12. Apa yang menjadi Tujuan Hidupmu?

27/5/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (12)

Nats: 2 Timotius 3:1-17, Filipi 3:10

 

Dalam Kisah Rasul 13:36 tertulis, “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada jamannya lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya dan memang ia diserahkan kepada kebinasaan.” Saya tidak bisa mengerti kenapa bisa ada pendeta mengambil ayat ini lalu panjang lebar berkhotbah Daud diserahkan kepada kebinasaan, Daud masuk neraka, katanya. Betulkah Daud tidak masuk surga? Sebelum membuat khotbah itu dia perlu membaca dan meneliti dengan baik-baik, karena ayat ini sama sekali tidak mengatakan Daud binasa, apalagi masuk neraka. Pertama, kata “kebinasaan” ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan “suffered corruption” artinya kematian menghancurkan lambat laun sampai habis tubuh ini. Kedua, bukankah ayat ini sendiri di bagian depan bilang, “Daud melakukan kehendak Allah…” berarti kalimat “dia diserahkan kepada kebinasaan” maksudnya adalah dia masuk ke dalam kematian dan kematian itu adalah satu proses yang akan membuat dia tidak lagi memiliki tubuh fisik dan tinggal tulang-belulang. Dan nanti tulang-belulang itu akan menjadi debu, tetapi tidak berarti dia akan hilang, karena kelak itu nanti akan Tuhan bangkitkan. Jadi orang yang melakukan kehendak Allah walaupun sudah mati dan tubuhnya berada dalam kebinasaan, dia tidak akan pernah hilang untuk selama-lamanya. Itu maksud dari ayat ini.

Tetapi itulah keadaan dan kondisi begitu banyak Gereja sekarang ini. Dengan maraknya Persekutuan Doa muncul dimana-mana, Gereja-gereja Rumah berkembang luar biasa, tetapi sekaligus ajaran-ajaran palsu juga berkembang luar biasa; pendeta yang independent yang tidak mau disiplin belajar firman Tuhan baik-baik, itu berbahaya sekali. Itu awal cikal bakal satu ajaran sesat bisa terjadi.

Itu sebab kenapa Gerakan Reformasi dari Protestan muncul karena prihatin dengan ajaran Katolik yang sudah menyeleweng. Maka hati dari Martin Luther, John Calvin, dsb menekankan kembali kepada firman Tuhan, back to the Bible, itu harus menjadi prinsip yang utama sehingga pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab itu harus dibuang dan disingkirkan dari Gereja. Sejarah memperlihatkan kepada kita, ajaran-ajaran yang ingin mencintai Tuhan dan ingin sedekat mungkin mengajarkan apa yang menjadi prinsip Alkitab, kita pelajari baik-baik. Sehingga orang yang tidak mau belajar kepada orang lain, bagaimana dia bisa mengecek apakah yang dia ajarkan itu sesuai dengan Pemahaman Iman dan Pengakuan Iman orang percaya sepanjang jaman? Itulah sebabnya mengapa kita harus terus memperjuangkan Alkitab ini harus menjadi tolok ukur satu-satunya, sebab kita tahu ini adalah firman Tuhan yang diturunkan kepada kita melalui pengajaran para rasul yang ada di dalam Perjanjian Baru.

