07. Allah yang Berdaulat yang Kupercaya

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 14/4/2013

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (7)

Nats: Keluaran 4:18 – 5:9

 

Siapa bilang Setan itu ateis? Setan bukan ateis. Sebab rasul Yakobus berkata, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yakobus 3:19). Kalimat Yakobus itu memberitahukan kita apabila kita hanya berkata kita percaya kepada Allah, inilah doktrin tentang Allah yang saya pelajari, inilah konsep tentang Allah yang saya tahu, itu semua bukan hal yang terpenting sebab Setan pun tahu semua itu, Setan pun percaya akan semua itu. Tetapi perbedaan yang terpenting adalah apakah iman kepercayaan kita tentang Allah itu adalah iman yang nyata dan sesungguhnya, the faith that works? Apakah kepercayaan kita akan Allah itu merembes di dalam seluruh aspek hidup kita? Apakah pengertian kita akan Allah adalah satu pengertian yang indah di dalam hidup kita? Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan dari orang yang melawan dan menghina Tuhan, sebelum kita boleh memberikan penjelasan akan siapa Allah yang kita percaya itu, kita harus mengerti, kita harus mengalami dan bahwa hidup kita itu sungguh-sungguh terefleksi dengan apa konsep yang kita percaya mengenai Allah. Kita akan menjadi tertawaan dan orang tidak akan bisa percaya dan tidak akan tersentuh ketika kita mengatakan inilah Allah yang kita percaya dan sembah, tetapi Allah yang kita percaya dan sembah itu tidak hidup dan nyata di dalam kehidupan setiap kita. Akan ada satu masa dimana oposisi dari orang-orang yang tidak percaya Tuhan mungkin tidak akan tertarik melihat berapa lancar dan berapa puitis dan indahnya kita berkata-kata tentang Tuhan tanpa hal itu nyata di dalam sikap hidup kita, keputusan yang kita ambil, decision yang kita buat, etika prilaku kita; Allah itu nyata bukan saja di dalam doa-doa kita, tetapi di dalam hidup keluarga kita, di dalam bisnis dan pekerjaan kita, di tempat dimana saja kita pergi.

Dalam Keluaran 5 muncul ejekan dari mulut Firaun, “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firmanNya? Tidak kenal aku TUHAN itu!” (Keluaran 5:2). Maka penting bagi Musa untuk melewati proses pengenalan yang benar akan TUHAN itu di pasal 3 dan 4, bagaimana TUHAN menyatakan siapa diriNya kepada Musa, sebelum Musa menjawab kepada Firaun siapakah TUHAN itu. Ia adalah Yahweh, Allah Perjanjian, Allah yang sudah berjanji ratusan tahun sebelumnya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, Allah yang tidak pernah berubah. Manusia bisa lupa akan janjinya kepada Tuhan, manusia bisa lupa akan kasih setia dan berkat Tuhan di dalam hidupnya, namun Tuhan tidak pernah lupa dan lalai akan hal itu. Itulah Allah Yahweh, Allah yang perkasa, Allah yang berkuasa, Allah yang sanggup melepaskan bangsa Israel dari setiap persoalan dan pergumulan yang mereka alami dan ketidak-adilan yang mereka derita selama ratusan tahun itu.

Pada waktu Tuhan menyatakan “divine justice“-nya, keadilanNya, mari kita juga menyatakan keadilan Tuhan itu nyata di dalam hidup kita. Pada waktu orang Kristen berbicara mengenai keadilan sosial, betapa disayangkan kita hanya berhenti sampai kepada “Bakti Sosial.” Bagaimana dengan soal ketimpangan sosial? Bagaimana dengan soal ketidak-adilan memperlakukan manusia dengan dignitas yang sepatutnya? Saya percaya seharusnya lebih daripada hal itu kita memahami konsep keadilan ini. Ketika bangsa Israel telah dibebaskan dari perbudakan Mesir, dipanggil untuk berbakti kepada Tuhan dengan bebas, Tuhan selalu ingatkan mereka jangan memperlakukan dengan semena-mena orang-orang yang bekerja kepada mereka sebagai pembantu dan pegawai di rumah mereka. Jangan selama-lamanya mereka diperlakukan sebagai budak yang terikat kepada majikannya. Tuhan mengingatkan mereka dahulu adalah budak juga, maka cintai dan hargai orang yang bekerja kepada mereka.

