13. Bagaimana Tuhan Intervensi dalam Hidupmu?

17/6/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (13)

Nats: 2 Timotius 3:10-13

 

Saya percaya surat ini ditulis oleh Paulus sekaligus memiliki satu fungsi yang penting yaitu bagaimana mempersiapkan saatnya tiba orang yang dari muda ikut Paulus ikut pelayanan bersamanya, saatnya akan terpisah, saatnya akan tersendiri di dalam pelayanan, betapa gentar dan takut. Tetapi itulah hidup. Ada saatnya kita akan tiba waktunya melepaskan anak kita berdiri sendiri; ada waktunya mau tidak mau situasi kita berubah, kita berada di dalam kondisi harus lepas keluar dari comfort zone dan kita tidak bisa terus berada di dalam kondisi yang comfortable itu.

Paulus mengatakan, “engkau telah mengikuti aku…” berarti dengan kata lain ada moment saat ini Timotius sudah tidak bersama-sama dengan Paulus lagi. “Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku” (ayat 10).

Mengapa Paulus mengatakan kalimat-kalimat ini? Karena Paulus sedang memberikan kekuatan kepada Timotius yang diutus pergi berdiri sendiri, melayani sendiri kepada satu Jemaat di kota Efesus yang tidak gampang adanya. Kota yang besar dan industrial, yang kalau kita baca surat 1 dan 2 Timotius kita tahu ada tantangan pengajaran sesat yang ada dan berbagai kesulitan yang ada, dan kali ini tidak ada Paulus mem-back up dia, juga tidak ada rekan-rekan lain di sisinya. Titus sendiri Paulus utus pergi ke Jemaat di Kreta. Kalau sdr baca surat-surat yang lain, Paulus bilang aku pun sekarang tersendiri di dalam penjara. Itu moment yang tidak mudah dan betapa menggentarkan adanya.

Maka Paulus bilang, “But you already walk along beside me, be my disciple, you follow me alongside…” Ingat engkau pernah berjalan di dalam satu jalan hidup yang engkau ambil, biar itu menjadi kekuatan bagimu waktu engkau berjalan sendiri, waktu engkau berdikari seorang diri. Kekuatan apa yang  menopang engkau? Mungkin orang lain tidak mendukung engkau, mungkin papa dan mama tidak ada di sekitarmu, mungkin teman-teman tidak ada lagi di dalam hidupmu, ingat baik-baik, ini adalah the path, jalan hidup yang sudah engkau ambil. Maka kata yang dipakai Paulus di sini unik sekali, “engkau telah mengikuti aku…” yang dalam bahasa aslinya lebih dekat diterjemahkan “walk alongside.” Menjadi seorang murid tidak cukup hanya duduk di kelas. Saya percaya orang yang hanya duduk di bangku kelas belum tentu sungguh-sungguh menjadi murid yang baik. Maka Paulus bicara soal pemuridan TImotius adalah satu pemuridan yang unik, yaitu satu pemuridan hidup berjalan bersama di sekitar gurunya dan itu adalah perjalanan yang dilakukan olehnya bersama dia bertahun-tahun lamanya, baru TImotius dianggap selesai dan lulus sekolah pembentukan siap menjadi seorang hamba Tuhan.

Berapa banyak orang yang sekolah teologi hanya supaya dapat gelar dan sekolah hanya setahun, bahkan ada yang cuma mau 6 bulan, bahkan ada yang cuma mau sekolah satu bulan saja. Betapa kasihan dan betapa sedihnya. Apa yang dipelajari dalam kurun waktu begitu singkat seperti itu? Banyak hal yang kita tidak sempat pelajari. Kita yang sudah lulus sekolah, sudah selesai dan sudah diwisuda, kita harus berkata di hadapan Tuhan, kita tidak pernah boleh bilang sudah lulus dan berhenti dari proses belajar dari Tuhan dan belajar dari hidup ini. Anak kita seperti itu juga. Mungkin kita rasa sekolah dia selesai sampai SMA lulus lalu kita lepaskan dia, apa itu cukup menjadi bekal bagi hidupnya? Saya percaya, jangan kita pernah abaikan untuk mengatakan kepada dia bekal untuk hidup bersama orang tua dididik dan dibentuk, biar itu juga menjadi pelajaran dan proses belajar hidup buat dia di dalam kehidupannya.