Ini juga yang terjadi dalam kondisi Gereja di Efesus yang memiliki begitu banyak house-churches di sana. Maka Paulus meminta Timotius mendidik pemimpin-pemimpin Gereja itu baik-baik, karena ada beberapa yang sudah dirasuki dan dicemari oleh ajaran sesat dari beberapa pemimpin yang tidak benar adanya. Mereka bukan orang Ateis, mereka bukan orang yang tidak percaya Tuhan. Justru mereka adalah orang yang datang berbakti dan beribadah, tetapi bakti dan ibadah itu tidak memperbaharui hati mereka. Mereka terus mendengarkan pengajaran, tetapi pengajaran itu tidak pernah membuat mereka mengenal kebenaran. Salah satu kondisi dan ciri pelayanan dari guru-guru palsu ini adalah mereka masuk ke rumah-rumah perempuan-perempuan yang lemah dan sarat dengan dosa di masa yang lampau. Sangat besar kemungkinan mereka adalah wanita-wanita kaya yang memiliki banyak uang dan rumah yang besar, sehingga bisa membuka house-church dan memanggil guru melayani mimbar di situ. Dalam 2 Timotius 4:3 Paulus mengatakan, “…mereka tidak lagi menerima ajaran yang sehat, tetapi mereka mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka untuk memuaskan keinginan telinga mereka.” Itu kondisi beberapa Gereja yang ada di sana. Maka Timotius hadir memberikan prinsip dan ajaran yang benar. Sebagian dari guru-guru itu ada yang tidak terima dan tidak setuju, lalu akhirnya menjadi kelompok ajaran sesat yang memisahkan diri dari Gereja. Paulus mengingatkan Timotius untuk menghindar dan menjauhkan diri dari orang-orang seperti ini.

Kenapa Paulus mengatakan, “…mereka melakukan ibadah tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya”? Tidak berarti mereka adalah Antinomianism, artinya orang yang hidup duniawi dan bebas. Justru sebaliknya mereka adalah orang yang ekstrim kepada aspek yang sebaliknya yaitu betul-betul ketat “hidup kesalehan”-nya bahkan boleh dibilang mereka merasa diri lebih rohani daripada orang lain tetapi sebenarnya apa yang mereka ajarkan itu tidak berdasarkan kepada prinsip kebenaran Alkitab dan tidak sesuai dengan ajaran yang diturunkan oleh para rasul. Dalam 1 Timotius 4:1-5 memperlihatkan orang-orang ini mengambil sikap hidup yang asketik, menahan diri dari aspek seksual, tidak mau menikah dan menganggap orang lain yang menikah itu pasti kurang suci dan kurang rohani. Maka dalam soal kerohanian seolah-olah mereka jauh lebih tinggi daripada orang Kristen yang lain. Mereka juga menahan diri tidak mau makan daging dan hanya makan sayur-sayuran saja. Mereka menganggap inilah cara hidup rohani yang benar dan memaksakan hal yang sama kepada semua orang Kristen yang lain. Dengan latar belakang seperti ini kita lihat Paulus memberikan prinsip-prinsip yang tegas dan jelas kepada Timotius dan mengkontraskan sifat pelayanan kita, karakter kita, lifestyle yang kita pilih, tujuan pelayanan kita, harus berbeda dengan orang-orang itu. Tidak guna berdebat kusir dengan mereka tidak ada habis-habisnya tetapi memberikan contoh bentuk pelayanan yang berbeda. Ajarkan apa yang benar dengan tidak henti dan perlihatkan tujuan hidup kita seperti apa, kiranya itu boleh menjadi bukti bahwa apa yang kita kerjakan dan lakukan itu baik dan benar di hadapan Tuhan.

Paulus kontraskan di akhir perikop ini pada 2 Timotius 3:10, “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku…” Di sini bukan berarti Paulus meninggikan diri sendiri tetapi bagaimanapun kita menyaksikan ada contoh dan teladan dari mereka yang melayani boleh menjadi berkat yang perlu kita ikuti di dalam hidup dalam pelayanan kita. Kalimat ‘engkau telah mengikuti’ yaitu kata Yunani “parekolouthe” kira-kira artinya ‘to follow alongside’. Jadi bukan saja tahu, bukan saja melihat, tetapi ada di samping dan melihat dari dekat semua itu. Timotius melihat pagi siang malam dan menyaksikan apa yang dialami Paulus menjadi berkat dan kekuatan yang indah dan menjadi pembentukan pembelajaran yang tidak akan dilupakan dan disia-siakan dalam hidupnya. Buku-buku akan tetap ada, kita bisa baca, kita bisa pelajari dan baca kembali kapan saja. Tetapi adakalanya pengalaman hidup, perjalanan hidup orang yang menjadi berkat dan yang kita lihat dari dekat menjadi momen yang indah, menjadi pembelajaran yang juga berharga dan sangat penting bagi hidup kita. Itu sebab kita tidak boleh pernah berhenti menjadi murid. Kita sudah lulus sekolah, kita terus belajar banyak dari orang-orang yang ada di samping kita. Itu yang Paulus katakan kepada Timotius, engkau telah menjadi murid yang berada dan mengikutiku dari dekat alongside aku, sehingga engkau bisa melihat beberapa hal penting ini boleh menjadi kekuatan, teladan dan berkat bagimu untuk bisa mencintai dan melayani Tuhan.