Konsep kita mengenai siapa Allah harus nyata dan menjadi sesuatu yang kita hidupi di dalam hidup kita sehari lepas sehari.

Di dalam bagian ini kita menemukan beberapa hal yang sangat penting muncul. Dalam Kejadian 3-4 Allah menyatakan diri sebagai Allah yang berdaulat. Artinya Tuhan itu sovereign, berarti Ia adalah Allah yang tidak digerakkan, tidak diperintahkan, tidak bertanggung jawab dan melakukan apa yang diperintahkan oleh sesuatu. Berdaulat berarti di dalam diri Allah yang penuh dengan bijaksana tetapi sekaligus maha kuasa, boleh menggenapkan setiap rencana yang ada di dalam kehendak dan pikiran Tuhan. Ia adalah Allah yang berdaulat, tidak menyatakan kasih sayang dan anugerahNya kepada kita sebagai satu balas jasa karena kita telah memberi sesuatu kepadaNya. Ia Allah yang berdaulat, Pengasih dan Penyayang, panjang sabar, Allah yang memberi dengan limpah dan murah hati kepada kita tanpa bagaimana sikap dan respons orang itu kepadaNya. Itulah Tuhan Allah kita. Dengan mengerti akan hal ini kita tidak menjadi mudah iri pada waktu Tuhan memberkati dan mengasihi orang yang tidak kita sukai. Allah yang berdaulat dan panjang sabar itu di dalam panjang sabarnya Ia mengerti kekurangan, kesulitan dan kelemahan kita.

Bagian ini memberitahukan kepada kita ada hal yang kadang-kadang tidak kita mengerti, tetapi Tuhan memakainya dan bekerja di dalamnya. Pertama, setelah Musa taat dan pergi ke Mesir Tuhan bilang kepadanya, “Jangan pikir jalanmu akan mudah dan lancar. Jangan pikir setelah engkau bilang kepada Firaun Tuhan perintahkan engkau untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir maka serta-merta Firaun akan menurut kepadamu.” Itu tidak akan pernah terjadi. Sebelum tangan Tuhan yang kuat memukul Mesir, bahkan sampai anak sulung Firaun mati sekalipun ia tidak akan membiarkan bangsa Israel keluar meninggalkan Mesir.

Nanti di bagian selanjutnya akan terus muncul kalimat “Hati Firaun berkeras…” namun di depan Tuhan sudah berkata kepada Musa, “Aku akan mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 4:21b). Tuhan mengeraskan hati Firaun tidak boleh kemudian kita tafsir berarti itu kesalahan Tuhan, bukan kesalahan Firaun, karena ada kalimat di tempat lain berkata, “Firaun mengeraskan hatinya ” (Keluaran 7:13, 8:15, 8:32, 9:35). Kita sulit mengerti akan hal ini. Pada waktu kita tahu Ia adalah Allah yang berdaulat, kita tetap menjalani walaupun jalan itu betapa sulit adanya. Kita tahu Allah kita adalah Allah yang berdaulat, kita tetap taat menjalani walaupun jiwa kita terancam adanya. Karena kita tahu Allah bisa memakai segala oposisi, segala kejadian yang evil sekalipun menjadi rangkaian Tuhan menggenapkan rencananya.

Bangsa Israel tidak keluar dari Mesir dengan gampang. Mereka keluar dengan perjuangan, keluar dengan air mata, sampai mereka bertekuk lutut dan berkata kalau bukan Tuhan yang bekerja di dalam semua ini kita tidak akan bisa keluar dan menjadi orang yang bebas. Tetapi semua itu perlu melalui apa? Perlu mereka melalui hal yang tidak mereka mengerti, kenapa pekerjaan mereka akhirnya dibuat menjadi berat seberat-beratnya, kenapa harus menerima cambukan dan pukulan lebih banyak lagi, kenapa harus hidup lebih menderita lagi (Keluaran 5:6-19).