Engkau sudah berjalan di sisiku selama ini, kata Paulus kepada Timotius. Engkau belajar, engkau bergumul bersamaku bertahun-tahun lamanya. Engkau telah melihat cara hidupku, pendirianku, kesungguhanku. Sekarang engkau pergi seorang diri. Remember this, kata Paulus, engkau sudah jauh dari aku, engkau harus membuat keputusan sendiri; this is the path you become the disciple of Christ, ini jalan hidup yang sudah engkau ambil.

“Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku…” Selain Paulus menyebutkan 3 hal yang saling berkaitan: aspek pertama, filosofi ajaran dan prinsip hidup Paulus; dan bukan saja ajaran itu masuk ke otak tetapi mempengaruhi aspek kedua yaitu lifestyle atau cara hidup, filsafat apa yang membentuk hidup kita akan terbukti nyata melalui lifestyle kita; dan sesudah itu Paulus bicara aspek ke tiga, my goal, apa yang menjadi tujuan hidupku, itu juga yang menjadi tujuan hidupmu. Ini yang akan inginkan seumur hidupku, kata Paulus, yaitu mengenal Yesus, memahami penderitaan dan kuasa kebangkitan Kristus supaya aku menjadi serupa dengan Dia (Filipi 3:10). In good seasons or in bad seasons, preach the Gospel and serve the Lord (2 Timotius 4:2). Itu menjadi goal, itu menjadi target, itu menjadi sasaran hidupnya. Lalu kemudian Paulus bicara mengenai 4 virtue, 4 bijaksana dan mutiara hidup yang penting untuk diperhatikan baik-baik. Paulus tidak bilang, engkau telah belajar my management skill, my leadership skill memimpin sebuah gereja. Paulus tidak bicara hal itu. Itu merupakan hal yang sekunder di dalam hidup kita; itu merupakan hal yang biasa, yang bukan tidak penting, tetapi lebih sekunder. Tetapi bagaimana kita yang lebih tua memberikan prinsip hidup, kita memberi contoh dari lifestyle dan bagaimana kita mengajak orang melihat mana yang menjadi tugas dan fokus yang paling penting dalam hidup kita. Itu sudah cukup.

Empat virtue yang Paulus sebutkan: engkau belajar aku beriman kepada Tuhan; engkau belajar aku berharap kepada Tuhan; engkau belajar aku mengasihi Tuhan; Ini tiga standar: iman, pengharapan, kasih. Lalu Paulus tambahkan yang keempat, engkau belajar akan kesabaranku. Sabar di dalam hidup ini. Jalan apa yang diambil Timotius, ingat, engkau sudah take the path menjadi disciple alongside. Dari kapan dia ikut Paulus? Dalam Kisah Rasul 16:1-3 Paulus berjumpa dengan Timotius dalam Perjalanan Misi yang kedua di kota Listra. Ini adalah satu pertemuan yang saya percaya sangat mengharukan dan membuat air mata Paulus bercucuran, mengingat apa yang pernah terjadi dalam pelayanannya di Listra beberapa tahun sebelumnya. Timotius adalah buah yang dihasilkan dari pelayanan itu, satu buah Injil yang tidak terkatakan betapa indahnya. Seorang anak muda percaya Tuhan dan ternyata bukan saja dia percaya Tuhan tetapi dikatakan dia dikenal baik di dalam Jemaat di Listra dan Ikonium. Bagaimana bisa impact dari hidup kita ketemu orang mungkin cuma satu dua jam menjadi impact yang mempengaruhi dia seumur hidup? Kita mungkin tak pernah tahu. Pergi ke satu tempat, mengambil satu kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan orang, melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dilihat oleh orang lain tetapi menjadi impact yang mempengaruhi hidup seseorang seumur hidupnya. Apa itu? Apa yang telah terjadi di Listra?