Kalimat selanjutnya, “Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra…” (2 Timotius 3:11). Secara khusus Paulus menyebut tiga kota di sini, Antiokhia, Ikonium dan Listra. Listra itu penting, sebab Listra adalah kampung halaman Timotius. Dia bukan saja mendengar Paulus pernah menderita, tetapi saya percaya dan menduga Timotius juga menyaksikan Paulus mengalami penderitaan. Peristiwa itu membekas di dalam hati anak muda ini dan setelah itu dia juga ambil bagian melayani. Paulus bilang ‘engkau pun sekarang ikut menderita di dalam pelayanan seperti aku.’ Paulus di ayat ini tidak menyebutkan detailnya, tetapi begitu banyak sesungguhnya yang terjadi di kota-kota itu. Paulus tidak mau sebutkan apa yang dia alami, kecuali mengatakan, “Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya…”

Apa yang telah terjadi kepada Paulus di Antiokhia, Ikonium dan Listra ini tercatat dalam Kisah Rasul 13-14. Ini adalah perjalanan misi Paulus yang pertama bersama Barnabas yang waktu itu membawa keponakannya yang bernama Yohanes Markus. Di tengah perjalanan nampaknya anak muda yang bernama Yohanes ini tidak kuat dan tidak sanggup menghadapi tantangan dan kesulitan pelayanan sehingga dia meninggalkan rombongan dan kembali ke Yerusalem (Kisah Rasul 13:13). Nanti belakangan terjadi perselisihan antara Paulus dan Barnabas karena Barnabas hendak mengajak Yohanes kembali dalam perjalanan misi, tetapi Paulus tidak setuju dan akhirnya mereka berpisah (Kisah Rasul 15:35-39). Dalam Kisah Rasul 14:1-7 pelayanan di Ikonium Paulus melihat firman Tuhan yang ditaburkan tidak pernah terbuang sia-sia. Orang yang mendengarkannya sebagian akan menjadi percaya karena Roh Kudus bekerja, tetapi sekaligus sebagian yang lain makin hari makin dikeraskan hatinya. Mereka lalu berencana untuk menimbulkan huru-hara dan hendak menyiksa dan melempari Paulus dengan batu. Tetapi hal itu tidak sempat terjadi karena rencana mereka bocor ke telinga Paulus dan Paulus segera menyingkir meninggalkan kota itu dan pergi ke kota Listra. Ingat, orang Kristen bukan orang yang suka cari batu. Paulus setelah tahu ada orang yang akan melempari batu tidak bilang, silakan lempari saya dengan batu. Bukan Tuhan kita tidak berkuasa melindungi, tetapi saya percaya Tuhan kita bukan Tuhan yang ingin ditest seperti itu. Paulus juga tidak. Pada saat tahu orang mau melempari dia dengan batu, Paulus kabur dari situ dan pergi ke Listra.

Di Listra ada seorang yang sejak lahir kakinya lumpuh dan belum pernah dapat berjalan dan Paulus menyembuhkan orang itu. Melihat peristiwa mujizat itu orang banyak langsung mengelu-elukan Paulus menjadi selebriti rohani (ayat 8-13).

