadi sebuah sekolah pendidikan Tuhan bagi hamba-hambaNya. Melalui sekolah kegagalan Musa belajar banyak hal daripadanya, mempersiapkan dia melayani Tuhan nanti di kemudian hari. Apa yang kita alami di padang gurun, apa yang kita alami di tengah kegagalan kita? Pergi ke padang gurun adalah suatu pelarian? Kadang kala ada tempat dimana sdr terpaksa pergi ke sana, sdr mungkin merasa tidak ada pilihan. Mari kita belajar dari peristiwa ini bagaimana Tuhan bentuk hidup kita dengan indah. Menjadi tukang cuci piring, menjadi orang yang membersihkan kloset, menjadi orang yang mengerjakan hal-hal yang mungkin dianggap memalukan seperti melayani orang dan berjualan menjajakan makanan kepada orang, dsb. Dari semua itu kita mengerti dan lebih peka terhadap kesulitan orang lain, kita lebih rendah hati, kita belajar secara real apa artinya hidup bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Keluaran 3:1 dibuka dengan kalimat, “Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba… ke seberang padang gurun sampai ke gunung Horeb.” Empat puluh tahun lamanya Musa menggembalakan kambing dombanya, sudah ribuan kilometer tempat yang sudah dia jalani, dia sudah cukup paham dan cukup hafal dimana tempat yang berbahaya, dimana tempat yang dia tidak boleh pergi, dimana ada sumber air, dimana ada tempat berlindung seperti gua pada waktu ada badai pasir di padang belantara yang unpredictable luar biasa. Pengalaman ini untuk mempersiapkan Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Sampai di gunung Horeb, di situ dia melihat ada semak duri yang berapi, tetapi api itu tidak menjalar dan tidak membakar semak itu. Melihat hal itu Musa heran dan dia pergi untuk melihat lebih dekat.

Kedua, selama 40 tahun lamanya Musa menggembala kambing domba. Mana yang lebih gampang, menggembalakan domba atau menggembalakan orang? Banyak orang bilang menggembalakan domba itu susah, sebab pandangan mata domba kurang bagus, domba juga IQ-nya juga agak kurang bagus sebab sering ada domba yang hilang dan tersesat dan harus dicari kemana-mana. Itu adalah persiapan bagi Musa untuk nantinya menggembalakan dan membawa orang-orang dengan berbagai macam kesulitan pergumulan yang ada di dalamnya.

Apa lagi yang kita pelajari pada waktu kita berada di dalam situasi padang gurun, kita telah berbuat kesalahan dan kita rasa kita tidak sanggup bisa merubahnya lagi? Keluaran 2:23 “Orang Israel mengeluh, orang Israel berseru, orang Israel berteriak minta tolong…” Ayat 25 “Allah melihat dan Allah memperhatikan…” Keluaran 3:7 “Tuhan berfirman, Aku memperhatikan, Aku telah mendengar seruan mereka oleh karena betapa besar dan beratnya penderitaan yang mereka alami.” Bukankah ini menjadi penghiburan yang luar biasa bagi kita? Pada waktu kita berada di dalam situasi padang gurun, kita melakukan kesalahan dan tindakan kita mungkin telah merubah hidup kita, jangan kita kecewa dan putus asa. Kalau kita berada di ujung jurang itu dan tidak ada lagi yang engkau bisa perbuat, masih ada Tuhan di atas mendengarkan suara teriakan dan seruanmu minta tolong, sebagaimana Tuhan mendengar seruan dan teriakan orang Israel. Jangan pikir seruan doa kita sebagai satu doa yang tidak penting dan tidak didengar oleh Tuhan. Memang doa dijawab oleh Tuhan tidak ada kaitannya dengan kesulitan dan penderitaan kita; tidak ada kaitannya dengan berapa lama waktu kita. Semuanya itu berkaitan dengan Tuhan yang berjanji dan Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang pimpin dan Tuhan yang kontrol alam semesta, Tuhan yang tahu apa yang menjadi kesulitan kita, Tuhan yang satu-satunya tempat persandaran kita, Dia Tuhan yang tidak pernah mengecewakan kita. Sekalipun kesucianNya menakutkan, sekalipun kesucianNya membuat kita tidak berani dan tidak sanggup untuk bisa berdiri di hadapanNya, tetapi kita bisa bersyukur kepada Tuhan karena kita memiliki Allah yang suci dan adil, dari situ kita tahu Dia tidak akan pernah membiarkan hal yang tidak adil itu tidak mendapatkan pembalasan yang setimpal di depan pengadilanNya. Allah yang adil dan suci yang kita sembah adalah Allah yang terpisah, Allah bukan hasil rekaan dan ciptaan kita; Ia bukan Allah yang bisa kita peralat karena Ia Tuhan Allah sendiri. Itulah sebabnya kita datang kepadaNya dan kita bersembah sujud kepadaNya. Ia adalah Allah yang suci dan adil. Di dalam keadilanNya Nampak kesucian dan kekudusanNya. Kita menyembah Allah yang seperti itu, sebab di dalam Ia mengasihi engkau dan saya, Ia mengasihi kita dengan keadilanNya dan kesucianNya.

“Aku telah mendengar teriakan mereka minta tolong, Aku datang, Aku memperhatikan…” pegang akan janji Tuhan ini bagimu. Pada waktu engkau berseru meminta pertolonganNya, Ia akan mendengarmu karena Ia berkata “Aku adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub…” dalam bentuk Present Tense. Allah itu tidak berubah. Jamannya Abraham sudah pergi, Dia tetap Allah yang sama. Ishak sudah tidak ada, Dia tetap Allah yang sama. Yakub sudah tidak ada, Dia tetap Allah yang sama. Musa sudah tidak ada, Dia tetap Allah yang sama. Sampai kepada Tuhan Yesus, Ia berkata, “Mintalah di dalam namaKu, Aku akan memberikan kepadamu.” Kenapa? Sebab semua kuasa telah diberikan Allah Bapa kepada Allah Anak. Pada waktu tidak ada lagi jalan keluar, ingat kita punya Allah; pada waktu kita sudah terdesak di jalan buntu dan tersendiri tidak ada orang di samping kita, ingat kita punya Tuhan Yesus. Dan pada waktu kita sedang berada di padang gurun kehidupan, ingatlah Tuhan beserta dengan kita.(kz)