Kisah Rasul 14:8 menggambarkan apa yang terjadi pada Paulus di Listra, pelayanannya di sana mendatangkan fitnah dan kebencian dari orang-orang yang kemudian melempari dia dengan batu dan menyeretnya ke luar kota karena mereka menyangka dia sudah mati. Murid-murid tidak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bisa melihat Paulus sambil menangis karena pasti mereka mengira Paulus sudah meninggal. Sudah tidak bernapas, sudah bonyok. Kemarin baru dipuji dan disanjung bagai dewa, hari ini dicaci-maki dan dilempari batu sampai mati. Itulah hidup yang bisa berubah sekejap mata. Tetapi hidup kita tidak boleh dipengaruhi oleh perubahan situasi seperti itu. Dedikasi kita kepada Tuhan tidak boleh dipengaruhi oleh bagaimana orang berespons kepada kita. Itu hal yang paling penting. Paulus bangkit lagi, berjalan lagi ke tempat lain terus mengabarkan Injil. Itulah yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ada seorang anak muda melihat hal itu. Paulus tidak kenal dia. Anak muda itu melihat kuasa Tuhan bekerja melalui Paulus membangkitkan seorang lumpuh, anak muda itu melihat Paulus dilempari batu, bonyok hancur tubuhnya dan diseret dengan penuh kebencian sampai dikira sudah mati. Anak muda ini melihat semua itu di depan matanya.

Maka di Listra bagi saya ada tiga hal penting terjadi. Pertama, mujizat orang lumpuh bangkit. Kedua, mujizat melalui penderitaan dan hancurnya pelayanan seorang hamba Tuhan, Tuhan intervensi membangkitkan Paulus karena masih ada pekerjaan lain yang belum selesai dia kerjakan. Ketiga, mujizat seorang anak muda diubah oleh Tuhan, percaya Tuhan dan menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Tuhan intervensi, itu point yang paling penting. Banyak hal hidup kita mengalami kesulitan dan pergumulan, kita seringkali menyerah sebab kita percaya Allah hanya di dalam konsep pikiran saja tetapi tidak percaya bahwa Allah bekerja nyata di dalam hidup kita dan Dia sanggup intervensi. Kalau Tuhan kasih kita hidup lebih panjang, itu jelas berarti ada maksud dan rencana Tuhan mau beri kepada kita sesuatu. Tuhan intervensi, itu hal yang paling penting.

Di Indonesia saya sempat berjumpa dengan satu pemuda, dari keluarga bukan Kristen, dia cerita waktu papanya belum percaya dan hampir meninggal. Sebelum meninggal papanya takut luar biasa menghadapi kematian, dia satu-satunya anak yang menemani dan dia Injili sampai akhirnya papanya terima Tuhan Yesus. Waktu dia terima, ada satu hal yang luar biasa terjadi. Waktu itu dia garuk punggung papanya, dan papanya sambil senyum menunjuk ke dinding lalu meninggal dunia. Waktu dikubur, anak ini mengambil keputusan untuk membayar batu nisan papanya dan memesan tulisan Yohanes 3:16 dalam bahasa Mandarin. Yang menarik, papa sudah percaya, sudah melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa terjadi. Tetapi Setan juga bekerja luar biasa. Sebulan kemudian adik perempuannya akan menikah, kerasukan roh yang mengaku roh papanya. Pemuda ini mengatakan, kamu bukan roh papa saya. Kurang ajar kamu, ayo hormat sama papamu. Dia bilang, kalau kamu papa saya, saya akan test. Dia pernah baca silsilah keturunan 7 generasi dari ayahnya dan dia catat semua. Maka dia tanya, siapa nama kakek saya? Roh itu menjawab benar. Pertanyaan kedua, siapa nama kakek papa saya? Roh itu tidak bisa jawab. Kalau dia waktu itu bisa jawab, saya masih ada satu pertanyaan lagi yang cuma saya dan papa saya yang tahu, yaitu waktu saya garuk punggungnya, dia balik ke sebelah kiri atau sebelah kanan? Roh itu tidak bisa jawab. Maka dia bilang, “Saya tahu, kamu bukan papa saya. Kamu adalah Setan. Dalam nama Tuhan Yesus, saya usir kamu keluar!” Saya tanya dia, “Kamu tahu siapa Tuhan Yesus?” Jawabannya menarik. “Setan mana yang tidak kenal Tuhan Yesus?” lalu dia pergi. Perhatikan, ada beberapa hal yang penting sdr perlu tahu tentang Setan. Jelas dia tidak maha tahu. Dia bisa menyaru dan menipu luar biasa. Hari itu Tuhan intervensi untuk membuktikan Dia Tuhan yang luar biasa.