Tetapi orang-orang itu tidak tinggal diam, mereka menyusul Paulus ke Listra. Orang-orang ini tahu rencana ini tidak boleh gagal lagi. Hari itu sdr bisa bayangkan dendam mereka lebih kesumat karena yang lalu mereka gagal. Mungkin sudah dari Antiokhia mereka sudah bawa-bawa batu bersiap melempari Paulus dan kali ini mereka berhasil melempari batu sampai Paulus dikira mati. Tetapi Alkitab mencatat peristiwa yang luar biasa, Paulus bangkit dan langsung berdiri dan besoknya berangkat lagi ke kota lain (Kisah Rasul 14:20). Jelas itu mujizat. Paulus tidak pernah menjadikan mujizat Tuhan menghidupkan dia kembali itu menjadi sentral berita khotbahnya dimana-mana. Kalau bukan mujizat, apa lagi? Waktu dilempari batu apakah Paulus tidak mati? Orang saja ditinju satu kali sudah bisa pendarahan otak dan mati. Dan sesudah dilempari batu, Paulus diseret, itu berarti isi kepala sudah cedera berat. Saya percaya waktu itu Paulus sudah mati. Orangpun sudah menyangka dia mati karena sudah tidak ada napasnya. Murid-murid sudah mengelilingi mayatnya. Paulus orang biasa, dipukuli pasti babak-belur berdarah-darah. Karena kalau kita baca peristiwa di Filipi, setelah dipukuli di penjara, kepala penjara membersihkan bilur-bilur dari tubuh Paulus (Kisah Rasul 16:33). Jadi adakalanya dipukuli sampai lebam berdarah perlu diberi obat untuk sembuh. Tetapi ada momen seperti ini, mujizat Tuhan terjadi. Paulus tidak bisa lari, tidak bisa kabur, hari itu dia mati, dia siap mati. Tetapi hari itu Tuhan menyelamatkan dia. Waktunya belum tiba, pekerjaan Tuhan belum selesai. Tidak ada orang yang bisa menggagalkan pekerjaan dan rencana Tuhan.

Tetapi ada satu hal yang menyentuh hati, hari itu di Listra, perjalanan misi pertama, saya percaya ada seorang anak mudah bernama Timotius mendengarkan khotbah Paulus. Hari itu mungkin dia masih ragu mengambil keputusan. Tetapi melihat dengan mata sendiri ada hamba Tuhan yang dilempari batu, bangkit, pergi lagi pelayanan. Hari itu mati, Tuhan bisa hidupkan kembali tanpa cacat dan cedera, itu merubah hatinya. Paulus tidak tahu akan hal itu, tetapi setelah beberapa waktu ia kembali, di situ Paulus bertemu dengan anak muda Timotius ini. Kisah Rasul 16:1-2 adalah perjalanan misi Paulus yang kedua, dimana Paulus kembali lagi ke Listra. Paulus ingin melihat bagaimana keadaan anak-anak Tuhan di sana. Apalagi yang membesarkan hati dan membahagiakanmu setelah pergi ke satu tempat yang susah dan berat seperti itu, sampai di situ waktu balik lagi menyaksikan terlalu banyak pekerjaan Tuhan yang tidak pernah kita pikir dan sangka terjadi. Ada anak muda akhirnya bertobat dan percaya Tuhan, dan bukan saja percaya Tuhan, dia mendedikasikan diri melayani Tuhan. Waktu Paulus sampai ke tempat itu akhirnya dia ikut rasul Paulus pergi pelayanan kemana saja Paulus pergi.

Itu yang terjadi di Listra. Paulus mengatakan kepada Timotius, engkau telah ikut menderita bersama dengan aku. Aniaya, penghinaan, ejekan, kemungkinan-kemungkinan terjadi bahwa dia juga bisa dilempari batu seperti Paulus, itu adalah resiko yang akan dihadapi oleh Timotius. Paulus tidak pernah mendasari identitas dirinya dan identitas pelayanannya berdasarkan apa yang dia alami dan apa yang terjadi pada waktu itu. Paulus tidak pernah mendasari identitas pelayanannya hanya karena kesuksesan pernah menjadi selebriti rohani. Kita juga tidak pernah boleh mengukur sukses tidak suksesnya pelayanan kita berdasarkan karena ada kesulitan dan kegagalan yang terjadi. Di Listra, dalam satu hari Paulus dielu-elukan menjadi selebriti rohani, disanjung bagai dewa. Tidak ada yang bisa menduga, hari yang sama orang yang mengelu-elukan dia bisa mengambil batu dan melemparinya sampai mati. Hari ini disanjung dan disembah bagai dewa, hari yang sama diperlakukan seperti pariah dan sampah masyarakat yang dikejar dan dilempari batu.