Kedua, Tuhan membukakan kepada Musa, “Kembalilah ke Mesir, sebab semua orang yang ingin mencabut nyawamu telah mati” (Keluaran 4:19). Kenapa Tuhan menyatakan hal ini? Kalau Tuhan menyertai, bukan soal penting lagi Firaun itu masih hidup atau sudah mati. Apakah dengan kalimat itu seolah-olah Tuhan mau mengatakan kepada Musa keadaan di Mesir sekarang sudah aman, engkau boleh kembali ke sana? Bukankah akan muncul Firaun pengganti yang sama jahatnya dan juga berbahaya bagi Musa? Tuhan mengutus Musa kembali ke Mesir bukan karena Firaun yang hendak membunuhnya sudah mati. Musa kembali karena ia taat kepada Tuhan dan mau menjalankan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Tuhan menyatakan Firaun sudah mati bukan untuk memberi ketenangan kepada Musa, bukan untuk membuat Musa lega karena jalan di depan akan aman dan lancar, kesulitan sedikit berkurang. Kalimat Tuhan ini penting untuk memberitahukan kepada Musa dan kepada kita, segala hal yang menghambat, segala hal yang memberikan kesusahan, kesulitan, penderitaan dan air mata kepada kita tidak akan selama-lamanya permanen ada di dalam dunia ini. Perjalanan hidup kita walaupun lancar, biar kita memiliki hati yang humble dan mawas diri, karena tidak selama-lamanya itu akan permanen. Segala hal yang ada di dalam hidup kita, segala harta milik dan kepunyaan yang ada pada kita, tidak boleh selama-lamanya kita pegang dan genggam erat-erat karena bisa jadi semua itu hilang dan lenyap. Demikian juga kesulitan, penderitaan dan air mata tidak akan selama-lamanya terus menjadi lembah kekelaman yang permanen tinggal di dalam hidup kita.

Ketika kita menyadari anugerah Tuhan di dalam hidup kita, maka berada di dalam lembah kekelaman ataupun tinggal di negeri kedamaian, tidak ada bedanya. Apakah karena perjalanan lancar, segala jalan di depan Tuhan sertai, lindungi dan pelihara lalu membuat engkau menjalani hidup dengan damai sejahtera? Lalu apakah ketika perjalanan hidup menjadi sulit dan berat, itu membuat damai sejahtera hilang dari hidupmu? Tidak. Damai sejahtera itu datang bukan karena hidupmu lancar, pun damai sejahtera itu hilang bukan karena hidupmu berada dalam kesulitan. Damai sejahtera yang sejati bukan tergantung dari hal-hal eksternal di luar diri kita. Barangsiapa cinta Tuhan dengan hati yang murni meresponi kebenaran dengan ketaatan yang sejati, di situlah damai sejahtera yang sejati itu berada. Namun pada waktu hati itu tidak tulus, tidak akan pernah damai itu ada di dalamnya. The peace of God yang sejati itu terjadi ketika hati yang sincere itu datang menaklukkan diri kepada Tuhan dan taat menjalani kebenaranNya. Sekalipun berjalan ke Mesir itu bukan perjalanan yang secara eksternal akan mendatangkan damai sejahtera bagi Musa, tetapi ketaatannya yang mendatangkan hal itu baginya. Dua hal ini Tuhan bukakan di hadapan Musa, dia akan menghadapi oposisi yang akan dia hadapi begitu berat dan luar biasa, tetapi yang kedua, itu bukan oposisi yang akan terus-menerus permanen. Ada anugerah Tuhan beserta dengan dia.

Keluaran 4:18-31 setelah Tuhan menampakkan diri kepada Musa dan mengutus Musa, maka Musa menghadap kepada Yitro, mertuanya untuk minta ijin membawa keluarganya ke Mesir. Dari sisi Musa, ada dua hal menarik muncul.

Pertama, nampaknya Musa tidak berterus-terang mengatakan hal yang sebenarnya kepada mertuanya? Kenapa Musa hanya mengatakan, “Ijinkanlah aku kembali kepada saudara-saudaraku di Mesir untuk melihat apakah mereka masih hidup” (Keluaran 4:18)? Saya percaya, ini adalah hal yang membuat Musa concerned luar biasa. Bayangkan, pada waktu Musa lari dari Mesir, bagaimana perlakuan Firaun terhadap keluarga yang dia tinggalkan? Musa bisa selamat dari ancaman Firaun, tetapi sampai di Midian apakah hatinya tidak memikirkan apa yang akan terjadi kepada keluarganya?