Hal-hal yang tidak pernah kita duga, kitatidak pernah tahu. Kita menyampaikan firman, kita melayani Tuhan dengan hati yang tulus, bukan karena dipuja-puja orang. Bahkan dengan dilempari batu sampai hancur setengah mati, itu boleh menjadi berkat yang luar biasa. Setelah beberapa tahun kemudian kembali ke Listra, Paulus melihat ada seorang anak muda namanya Timotius, percaya Tuhan.

Bagaimana Tuhan campur tangan di dalam hidupmu? Itu adalah hal yang penting. Bagaimana menjelaskan, Paulus, tubuh sudah hancur lebur, sampai dikira sudah mati, tetapi Tuhan bilang, “Waktumu di dunia belum selesai; Aku masih tetap mau memakai engkau.” Maka Tuhan mengerjakan hal yang luar biasa.

Beberapa tahun kemudian Paulus kembali ke Listra, dia berjumpa dengan anak muda Timotius ini. Timotius lalu minta ijin kepada ibunya, “Mama, kalau Tuhan sanggup menjaga rasul Paulus, membangkitkan dia dari hal yang mustahil dua tahun yang lalu; kalau Tuhan menjaga dan memelihara hamba Tuhan ini di tengah tantangan kesulitan dan penganiayaan yang ada, Tuhan menyatakan pemeliharaanNya. Mama, saya percaya Tuhan juga sanggup pelihara anak mama yang sakit-sakitan ini. Mohon mama mengijinkan…”

Mama siapa yang rela menyerahkan anak satu-satunya? Mama siapa yang rela menyerahkan anaknya yang dari kecil sakit-sakitan? Paulus bukan saja bahagia melihat buah pelayanannya beberapa tahun yang lalu menghasilkan sesuatu yang membuatnya sungguh bersyukur kepada Tuhan. Tetapi malam itu terjadi transformasi hati yang luar biasa, itulah titik Timotius ambil keputusan untuk menjadi murid Tuhan, berjalan mendampingi Paulus dari hari itu tidak pernah lepas, sampai kemudian Paulus mengirim dia ke Efesus. Tidak usah takut, tidak usah kuatir, tidak usah kecewa, tidak usah gelisah. Malam itu, seorang ibu serahkan anaknya yang satu-satunya, yang mungkin setiap hari harus makan bubur karena pencernaannya tidak beres. Kalau Tuhan bisa pelihara Paulus, kita percaya Tuhan juga sanggup pelihara anakku yang sakit-sakitan.

Yang terpenting dan terutama bukan saya sehat; yang terpenting dan terutama saya bukan saja menjadi anak yang berguna bagi mama, tetapi saya sudah tahu my life is Christ. Bukan tidak sayang mama yang janda, bukan tidak sayang nenek yang janda. Hari itu Timotius tahu kalaupun dia pergi, kalaupun dia tidak ada di sisi ibu dan neneknya, Tuhan selalu ada dan selalu jaga. Kalaupun kita terus ada di sisi isteri dan anak kita, kita bisa bikin apa waktu sakit datang? What can you do? Trust in the Lord and believe Him, Dia bisa dan sanggup intervensi dan Dia bekerja. Itulah iman kita. Melangkahlah dengan iman.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam hidup kita nanti. Semua orang takut akan inflasi, semua orang takut ekonomi makin buruk, dsb. Kita pikir, kita atur, sudah bikin perencanaan sana-sini. Kadang-kadang kita sudah lama percaya Tuhan, kita lupa bahwa Tuhan itu sanggup intervensi. Itu point yang harus kita ingat. Itu belajar yang tidak ada di bangku sekolah. Itu belajar hidup bersama dengan Tuhan. Itu belajar berserah kepada Tuhan. You already become disciple alongside my life.

Kita bersyukur untuk pekerjaan Tuhan yang ajaib; terima kasih untuk iman yang tidak kita mengerti bagaimana Tuhan bekerja. Terima kasih untuk Tuhan dan firmanNya yang tidak hanya kita pahami di kepala saja tetapi boleh ternyata di dalam perbuatan, kelakuan, kepercayaan dan hidup yang bersandar Tuhan. Kita tidak pernah putus asa sebab kita tahu Tuhan bekerja; kita tidak pernah kecewa sebab kita tahu Tuhan berkarya; kita tidak pernah ragu sebab kita tahu Tuhan ada di depan. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.(kz)