Hidup kita tidak bisa didasarkan kepada apa yang kita miliki, apa yang kita capai. Hari ini apa yang kita miliki, apa yang kita capai, kita bisa berjaya besok kita bisa tidak berdaya; hari ini kita bisa kaya besok kita bisa miskin; hari ini kita bisa sehat besok kita bisa sakit; hari ini kita bisa disambut seperti dewa besok kita bisa dikejar-kejar seperti maling adanya. Itu yang dialami Paulus di Listra. Tetapi dia tetap bisa menjadikan itu sebagai satu memori yang tidak diumbar, menjadi satu pengalaman hidup yang tertanam di dalam dirinya, yang tidak dia jadikan sebagai satu identitas diri. Cuma satu yang penting menjadi terutama di dalam hidupnya. Maka apa yang menjadi pencapaian, apa yang menjadi tujuan hidup Paulus? Dalam Filipi 3:10 dia mengatakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan di dalam penderitaanNya dimana aku menjadi serupa dengan Dia di dalam kematianNya supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Itu sebab apa yang terjadi di Listra, hari itu sukses lalu bisa hancur; hari itu dipuji lalu dilempari batu; itu menjadi jatuh bangun yang bisa terjadi dalam hidup kita juga. Yang kita kerjakan mungkin kita tidak lihat hasilnya. Mungkin malah yang kita lihat adalah kegagalan demi kegagalan. Banyak hal bisa terjadi di dalam hidup kita, kita tidak tahu apa yang ada di depan. Tetapi kekuatan kita bukan kepada fluktuasi apa yang terjadi di dalam hidup kita. Kekuatan kita ada pada keyakinan Tuhan yang kita sembah dan kita layani adalah Tuhan yang campur tangan bekerja dan menolong kita.

Yang kedua, ada hal yang lebih indah dan lebih penting di dalamnya. Apa pengajaran yang menopang hidup kita? Lalu kemudian itu mempengaruhi lifestyle kita, lalu kemudian itu akan mengarahkan kita seumur hidup menjadi tujuan hidup kita. Saya percaya ini menjadi pertanyaan yang penting bagi setiap kita. Kita akan sampai kepada satu titik mempertanyakan hal ini: apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidupku? Bukan sampai di situ, kita harus mempertanyakan lebih dalam lagi: apakah tujuan hidup yang aku miliki ini adalah satu tujuan hidup yang bernilai dan yang berarti dan yang tidak akan pernah aku sesali selamanya?

Paulus sampai kepada akhir pelayanannya di tengah penjara seorang diri betapa tidak gampang adanya. Tetapi Paulus tidak kuatir dan tidak takut, dan Timotius menyaksikan dan mendapatkan pelajaran yang paling penting dan berharga dalam hidupnya. Selain mendapatkan pengajaran yang benar, semua itu harus nyata dengan bagaimana lifestyle kita. Lifestyle itu juga nyata melalui apa yang menjadi tujuan di dalam hidup kita. Biar kita punya fokus seperti Paulus, kita mau seumur hidup kita biar apa yang kita cari, apa yang kita pakai, apa yang kita kejar, apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan dan layani di dalam dunia yang sementara kita hidupi ini kita mau di ujung goal target kita adalah mengenal Tuhan lebih baik, mengerti kematian Tuhan lebih dalam, memahami keselamatan dari Tuhan lebih indah, mengenal setiap keindahan Kristus lebih kaya lagi, itu yang menjadi keinginan dan fokus hidup kita.(kz)