Tetapi mengapa Musa tidak memberitahu Yitro perjumpaannya dengan Tuhan? Mengapa Musa tidak menyebutkan alasan utama dia kembali ke Mesir karena Tuhan memerintahkan dia kembali, dengan tujuan untuk mengeluarkan bangsanya dari perbudakan di Mesir? Mungkin ada dua sebab. Pertama, mungkin takut tidak diijinkan oleh Yitro. Kedua, mungkin walaupun dia tahu dia akan dipakai oleh Tuhan dan dia taat, namun dia takut kalau Yitro bertanya lebih lanjut terlalu banyak pertanyaannya yang tidak bisa dijawab oleh Musa. Ada visi, ada tujuan. Bagaimana caranya? Tidak tahu. Tuhan bilang bawa tongkat saja. Bukankah itu visi yang kelihatan mustahil dan tidak realistik?

Kedua, mengapa Tuhan mau membunuh Musa? (Keluaran 4:24). Tidak terlalu jelas apa yang terjadi pada malam itu, apakah malaikat Tuhan datang bergumul dengannya, apakah terjadi infeksi ganas pada kakinya, yang pasti itu adalah soal hidup atau mati bagi dia. Kenapa Tuhan yang utus sekarang mau membunuh Musa? Kalau akhirnya Musa mati, bukankah berarti rencana Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel bisa gagal dan terhambat? Kalau kita lihat tindakan Zipora menyunat anaknya di situ, berarti anak-anak ini belum disunat. Tanda perjanjian antara Tuhan dan Abraham serta keturunannya dimaterai oleh sunat sebagai umat Tuhan (Kejadian 17:2-14). Musa boleh argue dengan Tuhan bahwa dia enggan; Musa boleh mengeluh bahwa tugas yang diberikan Tuhan itu terlalu berat; Musa bisa ragu apakah tugas itu akan berhasil atau tidak karena dia belum tahu akan bagaimana perjalanan di depan. Tetapi berkaitan dengan sunat ini Tuhan marah dan murka, dan Tuhan berikhtiar membunuh Musa. Kenapa? Karena ini bukan soal ragu atau soal kelemahan Musa memahami Tuhan, tetapi ini soal mati hidup. Tanda sunat itu menjadi tanda perjanjian bahwa Tuhan yang engkau sembah adalah Tuhanmu dan engkau adalah umatNya. Waktu tanda perjanjian itu diberi pertama kali kepada Abraham dalam Kejadian 15, Tuhan menyuruh Abraham menyiapkan beberapa ekor binatang masing-masing di belah dua dan diletakkan bersisian. Kemudian seekor burung tekukur dan seekor burung merpati, masing-masing juga ditaruh bersisian di kiri dan kanan. Setelah itu Tuhan mengadakan perjanjian dengan berjalan lewat di antara potongan daging itu dan demikian juga Abraham. Demikianlah Tuhan memeteraikan perjanjian itu, dimana Tuhan selama-lamanya akan menjadi Tuhan dan Israel menjadi umatNya. Kalau salah satu pihak melanggar perjanjian, orang yang melanggar itu harus mati dibelah dua seperti binatang korban perjanjian itu. Allah yang telah berjanji tidak akan pernah mengingkari janjiNya karena itu berkaitan dengan kesetiaanNya terhadap perjanjian itu. Dengan murkaNya Tuhan Allah kepada Musa memperlihatkan bagaimana Musa bisa mengikatkan perjanjian antara bangsa Israel dengan Tuhan sedangkan keluarganya sendiri, anak-anaknya belum disunat. Sebelum Musa membawa bangsa Israel keluar, Musa harus terlebih dahulu masuk di dalam ikatan perjanjian dengan Tuhan.

Zipora melakukan tindakan menyunatkan anaknya dengan pisau batu dan menaruh kulit khatan anak itu kepada kaki Musa dan menyebut peristiwa itu “pengantin darah” sebagai konsep perjanjian lalu redalah amarah Tuhan kepada Musa. Dua pola ini akan muncul sebelum bangsa Israel keluar dari Mesir. Pertama, semua laki-laki Ibrani yang belum disunat harus disunat. Kedua, malaikat maut tidak akan membunuh anak sulung orang Israel pada waktu mereka menaruh darah kepada palang pintu rumah mereka, namun sebelum itu telah terjadi dahulu pada keluarga Musa, dimana darah sunat anaknya disentuhkan kepada kaki Musa. Murka Allah itu hanya bisa diselesaikan ketika ada pengorbanan darah. Perbuatan dosa, tindakan kita memberontak kepada Tuhan bukan sekedar kelemahan, bukan sekedar sesuatu kita berbuat salah, tetapi berkaitan dengan tindakan kita yang melanggar kesucian Tuhan. Alkitab mengatakan “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23) sehingga penyelesaiannya harus melalui darah itu dipercikkan untuk menjadi ingatan yang kemudian muncul sampai kepada Ibrani 9:22 “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”

Bangsa Israel menjadi satu simbol yang konkrit, ia adalah anakKu dan Aku akan membawanya keluar dari Mesir, karena Allah yang berjanji setia memelihara umatNya. Nanti pada waktu bayi Yesus dibawa orang tuaNya lari ke Mesir karena Herodes hendak membunuhNya, Matius mengutip kalimat nabi Hosea, “Dari Mesir Kupanggil AnakKu” (Matius 2:15). Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah Anak Allah dan barangsiapa yang percaya kepadaNya, mereka adalah anak-anak Allah yang dibayar dengan harga yang mahal yaitu dengan darah Yesus yang tidak bercacat dan berdosa. Kisah dari Musa ini memberitahukan kita bagaimana Allah memiliki cara dan jawaban menyelesaikan dosa kita. Keluarnya bangsa Israel dari Mesir bukan sekedar keluar dari perbudakan dan ketidak-adilan. Keluarnya bangsa Israel dari Mesir adalah karya Allah membawa mereka keluar dari perbudakan kejahatan dan dosa, sebagai satu bayang-bayang dan lambang yang penting nanti akan ada exodus kedua, dimana Yesus Kristus, Anak Allah, mati di kayu salib menjadi tebusan bagi kita untuk menyelesaikan murka Allah.

Allah itulah yang datang kepada Musa, dan Allah itulah yang mewahyukan diriNya kepada Musa, dan Allah itu adalah yang mau kita hidup di dalamNya dan taat kepadaNya. Sebelum Musa berdiri di hadapan Firaun dan menjawab ejekan Firaun, “Siapa TUHAN itu? Kenapa aku harus taat kepadaNya?”
maka Musa harus mengalami dahulu siapa Tuhan yang ia percaya dan menghidupi iman itu nyata di dalam hidupnya. Demikian juga kita, kita tidak akan mungkin menuntut ketaatan orang lain kepada Allah jikalau kita sendiri tidak taat. Kita tidak mungkin bisa menyatakan keseriusan dosa kepada orang lain, sebelum kita sendiri mengerti keadilan dan kesucian Allah yang tidak pilih kasih. Pada waktu Musa diutus Tuhan menghadap Firaun, bagaimana hal yang impossible itu bisa terjadi, dia tidak tahu. Yang dia tahu Tuhan bekerja. Ketidak-tahuan itu tidak sampai mengendurkan hati Musa walaupun ada ketakutan dan keraguan, ia tahu Allah yang ia sembah adalah Allah yang berdaulat. Allah sanggup menggunakan kesulitan dan kejahatan yang paling besar yang ditimpakan kepada kita menjadi tenunan yang indah. Allah juga penuh dengan hati yang simpati, penuh dengan belas kasihan dan biar kita belajar menyatakan cinta dan belas kasihan seperti itu kepada orang lain. Di situlah orang-orang dunia yang selalu menentang dan tidak mau percaya boleh melihat Tuhan melalui hidup setiap kita. Kiranya firman Tuhan senantiasa memberi kekuatan kepada setiap kita.(kz)